A/N: Oh my, saia senang sekali karena chapter dua menembus tiga review! XD Dan saia di sini masih dengan doa yang sama, semoga suatu saat nanti fandom ini kembali ramai! X3
Disclaimer: Shaman King © Hiroyuki Takei
Warning: Shonen-ai, bad language, gajeness, OOC, AT.
Happy reading, minna! XD
Hatefull Song of Summer
Chapter 3
Unforgiveable Bandage Treatment
Suasana hening sekali di ruang tengah Funbari Onsen. Semua orang masih sibuk dengan urusan kebunnya saat ini. Hanya ada tiga orang yang ada di dalam bangunan rumah. Pertama: Tamao, yang sepertinya sedang membuat teh di dapur. Kedua: Ren, yang duduk di tatami ruang tengah dengan wajah tertekuk dan dengan tangan kanan yang tak berdaya. Dan yang terakhir adalah Horo-Horo, yang sedang berkonsentrasi penuh dalam upaya membungkus tangan Ren yang terluka dengan perban.
Ruang tengah itu terlihat hening dan suram, hanya ada tone suara-suara dari halaman saja yang mewarnai suasana itu. Ren sedang tidak ingin buka mulut saat ini, apalagi untuk berbicara dengan si ainu yang sudah mengakibatkan tangannya berdarah. Sementara Horo-Horo juga setidaknya tahu diri atas posisinya, ia tak ingin membuat Ren jauh lebih marah lagi padanya.
Dan dalam hitungan menit, perban telah terpasang di tangan kanan Ren dengan rapi. Namun tak ada satu pun dari dua orang itu yang memiliki niatan untuk beranjak keluar ruangan sunyi ini. Ren sudah sangat muak dengan hal-hal yang berkaitan dengan musim panas, dan saat ini ia memiliki tambahan satu phobia, yaitu phobia Venus Trap. Lalu Horo-Horo sendiri tak bisa meninggalkan Ren yang dalam keadaan super bad mood itu. Ia tak mau bila tiba-tiba Ren mengamuk dan menghancurkan seisi rumah.
Namun lama-lama kesunyian itu menjadi makin menyulitkan saja bagi Horo-Horo. Ayolah, ia bukanlah orang yang dapat bertahan lama dalam keheningan. Ia tahu bahwa berbahaya sekali resikonya bila angkat bicara sekarang, namun mendengar suara teriakan Ren yang sedang marah besar masihlah lebih baik daripada terdiam dalam suasana sunyi yang baginya mengerikan ini.
Maka dengan segala kenekatan yang ia peroleh dari pengalamannya di Shaman Fight, Horo-Horo mulai ambil suara, "Ren? Kau masih marah?"
Yang ditanyai hanya diam. Kepalanya tertunduk sehingga Horo-Horo tak bisa membaca ekspresi Ren.
"Ugh Ren, ayolah... jangan diam seperti ini. Kau boleh memukulku kok kalau kau merasa sebal padaku." pinta Horo-Horo sambil mengatupkan kedua tangannya di depan wajah. Matanya berbinar-binar, membentuk suatu pola ekspresi memelas dengan menggunakan jurus 'Puppy Eyes' andalannya.
"Ren~ Maafkan aku..."
Makin lama didengar, Ren makin ilfeel dengan suara sok imut yang sengaja dibuat oleh Horo-Horo. Apalagi ekspresi sok lugu yang entah kenapa makin lama rasanya jadi makin dekat saja ke wajah Ren.
"Berisik!" teriak Ren yang sedang berada di puncak emosinya. Dikepalkannya tangan kanannya -yang harusnya masih sakit- untuk melayangkan sebuah tinju pada Horo-Horo. Namun sang pemilik 'Spirit of Rain' kali ini dapat dengan mudahnya menghindari kepalan tinju Ren, lalu menangkap pergelangan tangannya dan mendorong pelan tubuh Ren hingga sang bocah tongari kehilangan keseimbangan atas tubuhnya. Dengan mudahnya Ren terbaring terlentang di atas tatami, dengan Horo-Horo yang menduduki perutnya dan mengunci pergelangan tangan kirinya.
"Lepaskan aku," desahcoret desis Ren dengan mata kuningnya yang berkilat tajam, seolah ia akan membunuh Horo-Horo di detik ini juga bila pemuda es itu tidak beranjak minggir dari atas perutnya.
"Tidak, karena kau baru saja akan melakukan tindak kekerasan." jawab Horo-Horo dengan ekspresi datar dan tenang. Tentu saja jawaban itu membuat Ren makin emosi.
"Tadi kau yang bilang kalau aku oleh memukulmu!" protes Ren dengan wajah yang memerah padam. Bukan karena blushing atau apa, jelas bukan. Wajahnya memerah karena saat ini ia sedang sangat marah.
"Tapi tidak dengan tanganmu yang sedang terluka. Nanti lukanya bisa terbuka lagi, kau akan kehilangan banyak darah, masuk UGD, dan kemudian mati karena darahmu habis." Ren sweatdrop saat mendengar jawaban sang ainu muda yang terkesan bodoh sekali. Apalagi Horo-Horo mengatakannya dengan wajah serius yang juga menyiratkan rasa khawatirnya pada Ren.
"Hmph, dasar bodoh. Kau pikir aku ini siapa?" Ren memutuskan untuk tidak menertawai jawaban Horo kali ini, melainkan hanya mendengus kesal pada pemuda yang masih dengan seenak jidatnya menduduki perut Ren. Oh God, ayolah. Kau pikir Horo-Horo itu ringan apa?
"Kau adalah Tao Ren, bocah kecil yang saat ini tangannya sedang terluka. Oleh karena itu kau jadi tak berdaya dan tidak boleh bergerak sembarangan." jawab Horo-Horo dengan serius sembari menunduk sampai wajahnya berada dalam jarak sepuluh senti dari wajah Ren.
"...Singkirkan wajah mesum itu dari pandanganku." ujar Ren dengan nada bicara dingin sembari memberi death glare pada kedua mata obsidian milik Horo dari jarak yang terbilang dekat ini.
"Hei, aku tidak mesum!" protes sang ainu yang kini wajah seriusnya langsung luntur seketika.
"Kau mesum. Dan itu terbukti dari posisi kita saat ini." Ren berusaha memberi komentar dengan mempertahankan ekspresi cool-nya. Aslinya sih ia sudah sangat tak nyaman dengan posisi mereka saat ini. Ditambah Horo-Horo agak sedikit berat hingga menyulitkan pernapasan Ren ketika ia mengambil duduk di atas tubuh Ren.
"Hee? Aku duduk di sini supaya kau tidak bergerak, kau kan sedang terluka. Lagipula mananya juga yang mesum dari sini? Dilihat dari mana pun, rasanya tidak ada yang janggal kok. Lagipula aku dan kau ini kan sama-sama anak laki-laki?" Horo-Horo memberikan pernyataan panjangnya sambil tetap mengunci pergelangan tangan kanan Ren. Sesekali melihatnya kalau-kalau luka gigitan Venus Trap itu terbuka lagi.
"Dasar bodoh. Belum tahu hal yang namanya 'yaoi' ya? Lagipula posisi ini sama sekali bukan posisi yang tidak janggal tahu." komentar Ren sembari menatap sinis pada Horo-Horo dan segala kepolosan yang dibawanya.
"Huh? Tentu saja aku tahu yaoi itu apa!"
"Atau kau..."
Horo-Horo menyeringai jahil. Ren tetap berekspresi datar meski ia merasakan adanya hal yang tidak beres yang dipikirkan oleh si pemuda es.
"Ohoho, kurasa aku tahu siapa yang sebenarnya mesum di sini." Horo-Horo tersenyum lebar dengan nistanya. Ren merinding sesaat, merasakan adanya firasat buruk yang akan menghampirinya.
Untuk kesekian kalinya Horo-Horo tersenyum lebar dengan nista. Yang ini sedikit berbeda, lebih lebar dari biasanya. Sebagaimanapun cool-nya seorang Tao Ren, tetap saja ia merinding ketika melihat senyuman nista itu dari jarak dekat. Ia tahu betul apa makna dari senyuman jahil Horo-Horo yang satu ini.
'Sepertinya ia akan mengerjaiku lagi. Ugh, semoga saja ia tidak berpikir untuk—'
Belum selesai Ren membatin di hatinya, ia kembali dikejutkan oleh perubahan ekspresi Horo yang kini terlihat serius secara tiba-tiba. Ren tahu bahwa itu hanyalah akting belaka, namun tetap saja ia merasa tak nyaman dengan ekspresi yan seolah akan meng*ehem*nya itu. Ren berusaha untuk tetap tenang, sampai Horo-Horo mulai mendekatkan wajahnya pada Ren...
Maka runtuhlah tembok coolness yang dibangun Ren selama ia hidup di ruangan ini.
"Waaaa! Tunggu, jangan, apa yang kau— Arrgh! Lepaskan aku , Horo-bakaaa!"
"KYAAAA! ?"
Baik Ren maupun Horo terhenti ketika mendengar suara teriakan dari pintu ruang tengah. Di sana terdapat sosok Tamao yang berteriak dengan wajah memerah. Nampan berisi teh yang ia pegang bergetar, namun tak cukup heboh hingga susunan teh itu tak akan terjatuh dari singgahsananya.
Masih dalam detik yang sama, Ren langsung melepaskan diri dari tindihan Horo-Horo. Yah, paling tidak ialah yang paling cepat tanggap di sini dan ia dapat menggunakan kesempatan itu dengan sangat baik.
"Ma, maaf! Aku tidak bermaksud untuk mengganggu kalian—"
"Tamamura Tamao," Ucapan Tamao langsung terhenti oleh Ren yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya. Gadis berambut pink itu berkeringat dingin, merasa takut padahal tak ada tanda-tanda kemarahan sama sekali dari wajah Ren. Malah sang pemuda tongari itu tersenyum padanya. Oh, yang tentu saja hanya sebuah fake smile.
"Pertama, aku dan Horo-Horo sama sekali tidak sedang melakukan hal berbau yaoi di sini. Itu tedi terjadi karena kecelakaan. Kedua, tolong jangan katakan tentang apa yang kau lihat tadi pada siapapun. Dan yang ketiga, kurasa kau akan tahu apa akibatnya bila hal yang tadi sampai bocor ke telinga yang lainnya."
Tamao mengangguk cepat dengan wajah yang membiru karena takut. Tubuhnya gemetaran karena ia takut sekali pada Ren yang saat ini. Tidak, sebenarnya Ren tidak memasang ekspresi seram. Malah sebenarnya ia tersenyum. Sayangnya Tamao dapat merasakan adanya aura membunuh luar biasa yang keluar dari sang pewaris keluarga Tao, hingga ia takut luar biasa seperti saat ini.
"Kau paham, Tamao?"
Dengan satu pertanyaan penjelas itu, Ren dapat memastikan bahwa Tamao tidak akan berbicara macam-macam pada yang lain.
Menit berlalu dan akhirnya Horo-Horo berhasil membawa Ren kembali ke halaman Funbari Onsen. Mulanya si bocah bermata kucing itu menolak ajakan Horo dengan mati-matian. Namun berkat sedikit jurus puppy eyes dan ekspresi memelas Horo-Horo, akhirnya Ren memutuskan untuk kembali berkebun.
Sayangnya nanti ia akan menyesali keputusan itu.
To be Continued
A/N: Ahaduh, saia ucapkan terimakasih banyak pada reviewers yang sudah berkenan me-review fic gaje ini! Review Anda sekalian akan saia balas lewat PM. ^^
Btw, dalam waktu dekat akan ada sebuah ajang tahunan beranama IFA (Indonesian Fanfiction Awards)! XD
Apakah itu IFA? Seperti apakah pelaksanaannya? Silahkan kunjungi infantrum, profil Ifa di ffn atau di grup Facebook untuk informasi lebih lanjut! XD
(saia tahu saia bukan humas resmi fandom ini, tapi saia juga pingin berbagi info)
Last dimension will come
The Fallen Kuriboh
