Toki: Halo minna-san! Kita ketemu lagi ya~~~
Rukia: Oi… One Litre Tears for You-nya gimana tuh?
Toki: Uhm… Masih kehabisan ide Ruki-chan! (dalam hati) Tumben nih anak ngomong pake nada biasa… Biasanya teriak melulu…
Rukia: Oh… (nyerang Toki pake Sode no Shirayuki)
Toki: (langsung ngehindar, kaget) WOI! LO MAU GUE MATI YA?
Rukia: (masih nyoba nusuk Toki) Lah? Bukannya dicerita ini lo bikin gue benci "waktu"? (Toki: waktu, pukul, jam)
Toki: Ya tapi kan- (nyadar kalau rambutnya kepotong dikit) GYAAAAA! RAMBUT BERHARGA GUE!
Rukia: (masih mencoba menyerang Toki)
Yukiko: (ngucek-ngucek mata, baru bangun tidur) Berisik amat sih! (ngelemparin Rukia dan Toki bantal)
Toki: (jawdrop) Jikan Kyofusho, DOZOU! (bantalnya mendarat dengan "mulus" di muka Toki)
Disclaimer: Bleach punya Tite Kubo! Cerita ini dan Yukiko punya Toki no Miko!
Warning: penuh dengan angst, jika anda tidak suka, CEPAT-CEPAT KLIK TOMBOL BACK!
Petunjuk:
"Hai" – percakapan
Hai – flashback, mimpi Rukia (dalam Author's PoV!)
It's still Rukia's PoV!
Jikan Kyofusho
Rating: T
Genre: Romance, Angst
Type: Multichapters
Bukannya hidupku sudah cukup menderita sekarang?
"Aku… hanya ingin tidur dengan tenang…"
Setelah mulut kecil ini mengatakan kalimat tersebut, cowok berambut jingga itu melihatku dengan tatapan aneh. Apakah itu tatapan prihatin? Mengejek? Simpati?
Aku tidak peduli. Dan tidak mau peduli.
Dengan langkah tidak seimbang, aku berjalan ke pintu ruang kesehatan. Belum saja aku menggapai gagang pintunya, aku sudah terjatuh kearah belakang. Aku tidak menutup mata, toh rasa sakit ini sering kurasakan.
Tapi, sudah semenit aku terjatuh, aku tetap tidak merasakan sakit. Dan kulihat, cowok tadi sudah melindungiku.
Lancang sekali. Aku tidak butuh perlindungannya.
"Kau masih butuh istirahat" ujarnya dengan nada memerintah. Heh. Memang dia bosku? Enak saja menyuruhku seenaknya!
Dengan segera aku bangkit dari genggamannya, merasa risih didekatnya. "Jauhi aku, biarkan aku sendiri" ucapku dingin dan sesegera mungkin meninggal ruang kesehatan ini, meninggal cowok itu sendirian.
"Tadaima…"
Konyol, kenapa aku mengucapkan kata itu? Berharap seseorang akan menjawab panggilanku? Mustahil.
Aku melempar tasku dengan arah tak menentu lalu berjalan ke dapur, mencari sesuatu untuk dimakan. Melihat semua makanan di kulkas kosong, aku hanya mendesah. Kenapa aku harus keluar dari rumah lagi?
Aku mengambil tas belanjaku dan dompetku lalu dengan gotai berjalan menuju keluar. Kulihat anak dari tetangga sebelah bermain dengan riangnya. Betapa rindunya aku melihat senyuman polos seperti miliknya…
"Fuyuki! Cepat masuk kedalam!"
Kulihat seorang wanita berumur tiga puluhan memanggil anak tadi, lalu berbisik padanya –cukup kencang untukku dengar, "Jangan dekat-dekat dengan perempuan gila itu!"
Gila? Dia bilang aku "gila"? Beraninya dia berkata seperti itu tentangku! Aku masih waras! Aku masih punya akal sehat!
-iya kan?
Aku menggeleng kepalaku dengan kuat, lalu berjalan menuju supermarket. Tujuanku hanya membeli beberapa makanan dan cepat pulang. Ya, hanya itu tujuanku. Aku tidak mengharapkan hal lain terjadi selama perjalanan ini.
Berat. Ya, tas belanja yang tadinya ringan dan tipis sekarang berubah menjadi berat dan tebal. Tapi, aku cukup kuat untuk menenteng tas ini.
Aku berjalan agak cepat. Ah… Andai aku mempunyai kekuatan berpindah tempat… Semuanya tidak perlu serepot ini.
Tiba-tiba, langkahku terhenti ketika melihat sebuah taman bermain yang terlihat kumuh. Air hangat mengalir mulus dikedua pipiku. Taman itu…
"Okaa-san! Otou-san! Aku mau bermain di taman bermain yang biasanya itu ya!"
Air mata turun makin deras kali ini. Pandanganku mulai kabur. Taman itu…
"Hati-hati dijalan ya!"
"Uhm!"
Taman itu… Hari itu… Waktu itu…
"RUKIA!"
BRUKK!
"OTOU-SAN!"
Kakiku melemas, tanganku pun melemah, tak terasa tas belanja yang sedari tadi kutenteng sudah menyentuh tanah. Dan kali ini kedua lututku ikut menyentuh tanah. Dan dengan itu, badanku ambruk dan aku kehilangan kesadaran.
"Okaa-san! Otou-san! Aku mau bermain di taman bermain yang biasanya itu ya!" teriak Rukia kecil dengan cerianya, sambil berlari kecil kearah kedua orang tuanya.
Sang ibu membelai kepala Rukia dengan penuh kasih sayang. "Boleh saja! Tapi kali ini, otou-san yang menemanimu, oke? Okaa-san harus pergi untuk mengurus sesuatu"
Rukia mengangguk dengan semangat, lalu melihat muka ayahnya dengan wajah berseri-seri. "Otou-san! Otou-san mau menemaniku kan?" tanyanya dengan muka memohon. Sang ayah hanya tertawa kecil.
"Tentu saja otou-san mau! Siapkan jaketmu, udara diluar sepertinya lebih dingin dari kemarin" ujar ayahnya, lalu Rukia menganggukan kepalanya.
"Hai otou-san!" Dan dengan itu, Rukia berlari kecil menuju kamarnya untuk mengambil jaketnya.
Setelah beberapa menit, Rukia berlari kecil kearah ayahnya. "Lihat otou-san! Aku memakai jaket yang otou-san beri ketika natal tahun lalu!" ujar Rukia sambil menari-nari kecil didepan ayahnya.
Lagi-lagi sang ayah hanya tertawa kecil. "Hai hai, sekarang ayo kita pergi!" ujar ayahnya penuh semangat sambil memegang tangan kecil Rukia.
"Itterasai!" ujar sang ibu kepada pasangan ayah-anak itu.
Sepanjang perjalanan, Rukia terus bertanya kepada ayahnya dengan muka polosnya, sedangkan sang ayah hanya tersenyum melihat tingkah putri kecilnya itu.
Beberapa menit berlalu, mereka berdua sampai di tempat tujuan mereka; taman bermain. Dengan mata berbinar-binar, Rukia segera berlari menyebrangi jalan.
"Rukia, hati-hati ya!" peringat sang ayah. Tapi, Rukia terlalu senang untuk mendengar peringatan ayahnya itu. Dan tiba-tiba-
TIN TIN!
Mata ayah Rukia membulat. Dilihatnya sebuah truk besar mengarah ke arah putri kesayangannya itu. Dengan segera, sang ayah berlari kearah Rukia.
"RUKIA!"
Dengan sekuat tenaga, sang ayah mendorong tubuh mungil Rukia, menggantikan posisi anaknya.
BRUKK!
Rukia menahan tangis ketika melihat kedua tangannya tergores aspal. "Otou-san! Ta-"
Kalimat Rukia terputus, kedua mata kecilnya membesar melihat sosok ayahnya berlumuran darah. Darah segar mengalir deras dari kepalanya. Salah satu tangan kekarnya terlihat seperti ingin menggapai Rukia.
Rukia ketakutan. Ayahnya yang selalu dia banggakan dan sayangi, mati didepan kedua matanya. "O-Otou-san…" bisik Rukia sambil meraih tangan ayahnya yang besar. Dingin, tangan ayahnya tidak lagi hangat seperti biasanya.
"Otou-san… Bangun!" teriak Rukia, berharap sang ayah akan bangun dan memeluk tubuh kecilnya.
Tapi, sosok berwibawa didepannya tidak bergerak sedikitpun. Rukia masih mencoba menguncangkan badan ayahnya.
"Otou-san!"
Hening.
"Otou-san!"
Masih hening. Tangisan Rukia pecah dan dengan suara serak, dia tetap meneriaki ayahnya.
"OTOU-SAN!"
Aku (A/N: Langsung ke Rukia's PoV!) membuka kedua mataku lebar-lebar, melihat sekelilingku. Dimana aku? Kenapa aku bisa disini?
"Ah… Kau sudah bangun?"
Suara itu! Aku mendongak keatas untuk melihat pemilik suara itu. Mataku mulai bosan melihat cowok berambut jingga itu.
Dia mendesah pelan. "Kenapa sih kau selalu pingsan setiap saat?" tanyanya lalu memberiku sebuah mangkuk. "Itu bubur, makanlah"
Aku melihatnya dengan tatapan tak percaya. "I-Ini rumahmu?"
Cowok tadi tersenyum. "Ah… Ya, tepatnya ini di klinik ayahku. Ayahku itu seorang dokter" jawabnya.
"La-Lalu… Kenapa aku bisa disini?" tanyaku lagi.
"Aku melihatmu pingsan dijalan dan membawamu kesini" jawabnya lagi. "Ayolah! Buburnya bisa berair lho! Kamu itu harus banyak makan! Lihat badanmu! Kurus kering begitu!"
Aku menatapnya tajam. Tapi, mengingat dia telah menolongku, aku menghaluskan tatapanku. "…Arigatou…" bisikku.
Cowok itu melihatku dengan pandangan tidak percaya. "Tadi… kau bilang apa?" tanyanya.
"Aku tidak akan mengulang perkataanku" jawabku, lalu memakan sesendok bubur buatannya. Enak. "Kau yang memasak ini?" tanyaku, lalu memakan sesendok lagi.
Cowok itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, adikku yang membuatnya"
Aku terus memakan bubur itu sampai habis. Kuakui buburnya enak. Lalu, cowok itu melihatku dengan lekat. "Kenapa kau bisa pingsan?" tanyanya.
Aku terdiam, tidak menjawab pertanyaannya. Lalu-
Tik…
Suara itu. Ketika aku hendak bangkit dari kasur ini, cowok itu langsung mengambil barang yang kuincar itu. Ya, kalian pasti sudah tau kan barang apa itu?
"Jam ini lumayan mahal, sayang kalau kau rusak" ujarnya lalu berjalan keluar kamar ini.
Aku terdiam lalu berjalan menuju pintu tempat cowok tadi keluar. Sebelum aku menyentuh gagang pintunya, cowok itu sudah membuka pintunya duluan. "Kau mau pergi?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Maaf sudah merepotkan"
Ketika aku ingin berjalan keluar, cowok itu menaruh sesuatu dikepalan tanganku. "Nomor handphone-ku. Setidaknya hubungi aku ketika kau ada masalah" ujarnya.
Aku terdiam, lalu melihat kertas kecil digenggamanku itu. Kubaca tulisan dikertas itu. Kurosaki Ichigo 0813XXXXXXXX
Aku berusaha membuka kedua mataku selebar mungkin. Aku masih mengantuk. Aku masih butuh tidur. Tapi, sialnya, aku harus sekolah. Ah, aku berharap dapat cepat dewasa…
Ketika aku sudah sampai di dekat gerbang sekolahan, beberapa anak cewek melihatku dengan tatapan dingin. Aneh, bukannya cuma aku yang bisa mengeluarkan tatapan sedingin itu?
Aku mengalihkan pandanganku lalu tetap berjalan menuju gedung sekolah. Ketika aku membuka lokerku-
BRAAKK!
Mataku membulat melihat lokerku ditutup dengan kasar. Apa-apaan ini?
"Halo Kuchiki-san~!"
Kulihat orang yang melakukan hal tadi. Ternyata dia adalah Inoue Orihime, cewek yang paling merasa dirinya paling cantik disekolah. Ya, memang benar sih.
"Nee~ Kulihat kemarin Kurosaki-kun pergi ke ruang kesehatan setelah kau pingsan~~ Apa yang dia lakukan? Tepatnya, apa yang kau lakukan?" tanya Inoue dengan suara yang diimut-imutkan.
Aku tidak menghiraukannya lalu membuka lokerku lagi, tapi kali ini Inoue menutup lokerku lebih keras lagi. Mukanya yang tadinya tersenyum tiba-tiba berubah menjadi gelap.
"Ingat saja ya, Kurosaki-kun itu milikku! MILIKKU! Jika aku melihat kau dan Kurosaki-kun berdua saja, aku akan membuat hidupmu menderita, mengerti?" ancamnya dengan amarah, lalu membiarkanku sendirian.
Aku tidak takut akan ancamannya, bukannya hidupku sudah cukup menderita sekarang?
~Bersambung~
Toki: Yey! Akhirnya bisa update juga~~~!
Yukiko: Emang dari kemarin To-chan kemana? Kok baru update sekarang?
Toki: (ketawa hambar) Yah~~ Toki punya sedikit (baca: segunung) tugas yang belom selesai, dan sedangkan hari senin udah mulai UAS, jadinya Toki bakal menghentikan aktifitas menulis fic untuk sementara! Tenang aja, cuma seminggu kok!
Rukia: Oi author gaje, aku belom selesai menghabisimu… (bisik Rukia dari belakang dengan suara dark)
Toki: (kabur) GYAAAA!
Rukia: (ngejar)
Yukiko: (sweatdrop) Oke deh minna-san yang sudah membaca fic ini~~! Terima kasih sudah membaca fic abal To-chan ini! Dimohon reviewnya ya~~! Kritik dan saran juga diterima disini!
