Chapter 2

Disclaimer: Bleach punya Tite Kubo…

.

.

.

Warning: gaje, typo (jaga-jaga), AU, OOC, aneh, gak masuk akal

.

.

.

.

2nd warning: GgioSoi to the max XD

.

Soifon POV's

"A-apa ini?" seruku kaget. Aku terbelalak ketika melihat wujudku di cermin. Aku menyentuh sepasang benda yang bertengger di kepalaku.

"Kenapa ada telinga kelinci di kepalaku?" jeritku frustasi. Aku menarik sepasang telinga kelinci berwarna hitam yang ada di kepalaku.

"Aww!" pekikku, "sakit..." aku mengusap-usap telinga kelinciku. Telingaku terasa hangat, sama seperti telinga kelinci peliharaan Rukia, Chappy.

Tiba-tiba, ketika aku sedang sibuk bergelut dengan pikiranku…

"Soi-chan! Ayo bangun!" seru suara seorang wanita. Sepertinya itu suara Nee-san.

"Aku sudah bangun, Nee-san! Aku mandi dulu."

Tep... tep... tep...

Celaka! Nee-san naik ke atas! Sial! Bagaimana caraku untuk menyembunyikan telinga ini? Aaakkhh!

"Soi-chan, pintunya kubuka ya?" kata suara lembut, Nee-san. Aku panik, hingga aku menemukan sebuah benda yang menyelamatkan hidupku…

"Soi? Kau belum berangkat?" Tanya Nee-san. Ia menjulurkan kepalanya dari balik pintu.

Aku hanya tersenyum kaku, "baru saja aku ingin berangkat," kataku sambil membetulkan posisi topi yang kugunakan untuk menutupi telinga kelinciku. Ternyata telingaku dapat kulipat!

Nee-san memandangku dengan aneh, "kau tidak sakit kan, Soi?" Tanya Nee-san. Ia memandangku lekat-lekat.

Aku menggeleng gugup. Aku tidak biasa berbohong sih…

"Baiklah, sarapanmu ada di bawah. Aku akan membereskan kamarmu dulu, kau pergilah duluan," kata Nee-san dengan senyum hangatnya.

Aku mengangguk dan langsung berlari kebawah, aku segera menyambar roti yang ada di meja dan bergegas berlari keluar setelah memakai sepatu.

"Aku pergi dulu!" seruku.

Hufht… kupikir hari ini akan menjadi hari yang panjang…

.

.

.

Ggio PoV's

"Hu-huwa? Apa ini?" seruku panik. Aku memegang sepasang benda yang ada di kepalaku. Rasanya hangat dan lembut.

"Ggio! Sampai kapan kau mau tidur?" seru suara galak Nee-san. Ia mengetuk pintu kamarku keras-keras.

Aku menatap pintu kamarku ngeri. Syukurlah Tou-san sepertinya sudah membetulkan pintu kamarku semalam…

"Ggio!"

"A-aku sudah bangun, Nee-san! Aku mau mandi dulu! Pintu kamarku jangan didobrak lagi ya!" seruku panik. Aku segera berlari menuju kamar mandi dan mandi dengan kecepatan penuh. Setelah itu aku mengenakan seragam hari ini: kemeja putih dan celana panjang merah kotak-kotak.

Ketika aku bercermin, barulah aku menyadari sesuatu: bagaimana caraku menyembunyikan telinga jelek ini?

"Ggio, jika dalam hitungan ke 5 kau tidak keluar, jangan harap pintu kamarmu akan selalu tertutup dengan rapat!" ancam Yoruichi Nee-san.

Dia mengancam ingin mendobrak pintu kamarku lagi rupanya…

"1…"

Aku terkejut. Aku langsung berkeliling kamar untuk mencari sesuatu untuk menutupi telinga jelek ini.

"2…"

Aku membuka lemariku, hasilnya nihil. Dan aku membanting pintu lemari itu.

"3…"

Oh God! Dimana aku meletakkan semua topi-topiku?

"4…"

Mataku menangkap sebuah jaket berwarna hitam yang ada di atas meja. Aku segera menyambarnya.

"lim-…"

"Ada apa, Nee-san?" tanyaku dengan tampang dingin.

Yoruichi Nee-san cukup kaget ketika aku membuka pintu secara tiba-tiba.

"Kau tidak apa-apa?" tanyanya. Wajahnya terlihat khawatir.

Aku tertawa kecil, "kau khawatir?" kataku sambil melewatinya.

BLETAK!

"AWWW!" seruku, aku mengusap-usap kepalaku yang dipukul oleh Nee-san.

"Baka! Cepat pergi sekolah!" serunya marah. Ia berlari turun.

Aku hanya tersenyum dan mengikutinya turun, setelah sarapan dan mengenakan sepatu, aku bergegas keluar rumah dan berangkat sekolah, "aku pergi dulu!" seruku riang.

'Haaahh… hari ini mungkin akan menarik…' pikirku dalam hati.

.

.

.

"Soi-…! Lho…?"

Seorang gadis berambut biru tua dikepang menoleh, sehingga membuat kepangannya ikut terayun, "ya?"

Seorang gadis mungil berambut hitam sebahu dan beriris violet menatapnya dengan tatapan aneh, "tumben kau pakai topi?" celetuknya.

Soifon memalingkan wajahnya, "hanya mau ganti penampilan. Memangnya kenapa?"

Gadis mungil itu –Rukia- agak tersentak kaget dengan kedatangan seseorang dibelakang soifon, "tidaaaak… hanya saja, sepertinya kalian janjian ya?" kata Rukia jahil. Ia menunjuk ke belakang soifon.

Soifon menoleh, seorang pemuda berambut hitam dan bermata emas berdiri di belakangnya, ia mengenakan jaket dan hoodie yang menutupi kepalanya. Cengiran khasnya terlukis di bibirnya.

"Oh… jadi ini si cewek ganteng?" ejek pemuda itu, Ggio.

Soifon ingin membalas ejekan itu, tetapi entah kenapa mulutnya terkunci rapat. Tenggorokannya serasa tercekat. Tubuhnya terasa kaku. Ia menatap mata Ggio dengan wajah ketakutan.

Ggio menelengkan kepalanya, "huh? Kau kenapa?"

Tanpa basa-basi, Soifon berbalik arah dan berlari sekencang-kencangnya. Rukia sweatdrop melihatnya.

"Soifon kenapa sih?" tanyanya pada Ggio.

"Mana kutahu? Aku bukan ibunya…" kata Ggio santai. Ia menunjukkan cengirannya lagi.

Rukia mengangkat bahunya dan meninggalkan Ggio, "aku kembali ke kelas dulu."

Setelah Rukia agak jauh, wajah Ggio yang tadinya tersenyum berubah menjadi serius. 'Soifon kenapa?' pikirnya. Entah karena essens macan itu atau insting, ia dapat mengetahui posisi Soifon sekarang. 'Aku dapat mengenali bau ini…' kata Ggio dalam hati, ia terus mengikuti bau itu sampai ia tiba di suatu tempat.

.

.

.

"Hosh… hosh… hosh…"

Soifon menarik napas dalam-dalam. Walaupun ia salah satu atlet kebanggaan sekolah, tetap saja ia adalah manusia yang memiliki rasa lelah.

"Aku ini kenapa…?" gumamnya. Ia melepaskan topi yang menutupi telinga kelincinya dan memejamkan matanya, merasakan semilir angin yang berhembus.

Diam-diam, ada orang yang memperhatikannya sedari tadi. Di bibirnya terlukis seringaian, "jadi… kau memilikinya juga ya… Soifon?"

Entah kenapa, pendengaran Soifon berubah menjadi sangat tajam, ia langsung menoleh dan bersikap waspada, "siapa disana?" tanyanya.

Pemuda itu langsung bersembunyi kembali, "hamper saja ketahuan…" gumamnya.

Soifon memperhatikan keadaan sekitar, 'tidak ada apa-apa… mungkin hanya suara angin…' kata Soifon menenangkan dirinya sendiri. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya di atas hamparan rumput, dibawah pohon besar. Ia lalu menyenderkan punggungnya di batang pohon yang kokoh itu dan memejamkan matanya.

"Eh! Taman belakang sepi, Ayo kita makan siang disana!"

"Ide bagus! Ayo! Jangan lupa ajak anak-anak cowok supaya ramai!"

"Baiklah! Aku panggil anak-anak cowok ya!"

Ggio tersentak, dari arah belakang terdengar dua orang siswi akan makan siang di taman belakang, itu berarti di taman ini!

Ggio tahu, ia tidak punya banyak waktu. Ia harus bertindak!

"Ayo kita ke taman!"

Iris emasnya membulat sempurna ketika ia mendengar kata-kata itu. Dengan kecepatan yang diperolehnya dari essens macan itu, ia berlari kearah Soifon yang sedang duduk di bawah pohon.

Soifon yang mendengar derap langkah kaki langsung menoleh, "eh? Siapa i-…"

Belum selesai Soifon berbicara, Ggio sudah membekap mulutnya dan membawanya ke balik dinding yang memisahkan taman dengan gudang terbuka.

"UMPPHH? MMMHH!" Soifon meronta-ronta dari dekapan Ggio. Sayangnya dekapan Ggio terlalu kuat.

"Diamlah…" bisik Ggio ke telinga kelinci Soifon. Soifon agak kaget karena hembusan napas Ggio yang mengenai telinga kelincinya. Ia langsung memejamkan matanya rapat-rapat dan menekuk kedua telinga kelincinya. Ia ingin memberontak, sayangnya lengan Ggio yang melingkar di pinggangnya dan menutup mulutnya terlalu kuat.

"Hore! Benar-benar sepi!"

"Baiklah, ayo makan! Itadakimasu!"

Serombongan anak-anak itu mulai makan dan bercanda-canda ria. Sementara Ggio memandang mereka dengan gelisah.

'Cepat pergi, cepat pergi, cepat pergi, cepat pergi,…' Ggio terus mengulang kata-kata itu bagaikan mantera. Sebenarnya ia sangat gugup dan jantungnya serasa ingin meledak. Bagaimana tidak? Di pelukannya kini ada seorang gadis yang sangat ia sukai. Dan gadis itu diam tidak memberontak dengan wajah memerah yang manis. Cowok manapun pasti tidak akan tahan godaan seperti ini. Ingin rasanya ia mencium gadis yang sangat manis baginya itu.

'Oke Ggio… tenangkan dirimu, tarik napas… hembuskan… jangan memikirkan hal yang aneh-aneh, gadis itu percaya padamu, jangan mengecewakannya…' Ggio terus-terusan menenangkan dirinya sendiri. Ia takut dirinya lepas kendali.

Sementara Soifon, jantungnya sudah berdebar 2 kali lipat lebih cepat dari biasanya. Walaupun ia ingin akrab dengan Ggio, tapi tidak dengan cara seperti ini!

Tak lama kemudian, serombongan siswa-siswi itu pergi dari sana. Ggio menghela napas lega, ia lalu melepaskan dekapannya. Soifon langsung melompat mundur dengan waspada.

"A-apa yang-…" Soifon tidak dapat berkata-kata ketika angin kencang meniupkan hoodie yang digunakan Ggio sehingga hoodie itu turun. Soifon terbelalak, "tora… mimi…?"

Ggio terkekeh, "kau sendiri usamimi…" kata Ggio sambil menyeringai.

Soifon langsung menunduk, ia menutupi telinganya. Ggio pasti akan mengejeknya habis-habisan.

"Lucu, aku suka…"

Soifon mengangkat wajahnya, tadi Ggio bilang apa…?

Ggio yang baru menyadari perkataannya langsung membuang muka dan mengenakan hoodienya kembali. Pipinya bersemu merah, "ma-maksudku… lucu, karena kepalamu terlihat lebih kecil daripada telingamu!" seru Ggio.

Soifon merengut kesal, ia langsung menginjak kaki Ggio keras-keras.

DUK!

"Aww! Apa salahku, gadis aneh?" seru Ggio sambil meringis kesakitan.

Soifon mundur beberapa langkah, "tak bisakah kau menghormati perempuan?" Tanya Soifon dingin, "oh… karena mulut tajammu itu kau masih jomblo ya sampai sekarang?" kata Soifon sinis.

Ggio menggeram. Ia jengkel. Memangnya, gara-gara siapa ia menolak pernyataan cinta dari siswi-siswi lain? Gara-gara Soifon! "bukan urusanmu…" kata Ggio dingin.

Soifon mengedikkan bahunya dan berjalan menuju kebawah pohon. Tiba-tiba iris abu-abunya melebar.

"Topiku?" pekik Soifon. Topi yang ia gunakan sebagai penutup telinga kelincinya menghilang, padahal seingatnya ia menaruh topi itu di bawah pohon.

Ggio menoleh, walaupun tampang Soifon masih tetap datar, tetapi terlihat sedikit sirat kecemasan di kedua iris abunya.

Ggio menghela napas, ia lalu melepas jaketnya dan menutupi kepala Soifon menggunakan jaketnya.

Pluk! Ia menaruh jaket itu di kepala Soifon, Soifon menoleh.

"Tutupi telingamu dengan jaketku," kata Ggio sambil berjalan.

"Lalu, bagaimana denganmu?" Tanya Soifon.

Ggio menoleh sedikit, "aku akan bilang kalau aku sedang cosplay," kata Ggio asal.

Soifon cemberut, ia tidak suka dipermainkan.

"Ayo! Kau mau ikut aku tidak? Aku mau bertemu Mayuri Sensei. Siapa tahu ia mengetahui cara untuk mengembalikan wujud kita."

Soifon mengangguk dan berlari mengejar Ggio.

.

.

.

~TBC~

.

A/N: Heyaaa! Kembali lagi di Selva Conejo y Tigre :D maafkan Hika yang super ngaret ini updatenya ya ^^" maklum, RL terus manggil-manggil. Apalagi kemarin abis UAS. Semoga nilai UAS kita bagus ya para peserta ujian ^^ #plak

Aduh, maaf banget jadi out of the track gini ceritanya ==" tapi Hika akan berusaha menjadikannya in track lagi :3

Apakah Soifon dan Ggio dapat kembali ke wujud aslinya? Lihat aja nanti XD #dilempar

Oh ya, rules di cerita ini: kelincitakutsamamacan. Tidak dapat diganggu gugat :3

Review dibales di chapter 3 ya ^3^

Ok sekian author note kali ini ^^ nantikan Selva Conejo y Tigre chapter 3 ^^