Hateful Song of Summer
Chapter 6
Unforgiveable Horo-Horo
Ren sama sekali tak memahami pola pikir makhluk ainu gila tawa yang sedang menyeretnya ini. Namun nyatanya ia tak menolak untuk diseret-seret Horo menuju suatu tempat yang tak pasti– bukannya tak pasti, hanya saja Ren belum tahu ke mana mereka pergi.
Langkah-langkah itu terus melaju, menimbulkan sebuah bunyi dinamis di antara kebisuan suara. Tangan hangat itu masih menggenggamnya, membawanya berlari ke dalam sebuah hutan kecil. Tempo berlari Horo-Horo mulai melambat, berlari kecil hingga akhirnya tempo langkahnya makin pelan. Kini ia berjalan. Ren hanya diam, tak berniat untuk buka mulut apalagi memberi protesan pada Horo-Horo. Pemandangan yang ada di sekitar terlalu indah untuk dirusak dengan amarahnya.
Pepohonan berayun lembut, dahannya melambai seolah ingin menyapa dua insan yang datang ke hutan sakral ini. Angin bertiup dan menggelitik wajah Ren, memaksanya untuk tersenyum senang. Bunga-bunga yang bermekaran mengadah ke atas, seolah ingin unjuk keindahan pada mereka. Beberapa ekor kupu-kupu hinggap di puncak tongari Ren, memberi pelukan hangat yang sarat akan sambutan atas kedatangannya.
Tidakkah kau melihatnya, sesungguhnya alam ini menyambutmu.
Selagi Ren sibuk bertukar sapa dengan para penghuni hutan, langkah dinamis Horo-Horo berhenti dengan irama tiba-tiba. Membuat Ren nyaris menubruk punggung Horo. Bocah tongari itu memiringkian kepalanya untuk melihat hal apa yang ada di depan Horo-Horo sehingga sang ainu berhenti berjalan. Mata Ren berbinar ketika ia melihat pemandangan yang terbentang di hadapannya. Horo-Horo menoleh ke arah Ren, tak lupa mengeluarkan cengiran khasnya.
"Kita sudah sampai!"
"Waaah..." Tak henti-hentinya Ren berdecak kagum atas apa yang ia lihat melalu mata kuningnya. Tidak, bukan suara seperti 'kyaaa' atau 'kireeei'. Shaman mungil kita yang satu ini tidaklah se-girly itu.
Sebuah danau kecil yang indah, dengan air yang berkilau bagai permata karena tertimpa cahaya matahari. Di tengahnya terdapat dataran kecil yang didiami sebuh pohon rindang di atasnya, seolah menjadi pusat dari danau tersebut. Indah, tak ada satu kata lain yang dapat mewakili pemandangan menakjubkan ini.
"Aku tak pernah tahu kalau di daerah Funbari ada tempat seperti ini." Ren menatap Horo-Horo dengan antusias. Segala rasa penatnya seolah terbang entah ke mana. Sang pemuda ainu tersenyum lembut pada kawan mungilnya, merasa senang ketika sang bocah tongari tak lagi berwajah masam.
"Ini tempat rahasiaku. Aku yang menemukannya, hehe." Horo-Horo tertawa kecil, tangannya yang bebas ia gunakan untuk menepuk kepala Ren mungil, "Kau juga boleh pergi ke tempat ini kapanpun kau mau."
Sang bocah yang biasanya terlihat ketus itu kini terdiam. Matanya memandang lembut ke arah kristal es yang berpendar, tepat di sampingnya.
"Horo-Horo..." Sang pemuda ainu mengerjapkan matanya. Tak percaya bahwa si mungil Ren baru saja memanggilnya, dengan namanya. Tak ada panggilan 'Baka-ainu' atau pun 'bodoh', 'idiot', dan sebagainya.
"Hnn?" Dengan penuh perhatian, sang pemuda es menjawab panggilan si bocah maniak susu yang satu itu. Ren memutar bola matanya. Oh ayolah, kini sikap Horo-Horo tak jauh berbeda dengan kakak perempuan Ren yang anggun(?) dan penuh perhatian.
"Terima kasih..." Untuk kesekian kalinya Horo-Horo dibuat tercengang atas ucapan si kucing ungu di sampingnya tersebut. Seorang Tao Ren yang seperti 'itu' bisa mengucap terima kasih? Bahkan pada seorang HoroHoro yang notabenenya merupakan makhluk yang dianggap Ren sebagai 'The most annoying people in Shaman King series'?
Dan tawa itu meledaklah sudah.
Horo-Horo terpingkal-pingkal, kian lama kian menjadi. Hingga hingga ia merebahkan tubuhnya dan berguling di atas rerumputan, seolah itu adalah permadani. Masih tertawa keras—yang menurut Ren— tanpa alasan.
"Hei!" tegur Ren dengan kening yang berkedut kesal. Bocah tongari itu memang tak tahu alasan mengapa Horo tertawa sampai seperti itu, namun ia jelas merasa terganggu oleh ledakan tawa dari sang ainu.
"Hahaha— maaf, maaf." Mendengar teguran Ren, Horo-Horo langsung berusaha menghentikan tawanya. Senyuman kecil masih tak dapat lekang dari bibir tipis itu. Ren mendengus kesal. Yah, paling tidak Horo-Horo sudah tidak bergelindingan gaje di atas rumput seperti tadi.
"Kenapa tertawa?" tanya Ren dengan nada ketus. Ia masih belum sepenuhnya melupakan kemarahannya pada si pemuda es rupanya. Begini-begini juga sang mata kuning itu tipe yang agak susah memaafkan. Ditambah lagi kalau kesalahan yang dilakukan beruntun seperti kasus tuan Usui Horokeu ini. Masih untung dia tidak terkena tebas oleh guan dao kebanggaan Ren.
"Maaf, hanya saja terkadang kau bisa jadi sangat mengejutkan."
Sang pemuda bermata obsidian itu menatap lurus ke arah lawan bicaranya. Tersenyum lembut, terlembut dari yang pernah Ren ketahui. Tanpa Ren sadari, tangannya kini terasa hangat. Hangat oleh adanya sebuah tangan lain yang mengenggam renggang miliknya. Sang shaman mungil tersebut sedikit tersentak, dengan pipi yang luar biasa merona. Tubuhnya terpaku, tak mau untuk digerakkan meski otaknya memberi perintah –bahkan memaksa. Napasnya makin tercekat ketika sang shaman es mulai meminimalisir jarak darinya, memaksa Ren untuk mundur teratur dan menyandarkan punggungnya pada sebuah pohon besar. Horo-Horo berhenti ketika tubuhnya dan Ren nyaris berhimpitan. Sepasang obsidian dan kuning emas bertaut. Dan kemudian jantung Ren berdegup kencang seolah meminta untuk keluar dari tubuhnya.
'Sial... dia tinggi...' Untuk pertama kalinya, Ren benar-benar merasa tak berdaya. Dan untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa tubuh HoroHoro sedikit jauh lebih tinggi darinya. Dan untuk pertama kalinya juga ia benar-benar mengutuk nasib hidupnya yang dianugerahi tubuh pendekcoret kurang tinggi.
"Ren," Sang shaman asal Cina itu berjengit ketika ia mendengar bisikan Horo-Horo tepat di telinga kirinya. Tanpa ia sadari, sebelah tangan mereka yang tadi bergandengan kini saling bersilangan jarinya. Tanpa ia sadari, dapat tercium aroma blueberry samar-samar dari tubuh Horo-Horo. Tanpa ia sadari, napas sang pemuda es itu ternyata begitu hangat.
Tanpa ia sadari, ternyata Horo-Horo begitu...
"Sebenarnya aku ada beberapa alasan untuk membawamu kesini."
"Eh?"
BYURRR!
Tanpa ia sadari, HoroHoro menceburkannya ke dalam danau.
Sungguh sial, sialan. Benar-benar sialan sekali si Horo-Horo.
"BAKA AINUUU!" Dan teriakan marah ren kembali menggelegar. Tubuh mungil itu segera menggapai pinggiran danau, bersiap untuk kembali ke daratan dan menghajar sang shaman es.
Sementara Horo-Horo malah tersenyum senang, menyambut Ren di pinggir danau sana. Ren bahkan dapat mendengar senandung pelan yang dinyanyikan sang pemuda biru itu. Sialan, sungguh Ren ingin menghajar Horo-Horo di saat itu juga.
Kalau saja pemuda es itu tidak melepas jaketnya dan memakaikannya pada Ren saat itu.
"~~~~?" Wajah Ren memerah seketika ketika ia merasakan nyamannya kain yang kini menyelimuti tubuhnya. Jaket milik Horo-Horo, dengan aroma blueberry yang jadi khas sang pemuda ainu tersebut.
"Bahaya kalau kau sampai masuk angin," celetuk Horo, kembali tersenyum lebar untuk Ren seorang.
"..." Sementara sang bocah ber-tongari di sebelahnya hanya duduk terdiam, masih bertarung dalam mentalnya demi menghapuskan rona wajah yang manis itu.
"Bagaimana? Sudah merasakan dingin di kepalamu?" tanya Horo-Horo. Masih dengan senyum lebarnya yang sama. Sialan, sudah melempar orang ke danau masih saja memasang wajah tanpa dosa seperti itu! Curang, Horo-Horo benar-benar curang...
Kalau begini, Ren tidak akan bisa marah padanya.
"Ugh..." Ren hanya memalingkan wajahnya, menghindari kontak mata dengan Horo-Horo. Sementara sang shaman es hanya memiringkan kepalanya dengan sebuah tanda tanya besar yang tertimpuk di atas kepala.
"Kenapa Ren? Jangan-jangan... kau marah ya?" Ekspresi wajah Horo-Horo berubah horror saat ia mengira bahwa Ren marah (lagi) padanya. Ups, sayangnya tebakan itu salah, Horo. Ren yang sekarang tidak akan bisa maah padamu.
Penasaran, Horo-Horo memutuskan untuk berusaha melihat wajah Ren. Berbagai cara ia lakukan, namun Ren selalu saja memalingkan wajahnya tiap kali Horo-Horo berusaha melihat ekspresi Ren. Kehabisan akal, akhirnya sang pemuda ainu itu mencengkram kedua lengan Ren dan kembali menghimpitnya di antara pohon. Sebuah cengkraman yang sama sekali tidak kasar, tapi cukup kuat dan mengagetkan. Ren tersentak atas kejadian yang tiba-tiba itu, tak siap untuk menanggulangi momentum itu.
"..."
Hingga kedua pasang mata itu kembali bertemu pandang. Larut dalam harmoni pikiran mereka masing-masing. Horo-Horo, begitu terpesonanya dengan ekspresi wajah Ren yang sedang merona saat ini hingga wajahnya sendiri malah ikut memerah.
'Blush!'
Begitu instan, tahu-tahu wajah mereka sudah sama-sama memerah padam.
"Ke-kenapa kau blushing mesum begitu?" sergah Ren dengan gagapnya. Ekspresinya benar-benar kacau saat ini. Antara berusaha mempertahankan ekspresi kusutnya yang benar-benar sudah hancur oleh rona wajah itu.
"Kau sendiri juga, wajahmu benar-benar merah padam." Jawab Horo-Horo, pelan. Pandangan matanya mengalih ke samping, tidak berani menatap langsung pada mata Ren.
"A, aku? Ah, pasti aku demam! Ini salahmu, habisnya kau mendorongku ke dalam danau tadi! Jadinya aku flu!" sembur Ren. Sebuah alasan untuk pengelakan yang terkonyol yang pernah diontarkan oleh seorang Tao Ren.
"Bohong," ucap Horo-Horo, yang entah kenapa kali ini bisa sebegitu skeptisnya.
"Siapa yang bohong—"
Ucapan bocah bermata kuning itu terhenti. Suhu tubuhnya menghangat secara mendadak. Sepasang tangan berpindah dari lengannya, kini melingkari tubuhnya. Sebuah pelukan hangat menyelimuti tubuh mungil itu. Ah, yang benar saja. Ini terlalu mengejutkan, bahkan untuk Ren sekali pun.
"Dingin," komentar Horo-Horo, masih memeluk Ren dangan mata yang kini terpejam. Menghayati sensasi pelukan tersebut. (woi!)
'Hangat...' batin Ren. Kini wajahnya menjadi lebih merah dari yang tadi. Namun bocah mungil itu tak lagi sibuk untuk menyingkirkan rona itu. Toh Horo-Horo tidak akan bisa melihat wajahnya dalam kondisi seperti ini.
"Sebaiknya kita pulang sebelum kau benar-benar masuk angin," ujar Horo-Horo, tiba-tiba melepas pelukan mereka. Ren yang terlanjur nyaman dengan kondisi tadi hanya menelan rasa kecewa dalam batinnya.
Namun kemudian mereka kembali terpaku atas keindahan sosok yang ada di hadapan masing-masing.
"Ren..." bisik Horo-Horo. Tatapannya melembut, dan senyuman yang biasanya tertata di bibirnya itu menghilang. Ekspresinya berubah menjadi lebih serius dari biasanya.
"A, apa?" tanya Ren, berusaha untuk sedikit mundur karena ia merasa jarak antara mereka makin menyempit. Ah, usaha yang sia-sia. Rupanya sang bocah tongari ini lupa bahwa tepat di belakangnya ada sebuah pohon yang mempersempit ruang geraknya.
"Boleh aku... menciummu?" tanya Horo-Horo.
What? UWHAT! ?
"Eh? Yang benar sa— mmh!" Belum sempat Ren berkilah, bibir itu terlajur terkunci oleh bibir Horo-Horo. Sial, bahkan sang pemuda ainu itu tidak menunggu persetujuan Ren. Lalu apa gunanya tadi ia bertanya?
Ciuman lembut itu berlangsung dalam beberapa menit pertama. Horo-Horo menyalurkan kehangatannya pada tubuh Ren yang dingin karena baru tercebur ke dalam danau. Ciuman itu lembut dan hangat, bahkan sesungguhnya sama sekali tidak memaksa. Ren bisa berontak dan melepaskan diri kapanpun ia mau, Horo-Horo memberinya hak untuk itu. Namun nyatanya Ren tetap bergeming tanpa berusaha melepaskan kontak mengejutkan itu. Sedikit melenceng dari perkiraan Horo-Horo (yang notabenenya sempat memprediksi bahwa Ren akan menamparnya atau memukulnya dan menginjaknya beberapa detik setelah ia menyentuh bibir itu. Ah, meleset jauh.)
Tapi syukurlah, rupanya Ren tidak menolak kontak yang belum pernah mereka lakukan ini. Itu artinya Horo-Horo diijinkan untuk bertindak lebih jauh lagi.
Eh? Bentar, ini fic ratingnya apa dulu! ?
Kini Horo-Horo mulai bermain lidah. Digunakannya lidah lembut itu untuk menjilat pelan bibir bawah Ren, meminta izin untuk mengakses rongga mulut Ren. Naasnya, bocah tongari kita yang masih belum tahu apa-apa ini malah membuka mulutnya, berusaha mengambil napas. Namun sialnya itu adalah kesempatan emas bagi lidah Horo-Horo untuk menerobos masuk ke dalam mulut Ren.
"! ?"
Sang bocah tongari itu terkejut ketika mendapat sebuah benda asing yang masuk ke dalam rongga mulutnya. Benda itu terasa lembut dan hangat. Apa ya?
'Lidah?' tebak Ren. Sepertinya benar.
Merasa bahwa Horo-Horo sudah terlalu gila, Ren mulai menggerakkan lidahnya untuk mendorong lidah Horo-Horo agar keluar dari rongga mulut Ren. Tentu saja sanng seme (?) tidak akan mengalah begitu saja. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Maka, terjadilah perang dominasi (?) di antara dua insan tersebut.
Dan bisa kita tebak hasilnya, Ren kalah. Lidah Horo-Horo dengan ahlinya(?) menekan intens lidah milik Ren, mengakibatkan bocah berambut ungu itu mendesah pelan di antara ciuman mereka. Akhirnya Ren mengalah, membiarkan Horo-Horo untuk menjajah daerah dominasinya.
Dan beberapa desahan dan erangan yang tertahan terdengar di menit-menit terakhir cuiman panas mereka. Ah, mari kita pasang penutup telinga agar iman ini tidak tergoda oleh adegan tidak senonoh yang diperagakan dua bocah ingusan itu.
Horo-Horo, yang menyadari bahwa sebentar lagi Ren bisa mati kehabisan napas, memutuskan untuk mengakhiri ciuman pertama mereka. Benang saliva yang tipis terjalin dalam jarak kedua bibir yang makin menjauh tersebut. Ren bersandar lemas pada pohon, napasnya terengah-engah. Rupanya sebuah ciuman dapat mengakibatkan rasa sesak napas luar biasa macam ini. Mari kita beri warning tambahan bagi penikmat kissu: 'mencium dapat mengakibatkan gejala sesak napas dan gangguan paru-paru lainnya.' (lho?) Sementara Horo-Horo duduk bersimpuh di hadapan Ren, juga masih berusaha mengatur napasnya.
'Blush!' wajah Ren dan Horo-Horo kembali meemrah padam ketika mereka berusaha mencerna kembali kejadian yang baru saja terjadi.
"A... ahaha! Sepertinya kita harus kembali ke onsen sekarang." Horo-Horo tertawa garing sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Kemudian ia berdiri, berjalan kaku tanpa menunggu Ren berdiri terlebih dahulu.
"Tunggu!" sergah Ren. Di depannya, Horo-Horo hanya berkeringat dingin.
"Kenapa kau menciumku?" tanya Ren. Nada bicaranya terdengar sangat mengerikan di telinga Horo-Horo.
"Hahaha! Kita bisa terlambat kalau tidak cepat," ucap Horo. Cara mengelak yang sama sekali tidak cantik.
"Horo-Horo! Jawab aku!" Dengan gerakan cepat, Ren membalikkan tbuh Horo-Horo. Diraihnya wajah sang pemuda ainu itu dan..
Dicubitnya kedua pipi itu kuat-kuat.
"Adaaaaouh!" Horo-Horo berontak, mengadhu kesakitan. Namun cubitan itu malah makin menjadi.
"Bodoh." Dan kemudian, tanpa Horo duga, bocah tongari itu menjinjitkan kakinya untuk memberi kecupan singkat di bibir Horo-Horo.
Entah kenapa rasanya Horo-Horo akan meledak di saat itu juga.
"Kenapa sih kau tidak mengatakan 'aishiteru' atau 'wo ai ni' kepadaku? Seharusnya kau katakan itu dulu sebelum seenak jidat menciumku!' protes Ren, dahinya berkedut kesal.
Horo-Horo tersenyum, kemudian menunduk untuk membisikkan sebuah mantra pada telinga Ren.
"Itu tidak perlu, kau sudah menyadarinya sejak awal."
Dahi Ren kembali berkerut kesal. Namun ada yang sedikit berbeda pada ekspresi ini. Bibir Ren tersenyum.
"Kau memang menyebalkan."
Bagi Ren, tidak ada hal yang lebih menyebalkan dari kesialan musim panas dan Horo-Horo.
FIN
A/N: BENTAAAAAR! INI KOK BANYAK ADEGAN ANUANU NYA? DX KOK BEJAT GINI CH. TERAKHIRNYAAAA!
Ah, sepertinya ini memang balas dendam saia, karena di DEP chapter dua hAo sudah kissu dua kali dengan dua orang yang berbeda, sementara HoroRen belum ngapa-ngapain(?) sama sekali.
Oke, dengan ini HsoS tamat! XDD (ihirr~)
Terima kasih banyak kepada semua orang yang telah mendukung pembuatan fic nista ini. Kapanpun dan di manapun, Horo dan Ren akan selalu ada di benak kita— bertengkar dan saling kejar-mengejar seperti biasa (plak!)
Tak banyak yang bisa saia sampaikan di sini, tapi pastinya fic ini menjadi salah satu fic yang pengerjaannya sangat menyenangkan bagi saia! X3 (yang agak sayang cuma masalah Ren yang terlalu OOC di sini)
Nee, saia msih ingin membuat karya di fandom ini, tapi mungkin bakal lama. (lha)
Jangan lupa baca DEP juga ya? (promosi, diinjek)
RnR please, arigato minna! X3
Last dimension will come
The Fallen Kuriboh
