Disclaimer : sekali lagi dan pastinya,, saia tak punya hak dalam kepemilikan DC **walaupun mau banget **,, semuanya milik Aoyama sensei terhormat.
Ran's POV
Air mataku menetes mengingat hal itu. Aku segera menghapusnya dengan ujung jariku. Tak boleh, bukankah aku tak boleh menangis lagi ? terlalu banyak air mataku yang jatuh selama menantinya. Dan sekarang tak boleh ada air mata lagi untuknya.
Tidak setelah aku mengetahui kebenarannya. Tidak lagi setelah aku tahu, bahwa air mataku sia-sia. Bahwa orang yang selama ini kukhawatirkan, bahwa orang yang selama ini kutunggu, ternyata berada dekat denganku, ada disampingku. Tidak lagi setelah dia membohongiku tentang identitasnya,
" Ran, ada yang ingin kukatakan, " aku mengalihkan pandanganku dari anak-anak kecil di taman yang asyik bermain, dan fokus menatapnya.
" Sebenarnya, aku selama ini selalu di dekatmu. Tak pernah pergi memecahkan kasus atau apapun alasan yang kukatakan padamu saat kau menyuruhku pulang. " aku terdiam, memusatkan perhatian penuh padanya, tak ingin ada kata yang terlewat.
" Sebenarnya, aku adalah Conan Edogawa. Aku . . . "
Dan mengalirlah penjelasanmu tentang semuanya. Para anggota Black Organization, tubuhmu yang mengecil karena ramuan obat, saat kau menyamar jadi Conan, semuanya tanpa kecuali. Saat itu aku hanya bisa diam, tak tahu harus bilang apa.
Saat aku harusnya bersuara, mulutku hanya mengucapkan satu kata,
" Mengapa ? "
Mengapa kau membohongiku ?
Mengapa kau tak mengatakan yang sebenarnya padaku saat aku berlari ke rumahmu dan mencarimu ?
Mengapa kau diam saja saat melihatku cemas memikirkanmu ?
Mengapa kau juga tetap tak mau bicara, saat kau melihatku menangis karena merindukanmu ? Mengapa, Shinichi ?
Aku mengusap air mataku lagi. Mengapa ? mengapa air mata ini masih tetap mengalir untuknya. Padahal seharusnya tak boleh lagi.
Tidak lagi, bahkan setelah aku berusaha berlapang dada menerima penjelasannya, tapi dia malah lebih mementingkan gadis itu. Gadis kecil yang dulu selalu kulihat di rumah professor. Gadis cantik yang pendiam itu.
Saat aku menunggu di taman, dia malah menelponku dan mengatakan kalau dia tak bisa pergi. Dia tak bisa meninggalkan gadis itu sendirian, dia tak bisa membiarkan gadis itu dalam bahaya. Ada apa Shinichi, sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan gadis berambut merah itu ?. kenapa kau sampai mengorbankan nyawamu untuk menjaganya ?
Kenapa kau rela membiarkan dirimu dalam bahaya untuk menolongnya ?
Padahal kau sendiri yang bilang, karena ramuan ciptaan gadis itulah tubuhmu mengecil.
Karena dialah kau meninggalkanku sendiri.
Karena dialah aku menangis mencemaskanmu.
Lalu sekarang, kenapa kau lebih mementingkan menjaga gadis itu daripada memberikan penjelasan padaku ?
Kau tahu Shinichi, hatiku sakit saat kutahu kau membohongiku.
Tapi lebih sakit lagi, saat kau seolah-olah mengabaikanku demi gadis itu.
Tidak lagi Shinichi, tidak lagi.
" Ran, aku mohon, kali ini kau harus mengerti posisiku, aku tak bisa membiarkannya begitu saja. Aku . . . " kudengar kau terdiam, kehabisan kata-kata. Sementara aku, sama sekali tak mau melihatmu. Saat ini aku tak mau,
" Shinichi, kau juga harus mengerti posisi Ran. Bagaimana perasaannya menghadapimu yang plin-plan seperti ini. Bagaimana bisa seorang detektif kebanggaan Jepang tak bisa mengambil sikap " Sonoko yang sekarang menengahi kami. Sepertinya dia juga tak tahan dengan sikap Shinichi itu,
" Sonoko, bukan seperti itu, aku hanya"
" Hanya apa ! Hanya tak mau melepaskan keduanya ? Huhh. . . cukup Shinichi ! Selama ini aku tak pernah melarang Ran untuk menangis karena menunggumu kembali. Tapi sekarang, aku akan jelas-jelas melarangnya menangis karena sikapmu yang sok ini. " kudengar Sonoko bicara dengan suara yang meninggi.
" Sekarang kau harus memilih Shinichi. Memilih satu, bukan dua-duanya. Pilih Ran atau gadis itu. Selama ini aku tak pernah meminta apa-apa darimu, tapi kali ini, aku mohon dengan sangat, jangan biarkan sahabatku menunggu lagi. Berikan dia kepastian. Hanya itu"
Setelah itu, Sonoko langsung menarik tanganku pergi. Aku tak bisa membantah, walaupun ingin. Kulirik kau sekilas, kau terdiam saat itu. Terlihat shock dengan ucapan Sonoko tadi.
Aku tahu, Sonoko keterlaluan dengan ucapannya, tapi kurasa dia ada benarnya juga. Setidaknya kalau semuanya pasti, aku tak perlu menunggu lagi. Kalau pun kau lebih memilih gadis itu, walaupun sakit, pelan-pelan aku juga pasti bisa menerimanya.
Aku bisa menerima kalau diriku kini sendiri. Kalau cintaku yang selama ini kutunggu telah pergi. Jadi, aku bisa belajar untuk melupakanmu. . .
Love is going, love is leaving
One person and one love, everything that I was used to
I should erase you, after tonight
Yes, I should force my self to erase you
I should do this cause you abandoned me
My love is gone. . .
(CN Blue)
Daaaaaan,
Chapter 2 akhirnya bisa di publish juga,
Gomawoo buat yg udah bersedia review,,
balas reviewnya disini saja yaaa,,
VioviChan : hhehhe,,
arigatou . . . ** meluk Viovi **
Mitama 134666 : yupp,,
pastinya donk..
makasihh yaa udah mau baca + review
edogawa firli :: hheheh,, iyaiyaiya,
Orang kamu di fb kan saia tag juga di ff ini, :p
Nishikawa azura : masih ada chapter2 selanjutnya,,
yuupp.. akan di update secepatnya,,
maksihhh :D
pijar. religia :: oooooo,,,
makasih udah ikut memperhatikan hal itu,,
dikasih spasi, habisnya mata saia puyeng sendiri pas mau baca lagi,
hurufnya dempet dempet gitu,,
hhehhe,,
tapi makasih udah mau review,
yuppppii ^^
