Chapter 3

Disclaimer: Tite Kubo… *bosen*

.

.

.

Warning: gaje, typo (jaga-jaga), AU, OOC, aneh, gak masuk akal

.

.

Mereka berdua menyusuri lorong sekolah yang sepi dengan jarak 1 meter yang memisahkan mereka. Bagaimanapun, Soifon adalah seekor kelinci yang takut pada macan. Jika sang 'macan' mendekatinya, otomatis ia akan berlari untuk bersembunyi.

'Aku yang sekarang bukanlah aku yang sebenarnya…' pikir Soifon dalam hati. Ia menoleh kepada Ggio yang berjalan di samping kirinya. Pemuda beriris emas itu tampak sibuk dengan handphonenya. Soifon menghela napas. Ia kembali memandang lurus kedepan.

"Hei…"

Soifon menoleh.

"Bagaimana… bagaimana jika Mayuri sama sekali tidak dapat membuat penawarnya?" kata Ggio. Ia tidak berani menatap iris abu-abu gadis itu.

Soifon terdiam. Ia sendiri belum berpikir sepanjang itu, "kupikir… tidak masalah…"

Ggio menoleh dengan ekspresi terkejut, "kau tidak masalah?"

Soifon mengangguk, ia menatap sepasang iris emas Ggio, "karena ada kau…"

Ggio tambah terkejut lagi, "a-apa maksudmu, gadis aneh?" seru Ggio sambil memalingkan wajahnya yang mulai bersemu merah.

Soifon terkikik geli. Ia lalu menatap keluar, "aku hanya berpikir, kalau penawarnya tidak ada, otomatis wujud kita akan seperti ini terus. Dan jika orang-orang berpikir kita ini aneh dan mengejekku, setidaknya aku tidak akan sendirian. Karena kaupun bernasib sama sepertiku."

Ggio menatap Soifon. Lagi-lagi ia terpesona dengan gadis itu.

"Mau sampai kapan memandangiku?" rengut Soifon jengkel. Ia berjalan kembali.

"Si-siapa yang melihatmu, baka? Aku melihat matahari kok!" elak Ggio. Ia segera berlari-lari kecil mengejar Soifon.

.

.

Mereka sampai di depan ruang lab kimia. Ggio segera membuka pintu lab.

"Sensei!" serunya.

Hening… ruang lab itu kosong.

"Sial!" umpat Ggio. Ia meninju meja yang ada di dekatnya.

BRAK!

"Hei… hei… kau tahu kan peraturan ruang lab kan? Dilarang pacaran dan merusak benda-benda di ruang lab kimia…"

Ggio dan Soifon menoleh ke deretan pojok ruang lab yang tidak terkena sinar matahari. Seorang pria berwajah menyeramkan dengan seringaiannya –yang juga menyeramkan- berjalan kearah mereka.

"Se-sensei!" kata Ggio dan Soifon bersamaan.

Mayuri menutup kedua telinganya, "berisik… kalau mau pacaran, jangan disini!" kata Mayuri dingin.

"Ma-maafkan kami…" kata Soifon lirih, "ka-kami tidak berpacaran sensei…"

"Ada urusan apa kalian kesini?" Tanya Mayuri ketus. Ia segera duduk di kursi guru.

"Um… begini… sebenarnya kami adalah korban percobaan anda, sensei…" kata Ggio takut-takut.

Mayuri langsung menatap Ggio. Ggio yang merasa risih karena terus diperhatikan langsung mencari kesibukan baru, yaitu menatap sepatunya sendiri.

"Aku mengenal kalian…" katanya sambil menyeringai lebar, "kalian yang kemarin tersiram ramuan itu ya? Wah… kenapa ramuannya gagal ya?"

Ggio dan Soifon melongo. Guru macam apa ini? Ia malah menginginkan anak muridnya menjadi seekor kelinci dan seekor macan!

"A-ano… jadi, apakah ada penawarnya?" Tanya Soifon. Ia menatap senseinya dengan cemas.

"Tidak."

Singkat, padat, dan jelas. Tetapi kata-kata itu langsung membuat Soifon ingin terjun dari atap sekolah.

"Anda serius, sensei?" Tanya Ggio, "lalu, bagaimana dengan kami?" kata Ggio sambil melemparkan pandangan ke Soifon yang sedang syok berat.

Mayuri menatap mereka berdua berganti-gantian, "baiklah, akan kucoba membuat penawarnya."

Ggio langsung tersenyum lebar, "benarkah?"

"Kalau aku tidak malas… kau pikir membuat penawar itu semudah membalik telapak tangan?" kata Mayuri dingin.

BRAK!

Soifon yang masih syok langsung tersadar karena mendengar bunyi yang sangat keras. Ggio lagi-lagi meninju meja. Matanya berkilat-kilat marah.

"Aku tidak masalah jika kau tidak dapat mengembalikan wujudku ke semula, tetapi kau harus dapat mengembalikan wujudnya ke semula…" kata Ggio sambil menunjuk Soifon. Ia menatap Mayuri tajam.

"Hey! Apa-apaan kau Ggio?" seru Soifon, "itu tidak adil!"

"Aku tidak peduli! Aku tak masalah jika harus terus-terusan berwujud seperti ini. Yang penting, ia kembali ke wujudnya… itu saja," kata Ggio.

Soifon terpaku akan kata-kata Ggio. Ggio menganggapnya penting…?

"A-aku lebih baik berwujud seperti ini."

Ggio menoleh.

"Kalau aku seperti ini, kau tidak akan sendirian kan? Kau bukanlah satu-satunya makhluk aneh, karena ada aku. Hahaha…" kata Soifon sambil tertawa hambar.

Ggio tersenyum. Ia menepuk-nepuk kepala Soifon lembut, "terima kasih. Tetapi, masa macan ditolong oleh kelinci? Tidak lucu kan?" kata Ggio sambil tertawa kecil, "kalau macan yang menolong kelinci, itu baru keren!"

Soifon tertawa. Kini mereka berdua tertawa bersama-sama.

Mayuri hanya geleng-geleng kepala melihat keduanya.

"Permisi…"

Pintu lab terbuka, dan masuklah seorang gadis berambut biru tua dikepang. Ia menggunakan jas lab sekolah, "eh? Ada apa ini? Tumben laboratorium ramai…" katanya polos.

"Nemu, kemari…" panggil Mayuri. Nemu segera mendekati Mayuri. Setelah Mayuri membisikkan sesuatu, Nemu mengangguk-angguk.

Ggio dan Soifon memandang Nemu. Nemu berdiri menghadap mereka dengan gugup.

"Um… aku tidak tahu harus memulai dari mana, tapi aku harus menjelaskan efek dari ramuan itu. Bukan hanya kemampuan kalian yang meningkat, tetapi juga-…" Nemu terdiam sebentar. Ia tampak gelisah, "… pribadi dan sifat kalian."

Soifon menatap Nemu bingung.

"A-ano… maksudnya seperti ini, seekor kelinci adalah mangsa seekor macan kan? Nah, untuk melindungi dirinya dari macan, maka ia akan kabur. Walaupun, macan tersebut tidak berniat memangsanya…" kata Nemu sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ia sendiri sebenarnya tidak mengerti bagaimana cara menjelaskannya.

Ggio-lah yang pertama kali tersadar arti kata-kata Nemu. Iris emasnya membulat, "jadi, maksudmu-…"

Nemu mengangguk, "semakin lama kalian dalam wujud itu, semakin kuat pula kekuatan ramuan itu. Mungkin sekarang kalian masih bisa berdiri di ruangan yang sama. Tapi, suatu saat nanti kalian tidak akan dapat bersama selamanya."

Soifon tertegun. Ia baru menyadari perkataan Nemu. Tidak! Ia tidak mau berpisah dengan Ggio! "Kalau begitu, buatkan penawarnya untuk kami!" serunya.

Nemu menggeleng lemah, "sulit, Soi-chan… membuat penawarnya jauh lebih sulit dari membuat ramuannya."

"Begitu ya…"

Soifon menatap Ggio dengan tatapan sedih. Pemuda itu tampak biasa-biasa saja.

"Baguslah kalau begitu. Setidaknya, kita tidak akan adu mulut lagi kan, cewek ganteng?" kata Ggio dengan seringaiannya. Ia menoleh kearah Soifon.

Soifon terhenyak. 'Apa-apaan ini? Kenapa ia malah berkata seperti itu?'

"Lagipula, kita ini musuh kan? Cocok dong, macan dan kelinci kan tidak akan pernah bisa bersatu," tambah Ggio lagi. Kali ini ia berusaha menghilangkan tatapan sedihnya dengan membuang muka.

Soifon sudah tidak tahan lagi. Hatinya terasa sakit. Laki-laki yang ia sukai ternyata seperti ini!

Soifon berjalan dengan cepat kearah Ggio dan melayangkan tendangannya ke perut Ggio.

BUKK!

"Ukh!"

"Rasakan itu, kucing bodoh!" seru Soifon marah. Matanya terasa panas. Sepertinya ia akan menangis. Ia segera berlari keluar lab dengan jaket Ggio yang masih dikenakannya.

Nemu memandang kepergian Soifon. Ia lalu menatap Ggio, "kau sengaja kan?" katanya dingin.

Ggio hanya tersenyum lemah dan berusaha bangkit.

"Kau juga sengaja mengalah, kau sabuk cokelat kan?" kata Nemu lagi.

Ggio hanya tersenyum dan menatap kearah pintu.

"Apa tujuanmu?"

Ggio memandang Nemu, "agar dia tidak tersiksa kalau harus disisiku. Lebih baik begini kan?"

Nemu terdiam. Ia sendiri yakin kalau Soifon harus berada di dekat Ggio dalam wujud seperti itu, Soifon pasti akan tersiksa.

"Aku pergi dulu…" kata Ggio sambil berjalan keluar.

Nemu mengangguk. Ia lalu menatap Mayuri serius.

"Sensei, kita harus membuat penawarnya walaupun hanya satu buah!"

.

.

Soifon POV's

'Ggio bodoh! Idiot! Aku benci dia!' pekikku dalam hati. Rasanya aku ingin menjerit akibat luka di hatiku. Cowok macam apa dia itu? Brengsek! Aku tidak akan pernah mau mengenalnya!

Aku berhenti berlari dan menatap keluar jendela, sinar matahari yang terbenam menembus jendela kaca ini.

"Matahari yang sangat cantik…" gumamku. 'Apakah Ggio melihatnya juga ya?' aku langsung menggelengkan kepalaku keras-keras. Kenapa aku malah mengingat dia sih?

Aku kembali berlari melintasi koridor. Satu hal yang kuinginkan… pulang!

.

.

Ggio POV's

Aku berjalan melewati koridor dengan sangat pelan. Rasanya sangat sakit ketika melihatnya menatapku dengan tatapan terluka. Apalagi aku sempat melihatnya menangis. Aku tahu aku egois, tapi jika tidak begini, maka ia akan tersiksa jika berada di dekatku. Dan kita tak akan bisa bersama…

Aku berhenti berjalan dan menatap keluar jendela. Jendela itu menampilkan panorama kota yang diselimuti oleh cahaya matahari yang terbenam.

"Matahari yang sangat cantik…" gumamku. 'Apakah Soifon melihatnya juga?' pikirku. Aku langsung tersenyum mengejek, ya aku mengejek diriku sendiri karena telah berpikir bodoh, 'tidak mungkin…'

Aku kembali berjalan. Okey, hari ini memang sangat menarik. Tetapi aku benci hari ini. Aku mau pulang!

.

~T~B~C~

.

A/N: hufht… *ngelap keringat*, jadi juga chapter 3. Perjuangan banget bikinnya XDD. Mulai dari rasa ngantuk sampe tugas remed yang belom selesai #curcol.

Pas mereka bilang 'Matahari yang sangat cantik…' itu mereka ngucapinnya barengan, tapi di tempat yang beda XDD #sosweet

Okeh! 1 more to go! Hika berniat membuat fict ini menjadi 4-5 chapter aja. Jadi mungkin chapter selanjutnya udah tamat. Tapi… kok rasanya pengen dipanjangin mulu ya? #plak #labil

Mungkin ntar ditambahin omake -_-

Balas revieeewwwww!

Fany2 wa fanny2 desu:

Chapter 1: wah… fany bener ^^ harimau memang memangsa kelinci. Tapi gak akan Hika biarin kalau Ggio mangsa Soi XD #plak

Chapter 2: eghh? Lucu? Hika pikir garing ; _ ; gimana ya…? Liat chapter depan aja deh ^^ #diinjek. makasih reviewnya (_ _)

AjengKUROSAKIgranz:

Chapter 1: wah… beneran ngerepiu =.=", kirain nggak. Thanks yah ketikan chapter satunya :). Special thanks to you :3

tatsu adrikov galathea:

chapter 1: nee-chan ; _ ; #diinjek. Jawaban untuk pertanyaan tatsu-chan ada di chapter 2 ~(^.^~)

Hizuka Miyuki:

Chapter 1: kalo gak TBC, hepatitis dong? #plak #ngaco #failed. Hika gak akan nyerah kok XDD. Walaupun Hika lemot, tapi Hika pasti bakal update! Aye! Ramaikan GgioSoi! *kibar bendera GgioSoi*

Amaya Haliburton:

Chapter 1: via PM ^^

Chapter 2: makasih XDD. Review maya panjang ya ^^", tapi Hika suka :3. Jarang ada readers yang ngasih kritik soalnya. Hika jadi terpacu :D. hika cengir-cengir sendiri lho pas baca review maya. Pas maya ngulas soal jaket, Hika sampe ngecek ulang fict sambil mikir, 'emang aku nulis itu ya?' #short term memory. Pokoknya, makasih reviewnya ^^

Kokyu Yume:

Chapter 2: huwaaaa! Maaf Yume-san! Hika lupa T_T #baca fict Yume #review. Gomenne T_T . selva conejo mungkin 1-2 chapter lagi :3. Niat bikin sekuelnya sih… #plak

Metsfan101: via PM^^

Ririn Cross:

Chapter 2: makasih T_T, Hika masih abal kok… iyaaa GgioSoi itu couple paling moe menurut Hika XDD. Cara pendekatan mereka aja unik XD #digiles. Makasih repiunya ^^.

Balas review selesai! 1 more to go! Siap-siap tisu ama popcorn ya :D #gaknyambung. Egh lupa… Hika gak bisa bkin angst ataupun hurt/comfort =="

Pokoknya, nantikan selva conejo y tigre chapter 4! Ramaikan pair GgioSoi! *kibar bendera Fang and Sting*

Sign

~HiShou~