.

"Saranghae, Minku. Jadilah milikku mulai sekarang, dan aku tak akan pernah membuatmu bersedih," ucap Se7en sambil membenamkan wajahnya pada surai madu Changmin dan menghirup wangi shampoo yang masih terasa di sana.

Di lain pihak, Changmin sendiri kini terdiam mendengar pernyataan Se7en padanya. Yang pasti, ia masih marah-sangat marah dan sangat tak terima karena Se7en sudah menyetubuhinya tanpa ijin. Di tambah lagi ini adalah saat dimana ia sedang di rundung masalah. Bagaimana mungkin Se7en malah menyatakan perasaannya saat ini?

"A-aku—"

.

.

Ela-ShimSparCloud a.k.a Ela Ela Changminnie YeWook presents

"Our Story" ch 3 part 1

Main Pair : Se7Min (salahkan pada eL-chan yang sudah meracuni saya)

Rate : M for MESUM dan MATURE content!

Warn : SMUT! NC! LEMON kurang kecut dan nggak ada asemnya! TYPO's

Saya ingatkan, FF ini ada adegan rated M, jadi bagi yang belum kuat baca, silahkan klik close icon.. dan juga buat yang tidak suka dengan pair ini, saya tak memaksa anda untuk membaca, dan seperti tadi, segeralah klik close icon agar anda tak perlu membuang waktu untuk membaca FF saya, OK?

To eL-chan n WiidiwMin, this is for you,guys~ (demi apa saya sampai meneruskan FF ini?)

Oh, dan satu lagi, disini karena settingnya beberapa tahun lalu, anggep aja si Mink-Minnie (Don't glare at me, Se7en-oppa), itu tingginya sama kayak Se7e yaaa~

.

.oOSe7MinOo.

.

.

*Se7en PoV*

"A-aku.."

'Drrrttt.. Drrrttttt... Drrrrttttt...'

Getaran keras yang tak berhenti juga yang berasal dari handphone yang kini tergeletak di nakas di samping ranjang yang kami berdua tempati.

Aku hanya menghela nafas melihat Minku yang kini menatap bingung antara aku dan ponselnya.

"Angkatlah dulu," ijinku sambil merebahkan diri, meski ekor mataku tak lepas dari segala pergerakan namja di sampingku ini.

'Ukh.. kulit eksotis itu..'

Aku menahan hasrat dengan susah payah ketika Minku itu bergerak menjauhiku, dan membuat tubuhnya yang masih polos itu tertangkap pandanganku. Aku mengeratkkan cengkeramanku pada bedcover agar tanganku ini tak berbuat nakal dengan kembali menarik tubuh itu ke bawah tubuhku dan kembali menandai kulit mulus itu dengan bibir, gigi dan lidahku..

'Ugh..'

Aku kembali berusaha sekuat tenaga menahan hasratku untuk menerkamnya sekali lagi ketika ia malah menjulurkan tangannya ke arah nakas, membuat tubuhnya sedikit miring ke arah kiri, mengekspos makin banyak kulit tubuhnya, dan juga... sepasang pantat kenyal yang sudah kuremas berkali-kali tadi malam.

...apalagi jika mengingat di belahan pantat kenyal itu terdapat hole ketat yang sangat nikmat dan... ukh.. berhenti memikirkannya, Choi Dong Wook!

Apa?

Kenapa kalian menatapku seperti itu, hah?

Apa ada yang salah, eoh?

.

..

MWOYA?

Kalian menganggapku mesum?

Haaah.. apa kalian ini bodoh? Asal kalian tahu saja ya, semenjak aku menginjakkan kaki di benua Amerika sana tiga tahun lalu, aku tak pernah menyentuh yeoja ataupun namja manapun!

Salahkan sepenuhnya pada namja manis itu karena gara-gara dia, aku tak pernah bernafsu lagi setiap melihat yeoja cantik dan sexy, maupun namja—GOD! Jika saja aku tak bertemu dengan Minku, aku tak akan mungkin jadi Gay seperti sekarang ini! Salahkan sepenuhnya pada wajahnya yang manis dan polos seperti tanpa dosa itu. Salahkan pada sepasang iris coklat bening yang selalu menjeratku ke pada kedalamannya, hingga tak mengijinkanku untuk sanggup tenggelam ke dalam berpasang-pasang mata yang lain. Salahkan pada sifatnya yang evil namun terlihat sangat manis dan sangat lucu itu. Salahkan pada kepribadiannya yang terkadang nakal, terkadang manja dan terkadang bisa menjadi seorang cry baby jika ia tak bisa melakukan sesuatu sesuai keinginannya.

Dan yang paling utama, salahkan sepenuhnya pada jantungku yang selalu berdetak cepat setiap kali aku mendengar suaranya, melihat figurnya dan menatap paras manisnya itu.

Jadi, jangan salahkan aku jika aku belum merasa puas meskipun sudah menyetubuhinya dan memasukinya berkali-kali, arrasseo?

.

.

"Aku di mana dan bersama siapa? Itu sudah bukan urusanmu lagi kan, Jaejoong-ssi,"

Kata-kata datar dan dingin dari Minku menyadarkanku dari lamunan gilaku tadi. Dan kedua alisku mengernyit heran ketika aku mendengar caranya memanggil hyung yang katanya sudah ia anggap seperti eommanya itu.

"Aniya. Kau tak perlu tahu aku ada mana. Sampaikan pada Junsu-ssi dan juga Yoochun-ssi, kalian tak udah mengkhawatirkanku lagi karena kini aku bukan lagi tanggungan kalian. Kalian ertga silahkan mempersiapkan diri menghadapi persidangan itu. Annyeong, Jaejoong-ssi."

Aku memperhatikan Minku yang kini menutup ponselnya dengan keras dan kasar. Kulihat ia meremat ponsel itu dengan keras, dengan raut wajah yang membuatku sedikit khawatir.

"Are you—"

'Drrrtt... Drrrrrtttt... Drrrrrtttt...'

Aku tak sempat menyelesaikan pertanyaanku ketika handphone itu kembali bergetar, menandakan bahwa ada panggilan masuk lagi disana.

Kutatap Minku yang kini menghela nafas panjangnya dan mengangkat panggilan itu. Tatapanku tak lepas dari ekspresi wajahnya yang sangat tak biasa. Ekspresi wajah yang keras dan dingin, namun jika kau jeli sepertiku—hasil dari stalker-pengamatanku padanya—maka kalian akan tahu kalau di balik wajah keras itu terlihat kesedihan mendalam yang terpancar dari sepasang onyx indahnya itu.

"Wae? Kau akhirnya sadar kalau aku tak berada di dorm, eh, hyung?"

Kedua alisku mengerut mendengar nada sinis dari bibir tebal menggoda itu. Meskipun orangnya evil dan sangat usil serta perkaaannya selalu tajam, selama ini aku tak pernah mendapati nada sinis yang begitu kentara dari Minku. Jika sifat evilnya kumat, Minku tak akan pernah mengeluarkan nada sinisnya. Yang ada malah ia akan membuat orang lain lengah dengan suaranya yang merdu itu, sebelum kata-kata yang –terdengar—polos namun bermakna kejam itu meluncur santai dari bibirnya.

"Mwoya? Khawatir, hyung? Bukankah sejak kemarin kau tak mengkhawatirkanku dan malah terus mengurung diri di dalam kamar? Itukah yang kau sebut mengkhawatirkan keadaan dongsaengnya? Aku tahu ini berat untukmu, hyung. Tapi, apa kau pikir hanya kau saja yang merasa sakit dan depresi hyung? Aku juga—"

Aku yang tak tahan mendengar nada suara Minku yang begitu terdengar sinis namun membuatku sakit, segera mengulurkan lenganku, dan merengkuhnya dalam dekapanku.

"Saranghae, Minku," ucapku sambil megecupi surai madunya yang lembut itu. "Saranghae. Calm down, Minku.. tenanglah..." ucapku sambil meraih handphone itu dari tangannya.

"Ia akan menghubungimu lagi setelah tenang," ucapku pada orang diseberang, dan –tanpa menungu jawabannya—aku langsung mematikan sambungan itu.

Kurasakan sebuah pelukan erat di tubuhku, dan tanganku kembali mengelus surai madu lembut itu. Kuperhatikan bahu yang terpampang di depanku, dan tersenyum lembut. Tidak, bahu itu tidak bergetar—menandakan bahwa pemilik tubuh itu tidak menangis.

Aku ikut mengeratkan pelukanku ketika merasakan ia makin merapatkan tubuhnya pada tubuhku. Berusaha memberikannya kenyamanan penuh yang memang pasti ia butuhkan saat ini.

Ah, dan berbicara mengenai kenyamanan, memang rasanya amat sangat nyaman ketika aku bisa merengkuh tubuhnya. Seperti ada rasa hangat menyenangkan yang perlahan menyebar dari dalam hatiku, ke seluruh tubuhku.

Kehangatan dan kenyamanan yang sepert inilah yang tak pernah kudapatkan ketika bersama dengan orang lain. Hanya bersamanya. Hanya bersama seorang Shim Changmin saja aku bisa merasa seperti ini. Tak ada hal lain yang kuinginkan selain tiap waktu di dunia, di mana aku bisa terus merengkuhnya seperti sekarang ini.

Kau membuatku gila, Shim Changmin. Membuatku gila karena begitu menginginanmu. Membuatku begitu gila karena begitu berharap untuk bisa terus mengurungmu dalam dekapanku, hingga tak akan ada seorangpun yang bisa memilikimu. Bahkan aku sendiri merasa aku sudah gila ketika aku ingin berada di sampingmu setiap detiknya, memastikan tak akan ada seekor lalat nakal pun yang bisa melirikmu, dan berpikir untuk merebutmu dariku.

Akh, kurasa aku sudah terdengar sedikit mendekati pemikiran seorang psikopat. Salahkan padanya. Salahkan pada eksistensi seorang Shim Changmin yang bahkan sanggup membuatku menjadi seperti ini.

"Ini semua menyebalkan, hyung."

Bisikan lirih dari suara merdunya membuyarkan lamunanku yang sudah melantur entah kemana. Kembali ku fokuskan perhatianku pada setiap ucapan dan pergerakan darinya yang kini menumpukan kepalanya di bahu kiriku.

"Tell me, Minku." Ucapku lembut sambil kini kedua tanganku mengusap punggungnya dengan lembut, meski aku tak memungkiri kalau sedari tadi tanganku begitu ingin bergerak turun ke bawah dan memulai lagi—

"Aku merasa kesal dengan diriku sendiri."

Ucapannya kembali membuatku berhenti memikirkan hal ber-rated M. Cukup, Dong Wook, fokuslah dan jangan berpikir mengenai kenikmatan tubuh di depanmu ini!

"Apa kau menyesal karena sudah berkata seperti tadi pada hyungmu?" tanyaku sambil menarik tubuhku darinya, hingga aku bisa melihat wajah manisnya yang di rundung rasa bersalah.

Ia mengangguk lemah. "Harusnya, aku tak berkata seperti tadi. Hanya saja... hanya saja.. saat tadi Jae-hyung menelepon, perasaan kesal dan amarahku sedikit meluap. Padahal aku tahu.. aku sangat mengerti kalau keputusan mereka bertiga untuk keluar dari DBSK itu bukan keputusan yang mudah di ambil. Aku... aku juga mengerti kenapa Jae-hyung, Junsu-hyung dan Yoochun-hyung akhirnya memutuskan untuk keluar." Ia menghentikan kalimatnya dan kedua tangannya kini berada di kepalanya, meremas kuat surai madunya, seakan melampiaskan kekesalannya sendiri.

Aku sendiri belum bisa berkata apa-apa karena aku baru mendengar kalau ternyata tiga dari lima anggota DBSK mau keluar. Pantas saja semalam Minku terlihat begitu tertekan dan frustasi.

"Tetapi tadi.. tadi saat Jae-hyung menelepon, aku kembali teringat dengan keadaan dorm yang sangat menyedihkan karena mereka bertiga tak ada lagi disana. Sesaat tadi aku merasa kesal.. kesal memikirkan.. bagaimana mungkin mereka bisa meninggalkanku sendirian? Apa mereka tak pernah menganggapku selama ini?"

Aku tersentak kaget saat kulihat sepasang onyx indah itu kini mengalirkan setetes air mata kesedihan. Aku kembali merengkuh tubuhnya yang kini terlihat bergetar, membuatku yang kini memeluknya ikut merasakan sakit yang ia rasakan.

"Dan tadi saat Yunho-hyung menelepon.. rasa kesal itu semakin menjadi, hyung. Saat aku mengingat kalau semenjak kemarin Yunho-hyung terus mengurung dirinya di dalam kamar... mengabaikanku... sakit, hyung..."

Aku mengeratkan pelukanku ketika mendengarnya bicara dengan nada menyanyat hati. Terdengar jelas rasa sedih dan putus asa dalam setiap kata yang terucap dari bibirnya itu.

"Aku.. aku merasa muak dengan diriku sendiri... Aku mengerti kalau ini semua bukan keinginan kami.. tapi rasanya aku sangat.. kesal. Aku muak dengan situasi yang membuat kami jadi seperti ini... dan aku muak pada diriku yang tak bisa berbuat apa-apa.. aku muak pada diriku sendiri yang melampiaskan rasa marahku pada yang lainnya... aku mua—hmmpphh."

Tanpa basa-basi aku langsung membungkam bibir itu. Melumatnya dengan ganas sekaligus melarangnya mengeluarkan lagi kata-kata yang semakin menyakiti dirinya sendiri. Kularikan tanganku yang sedari tadi berada di punggungnya ke arah tengkuknya. Kutekan lembut tengkut itu hingga bibirnya semakin menempel pada bibirku. Kugigit gemas bibirnya, dan aku langsung memasukan lidahku ke gua hangatnya saat tanpa sadar ia membuka bibirnya.

Aku terus melumat bibirnya yang memabukkan itu hingga akhirnya bisa kurasakan adanya lengan yang melingkar di leherku. Aku tersenyum dalam ciumanku dan melepaskannya ketika ia mulai membalas ciumanku.

Aku terkekeh dalam hati melihat wajahnya yang terlihat kecewa saat aku melepaskan ciumanku. Dan jangan tanya lagi seberapa kuat aku emnaha diriku untuk tak langsung menyerangnya saat itu juga ketika melihat wajahnya yang memerah, dengan tatapan kecewanya, juga dengan bibir sintalnya yang masih sedikit terbuka, seolah mengundangku untuk kembali melumatnya, lagi dan lagi.

Ah, bisa apa aku jika di tatap dengan wajah sayu seperti itu?

Dengan cepat kembali kusambar bibir itu. Menakan-nekannya dengan bibirku agak lama, sebelum aku membuka mulutku dan melumat bibir atas dan bawahnya bergantian. Membuahkan desahan-desahan sexy dan erangan-erangan erotis darinya.

Kurasakan nafsu mulai melumuri mataku ketika kulepaskan bibirku sebentar, dan bisa kulihat degan jelas wajahnya yang menahan nikmat itu berpadu dengan erangan protesnya karena lagi-lagi aku menghetikan ciumanku padanya.

Tanpa menunggu lagi, aku kembali meraup bibir itu dengan bibirku. Melumatnya dengan ganas, dan langsung memasukkan lidahku kembali ke dalam mulutnya ketika ia dengan mudahnya memberikan akses masuk bagiku. Kembali kuajak lidahnya untuk bertarung, kulilit dan kutekan-ekan lidahnya hingga kembali dominasi berada di tanganku.

"Mmhh.. sesaakhh...ngghhh.."

Aku memberinya lumatan dan gigitan terakhir sebelum kulepaskan bibirnya yang memabukkan itu, memberikannya kesempatan untuk mengisi paru-parunya dengan oksigen. Aku tersenyum puas melihat bibirnya yang kini terlhat makin merah dan agak membengkak, dengan saliva yang berceceran di dagunya. Pemandangan eksotis yang membuatku terperangkap di dalamnya, hingga tak lagi bisa aku meninggalkannya.

'Drrttt.. Drrrrtttt... Drrrrrrttttt...'

Getaran handphone yang cukup keras membuat kami berdua menoleh, dan kulihat handphonenya berkedip-kedip dan terus bergetar, tanda akan adaya panggilan masuk.

Kuraih ponsel itu dan terlihat nama 'Micky' di sana.

"Dari Micky Yoochun. Kau mau mengangkatnya?" tanyaku padanya yang kini menggelengkan kepala. Aku menghela nafas dan menerima telepon itu. Tak lupa ku tekan tab loudspeaker agar ia bisa ikut mendengarkan.

"Changmin-ah! Dengarkan penjelasan kami dulu!" seru Yoochun dari seberang line.

"Minku sedang tak ingin berbicara denganmu. Katakan saja padaku dan nanti akan kusampaikan padanya," ucapku dengan menekankan kata Minku, menunjukkan identitasku secara tak langsung.

"Se7en-ssi?"

"Ne. Katakan apa yang ingin kau katakan padanya, nanti akan kusampaikan langsung," ucapku cepat.

"Aku tak bisa mengatakannya dengan tepat. Tapi dengarkan penjelasan kami bertiga dulu. Kami tahu kami salah sudah meninggalkan kalian berdua. Tapi ada alasan di balik semua itu. Jika kau masih menganggap kami sebagai hyungmu, Min, datanglah ke apartement baru kami di jalan Ddong Seok kamar nomor 325di lantai 5. Yunho-hyung juga sudah berada di sini."

"Itu saja?" tanyaku sambil tatapan mataku terarah pada Minku yang kini terlihat bingung.

"Ne. Tolong sampaikan kalau kami menunggunya dan menyambutnya kapanpun ia datang."

Aku menutup sambungan telepon itu dan bisa kulihat ia tengah terpekur mendengar ucapan Yoochun tadi. Kularikan tanganku ke dagunya, dan mengangkat wajah itu hingga kini ia tak bisa mengalihkan pandangannya dariku.

"Apa kau masih menganggap mereka hyungdeulmu?" tanyaku dengan nada bicara yang serius.

"A-aku.. bagiku.. hubungan hyung dan dongsaeng itu tak akan bisa terputus.."

Aku tersenyum mendengar ucapannya. Biarpun ia tak mengatakannya secara langsung, jelas kalau ia masih menganggap mereka semua sebagai hyungnya.

"Bukankah kau merasa menyesal karena sudah melampiaskan kekesalanmu pada mereka?" tanyaku lagi.

Ia mengangguk lemah sebagai jawabannya.

"Kalau begitu, temuilah mereka, Minku," ucapku padanya, yang membuatnya langsung memasang raut bingung dan keraguan nyata membayang di mata itu.

"Waeyo?" tanyaku bingung.

"A-aku.. aku.. tak berani menemui mereka.."

.

..

...

EEEHHHH?

"K-kau.. hmpf... hahahahaha~!" tawaku meledak tanpa bisa kutahan ketika aku benar-benar menyadari arti dari kata-katanya itu. Ya ampun.. jadi sedari tadi ia bingung itu karena.. ia merasa takut dan tak enak untuk bertemu hyungnya yang tadi udah ia sinisi dan ia ketusi tadi? Aigoo~

"Ish! Kau menyebalkan!"

Kurasakan sebuah tepisan pada tanganku, hingga kini aku tak lagi menyentuh wajah manis itu. Tawaku mulai berkurang ketika kulihat ia tengah bersedekap dengan wajah cemberutnya. Tapi jangan salah, meskipun tawaku menghilang—jelas karena aku benar-benar tak ingin ia marah padaku hanya karena hal sepele—namun senyumanku masih terkembang sempurna. Apalagi melihat wajah cemberutnya yang sangat imut itu.. membuatku kembali merasakan hasrat yang tidak pada tempatnya.

"Kalau kau tak berani menemui mereka sendiri... mau kutemani?" tawarku saat melihat wajah cemberut itu benar-benar meragu untuk menemui hyungdeulnya itu.

"Jinjja?"

Aku terkekeh geli melihat raut wajahnya yang langsung berubah seperti anak kecil yang di janjikan akan di belikan es krim atau mainan kesukaannya.

"Ne. Nanti akan kutemani," jawabku santai, yang langsung berbuah sebuah pelukan erat darinya.

Kuberitahu satu hal yang mungkin kalian lupakan. Saat ini—bukan, sedari tadi, aku dan ia sama sekali belum menyentuh baju-baju yang kini masih saja bertebaran dengan indahnya di lantai kamar ini. Jadi jika dalam posisi tubuh kami berdua polos dan ia langsung memelukku dari depan dengan begitu erat, kalian bisa bayangkan apa yang terjadi kan? Terutama pada bagian vitalku?

"H-hyung..?"

Aku menyeringai mendengar suaranya yang sedikit menyiratkan rasa kaget dan takutnya.

"Hmm.. Waeyo, Minku?" ucapku dengan suara rendah dan mulai melingkarkan tanganku ke pinggang rampingnya yang tak berbalut kain selembar pun. Ah~ Kulitnya memang sangat lembut..

"H-hyung.. a-aku kan harus segera ke apartement hyungdeulku.."

Kurasakan tangannya yang kini berusaha melepas rengkuhanku pada pinggangnya. Tapi jangan harap kau bisa semudah itu kabur dariku, Minku~

"H-hyung.."

.

.oOSe7MinOo.

.

*Author PoV*

Changmin masih terkikik di dalam mobil yang kini melaju membelah jalan. Bagaimana tidak, rasanya amat sangat menggelikan ketika kau bisa melihat seorang Choi Dong Wook yang tengah berwajah masam hanya karena tadi ia berhasil menghindari 'serangan' namja itu dengan langsung berlari ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam.

"Bisa kau hentikan cekikikan genitmu itu, Shim Changmin?" ucap Se7en yang langsung membuat Changmin mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat. Jujur saja, mendengar nada dingin dengan raut wajah masam—yang entah bagaimana tak mengurangi ketampanan—dari seorang Choi Dong Wook membuat Changmin gentar juga.

"Mianhae," lirih Chagmin dengan tatapan yang kini tertuju pada dashboard mobil sport Se7en. Se7en hanya melirik tanpa minat ke arah Changmin. Ia kembali mefokuskan dirinya untuk memperhatikan jalan.

Changmin menghela nafas melihat reaksi dari Se7en. Ia menelungkupkan tangannya di dashboard mobil itu dan menyandarkan kepalanya di sana. Setelah itu ia memiringkan kepalanya ke arah Se7en, memasang wajah innocent dan puppy eyes andalannya, dan kembali berucap, "Mianhae... hyung."

Se7en mengeratkan pegangannya pada kemudi mobilnya saat ia bisa melihat jelas wajah menggoda itu yang kini tengah menampilkan kepolosan dan ke-innocent-annya dengan maksimal seperti itu. Masih berusaha untuk tak luluh dengan tatapan Changmin yang begitu tanpa dosanya.

"Saranghae, hyung."

CKIIIITTT!

"Ukh!" Changmin berseru tanpa sadar ketika ia merasakan bahwa mobil yang mereka tumpangi ini berhenti dengan begitu mendadak, mengakibatkan dorongan kuat yang bisa saja membahayakan keduanya jika saja tak ada seatbelt yang menahan tubuh mereka.

"Jangan mengatakan hal itu ketika aku sedang mengemudi, atau kau ingin langsung pergi ke alam sana bersamaku, eh?"

"Nde. Tapi jangan mengacuhkanku dong hyung," rajuk Changmin yang kini mempoutkan bibirnya sambil masih menyenderkan kepalanya ke dashboard.

Se7en menghela nafas berat melihat kelakuan polos—atau sok polos?—dari namja yang ia cintai itu. Lebih-lebih ketika Changmin kembali menatap Se7en dengan tatapan innocentnya itu. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang kembali terbangun di bagian bawah tubuhnya.

"Dengarkan aku baik-baik, Shim Changmin," mulai Se7en yang kini mengurung tubuh Changmin dengan kedua tangannya. "Sebaiknya kau tak bertingkah macam-macam, atau tujuan kita berpindah dari apartement hyungmu jadi ke hotel terdekat. Arrasseo?" ucap Se7en dengan penekanan penuh ketika ia mengucakan kata hotel.

Changmin yang akhirnya merasakan suatu bahaya, hanya bisa menganggukan kepala dan mengalihkan tatapannya dari Se7en.

"Good boy." Se7en akhirnya menjauhkan tubuhnya dari Changmin, membuat namja muda itu bisa menghela nafas lega. " Jadi, haruskah kita ke hotel, atau ke apartement hyungmu itu?" tanya Se7en dengan sifat usilnya yang sudah kembali lagi.

"Y-YA! Tentu saja ke apartement Jae-hyung!" sambar Changmin dengan cepat, mengkhawatirkan nasib dirinya yang entah akan bagaimana jika sampai mereka berbelok ke sebuah hotel.

.

.oOSe7MinOo.

.

"Masuklah," ucap Se7en pada Changmin yang kini masih saja berdiam diri di depan kamar nomor 235 itu.

Se7en menghela nafasnya melihat Changmin yang masih saja berdiam dari saja sedari tadi. Dengan kesal ia langsung memencet bel apartement itu—yang menghasilkan tatapan protes dari Changmin tentunya.

CKLEK

"Se7en-ssi?" Wajah Jaejoong menyembul dari balik pintu yang terbuka itu. Se7en sendiri hanya mengulas senyum bisnisnya dan ia menarik tangan Changmin yang kini malah bersembunyi di balik tubuhnya. "Aku kesini mengantarkannya," ucap Se7en sambil terus menahan Changmin agar terus berada di sampingnya.

"Minnie!" seru Jaejoong saat melihat maknae kesayangannya itu benar-benar datang. Ia langsung memeluk Changmin dengan erat hingga sang empunya tubuh merasakan sedikit tidak nyaman. Sedangkan di sampingnya, Se7en benar-benar harus ekstra menahan dirinya untuk tidak segera menjauhkan tubuh Jaejoong dari MinkuNYA.

"Ukh.. hyung.. sesakhh.." protes Changmin yang langsung membuat Jaejoong melepaskan pelukannya.

"Ayo masuk! Semua sudah menunggu!" seru Jaejoong dengan semangat dan ia langsung menarik Changmin masuk ke dalam dengan Se7en yang kini hanya bisa menghela nafas menyabarkan dirinya. Yah, inilah resiko menyukai—ani, mencintai namja yang notabene adalah sang maknae yang sangat di manja dan sangat di sayang oleh hyungdeulnya.

.

.oOSe7MinOo.

.

"Jadi.. begitu? Benar begitu?" tanya Changmin tak percaya setelah ia mendengarkan cerita dari JYJ-hyungnya itu.

"Ne. Tentu saja. Kami tak akan mungkin meninggalkan kalian berdua," ucap Jaejoong yang kini menyandar di tubuh Yunho yang memeluknya dengan erat.

"Ne. Kami bertiga sedang mengusahakan ini semua. Jadi meskipun akan memakan waktu yang lama, suatu saat nanti, kita pasti akan kembali menjadi Dong Bang Shin Ki yang utuh, tanpa adanya tekanan yang sagat berat seperti selama ini," tambah Junsu yang kini menggengam tangan Yoochun dengan erat.

"Ne. Karena itu kumohon, kalian berdua bertahanlah. Bertahanlah dulu meskipun ini semua akan terasa sangat berat dan penuh duka," tambah Yoochun dengan mantap.

"Kami akan mendukung kalian. Menangkanlah sidang kalian bertiga minggu depan. Buatlah basic yang kuat di dunia industri musik Korea dengan hanya kalian bertiga. Dan kami sendiri akan terus mempertahankan DBSK agar tak kehilangan cahaya dari Cassiopeia,. Ia kan, Minnie?" ucap Yunho dengan mantap.

"Ne. Jika hyungdeul memang berpikir seperti itu, kami yang disinipun akan tetap berusaha meski hanya berdua. Berusahalah dengan misi kalian, dan kami akan menunggu waktu di mana kita berlima bisa kembali berdiri di panggung yang sama, dengan lautan red ocean di hadapan kita," sahut Changmin mantap, yang di balas dengan senyuman dari keempat member yang lain.

Eh?

Se7en?

Tentu saja ia ikut tersenyum. Namun senyumnya itu hanya di tujukan pada Changmin yang kini sudah terlihat lebih baik daripada semalam dan tadi pagi.

.

.oOSe7MinOo.

.

"Jadi?" tanya Se7en saat ia dan Changmin sudah sampai di basement dan masuk ke mobil Se7en. Keduanya kini sudah duduk dengan santai di kursi masing-masing.

"Eh? Jadi apa hyung?" tanya Changmin dengan senyum yang sedari tadi tak lepas dari bibirnya. Yah, Se7en sungguh bersyukur karena sudah membawa Changmin kemari hingga namja manis itu bisa terlihat lebih cerah.

Namun di setelah masalah namja manis itu selesai, bukankah masih ada satu masalah lagi yang harus ia—mereka selesaikan?

"Kenapa kau masih bertanya lagi? Jadi, bagaimana jawabanmu terhadap pernyataanku tiga tahun lalu dan juga tadi pagi?" tanya Se7en to the point.

"Eh? Soal itu.. errr..." gagap Changmin yang langsung merasa gugup ketika Se7en kembali membahas masalah itu.

"Tiga tahun lalu kau berjanji akan menjawabku jika saat aku kembali, aku masih merasakan perasaan itu," ucap Se7en sambil menatap lekat Changmin. "Sebenarnya itu salah. Perasaanku padamu sudah tak sama seperti yang dulu lagi." Ucapan Se7en langsung menyentak Changmin, dan membuatnya mendongakkan wajahnya menatap Se7en.

"Ya, perasaanku sudah tak sama seperti dulu. Jika dulu aku mencintaimu—" Changmin menggigit bibir bawahnya dengan kuat ketika mendengar kata-kata Se7en yang membuat hatinya merasakan nyeri. "—jika dulu aku mencintaimu, kini aku merasa terlalu mencintaimu, sampai aku berpikir bahwa aku memang begitu tergila-gila padamu. Tiga tahun yang berlalu bukannya membuat rasa ini makin luntur, tapi malah memperkuatnya, hingga rasanya aku tak akan bisa lagi hidup jika tanpa ada kau di sampingku."

Se7en tersenyum lembut—senyuman yang hanya akan terlihat jika berhubungan dengan Changmin—ketika melihat wajah Changmin yang kini memerah. Jantung namja itu sendiri kini berpacu dengan cepatnya.

"Saranghae. Jeongmal saranghae—ah, Ani, yang benar, Neomu neomu saranghaeyo, Shim Changmin. Jadilah milikku."

Changmin kini bisa merasakan kalau wajahnya sudah memerah hebat mendengar kata-kata Se7en yang meskipun terdengar arogan, namun baginya ini semua terlalu romantis. Dan jika memikirkan perasaan nyeri yang tadi sempat menghampirinya ketika Se7en berkata kalau perasaan namja itu sudah tak sama seperti dulu lagi.. rasa nyeri yang datang ketika berpikir kalau Se7en sudah tak mencintainya lagi..

"Nado, hyung. Nado saranghaeyo, Choi Dong Wook. Milikilah aku," sahut Changmin dengan senyum yang terpasang yakin di bibirnya. Ya, ia kini harus jujur. Perasaannya pada Se7en bukanlah sebuah cinta monyet yang akan cepat luntur, karena sama seperti Se7en juga, selama tiga tahun inipun, perasaan cintanya pada namja tampan itu masih terus bertahan, dan semakin bertambah kuat seiring bergantinya hari.

Sebuah pelukan hangat di rasakan oleh Changmin, dan senyumnya semakin lebar saat ia melihat paras tampan Se7en yang kini sudah berada tepat di depannya. Menuruti instingnya, Changmin memejamkan kedua matanya ketika Se7en semakin memperpendek jarak keduanya.

Changmin melarikan jemarinya ke kerah kemeja Se7en ketika ia merasakan sentuhan lembut di bibirnya. Ciuman ini.. biarpun ini bukan pertama kalinya bagi Changmin merasakan bibir Se7en mengecup bibirnya, namun tetap saja kini detak jantungnya terasa menggila dalam kurungan tulang rusuknya.

"Mmhhh.." Changmin mendesah halus saat merasakan tangan Se7en yang sudah menyelusup ke tengkuknya, dan menarik tubuh Changmin semakin merapat dengan tubuh panas Se7en, hingga kini ciuman keduanya semakin intens.

"Nghhh.. mmhhh..." Changmin kembali mengeluarkan desahan halusnya saat bibir Se7en yang berada ada bibirnya mulai melakukan pergerakan dan mulai melumat bibir bawahnya. Tangan Se7en sendiri masih setia menekan tengkuk leher Changmin hingga namja itu tak bisa menggerakkan kepalanya sedikitpun.

"Mmm.. nghhh...ahmmm..." Changmin yang tak mau tinggal diam pun kini ikut melumat bibir atas Se7en yang memang terasa manis bagi dirinya. Tubuh Changmin kini terasa menggila dengan sentuhan bibir Se7en yang terus menerus menerus mengemut bibirnya dan kini lidah namja tampan itu mulai masuk ke dalam mulutnya. Menginvasi mulut Changmin, menyapukan lidahnya ke seluruh sudut rongga mulut namja manis yang kini mendesah tertahan akibat ulah nakal bibir dan lidah itu.

Seperti tak mau ketinggalan, Changmin mengikuti ajakan lidah Se7en untuk saling bertarung dan saling melilit. Saliva basah yang kini mulai mengalir dari sudut bibir Changmin tak menghentikan kegiatan-mari-saling-melumat yang dilakukan oleh kedua namja itu dengan liar dan penuh 'semangat'. Berbeda dengan Changmin yang mulai lemas karena sentuhan Se7en, namja yang memiliki aura mendominas itu kini menunjukkan keseriusannya dan akhirnya membuat Changmin kalah dalam adu lidah mereka dan kini yang bisa di lakukan namja manis itu hanyalah mendesah, menyerukan nama namja tampannya dan mencengkeran erat kemeja namja maskulin itu untuk melampiaskan semua sensasi yang ia rasakan.

"A-aaahhhh... hyuunghh...ungghhh..." Changmin mulai mengeluarkan desahan secara bebas ketika akhirnya Se7en melepaskan pagutan bibirnya setelah akhirnya pasokan udara di paru-paru Changmin habis. Namun tak seperti Changmin, Se7en yang nafasnya lebih kuat kini melarikan bibirnya ke arah leher Changmin, dan memulai penjajakannya di sana.

Lidah Se7en menyusuri setiap mili permukaan kulit leher Changmin, membuat namja itu mendesah geli. Setelah menemukan spot sensitif Changmin—yang di tandai dengan desahan lembut dari namja itu—Se7en mulai menggigit titik itu, menyebabkan Changmin mengerang dan tanpa basa-basi, ia menjilat dan menghisap spot itu, membuat desahan erotis yang membangkitkan nafsu Se7en itu memenuhi setiap sudut mobil mewah itu.

Merasa tak nyaman dengan posisinya saat ini, kini Se7en memindahkan memindahkan tubuhnya hingga ia berada di atas tubuh Changmin. Tangan kanannya langsung meraih seat controlller dan menurunkan sandaran di jok penumpang itu hingga agak turun ke bawah.

Belum. Ia belum akan sepenuhnya menurunkan sandaran jok itu. Bibirnya masih ingin bergerilnya di bagan atas tubuh Changmin.

Tak perlu waktu lama bagi Se7en untuk memenuhi leher itu dengan bercak-bercak merah yang pastinya tak akan hilang dalam waktu dekat. Merasa sudah tak memiliki lahan, kini Se7en berpindah menarik kaus Changmin sebelah kanan hingga namja tampan itu kini beralih menciumi bahu Changmin, membuat namja berwajah kekanakan itu mendesah-desah tak karuan.

"Minku, angkat tanganmu ke atas," titah Se7en yang langsung di patuhi oleh Changmin, dan sedetik kemudian tubuh Changmin sudah tak lagi mengenakan atasan. Kaus merah yang ia pakai langsung di lempar dengan sembarangan ke jok belakang oleh Se7en.

"Ahh.. Ummhh... Yaaahh..hyuunghh... ahhh... unghhh.." desahan-desahan menggairahkan terus keluar dari bibir Changmin yang kini merasa kini suhu tubuhnya meningkat seiring dengan hisapan, jilatan dan gigitan Se7en yang bersarang di nipple kanannya. Sedangkan nipple kirinya sendiri terus dicubit, dipilin dan di remas oleh tangan nakal Se7en, membuatnya makin tak bisa melakukan apa-apa selain mendesah-desah penuh kenikmatan sembari tangannya meremas kuat surai Se7en—yang malah makin menaikkan libido namja itu.

Tangan kiri Se7en yang kini terasa kosong menganggur, mulai bergerak turun. Jemari Se7en terus menggerayangi kulit halus Changmin yang terasa begitu kenyal dan memabukkan bagi jari-jarinya yang sangat maskulin.

"A-Anghhh~" desahan genit terdengar dari bibir Changmin ketika jemari Se7en kini sudah berhenti tepat di pangkal pahanya. Namun sepertinya tangan itu sedang enggan memuaskan namja manis itu, dan hanya bergerak-erak ringan di sekitar tempat yang sudah menggembung minta di manjakan itu.

"H-hyuuung~" rengek Changmin dengan suara manjanya. Se7en sendiri hanya mengeluarkan seringaiannya ketika mendengar rengekan Changmin. Bagi telinganya, suara rengekan itu terdengar menyenangkan, menggetarkan tubuhnya, hingga menggoda sesuatu yang kini mulai terbangun dari tidurnya.

"Nghhh.. hyuunghh~" Tak mendapat respon positif dari Se7en, Changmin kembali merengek, namun kali ini ia sedikit mengangkat tubuhnya hingga bagian privatnya itu kini menggesek-gesek tangan Se7en dengan lebih kuat. Membuat Changmin sendiri mendesah penuh nikmat dan memejamkan matanya, meresapi setiap gerakan yang ia buat itu. Sedangkan Se7en? Namja itu kini memikirkan mengenai berbagai hal-hal kotor melihat wajah Changmin yang menahan nikmat seperti itu.

"Hyuuung!!" Changmin memprotes keras ketika ia merasakan tangan Se7en menjauh dari tubuhnya. Ia membuka mata dan menemukan Se7en yang tersenyum—menyeringai—ke arahnya.

"Aniya. Aku hanya sedang tak ingin menyentuhmu. Itu saja." Ucap Se7en dengan santai, namun malah membuat Changmin membulatkan matanya tak percaya.

Kedua iris Changmin makin membulat ketika menemukan Se7en yang kini benar-benar menarik tubuhnya. Secara refleks tangan Changmin mencengkeram kemeja Se7en dan menahan posisi namja itu agar tak beranjak dari atas tubuhnya.

"Hmm? Wae, Minku?" tanya Se7en dengan nada suara dan ekspesi wajah yang di buat sesantai mungkin.

Changmin meneguk ludahnya dengan susah payah sambil menatap Se7en dengan tatapan ragu. Sebuah pemikiran gila melintas dalam benaknya, dan kini ia sedang menyiapkan hatinya.

"Want.. you.. I want you..!" ucap Changmin sambil menarik kemeja Se7en ke arahnya, hingga bibir penuhnya bisa meraup bibir sexy Se7en dan melumatnya dengan penuh gairah. Tak tanggung-tanggung, kini Changmin langsung melakukan adu lidah mereka dengan cepat dan tak sabaran.

Tak mengerti.. Changmin sungguh tak mengerti apa yang terjadi, tapi entah kenapa, saat mendengar kalau Se7en berkata kalau namja itu tak ingin menyentuhnya, benaknya serasa kosong dan ia tak tahu bagaimana, tapi rasanya seperti ada sesuatu yang lepas di dalam dirinya.

.

.

.

~TBC~

Annnyyeeongg~!

Balik lagi bawa Se7Min~!

Ini last chap tapi aku buat jadi dua part, soalnya udah panjaaaaaanggg banget..

buat next part, isinya cuma adegan yadongannya Se7en ama si Minnie neeeehhh..

nah, biar aku semangat bikinnya dan bisa jadi yang HOT (dari kemaren bikin NCannya aku ketik-hapus-ketik-hapus soalnya kok kurang HOT)

would u mind to leave a comment for me? #puppy eyes bareng Minnie