Seorang pria yang berumur limapuluh tahunan sedang berdiri di depan jendela kantornya. Pemandangan 70% Kota Konoha dapat terlihat dari tempatnya berdiri. Raut mukanya tampak datar, namun sebenarnya ia sedang menunggu kedatangan seseorang. Ia mulai terlihat tak sabar, begitupun dengan seekor ular sanca ditangannya.

"Ssshhh..." ular ditangannya mendesis dan mulai meliuk-liuk. Sehati dengan tuannya, ular ini juga terlihat tidak sabar.

"Tenanglah, Manda.." bisik sang Pria seraya mengelus pelan kepala ular miliknya.

TOK! TOK! TOK!

KREK!

"Orochi-sama?" terdengar suara pintu diketuk, kemudian dibuka dan tampak kepala seorang laki-laki menyembul kedalam.

"Kau lama," jawab Orochimaru tanpa membalikkan badannya.

"Gomen, Orochi-sama. Saya agak kesulitan untuk mengerjakan 'tugas' dari Anda karena minim pencahayaan," jelas anak buah Orochimaru.

"Sudahlah, aku tidak mau berbasa-basi. Bagaimana hasilnya?" tanya Orochimaru. Kemudian ia membalikkan badan menatap salah satu anak buah kepercayaannya.

Anak buah Orochimaru –yang berada diambang pintu—menyeringai. Ia masuk kedalam ruangan tersebut setelah menutup pintu terlebih dahulu. Pemuda itu berjalan mendekati Orchimaru. Ketika jarak mereka hanya lima meter, pemuda itu mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.

Sebuah suntikkan lengkap dengan sampel darah di dalamnya.

"Hasilnya..Positif, Orochi-sama."

Kata-kata itu berhasil membuat Orochimaru menyeringai kejam. Tak dapat dipungkiri, hatinya sangat senang saat ini.

"Jadi, 'masuk kedalam lubang buaya' ya?" tanya Orochimaru entah pada siapa. Dengan seringainya yang masih terlukis diwajahnya, Orochimaru berjalan menuju meja kerjanya, dan mengambil sebuah interkom di samping meja.

"Zetsu, Kisame. Bawa 'tahanan' kita kesini!" perintahnya melalui interkom.

Hanya butuh lima menit, Zetsu dan Kisame datang keruang kerja Orochimaru. Mereka terlihat menopang 'tahanan' yang sesuai perintah Orochimaru. 'Tahanan' itu kemudian di dudukkan di sebuah kursi putar. Kedua tangannya di pegangi oleh Zetsu dan Kisame.

Tak ada pemberontakkan seperti biasa.

"Ohayou, Renji," sapa Orochimaru dengan suara ramah yang dibuat-buat. Mata ularnya menatap tajam pada Renji, sang 'tahanan' di depannya.

"Mau apalagi kau, ular?" desis Renji. Matanya –dengan penuh kebencian- menatap tajam pada mata lawan bicaranya.

"Galak seperti biasa," Orochimaru terkekeh pelan. "Kalau kubilang 'aku akan membunuhmu sekarang', bagaimana?"

"Silahkan saja," jawab Renji menantang.

"Sudah kuduga," Orochimaru terkekeh lagi, dan itu sukses membuat pemuda bernama Renji muak mendengarnya.

"Jika kuganti pertanyaannya menjadi 'aku akan membunuh 'dia' sekarang' , bagaimana?"

Bola mata Renji membelalak lebar. Ia tahu betul, siapa yang dimaksud Orochimaru.

'D-Dia masih hidup? Yokatta,' batinnya.

"Kau takkan bisa menyentuhnya, brengsek! 'Dia' itu kuat!" bentak Renji. Badannya mulai memberontak, sehingga membuat Zetsu dan Kisame megngeratkan cengkraman mereka.

"Hahahahaha! Kau pikir kau sedang berhadapan dengan siapa, bocah?" seru Orochimaru. Tangan pucatnya meraih dagu Renji, dan mempertemukan tatapan mereka.

"Kau bilang, 'dia' itu kuat, eh?"

"Tentu saja. 'Dia' tidak bodoh untuk masuk perangkapmu dan 'dia' takkan kalah darimu!" balas Renji. Emosinya makin memuncak.

Orochimaru menyeringai kejam. Dengan kasar, ia melepaskan tangannya dari dagu Renji. Namun mata mereka masih bertemu. Jika tatapan bisa membunuh, maka bisa dipastikan Orochimaru kini sudah mati.

"Sayangnya, aku tahu kelemahan 'dia'," ujar Orochimaru.

Sang Renji terdiam. Firasatnya buruk.

"Kelemahan 'dia' adalah kau!"

"..." Renji terdiam. Ia berharap, firasatnya tidak menjadi kenyataan.

"Maka dari itu, aku akan membunuh'nya'..."

"..."

"Di depan matamu!" Orochimaru mengakhiri pembicaraannya dengan tertawa kencang, diikuti anak buahnya yang berada disitu.

Disaat ini, Renji merasa Kami-sama tidak lagi peduli padanya.

.

.

.

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Gunslinger Girl (c) Maira 'milly' Kanzaki

Inspired : "Gunslinger Girl" by Yu Aida

Warning : OOC, Typo(s), dll

Rated : T

Main Pair : SasuNaru

.

.

Chapter 5 : Still Alive?

.

.

Beberapa bulan kemudian...

Matahari akhir-akhir ini bersinar lebih hangat dari biasanya. Angin sejuk selalu bertiup dengan tenang, menebarkan aroma berbagai macam bunga yang sedang bermekaran.

Yep, musim semi.

Banyak rumor mengatakan, musim semi adalah musim yang tepat untuk 'menyatakan' perasaan kepada seseorang yang kita cintai, karena musim ini bisa dibilang 'romantis'. Percaya atau tidak? Itu hak privasi masing-masing orang*.

Hari ini, Konoha International University terlihat lebih ramai dari biasanya. Wajah-wajah bahagia, gelak tawa dan senyuman manis orang-orang dapat kita lihat di setiap sudut kampus ini. Bila kita mengamati lebih teliti, di dekat gedung kampus tersebut terdapat dua buah tiang yang menyangga sebuah spanduk.

"Spring's Festival 2011"

Dan itulah 'penyebab' ramainya pengunjung di kampus ini.

.

.

.

"Kenapa sih, kau memaksaku datang ke tempat macam ini?"

"Ini bukan 'tempat macam ini'! ini kampus kita, bodoh!"

"Aku tahu, maksudku, aku malas datang ketempat ini. Mengganggu acara tidurku, tahu."

"Justru itu maksudku, Shika! Sekali-kali, pergilah ketempat seperti ini agar kau tidak mudah mengantuk!"

"Hoahhmm, mendokusei~"

"Ck!"

Shikamaru dan Kiba—pelaku pertengkaran barusan—kini sedang berjalan beriringan mengelilingi stand Festival di kampus mereka. Susah payah –dengan cara menjitak, menyeret paksa dan mengancam akan memotong rambut nanas Shikamaru—Kiba akhirnya berhasil memaksa Shikamaru datang ke festival kampus mereka

Festival ini berlangsung selama tiga hari, dan ini adalah hari terakhir festival. Dan tentunya Kiba tidak mau melewatkan acara macam ini. Ia membujuk kelima sahabatnya untuk menghadiri festival ini dengan alasan, 'Kita butuh refreshing' atau 'Sasuke-sama akan pergi ke festival itu, kita harus menjaganya, bukan?'

Naruto dan Tenten langsung setuju, Sasori ikut karena ia dan beberapa rekan se-fakultas dengannya –psikologi—membuka stand untuk konsultasi masalah di festival itu, sedangkan Gaara pasrah dan ikut-ikut saja.

Kecuali Shikamaru; 'Aku mau tidur. Festival itu merepotkan!' dan itulah penyebab Kiba ngamuk dan ia mengancam tidak segan-segan memotong rambut 'kebanggan' Shikamaru.

.

.

.

"Sepertinya festival ini sukses ya?" tanya Shikamaru ketika melihat begitu banyak pengunjung di kampusnya.

"Kan sudah kubilang, kau tidak percaya sih!" sungut Kiba.

"Baiklah, kau menang, Doggy-man."

"Julukkan macam apa itu? Pineapple-head!"

Mereka berdua tergelak bersama. Berbagai macam julukkan untuk mereka dan keempat teman yang lain, memang sudah biasa terlontar. Dan itu sukses memancing tawa.

"Kita kemana dulu?"

"Bagaimana kalau kita mengintip si 'baby-face' di stand-nya?"

"Ide bagus! Dan aku kasihan pada orang-orang yang konsultasi padanya."

"Aku juga, bisa-bisanya mereka percaya pada 'psikiater' yang bahkan sampai sekarang masih mengoleksi miniatur Power Ranger."

Lagi, mereka tertawa terbahak-bahak mendengar celetukkan mereka sendiri. Kiba berfikir, jika Sasori tahu apa yang dibicarakan dia dengan Shikamaru, bisa dipastikan mereka akan di-voodo saat ini juga.

'Voodo dengan Power Ranger Pink, mungkin?' Kiba senyam-senyum lagi.

"Hei, kau membuatku takut kalau senyam-senyum seperti itu," ujar Shikamaru sambil menatap Kiba dengan alis terangkat.

"Hm," Kiba menjawab asal. Matanya menyapu seluruh keramaian festival, dan tiba-tiba pandangannya tertuju ke arah seorang anak yang sedang menuntun tali anjing Terrier.

"Ah, aku jadi rindu pada Akamaru," keluh Kiba sambil menatap anjing Terrier tersebut dengan tatapan sendu.

"Iruka-sensei pasti menjaganya dengan baik di akademi."

"Ya, tapi tetap saja. Sudah hampir setahun aku tidak bertemu dengannya. Rasanya rindu sekali," ujar Kiba dengan menempelkan kedua telapak tangannya di dada, seolah-olah memeluk Akamaru, anjing kesayangannya.

"Mendokusei."

.

.

.

Uchiha Sasuke, putra bungsu Uchiha Fugaku. Berumur 20 tahun, tampan, kulit putih, mata hitam, mempunyai bentuk rambut yang unik dan sering dijuluki 'Pangeran Es'.

Yang disukai : warna biru dongker dan hitam, tomat, dan fotografer.

Yang tidak disukai : keramaian dan wanita berisik dan manja.

Sudah jelas, Sasuke tidak suka tempat keramaian seperti mall, ataupun festival.

Namun anehnya, sekarang Uchiha Sasuke terlihat di tengah kerumunan orang-orang di festival musim semi kampusnya.

Dan Sasuke mengutuk makhluk berisik kepala pink yang menamai dirinya sebagai wanita dan sedang bergelayut manja di lengannya.

Oh, sungguh melawan takdir!

"Sasuke-kun, kita ke stand itu, ya?" ajak wanita yang ternyata bernama Sakura.

"Hn,"

"Ah, apa tidak ada kata-kata selain 'hn', sayang?"

"Berhenti memanggilku dengan panggilan seperti itu, Haruno!"

"Ah~ aku memang pintar untuk menarik perhatianmu, Sasuke-kun. Aku memang mengenalmu dengan baik, benar-benar calon istri yang baik 'kan, aku ini?" ujar Sakura dengan percaya dirinya.

Sasuke diam sambil memutar bola matanya bosan. Dalam hatinya ia berbicara dengan bahasa warna-warni untuk mengutuk wanita yang mengaku sebagai 'calon istri'-nya.

Hell no!

Dan kini, ia mengutuk butler pribadinya –Naruto—karena dirinya menghilang disaat seperti ini.

Bukan! Bukan salah Naruto. Tadi, ia mengelilingi festival ini ditemani Naruto, dan ditengah jalan, Sakura tanpa basa-basi menyeret lengannya dan meninggalkan Naruto. Sebelum Naruto hilang dari pandangan, Sasuke sempat melihat lengan Naruto ditarik pula oleh sepupunya, Sai. Dan pergi entah kemana.

Dan kenapa Sasuke mau pergi bersama Sakura?

Simpel, Sakura 'mengancam' akan memberitahu Fugaku bila Sasuke, tunangannya, bersikap kurang ajar, dan sangat-tidak-Uchiha-sekali.

Hei, bukannya Sasuke takut pada Ayahnya! Dia sedang malas berhubungan –apalagi berdebat—dengan Uchiha senior itu.

Persetan dengan ayahnya serta pertunangan dirinya dengan Sakura!

"Lihat, Sasuke-kun! Stand pameran lukisan anak-anak fakultas seni ramai sekali! Bagaimana kalau kita kesana?" ajak Sakura.

'Yeah, setidaknya pameran lukisan tidaklah buruk. Mungkin bisa menginspirasi-ku untuk objek atau model fotoku yang baru,' pikir Sasuke.

"Hn."

.

.

.

Sasuke

Sekarang aku menyesal menerima tawaran Sakura ikut kedalam stand pameran lukisan.

Tidak! Aku tidak membenci lukisan.

Harusnya aku ingat, pasti setiap tahun ada lukisan sepupuku, Sai, yang terpajang disana.

Aku tidak iri padanya, tapi—hey! Ayolah! Siapa yang tidak bosan melihat karya sepupumu terpajang di berbagai event melukis sejak umurmu tujuh tahun?

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling pameran. Yah, kuakui anak-anak fakultas kesenian melukis memang berbakat semua. Lukisan mereka begitu indah, hidup dan menawan.

Di setiap lukisan, dibawahnya pasti ada nama pelukis yang membuatnya. Dan—tuh 'kan!—baru setengah perjalanan aku sudah melihat lima buah lukisan dengan nama 'Uchiha Sai' di bawahnya.

Sai sangat suka menggambar tentang binatang. Dan lukisan yang paling kusukai buatannya—yang sekarang terpajang di pameran-, berjudul 'When Nightmare has Come'. Menggambarkan pemandangan malam; bulan purnama, bintang kemerlap, dan seekor serigala putih yang duduk diatas atap berdiri dengan angkuh. Ekornya menjunjung keatas. Matanya memandang kearah pengunjung, dengan background cahaya bulan di belakangnya.

Simpel, namun 'hidup'.

Entah kenapa, aku sangat menyukai lukisan itu. Mungkin karena penampilanku yang seperti lukisan itu?

Gelap, angkuh, dan putih.

Setelah puas memandang lukisan Sai, aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, dan mendapati Sakura sudah tidak ada di dekatku.

Kemana kepala pink itu?

Belum sempat pertanyaanku terjawab, di sebuah sudut pameran terdapat beberapa—bukan! Banyak sekali orang yang mengerubungi sudut itu. Mengerubungi lukisan, mungkin?

Sempat ku lihat sekelebat merah jambu di antara kerumunan orang-orang itu. Ah, apa yang membuat Sakura dan orang-orang itu tertarik?

Penasaran, aku melangkahkan kakiku menuju sudut pameran itu. Dengan susah payah, aku menerobos lautan orang-orang tersebut dan kini, aku sampai tepat di depan kanvas yang telah berhasil menarik hampir setengah pengunjung.

Lukisan itu di dominasi warna coklat muda dan coklat tua, Autumn. Gambar itu menempatkan setting di sebuah taman, karena di sela pepohonan itu, terdapat lampu yang biasa menghiasi taman.

Ditengah-tengah taman, terdapat seorang perempuan berambut pirang kemerahan berdiri. Ia memakai kimono sutra berwarna putih bercorak bunga tulip merah. Obi yang berwarna merah pula dengan bakiak sebagai alas kakinya.

Rambut panjangnya diikat kebelakang, kuncir satu dengan pita putih panjang. Beberapa anak rambutnya dibiarkan menjuntai kedepan, membingkai wajah cantiknya. Tangan kiri gadis itu mengadah keatas. Sehelai daun kecoklatan jatuh di telapak kirinya.

Dibelakangnya, seorang pemuda berambut hitam cepak dan jabrik, mengalungkan kedua lengan putihnya di leher sang gadis. Wajahnya ditenggelamkan ke tengkuk sang gadis. Pemuda itu juga memakai kimono berwarna biru gelap dan putih dan bakiak sebagai alas kakinya. Sebuah katana tersarung rapi di pinggangnya.

Sempat terpaku aku melihat lukisan itu. Tak heran, banya sekali pengunjung yang tertarik dan melihat lukisan ini.

Aku bukanlah tipe orang yang mudah tertarik pada sesuatu yang 'indah'. Tapi kini-oke, baiklah! Aku mengakui kalau lukisan ini benar-benar indah! Namun sebagai Uchiha, aku tidak menunjukkan ekspresi kekagumanku seperti orang lain. Aku tetap memasang wajah stoic milikku. Aku pun melihat papan nama dibawah lukisan itu.

.

"Dream, Will Come True Someday"

Namikaze Naruto.

.

.

Naruto

Hari ini, aku dan kelima sahabatku menemani Sasuke-sama ke festival kampus kami. Sejujurnya aku bingung, kok tumben Tuan Mudaku mau datang ketempat ramai seperti festival ini?

Ya, menjadi bodyguard selama hampir setahun untuknya, membuatku paham bagaimana sifat Sasuke-sama. Salah satunya, ia benci keramaian.

Hei, hei! Aku hanya butler pribadinya, tidak punya hak ikut campur 'kan?

Hari ini aku memakai kaus turtleneck putih yang kulapisi dengan jaket oranye-hitam kesayanganku. Jeans biru gelap dan sneakers putih menjadi bawahanku.

Dan kini, aku sedang mengelilingi festival seorang di-ah! Sebenarnya ada Sai-senpai disampingku, namun ia sedari tadi sibuk dengan handphone miliknya, dan itulah yang membuat aku merasa 'sendiri'.

Hmm, mungkin kalian bingung kenapa aku tidak bersama Sasuke-sama?

Ah, tadi Tuan Muda-ku 'ditarik' oleh Sakura-hime. Sekarang aku memanggilnya dengan sebutan 'hime' karena dia adalah calon istrinya Sasuke-sama.

Walau—jujur saja—aku agak segan memanggilnya 'hime', entah kenapa.

Dan beruntunglah aku 'ditarik' pula oleh Sai-senpai. Kami sudah berkeliling di area festival selama sepuluh menit, namun dia tidak juga bica—

"Hei, Naruto."

Astaga! Hampir copot jantungku karena panggilan Sai-senpai, "Y-Ya, senpai?"

"Ck, sudah kubilang berapa kali Naruto-kun, panggil aku 'Sai' saja. Hmm, aku mau menunjukkan sesuatu padamu, ayo ikut," Lagi, Sai menarikku berjalan ke-suatu-tempat-entah-dimana.

"Tu-Tunggu!"

.

.

.

Naruto –terpaksa—mempercepat lengkahnya karena Sai menyeretnya dengan setengah berlari. Makin lama, langkah Sai makin melambat dan sampailah mereka di sebuah stand yang berisi banyak sekali orang.

"Pameran lukisan?" tanya Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya.

"Yup, ayo masuk," ajak Sai.

Dengan susah payah dan berdesak-desakkan, Naruto dan Sai akhirnya berhasil memasuki pameran lukisan yang dikelola oleh para senpai jurusannya, Seni.

Naruto berdecak kagum melihat isi pameran tersebut. Senpai-senpainya benar-benar berbakat dalam hal melukis.

"I-Ini lukisan dari anak-anak fakultas seni 'kan?"

"Tentu saja, Naruto-kun. Disini tidak ada hasil karya anak-anak jurusan psikologi ataupun sastra," Sai berusaha melucu.

Naruto tersenyum simpul. Kedua matanya masih menyapu seluruh ruangan tersebut. Selain senjata, melukis adalah bagian hidupnya. Dengan melukis, Naruto bisa meluapkan apa yang dirasakan dan dipikirkannya. Terutama semua objek favoritnya.

"Ah! Ada lukisan Sai-senpai!" tunjuk Naruto ke sebuah sudut pameran. Ia tahu betul, senpainya ini sangat menyukai binatang, begitupun dengan objek lukisannya yang hampir selalu binatang.

"Ah, benar juga," ujar Sai sambil tersenyum. Ia pura-pura terkejut.

Naruto masih melihat-lihat lagi dan kemudian ia bertanya, "Bagaimana caranya mengetahui mana lukisan yang paling bagus?"

Sai tersenyum, "Kau lihat saja seberapa banyak orang yang mengerubungi lukisan tersebut."

Naruto mengangguk paham. Rata-rata semua lukisan disini banyak yang dikerubungi orang-orang karena sangat bagus.

'Hm, kalau begini jadi susah menentukkannya,'

Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah sudut yang juga dikerubungi orang-orang. Namun bedanya, sudut itu –yang Naruto yakini terdapat sebuah lukisan—lebih banyak jumlah orang-orangnya dibanding sudut-sudut lain. Beberapa diantaranya bahkan memotret lukisan itu.

"Sai, ano, mungkinkah itu lukisan yang paling bagus sehingga dikerubungi sebegitu banyak orang?"

"Hm, mungkin," jawab Sai sambil tersenyum misterius.

Sayangnya, Naruto tidak memperhatikan senyuman Sai. Ia melangkahkan kakinya menuju sudut itu. Sebagus apakah lukisan yang dibuat salah satu senpainya?

Agak sudah juga ia melewati orang-orang itu karena sangat banyaknya. Beruntung ia memiliki badan yang ideal hingga mudah menyelip orang-orang. Ketika ia sampai pada barisan agak ditengah, ia terpaku.

'Lu-Lukisanku?'

Ya, itu lukisannya. Lukisan yang ia buat ketika berusaha menenangkan dirinya setelah bertemu Minato.

"Kau hebat, bila di jual, lukisan mu berharga paling tinggi di pameran ini."

Suara berat serta tepukan pelan dibahunya mengagetkan Naruto. Ia mendongak dan mendapati Sai disebelahnya.

"Ah, tidak. Biasa saja."

"Jangan terlalu merendah, Naruto-kun. Itu kenyataan kok."

Naruto diam tidak menjawab. Sejujurnya ia masih tidak percaya karena terpajangnya lukisan tersebut. Ah, seandainya ia bukan berprofesi sebagai bodyguard, ia pasti sudah mengejar beasiswa melukis ke Italia.

Ngomong-ngomong soal bodyguard, Naruto baru ingat kalau Tuan Mudanya tidak ada di dekatnya. Naruto mendadak cemas, takut jika Akatsuki muncul dan menyerang Sasuke. Namun kecemasannya hilang ketika ia melihat model rambut spike biru dongker milik tuannya menyembul diantara orang-orang ini.

Hei, Tuan Mudanya juga 'menikmati' karyanya?

Mendadak Naruto menjadi salah tingkah. Ia mengawasi Tuan Mudanya dari jauh dan orang-orang di sekelilingnya, waspada jika ada yang mencurigakan.

Setelah matanya lebih jeli mengamati, Naruto baru menyadari bahwa Tuan Mudanya tidak sendiri. Ia bersama sang calon istri, Sakura.

Dan entah kenapa, ingin rasanya Naruto pergi dari tempat ini sekarang juga. Ia pun membalikkan badannya, namun ditahan oleh Sai.

"Mau kemana?"

Beruntung Naruto berotak cerdas, ia segera merogoh kantung celananya "Aku mau menjawab telpon dari Kakashi-sensei, Sai-senpai. Permisi."

Dan pergilah Naruto, keluar dari pameran tersebut. Tanpa menyadari tatapan aneh dari sepasang mata, dan tatapan yang terlihat agak kesal dari sepasang mata yang lainnya.

.

.

.

Seorang pemuda tampan tengah duduk di kursinya. Clipboard dan kertas yang digunakannya sedari tadi kini tergeletak di meja. Ia menyandarkan kepalanya di bantalan kursi dan sejenak memejamkan matanya.

'Hehh, kapan ini semua berakhir? Aku 'kan jadi tidak bisa menikmati festival,' batinnya. Pemuda itu sudah nyaris tertidur ketika sebuah suara memanggil namanya.

"Niisan?"

Pemuda itu membuka kelopak matanya dan nampaklah iris mata berwarna kecoklatan. "Gaara? Kau sedang apa?"

Gaara melangkah memasuki kelas yang dipakai sebagai stand konseling dari para mahasiswa Fakultas Psikologi. Ia mengambil kursi dan mendudukinya, tepat disebelah Sasori.

"Kau lelah sekali sepertinya."

"Yah, sangat lelah," keluh Sasori. Kemudian ia menyamankan duduknya agar bisa berhadapan langsung dengan adik sepupunya. "Kau sedang apa disini? Tidak berkeliling?"

Gaara menggeleng. "Tidak. Aku bosan di festival seperti ini. Tidak ada yang menarik."

Sasori tertawa pelan. Tangannya mengusap lembut kepala Gaara yang menimbulkan tatapan maut dari sang pemilik rambut. "Aku malah ingin sekali berjalan-jalan di area festival. Sudah tiga hari berturut-turut aku disini terus. Dan yang 'konsultasi' denganku orangnya aneh-aneh. Aku jadi merasa seperti psikiater sungguhan. Padahal cita-citaku menjadi atlit anggar."

"Kau 'kan pintar bermain katana, itu bisa sedikit 'menyalurkan' hobimu," jelas Gaara. "Ngomong-ngomong, memangnya hanya kau yang menjadi konsultan disini?"

"Tidak. Teman-temanku yang lain sedang istirahat, sekarang giliran shift-ku, setengah jam lagi selesai," kemudian mata Sasori beralih dari Gaara kearah jendela yang berada dibelakangnya. "Gaara," panggilnya.

"Ya?"

"Kira-kira, apa yang akan direncanakan Akatsuki itu lagi ya?" tanyanya sambil menatap keluar jendela.

Gaara menaikkan sebelah alis, "Rencana Akatsuki? Bukankah mereka di bawah kendali Orochimaru?"

Sasori mendelik sebentar kearah Gaara, kemudian ia menghela nafas, "Ya, aku tahu. Tapi aku sangat paham bagaimana cara kerja Akatsuki itu. Merekalah yang harus diwaspadai, bukan si Ular itu."

Gaara menggeleng singkat, "Entahlah, Niisan. Sementara ini kita hanya bisa waspada dan jangan lengah."

Sasori tersenyum, senyuman tulus yang sangat jarang ia perlihatkan kepada orang lain. "Kau benar, aku setuju."

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Gunslinger Girl

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Namikaze's Millitary

Di waktu yang sama dan tempat yang berbeda, seorang pria yang kira-kita berusia awal 25 tahun terlihat turun dari mobil sedan silver yang baru saja dinaikinya. Pria itu memarkirkan mobilnya di depan sebuah gerbang besar dengan bangunan di dalamnya. Bangunan itulah tujuan utamanya.

Di dekat gerbang tersebut, terdapat pos jaga yang sekarang dihuni dua orang. Dua buah barreta selalu terselip di jubah salah satu orang penjaga tersebut. Yang satu lagi membungkus samurainya dengan sarung samurai (saya gak tahu namanya, gomen) dan memanggul samurai tersebut di punggungnya.

Pria yang baru saja datang tadi, menyodorkan nametag kepada kedua penjaga tersebut. Tanda bahwa ia berhak masuk kedalam. Salah satu penjaga itu mencatat namanya. Yang satu lagi bertanya,

"Ada keperluan apa, Kakashi? Bukankah kau sedang menjalankan misi?"

Pria yang dipanggil Kakashi hanya tersenyum dibalik maskernya, sebelum akhirnya ia menjawab. "Kalian kaku sekali pada sahabat sendiri, Kotetsu dan Izumo. Aku kesini karena Master memanggilku."

"Kita harus bersikap profesional dalam bekerja, Kakashi," ucap Izumo ketika dirinya selesai mencatat. "Masuklah," ujarnya sambil menekan sebuah tombol kendali berwarna merah.

Kakashi mengangguk. Ia berjalan memasuki mobilnya lagi dan menjalankan mobilnya memasuki gerbang yang telah dibukanya. Ketika mobilnya sedang berada di posisi di tengah-tengah gerbang, sekelebat suara Kotetsu didengarnya.

"Hati-hati, Kakashi. Master sedang tidak ber-mood baik hari ini."

.

.

.

"Password?"

"Focus on the target, and win a succes."

"Silahkan masuk."

Pintu baja anti peluru yang bertuliskan 'Yellow Flash Master' tersebut terbuka. Sistem buka-tutupnya seperti lift.

Kakashi melangkahkan kakinya dengan amat hati-hati. Tak dapat dipungkiri, dirinya sangat tegang saat ini. Aura yang begitu menyeramkan menguar ketika ia memasuki ruang kerja sang master. Aburame Shino, butler pribadi Masternya mempersilahkan dirinya untuk masuk.

Kini Kakashi sedang berhadapan dengan punggung kursi putar sang Master. Masternya ini sangat suka menatap jendela.

"Kakashi?" panggil Minato, berusaha memastikan.

"Ya, ini saya," jawab Kakashi.

Bisa didengar Kakashi, Minato sedang menghela nafas, "Apakah keluarga Uchiha baik-baik saja?"

"Ya, selama beberapa bulan ini tidak ada kejadian yang berarti mengancam Uchiha-sama."

"Siapa yang menjaga Fugaku kalau kau kesini?"

"Rin, Master. Anda jangan khawatir, Rin bisa diandalkan."

"Hm, aku tahu," gumam Minato. Kemudian ia memutar kursinya dan berhadapan langsung dengan mantan anak muridnya.

Tidak berubah, masih dengan masker yang menutupi wajahnya.

Tidak berubah, tatapan matanya terlihat hampa. Seolah-olah masalah hidupnya tidak pernah berakhir.

Kedua orang tersebut kini berkutat dengan pikiran masing-masing setelah melihat lawan bicaranya. Tidak ada salah satu dari mereka yang berubah.

"Sebenarnya, Kakashi. Ada masalah lagi yang harus ku bicarakan padamu,"

"Apa itu, Master?"

Minato terdiam. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela yang cukup besar diruangan itu. Mata biru jernihnya yang terlihat hampa menatap keluar. Diluar sana terlihat Ibiki yang sedang melatih anak-anak berusia 11-15 tahun untuk latihan a la militer. Kini, anak-anak itu sedang berlatih merayap di lumpur, dan ada juga yang berlatih koprol kedepan dan sesekali menembakkan senapannya.

"Kau tahu 'kan, Kakashi. Aku sudah cukup tua, dan aku tidak akan lama lagi."

Kakashi hanya diam mendengar perkataan Minato, dan entah sejak kapan, ia merasakan bad feeling.

"Aku harus secepatnya mencari penggantiku untuk memimpin Namikaze's Millitary. Persetan dengan tradisi kakekku, yang mengharuskan keturunan Namikaze yang harus memimpin sekolah militer ini," umpat Minato. Kakashi dapat melihat, masternya itu baru saja mengatupkan buku-buku jarinya hingga memutih.

"Naruto bisa menjadi penerus Anda, Master." saran Kakashi.

Minato menghentikan kegiatan mengepalkan tangannya. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya, lalu melipatnya di dada. Dan membalikkan tubuhnya menghadap Kakashi.

Angkuh.

"Kau sedang menyarankan orang yang bahkan tidak aku anggap anak, Kakashi?"

Kakashi tertohok mendengarnya. Diam-diam ia mengepalkan kedua tangannya, namun singkat. Ia meneguk ludah yang kini terasa sangat sulit baginya. Dan Kakashi terdiam, tidak menjawab pertanyaan Minato.

Minato menundukkan kepala, lalu mengangkatnya lagi dan menghadapkan wajahnya keluar jendela. "Kau bahkan tidak menjawab pertanyaanku. Dan, kau tahu Kakashi?" Minato menghela nafas, "Kurasa cukup sampai disini Namikaze's Millitary bertahan. Aku tak mempunyai siapapun untuk meneruskan Akademi ini. Kyuubi telah mati, Deidara menghilang, dan Naruto? Anak lemah itu tidak akan berguna."

Kakashi mengangkat kepalanya yang entah sejak kapan sudah menunduk. "Master. Deidara masih hidup."

Dengan cepat Minato berbalik dan menatap tajam Kakashi, "Masih hidup? Lalu sekarang dia dimana? Kenapa kau tidak membawanya kemari? Bodoh!" ujarnya setengah berteriak.

"Tidak bisa, Master. Deidara sekarang bergabung dengan grup Akatsuki."

Mata Minato membelalak. Terlalu pahit menerima kenyataan bahwa anak lelakinya kini bergabung dengan grup yang menjadi buronan seluruh negri. Ia menjatuhkan dirinya di kursi, lemas.

Jeda beberapa menit. Minato terlalu terpukul hingga ia susah merangkai beberapa pertanyaan untuk Kakashi. Setelah dirinya sudah agak tenang, ia bertanya lagi. "Kapan kau bertemu dengannya? Dimana?"

"Sudah beberapa bulan yang lalu, Master. Saya bertemu dengannya ketika berada di Terowongan di dekat perbatasan kota Konoha-Suna. Ia meledakkan bom di Terowongan tersebut untuk mencelakakan kami. Setelah itu saya sempat bertarung dengannya menggunakan pistol, namun ia kabur dengan salah satu partnernya, entah siapa," jelas Kakashi.

Minato mengangguk singkat. "Deidara adalah anakku. Bagaimana pun juga dia adalah buronan saat ini. Suruh Shikamaru mencari lebih banyak informasi tentang Akatsuki, terlebih Deidara. Kau dan Rin, sebisa mungkin kalian tangkap Deidara dan bawa kesini. Kalau perlu, kau bisa meminta bantuan Naruto atau salah satu temannya."

"Saya mengerti, Master."

Minato mengangguk singkat, "Kau boleh pergi sekarang."

"Ha'i Master, saya permisi dulu. Arigatou," Kakashi menunduk hormat dan segera bergegas pergi meninggalkan ruang sang Master, dengan sejuta pertanyaan di benaknya.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Gunslinger Girl

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Dan disinilah Naruto, berdiri tepat diluar Pameran Lukisan. Dan detik kemudian, ia menyadari betapa bodohnya ia mengambil keputusan untuk keluar dari pameran, walau jelas-jelas Tuan Muda-nya berada di dalam.

"Naruto? Sedang apa kau disini?"

Naruto menoleh kearah sumber suara, dan mendapati Tenten disebelahnya.

"Tenten? Aku baru saja selesai menjawab telpon Kakashi-sensei," ujarnya berbohong.

"Oh, ngomong-ngomong kau melihat Kiba dan Shikamaru tidak? Aku lelah sekali berkeliling festival ini mencari mereka berdua," kata Tenten.

"Tidak, aku tidak melihat mereka. Memangnya kenapa kau mencarinya?" tanya Naruto.

"Entahlah, daritadi aku merasakan bad feeling. Aku ingin memastikan Shikamaru kalau ia tidak menemukan apapun yang mencurigakan di festival ini."

"Kau tidak menghubunginya lewat wireless?"

"Aku lupa membawanya."

Naruto mengangguk. Ia paham dengan sifat Tenten, yang sering merasa curiga. Dan terkadang, firasatnya itu benar.

"Baiklah, biar aku yang menghubunginya," ujar Naruto. Kemudian ia mengeluarkan wirelessnya dari kantong jaketnya.

.

"Ah, aku belum kenyang!" keluh Kiba sambil menepuk-nepuk perutnya.

"Kau 'kan sudah menghabiskan dua porsi takoyaki, masakan belum kenyang?" tanya Shikamaru.

"Belum, hehe."

"Huh, merepotkan."

Shikamaru dan Kiba baru saja membeli takoyaki disalah satu penjual makanan di festival. Kini mereka tengah berjalan beriringan, entah mau menuju kemana.

"Kresek..kresek."

Mereka segera memperlambat langkah dan menajamkan pendengaran. Wireless yang berada di telinga mereka mengeluarkan suara.

"Naruto disini. Shikamaru? Ganti."

"Shikamaru masuk. Ada apa Naruto? Ganti," jawab Shikamaru sepelan mungkin agar tidak membuat curiga orang-orang yang lewat. Sedangkan Kiba disebelahnya hanya diam mendengarkan sambil terus berjalan.

"Apa kau menemukan sesuatu yang mencurigakan? Ganti."

Hening sejenak. Shikamaru menghela nafas sebelum akhirnya menjawab. "Ada, kalian berhati-hatilah dan tetap waspada. Sekarang posisimu dimana? Ganti."

"Aku di depan pameran lukisan bersama Tenten. Baiklah, terimakasih," dan terputuslah komunikasi tersebut.

Setelah Naruto memutuskan saluran, Shikamaru menoleh kesamping dan mendapati Kiba memandangnya dengan tatapan horror.

"Kau menemukan sesuatu yang mencurigakan? Kenapa tidak bilang padaku?" tanya Kiba dengan kesal.

"Bukan menemukan, lebih tepatnya 'menyadari' sesuatu yang mencurigakan. Dan itu terjadi tepat sebelum Naruto menghubungiku."

"'Menyadari'? Maksudnya?" tanya Kiba heran.

"Arah jam 11. Aku melihat kilat teropong terarah pada kita. Kita sedang diawasi dari jauh oleh seseorang. Waspadalah," perintah Shikamaru tanpa mengalihkan pandangannya ke depan.

"Ya."

Kemudian Shikamaru membetulkan letak wireless-nya, "Shikamaru disini. Sasori? Ganti."

Selang beberapa detik, sebuah suara terdengar dari wireless Shikamaru, "Sasori masuk. Aku sudah mendengarnya. Ganti."

"Bagus, apa Gaara ada bersamamu? Ganti."

"Ada, dia disampingku. Apa kau bersama Kiba? Ganti."

"Ya. Sekarang kalian bergegas ke pameran lukisan. Kita akan bertemu disana. Ganti."

"Baiklah."

.

.

.

"Shikamaru, Kiba, Sasori dan Gaara akan segera kesini," jelas Naruto.

"Apa Shikamaru menemukan sesuatu yang mencurigakan?" tanya Tenten.

"Ya. Firasatmu benar lagi, Tenten. Kau hebat."

"Sebenarnya aku berharap firasatku salah."

Naruto diam tdak menjawab. Mata birunya terus mengamati seluruh area festival, waspada. Dan tanpa sengaja, ia melihat Sasuke dan Sakura yang baru saja keluar dari pameran.

"Tenten, terus waspada. Sasuke-sama sudah keluar dari pameran, kemungkinan Akatsuki ada disekitar si-"

DOR!

Naruto mematung seketika. Perkataannya terputus oleh suara tembakan-entah-darimana. Dan seseorang yang sedang lewat tepat disampingnya langsung ambruk seketika.

"Argh!" jerit orang itu, seorang laki-laki.

Naruto menoleh dan mendapati seorang laki-laki telah jatuh dengan posisi tengkurap. Betisnya berdarah terkena peluru yang ditembakkan barusan.

'Orang ini kena. Jangan-jangan target tembakkan mereka adalah—aku?'

Sontak itu membuat seluruh orang di sekitar TKP menjerit dan berteriak panik. Mereka saling berlari-larian menjauh.

"Tenten, segera ketempat Sasuke-sama!" perintah Naruto.

"Baik!"

Mereka berdua berlari menuju tempat Sasuke. Terlihat Sakura begitu ketakutan sambil berlindung dibalik punggung Sasuke. Sedangan Sasuke hanya diam, namun bola matanya sedikit membelalak.

.

"Sasuke-sama, Anda tidak apa-apa 'kan?" tanya Naruto dengan cemas ketika ia dan Tenten sampai.

"Hn, aku tidak apa-apa," jawab Sasuke.

Naruto menghela nafas, sedikit lega.

DOR!

Kembali tembakkan di luncurkan. Naruto mengeluarkan handgun miliknya dari kantong celana. "Tenten, lindungi Sasuke-sama dan Sakura-hime. Aku akan membalas tembakan itu," ujar Naruto.

"Baiklah, hati-hati!"

Naruto mengangguk, kemudian ia berjalan ketempat TKP seorang laki-laki yang terkena tembak tadi. Di tangannya telah teracung dua buah pistol jenis FN FNP-45 di kedua tangannya.

"Keluar kalian!" teriaknya.

Tak ada respon.

Naruto menembak beberapa kali untuk memancing musuh yang telah membuat kekacauan di festival. Namun nihil, tidak ada yang keluar.

Yang ada hanya bunyi denging peluru yang tepat meluncur kearahnya.

.

"Cepat! Barusan aku mendengar bunyi tembakkan!" seru Kiba yang kini berada beberapa langkah di depan Shikamaru.

"Akatsuki sialan!" umpat Shikamaru sembari menyamakan larinya dengan Kiba.

.

"Orang-orang mulai berlarian. Apakah Akatsuki melancarkan tembakkan?" tanya Gaara disela-sela larinya.

"Kurasa begitu," jawab Sasori. "Sudah dimulai."

.

DOR!

BRAK!

Dan kejadian berikutnya begitu cepat, sebuah tembakan diluncurkan lagi menuju Naruto. Naruto sendiri tidak menyadari adanya tembakan dan tidak merasakan sakitnya peluru yang menancap ditubuhnya.

Yang ia dengar hanya bunyi 'brak', dan pantatnya terasa sakit.

"Dasar bodoh!"

Sebuah suara menariknya lagi dari pikirannya ke dunia nyata. Ketika Naruto menyadari, dirinya sudah berpindah beberapa meter dari tempatnya berdiri tadi, dengan posisi duduk.

'Jangan-jangan?'

Naruto mendongak dan mendapati Tuan Mudanya tengah memeluk dirinya dari belakang. Sasuke menyelamatkannya.

"Sa-Sasuke-sama! A-apa yang Anda lakukan?"

"Justru harusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan hingga tidak bisa menghindari serangan?"

Naruto terpaku mendengarnya. 'Bodoh! Naruto baka!' umpatnya dalam hati.

"A-Arigatou Sasuke-sama. Anda tidak apa-apa? Mari saya bantu berdiri," Naruto berdiri dan mengulurkan tangannya, membantu Sasuke bangun.

"Ah, tidak kena ya? Sayang sekali. Padahal aku ingin melihat wajahmu saat sekarat."

Sebuah suara yang diyakini Naruto sebagai pelaku tembakkan, terdengar dari arah belakang. Naruto membalikkan badannya dan melihat seseorang dengan jubah hitam bermotif awan merah, dengan topi seperti caping dengan lonceng disisinya, menutupi wajahnya.

"Akatsuki," desis Sasuke.

Naruto mengacungkan pistolnya, "Buka topimu dan perlihatkan wajahmu, keparat!"

"Baiklah kalau itu maumu," orang berjubah Akatsuki itu melepas topinya yang mengakibatkan loncengnya berbunyi.

Detik berikutnya, pistol yang di genggam Naruto terjatuh. Badan Naruto gemetar, dan kedua matanya terbelalak.

"Deidara-niisan?"

Deidara menyeringai kejam. "Lama tak jumpa, Naruto. Sebenarnya aku masih rindu melihat wajah adik kecilku, tapi—" Deidara mengacungkan pistolnya kearah Naruto. "—seperti yang kubilang tadi, aku lebih senang melihat wajahmu saat sekarat. Selamat tinggal!"

DOR!

Dan meluncurlah satu peluru lagi.

-TBC-

.

.

Chapter 5 : Still Alive?

COMPLETED

.

.

*) Jujur, rumor tentang itu hasil pemikiran saya sendiri. Saya pikir musim semi 'kan banyak bunga mekar tuh, jadinya para cowok bisa dengan mudah metik mawar terus dikasih ke ceweknya deh, so sweet :*

Notes :

Minal Aidin wal Faidzin, Minna-san :D

Err, hai Minna-san *pasang muka innocent plus watados*

*Death Glare by Minna-san* *preparing to killed me*

Okeh oke saya tahu saya salah karena lama ngupdet fic ini. Sebulan penuh saya benar-benar 'dihajar' oleh kegiatan sekolah, ekskul dan remedial. Gomeenn T.T. Sebagai permintaan maaf saya, saya membuat chap ini sedikit-lebih-panjang.

Untuk chap depan, saya gatau mau update kapan, mungkin agak lama karena saya masih banyak tugas yang harus diselesaikan, saya mohon reader maklum

Special Thanks to :

no name, Hiru'Na' Fourthok'og, Reader-chan, no name 2, nanao yumi, NanaMithrEe, Yuki Uta Nakigoe, kyuki-uchiha, Ox69, Namikaze Kokyuu, Rosanaru, Cassie Disandi, Devil Brain, Zxc, Uchiha cucHan clyne, monkey D eimi, Uchiha Kagamie, Airi Princess'Darkness AngeL, Ace Sam Luffy.

mohon maaf belum bisa membalas pertanyaan kalian, di chap depan saya akan membalasnya.

Kritik, saran, review, flame (dg alasan logis) saya terima.

Regards,

Mai.

Jakarta,

05.09.11