A/N: Oh minna, saia publish fic ini untuk event 'Fanfiction Contest'. Semoga ada yang mau baca dan bisa menikmati karya fiksi saia yang satu ini. ^^

Okay, let's begin it!

Disclaimer: Shaman King © Hiroyuki Takei

Warning: Shonen-ai, bad language, gajeness, OOC, AT.

Happy reading! XD

Hatefull Song of Summer

Chapter 1 (prologue)

Unforgiveable Water Sprout

Burung-burung terbang sambil berkicau merdu. Bernyanyi sambil menyambut mentari yang membawa musim baru. Tak ada langit kelabu maupun suasana sendu. Angin musim panas menari sambil membawakan lagu. Beringsut ke dalam Funbari Onsen, menarik keluar para muda-mudi yang lugu.

Tibalah pagi yang sempurna ini, sebagai tanda dari awal musim panas. Hari ini tak ada alasan untuk bermalas-malas. Apalagi melewatkan musim ceria ini dengan tidur pulas. Tidak seharusnya tirai jendela itu menghentikan cahaya dari bias. Apalagi bila sekarang kau hanya guling-guling di atas ranjang dengan lemas. Ayolah, ini saatnya pergi ke luar dan menghirup udara musim panas sampai puas!

Berenang bersama teman-teman, pergi bermain ke taman, menyirami bunga musim panas yang baru tumbuh di halaman, berbaring di rumput tanpa peduli serangan kuman.

Harusnya itu yang dilakukan oleh hampir semua orang di musim panas yang ceria ini.

Ya, hampir. Sayangnya ada seorang dan satu-satunya orang yang tak sedikit pun berminat untuk pergi dari kamarnya hari ini. Ialah Tao Ren, seorang shaman mungil berambut raven-keunguan, seorang bocah manis dengan mata kuning keemasan layaknya seekor kucing, dan merupakan bocah super egois nan sadis yang sangat sering terlihat sedang meminum susu. Entah susu botol atau yang terbungkus kotak, apapun itu yang penting susu. Sepertinya itu memang minuman favoritnya.

Ia benci musim panas, musim di mana suhu udara akan meningkat drastis tapi orang-orang malah pergi ke luar untuk membakar tubuh mereka dengan matahari sebagai sumbu kompornya. Ren benci pergi ke luar di saat cahaya matahari bisa menyengatnya kapan saja.

Si bocah dengan rambut ber-tongari itu beringsut malas dari kasurnya. Merangkak dengan malas ke jendela kamar dan menyandarkan tangan pada bingkai sang jendela. Ia mengamati figur dari teman-temannya yang sedang beramai-ramai merawat kebun Funbari Onsen. Ren dapat melihat bagaimana senyum care-free yang dikeluarkan Yoh ketika Anna menyuruhnya dengan bentakan keras. Ia dapat melihat bagaimana Ryu membuat bentuk patung Lyserg secara full-body dengan pohon yang ia rapikan. Kemudian pandangan mata kucing itu beralih menuju Faust yang sedang mengamati tanaman kantong semar yang entah kenapa bisa ada di halaman rumah Yoh. Di seberang taman Manta tersenyum sambil menanam bunga Daisy dan Tamao datang sembari membawakan pupuknya. Ren tak habis pikir, memangnya apa yang menyenangkan dari menghias kebun secara berjamaah di tengah teriknya mentari yang seolah ingin membakar orang hidup-hidup itu? Ia bahkan tak habis pikir karena Chocolove dan Lyserg sampai jauh-jauh datang ke Jepang dalam rangka menghabiskan libur musim panasnya.

Dan dari semua itu, pemandangan yang paling membuatnya kesal setengah mati adalah tentang orang itu. Si pemuda ainu berambut biru muda yang berlari kesana-kemari sambil menyemprotkan air dengan brutal melalui selang yang ada pada genggamannya. Dengan tawa kerasnya yang polos itu ia terus beputar putar mengelilingi halaman sambil menyirami segala hal yang ada di sana. Tak terkecuali juga teman-temannya yang secara tidak sengaja ikut terkena siram. Meski banyak yang basah kuyup, namun nyatanya tak ada seorang pun yang protes pada tingkah kekanakannya. Lagipula segar rasanya bila disiram air di hari yang terik ini. Ya, musim panas memang identik dengan bermain air.

Ren terus menatap pemuda dengan nama panggilan Horo-Horo itu. Ekspresinya kusut, terlihat jelas bahwa ia sangat terganggu dengan kebisingan yang diciptakan si peace maker itu. Jangan khawatir, Ren memang selalu merasa terganggu ketika ia bertemu Horo-Horo. Dan satu-satunya hari di mana mereka bisa akur adalah di hari kiamat.

Berbanding terbalik dengan ekspresi Ren, Horo-Horo melempar senyum polosnya ketika mata obsidian itu bertemu pandang dengan sepasang mata kuning yang mengamati di balik jendela.

"Ren, ohayou!" teriak Horo-Horo sembari melambaikan tangan kanannya, yang mana tangan kanan itu masih memegang sebuah selang yang tentu saja airnya sedang mengalir. Jadilah air itu tersembur ke wajah dan tubuh Horo-Horo, membuat teman-temannya yang lain menahan tawa karena geli melihat kebodohan— err, kepolosan sang pemuda ainu.

"Hmph, tetap ceroboh seperti biasa." komentar Ren sambil mengeluarkan deheman khasnya. Horo menggembungkan pipinya dan menatap tajam ke arah Ren.

"Masih lebih baik daripada pemalas yang kerjanya tidur sepanjang hari!" Horo-Horo mendekat ke arah jendela dan menyindir Ren, tentu saja sang bocah tongari tahu betul maksud dari perkataan itu.

"Paling tidak aku bukan idiot sepertimu, yang bermain-main dengan selang sambil berlarian tak karuan." ucap Ren datar sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Ia mendengus kesal sambil membuang muka dari pandangan Horo-Horo, yang mana si pengendali es merasa sangat tersinggung ketika menelan ucapan Ren mentah-mentah.

"KAU!"

'Brusssh!'

Terpaku, semuanya terdiam kaku. Yoh dan Anna yang tadinya bekerja kini menolehkan kepala ke ambang jendela kamar Ren. Faust dan Chocolove memandang pada direksi yang sama. Lyserg terbelalak sambil menutup mulutnya. Ryu malah menatap Lyserg dengan senyum mesumnya. Manta dan Tamao merinding disko ketika melihat pemandangan yang ada di antara Horo-Horo dan Ren. Horo sendiri ternganga lebar ketika melihat sosok bocah yang berjarak dua meter di hadapannya tertunduk. Buliran air jatuh menuruni rambut reven keunguan miliknya. Kepala tertunduk, dengan tubuh gemetar. Giginya gemertak dan tangannya terkepal sampai membentuk guratan.

Jelas terlihat bahwa Ren marah besar. Kenapa? Karena ia baru saja terkena siram oleh selang yang dipegang Horo-Horo.

Sebenarnya ini salah Horo-Horo sendiri, karena dengan cerobohnya ia menunjuk-nunjuk Ren dengan jemarinya yang masih memegang selang. Tak heran bila air itu tersembur dengan indahnya dan menyemprot Ren dengan segala keanggunan yang pernah ditampilkan oleh tekanan air di jagad raya.

"Eee, Ren?" Terjebak antara kebisuan ngeri dan suasana tegang, Horo-Horo memutuskan untuk angkat bicara dengan gagapnya. Tak ada jawaban. Kemudian pemuda es itu berjalan hingga tangannya dapat menyentuh ambang jendela tempat Ren bernaung. Dengan jarak lima puluh senti dari tubuh Ren, Horo-Horo mematung dan berkeringat dingin. Kenapa? Karena ia baru saja mendengar kata-kata kutukan yang digumamkan oleh mantan leader tim The Ren itu.

"Bunuh, bunuh, bunuh..."

"Re— Ren?"

"KUBUNUH KAU!"

"GYAAAA!" Tanpa adanya proses pikir panjang terlebih dahulu, Horo-Horo segera meninggalkan majelis. Diikuti dengan Ren yang melompat turun dari jendela sambil menggenggam erat kwan dao-nya. Yang lainnya hanya menghela napas singkat atas peristiwa kejar-mengejar yang memang sudah jadi ritual harian dua makhluk yang bagaikan anjing dan kucing itu.

Tao Ren, sangat membenci musim panas.

Apalagi kalau ada bonus berupa Horo-Horo di dalamnya..

Oh ayolah Ren, kau bahkan belum melihat mimpi buruk yang sebenarnya.

To be Continued

A/N: Aaah! Pendek pendek pendek pendek! (plak!)

Maaf masih singkat. Sebenarnya fic ini sudah selesai, namun kepanjangan bila saia post dalam satu oneshot. Akhirnya saia potong dan dibagi sebagai fic multichap. Is it alright?

Dan saia juga nggak publish sekaligus, biar penasaran haha! XD (plak!)

Dan soal kenapa saia publish fic di fandom SK padahal fandom ini telah tidak aktif?

Itu semua karena saia jatuh cinta sama Shaman King. Dan saia masih menyimpan harapan agar suatu saat nanti fandom ini dapat berkembang dan dipenuhi oleh authoress dan readers dengan suasana yang hangat. :')

Saia panjatkan doa saia, semoga dengan terbitnya fiksi ini dapat mengembalikan harapan ke famdom SK

Akhir kata, arigato gozaimasu! XDD

Last dimension will come

The Fallen Kuriboh