CHAPTER 3

Selamat~ virus males ngetik saya menghilang...digantikan dengan virus malas belajar akut... orz

...eh malah curcol saya =u=;; . Happy reading anyway~! o3o


DAY 7

Roppi tidur-tiduran dengan malas diatas sofa sambil sesekali mengganti channel TV. Perutnya lapar dan Izaya tengah pergi ke Ikebukuro untuk 'urusan penting' yang tidak akan pernah ingin Roppi ketahui. Di apartemen itu hanya ada dirinya dan..Heiwajima Tsukishima yang saat ini sedang duduk berjarak 2 meter darinya.

"…lapar.." gumam Roppi sambil menghela nafas.

"E-Eto…Roppi-san lapar? Aku buatkan makanan, ya?" tanya Tsukishima gugup sambil tersenyum sedikit.

Roppi mengangguk dan Tsukishima pun beranjak pergi ke dapur.

Tsukishima membuka lemari es dan ia tidak mendapatkan apa-apa didalam sana selain kecap asin dan wasabi. Tsukishima menghela nafas lalu menutup pintu lemari es itu dan barulah ia sadar kalau ada sebuah catatan kecil yang tertempel di pintu lemari es.

"Untuk Tsuki-kun..(karena Roppi tidak mungkin pergi ke dapur dan memasak tentunya)

Aku lupa berbelanja jadi aku ingin kau berbelanja dan memasak untuk makan siang hari ini. Uangnya ada diatas meja makan lengkap dengan daftar belanjaannya. Jangan khawatir, supermarketnya dekat dengan apartement ini kok.. ^^

Izaya"

Catatan itu berakhir dan Tsukishima menoleh kearah meja makan. Benar saja. Disana ada secarik kertas yang ditimpa beberapa lembar uang.

"Heiwajima..kita jadi makan apa?" tanya Roppi yang entah sejak kapan ada dibelakang Tsukishima.

"E-Eh? Umm..Izaya-san bilang dia lupa berbelanja jadi aku akan pergi dulu ke supermarket untuk membeli barang-barang yang ada di daftar belanjaan ini.." ucap Tsukishima sambil mengambil kertas dan uang yang ada diatas meja.

"Aku ikut.." ucap Roppi singkat.

"T-Tidak perlu..aku akan segera kembali, kok!" ucap Tsukishima sambil berjalan menuju ke arah pintu keluar.

"Tapi kau kan tukang nyasar.." ucap Roppi sambil mengikutinya.

"Umnn..a-aku akan berusaha untuk tidak tersesat lagi..percayalah padaku, Roppi-san.." pinta Tsukishima sambil menatap Roppi dengan malu-malu.

Roppi menghela nafas dan berkata, "Baiklah..tapi ingat, kalau kau tersesat, segera telepon aku."

Roppi memberi Tsukishima secarik kertas.

"Itu nomor teleponku..dan jangan lama-lama..aku lapar.." ucap Roppi sambil berjalan kembali menuju sofa dan menyalakan TV.

Tsukishima tersenyum dan mengangguk lalu segera pergi keluar dari apartement.

Roppi terdiam lalu tak lama, ia beranjak dari tempat duduknya, mengambil jaket dan keluar dari apartement.


Tsukishima sampai di supermarket dengan selamat berhubung supermarketnya hanya berjarak dua bangunan dari apartement Izaya. Ia masuk dan melihat daftar belanjaan tersebut.

"Umm..aku harus beli ikan tuna, telur, edamame, nori, dan buah apel.." gumam Tsukishima sambil berkeliling.

Dengan cepat ia mendapatkan telur, edamame, nori, dan buah apel tetapi..

"Eeh? Ikan tunanya habis?" ucap Tsukishima yang kebingungan karena tidak biasanya supermarket kehabisan stok.

"Ano..beberapa hari yang lalu ada seorang pemuda yang memborong semua ikan tuna yang ada dan kami kehabisan stok ikan tuna.." terang orang yang menjaga konter ikan-ikanan disana.

"Begitu ya.." ucap Tsukishima kecewa. Ia sedih karena ia tidak berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan Izaya kepadanya.

"Umm…tapi kalau tidak salah ada supermarket lain didekat sini.. mungkin disana masih ada ikan tuna." ucap penjaga konter ikan tersebut.

"B-Benarkah? Kalau begitu aku akan kesana sekarang.. Terima kasih banyak!" ucap Tsukishima riang.

Ia segera membayar barang-barang yang ia beli dan keluar dari supermarket tersebut.

"Lama sekali.." gumam sebuah suara.

"Eh?"

Tsukishima menoleh ke arah suara itu berasal.

"R-Roppi-san..?" gumam Tsukishima sambil menatap Roppi yang tengah bersender ditembok samping pintu masuk supermarket.

"Kau lama..jadi aku datang." terang Roppi sambil mengangkat kedua bahunya.

"O-oh.. Maaf.. Tapi aku harus pergi ke supermarket lain karena aku tidak menemukan ikan tuna disini.." ucap Tsukishima sambil menunduk.

"…aku ikut. Dan kali ini tidak ada tapi-tapian." ucap Roppi datar.

"..baiklah.." ucap Tsukishima sambil tersenyum.

Kalau Tsukishima boleh jujur, ia merasa lebih aman dan nyaman jika berjalan dengan orang lain. Alasan utamanya tentu saja karena dia tidak akan tersesat kalau bersama orang lain tetapi dia punya alasan yang lain untuk berada disamping Roppi. Kalau berada didekat Roppi, hati Tsukishima berdetak cepat. Bukan dalam artian buruk sih menurutnya..

"A-Ano..Roppi-san.." gumam Tsukishima sambil mengikuti Roppi.

"Ng?" gumam Roppi sambil menoleh kebelakang sedikit.

"Kenapa..kenapa Roppi-san tidak pernah terlihat tersenyum dan tertawa?" tanya Tsukishima pelan.

"…untuk apa aku tersenyum? Dunia ini penuh dengan manusia-manusia yang aku benci. Mereka selalu ada di sekitarku jadi aku tidak akan pernah punya alasan untuk tersenyum maupun tertawa.." jawab Roppi sambil melihat kedepan lagi.

"Bahkan apabila Roppi-san sedang senang..?"

"Aku tidak pernah merasa senang, tuh.."

Tsukishima menghela nafas. Ia adalah tipikal orang yang paling senang melihat orang lain bahagia. Orang yang tidak bahagia adalah salah satu dari sekian banyak hal yang paling Tsukishima tidak suka.

"Lagipula..." lanjut Roppi.

"..? 'Lagipula'?"

"..aku..tidak tahu bagaimana caranya untuk..tersenyum dan tertawa.." gumam Roppi sambil menunduk.

"…..eh?" Tsukishima menjadi semakin heran karena menurutnya tersenyum adalah hal termudah yang bisa seseorang lakukan.

"Aku tahu, Heiwajima-kun. Aku mengerti teori bagaimana caranya untuk tersenyum dan aku bisa saja tersenyum palsu seperti yang sering dilakukan oleh Izaya yang menyebalkan itu…tapi apa gunanya kalau aku tersenyum tanpa alasan?" ucap Roppi sambil menghela nafas.

"E-eh? R-Roppi-san bisa membaca pikiranku?" seru Tsukishima kaget.

Roppi mengangkat bahunya dan berkata, "Anggaplah itu satu kelebihan apabila kau terlalu sering bergaul dengan Izaya.. ah, kita sudah sampai."

Tsukishima melihat kekiri dan memang benar. Mereka sudah sampai didepan sebuah supermarket lainnya. Tiba-tiba, Tsukishima menyadari sesuatu.

"Ah! Aku tidak tersesat kali ini! Ini pasti keajaiban.." ucap Tsukishima sambil tersenyum senang.

Roppi menatap Tsukishima dan berkata, "Itu kan karena kau-"

"Ini semua berkat Roppi-san.. Roppi-san adalah keajaibanku hari ini~!" potong Tsukishima sambil tersenyum lebar kearah Roppi.

Roppi terdiam dan menatap Tsukishima. Tak lama, ia tertawa kecil dan berkata, "Dasar orang aneh.."

Tsukishima terdiam sambil memandang Roppi.

"Hmm? Ada apa?" tanya Roppi bingung.

"Tadi..tadi..Roppi-san tertawa.." gumam Tsukishima dengan nada bingung.

"E-Eh..? T-tidak mungkin.. kau pasti salah lihat.." ucap Roppi gugup. Pipinya bersemu merah sedikit karena malu.

Tsukishima masih menatap Roppi. Suara tawa Roppi terdengar begitu merdu di telinga Tsukishima walaupun hanya sekedar tertawa kecil.

"Roppi-san!" seru Tsukishima sambil memegang kedua tangan Roppi.

"Y-ya?" tanya Roppi bingung.

"Tolong ijinkan aku untuk mengajari Roppi-san untuk tersenyum!" pinta Tsukishima sambil menatap Roppi.

"…hah?"

"U-uhh..tentu saja aku tidak sepintar Roppi-san ataupun Izaya-san..tapi..aku akan berusaha mengajarkan pada Roppi-san bagaimana caranya tersenyum dari hati.." ucap Tsukishima dengan wajah yang bersemu merah.

Di hari ketujuh Tsukishima berada di lingkungan keluarga Orihara, ia sudah mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya.

KALAU SAYA RAJIN AKAN SAYA LANJUTKAN


-OMAKE 1-

"A-ano..Roppi-san.."

"…ya?"

"Kenapa Roppi-san bersembunyi dibelakangku?" tanya Tsukishima yang merasa aneh.

Saat ini mereka tengah berada di konter ikan dan entah kenapa Roppi bersembunyi di belakang Tsukishima.

"…Aku tidak suka dengan mata ikan mati.." gumam Roppi sambil menunduk.

"…pfft.." Tsukishima berusaha menahan tawanya.

"Jangan tertawa…ini mungkin salah satu dari beberapa kelemahan apabila kau dilahirkan sebagai seorang Orihara.." ucap Roppi sambil menghela nafas.

-END OF OMAKE1-


-OMAKE2-

"Hee..? Roppi tertawa..? Itu adalah hal terlangka yang pernah kudengar.. Sayang sekali aku hanya bisa melihat dari sini.. Seharusnya aku memasang penyadap di tubuh Tsuki-kun, ya?"gumam seseorang berbaju hitam dengan binokularnya (lagi-lagi) dari atas gedung didekat supermarket itu.

"Orihara-san..bisa tidak sih kau menghentikan kebiasaan burukmu dalam menguntit orang..? Apalagi ini saudaramu sendiri.." ucap seorang wanita dengan baju hijau yang berada tidak jauh darinya.

"Ne, ne, Namie-san~ Menurutmu, berapa lama Tsuki-kun bisa membuat Roppi tersenyum? Seminggu? Sebulan? Setahun? Atau tidak akan pernah bisa?" tanya orang yang ternyata adalah Izaya itu mengacuhkan pernyataan sekretarisnya, Yagiri Namie.

Namie menghela nafas. Mungkin keputusannya bekerja pada orang seaneh Izaya adalah keputusan terburuk kedua yang pernah ia buat dalam hidupnya.

-END OF OMAKE2-


Awww yeaaaah...saya author gagal... orz

Zimmy-san : Itu sudah~ (/eue)/

Okumura-san : Aduh iya maaf =w=; habis tangan saya bilang males ngetik .w. Ini sudah saya lanjutkan~!

TheMasochistDevil-san : ;w; J-Jangan tertawa seram seperti itu ;w; I-Ini sudah saya lanjutin ceritanya..

Kay-san : ufufu...itu normal kok eue cerita saya emang ga ada yang bener semua ;-;

Err...buat yang bingung kenapa ada tulisan DAY 7 diatas sana =w=a

Saya bakal bikin ceritanya jadi seperti minggu pertama, minggu kedua, dst jadi saya pake hari kelipatan 7~! =u= -gampared-

Semoga readers tidak membantai saya karena keabsurdan saya ini... ;w; -huddles-

Review? \OwO/