A/N: Oh, jumpa lagi dengan saia. (yah, meski saia ga yakin kalau ada orang yang baca ini fic gaje) Ah sudahlah, mari kita mulai dan semoga ada yang berkenan dengan fic gaje ini.
Disclaimer: Shaman King © Hiroyuki Takei
Warning: Shonen-ai, bad language, gajeness, OOC, AT.
Happy reading! XD
Hatefull Song of Summer
Chapter 2
Unforgiveable Venus Trap
Si bocah tongari terus menggerutu dengan sebalnya sambil mengerjakan titah dari Anna, memindahkan tanaman-tanaman ke pot yang baru. Ia merutuki dirinya sendiri atas nasibnya di hari ini. Pertama, basah kuyup karena kena siram oleh Horo-Horo. Lalu akhirnya dipaksa terjun ke halaman untuk jadi budak tunangan Yoh itu. Selanjutnya apa lagi?
Sementara Ren bekerja dengan aura suram yang menyelimutinya, Horo-Horo yang ada di sebelahnya malah bersenandung riang sambil memindahkan satu-persatu tanaman hias pada potnya. Tanpa menoleh, Ren memberikan death glare pada si pemuda es yang terlalu 'panas' untuk ukuran es itu. Sayangnya Horo-Horo sedang terlalu senang untuk menyadari tatapan iblis dari Ren. Atau mudahnya kita bisa bilang hal itu terjadi karena kelemotannya.
"Baka..." gumam Ren yang agaknya merasa emosi karena tidak dihiraukan oleh teman paling menyebalkan sekaligus yang paling akrab dengannya itu.
"Whooa! Tanaman ini unik sekali!" teriak Horo-Horo ketika ia mendapati sebuah tumbuhan kecil dengan dua buah daun dengan gerigi di pinggirannya. Ren memandang bosan pada temannya yang tergolong mudah heboh itu.
"Baka. Itu namanya Venus Trap. Aneh, padahal katamu bangsa ainu dekat dengan alam tapi tanaman begitu saja kau tak mengenal." Ren memberi komentar dengan ekspresi kusutnya. Horo-Horo menajamkan alis ketika mendengar statement Ren yang sama sekali tidak ada unsur pujiannya itu.
"Di Hokkaido tidak ada Venus Tora— Arrgh! Entah apalah namanya itu!" Horo-Horo membela diri, mana pakai salah mengeja pula. Tak heran bila Ren tertawa kecil karena tingkah Horo-Horo yang terlihat kikuk namun tak pernah luput membuatnya tertawa itu.
"Baka-ainu, kau ini aneh sekali ya." ucap Ren yang senyum-senyum gaje karena berusaha menahan tawanya. Horo-Horo blinked out sesaat ketika melihat wajah Ren. Jarang sekali ia bisa melihat ekspresi lepas dari sang bocah tongari.
"Whoa, kau tersenyum! Jarang-jarang aku melihat seorang Tao Ren bersikap santai begini. Sepertinya musim panas memang banyak memberi pengaruh pada hatimu. Nee, Ren-chan?" goda Horo sembari menoel-noel pipi Ren. Bocah es itu tersenyum lebar, sementara yang bermata kucing langsung memasang ekspresi sangar pada wajahnya.
"Diam! Aku sangat benci pada musim panas dan jangan coba-coba memanggilku dengan panggilan yang membuat ilfeel begitu!" Dengan seluruh kearoganan yang ia berkahi dari keluarga Tao, si kucing yang blushing mulai menjitak dan menendang-nendang tuan kelinci biru yang tiada berdosa.
"Argh! Hei, kau tidak seharusnya memukulku hanya karena aku berbicara!" protes Horo sembari berusaha untuk menahan pukulan dan tendangan Ren. Sementara pihak 'pembunuh' tak menaruh peduli sedikit pun pada Horo-Horo.
'Diam-atau-kau-akan-mati!' Paling tidak itulah kata-kata yang tersirat pada mata Ren yang memandang sadis ke Horo-Horo.
Yoh dan kawan-kawan menghela napas. Sepertinya hari ini akan ada lagi adegan kejar-mengejar layaknya film kartun 'Tom and J*rry'.
"Stop!" Untungnya, sebelum ada satu korban pun yang terjatuh Anna telah mengambil tindakan untuk menghentikan dua insan yang sudah mulai masuk dalam adegan horror itu.
"Hentikan pertengkaran berisik kalian dan cepat kembali bekerja!" bentak Anna dengan sadisnya. Horo-Horo menangis sambil sujud-sujud pada kaki Anna dengan anime style, berterimakasih karena secara tidak langsung Anna telah menyelamatkan nyawanya dari ancaman Ren. Sementara Ren berdecak kesal, namun segera kembali ke tempatnya semula untuk melanjutkan pekerjaan.
Kini keadaan kembali tenang. Yoh yang sudah menyelesaikan pekerjaannya mulai melakukan latihan (baca: neraka) tambahan yang diberikan Anna. Manta duduk di teras rumah sambil menyemangati Yoh. Lyserg, Ryu dan Chocolove masih sibuk dengan urusan kebun. Sementara Tamao menghilang ke dalam rumah, mungkin sedang menyiapkan teh dan camilan untuk semuanya. Keadaan tak jauh berbeda dengan Horo-Horo dan Ren yang masih sibuk memindahkan berbagai tanaman dalam pot baru.
Selang beberapa menit, Horo-Horo kembali meracau tak jelas,"Ngomong-ngomong, daun si Venus ini aneh ya. Kenapa hanya ada dua dan bentuknya aneh begini ya?" Ren yang ada di sebelahnya hanya diam sambil menutup mata, sebagai tanda bahwa ia tak mau ambil pusing dengan pertanyaan bodoh dari temannya yang juga bodoh itu.
Horo-Horo menggembungkan pipi ketika menyadari bahwa Ren tidak mengindahkan pertanyaannya. Namun bagaimanapun, ia penasaran sekali dengan tumbuhan yang unik ini. Horo mengulurkan jari telunjuknya untuk menyentuh daun kembar itu. Ren yang melihatnya langsung berteriak histeris...
"Hei, jangan—!"
Refleks, Ren langsung meggerakkan tangannya untuk menepis tangan Horo-Horo, melindunginya dari helai daun Venus Trap yang sudah siap mengunci benda terdekat yang ada dalam area jangkauan. Gerakan cepat itu berhasil menyelamatkan tangan Horo-Horo dari gigitan(?) si Venus Trap. Namun sebagai imbasnya malah tangan Ren yang terjepit di antara dua daun yang bergerigi tajam itu.
"..."
Ren diam saja, menatap lekat pada telapak tangannya yang terjepit erat dalam mulut Venus Trap. Setengah dari telapak tangan Ren benar-benar dimakan(?) oleh sang tumbuhan nista.
'Tes... tes...'
"..."
Cucuran darah mulai menetes keluar dari tangan Ren, begitu pun sang bocah tongari masih diam saja sambil menatap kosong pada tangan malangnya. Sedangkan Horo-Horo yang menyaksikan pamndangan horror di hadapannya memulai sebuah inisiatif untuk berteriak ala gadis muda jaman sekarang(?)...
"KYAAAAA!"
Dan teriakan girly itu dengan suksesnya membuat seluruh makhluk yang ada di sana menoleh ke arah sumber suara. Yoh yang bereaksi paling cepat langsung menghampiri Horo-Horo. Diguncangkannya bahu Horo-Horo, namun yang bersangkutan tiada bereaksi dan masih menatap horror pada tumbuhan Venus Trap yang baru memakan korban. Dengan tanggap Yoh mengikuti arah pandang Horo-Horo dan terlonjak ketika mendapati salah satu tanaman milik Anna memakan tangan Ren.
"Oh, pasti itu sakit." ucap Yoh dengan penuh rasa simpati sambil memandang Ren. Hello, that's not the point here!
"...Tolong bantu aku untuk membebaskan tanganku dari tanaman haus darah ini." ujar Ren dengan nada suara sangat rendah. Wajah bocah bertongari itu terlihat sangat pucat. Entah karena ia terlalu shock atau karena kehilangan banyak darah.
"Akan kucoba sebisaku..."
Janganlah kalian membayangkan cara apa yang dilakukan Yoh dan Horo-Horo untuk melepas tangan Rend ari sang Venus Trap. Yang penting akhirnya tangan Ren berhasil lepas dari tanaman haus darah itu.
Dan inilah histeria masa muda(?) dalam kehidupan Tao Ren. Di mana sejak awal ia sudah tidak menaruh hati pada musim panas maupun nasib sial yang dibawanya berkat kehadiran Horo-Horo di sampingnya.
Yah, paling tidak kisah ini masih akan terus berlanjut...
To be Continued
A/N: Minggu pertama setelah saia publish ini fic, saia membatu. Nggak ada yang review haha. Tapi akhirnya saia disadarkan oleh realita bahwa fandom ini telah sepi— tidak, tapi nggak ada orang. T^T
Dan saia memberikan banyak ucapan terimakasih pada Kuroka-nee, satu-satunya orang yang bersedia meninggalkan jejak review pada fic gaje ini.
Namun di atas itu semua, saia masih menyimpan harap. Semoga suatu saat nanti fandom ini bisa ramai lagi, atau semoga saia dapet banyak kenalan yang sama-sama suka Shaman King, atau semoga ulangan Biologi nanti soalnya nggak pada susah. (plak!)
Oke, saia curcol. Ugh, semoga ada yang mau review! DX
Last dimension will come
The Fallen Kuriboh
