A/N: Wohoho, maaf saia lama update. Untuk sementara saia memang sedang hiatus, jadinya belum update/publish sampai sekarang. Nee, ini fic saia update karena memang sudah diketik dari jauh-jauh hari haha! XD (plak!)

Disclaimer: Shaman King © Hiroyuki Takei

Warning: Shonen-ai, bad language, gajeness, OOC, AT.

Happy reading, minna! XD

Hatefull Song of Summer

Chapter 4

Unforgiveable Bee Hive

Sebelah alis Ren terangkat ketika di depan Funbari Onsen telah parkir sebuah truk yang membawa beberapa pohon besar siap tanam di dalamnya. Ia tak habis pikir dengan Anna, memangnya ia mau menjadikan tempat ini penginapan atau kebun raya sih?

Kumpulan pria tak dikenal yang diduga merupakan para pegawai perusahaan mulai menurunkan isi truk mereka ke halaman rumah. Lyserg sweatdrop ketika ia menemukan banyak pohon pakis yang daunnya cukup mirip dengan warna dan style rambutnya. Horo-Horo berdecak kagum sambil menatap pepohonan rimbun yang ada di depan matanya, sementara Ren hanya melirik sang ainu dengan tatapan yang seolah berkata, 'Kau bodoh dan aku seratus kali lebih cerdas darimu'.

Kemudian Horo-Horo memanjat salah satu dari pohon-pohon itu dengan lincah. Ren mendongak untuk menatap sosok sang Shaman es. Cahaya mentari berkilau indah menerpa wajah dan rambutnya. Senyuman itu dengan indahnya terbingkai oleh cahaya dan bentuk wajahnya. Sempurna, Ren bahkan baru sadar bahwa Horo-Horo kadang dapat terlihat mempesona seperti ini.

"..." Untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupan seorang dari keluarga Tao, Ren terbengong-bengong karena takjub pada sosok Horo yang berkilau dengan indahnya di atas pohon sana. Baginya, si ainu yang biasanya terlihat tolol itu kini terlihat sangat... cantik? Bagaikan sosok malaikat yang bermandikan cahaya menteri.

Dan mari kita berkata bahwa itu adalah hal terbodoh yang pernah terpikir dalam benak Tao Ren.

"Reeen!" Si bocah tongari terlonjak sedikit ketika Horo-Horo memanggilnya dari atas pohon sana, membuat lamunan dan khayalan tingkat tingginya terbuyar seketika.

"Ayo naik ke sini!" Horo-Horo mengulurkan tangannya ke bawah, dengan senyuman lembut yang ia tujukan pada Ren.

Dan tanpa diragukan lagi, sang bocah tongari ternganga dengan wajah merah padam. Oh God, apakah manusia itu bisa tiba-tiba berubah jadi keren begini?

"B, baka!" Segera Ren menghilangkan pemikiran nistanya dan memalingkan wajah, berusaha menghindari kontak mata dengan pemuda ainu yang sedang tersenyum di atas pohon sana.

"Ayolah, Ren. Berpegangan pada tanganku, aku akan membantumu memanjat supaya tidak jatuh."

Ekspresi Ren melunak ketika Horo-Horo tersenyum lebar padanya. Tangan itu masih terulur ke bawah, menunggu untuk disambut oleh Ren. Tanpa sadar Ren mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Horo-Horo yang terlihat hangat itu. Dan ketika ujung jarinya menyentuh telapak tangan Horo-Horo, kita dapat menduga apa yang akan terjadi selanjutnya.

"WHAT THE HELL? !" Secara refleks, Ren mendepak kasar tangan Horo-Horo dengan sadisnya. Nyaris saja bocah tongari itu kehilangan kesadaran diri. Rupanya senyuman Horo-Horo dapat membuat kekacauan sistem otak, bahkan otak Ren.

"Auw! Apa-apaan sih?" protes Horo sambil memgangi tangannya yang memerah karena kena tampar oleh Ren. Sayangnya bentuk ucapan itu tak akan membantu Ren untuk tenang.

"Aku bisa naik sendiri! Tak butuh bantuanmu!" geram Ren sembari mulai memanjat sang pohon dengan garangnya. Horo-Horo mengangkat sebelah alisnya. Ada apa dengan Ren sehingga ia marah-marah tanpa alasan begitu? Oh, Horo-kun... Ketahuilah bahwa sebenarnya Ren salah tingkah karena senyuman mataharimu yang menyilaukan itu.

"Hati-hati," memutuskan untuk tidak bertanya yang aneh-aneh pada Ren, akhirnya Horo-Horo hanya memperingatinya dengan datar.

"Berisik! Kau pikir aku ini siapa— Huwaaa!" Tuh kan, baru saja diingatkan untuk hati-hati. Salah satu dahan yang dipanjat Ren terputus hingga ia terjatuh dengan gaya slow motion yang akan diberi nilai 10 dalam sebuah kontes balet.

'BRUKK!'

Sayangnya Ren sama sekali tak merasakan tanah di bawah tubuhnya. Adanya malah sesuatu yang empuk dan hangat, seperti boneka beruang besar yang baru saja keluar dari panggangan oven. Namun tunggu dulu, rasanya tidak mungkin bila tanah yang harusnya jadi tempat mendarat Ren itu berubah jari beruang dalam sekejap mata. Lagipula kita tidak melihat oven di taman ini.

"Ugh..." Beberapa detik kemudian, datanglah suara rintihan yang membuat Ren menyadari benda apa yang berada di bawah tubuhnya. Mari beri sambutan yang hangat permirsa, inilah Horo-Horo!

"123ABCax+by=0! ?" Dan bisa kita dengar bahwa seorang Tao Ren kini terkejut dengan mengumandangkan beberapa rumus yang diragukan kevalidannya dalam matematika. Entah dengan cara yang bagaimana, Horo-Horo berhasil melindungi Ren dengan menjadi landasan tempat ia mendarat saat Ren terjatuh tadi. Tapi, dipikir-pikir yang seperti itu agak mustahil juga. Bagaimana cara Horo-Horo melakukannya? Ah, sudahlah.

"Ren... Kau tidak apa-apa?" tanya Horo-Horo sembari mengusap kepalanya yang pening. Ren terpaku. Untuk pertama kalinya ia terpaku sampai nyaris beku begini.

"Ren?" Horo-Horo, yang mana rasa peningnya mulai menghilang kini mulai menggerakkan tangannya di depan pandangan Ren. Alisnya berkerut ketika ia mendapati bahwa bocah tongari itu diam ternganga tanpa melihat pada dunia. Namun sedetik kemudia, secara mendadak ia meloncat dari atas tubuh Horo-Horo, langsung berpijak ke tanah dengan ekspresi terkejutnya.

"B-baka! Bagaimana bisa kau ikut jatuh!" Yang ditanyai hanya tertawa lebar.

"Yah, paling tidak kau tidak terluka." ucap Horo-Horo sembari beranjak untuk berdiri. Kemudian ia menepuk pelan kepala Ren, masih dengan senyuman lebarnya.

"Horo-Horo..." Mata Ren menerawang jauh ke dalam obsidian milik lawan bicaranya.

"Ya?"

Ren tersenyum kaku, sembari menunjuk bagian bawah pohon yang tadi ia panjat. Tentunya Horo-Horo segera menoleh ke belakang untuk mendapati suatu hal yang menarik perhatian Ren.

Sebuah sarang lebah yang dengan tragisnya tergeletak jatuh tepat di bawah pohon. Nyaris tak berbentuk dan madunya tumpah di sana-sini. Horo-Horo menelan ludah ketika beberapa ekor lebah mulai keluar dari sarang naas itu. Oh, tamatlah sudah. Marilah kita mulai countdown kematian Horo-Horo dan Ren.

Tiga, dua, satu...

"LARIII!" teriak Horo-Horo sambil menarik tangan Ren, kemudian berputar-putar di halaman demi menghindari sengatan kawanan lebah yang sedang marah. Anehnya, teman-teman yang lain tiada yang menaruh perhatian pada dua insan yang berlarian dengan gajenya itu. Beberapa orang seperti Yoh dan Anna malah terlihat menikmati adegan kejar-kejaran ini.

"Sial, masa' tidak ada yang mau menolong kita sih!" rutuk Ren, masih berlari dengan kencangnya di samping Horo-Horo.

"Huwaaaa! Kenapa sarang lebahnya bisa jatuh dari pohon sih?" Horo-Horo membalas rutukan Ren dengan keluhan yang tak kalah sengsaranya dari sang bocah tongari.

"Pasti ikut tersenggol saat kita berdua jatuh, baka!" Ren mencubiti pipi Horo dengan segala emosinya, tentu saja masih dalam keadaan berlari.

"Enak saja! Yang jatuh kan kamu sendiri!" protes Horo-Horo.

"Memangnya yang menyuruhku memanjat pohon itu siapa, ha— uwaaa!" Saking asyiknya berlari dan menggerutu, Ren sampai tersandung dan jatuh dengan indahnya di atas tanah. Horo langsung berhenti dan menoleh ke arah belakang, bermaksud untuk menolong Ren. Namun wajahnya langsung berubah horror saat kawanan lebah sudah sangat dekat dengan Ren, bersiap untuk menusuk kulit mulus(?) Ren.

"Tidak... Ren! Kororo, bekukan lebah-lebah itu!" teriak Horo-Horo. Sang roh koropokkuru mungil segera mengeluarkan es sesuai dengan perinah tuannya. Lebah-lebah itu membeku, jatuh ke tanah kemudian hancur seiring dengan pecahnya es biru miilk Horo-Horo.

"Sepertinya aku selamat," gumam Ren sembari menghela napas panjang. Kemudian bocah tongari tersebut menoleh ke arah Horo-Horo, mendapati sang ainu yang pundung di pinggir halaman.

"Aku membunuh makhluk hidup tak berdosa... melanggar hukum alam... aku menghancurkannya... hiks..." Entah Ren harus kasihan atau malah menertawai pemuda es yang satu ini. Pasalnya, ia tak menyangka bahwa Horo-Horo akan sesedih itu hanya karena ia telah membunuh beberapa ekor lebah.

"Baka, kematian lebah-lebah itu takkan merubah daur alam." komentar Ren dengan dinginnya. Sebenarnya merasa bersalah juga sih pada Horo-Horo. Namun ia sedang tidak dalam mood untuk menghibur orang apalagi minta maaf. Sudah dibilang bahwa Ren sangat benci musim panas.

Entah kesialan apa lagi yang akan menimpanya nanti.

To be Continued

A/N: Terimakasih banyak pada seluruh reviewers yang bersedia membaca dan memberi sumbangan review! XD Tadinya mau saia balas lewat PM, tapi karena saia nggak ada waktu balasnya kapan-kapan saja yaa? (plak!) Yang jelas saia sangat menghargai review yang kalian berikan! X'D (terharu)

Dan saia juga memberi tahu bahwa bulan ini saia hiatus! DX Saia ada beberapa urusan dan kompetisi di dunia nyata sehingga nggak ada waktu untuk ngetik fiiiic! DX (ini aja bisa update karena HsoS udah selesai secara official)

Begitulah, saia mohon maaf... (bows)

Last diemnsion will come

The Fallen Kuriboh