Uwaa! Terima kasih banyak kepada ArdhyaMouri! Kelihatannya kamu bukan author fandom ini (tentu saja, author fiction Indo di sini kan baru saia), tapi bersedia me-review fiction ini T^T *terharu*. Terima kasih banyak yaaa =D

Yasudah, langsung lanjut chapter dua. Happy reading ^^


Roti, Cinta dan Pesta Dansa
(Bread, Love and Ball)

Chapter 2

Akane kabur ke taman kota. Kakinya dihentak-hentakkan marah.

"Ranma-baka! Baka, baka, BAKAAA!"

JBLENG! Dengan sekuat tenaga Akane memukul tiang listrik. Tiangnya penyok. Tangannya juga nggak kalah penyok. Pasti mak nyus rasanya.

"Adududuh~" Tuh kan? Air mata kesakitan sampai merembes keluar. Makanya, Akane, jadi cewek jangan brutal-brutal dong.

Sewaktu gadis ini mengusapkan tangan untuk menghapus genangan air mata itu, siluet seseorang yang ia kenal tertangkap retina matanya.

"Ryoga?"

Ryoga yang tadinya duduk lesehan di jalan sambil mengusap-usap kepala segera berdiri dan membungkuk dalam.

"Se-selamat sore, A-ka-ne!" salamnya terbata-bata.

"Eh, selamat sore," balas Akane. Kalau Ryoga membungkuk begitu, Akane bisa melihat benjol besar di kepala pemuda itu. "Sedang apa kamu di sini?"

"Eh anu…"

'Masa aku bilang kalau aku jatuh dari tiang listrik yang dijotosnya tadi?' batin Ryoga enggan. Nanti Akane jadi merasa bersalah. 'Tapi jatuhnya sakit banget, sih. Mana kepala duluan yang mendarat.'

"Eh, tidak. Ah!" Ryoga mendapati ada air mata di pelupuk mata Akane.

"Akane… menangis?"

Gawat. Akane memalingkan wajah –menyembunyikan bukti. "Tidak, kok," elaknya.

"Akane kenapa?" tanya Ryoga khawatir.

"Anu… bukan apa-apa."

"Apa Ranma yang membuat Akane menangis lagi?"

Tangis Akane pecah. Gadis itu tidak bisa berpura-pura tegar lagi. Halah. Alay banget. Padahal kan air mata itu bukan karena perasaannya terluka atau apa. Air mata itu muncul karena kecerobohannya sendiri. Tapi memang dasar perempuan, kalau sudah diemong, mudah terbawa suasana.

"Huuuu…"

Sekarang Ryoga jadi gelagapan sendiri. Bukan hanya karena takut telah terjadi sesuatu pada Akane, tapi juga karena orang-orang sekitar mulai melempar pandangan curiga padanya. Kalau sampai dia dikira pemerkosa, bisa repot.

Akhirnya, supaya tidak mengundang pikiran-pikiran negatif, Ryoga menarik gadis itu melipir ke bantaran sungai. Ya ampun, Ryoga, Ryoga. Kalau mau cari tempat sepi yang romantis dikit kek. Masa ngajak berduaan di pinggir kalen?

"Huuuhuhuhu…" tangisan Akane justru makin keras. Ryoga ingin bersalto saking paniknya.

"Cup cup cup…" 'Kembang kuncup, pilih mana yang mau dicup,' senandung Ryoga dalam hati. Nih orang udah tau ada orang sedih juga, malah nyanyi-nyanyi sendiri. Tapi jangan salah! Ryoga berkaraoke ria untuk menenangkan dirinya supaya tidak stress menghadapi tangisan Akane. Selain menenangkan diri, Ryoga juga memikirkan cara untuk menenangkan Akane. Kalau saja ada permen atau kacang di kantongnya, pasti hal itu akan sangat membantu. Woi! Memangnya Akane monyet apa?

"HUWAAAA!" Wah, ngerepotin aja nih cewek. Kayaknya babi ngepet aja lebih gampang dijinakin. Ryoga meremas-remas tangannya sendiri. Antara bingung, kasihan, dan… geregetaaaan~

"Kenapa kamu menangis, Akane?" Ia berusaha sabar.

"Habisnya… Huuhuhu… Ranma…"

"Ranma?"

"Ranma… Ngeselin… Huhuhuu…"

JRENG JRENG JREEEENG~… 'Kesempatan!' batinnya, 'kalau mau mengadudomba Akane dan Ranma, sekaranglah saat yang tepat! Uwoohohoho! We are the warthog, ma pren!" Dasar babi bulus! Tenyata bukan hanya kulitmu saja yang burik, Ryoga! Hatimu burik juga kaya kulit babi korengan!

Bah! Makin kaya sinetron aja nih fiction.

"Ranma ngeselin? Sudah dari jaman juleha, sayang. Lihat saja, dia punya banyak wanita simpanan! Kamu nggak tahu, kan, Akane, apa yang Ranma lakukan dengan perempuan-perempuan simpanannya selagi kamu nggak ada?" Ryoga si penghasut handal beraksi. Oh tidak! Wajahnya suram! Jangan-jangan Ranma sudah... Apa, hayo?

"Apa?" tanya Akane takut.

"Main gaple."

"WUOHOK WUOHOOOK!" Akane batuk-batuk. Ryoga yang panik langsung menepuk-nepuk punggungnya.

"Kalau itu… masih bisa dimaafkan… Tapi… kali ini dia keterlaluan! Iiiih... Benci benci benci! Huhuhu…"

Waduh, umbel mulai meler. Ryoga dengan tidak rela melepas ikat kepalanya. Langsung disambar Akane dan dipakai buat mengelap ingus.

Sabar, ya, mas. Semua pengorbanan ada harganya.

"Padahal aku sudah susah-susah cari gaun yang pas… Tapi… Tapi tiba-tiba… Ranma bilang nggak mau… berdansa denganku… Huuhuhuu…" adu Akane di sela-sela isakannya.

Perasaan dalam hati Ryoga serasa diobok-obok pake air cebok. Ia ikut sedih dan merasa kasihan pada Akane. Tapi ia juga terbakar api cemburu. Ada rasa kecewa. Dan... benci benci benciiii~ Pokoknya kaya nano-nano, rame rasanya.

Namun sebenci apa pun pemuda itu pada Ranma, ia masih punya hati. Ia tidak bisa meluluhlantahkan perasaan gadis yang memendam rasa pada Ranma begitu saja.

TEP. Didorong rasa empati, Ryoga meletakkan tangan di kepala Akane, lalu mengusapnya lembut.

"Ssh… Sudah, tidak apa-apa, Akane. Ranma tidak bermaksud mengatakannya, kok." Ryoga berusaha untuk tidak muntah. Ia mual kalau harus membaik-baikkan Ranma Saotome, musuh bebuyutannya dari SMP. Tapi sekarang yang penting adalah menenangkan Akane. Ia akan melakukan apa pun untuk bisa membangkitkan semangat perempuan ini lagi.

"Ranma pasti mau kok berdansa dengan Akane. Aku jamin deh."

Karena ketika hati Akane hancur, hatinya pun hancur. Kalau Akane bahagia, dirinya juga. Begitu pikirnya. Cih. Sok melankolis banget.

"Benarkah?" secercah harapan berkilau di mata Akane.

"Pasti. Kalau Ranma berani menolak, bilang padaku. Akan kubuat dia sujud memohon ampun padamu."

Tangisan pun reda, digantikan senyuman secerah mentari. Ryoga jadi ingat betapa ia menyukai senyum Akane.

"Terima kasih, Ryoga. Kalau Ryoga yang bicara, Ranma jadi tidak kedengaran buruk sama sekali."

Lalu mereka berdua tertawa. Ryoga masih menahan rasa mual, lho, waktu itu.

###

"Kalau kau berhasil bertahan berdansa dengan Akane selama lima menit saja, kau boleh mendekati Akane sesukamu. Aku janji, aku nggak akan mengganggu kalian berdua. Tapi kalau aku berhasil berdansa selama lima menit dengan Akane lebih dulu, kau harus menyerahkan roti jatah makan siangmu selama setahun untukku. Pokoknya, yang berhasil berdansa selama lima menit lebih dulu dengan Akane, dia yang menang."

Kira-kira begitulah bunyi tantangan Ranma suatu hari. Ryoga amat sangat antusias. Kalau menang, ia mendapat jackpot, hadiah yang tidak pernah dibayangkan bisa menjadi miliknya. Kalau pun kalah, yah, konsekuensinya tidak terlalu berat. Walau ia akan kelaparan tiap jam makan siang.

"Tapi Akane sendiri bilang ia ingin berdansa dengan Ranma. Manusia macam apa aku bila menghalang-halangi keinginan tulus seorang wanita?" sesal Ryoga murung. Lagi-lagi, ia duduk berduaan dengan babi hutan anakan. Pesta dansa dimulai dalam tiga jam. Kenapa si babi-face ini malah keluyuran di tengah hutan? Jangan-jangan... dia itu kesasar lagi?

"Apa yang harus kulakukan?"

"Yang harus kaulakukan? Tentu saja berdansa dengan Akane lebih dulu dari Ranma."

Ryoga mengangguk-angguk. Lalu njondhil *WTH*. Ia segera memelototi si babi kecil.

"Ba-babi yang bisa bicara!"

GUBRAK!

"Eh?"

"Nggak heran Akane nggak tertarik padamu. Jadi orang kok IQ-nya tiarap?" muncul sebuah sosok berambut panjang dan berbaju putih.

"Se-setan!"

"Setan apanyaa? Lihat yang jelas dong!"

Ryoga mendekati si makhluk.

"Siluman."

Sang siluman mengelap wajahnya.

"Ini aku, Mushu, Mushu! Lihat yang benar dong!" erang Mushu frustrasi.

"Mushu? Oh, ya. Si ketua kelas. Maaf. Tapi, lebih baik kau pakai kacamatamu yang aneh itu lagi. Kalau ada yang lihat wajah aslimu, bisa mati berdiri tuh orang."

'Sialan bener nih genjik. Niatku membantunya pupus sudah," erang Mushu dalam hati.

"Ehm. Langsung saja. Aku sudah tahu tantangan yang diberikan Ranma padamu. Aku di sini untuk menawarkan kesepakatan lain yang menguntungkan. Mau dengar?"

"Apa?" sahut Ryoga tanpa basa-basi.

"Aku akan menahan Ranma selama yang kubisa. Sementara itu kau akan berdansa dengan Akane. Tawaran yang menarik, bukan?" Mushu mengangkat-angkat alis sebelum memakai kacamatanya sesuai saran Ryoga.

"Tapi kalau begitu aku sama saja menghancurkan keinginan Akane."

"Siapa bilang?" Mushu tersenyum misterius. "Kau hanya perlu berdansa dengannya lebih dulu dari Ranma. Setelah itu, gadis itu bebas untuk berdansa dengan pria manapun, termasuk Ranma. Kau menang taruhannya, mendapatkan gadismu, dan hidup bahagia selamanya. Tamat," papar Mushu. Ryoga mengangguk-angguk.

"Tapi yang semacam ini ada harganya."

Ryoga geleng-geleng. Lo kate dugeman?

"Katakan, apa itu?"

"Sebagai imbalan jasaku, aku ingin kau mencomblangkan aku dengan Shanpu. Tidak sulit, kan?"

Bulu roma Ryoga berdiri tegak ketika mendengar nama itu. Shanpu. Cewek cantik tapi sangar seperti harimau beranak. Neneknya mantan atlet lempar lembing. Salah-salah bisa jadi sate manusia dirinya dilempar lembing trus dijadiin sate sama neneknya. Tapi, demi cinta…

"Oke. Aku setuju. Demi Akane…" Demi Akane, dia lakukan segalanya. Bener-bener mirip babi kurban.

"Deal?"

"Deal!"

"Yakin? Deal?"

"DEAL!"

Lalu dua orang itu berjabat tangan mantap dan terkekeh-kekeh sendiri. Benar-benar mirip jejadian babi dan siluman mata empat.


Wahahahaaa~ Chapter dua sama nggak jelasnya dengan chapter pertama. Apa chapter ketiga juga nggak jelas? Tungguin ya!

Arigatou buat yang udah baca. Arigatou gozaimasu buat yang mau review ^^ Review anda akan dibalas dengan review (bagi anda yang author dan log in) dan ucapan terima kasih di chapter depan.

Sampai jumpa di chapter tiga! Mata ^^