Waaaw! Akhirnya, bisa namatin satu lagi multichapter!
Terima kasih banyaaaaak kepada Ardhya Mouri yang sampai hari ini menjadi reviewer tunggal yang selalu mendukung saia. Kepada reader yang tidak menyumbang review, saia juga berterima kasih ^^
Baiklah, ini dia. Chapter final. Selamat menikmati =D
Roti, Cinta dan Pesta Dansa
(Bread, Love and Ball)
Chapter 3
"Yak, selesai."
Akane tertegun. Bayangan yang ditunjukkan cermin seakan mengelabui indera pengeihatannya. Kakaknya, Kasumi, memang tahu benar cara mendandani seorang wanita.
PROK PROK PROK! Derap langkah bergema di sepanjang koridor.
"Akaneee!" Oh, ternyata yang berlarian itu Ranma. Sesaat kemudian, kepalanya menyembul dari balik pintu kamar Akane.
"Kamu lama—"
…
Hei, kenapa mendadak diam, Ranma? Aha. Sepertinya kau juga takjub akan apa yang kaulihat.
"Bagaimana, Ranma? Akane cantik, kan?" tanya Kasumi menggeser badannya supaya Ranma bisa melihat tunangannya lebih jelas.
Si cewek macho itu telah disulap menjadi sesosok dara cantik jelita. Strapless dress putih mutiara membalut tubuh mungilnya. Rok dress itu mengembang dan berhiaskan renda-renda serta bunga-bunga mawar dari kain. Strapless yang membungkus bagian atas badannya bermodel sangat manis. Lalu, sebagai puncak kecantikan itu, veil bertatahkan mutiara-mutiara kecil menudungi kepalanya. Secara ringkas, penampilan perawan itu sekarang mirip seorang gadis yang hendak menikah. Cantik.
"Kenapa diam saja, Ranma? Setidaknya berkomentarlah sepatah dua patah kata!" tuntut Kasumi.
"Ah, a-nu. Ng… Akane… ca-ca-ca—"
"AKANEEEE…" sebuah suara ngebass penuh ancaman menggelegar memecah kecanggungan. Ah hih! Merusak suasana saja. Soun, si calon mertua, menerabas masuk tiba-tiba. Wajahnya—seperti biasa— jadi besar, lidah menjulur-julur. Me-nge-ri-kan dan je-lek to-the-max.
"Akhirnya putri bungsuku yang tomboy ini bersedia menikah dengan Ranma. Betapa bahagianya hatiku sebagai seorang ayah~" raung sang pemilik Perguruan Tendo pakai mic.
"Bu-bukan, ayah! Yang kupakai ini bukan gaun pengantin. Coba lihat baik-baik! Roknya pendek," Akane berusaha mengelak. Padahal, kenyataannya, dress ini sengaja dibeli untuk memastikan dirinya cocok memakai gaun pengantin, besok kalau dia menikah (dengan Ranma *dibelah Akane*). Ternyata si Akane ada sisi lucunya juga, ya.
Si ayah kumis (?) itu mengamati gaun itu dari berbagai sisi, lalu alisnya bertaut.
"Ternyata…" gumamnya kecewa.
"Be-benar, kan? Ini bukan gaun pengan—"
"Dilihat dari manapun tetap gaun pengantin! Aku bahagia…" Air mata Soun mengucur seperti air terjun. "Baiklah, tidak usah tanya jawab. Segera kusiapkan pesta pernikahannya. Wuoohohoo~"
Dan lelaki paruh baya itu pun pergi dengan riang. Kesempatan ini tidak disia-siakan Ranma. Ia pun menarik tangan Akane.
"Ayo, Akane. Mumpung ayahmu sedang repot, kita berangkat sekarang."
Tapi, apa yang terjadi selanjutnya, saudara-saudara? Oooh! Ternyata Akane menyentakkan tangannya! Sungguh tragis! Tangan Ranma terlepas! Hiks, memilukan sekali. Lalu, lalu… Akane menarik nafas sekuat tenaga, dan—
"Kau bilang tidak mau berdansa denganku, kan?"
Ranma syok. Ternyata, mau dibalut gaun apa pun dan dimake up secantik apa pun, Akane ya tetaplah Akane. Si gadis yang sangar.
"Ngambek ya?"
Gadis sangar langsung membalikkan badan. "Huh! Pergi saja sendiri!" suruhnya.
"Ta-tapi, kamu beli gaun lucu itu khusus untuk pesta dansa ini kan? Masa kau malah nggak pergi?"
"Huh, siapa bilang? Aku tetap pergi. Aku akan berdansa dengan Ryoga."
GELEDEEEERRR!
Kata-kata itu bagaikan alu yang menumbuk (?) hati Ranma. Seandainya bisa, Ranma ingin nangis guling-guling. Kata-kata Akane itu begitu menumbuk (?) karena Ranma teringat akan tantangan yang dia lempar pada Ryoga seminggu yang lalu.
'Ga-gawat. Jatah roti setahunnya Ryoga bisa-bisa gagal kuembat. Ini harus kucegah!'
"Tapi, Akane, kamu sudah berdandan secantik itu. Sayang kalau disia-siakan bersama babi face sejelek Ryoga."
"Sayang juga kalau disandingkan sama koki bencong macam dirimu!"
"Eeeh?" Ranma jadi sadar begitu memperhatikan kostumnya. Demi barang haram curian kakek Happosai! "Bagaimana mungkin mini skirt dan celemek ini nempel di badanku?"
"Kan kamu sendiri yang pakai!" Akane menonjok muka Ranma.
"Kalau begitu, aku ganti dengan tuxedo supaya kita tampak serasi!" Oh Ranma, sikapmu sangat gentle! Kamu pasti juga sudah nggak sabar ingin menikah dengan Akane, kan? *disate Ranma*
Langsung ngibritlah Saotome muda ke kamarnya.
Beberapa detik kemudian…
Cling cling cling…
"I'm ready, Akane—Lho?" Kok cuma ada Kasumi yang lagi beres-beres perlengkapan make up?
"Oh, Ranma. Akane sudah berangkat."
DOBEL GELEDEEEERRRR!
###
"Baiklah. Sudah selesai."
Ryoga sedang mengagumi dirinya sendiri di depan cermin. Yukata keren berhasil dikenakannya dengan rapi, walaupun menali simpul bunko itu bikin keriting, dan dia juga hampir mati gara-gara obi-nya kekencangan. Ryoga langsung keluar dari rumah. Sekarang tinggal satu masalahnya.
"Sekolah arah mana, ya?"
###
Ranma berlari menuju sekolah.
"Akane bodoh! Dia nggak mau menungguku! Mau balas dendam rupanya!"
Tik tik tik… bunyi hujan di saat genting. Gehoy… Kalau Ranma sampai di sekolah dalam wujud gadis berkepang, bisa-bisa yang jadi pasangannya malah Tatewaki Kunou.
"Harus berteduh! Di manaa, di mana, di mana~? Ku harus berteduh di mana~" Iyaiks! Ternyata lagu dangdut berjudul "Salah Alamat" itu juga ngetrend di Jepang. Baru saja kalimat pertanyaannya selesai, Ranma melihat sekapling rumah dari tripleks. "Ah! Itu dia!"
Tanpa ragu pria setengah wanita *dipiting Ranma* itu masuk ke rumah tripleks. Sayang sekali insting pendekarnya sedang tidak setajam biasa. Di dalam rumah sempit itu, kengerian menantinya.
SREK SREK…
"Eh? Suara apa itu? Tikus? Kadal?"
"HEAAAA!"
"Silumaaaan!"
…
"UGGYAAAAAAAAAA!"
###
Pesta dansa di ruang olah raga SMU Furinkan sebentar lagi dimulai. Namun ruangan itu masih sepi. Mungkin karena di luar hujan, siswa-siswi jadi terlambat datang.
Akane duduk mengamati orang-orang di dalam ruangan. Rasa iri mengintai dari hatinya melihat beberapa pasangan yang tampak sudah siap berdansa.
"Ranma bodoh! Di saat seperti ini malah bersikap sangat menyebalkan! Padahal gaun ini sengaja kubeli untuknya—" Beberapa anak cowok tahu-tahu sudah mengerumuni Akane.
"Jadi memang dibeli demi Ranma ya," mereka terisak-isak karena patah hati.
"Aah! Bodoh bodoh bodooooh! Aku nggak mau tau lagi! Pokoknya aku akan berdansa dengan siapapun yang mengajakku duluan."
"Benarkah itu, Akane?" tanya sebuah suara.
"Ryoga—eh?"
###
"Akane sudah datang belum, ya?"
Akhirnya datang juga tokoh kita yang buta arah ini. Ryoga celingukan mencari-cari si gadis berambut cepak. Sayang sekali, dia tidak ada di mana-mana. Hidangan di atas meja pun sudah habis bahkan sebelum acara dimulai. Dasar… Ternyata murid-murid Furinkan super rakus.
Karena yang dicari tak tampak di manapun, Ryoga memutuskan menunggu sambil duduk (sambil masih celingukan ala genjik[1] kesasar).
"Babi face keras kepala juga, ya?"
Ryoga nyaris terjengkang melihat siapa berceletuk. "Siluman yeti cebol!" serunya heboh. Satu jitakan telak mendarat di kepalanya.
"Lihat baik-baik, babi face! Aku ini Ranma, Ranma!" si siluman yeti cebol menunjukkan kepangannya.
"Tidak mungkin! Meskipun Ranma jelek tak terhingga, dia tidak pernah semirip ini dengan gorila gunung! Apa yang terjadi padamu, Cina kepang?" jerit Ryoga sok prihatin, padahal tangannya menonjok wajah Ranma.
"Justru itu… YANG MAU KUTANYAKAN PADAMU, CELEEEENG!"
JDUAK! Kepala Ryoga ditendang sampai kepentok meja hidangan.
"Kau menjebakku supaya tidak bisa sampai sini, kan? Dasar pengecut hidung nungging!"
'Ugh! Mushu blo'on, nggak bisa diandalkan! Dia gagal menahan Ranma! Padahal waktu itu dia terlihat sangat meyakinkan. Orang rabun kalkun memang nggak bisa dipercaya!'
"Pokoknya aku tidak akan membiarkanmu berdansa dengan Akane!"
"Dan aku akan tetap membuatmu menyerahkan jatah roti setahun padaku!"
DUAK DUAK DUAK DUAK! PRAK PRANG BRUGH PYAAAARRR!
Fire in the hole! JEBLENGG~!
Oh no! My eye!
Perang dunia ke-tiga pun meletus. Piring-piring berhamburan. Meja-meja prasmanan pada terbalik. Tembok-tembok jebol semua. Dekorasi yang dikerjakan panitia acara selama berjam-jam ancur. Di tengah pertempuran itu, tiba-tiba ada seseorang yang merangkak dari bawah salah satu meja yang belum dilempar Ranma atau Ryoga.
"Mushu!"
Oh, betapa kejamnya hidup ini, saudara-saudara! Saat itu Mushu yang dilihat Ryoga sudah dalam keadaan babak belur.
BUAGH!
"Wooooy! Mestinya aku yang memukulmu! Kerja aja nggak becus! Kamu gagal menghambat Ranma, mata rabun! Terimalah hukumanmu!"
BUAGH BUAGH BUAGH BUAGH!
Yah, malah Ryoga yang babak belur.
"Gara-gara kamu kelamaan, aku bonyok-bonyok dihajar Ranma! Shan pu pun takut karena bentukanku yang tidak jelas ini! Ini semua gara-gara kau!"
BUAGH BUAGH!
"Kamu aja yang lemah! Nggak kuat menahan banci kepang itu barang sebentar! Pestanya bahkan belum mulai, tapi kamu sudah keok! Letoy kamu!"
PLAK PLAAAK!
Whatdezig!
"Kamu bodoh, babi face! Pestanya sudah selesai dari tadi, tau!"
SIIIIIIIIING…
…
.
…
.
…
"UAPHAAAAAAAAA?"
"Makanya, buta arah jangan parah-parah, dong! Kita semua kena getahnya!"
"Ma-maksudnya, kesempatan yang selama ini aku ciptakan untuk memiliki Akane Tendo hilang sudah?"
"Satu-satunya kesempatanku mengembat jatah roti makan siang Ryoga juga hilang."
"Kesempatan kecan dengan Shan Pu…"
Ketiganya saling memandang dengan tatapan benci.
"GYAAAAAAAHH! KUHABISI KALIAN!"
.
Keesokan harinya Ranma, Ryoga, dan Mushu tidak masuk sekolah. Mereka menderita patah hati, selain badannya remuk redam gara-gara berkelahi. Kasihan. Hidup memang menyakitkan~
Tapi, memangnya hanya tiga jejaka itu yang menderita?
"Hiyeeee~ Hiiyeeee~"
"Sudahlah, Akane. Sekali-sekali berdansa dengan Kunou tidak apa-apa, kan?"
"Hiyeee~ Hik hik hik hik…"
Nabiki mendesah pelan. Ia paham perasaan Akane yang akan muncul di majalah sekolah. Nabiki berhasil mendapatkan gambar-gambar hot yang diincarnya. Oh ya, Akane, berdua saja dengan Kunou, dalam pose memalukan yang hot.
-Tomat, eh, Tamat!-
Saia suka sad ending, tapi kayaknya cerita yang ini bukan sad, melainkan GAJE ending. Huaha!
Special thanks to:
Ardhya Mouri
Reiya Sumeragi karena udah minjemin komik Ranma-nya
Aileen Clarissa S. yang sudah meminjamkan koleksi komik Ranma juga
Takahashi Rumiko yang telah menciptakan Ranma.
Arigatou buat yang udah baca. Arigatou gozaimasu buat yang mau review ^^ Review anda akan dibalas dengan review (bagi anda yang author dan log in).
Ja, sampai jumpa di fanfiction Ranma berikutnya! Mata, ne! ^^
