SNOWDROP
Author : Rainy Heart
Length : Series
Rated : M
Cast :
Cho Kyuhyun
Lee Sungmin
And other suju and dbsk member
Pairing : KYUMIN and Other Pair
Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. But Sungmin punyaku #plak#
Genre : Romance / Drama / Fantasi dikit
Warning : Boy x Boy / BL / YAOI, gaje, typo disana-sini, EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Summarry : "...aku tak akan hidup saat bunga lain bermekaran namun aku akan mekar saat bunga lain telah berguguran..."
Minahe jika ceritanya ngebosenin and alurnya makin acak-acakan
HAPPY READING
Previous Chapter 11
.
Kata-kata Heechul terus terngiang dikepala semua namja disana tak terkecuali Kyu. "Habis mau bagaimanalagi Siwon. Dia sedang hamil dan aku sama sekali tak bisa mencegahnya atau aku akan kembali dihajarnya seperti tadi malam.
Sedangkan Zhoumi sibuk menggerutu, "Lihat saja dibelakang kita. Namjachinguku sendiri menempel terus pada Donghae. Meski dia sepupu Henry tapi tujuan utama kami ikut 'kan liburan bukan menjadi obat nyamuk begini."
Ketiga namja tampan malang itu hanya bisa menahan sakit hatinya.
oooSNOWDROPooo
Chapter 12
East Coast Park, Singapore
.
.
"Selamat datang di Villa keluargaku !" Kibum berteriak gembira. "Wah, villamu bagus sekali !"Sungmin berteriak senang dan langsung melompat kegirangan sembari masuk ke dalam villa. "Han ahjussi, Heenim Ahjuma silahkan masuk. Kamar utama di lantai dua untuk ahjussi dan ahjumma. Kamar disebelahnya untuk Teukki Ahjumma." Kibum menunjuk dua kamar di lantai atas yang bersebelahan. "Nde Kibumie, gomawo." Para orang tua langsung menuju kamar mereka. "Kyunnie, angkat koper Umma dan Teukki Umma ke atas."
"Tapi Umma..." Kyu sebenarnya tak ingin melakukannya, tapi tatapan tajam dari Ummanya membuat Kyu merinding sendiri. "Arrasseo Umma." Dengan langkah yang terseok menahan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya, ia mengangkat dua koper besar naik ke lantai atas. "Sini, biar aku bantu." Kyu tersenyum lega melihat namja China kekasih sepupunya itu. "Terima kasih Mimi ge."
"Lihat Henry, Kyunie terlalu dekat dengan Zhoumi." Sungmin dan Henry menatap punggung dua namja yang tengah naik ke lantai atas. Sungmin lalu mendekat kepada Kibum dan Siwon. "Kibumie, aku boleh 'kan sekamar denganmu ?"
"Mwo !" Siwon langsung mendelik kaget, ia sudah merencanakan liburan yang menyenangkan dengan kekasihnya, bukan liburan yang seperti ini yang dia inginkan. "Hyung, jangan begitu. Wajahmu menakutkan, kau membuat Minnie hyung takut melihatmu." Sungmin memang sedikit mengernyit kaget dan takut melihat Siwon yang menurutnya menakutkan.
"Hyung, kau akan sekamar denganku. Sudah jangan takut dengan Siwon, dia tidak akan marah padamu."
"Andwee, Minnie hyung itu istriku. Jadi dia juga harus sekamar denganku. Bagaimana bisa dia sekamar denganmu." Kyu datang dan langsung menarik tangan Sungmin.
.
Cho Kyuhyun POV end
.
Bagaimana bisa, dia meminta sekamar dengan Kibum ? Menyebalkan ! "Kau sendiri yang sangat menyebalkan Kyunie. Kau selalu saja bersama dengan Zhoumi. Sejak di pesawat kau selalu saja dengannya." Huhh, dia malah menyalahkan aku. Padahal semuanya salah dia sendiri.
"Itu karena aku ingin tidur hyung, badanku sakit semua dan aku rasa kau juga tahu apa penyebabnya. Aku juga tidak tahu jika Mimi ge duduk didekatku. Aku tidak tahu itu hyung. Dan lagi kau sendiri malah duduk ditengah-tengah Kibum dan Siwon. Sebenarnya apa sih maumu ? Kau sendiri yang salah, tapi sekarang memarahiku." Lama-lama aku makin kesal padanya. "Kyunie, kenapa memarahiku ? Kyunie... Hikss... Umma !"
'Ommo, ini akan jadi masalah.' Minnie hyung sudah berlari ke atas menuju kamar Umma. Aku harus segera menghentikan rengekannya pada Umma atau aku akan berakhir dengan kekalahan lagi. Apa karena kehamilannya ? Aku merasa Minnie hyung menjadi sangat amat manja dan juga suka sekali mengadu. Sedikit tak aku turuti kemauannya dia sudah berteriak dan memanggil Umma. Kalau seandainya yang dipanggil itu Teukki Umma, aku bisa bernafas lega. Tapi kalau yang di panggil Heenim Umma... "Heenim Umma ! Kyuhyunie jahat Umma !" Minnie hyung sudah berteriak keras didepan kamar Ummaku.
"Minnie chagi, mianhe. Aku tak akan membentakmu lagi. Sudah, jangan seperti ini chagi." Aku berusaha menghentikan kegiatannya, tapi ia malah menambah intensitas ketukan pada pintu kamar Umma hingga akhirnya, "Nde Minnie chagi, katakan apa yang Kyu perbuat hingga kau sampai menangis seperti ini ?" Wajah umma sangat cantik dan lembut saat menatap Minnie, tapi dia begitu menyeramkan saat menatapku.
"Kyunie jahat Umma, dia memarahiku. Hiks... Hiksss..."
"Aku tak memarahinya Umma. Itu karena dia yang memulainya. Minnie hyung itu kan milikku, dia istriku. Bagaimana bisa dia meminta satu kamar dengan Kibum ?"
"Itu karena Kyunie juga Umma. Seharian dia terus bersama Zhoumi dan mengacuhkan aku."
"Bukan begitu Umma, itu karena Minnie hyung sen..."
"Sudah cukup ! Kyunie, jangan selalu membela diri. Minnie itu sedang hamil, mengapa kau selalu saja membuatnya jengkel ?" Sekarang Umma sedang memeluk Minnie dengan erat. Dapat kulihat wajah Minnie hyung yang sedikit tersenyum di balik tangisannya. 'Ih, menyebalkan sekali sih.'
.
Plukk...
.
Aku merasakan tepukan di bahuku, dan saat aku menoleh, senyuman manis sudah menghiasi wajah cantik dengan lesung pipi kecil disudut bibirnya. Aku langsung menghambur dan memeluknya. "Umma, aku sedih sekali. Mengapa semuanya salahku Umma ?" Aku merengek dalam pelukan mertuaku. Sangat menyenangkan. Dia mengusap pelan punggungku, "Sudahlah Kyunie." Teukki Umma melepaskan pelukanku dan menatapku lembut. Ia juga menatap Minnie hyung dan Ummaku.
"Sungmin sayang, kita kesini untuk liburan dan honeymoon-mu. Jadi, jangan terlalu menekan Kyu, umma yakin dia sangat mencintaimu."
Sungmin hyung kembali menatap Ummaku, "Umma, tapi Kyunie dan Zhoumi..."
"Tenanglah chagi, umma bisa memastikan, Kyu tidak akan dekat-dekat dengannya lagi."
.
.
Setelah insiden itu, aku dan Minnie hyung akhirnya berbaikan dan tidur satu kamar. Untuk berjaga-jaga jika kami nantinya akan bertengkar lagi, kamar kami berada di sisi kamar Teukki Umma. Tapi tetap saja, Minnie hyung masih suka memaksakan kehendaknya. Aku curiga, jika aegya yang sedang dikandungnya memang benar-benar evil dan meniruku. Apa aku seperti itu ya ? Apa aku juga nakal dan evil seperti itu ? Rasanya tidak mungkin, aku ini kan namja tampan nan pintar, aku juga kaya dan baik hati. "Kyunie !" Huh, teriakan itu mengganggu lamunanku lagi. "Nde, Minnie chagi." Sekarang aku sudah seperti pembantunya saja. Menyedihkan ! Aku melangkah mendekati Minnie hyung yang sedang memainkan alat pancing appa.
"Kyunnie, ayo pergi memancing. Hyukkie bilang, salah satu restoran seafood menyediakan kolam pemancingan dan kita bisa makan hasil pancingan kita. Ayo Kyunie, aku ingin makan ikan."
Aku menghela nafasku, rasanya dia semakin seperti majikan ketimbang istri untukku. "Nde, kajja kita berangkat." Kami berpamitan pada orang rumah. Menuju restoran yang Minnie hyung maksud, dan tak kusangka disana kami bertemu dengan Zhoumi dan Henry. Minnie hyung hampir saja mengurungkan niatnya jika saja ia tak melihat Henry yang sibuk menghisap kepiting. "Kyunnie, aku mau kepiting, kelihatannya enak."
Tuh 'kan. Belum juga memancing, sekarang sudah ganti lagi keinginannya. "Tapi ingat Kyunnie, saat aku makan kau juga sama sekali dilarang untuk mendekati Zhoumi, atau aku akan..."
"Nde, baiklah-baiklah." Dia selalu saja mengancam mengadukanku pada Umma. Sangat amat menyebalkan. 'Nae aegya, kau menyiksa appa.'
Kami memesan semua menu crab, dan herannya dia hanya mengijinkan aku melihatnya makan. Huh, aku kasihan sekali bukan ?
"Kyunie, aku kenyang. Untukmu saja." Dia mendorong 5 porsi crab padaku. Dia menyuruhku menghabiskan semuanya. Padahal kami hanya memesan 7 porsi dan dia baru menghabiskan 2 porsi, sekarang sudah mengatakan kenyang. Bagaimana bisa aku menghabiskannya ? "Kyunie, ayo dimakan !" Dia sedikit membentakku, akhh terus saja aku yang kalah. 'Mengapa ku yang harus slalu mengalah... Huwe...'
.
Dengan perut penuh dan juga rasa mual yang luar biasa, aku kembali ke villa kami. Karena restoran itu dekat dengan villa, maka kami hanya berjalan menuju Villa. Minnie hyung, masih sibuk mengelus perutnya yang masih rata. Agak membuncit memang, karena dia makan. Dia menghentikan jalannya dan duduk dihamparan pasir putih di dekat bibir pantai. Aku duduk didekatnya. "Kenapa berhenti disini hyung ? Kau tidak ingin kembali ke villa ?" Aku bertanya padanya. Dia menoleh padaku dan tersenyum, aish manisnya. "Kyu, bukankah pemandangannya sangat indah ? Anginnya juga sejuk. Aku suka tempat ini." Suasana memang sangat nyaman dan indah. Matahari sore dengan langit sedikit merah membuat mata tak lepas menatap keindahannya. Ditambah dengan wajah cantik yang tengah menutup matanya menghirup wangi pantai sore ini.
.
Chuu...
.
Cho Kyuhyun POV
.
"Ommo..." Sungmin membelalakkan matanya saat merasakan bibir Kyu menempel sekilas pada bibirnya. "Jika kau tenang seperti ini, sangat cantik hyung." Kyu menggenggam kedua tangan Sungmin dan menciumnya. "Kumohon, jangan pernah berubah hyung. Akhir-akhir ini kau seringkali menyakitiku."
Sungmin sedikit merasa bersalah juga karena sikapnya pada Kyu. "Mianhe Kyunie. Aku juga tak mengerti dengan diriku sendiri. Rasanya aku memang sangat ingin melakukannya dan tak bisa menghentikan diriku sendiri. Mianhe Kyunnie, aku akan berusaha menghilangkan sikapku itu." Sungmin menunduk menyembunyikan wajahnya. Jujur, semua sikapnya murni tuntutan aegya yang ada dalam perutnya dan murni keinginan author#kekekeke#
Kyu mendekati Sungmin dan memeluknya, mengecup pucuk kepala Sungmin dengan sayang. "Hyung, aku sangat mencintaimu, sangat amat mencintaimu dan hanya mencintaimu." Kyu mengatakannya sembari mencium pipi Sungmin. Seakan tak peduli dengan lingkungan dan orang yang sudah menatap mereka dengan pandangan heran, Kyu mendorong Sungmin bergelut dengan pasir. Kyu memeluk pinggang Sungmin dan menjilat leher putih istrinya itu. "Kyu, gelihhh. Ini masihhh di pantai Kyuhhh akhhh hentikan ..." Sungmin berusaha mendorong tubuh Kyu dari atas tubuhnya namun Kyu sama sekali tak terganggu dengan kegiatan Sungmin.
Jilatan Kyu naik ke tulang rahang dan semakin naik ke pipi Sungmin. Bibir Sungmin yang sedikit terbuka seakan mengundang Kyu untuk menciumnya. Kyu menjilat bibir plump itu, dengan sengaja Kyu menyalurkan salivanya kedalam mulut Sungmin. Tanpa rasa jijik, Kyu terus melakukannya dan menjulurkan lidahnya mengusap saliva yang mengalir sedikit di pipi Sungmin.
Sungmin sangat menikmati ciuman dan perlakuan Kyu. Setiap detailnya, dia hanya bisa menutup mata dan merasakan lidah Kyu yang bergelut dengan lidahnya. Saling melilit dan mendorong. "Enghhh..."
Sungmin semakin menggila dibuatnya. Ia semakin mengeratkan cengkramannya pada rambut Kyu. Meremasnya dengan kuat untuk melampiaskan gejolak yang bermain di perutnya.
Ciuman Kyu mengganas, kini ia tak hanya bermain dengan lidah dan saliva. Kyu menghisap kuat bibir bawah Sungmin dan tangannya memainkan dada Sungmin. "Kyuhhh... Enghhh..." Sungmin melenguh diantara ciuman panas mereka. Sedetik kemudian, Kyu menyudahi kegiatannya dan menyeringai evil. "So, let me on top tonight baby. And you won't regret it."
Sungmin mengangguk imut dengan wajahnya yang memanas. Langit telah menggelap dan suasana semakin indah. Kyu menggandeng tangan Sungmin. Berharap setelah ini bunny kesayangannya akan kembali seperti semula.
.
.
"Kau lihat chagi, yang tadi itu sangat panas. Aku ingin..."
"Stop being pervy please."
"Tapi, apa kau tidak kasihan pada little fishy-ku ini ?" Namja tampan yang sedang bersembunyi dengan kekasihnya di balik perahu karet yang mereka gunakan itu terus saja mengeluh setelah melihat adegan KyuMin tadi.
Saat itu mereka baru saja bermain dengan perahu yang mereka sewa. Namun saat mereka menepikan perahu itu, terlihat pemandangan yang langsung membuat tubuh mereka panas dingin.
Kalau ia tidak malu untuk jujur, sebenarnya Uri anchovy juga dengan susah payah menahan keinginnanya untuk tak meminta hal-hal seperti itu pada Hae.
"Hyukkie-ah... Jebal chagi..." Hae mengarahkan wajah Hyukkie untuk menatapnya dengan kedua tangannya, bersiap untuk mencium Hyukkie.
.
Lee Hyukjae POV
..
Sebenarnya aku ingin melakukannya, tapi aku sangat malu dan gugup. Akh, Hae hentikan ! "Hyukkie-ah... Jebal chagi..." Ingin rasanya aku berteriak memarahinya agar ia menjauh, dan tak menciumku. Tubuhku bergetar hebat dan...
.
Bruukkk...
.
Tanpa terasa tubuhku terjatuh di atas perahu karet itu, tapi bukannya menolongku, Hae malah menindih tubuhku. "Hyukkie, jebal aku..." Hae berusaha membujukku dan tanpa aku sadari, tubuhku melakukan hal lain yang aku sendiri tak bisa menghentikannya. Aku menarik kaos yang ia pakai hingga wajah kami berjarak begitu dekat. "Haeku yang sangat tampan, jangan salahkan aku jika setelah ini aku akan memintamu melakukannya, lagi- lagi dan lagi."
Aku langsung mengklaim bibir Hae. Hae membalas ciuman kami yang terkesan kasar dan sangat bernafsu. Tubuhku begitu panas dan menuntut lebih dari ini. Hae sudah menindih tubuhku, dan rasanya aku semakin menggila dan panas. Aku meremas kuat punggunggnya dan menaikkan kaos longgar yang ia pakai. Aku menyudahi ciuman kami dan terlihat sedikit kekecewaan dimatanya. "Calm down fishy." Aku menciumnya sekilas dan kembali melakukan apa yang tadi tertunda. Dengan sekali tarik aku melepaskan kaosnya dari tubuh Hae. Kulit putih yang terlihat samar karena hari sudah mulai gelap, seakan mengundangku untuk melukis bercak merah diatasnya. "Hyukkie, you much pervy than me nae litlle anchovy."
"Akhhh... Hae... Akhhh..." Dengan gerak cepatnya ia menghisap leherku, terasa sakit dan nikmat sekaligus. Lidahnya menjilat pelan dan lembut sementara giginya menggelitik kulit leherku. Sangat nikmat. Aku menyusupkan tanganku kedalam celana pantainya. Celana boxer pendek dan longgar hingga dengan mudah aku memelorotkannya. "Eh, kau tak sabaran sekali chagi. Let's foreplay first." Aku tersenyum malu, untunglah tempat kami agak gelap karena terhalang perahu besar dan sinar lampu di East Coast hanya remang-remang saja hingga wajah merahku tak terlihat. "Bersandarlah Hyukkie." Aku sedikit menarik tubuhku mundur dan bersandar pada tepi perahu kami. Aku tak tahu apa yang akan dia lakukan. Dia semakin mendekatkan tubuhnya padaku, nafasnya berhembus hangat ditelingaku. Aku merasakan sesuatu yang hangat dan basah menggelitik telingaku. Kugigit kuat bibirku dan menahan lenguhanku.
Tangan Hae menelusup pelan didalam bajuku, meraba absku yang sedikit terbentuk dan jari nakalnya makin naik dan ia berhenti di nippleku. Rasanya sangat nikmat, saat aku merasakan dua jarinya menjepit dan memelintir nippleku yang sudah menegang. "Ouuuhhh ... Hae... Akhhh..."
Aku tak bisa menahan lenguhanku, merasakan geli karena jilatan Hae pada telingaku dan sesekali ia juga menggigitnya membuat perutku bergolak hebat. Rasa nikmat juga menggoda tubuhku saat kedua tangan Hae sudah menyusup kedalam kaosku. Satu tangannya masih setia memelintir nippleku dan satu tangannya meremas kuat dadaku. Nafasku begitu cepat memburu, juga detak jantungku yang sangat cepat. Aku menggila, mengapa ini sangat nikmat.
"Akhhh Hae... Akh... Akh..." Aku tak bisa menahan teriakanku saat tangannya yang satu turun dan menyusup kedalam boxer ku. Memijit pelan juniorku.
"Akhhhh Hae ! Jebal... Akhhh. "
Dia sangat pintar, mendengar permohonanku sekali saja dia sudah mengerti. Dengan cepat dia melepaskan boxerku dan mengklaim juniorku. Menulumnya dan menghisapnya kuat, dapat kurasakan geli dan nikmat yang luar biasa. Lidahnya berputar pintar di juniorku. Tangannya memainkan kedua twinsballku.
"Akhhh... Kau pintar Hae... Akhhh... Faster akhhh..." Aku sudah tidak peduli lagi dengan sekitar kami. Waktu sudah semakin malam dan pantai juga sudah sepi, tak akan ada yang akan terganggu dengan teriakan kami.
"Akkkhhhhhh !" Aku menjerit keras saat merasakan Hae menghisap kuat ujung juniorku saja. Seperti tersengat listrik, tubuhku merasakan nikmat yang sangat luar biasa. "Akhhhh... Terus Hae... Akhhh lebih cepathhh..."
Hae mempercepat hisapannya, dan aku merasakan sesuatu meronta untuk keluar dari dalam perutku. Juniorku terasa semakin menegang, "Akhh... Lebih cepat Hae... Aku akan keluar, akhhh ! Hae akhhh...!"
Aku berteriak keras mengeluarkan spermaku. Nafasku terasa berat. Dengan susah payah aku mencoba menstabilkan nafasku. "Kau sangat hebat Hae," aku mengibaskan tanganku mencoba memberi udara pada tubuhku yang seperti terbakar. "Now, your turn nae little anchovy..." Ia tersenyum nakal lalu melepaskan boxernya yang tadi sudah sedikit melorot. Kulihat Junior yang berukuran 'big' itu memanggilku untuk memanjakannya.
Dengan cepat aku meraup junior itu. Memainkan lidahku menjilat precum yang sudah keluar di ujung juniornya. Melilitkan lidahku dan menjilat kepala juniornya dalam hisapanku. Daging kenyal ini terasa sangat manis dan juga nikmat.
"Akh, Hyukkie, kau pintar. Akhhh..." Hae menjerit karena aksiku. Aku menguatkan cengkraman gigiku pada juniornya, menggesek pelan juniornya dengan gigiku. Lidahku terus bermain menjilati ujung kepala juniornya. Aku meremas memainkan twinsballnya. "Hyukkie akhh... Terus chagi akhh..." Ia menekan kepalaku membuatku hampir tersedak merasakan juniornya yang tiba-tiba menusuk kerongkonganku. Aku meremas bokongnya yang kenyal dan mendorongnya untuk memperdalam hisapanku.
Aku mempercepat tempoku dan juga semakin menguatkan hisapanku. Juniornya menegang sangat keras dan mulai berkedut. "Lebih cepathhh akhhh Hyukkie... Akhhh..." Dia menyemburkan cairannya di dalam mulutku. Aku menelan semua spermanya. Menjilat nikmat sisa sperma yang tersisa dibibirku, bergaya seduktif dan membuka kaosku. Tubuhku sudah sangat panas sekarang. "Kau sangat menggoda chagi," dia langsung menyerangku. Mendorong tubuhku hingga aku kembali berbaring di atas perahu kami. Angin dingin yang menerpa kulitku tak terasa lagi karena aku sendiri merasa sangat panas. Dia menghisap dan menggigit leherku. Aku mendongakkan kepalaku memberikan ruang yang bebas baginya untuk membuat kissmark di leherku. Aku menekan kuat kepalanya dan memejamkan mataku menikmati semua servis darinya. "Ouhhh... Hae ... Ahhh..."
Aku terus melenguh, dan semakin merasakan getaran cepat di jantungku. Lidahnya turun dan menjilat dadaku. Aku merasakan kulit hangat dan basah itu sesekali menggigit kulitku membuatku merasakan nikmat yang tak ada habisnya. Tangannya menekan kuat dada kananku. Lidahnya juga sudah menjilat nippleku. Seperti sangat menikmatinya, ia menjilat dan menggesek nippleku dengan giginya. "Akhhh... Geli hae... Ahhh." Aku terus meracau merasakan semua kenikmatan yang ia berikan. Ia lalu mengangkat wajahnya dan menjilat kedua jarinya dengan pose seduktif didepanku. "Siapkan tubuhmu my chagi, kita akan memulai permainan yang sebenarnya."
"Emmppppttt... Enghhh..." Dia menciumku kuat dan kasar. Melumat bibirku dan menghisapnya. Aku hanya memejamkan mataku menikmati semua perlakuannya. Terasa sangat nikmat hingga, "Ouchhhh... Hae ahhhhkkk... ! " Aku merasakan dua jari hae tengah bermain di single holeku. Seakan merobeknya dan memaksa untuk masuk. "Ukhhh, Haehh... Appoyo... Akhhh..."
"Tahan sebentar chagi, sebentar saja dan kau akan merasakan kenikmatannya." Dia kembali menciumku, dan perhatianku sedikit teralih pada ciuman kami. Aku mencengkeram kuat bahunya dan menghisap kuat bibirnya melampiaskan rasa sakit di hole ku.
Aku merasakan sesuatu bergerak keluar masuk dalam holeku, dan rasanya sangat nikmat. Perlahan dan semakin lama semakin cepat dan dalam. "Akhhhh Hae... Akhhhh... Sangat nikmathh... "
Dia menambahkan satu jarinya lagi, dan rasanya sangat sakit. Tapi tubuhku begitu menginginkannya. "Akhhh...!"
Aku hanya bisa menjerit merasakan kenikmatan yang terus Hae berikan. Jarinya keluar masuk di dalam holeku. Dan membuatku melayang saat aku merasakan nikmat yang menderaku. "Akhhh... Yeahhh, disana Hae... Akhhh..." Tubuhku meminta lebih, aku ingin dia menusuknya lagi, "Lebih dalam dan akhhh kerashhh Hae..."
Jari Hae seperti menyatu dengan tubuhku, juniorku sudah mengacung tinggi dan dia mengulumnya, menghisapnya kuat. "Akhh... Terushhh hae... Akhhh..."
Semua kenikmatan itu semakin menderaku, bisa kurasakan tangan Hae yang satu tengah menaikkan satu kakiku ke atas bahunya dan satu tangannya mengarahkan kakiku melingkar ke pingganggnya. 'Eh, kenapa dia menggunakan kedua tangannya. Jangan-jangan...' Jujur aku merasa sedikit kaget merasakan kosong di holeku tapi rasa takut menghinggapiku saat menyadari sebentar lagi akan ada benda besar menerjang dan menusuk holeku. Hae semakin mempercepat hisapannya pada juniorku. "Akhhh... Kau membuatku akhhh..."
Hae tiba-tiba melepaskan kulumannya dan menatapku, meski gelap, aku tahu dia sedang menatapku. "Bersiaplah chagi..."
"Unghhh..." Dia menciumku dengan cepat dan ganas. Menekan tengkuk dan leherku memperdalam ciuman kami. Aku merasakan getaran hebat dalam tubuhku, namun tiba-tiba saja ...
"Arghhhhhh...!"
Aku berteriak keras saat junior Hae memaksa masuk ke dalam hole sempitku. "Akh, bertahanlah chagi... Uhh... Huhh... Huhh... Kau sangat euhh ... Sempithhh." Akh... Desahan Hae membuatku menggila. Ia mendiamkan juniornya di dalam holeku membuatku tak tahan lagi. Aku menggerakkan sendiri pinggulku. Meski rasanya berat dan sakit, tubuhku menuntutku untuk melakukannya.
"Memintalah padaku chagi, dan aku akan melakukannya." Dia tersenyum nakal padaku. Aish... Mengapa segelap ini aku masih bisa melihat wajah tampannya yang mengkilat karena keringat yang terpantul cahaya lampu.
"Ayo Hae, kumohon bergeraklah... Aku ingin kau sekarang. So hard and fast."
"Unghhhhh sempithhh..."
"Akhh... Terus Hae... Akhhh... " Aku terus melenguh saat ia menggenjot juniornya dengan cepat di dalam holeku. Tangannya mengocok juniorku seiring dengan genjotannya yang cepat pada holeku. "Uhhhh Hae... Kau pintar. Lebih cepat Hae... Akhhhh..."
"Ukhhh... Kau sempit dan nikmath sekalihh chagiyya..." Dia terus meracau sambil tetap mengocok juniorku. Ia menutup matanya menikmati kegiatan kami. "Aaakkkhhh Hae, disituhhh akhhh... Ya, disituhhh lagi..."
Aku makin tak bisa menahan lenguhanku saat dia menyodok sweet spot-ku. Dia terus melakukannya dan menggenjot juniornya lebih cepat dan dalam. Sesuatu menggelitik tubuhku dan meronta untuk keluar.
"Akhh... Hae... Sebentar lagi Akhhh... Aku akan... Keluarhhh."
"Nde, bersama chagiyahhh..."
Dia semakin mempercepat kocokannya, semakin memperdalam genjotannya dalam holeku.
"Hae...akhhh...!"
"Hyukkie... Akhhh...!"
Kami saling meneriakkan nama satu sama lain. Rasanya sangat nikmat dan hangat. Spermanya menyembur dan memenuhi hole-ku.
Tubuhnya ambruk diatas tubuhku. Dapat kurasakan nafasnya berhembus cepat menerpa telingaku. Hangat dan juga nikmat. Nafasnya menggelitik telingaku.
"Mianhe Hyukkie, aku tak bisa menahan diriku. Aku..."
"Kenapa harus meminta maaf chagi ?" Aku menangkap wajah tampannya dan mengusap keringat yang turun membasahi pelipisnya. "Aku akan memberikan segalanya untukmu Hae. Apapun Hae. Aku percaya padamu."
"Tapi aku sudah berjanji untuk melakukannya setelah kita menikah, tapi aku..."
"Ssstt... Sudah jangan mengatakan apapun lagi." Aku meraih kaos yang tergeletak sembarangan di perahu kami dan memakaikan pada tubuhnya. "Kau akan kedinginan jika naked Hae."
Hae juga meraih kaos milikku dan memakaikannya padaku. Dia tersenyum dan wajahnya sangat tampan. "Dengan begini kau juga tidak akan kedinginan." Kami memakai celana kami dan beranjak dari perahu kami. Berjalan kaki menyusuri pantai kembali ke Villa. "Hae, aku senang sekali hari ini. Terima kasih untuk hari yang indah ini. Kau sangat menyayangiku kan ?"
"Nde, tentu saja. Waeyo ? Kenapa bertanya seperti itu?"
"Ahniyo, hanya ingin bertanya saja." Sejujurnya aku takut Hae akan meninggalkan aku karena dia pemuda tampan dan kaya tapi aku, apa kelebihanku diantara semua yeoja yang ia pacari dulu ? Semua mantan pacarnya sangat cantik, mereka juga kaya. Sedangkan aku, demi aku dia meninggalkan semuanya.
"Hyukkie-ah, jangan diam sendiri saat aku bersamamu chagi. Apa yang kau pikirkan ?" Ia menghentikan langkah kami dan mencium bibirku lembut, "Tenanglah, aku akan selalu bersamamu."
"Ne Hae. Aku sungguh takut kehilanganmu. Kumohon jangan pernah meninggalkan aku. Demi apapun Hae, kumohon tetaplah bersamaku"
Dia mengangguk dan tersenyum padaku. "Percayalah Hyukkie, neomu saranghae. Aku tak akan pernah meninggalkanmu." Kami kembali berciuman. Dia sangat lembut padaku. Aku sangat menyayanginya dan semakin menyayanginya tiap harinya.
Kami kembali ke Villa. Hari sudah malam dan semua penghuni villa sudah pulang. Terlihat dari semua pintu yang sudah tertutup. Kami terhenti sebentar didepan pintu kamar kami saat mendengar desahan dari dua kamar disebelah kanan dan kiri kamar kami.
"Uhhh, teruskan Wonnie... Akhhh..."
"Wookie baby... Kau sangathh euhhh sempithhh..."
Rasanya hawa disekitarku sangat panas dan feelingku mengatakan jika namja didekatku sudah bersiap untuk memakanku sekarang juga. Aku memberanikan diri untuk menoleh namja tampan di sebelahku. "Hae... Jangan melihatku seperti itu. Kau menakutkan. Dan Hae kita baru selesai melakukannya." Tapi Hae tidak peduli dengan ucapanku. "Ehmm...Hae..."
"Ehmm... Well baby, i will gentle with you." Akh, tidak ! "Tapi Hae..."
.
.
oooSNOWDROPooo
Orchad Road, Singapore
.
.
"Ayo belanja !" Sungmin berteriak histeris saat memasuki kawasan Orchad road. "Kyu ayo belanja." Sungmin langsung menyeret Kyu dan melakukan perburuannya. Mereka memasuki sebuah toko mainan 'Toys'. Sungmin melirik satu sudut yang dipenuhi dengan boneka kelinci. "Kyunie, can I take this ?" Kyu hanya mengangguk. Baginya apa yang tidak akan ia berikan untuk istrinya yang sangat menggemaskan ini. Lagi-lagi Sungmin meminta sebuah mainan di toko itu.
"Kyunie, can I take this." Kyuhyun kembali mengangguk.
Dan sekali lagi, saat Sungmin melihat mainan yang berupa lampu tidur untuk baby, "Kyunie can I..."
"Just take what you want Minnie chagiyya." Sekarang Sungmin sudah memborong seisi Toys store itu. Mulai dari mainan anak-anak, boneka kelinci, semua mainan untuk baby dan juga baby box.
Untunglah Kyu anak orang kaya, meski di Korea ia juga memiliki supermarket tapi demi Sungmin, apapun akan ia berikan. "Kyunie, aku ingin naik MRT, boleh ya..." Kyu melihat puppy eyes memohon itu menjadi tak tega untuk menolaknya. Sebenarnya Han appa melarang mereka naik MRT karena sesak dan juga penuh orang. Lagipula mereka tak hapal Singapura. Namun melihat Sungmin yang sudah hampir menangis ia menurutinya.
Kyu membeli kartu untuk membayar MRT dan menunggu di pinggir jalur. "Kau yakin Hyung kita akan naik MRT ?" Sungmin mengangguk yakin. "Aku yakin Kyu. Lagipula aku tidak pernah naik kereta lagi sejak aku usia 10 tahun."
Kyu sebenarnya takut jika mereka akan tersesat, lagipula MRT akan penuh sesak saat musim liburan seperti ini. "Nde, baiklah. My all is for you." Sungmin tersenyum dan memeluk Kyu. Untung saja barang belanjaan mereka sudah dibawa Han Appa. Satu MRT berhenti dan Kyu langsung masuk tanpa tahu mereka akan dibawa kemana nantinya.
.
.
Hari menjelang malam, tapi KyuMin belum juga pulang.
"Hiks... Minnie chagi pulanglah..." Sangat terlihat Heechul malah meratapi Sungmin yang belum juga pulang. Bukan meratapi putranya sendiri. Sedangkan Teukki sibuk menenangkan besannya yang terkadang sangat mendramatisir keadaan. Ponsel mereka tak ada sambungan sama sekali. Padahal jika mereka tahu yang sebenarnya terjadi, maka mereka akan... ?
.
.
"Kyunie, sebenarnya kapan kita akan berhenti ? Aku capek Kyu dan juga lapar."
Dan yang sebenarnya terjadi adalah KyuMin tidak tahu harus turun dimana. Kyu sudah berusaha menghubungi Appanya tapi karena kadar kepintarannya menurun, ia lupa jika di dalam kereta itu tidak ada sinyal.
Akhirnya rengekan kelaparan Sungmin membuat Kyu menghentikan traveling didalam MRT itu, ia keluar dan menuju satu restoran. "Aku seperti mengenal tempat ini chagi ?" Kyu melihat restoran itu baik-baik.
Sungmin sama sekali tak peduli, dia memesan semua makanan tanpa memperhitungkan rasa apa lagi harganya. "Aku maun ini, lalu ini terus yang ini."
Seperti ada bola lampu di atas kepala Kyu yang menyala, ia langsung mengambil ponselnya. "Umma..."
"Huweee...Kyunie, kalian kemana saja ? Bagaimana dengan Minnie chagi ? Kau tahu aku sangat mengkhawatirkannya."
"Mianhe Umma, kami hanya jalan-jalan sebentar dan tersesat. Sekarang kami sedang makan di restoran no signboard seafood didekat villa. Kami ada di lantai dua Umma."
"Arrasseo, kami akan kesana."
Plippp...
.
"Dasar paboya ! Kemana kepintaranmu ? Mengapa hanya didalam MRT saja kau bisa tersasar. Untung saja Singapura itu kecil. Kalau luas seperti Korea, maka kau akan hilang. Pabo ! Kenapa kau tak mengabari Umma." Sungmin hanya melongo melihat pertengkaran Umma dan anaknya itu."Mian Umma, aku lupa jika didalam MRT tidak ada sinyal." Heechul masih kesal dan mencubit lengan putranya dengan gemas. "Jeongmall pabonika ! Semoga saja anakmu nanti tidak menuruni sifatmu ini."
"Sudahlah Heenim, yang penting kan Kyu sudah ditemukan. Sungmin juga baik-baik saja." Hangeng mengusap lembut rambut istrinya. "Ayo Kyu, kita pulang."
.
.
Back To Korea.
.
Liburan seminggu di Singapura telah usai. Mereka semua kembali ke Korea. Karena masih musim libur, Zhoumi dan Henry menginap di rumah Kyu. Dan masalah baru dimulai. Hari ini seminggu menuju natal.
.
.
"Aigo Henry, kau imut dan sangat menggemaskan. Pipimu chubby sekali, aku cubit ya..."
Sungmin kembali teralih perhatiannya pada Henry. Kini ia dan Henry duduk di meja makan. Seakan dunia milik mereka berdua. Sebenarnya dimeja itu ada 4 namja tampan yang tengah menikmati sarapan menjelang makan siang mereka. Para orang tua tengah mengunjungi YunJae yang akan pulang ke Jepang besok sekaligus membicarakan tentang kelanjutan hubungan HaeHyuk.
Kyu dan Zhoumi merasa dikacangin dan jadi kambing congek. Tentu saja karena Sungmin masih sibuk dengan Henry dan Henry sama sekali tak bisa menolak perlakuan hyungnya itu. "Henry, bagaimana bisa kau sangat imut dan pipimu se-chubby ini ? Kau sangat menggemaskan. Aku ingin aegyaku nanti seimut dirimu."
Sebenarnya Henry senang-senang saja, mengingat Sungmin adalah istri dari hyungnya, tapi melihat tatapan sadis Kyu, ia hanya bisa menggenggam erat tangannya untuk menahan takut yang melandanya. "Henry, ayo makan." Sungmin menyuapi Henry dengan sumpitnya dan dengan kedua tangannya sendiri.
"Aish... Aku tidak tahan lagi." Kyu beranjak meninggalkan Sungmin dan Henry yang masih sibuk menikmati moment berdua mereka. Zhoumi menyusul kyu ke beranda di belakang rumah. Sesungguhnya, Zhoumi takut mendekati Kyu karena insiden di Singapura. Tapi melihat Kyu yang down dan putus asa akhirnya ia berjalan mengikuti Kyu. "Kui Xian... Gwenchanayo ?"
"Nde, gwenchana Mimi-ge."
"Aku tahu kau sedih melihat Henry dekat dengan Minnie. Mian Kyu aku tak bisa menjauhkan Henry. Sejujurnya aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Tapi aku tak tega memisahkan mereka."
Kyu menatap sedih pada Zhoumi. "Hmmm, kita senasib seperjuangan Mimi ge. Huwe... Minnie hyung, kenapa jahat sekali padaku ?"
Zhoumi menarik Kyu dan menepuk bahunya pelan. Sedikit mendekatkan tubuhnya agar Kyu bisa menyandarkan kepalanya pada bahu Zhoumi. "Huhhh... Menyedihkan sekali Mimi Ge."
"Hiks... Kyu..." Seorang namja cantik menangis melihat suami tercintanya sedang bermesraan dengan orang lain. Setidaknya itu pemikirannya. "Tenanglah hyung, kita bisa membicarakannya baik-baik dengan Kui Xian ge nanti ." Henry mengusap bahu Sungmin tapi tanpa diduga Sungmin malah memeluknya. 'Oh no...' Henry menjerit tertahan dalam hati saat melihat Kyu tengah menatap tajam padanya. 'Please my Lord, save me.'
.
.
T.B.C
.
HAPPY NEW YEAR... HAPPY BIRTHDAY SUNGMIN OPPA... WISH YOU ALL BEST !
Mianhe updatenya luama banget. Mianhe jika jadi panjang ceritanya. Mungkin beberapa chap lagi tamat. Semangat deh #menyemangati diri sendiri#
Gomapseumnida atas review dari para pembaca fic gaje and ngarang ini. Dimohon untuk review lagi.
.
Gomawo ^_^
.
