Zabimaru, The Miracle Power!
By: Armalita Nanda R.
Aloha minna sama ^^
Gomennasai apdet lamaaa banget, kurang lebih 2 tahun (dilempar)
Tolong RnR nya ya minna sama~
Disclaimer: Bleach punya Tite Kubo seorang ^^, pinjem bentar ya~
WARNING: OOC, AU, Geje, Bahasa gaul karena gue anak gaul (dilempar sampah)
Set 3: Lapangan Tua
"Siapa itu?" tanya Hinamori pada dirinya sendiri sambil melihat ke arah jendela.
Rangiku seketika mengintip pria misterius yang sedang bermain bulu tangkis sendirian itu dari jendela. Berbalik pada Hinamori sambil mengerenyitkan kening. Hinamori jadi bingung.
"Kenapa memangnya, Rangiku-san?" tanya Hinamori bingung.
"Nggak. Cowok itu kayaknya berandalan deh. Masa rambutnya gondrong mana merah lagi warnanya," jawab Rangiku sambil berjalan ke arah kulkas. Mengambil jus lalu meminumnya.
"Sudahlah, nggak penting," kata Rangiku lagi.
Namun, Hinamori masih penasaran. Lapangan tua itu benar-benar nggak pernah digunakan oleh orang-orang sekitar sana. Konon katanya, di lapangan itu ada kekuatan mistis, atau biasa kita sebut dengan… Hantu! Hiyy, siapa mau main di tempat yang ada hantunya? Si do'i ingin melihat, tapi jadi takut sendiri. Jangan-jangan, cowok itu hantu lagi…
-XxX-
Renji berjalan pulang penuh semangat. Yah, soalnya Si pujaan hati, Rukia, bersedia menjadi pasangan ganda campurannya dalam lomba yang akan diadakan Gotei 13. Saking semangatnya nih, do'i kebablasan alias nyasar. Ckckck, perhatikan jalanmu, bocah.
"Lho? Ini 'kan jalan dekat rumahnya Hitsugaya-taichou. Ngapain aku disini? Pasti mbablas deh ini tadi," batin Renji, "Ah, tapi sudahlah. Sekalian jalan-jalan. Toh, nggak ada janji khusus hari ini. Hehehehe."
Asik-asiknya jalan-jalan, do'i lewat lapangan bulutangkis tua. Heran juga dia melihat lapangan tua itu. Lapangannya sebenarnya masih bagus, lengkap sama netnya lagi. Hanya saja kotor dan terkesan-tak-berpenghuni.
"Lumayan nih buat latihan. Oke deh, latihan disini dulu, baru pulang," ujar Renji pada dirinya sendiri. Alhasil do'i latihan dulu di lapangan tua itu.
Tiba-tiba dia merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Cowok berperawakan tegap itu menoleh ke arah sebuah jendela pada lantai 3 sebuah penginapan. Ada sekelebat bayangan yang tampaknya tadi melihat ke arahnya. Do'i jadi merinding sendiri.
"Mampus deh. Jangan-jangan hantu penghuni penginapan itu ngelihatin gue lagi latihan. Hyaa, mentang-mentang gue ganteng, tapi nggak perlu diintipin sama hantu kali! Mendingan gue pulang aja deh," batin Renji. Aduh Renji! Narsisnya kumat lagi.
Akhirnya si Renji pulang deh.
Di sisi lain, waktu yang bersamaan
Hinamori yang takut-takut mengintip ke arah cowok berambut merah. Karena si cowok melihat ke arahnya balik, do'i langsung berpaling. Dan ketika do'i ngelihat lagi, si cowok sudah hilang.
"Eh? Hilang?" Hinamori ketakutan sendiri. Padahal, Renjinya barusan pulang.
Sebenarnya, kalau Hinamori melihat lebih jeli, Renji masih ada di dekat situ. Sedang berjalan setengah berlari pulang. Berhubung si Hinamori sudah keburu takut duluan, jadi nggak sadar deh. Poor Hinamori-chan.
-XxX-
Hitsugaya sedang melakukan pemanasan sendiri di lapangan timur Gotei 13. Maklum, masih jam 6 pagi, masih sepi di Gotei 13. Mulai ramainya jam 7-an lah. Berhubung kapten berbadan mungil ini rumahnya dekat Gotei 13 dan rajin sekali, maka do'i setiap harinya sudah melakukan pemanasan pagi-pagi begini.
Terdengar olehnya suara langkah kaki yang makin lama makin dekat. Ternyata itu adalah Rangiku dan Hinamori. Hitsugaya menoleh, tersenyum kecil, lalu mengajak-dengan-nada-memerintah mereka untuk segera ambil posisi dan pemanasan.
"Eh, Rangiku tahu nggak? Cowok kemarin yang main sendirian itu kayaknya hantu deh," kata Hinamori takut-takut
"Hah? Sumpah? Haha, mana mungkin," ujar Rangiku santai.
"Hantu itu nggak ada," sahut Hitsugaya datar. Ih, nggak asyik ah.
"Tapi kalau tiba-tiba menghilang apa namanya kalau bukan hantu?" bantah Hinamori.
"Kamu salah lihat mungkin?" Rangiku memberi kemungkinan.
Hinamori menggeleng. Kakinya agak bergetar. Dia benar-benar mengira apa yang dilihatnya itu hantu. Habisnya, ditinggal berpaling beberapa detik sudah menghilang.
"Sudah, lanjutkan pemanasan," perintah Hitsugaya datar.
Rangiku mengerenyitkan keningnya. Bete juga dia sama sikap kaptennya yang satu ini. Hinamori menghela napas lesu dan melanjutkan pemanasan.
-XxX-
Suasana di Gotei 13 sangat ramai. Para anggota sedang berlatih dengan giat untuk kompetisi ganda campuran yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat. Salah satunya, pasangan Ishida-Inoue dan Ichigo-Senna yang sedang latihan.
Terjadi rally yang panjang yang kayaknya nggak bakal kelar-kelar nih. Senna melakukan smash tajam ke arah Inoue. Namun, Inoue bisa mengembalikan smash itu dengan entengnya. Dibalas oleh Ichigo dengan bola yang mengarah dekat net. Ichigo spesialis bermain bola-bola net. Ternyata, bola tajam Ichigo berhasil jatuh dekat sekali dengan net di daerah pasangan IshiHime.
"20-19. Game point," kata wasit.
Ishida mengusap keringatnya. Berpikir dengan keras strategi untuk menang. Inoue berusaha menenangkan Ishida. Tapi, jadinya malah disorakin sama anak-anak.
"Eciee… ada yang so sweet nih," goda salah satu anggota. Ishida dan Inoue cuma bisa tertenggun karena kaget.
Kembali pada permainan. Ichigo melakukan serve diarahkan pada Inoue. Inoue mengembalikan bola dengan mulus. Senna langsung menyerang. Ishida mengembalikan dengan smash. Oops, keputusan salah. Bola tinggi adalah makanan Senna. Seketika bola itu 'dilahap' Senna dengan smash tajam di sudut kiri lapangan.
"21-19. Match Point, won by Kurosaki-Senna."
Ishida langsung cengo. Ia nggak nyangka bakalan kalah secepat itu. Inoue menunduk lesu. Ichigo dan Senna melakukan tarian kemenangan yang abstrak dan hanya bisa dimengerti oleh mereka sendiri. Ishida melihat itu makin bete dan menarik rambut nyentrik Ichigo.
"Auw! Apaan hei?"
"Nggak. Gemes sama rambutmu," jawab Ishida dengan ekspresi datar. Nah lho? Alibi nih.
-XxX-
Rukia sedang latihan dengan pasangan ganda campurannya yaitu Renji. Renji memberi Rukia bola-bola rendah yang sepertinya kurang tenaga. Rukia yang bete membalas dengan bola keras. Namun, lagi-lagi, dikembalikan dengan enteng oleh Renji. Begitu seterusnya sampai sekitar 2 menit. Rukia menyerah karena lelah. Renji melempar handuk ke arah Rukia.
"Makasih," ujar Rukia sambil mengusap keringatnya.
"Makanya, mainnya enak-enakan aja," kata Renji santai. Sepertinya dia masih kuat untuk bermain lagi.
Rukia merengut, merasa kesal dengan sahabatnya yang satu ini. Jelas saja, karena bola-bolanya yang keras bisa dikembalikan dengan entengnya oleh Renji. Rukia mengambil 1 sportdrink. Cuma 1. Sekarang Renji yang kesal.
"Pinter ya! Ngambil minum temennya nggak diambilin!" seru Renji kesal. Rukia malah ketawa.
"Hei! Aku marah lho, kok malah ketawa? Huh!" Renji lalu mengacak-acak rambut Rukia.
Sementara itu, Ichigo melihat Renji dan Rukia yang sepertinya sangat akrab menjadi super kesal. Ichigo membatin macam-macam, seperti apa yang mereka lakukan, kenapa mereka hanya berdua saja, dan semacamnya. "Kayaknya pemeran utama harus muncul nih. Jadi, mereka nggak bisa berduaan macam gini," pikirnya. Langsung saja, do'i muncul dihadapan RenRuki.
Padahal tadi si Renji kesalnya udah agak reda lantaran melihat tawa Rukia, eh sekarang ada Ichigo. Berasa trouble maker gitu si Ichi.
"Hey! Kok nggak latihan?" tegur Ichigo.
"Udah kok! Ini lagi istirahat," jawab Rukia kemudian menjulurkan lidahnya ke Ichigo.
"Kamu sendiri ngapain ke sini? Nggak latihan?" tanya Renji sewot.
"Barusan selesai."
Rukia jadi bingung, suasananya jadi nggak enak.
-XxX-
Malam hari, Renji pergi ke lapangan tua yang kemarin dia datangi. Nggak kapok-kapok juga dia. Pasalnya, menurut do'i, mungkin aja yang ngintipin kemarin itu bukan hantu. Cuma dianya aja yang panik waktu itu. Makanya, si do'i berani ke sana lagi.
Kali ini dia pemanasan dulu, siap banget pokoknya. Soalnya, tadi udah pulang plus mandi jadi segarlah badannya. "Yak! Siap latihan ma men!" batinnya.
Renji memukulkan shuttlecock ke atas dan mempertahankannya agar tidak jatuh. Latihan bulutangkis sendiri memang susah ya.
-XxX-
Hinamori mendengar suara orang sedang berlatih dari arah lapangan. Takut banget rasanya. Akhirnya ia membulatkan tekad untuk melihat siapa yang sedang berlartih. Maka, turunlah dia dengan membawa raket dan memakai sepatu keds. Kenapa sepatu keds? Ya karena menurutnya dengan sepatu itu dia lebih nyaman aja. Sementara raket adalah untuk memukul si hantu. Yah, mbak ini lucu. Hantu mah kagak bisa dipukul atuh.
Turun dengan mengendap-endap, Momo Hinamori telah sampai di depan pintu penginapannya. Kemudian, ia berjalan perlahan-lahan menuju lapangan tua. Ia mengintip sesosok cowok yang sedang berlatih itu.
"Oh, ternyata orang! Kagetnya, aku pikir hantu," batin Hinamori lega.
Hinamori mendekat untuk menyapa, tapi shuttlecock cowok itu melesat ke arahnya!
"Ah!" seru Renji karena shuttlecocknya lepas.
Spontan, Hinamori memukul shuttlecock itu sehingga tidak mengenainya. Renji cengo. Hinamori tersenyum kecil, lalu berjalan ke belakang net. Jadi, sekarang dia berada di bagian lapangan yang berbeda dengan Renji. Lalu, bersiap melakukan serve.
Renji langsung bersiap menerima serve dari Hinamori. Hinamori melakukan serve dengan kekuaran penuh. Langsung saja Renji membalas dengan entengnya. Hinamori juga. Beberapa saat kemudian, saat Renji keasyikan dengan slow-speed-rally, tiba-tiba Hinamori melakukan smash. Dengan sedikit shock, Renjipun melakukan smash tajam ke sisi kanan lapangan Hinamori. Hinamori mengembalikan dengan teknik backhand.
"Tsk," gumam Renji sambil melakukan smash lagi.
Kini Hinamori memberinya bola rendah. Langsung saja sekarang mereka bermain bola-bola net. Renji memukul bola net Hinamori tipis sekali dan bola jatuh dekat sekali dengan net, di daerah…
Di daerahnya sendiri. Ya, Renji tidak berhasil mengembalikan bola Hinamori. Renji menggerutu kesal. Hinamori tertawa kecil. "Aku kalah oleh seorang gadis. Aku kalah oleh seorang gadis," batin Renji sedih.
Hinamori tiba-tiba berlari meninggalkan lapangan. Renji hendak mencegah, tapi tenaganya sudah habis. Capek sekali dia setelah melakukan rally panjang tadi. Dia langsung aja duduk bersila di lapangan.
Ternyata, Hinamori kembali dengan membawa 2 botol sportdrink. Satu dia berikan pada cowok yang sedang kelelahan itu. Renji menerima dengan senang hati. Hinamori duduk di sebelah Renji.
"Ng..ano," ujar mereka berdua bersamaan.
"Ah, kau dulu," kata Renji. Hinamori menggeleng cepat.
"Kau dulu saja,"
"Ehm, kau… apa kau pemain bulutangkis profesional? Kau hebat sekali," tanya Renji.
Hinamori hanya tersenyum, lalu berkata, "Nggak juga. Aku anggota klub bulutangkis terkenal sih. Gotei 13."
"Hah? Aku juga anggota Gotei 13, tapi, aku tidak pernah bertemu denganmu," gumam Renji heran.
Hinamori mengangkat kedua bahunya, tanda bahwa dia tidak tahu. Renji senang sekali bertemu Hinamori, entah kenapa. Renji melihat ke arah jam tangannya. Pukul 9 malam. Saking kagetnya, Renji langsung berdiri.
"Eh? Ada apa?" tanya Hinamori.
"Sudah pukul 9 malam. Aku harus segera pulang. Kalau nggak, aku bakalan dimarahi mamaku," ujar Renji sambil berkemas-kemas. Eh, tuker nasib sama Ganju!
"Macho tapi manggil kaa-sannya mama. Terus kagak boleh pulang lebih dari jam 9, kayak cewek aja deh," batin Hinamori shock.
"Aku duluan, ya!" kata Renji.
Renji tergesa-gesa meninggalkan lapangan. Hinamori juga akan kembali ke penginapan. Tiba-tiba, Renji kembali lagi ke lapangan, dengan nafas terengah-engah.
"Lho, ada apa?" tanya Hinamori polos.
"Ano, namamu?" tanya Renji masih ngos-ngosan. Hinamori tertawa.
"Hinamori, Momo Hinamori," jawab Hinamori sambil mengulurkan tangannya.
"Renji Abarai," sahut Renji lalu menyambut tangan Hinamori.
"Ehm, sepertinya sudah malam. Selamat malam!" seru Renji sambil berlari pulang.
"Selamat malam, Abarai-kun," jawab Hinamori pelan
-TBC-
Sekian dulu minna sama
Feedback sangat diperlukan
Yang uda baca jangan lupa review ya :)
-Armalita Nanda R. pamit! Wassalam!-
