A/N: Maaf banget, saia lama sekali updatenya. Hal ini dkarenakan banyak masalah duniawi, sehingga saia enggan untuk menulis. Ngedit fic yang udah lama jadi ini saja saia sulit. Uh, doakan semoga saia dapat menulis dan menggambar dengan tenang seperti dulu... T^T

Here we go~

Disclaimer: Shaman King © Hiroyuki Takei

Warning: Shonen-ai, bad language, gajeness, OOC, AT.

Happy reading, minna! XD

Hateful Song of Summer

Chapter 5

Unforgiveable Volley Ball

Matahari nyaris berada dalam puncak tertingginya. Akhirnya semua kerja romusha di halaman Funbari Onsen selesai berkat teriakan Anna yang mengakhiri neraka jahanam tersebut. Siang ini semuanya jadi terasa panas sekali. Namun bukan berhenti para Shaman kita yang lincah-lincah ini akan berdiam diri.

Horo-Horo mengusulkan untuk bermain voli kebun (Ya, 'voli kebun' karena mainnya di kebun, bukan di pantai). Di lengan kanannya telah tersemat sebuah bola voli. Yoh dan Chocolove langsung bersemangat dan mengajukan diri dalam permainan. Tak ketinggalan pula Ryu dan Lyserg yang meminta bergabung. Tamao mengajak Anna untuk bergabung, yang ajaibnya Anna tidak menolaknya. Manta juga tumben-tumbennya setuju dan mengikuti permainan voli ini. Kali ini Faust sama sekali tak kelihatan. Oh, mungkin ia sedang menikmati waktunya berduaan dengan mayat sang istri, Eliza.

Semua orang antusias untuk mengikuti permainan ini. Terkecuali seorang bocah tongari bernama Ren. Ia sudah cukup lelah karena berbagai kesialan musim panas yang menimpanya hari ini. Cukup sudah, silahkan kalian bermain dan Ren akan duduk di teras sambil menikmati susu dinginnya.

"Ren, tidak ikut bergabung?" Horo-Horo menghampiri Ren yang sedang duduk di teras rumah, mencomot sepotong semangka yang ada di piring dan mengigitnya sambil tersenyum, "Maniis! Hei, lain kali kau juga harus makan buah seperti semangka ini. Kalau hanya minum susu tak akan membantu pertumbuhan tubuhmu."

"Apa katamu?" geram Ren sembari meraih guan dao-nya. Horo-Horo tertawa kaku atas reaksi teman mungilnya yang kantong kesabarannya juga sangat mungil itu.

"Sepertinya kau tidak ingin bergabung. Dadaah!" Horo-Horo melambaikan tangan sembari berlari ke tengah lapangan. Ren terdiam, memutuskan untuk tidak mengumbar emosi dan duduk diam sembari mengamati delapan orang yang tengah menunduk untuk ber-huddle itu. Tunggu dulu, memangnya ini American football? Ah biarlah, yang penting Ren tidak ikut gila seperti mereka.

"Ayo kita bagi timnya! Karena ada delapan orang, jadi akan dibagi dalam dua tim yang masing-masing beranggotakan empat orang!" ucap Horo-Horo dengan penuh semangat.

"Kita tentukan dengan hom-pim-pah saja!" usul Manta dengan senyuman imutnya. Ah, itu bukan murni pendapat Ren, hanya saja Manta memang tergolong imut.

"Hom-pim-paah!" teriak delapan orang itu secara bersamaan. Empat orang dengan punggung tangan dan empat orang lain dengan telapak tangan. Sepertinya mereka telah terbagi dalam dua kelopok yang seimbang.

"Biar kulihat... Chocolove, Anna, dan Manta. Yay! Ayo kita berjuang bersama!" teriak Horo-Horo dengan penuh semangat. Chocolove juga tak kalah hebohnya, Manta hanya tersenyum, sementara Anna mendengus.

"Aku yang jadi ketua tim," ucap(perintah) Anna dengan datarnya. Yang lain mengangguk pasrah. Oh ayolah, tak ada yang bisa atau pun berani melawan sang nona 'Shaman queen wannabe' itu.

Sementara di sisi lain, berkumpullah tim yang menjadi lawan Horo-Horo.

"Yosh! Tamao, Lyserg, Ryu, ayo kita berjuang!" ucap Yoh dengan santai, namun tetap terlihat aura semangatnya. Dengan senyuman carefree yang membuat Tamao blushing dan salah tingkah, seperti biasa. Sementara Ryu malah terus-terusan melirik Lyserg sambil tersenyum mesum. Entah apa yang dipikirkan orang itu.

Dan pertandingan dimulai...

Ren menatap bosan pada pertandingan voli di siang bolong itu. Jelas terlihat ini adalah pertarungan sepihak, di mana Anna adalah pengendali permainannya. Tak ada yang bisa melawan gadis pirang sadis itu. Tim Yoh tak bisa melawan, akibatnya poin mereka masih berdiam di angka 0, sementara baru saja Horo-Horo mencetak angka ke-20.

Merasa benar-benar bosan, akhirnya Ren beranjak dari tempat ia duduk. Ia berjalan lurus menuju halaman. Tidak, bukan untuk bergabung dalam permainan voli kebun yang sadis itu. Ia hanya ingin berjalan-jalan sambil mengamati beberapa tumbuhan yang baru ditanam secara berjamaah tersebut.

Tanpa ia sadari, bibir yang biasanya tertarik ke bawah itu kini tersenyum kecil. Ternyata bunga-bunga dan tumbuhan musim panas itu cantik sekali. Ada lily, bunga matahari, daisy, dan masih banyak yang lain. Terlebih lagi yang menanam semua ini adalah dirinya sendiri beserta teman-temannya.

Ya, di sinilah seorang Tao Ren mungil kita. Di mana ia baru saja belajar bahwa alam itu merupakan suatu hal yang indah.

Mungkin saja musim panas itu tidak benar-benar buruk...

"?" Ren berhenti berjalan ketika ia mendapati sebuah bunga besar yang aneh di samping kanannya. Bunga tanpa tangkai yang berwarna merah kecoklatan. Ren menaikkan sebelah alisnya, bunga macam apa pula ini? Besarnya bahkan jauh melebihi kepala Ren.

Bocah tongari itu terlihat kebingungan untuk beberapa saat. Ia menoleh ke kiri, mendapati anggota tim Yoh yang berdiri memunggunginya. Mereka semua terlalu sibuk menghindari pukulan bola dari Anna, tak mungkin bila saat ini Ren bertanya pada mereka tentang bunga tak jelas ini.

Kemudian bocah itu berbalik lagi ke arah kanan. Tanpa sengaja ia meemukan sebuah papan keterangan kecil yang tertancap di tanah, tepat di pinggir kanan sang bunga raksasa. Penasaran, maka sang bocah berambut raven-keunguan itu berjongkok dan membaca tulisan di papan itu.

"Rafflessia arnoldi, sejenis bunga bangkai yang terdapat di pulau Kalimantan, Indonesia. Ditemukan oleh seorang bernama Raffless. Memiliki bau busuk yang sangat menyengat. Jangan melakukan kontak fisik dengan tanaman ini karena baunya akan menempel pada—"

'BUAGH!'

Belum selesai Ren membaca tulisan d papan tersebut, sebuah bola voli menghantam belakang kepalanya sampai ia terjerembab... tepat di atas sang bunga bangkai. Oh, tak terbayang bagaimana rasanya ketika cairan nektar yang memiliki wangi 'sangat harum' itu melumuri tubuhnya.

"Gawat, bolaku kena telak di kepala Ren!" Rupanya Horo-Horo lah yang menjadi pelaku tindak kebusukan(?) ini.

"Ah, dia mendarat tepat di atas bunga bangkai. Bagaimana ini, Anna?" Yoh menatap Anna sambil memasang ekspresi khawatir.

"Hee? Bunga bangkai?"

"Kurasa saat ini ia benar-benar menjadi bangkai,' komentar Anna dengan datarnya.

"Teman-teman, sepertinya Ren sangat marah..." ucap Manta dengan suara yang bergetar.

Kontan, semuanya menatap ke arah Ren yang berjalan menghampiri mereka. Kepala tertundukk dalam, membuat ekspresinya sama sekali tak bisa dibaca. Tangannya mengepal erat, seolah memang disiapkan untuk memukul orang yang melayangkan bola voli naas itu padanya. Rambutnya berantakan dan basah akibat terkena nektar dari sang bunga bangkai. Bau busuk mulai tercium dari tubuhnya. Membuat yang lain –terutama Horo- memandang horror ke arah Ren yang sudah seperti zombie itu.

"Horo-Horo, kurasa kau harus minta maaf pada Ren," bisik Lyserg pada Horo-Horo. Sang pemuda ainu berusaha tersenyum dengan wajah pucatnya.

"Bicara itu gampang, Lyserg. Kau pikir ia tak akan membunuhku?" Horo-Horo masih memandang ngeri pada sosok 'Zombie Ren' yang semakin dekat dengan mereka.

"Aku yakin ia akan memaafkanmu, jadi ayo maju saja!" Ryu langsung mendorong Horo-Horo, membuatnya ada di barisan terdepan. Sang pemuda rambut biru itu menelan ludah tatkala kini ia berdiri tepat di hadapan Ren.

Sang bocah tongari menghentikan langkahnya ketika ia berada dalam jarak yang cukup dekat dengan sang pemuda pengguna elemen es. Wajahnya tetap tertunduk dalam. Hening. Satu menit berlalu sampai Horo-Horo merasakan tekanan baru dari belakangnya, aura milik Anna yang mulai kehilangan kesabaran atas kebisuan ambigu itu.

Dan karena kengerian yang ia hadapi dari arah depan dan belakang itu, Horo-Horo terpaksa membuka mulutnya demi keselamatan dirinya.

"Uh, Ren... Maafkan aku. Tadi aku tidak sengaja dan..."

Nyatanya sang bocah raven enggan untuk berbicara. Kepalanya masih tertunduk, menyembunyikan mata kucing yang biasanya berkilat tajam dalam situasi seperti ini.

"Ren? Ada apa denganmu?" Nada suara Horo-Horo mulai terdengar khawatir. Ia menggunakan sebelah tangannya untuk menangkup wajah Ren dan mengangkatnya perlahan. Mata obsidiannya terbelalak terkejut ketika ia mendapati adanya tetesan cairan bening yang menetes perlahan dari kedua mata kuning sang bocah tongari.

Tao Ren, seorang bocah yang terkenal akan kesadisan dan keangkuhannya, kini menangis di depan semua kawan-kawannya.

"Whoaa! Jangan nangis Ren! Aduh, seperti bukan kau saja." Sang ainu mulai panik. Dengan gerakan kacau ia menoleh ke arah teman-temannya yang lain, berharap untuk secercah cahaya pertolongan. Namun apa daya, seluruh teman-temannya masih sibuk ternganga karena terkejut melihat tangisan sang bocah bermata kucing. Hanya Anna saja yang ekspresinya terlihat datar-datar saja. Namun tidak mungkin bila Horo-Horo meminta tolong pada Anna. Nona angkuh yang satu itu takkan pernah mau menolong siapa pun tanpa pamrih.

Dan kepanikan sepihak itu masih terlus berlanjut...

...Sampai akhirnya sebuah tonjokan mentah melayang ke pipi Horo-Horo. Membuat sang pemuda ainu tersebut nyaris terpental. Begitu sadar, ternyata orang yang baru melayangkan pukulan mentah ke pipinya adalah tak lain tak bukan seorang shaman mungil dengan rambut yang ber-tongari di puncaknya. Tao Ren.

"Apa yang—"

"Ini semua karena kau!" Dan bocah yang tadinya sempat menangis itu kini malah marah-marah dan berteriak kencang sambil menyemburkan hujan lokal yang cukup deras di wajah Horo-Horo.

"Pagi-pagi kau menggangguku dari tidur! Lalu seenak jidat menyiram wajahku dengan air! Lalu berkat kecerobohanmu aku terpaksa mengumpankan tanganku untuk dimakan sebuah venus trap! Kemudian kau memaksaku memanjat pohon dan berakhir dengan kejaran lebah dengan sengatnya! Lalu sekarang? Sekarang kau membuatku tampak berantakan! Kau dan bola voli sialmu itu membuatku terjerembab dan membuatku terpaksa merelakan ciuman pertamaku dengan sebuah bunga bangkai! Ini semua salahmu, kau tahu!" rutuk Ren dengan puluhan kata-kata yang ia rangkai dengan panjangnya. Masih dengan semburan hujan lokal dan kemarahan yang makin menjadi.

"Tapi Ren, aku—"

"Kau ingin menunjukkan padaku betapa indahnya musim panas? Oh tuan Usui Horokeu, kau telah berhasil. Kau sukses! Berkat segala usahamu itu kini aku benar-benar yakin atas KEBENCIANKU akan musim panas sial ini!" Ren berucap sarkastik, masih dengan nada suara meninggi dan ekspresi yang sangat masam.

"Ugh, maafkan aku..." Horo-Horo tertunduk, dengan wajah sedih khas anak kecil. Kedua obsidiannya terganang akan air mata. Bibirnya ia majukan membentuk sebuah kerucut kecil. Dan inilah dia wajah terimut abad ini! (plak!)

Kontan Ren jadi merasa bersalah juga karena sudah marah-marah pada sobat esnya itu. Horo-Horo banyak salahnya sih, namun Ren merasa bahwa ia sendiri sering menyikapi pemuda ceria itu dengan sadis dan sinis.

"Tapi... Ijinkan aku menebus semua kesalahanku!" Dalam sekejap ekspresi sedih itu kembali menjadi sebuah senyuman lebar. Ren sampai heran dibuatnya. Bagaimana bisa orang ini berganti ekspresi dalam waktu kurang dari satu detik?

Namun belum sempat Ren berpikir lebih jauh mengenai hal itu, tangannya langsung tertarik oleh sebuah tangan lain, milik Horo-Horo.

"Eh? Woi, mau dibawa ke mana aku!" Tak ada seorang pun yang mengindahkan protesan Ren. Horo-Horo membawanya berlari ke luar Funbari onsen dengan penuh semangat. Sementara yang lain bercengo ria, Yoh malah tersenyum sambil melambaikan tangan pada dua insan yang kini sedang beranjak meninggalkan halaman rumahnya.

"Semoga perjalanan kalian menyenangkan," ucap Yoh dengan senyuman santainya, seperti biasa.

"Eh? Memangnya mereka mau ke mana?" tanya Chocolove, masih memandang ke arah pintu gerbang yang kini sunyi tersebut.

"Entahlah, tapi aku tahu kalau Horo-Horo akan membawanya ke tempat yang bagus. Shishishi!" Yoh tertawa riang, lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan beberapa manusia yang masih tidak bisa mencerna situasi saat ini.

Oke. Bola voli melayang. Ren jatuh menimpa bunga bangkai dan ia menangis. Lalu Horo-Horo membawa Ren pergi entah ke mana. Baiklah, dipikir-pikir sebenarnya ini bukan hal yang sebegitu pentingnya untuk dipikirkan.

Jadi mari kita biarkan kelanjutan cerita ini menjawab segalanya...

To be Continued

A/N: And that's it. Ugh, saia kehilangan feel buat nulis, seperti yang saia katakan di awal tadi. Tapi saia akan berusaha menyelesaikan semua fic saia, dan terus berkarya tentunya! X3

By the way, sepertinya HsoS ini akan tamat di chapter depan, so tunggu saja klimaksnya~ XDD

Last dimension will come

The Fallen Kuriboh