Mobil Jeep hitam terlihat memasuki kawasan yang terlihat angker. Jeep itu berhenti di sebuah pekarangan pabrik sepatu yang telah lama bangkrut. Bangunan itu terlihat angker; cat yang terkelupas disana-sini, dindingnya banyak yang retak, tak lupa 'hiasan' sarang laba-laba dapat kita temukan di sudut dinding.
Turunlah tiga orang dari Jeep tersebut. Tampang mereka tak kalah 'angker' dari pabrik sepatu tadi. Mereka membuka pintu pabrik dan memasukinya.
"Wah, wah. Lihat, siapa yang datang?"
Sebuah suara menyambut mereka, dan mereka hanya membalas dengan dengusan.
"Ku lihat, sepertinya kalian gagal dalam misi, benar 'kan? Lihatlah tubuh kalian, sangat tidak enak di pandang!" suara itu mengejek.
"Diamlah, Zetsu! Aku bisa saja memenggal kepalamu sekarang juga!"
"Kau ini cepat marah ya, Kisame? Cepatlah kalian, Orochi-sama telah menunggu!" ujar suara tadi, yang pemiliknya bernama Zetsu.
"Cih!" Tiga orang tadi, yang di ketahui bernama Kakuzu, Hidan dan Kisame hanya berdecak kesal.
.
.
"Akatsuki, nama kelompok yang terdiri dari sepuluh orang buronan terkenal, ternyata bisa juga gagal dalam misi, eh?" tanya sang 'Hebi Master' sarkatis. Ia duduk di kursi putar dengan seekor ular sanca di tangannya.
"Bodyguard sang Uchiha sangat kuat, padahal ia masih kecil. Namun kami berhasil membuatnya pingsan," jawab Kisame.
"Anak kecil? Sudah kuduga. Fugaku brengsek itu memang menyewa orang-orang dari Namikaze's Millitary," tebak Orochimaru, sang 'Hebi Master".
Bila kita melihat dengan seksama, terdapat seseorang yang membelalakkan matanya setelah mendengar perkataan Orochimaru.
"Namikaze's Millitary? Ya, mereka memang jago dan sangat kuat. Dan, kita tentu saja dapat mengalahkan bocah-bocah kecil bodyguard Sasuke 'kan?" sahut Kakuzu, yang sepertinya mempunyai rencana yang besar.
"Kau benar, kita akan memakai 'kelemahan' sang Namikaze, benar 'kan, Manda?" tanya Orochimaru pada ular sancanya.
"Ssshhh..." desis Manda, seolah menyetujui.
Dan bila kita dapat mendengar dengan seksama, kita dapat mendengar seseorang yang berdecak senang setelah mendengar perkataan Orochimaru.
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Gunslinger Girl (c) Maira 'milly' Kanzaki
Inspired : "Gunslinger Girl" by Yu Aida
Rating : T
Pairing : SasuNaru slight GaaNaru *) and others.
Genre : Romance, Angst, Action
WARNING : OOC, AU , tidak memakai bahasa baku, maybe Typo, STRAIGHT or YAOI? Anda yang menentukkan.
Tidak suka? Jangan Baca!
Chara :
Naruto, Kiba, Gaara, Tenten, Shikamaru : 17 tahun.
Sasori : 18 tahun.
Sasuke : 20 tahun.
Rin & Iruka : 23 tahun.
Itachi & Kakashi : 24 tahun.
Minato & Fugaku : 50 tahun.
Summary : "Bisukah kau, anak muda? Orang bisu tidak ada gunanya, dan seperti yang pernah kubilang, orang yang tidak berguna lebih baik MATI, hmm?" "Ya, aku sudah siuman, Master. Namun jika kau memang ingin membunuhku, lakukan saja,"
ENJOY!
Chapter 3 : Pain.
.
.
Jam telah menunjukkan pukul 20:56 malam, namun tidak menghentikkan suasana tegang dan cemas di sebuah rumah megah nan elit. Di lantai dasar, tampak seorang pemuda yang tidak bisa diam. Mondar-mandir, duduk, berdiri, duduk lagi sambil menyilangkan kedua tangannya. Tetes-tetes keringat muncul di pelipis pemuda itu, dan wajahnya –yang selalu malas- kini terlihat pucat.
"Bisakah kau duduk dan diam, Shikamaru? Jujur aku risih melihatmu," tegur pemuda lainnya yang duduk di sofa.
"Kau masih bisa bilang 'tenang'? Sementara sahabatmu sendiri sedang kritis?" ujar Shikamaru sarkatis.
"Kami semua sama cemasnya denganmu, tapi cobalah untuk diam. Kalau kau seperti itu terus, toh tidak akan merubah suasana."
"Gaara benar, Shika. Duduklah. Tunggu dokter Yakushi keluar," kata Sasori.
Shikamaru akhirnya mengalah. Mereka –Gaara, Shika, Kiba, Sasori dan Tenten- sedang harap-harap cemas menunggu hasil pengobatan teman mereka, Naruto.
Ya, insiden tadi siang berhasil membuat Naruto pingsan sampai saat ini. 'Pengroyokkan' yang di alami Naruto dan Sasuke menimbulkan luka yang cukup kritis. Sebenarnya, Sasuke hanya tergores sedikit, tidak mengkhawatirkan.
Tadi, Shikamaru memutuskan membawa Naruto ke Rumah Sakit, namun dilarang oleh Fugaku. Dia menyuruh dokter Yakushi Kabuto, dokter pribadi keluarga Uchiha untuk merawat Naruto.
Dan kini, mereka berlima hanya bisa harap-harap cemas menunggu keluarnya dokter Yakushi tersebut.
KREK. Pintu kamar Naruto terbuka.
Dan keinginan mereka terkabul.
"Dokter, bagaimana keadaan Naruto?" sembur Tenten ketika sang dokter keluar.
"Tenang saja, Naruto-san baik-baik saja. Dia punya daya tahan tubuh yang kuat. Dia sudah mulai siuman, benar-benar pemuda yang hebat," jawab dokter Kabuto.
"Yokatta,"
"Syukurlah,"
"Arigato, Kami-sama,"
"Fiuh~"
"Ayo kita jenguk Naruto," ajak Kiba kepada yang lainnya.
"Jangan!" larang Kabuto.
"Kenapa, Dokter? Naruto 'kan sahabat kami, kami berhak mengetahui kondisinya!" seru Kiba marah.
"Ya, Saya tau itu, Kiba-san. Tapi kalian menjenguk Naruto besok saja,"
"Kenapa?"
"Di kamar Naruto ada Minato-san. Beliau melarang kalian masuk ke dalam, karena ada 'urusan' sedikit dengan Naruto," jelas Kabuto.
"Urusan apa?"
"Saya tidak tau, Sasori-san. Gomennasai," sesal Kabuto, "Hari sudah malam, lebih baik saya permisi dulu," lanjutnya seraya pergi menuju pintu keluar.
Mereka berlima mendudukkan diri ke sofa. Gaara, yang duduk di tengah terlihat sedang menunduk sambil memijit pelipisnya. Sasori, sang sepupu yang mengetahui hal itu, bertanya pada Gaara, "Kau kenapa, Gaara?"
"Aku khawatir pada keadaan Naruto,"
"Kau bilang padaku, kalau kita semua harus tenang," ujar Shikamaru menyindir.
"Kenapa harus khawatir? Kata Kabuto-san, Naruto sudah membaik, di tambah lagi Master ada di kamar Naruto, menjaganya," sahut Kiba.
"Justru itu yang membuatku khawatir!" nada suara Gaara setengah berteriak.
Keempat temannya menaikkan sebelah alis mereka yang bermakna, 'Apa maksudmu?'
"Apa kalian tidak mengerti? Apa kalian tidak ingat kelakuan Master pada Naruto? Membiarkan Naruto berdua dengan Ayahnya sendiri, sama saja 'bunuh diri' bagi Naruto!" jelas Gaara dengan nada yang sedikit panik, namun dalam hatinya ia panik luar biasa.
Keeempat rekannya membelalakkan mata. Sekarang mereka mengerti apa yang dimaksud sang Sabaku, karena mereka tau, 'perlakuan' Minato terhadap Naruto.
.
Gunslinger Girl
.
Di kamar yang bernuansa biru-putih tersebut, terdapat Naruto yang tengah tertidur di ranjang king size, dengan keadaan tubuhnya seperti mumi, banyak perban disana-sini.
Kelopak matanya terbuka, ternyata ia baru saja sadar dari pingsannya alias siuman. Dia mengerang pelan, menahan sakit akibat luka-luka di tubuhnya. Tak di hiraukannya rasa sakit di badannya, karena ada 'rasa' lain yang dirasakannya.
Dingin.
Itulah yang di rasakannya.
Bukan, bukan karena AC kamarnya yang membuat ia merasa 'dingin'.
Bukan karena ia telanjang hingga ia merasa 'dingin'.
Kepalanya terasa 'dingin', tepatnya di daerah pelipisnya.
Tidak hanya dingin, namun juga terasa 'menusuk' dan auranya terasa 'mematikan'.
Merasa janggal, Naruto mendongakkan kepalanya, mata sapphire miliknya membelalak lebar ketika mendapati penyebab rasa 'dingin' di pelipisnya.
Ujung sebuah bazooka* tengah menempel di kepalanya.
.
.
"Sudah bangun, pemalas?"
Naruto yang diberi pertanyaan seperti itu hanya terdiam. Ia terlalu shock. Siapa yang tidak kaget ketika kita baru saja bangun tidur dan mendapati ujung pistol yang siap meluncurkan peluru tepat di kepala kita?
Terlebih lagi, jika pelakunya adalah ayah kita sendiri.
Dan itulah yang di rasakan Naruto saat ini.
"Bisukah kau, anak muda? Orang bisu tidak ada gunanya, dan seperti yang pernah kubilang, orang yang tidak berguna lebih baik MATI, hmm?" ujar Minato, dengan mempertahankan posisi ujung bazooka miliknya tepat di kepala sang anak.
"Ya, aku sudah siuman, Master. Namun jika kau memang ingin membunuhku, lakukan saja," jawab Naruto seraya duduk sambil menyenderkan kepalanya di bantalan tempat tidur.
"Jadi kau menyadari kalau dirimu tidak berguna, hmm?" tanya Minato dengan sinis.
"Saya tidak mengakui kalau saya orang yang lemah, karena saya telah melakukan tugas saya sebaik mungkin," sanggah Naruto dengan nada datar namun terkesan menantang. Dan ternyata sang Ayah merasa 'di tantang', maka ia makin menekankan ujung bazooka-nya seolah tak peduli bila bazooka itu menembus kepala sang anak.
"Kau tau, anak muda? Apa kesalahanmu? Kau itu lemah, bodoh, sehingga menyebabkan Sasuke-san terluka. Namikaze's Millitary tidak pernah membiarkan kliennya terluka," ujar Minato, bersiap menarik pelatuk bazooka-nya, hingga terasa berat.
Berat karena ada sebuah tangan yang menahannya.
"Sudahlah, Namikaze-san."
Sebuah suara bariton dingin tertangkap oleh indra pendengar sang Yellow Flash Master. Ia tau betul, itu suara Fugaku Uchiha yang entah sejak kapan telah berdiri di ambang pintu kamar, di sampingnya ada Rin dan Umino Iruka. Dan tangan yang menahan Minato adalah tangan milik Hatake Kakashi. Rin dan Kakashi adalah murid Minato yang kini menjadi bodyguard pribadi Fugaku. Sedangkan Iruka juga murid Minato dan kini bekerja sebagai guru IPA dan aikido di Namikaze's Millitary
"Sudahlah, Minato-sensei," tegur Kakashi lembut.
"Kau sekarang berani memerintahku, Kakashi?"
"Saya tidak pernah bermaksud untuk memerintah Anda, saya hanya menjalankan perintah Fugaku-sama untuk menghentikan 'aksi' Anda, sensei,"
Minato berdecak kesal seraya menurunkan bazooka-nya, "Maaf, Uchiha-san, saya tidak bermaksud membuat keributan dirumah Anda, saya hanya ingin memberi sedikit 'pelajaran' bagi anak ini," ucapnya sambil menunjuk Naruto, "Karena dia telah 'membiarkan' Sasuke-san terluka akibat insiden tadi siang," lanjutnya.
Fugaku menggeleng singkat, "Jangan berlebihan, Namikaze-san. Sasuke hanya tergores sedikit di pipinya. Dia baik-baik saja."
Minato tidak menjawab. Matanya kini beralih ke sang anak yang sedang meremas selimut. Naruto membalas tatapan Minato dengan mendelik singkat.
"Urusan kita belum selesai, Anak Muda," ujar Minato sambil menatap tajam pada anak bungsunya. "Aku tidak pernah mau mendengar lagi kau gagal dalam misi, atau kau tidak usah menyandang nama Namikaze lagi."
"Ya, Master," jawab Naruto tanpa terdengar nada takut di suaranya. Bisa di bilang, dia sudah 'biasa' di perlakukan seperti itu.
Minato pun membalikkan badannya, memakai jubahnya, dan memasukkan bazooka-nya kedalam tas gitar, "Saya permisi dulu, Uchiha-san. Dan Iruka, ikut aku pulang!"
"Hn," jawab Fugaku.
"Baik, Master. Naruto, jaga dirimu baik-baik. Aku pergi dulu," jawab Iruka sambil mengekori Minato.
"Ya, hati-hati Tousan," jawab Naruto. Dia lebih 'memilih' Iruka daripada Ayahnya sendiri. Dan Naruto tidak pernah sudi memanggil 'ayah' untuk seseorang yang tidak pernah menganggapnya 'anak.'
Disaat seperti ini, sempat-sempatnya Kakashi sedih di tinggalkan oleh Iruka.
"Naruto, lebih baik kau tidur sekarang. Kau belum sembuh benar," ujar Fugaku ketika Minato telah pergi.
"Ya, Fugaku-sama. Terimakasih dan saya mohon maaf atas kelalaian saya hari ini,"
"Hn, sudahlah tak apa," jawab Fugaku. Lalu ia pergi bersama Kakashi dari kamar Naruto, meninggalkan Naruto dan Rin di ambang pintu. Wanita cantik itu menghampiri Naruto.
"Nah, sekarang tidurlah, Naruto," ucapnya lembut sambil membetulkan letak selimut Naruto.
"Aku bukan anak kecil lagi, Rin-nee," jawab Naruto agak kesal. Naruto sudah menganggap Rin sebagai kakaknya sendiri.
"Ahaha, walaupun kau berkata seperti itu, tetap saja kau enam tahun lebih muda dariku," kata Rin. Setelah membetulkan selimut Naruto, dia mengelus lembut puncak kepala Naruto, "Oyasumi, Naruto."
"Oyasumi, Rin-nee."
Rin pun mematikan lampu kamar Naruto dan menutup pintu kamar, meninggalkan Naruto sendirian.
Sepeninggal Rin, Naruto menyalakan lampu tidur kecil di meja yang letaknya di samping tempat tidur. Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah pigura foto dirinya dengan orang yang paling disayanginya di dunia ini.
Dalam foto itu, terdapat seorang bocah laki-laki memeluk adiknya.
Namikaze Kyuubi memeluk Namikaze Naruto.
Naruto mengelus pelan foto sang kakak. Ingatannya akan lima tahun yang lalu mulai membayangi pikirannya.
Naruto mematikan lampu tidurnya dan memejamkan matanya sambil mendekap erat foto itu dengan tangan kanannya, seakan tak mau di lepaskan. Tangan kirinya meremas pakaian di bagian dada kiri, tepat di letak jantungnya, menahan sakit.
"Kyuu-nii..." bisiknya, "Sa..sakit..." Naruto menangis sambil memukul-mukul dada kirinya sendiri. Bila itu dapat membuatnya mati saat ini juga.
Naruto terus melakukan itu, tanpa menyadari seseorang di balik pintu kamarnya tengah menjambak rambutnya frustasi, ikut merasa sedih mendengar lirihan Naruto.
.
Gunslinger Girl
.
Cahaya matahari pagi awal musim gugur terlihat agak pucat sehabis hujan semalam. Namun cahayanya masih dapat merembes ke dalam kamar yang bernuansa biru muda-putih, dan itu cukup membuat sang penghuni bangun dari tidurnya.
Kelopak matanya mulai membuka, dan terlihatlah bola mata biru yang sangat jernih bak batu permata sapphire, sang pemilik mata indah itu bernama Naruto.
Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha membiasakan matanya terhadap biasan cahaya matahari. Setelah kesadarannya membaik, Naruto melirik jam digital oranye di meja kecilnya.
Pukul 08:03.
"Ah, aku telat. Kelasku dan kelas Sasuke-sama jam 9, aku harus bergegas," Naruto pun bangkit dari tempat tidurnya –dengan susah payah- dan menuju keluar kamar.
Langkahnya agak di seret, dan tangannya bertumpu pada dinding, takut terjatuh. Kepalanya mendadak pusing karena efek samping obat dari dokter Yakushi. Pandangannya mengabur, mendadak kakinya tidak kuat menopang berat badannya. Posisinya saat itu sedang berada di ujung tangga. Dan bla ia jatuh, otomatis ia akan terguling kebawah.
Naruto pasrah, ia tak kuat dengan rasa sakit di kepalanya. Dan akhirnya ia terjatuh, dan badannya seperti melayang.
Melayang karena sebuah tangan putih menopangnya.
"Kau tak apa?"
Sang pemilik tangan mengeluarkan suaranya. Naruto mendongak, dan mendapati wajah Uchiha Sasuke berada hanya sepuluh senti dari wajahnya.
"Ah, Sasuke-sama, Saya tidak apa-apa," jawabnya seraya mendudukkan diri di lantai.
"Tidak apa-apa bagaimana? Barusan kau hampir jatuh. Ayo, sekarang kau ku antar ke kamarmu,"
"Tidak, Sasuke-sama. Hari ini saya akan kuliah sekaligus menjaga Anda," tolak Naruto.
"Tousan sudah mengizinkan kau pada kampus dengan alasan kau sakit. Sekarang aku akan menopangmu ke kamar,"
"Tapi, Sasuke-sama—"
"Ini perintah!"
Naruto terdiam. Mau tidak mau, ia harus mematuhi perintah sang majikan. Maka dari itu, ia membiarkan dirinya di topang oleh Sasuke. Tangannya melingkar di pundak Sasuke. Posisinya tetap seperti itu sampai mereka masuk ke kamar Naruto.
.
MK
.
Sasuke POV
Jam kini sudah menunjukkan pukul 08:05, berarti sekitar 55 menit lagi kelas kuliahku di mulai. Saat ini, aku baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutku menggunakan handuk.
"Auw.." jeritku. Handuk basahku tak sengaja menyentuh pipi kananku yang terluka. Pipi kanan ku –sedikit- tergores katana milik seseorang yang bernama Kisame kemarin siang.
Ya, insiden kemarin hanya membuat luka kecil di pipiku, namun menimbulkan luka parah untuk Naruto, bodyguardku.
Sejujurnya, sempat ku dengar 'pembicaraan' Naruto, Minato-san dan Tousan semalam. Aku tidak berniat menguping, namun karena pembicaraan mereka di kamar Naruto yang bersebelahan dengan kamarku, otomatis aku mendengarnya –walaupun samar-samar-.
Aku sendiri bingung, kenapa saat ini aku merasa sedikit kasihan terhadap Naruto. Karena menurut orang-orang, aku adalah pribadi yang dingin dan egois alias jarang merasa kasihan. Tapi, sekal lagi ku tekankan, aku hanya sedikit kasihan.
Aku langsung memakai baju kaus hitam polos yang kulapisi dengan kemeja biru dongker. Kancing kemeja ku biarkan terbuka semua, yang menampilkan dada bidangku yang tersembunyi dibalik kaus hitamku. Bawahannya aku memakai jeans biru gelap dan sneakers putih. 'Katanya', penampilanku yang seperti ini dapat membuat para wanita mimisan, namun aku tidak peduli. Setelah selesai, aku menyambar tas ranselku dan memanggulnya di sisi kanan punggungku dan keluar kamar.
Ketika aku keluar kamar, aku tertegun melihat Naruto ada di ujung tangga. Ia memakai piyama putih dengan hiasan garis-garis biru vertikal. Aku baru menyadari bahwa selain dia pendek –untuk seukuran laki-laki 17 tahun-, badan dia cukup err—ideal?
Untuk beberapa saat aku melamun, namun lamunanku buyar ketika dirinya tiba-tiba merosot jatuh. Bila dibiarkan, dia pasti akan terguling sampai kebawah, maka dari itu –entah mengapa- kakiku bergerak ke arahnya dan tanganku reflek melingkar di pinggangnya. Sempat ku lihat, Naruto memegang kepalanya. Sepertinya ia pusing.
"Kau tak apa?" tanyaku.
Naruto mendongak, matanya membelalak melihatku, sepertinya dia kaget, sama denganku.
"Ah, Sasuke-sama, Saya tidak apa-apa," jawabnya seraya mendudukkan diri di lantai.
"Tidak apa-apa bagaimana? Barusan kau hampir jatuh. Ayo, sekarang kau ku antar ke kamarmu," ajakku
"Tidak, Sasuke-sama. Hari ini saya akan kuliah sekaligus menjaga Anda," tolak Naruto.
"Tousan sudah mengizinkan kau pada kampus dengan alasan kau sakit. Sekarang aku akan menopangmu ke kamar,"
"Tapi, Sasuke-sama—"
"Ini perintah!" ujarku sedikit berteriak. Dan detik berikutnya aku menyesali perbuatanku itu.
Naruto terdiam dan menurut. Aku membantunya berdiri dan ku lingkarkan tangannya ke bahuku. Aku menopangnya berjalan sampai ke ranjangnya.
End Sasuke POV
"Hati-hati."
Sasuke menurunkan Naruto ke kasurnya, sang bodyguard terduduk di ranjangnya, sedangkan sang majikan duduk di sisi ranjang.
"Arigatou, Sasuke-sama. Maaf merepotkan,"
"Hn, tak apa,"
Keduanya kemudian terdiam untuk waktu yang cukup lama, sampai akhirnya Naruto memecah kesunyian.
"Sasuke-sama?"
"Hn?"
"Ano—pipi Anda kenapa?"
"Hn. Hanya luka kecil,"
"Astaga!" Naruto terdengar panik, tangannya bergerak kearah pipi sang Uchiha dan mengelusnya dengan hati-hati.
"Maafkan saya, Sasuke-sama. Gara-gara kebodohan saya, Anda terluka," sesal Naruto sambil menundukkan kepalanya.
Sasuke tertegun. Bukan karena penyesalan sang bodyguard, namun karena wajah Naruto yang butuh penyesalan, mukanya agak memerah karena demam lengkap dengan perban di kepalanya, dan itu terlihat err—manis?
Sasuke menggelengkan kepalanya, menjauhkan pikiran yang barusan.
"Ah, Anda tidak memaafkan saya?" lirih Naruto. Rupanya ia salah paham.
"Aku memaafkanmu, Naruto."
"Lalu kenapa Anda barusan menggeleng?"
"Itu—"
"Naruto, kau sudah—"
Perkataan Sasuke terpotong oleh suara lain –yang terpotong juga-, pemilik suara itu adalah Gaara. Gaara kini berada di ambang pintu kamar Naruto. Kata-katanya menggantung begitu melihat Sasuke dengan Naruto.
"—tidak apa-apa?" lanjut Gaara setelah kagetnya selesai.
"Ohayou Gaara," sapa Naruto sambil tersenyum, "Aku sudah tak apa-apa kok," lanjutnya.
Gaara hanya mengangguk, kemudian mata jade-nya beralih kepada Sasuke, "Sasuke-sama, kelas akan dimulai 40 menit lagi. Sebaiknya Anda berangkat sekarang bila tidak ingin terlambat.
"Hn," entah kenapa Sasuke merasa –sedikit- kesal.
"Gaara?" panggil Naruto.
"Ya?"
"Aku titip Sasuke-sama ya, hari ini aku tidak bisa masuk,"
"Tentu saja, lebih baik kau istirahat saja,"
"Oke,"
Kedua orang tersebut meninggalkan Naruto sendirian di dalam kamarnya, yang kini sedang kebingungan.
'Aku tau Gaara itu orang yang dingin. Ini hanya perasaanku saja, atau sepertinya Gaara tidak suka terhadap Sasuke-sama?'
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 13:15, dan saat ini Naruto merasa bosan seharian di kamar. Tidak ada yang mendatanginya sampai saat ini, kecuali Hotaru, salah satu pelayan keluarga Uchiha. Hotaru bertugas mengantarkan makanan dan obat untuknya.
Naruto memejamkan matanya, berusaha untuk tidur. Namun nihil. Jelas saja tidak bisa, karena ia baru saja bangun tidur.
TOK TOK TOK.
Naruto sedikit terlonjak kaget mendengar suara pintu kamarnya di ketuk.
"Masuk," serunya.
KREK. Pintu di buka, dan muncullah kepala seseorang yang berkulit putih dan memiliki mata dan rambut yang berwarna sama, warna hitam.
"Hai, Naruto-kun," sapa orang itu sambil tersenyum.
"Ah, Sai-sama? Silahkan masuk," jawab Naruto sambil tersenyum.
Sai mengangguk, ia masuk ke dalam kamar Naruto dan menutup pintunya.
"Naruto-kun, ku dengar kau kemarin di kroyok orang ya? Maaf kalau aku baru tau tadi dari Kiba-kun, kau sudah tidak apa-apa?"
"Ya, keadaanku sudah membaik, Sai-sama. Terimakasih sudah menjengukku,"
"Ya, sebagai senpai yang baik aku harus peduli pada kohai-ku," ujar Sai sambil –tetap- tersenyum. Namun tiba-tiba Sai teringat sesuatu, "Kau memanggilku apa tadi? Sai-sama?"
"Iya, aku baru mengetahui kalau Anda sepupu Sasuke-sama, jadi—"
"Sai," potong Sai.
"Eh?" Naruto bingung.
"Panggil aku Sai saja, Naruto-kun,"
"Tapi itu tidak sop—"
"Sudahlah, Sai saja. Dan menurutku itu sopan kok," jawab Sai.
"Baiklah Sai-sa- maksudku Sai. Ngomong-ngomong kenapa jam segini Anda sudah pulang, bukankah kelas bubar sekitar jam empat?" tanya Naruto.
"Oh, tadi Genma-sensei izin pulang karena istrinya melahirkan. Dan kita diberikan tugas,"
"Tugas apa itu, Sai-san?"
Sai merogoh tas ranselnya, kemudian mengeluarkan sebuah kanvas, kuas, palet dan cat minyak. "Tugas menggambar," jelasnya.
"Menggambar apa?" tanya Naruto.
"Bebas, sesuai keadaan hatimu," jawab Sai.
Mendengar jawaban Sai, Naruto tersentak.
'Sesuai keadaan hati?' batinnya.
.
Maira Kanzaki
.
16:45.
"NARUTOOO~~!"
Naruto tersedak teh manis yang sedang di teguknya.
"Uhuk..uhuk," Naruto terbatuk. Matanya kini menatap tajam kepada seseorang di ambang pintu kamarnya. Orang itulah sang 'pelaku'.
"Jangan mengangetiku, Kiba!" seru Naruto kesal.
"Ehehe, gomen," jawab Kiba sambil nyengir, dia masuk kedalam kamar diikuti Tenten dan duo Aka.
"Mana Shikamaru?" tanya Naruto.
"Biasa, sebelum dia menjengukmu, dia tidur dulu," jawab Tenten.
"Hah, dasar,"
Mereka berempat duduk di pinggir ranjang Naruto. Tangan Sasori mengelus lengan Naruto.
"Lukamu parah sekali," ujarnya.
"Hehh, begitulah Sasori. Tapi tenang saja, aku sudah terbiasa kok," jawab Naruto dengan suara seceria mungkin. Namun teman-temannya tahu betul, Naruto sedang berbohong. Tapi mereka lebih memilih untuk diam.
"Apa itu?" tanya Gaara sambil menunjuk sebuah benda kotak panjang di samping tempat tidur Naruto.
"Oh, itu kanvas, aku sedang menggambar, tapi belum selesai," jawab Naruto.
Gaara mengangguk singkat, lalu ia mengambil kanvas tersebut. Disitu terlihat gambar banyak pepohonan berdaun kecoklatan, beberapa diantaranya berjatuhan di tanah, namun itu belum sempurna.
"Autumn?" tanya Gaara.
"Begitulah,"
Ketiga teman yang lainnya ikut melihat lukisan Naruto yang setengah jadi itu.
"Kau yakin ini belum selesai?" tanya Tenten.
"Ya, memangnya kenapa?" tanya Naruto balik.
"Belum selesai saja, sudah sebagus ini," puji Tenten tulus.
"Haha, bisa saja kau," jawab Naruto.
"Ah! Melihat lukisanmu, aku jadi teringat bahwa aku punya tugas menganalisa sebuah novel," ujar Tenten sambil menepuk dahinya. "Jaa..." dia pun pergi.
"Aku juga, besok ada tes tentang sifat-sifat dasar manusia, sebaiknya aku belajar," kata Sasori sambil bangkit.
"Aku ikut, Sasori! Aku mau bikin rancangan sebuah gedung sekolah," kata Kiba sambil menyusul Sasori, "Kau tidak ada tugas, Gaara?"
"Sudah selesai," jawab Gaara singkat.
"Huh, seperti biasa,"
Naruto tersenyum melihat kelakuan para sahabatnya. Gaara yang menyadari itu langsung bertanya, "Kenapa kau tersenyum begitu?"
"Tidak apa-apa,"
Gaara hanya menjentikkan bahu tanda tak peduli. Keduanya hanyut dalam keheningan yang cukup lama, hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Gaara / Naruto.."
"Kau duluan,"
"Tidak, kau saja,"
"Baiklah," Naruto mengalah, " Aku hanya ingin bertanya, apakah Sasuke-sama tadi di serang orang-orang Akatsuki lagi?"
"Tidak,"
"Huh, syukurlah."
"Kau menyukainya?" tanya Gaara to the point.
"Iy—hah? Kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Naruto kebingungan. Bingung karena sahabatnya seperti ini.
Gaara terdiam, dia bangkit dari kasur dan berjalan kearah jendela. Ia menyibakkan gorden kaca, dan terlihatlah pemandangan gerimis sore berpadu dengan daun kecoklatan musim gugur. Sangat indah.
"Tidak apa-apa," jawab Gaara.
"Kau bohong, bilang saja kau suka padaku, dan kau cemburu pada Sasuke-sama ketika kejadian tadi pagi," ujar Naruto bercanda. Niatnya hanya menggoda Gaara...
"Ya, aku memang menyukaimu,"
Namun ternyata Gaara serius.
Naruto terdiam, "Jangan bercan—"
"Aku tidak pernah bercanda. Kau pasti tau itu 'kan?" potong Gaara.
Naruto terdiam lagi. Ia tau, sudah lama Gaara menyimpan 'rasa' padanya. Namun ia berpura-pura polos dan tidak peka, berharap Gaara membuang rasa cintanya. Namun itu semua tidak terjadi.
Satu alasan Naruto melakukan itu..
Sebenarnya Naruto tidak bisa menolak pesona sang Sabaku.
Satu alasan Naruto melakukan itu..
Naruto pun sebenarnya menyukai Gaara.
Satu alasan Naruto melakukan itu..
Karena semua ini adalah salah.
"Gaara, buanglah rasa cintamu padaku," ujar Naruto.
"Kenapa? Kau menyukai majikanmu?" tanya Gaara sarkatis.
"Tidak, aku tidak menyukai siapapun," jawab Naruto.
"Lalu kenapa? Secara tak langsung kau menolakku,"
"..."
"Kau tidak tau 'kan, seberapa tersiksanya aku memendam semuanya?"
"..."
"Aku tau kau menyukaiku, semuanya terbaca dari matamu!"
"..."
"Tapi kenapa?"
"Karena semua ini salah, Gaara!" seru Naruto.
"..." kini giliran Gaara yang terdiam.
"Ini salah! Kau tau itu 'kan, Gaara?"
"Tolong jangan lanj—"
"Apa kau belum menyadari? Kau masih normal!"
"Naruto, jang—"
"Aku pun masih normal!"
"Kumohon—"
"Kita tidak bisa menjadi kekasih!" airmata Naruto mulai menetes.
"Nar—"
"Karena kita berdua adalah laki-laki, Gaara!" teriak Naruto, pertahanannya hancur sudah.
Gaara tertohok mendengar kata-kata terakhir Naruto. Ribuan katana serasa menikam jantungnya. Kakinya mendadak seperti jelly, hampir tidak kuat menopang tubuhnya dan matanya serasa panas.
Ia mengepalkan tangannya ke gorden jendela hingga kusut. Lalu ia pun membalikkan badannya dan menatap Naruto.
Jade bertemu Sapphire.
Dua pasang bola mata bak bola permata itu saling menatap satu sama lain. Emosi yang bercampur aduk diantara mereka terpancar jelas oleh mata mereka.
"Ya, kau benar Naruto. Aku salah," lirih Gaara, "Kita berdua laki-laki, tidak bisa menjalin cinta. Sekarang kau istirahat saja, agar besok kau semakin pulih. Selamat tidur, Naruto," lanjut Gaara. Ia keluar dari kamar dan menutup pintunya. Meninggalkan Naruto.
Meninggalkan Naruto yang menangis lagi.
Ia tidak kuat.
Air matanya hampir kering.
Naruto berharap, suatu saat nanti airmatanya kering. Ia sudah lelah menangis.
.
Maira Kanzaki
.
Di balkon lantai dua di rumah Uchiha, terdapat seorang pemuda yang sedang bersender di dinding balkon. Di tangannya ada sepuntung rokok. Mata hitamnya mengamati langit sore menjelang malam. Langit nampak oranye-kelabu karena habis gerimis. Langit seperti habis menangis.
Seolah ikut bersedih dengan kejadian dua anak manusia yang tidak bisa melawan takdir.
Dua anak manusia yang tidak bisa bersatu karena 'takdir'.
Dua anak manusia, Gaara dan Naruto.
Dan pemuda yang duduk di balkon ini telah mendengar semuanya. Meski tampangnya sangat malas dan terkesan cuek, namun saat ini hatinya miris mendengar 'perdebatan' dua orang sahabatnya.
Dan ia benci itu.
Benci pada 'takdir' yang membuat Gaara dan Naruto seperti itu.
Dan ia juga membenci 'orang' yang membuat 'takdir' itu untuk Gaara dan Naruto.
Pemuda itu mendongakkan kepalanya, melihat ke langit. Pandangannya tiba-tiba menajam, seolah benci.
"Minato, kau itu benar-benar jahat. Dan itu sangat merepotkan," ujarnya sambil menatap langit.
"Kau harus membayar semua airmata Naruto, Minato." Kata pemuda itu sambil mematikkan rokoknya.
.
Chapter 3 : Pain
COMPLETE.
.
*) : bisa berubah sewaktu-waktu
* bazooka : pistol panjang berukuran 1.37 m. Bazooka adalah nama umum untuk senjata anti-tank portabel manusia roket recoilless. Biasanya, bazooka di gunakan ketika perang, terutama saat PD II. Pernah liat Yoichi Hiruma di anime 'Eyeshield 21'? Nah, si Hiruma bawa bazooka mulu tuh XD.
Note's :
Maafkan kelamaan apdetan saya Minna-san T.T , jangan salahkan Mai atas kehiatusan Mai, salahkan senior OSIS SMA Mai yg nyiksa Mai seminggu ini, sampe gak bisa ngetik fict *mencak-mencak*
yoweslah, yg penting akhirnya chap ini udah update, semoga gak mengecewakkan^^
Oh iya, Mai juga minta maaf bagi Minato FG karena Minato disini sangat OOC alias kejam (Mai juga Minato FG), tapi kan Mai sudah memberikan warn *nunjuk ke atas* jadi saya mohon jangan komplain dengan ke-OOC-an chara^^ , yang tidak suka jangan baca, oke?
Maaf juga kalau di chap ini adegan actionnya blm ada lagi, soalnya Naruto belum sembuh, hehe. Tapi sebagai gantinya, ada sedikit romance di chap ini. Mai usahain chap depan ada actionnya.
Balasan Review :
Yuki Uta Nakigoe : MAAFKAN KEBODOHAN SAYA YUKI-SAN T.T , maklum saya newbie jadi masih agak bingung cara ngepost new chap, jadinya saya buat kesalahan yg sangat fatal, hiks. Tapi ini udah bener kok, thanks for review ^^
Heartbeat Satellite : iya, waktu itu saya teledor, hiks maafkan Mai T.T . Kakashi emg gak muncul di chap dua, tapi di chap ini muncul kok *nunjuk ke atas* walopun dikit, bagian Kakashi ada juga kok nanti ^^. Naruto manusia biasa kok ^^ . Di italic yah? Makasih sarannya abang ^^ hehe. Thanks for review ^^
Meg chan : racun Kyuubi? Gak, Kyuubi disini gak suka bikin eksperimen kea gitu, pokonya ikutin terus ceritanya yahh. Ini udh update kok, thanks for review ^^
Namikaze Kokyuu : makasih pujiannya ^^. Pokoknya intinya Naruto gak punya penyakit apa-apa kok, simpan pertanyaanmu dulu Kokyuu-san^^, ikutin ceritanya terus yah, thanks for review ^^
nanao yumi : kesimpulannya disimpan aja dulu yaa, thanks for review^^
ocha : terimakasih pujiannya^^ , saya memang suka adegan action, jadi saya suka cari2 informasi tentang action utk menambah pengetahuan, ini udh update kok, thanks for review^^
Kimmy no Michiku: ehehe *ikutan blushing* pokoknya pertahankan dulu rasa penasaranmu Michi-san (boleh aku manggil gitu? XD) klo ku kshtau sekarang, gak seru dong. Soal Sasori, disini dia bukan anggota akatsuki, tp dia ada hubungan dgn akatsuki, ni udh apdet kok. Thanks for review ^^
Cassie Disandi : ahaha Naruto emg asli kok #plakk , simpan dulu rasa penasaranmu, Cassie-san^^ , ni udah lanjut, thanks for review^^
gekikara hn : iya kemaren emg cepet, tp chap ini agak lama, maaf ya^^ . iyah, akhirnya actionnya muncul juga, ni udah update, thanks for review^^
Rosanaru : alasan Naruto mo bunuh Deidara adalah... ada deeh~~ *di rajam* , gomen aku gak bisa kshtau sekarang, thanks for review^^
Superol : iya, teme macam dia pasti tau, *di kirin* ShikaNaru? Hmm, nanti di pertimbangkan dehh, untuk sementara GaaNaru dulu, thanks for review^^
NanaMithrEe : yaudah aku manggil Nana-san aja yah? XD , deidara gak kabur kok, nihh lagi nyapu dirumahku *di ledakkan*, ini udh apdet, thanks for review ^^
choco : berarti kita seumuran dong XD , makasih buat pujian dan review-nya^^
Devil Brain : jangan jambak rambut, ntar botak lhoo XD , klo ku ksh tau sekarang jd gak seru dong, pokoknya ikutin trus ceritanya yah, thanks for Review^^ *pake payung biar gak kesamber petir*
kitsune haru hachi : wkwk, senpai blushing nih pasti *sotoy* , ni udh apdet kok, thanks for review^^
uchiha cucHan clyne : jgn ketawa sendiri. Ntar dikira gila lho *digampar* ok deh, aku manggil Cu-san aja yah? XD , *meluk Cu lagi* Mai Cuma berniat sopan kok Cu-san^^ , ni udh apdet, thanks for review^^
Dragonichi tsukaze : sama sama bagian yg mana? Berarti sehati dong, hehe. Mai gak angry kok, tenang aja XD , thanks for review^^
Yanz Namiyukimi-chan : aku sengaja bikin orang bingung, biar pada penasaran *di kubur* salam kenal juga Yan-senpai^^ , thanks for review^^
kanon1010 : nanti Mai usahain lebih mantep actionnya kanon-senpai, fav? Makasiih XD , ni udah apdet, thanks for review^^
Haru3173 : wahh, makasih atas pujiannya haru-senpai^^ , ni dah apdet, thanks for review^^
reaizu zeroblackwolf : makasih atas pujiannya^^semoga chap ini gk mengecewakan juga, thanks for review^^
Mohon maaf bila ada kesalahan penulisan nama.
Kritik, saran, review dan flame (dg alasan logis) saya terima.
Regards,
Mai.
Jakarta,
17.07.11
