Summary : Len dan Rin kembali berbaikan. Apa yang akan dilakukan Miriam?/This is about friends./Chara baru!/Chap 2 apdet~/RnR?

Minna-san~. Saia kembali~. Gomen kalo apdetnya lama banget. Banyak halangan sih~.

Lalu chapter ini lebih banyak ke friendship deh kayaknya~. Jadi Saia ubah genrenya~. Tapi masih romance kok~.

Dan Chapter ini ada chara baru~ .. Siapa dia? baca ajah~ ..

Lalu, pertama bales ripiu dulu deh~.


###

1. Hikarin Shii-Chii

Ahahaha.. Iya nih.. Sequelnya di buat. Saia uda usahain agar alur lebih lambat~ dan typo ga ada. Moga ga ada deh~. Miriam? Mirriam? Meriam? *di lempar Miriam*. Ah iya. Makasi pemberitahuannya~. Saia kurangin deh huruf 'r' nya. Arigato uda ngripiu~. Gomen apdetnya lama~.

2. Miki Abaddonia Lucifen

Miku-chan~. Makasi uda ripiu. Kenapa Lenny ga sms? Hmm, nanya ajah sama Lenny *di hajar Miki*. Ahahaha.. Saia ga mikir sampe situ *cth author bodo*. Anggep ajalah kalo smua sms Len bisa di sadap oleh Mirima *waw*. Hehe.. Gomen lama apdet~.

3. Kuro 'Kumi' Mikan

Kuro-chan~. Iya nii ada sequelnya~. Hmm, Miku keanya bakal keluar di chapter 3 tapi gak banyak pengaruhnya sama inti fict ini~. Ini apdet~.

4. khiikikurohoshi

Makasi uda ripiu~. Hahaha, Saia juga keseringan terbawa suasana. Hmm, Lenny.. Ada yang marain kamu tuh.. *nunjuk Len yg lagi baca skrip*. (Len : "Huwaa.. Ini bukan salah akyuh! Akyuh cuma ngikutin skripsi GaJe dari author. Tapi kalo yg asli aku pasti gak akan jauhin Rin apapun yg tejadi. Ak-.."*dibekep author*. Rin : "..." *masang muka datar*.) Chara di larang banyak bacot. Btw, ini apdet~. Gomen lama banget~.

5. Karin Miyuki gak login

Makasi uda ripiu~. Len nyakitin Rin? Emang tuh. (Len : "... cuma pengen bilang beberapa kata. ...Ini. Kenyataannya aku ga bakalan ninggalin Ri-.." *di gebukin author*. Rin : "Dua orang bodoh..." *geleng-geleng*.)

Hmm, Miriam ya? Aa.. Gomen Saia seenak jidatnya nambahin nama Miriam. Tapi di chap ini uda di perbaiki. Arigato pemberitahuannya~. Ini apdet~.

6. vocaloidreader

A-Ahaha.. Makasi uda ripiu~. Iyaa nih di buat lanjutan(sequel)nya~.

7. Ryu Kago

Ryu-san~. Saia panggil gitu ajah ya... Saia ga tau Ryu-san cewe ato cowo sih.. Gomen~. Nani? Lenny ga cocok jadi kapten tim basket? Salahin Len karena dia pendek. (Len : Maksud loe? Gue in-.." *di buang kelaut*.) Ahaha.. Gomen deh kalo kurang memuaskan. Tapi anggep ajah laa Lenny tinggi. Itu yg di sebut OOC mungkin? Overall Saia masih banyak ga tau soal istilah di fanfiction. Makasi uda ripiu~. Saia akan berusaha lebih bagus lagi~.

###


Hmm, makasi banyak bagi uda yang ngeripiu dan ngasi saran~. Gomen kalo lama apdet. Yosh, langung ajah...

Go~

.

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha & Crypton Corp.

Warning : Typo(s). Alur kecepetan. Dan silahkan pikirkan sendiri.

.

I Believe You!

Chapter 2

Ga suka? Ga usah baca!

.

.

.

Len PoV

Tuk Tuk Tuk

Aku sedang men-dribble bola basketku. Sekarang gedung latihan ini sepi. Bel masuk sudah berbunyi beberapa menit yang lalu dan para murid sudah kembali ke kelas masing-masing.

Piko dan Leon sedang pergi. Mereka bilang ada urusan sebentar. Rin dan Mikuo tadi pergi makan dengan Teto dan belum kembali. Miriam? Dia sudah kembali ke kelasnya.

Argh! Aku bosan. Aku hanya berdiri di tengah lapangan menghadap ke arah ring. Seperti orang bodoh saja.

BRUGH!

Apaan tuh? Aku menoleh ke arah samping. Tepatnya jalan masuk ke gedung ini. Seseorang sedang teduduk disana. Belum sempat aku menghampirinya, sepertinya dia sudah jatuh pingsan.

Tunggu. Pita putih besar? Rambut berwarna honey blonde? Kaos basket? Itu ... Rin?

Aku segera berlari ke arah orang yang kuyakini adalah Rin.

"Rin!" panggilku sambil mengguncang sedikit tubuhnya. Panas. Dan tidak ada jawaban.

Aku segera menggendong Rin dan berlari menuju arah UKS putri. Muka Rin terlihat sangat pucat.

BRAAK!

Aku membuka pintu UKS putri dengan cara menendang pintunya. Seorang Sensei perempuan yang memang ditugaskan disitu terlihat kaget.

Aku berlari ke arah ranjang yang tersedia dan meletakkan tubuh Rin disana. Mukanya masih sangat pucat.

"T-Tolong keluar sebentar." ucap Sensei itu tiba-tiba. Awalnya aku ingin menolak. Tapi akhirnya aku berjalan keluar.

Apa yang terjadi? Apakah ini perbuatan Miriam? Argh! Aku meremas rambutku sendiri.

Kenapa...Rin bisa pingsan? Apa...ini karena aku?

Beberapa lama kemudian Sensei itu keluar.

"Dia hanya kelelahan dan kurang makan. Sebentar lagi dia juga akan sadar." jelas Sensei. Aku terdiam sebentar.

"E-Etto...Sensei. Boleh Saya masuk? S-Saya yang akan menjaga Rin." pintaku.

Sensei itu menggeleng. "Ti-..." "Saya mohon Sensei. Saya berjanji tidak akan melakukan apa-apa."kataku memotong ucapan Sensei tadi.

Sensei itu terdiam sebentar. "Baiklah. Akan kupanggilkan temannya lagi untuk menjaganya. Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian menjaga Naegino-san." kata Sensei itu sambil berjalan pergi. Tepatnya ke arah kelas Rin, mungkin? Siapa peduli.

Aku terdiam di depan pintu UKS putri. Meski tadi aku memaksa untuk masuk. Kalau aku masuk apa yang akan kukatakan pada Rin? Aku...takut Rin membenciku.

Kira-kira 5 menit. Seseorang datang.

"...Kagamine-san?" panggilnya. Aku menatap ke arahnya.

Rambut hijau lumut? Sebuah bandana merah yang diselipkan di rambutnya? Gelang berliontin huruf G&P? Di pinggang bagian kanannya terdapat sebuah tas kecil yang berisikan kartu ... Tarot? Aku mengenalnya.

Megpoid Gumi-san. Murid perempuan yang sekelas dengan Rin. Dia banyak dikenal karena dapat membaca pikiran orang dan dapat meramal. Meski aku belum pernah di ramal olehnya sama sekali. Dan aku juga kurang mempercayai ramalan.

Gumi tiba-tiba menutup matanya. Lalu membukanya kembali. Apa yang dia lakukan? Meramal lagi?

"...Masuklah. Aku akan tunggu disini. Selesaikan urusanmu dengan Rin. Percayalah bahwa kau dapat melindungi Rin dari bahaya apapun. Maka semuanya akan baik-baik saja." katanya.

Hah? D-Dari mana dia tahu?

"Kau lupa? Aku seorang peramal." katanya tiba-tiba. Dia menatapku dengan senyum kemenangan.

"Dan kau, Kagamine Len. Orang yang tidak mempercayai ramalan. Seorang pengecut yang tidak dapat melindungi kekasihmu sendiri. Kau memilih jalan yang salah. Kekasihmu akan menjadi sedih jika kau meninggalkannya. Dan ... Hubungan kalian akan hancur. Jika kau masuk dan selesaikan urusanmu. Semuanya akan baik-baik saja." katanya lagi dengan menekankan kata 'pengecut'.

Aku terdiam sebentar. Beberapa saat kemudian aku mengangguk. Betapa bodohnya aku. Seharusnya aku melindungi Rin. Jika Rin sedih. Sama saja dia terluka.

"Aku akan menunggu disini. Aku harap kau tidak melakukan kesalahan. Karena ini kesempatan terakhirmu." katanya.

Aku membalikkan badanku. Menghadap ke arah pintu UKS.

"Sekarang atau tidak sama sekali." ucap Gumi tiba-tiba. "Arigatou. Gumi-san." kataku lalu membuka pintu UKS putri.

Kulihat ke arah Rin yang sedang tertidur di atas ranjang. Aku mengambil sebuah kursi dan duduk di samping kasur Rin.

Pita putih yang biasanya digunakan oleh Rin dilepas. Meski masih tampak manis.

Aku menggenggam tangan Rin. Rin, pepatlah sadar. Ada yang ingin kukatakan. Aku hanya diam sambil menggenggam tangan Rin. Sesekali aku mengusap kepala Rin.

"Ugh.." Rin mengguman pelan. Dia sudah sadar.

"Rin.." panggiku pelan. Rin membuka matanya. Setelah beberapa kali dia mengerjapkan matanya. Dia menoleh ke arahku.

"Len...?" gumamnya pelan. "I-Iya?" jawabku. "Len...LEN!" teriaknya tiba-tiba sambil mengubah posisinya menjadi duduk dan menarik tangannya dari genggamanku.

"Rin.." panggilku pelan. Rin hanya diam.

"Rin.. Tatap aku sebentar." pintaku. Aku beranjak dari kursiku dan duduk disamping Rin. Rin masih diam dan menghadap ke arah lain. Belum mau menatapku.

"Hiks... Kenapa?... Kenapa Len begitu padaku?" gumamnya pelan. Aku mengubah posisiku menjadi duduk di depan Rin.

"Rin... Apa...Kau masih mencintaiku? M-Maksudku.. Setelah aku menjauhimu, tidak membalas e-mailmu, mencuekkanmu. D-Dan yang lainnya." tanyaku pelan.

Rin masih diam dan menunduk. Tapi aku tau. Rin mendengarkanku. Aku menggenggam pelan tangan Rin.

"Rin... Aku minta maaf. T-Tapi.. Sejujurnya aku masih mencintaimu. Aku...menjauhimu karena terpaksa." jelasku.

Aku menceritakan semua yang terjadi antara aku dan Miriam. Semuanya. Tidak ada satupun yang dilewatkan.

"...Bo..hong..." Rin menggumam pelan.

"Tatap aku." kataku. Rin masih diam. Akhirnya aku memegang dagunya. Memaksa kepalanya untuk terangkat dan menatap mataku.

"Percaya?" tanyaku. Beberapa detik kemudian Rin sudah berada di pelukanku.

"Huwaaa! Kukira Len benci padaku. Kukira Len marah padaku. Hiks.. Syukurlah kalau tidak. Hiks.. Aku juga .. Hiks.. Aku juga masih menyukai Len." kata Rin. Dia membenamkan kepalanya di dadaku sambil menangis.

"Ahahaha.. Aku kira aku yang akan dibenci sama Rin." kataku sedikit tetawa. Syukurlah Rin tidak membenciku.

Aku memeluk Rin erat. Sedikit mencium puncak kepalanya. Jujur, aku rindu dengan Rin. Seperti sudah berabad-abad aku tidak bertemu dengan Rin.

Normal PoV

TENG TENG TENG

Bunyi bel pulang sekolah.

Tanpa di ketahui Len dan Rin. Diluar UKS. Gumi bersandar pada pintu UKS tersebut.

Gumi hanya menatap nanar sebuah kartu tarot yang berada di genggamannya.

"Ini..belum selesai." gumamnya pelan kemudian berjalan pergi.

Di lain tempat. Tepatnya di luar jendela UKS. Tanpa diketahui oleh Len dan Rin juga. Seorang gadis berambut putih menyeringai.

"Akan aku lenyapkan semua orang yang menghalangiku untuk mendapatkan apa yang ku inginkan. Termasuk dirimu. Naegino Rin-san. Kau...tidak akan ku ampuni." gumam gadis itu. Miriam. Kemudian Miriam berjalan pergi.


Gumi berjalan kembali ke kelasnya. Begitu juga Miriam.

Mereka berdua melewati sebuah koridor yang sama. Tetapi dari arah yang berbeda.

Gumi berhenti. Miriam juga berhenti. Mereka saling melempar tatapan tajam. Jarak di antara mereka hanya 2 setengah meter.

"Gumi-san? Huh?" Miriam membuka mulut. Hanya untuk mengucapkan beberapa patah kata tersebut.

"Kau tidak akan bisa mengganggu mereka lagi. Miriam-san. Kami-sama akan melindungi mereka. Akupun .. Tidak akan menyerahkan mereka padamu." ucap Gumi datar tapi terasa sangat tajam.

"Hahaha. Tidak ada yang bisa menghalangiku, Gumi-san. Akan kusingkirkan perempuan yang merebut Len dariku. Sama seperti ... Aku menyingkirkan ... Prima." kata Miriam sambil berlalu pergi.

Mata Gumi terbelalak. Teringat kejadian 2 tahun yang lalu.

Flashback : On (Normal PoV)

"Pergi kau! Cewe aneh!"

"Dasar peramal gadungan!"

Terlihat beberapa murid menyoraki seorang anak berambut hijau lumut. Yang kita ketahui adalah Gumi. Megpoid Gumi.

Gumi hanya diam sambil menunduk dan meremas beberapa kartu tarot di genggamannya.

Baru saja Gumi mau membuka mulut untuk membela dirinya. Seorang gadis berambut merah rossela sudah mendahuluinya.

"Hei kalian. Kenapa kalian memarahi Gumi? Memangnya dia pernah memaksa kalian untuk mempercayai ramanalannya? Tidak pernah 'kan? Lantas, kenapa kalian mengganggunya?" ucap gadis itu. Semuanya terdiam.

"Sudahlah. Biarkan saja dia."

"Kita pergi saja. Yang penting jauhi mereka."

Bisik para murid tadi sambil bubar.

"Huft~. Para pengecut. Nah, kau tidak apa-apa? Gumi?" tanya gadis itu sambil menoleh ke arah Gumi yang masih terisak di belakangnya.

"A-Aku tidak apa-apa. T-Terima kasih." jawab Gumi. Gumi melihat ke arah gadis berambut rossela itu. Bahkan Gumi tidak mengenalnya.

"Oh iya. Perkenalkan! Namaku Prima. Murid pindahan baru di kelas 6e. Salam kenal! Tapi meski aku ini anak baru, aku sudah mengetahui banyak tentang sekolah ini. Termasuk para muridnya." ucap gadis berambut rossela itu-Prima.

"A-Ah iya. S-Salam kenal juga. Prima-san!" kata Gumi.

"Umm.. Panggil saja Prima~! Oh ya, kejadian yang tadi jangan dimasukkan kedalam hati ya! Mungkin mereka hanya iri pada kemampuanmu." kata Prima sambil menepuk pundak Gumi.

"I-Iya." jawab Gumi.

Sejak hari itu. Gumi dan Prima selalu bersama. Meski banyak yang mengatai Gumi. Prima selalu ada untuk membela Gumi. Hal itu membuat Gumi bisa merasakan indahnya mempunyai sahabat. Meski hanya seorang. Tapi itu sudah sangat cukup. Bahkan lebih untuk Gumi.

Sampai suatu hari. Mereka harus berpisah. Karena suatu hal.

"Nee.. Gumi~. Boleh aku minta pendapatmu?" tanya Prima. Mereka sedang berada di halaman belakang gedung sekolah. Sebentar lagi mereka akan menerima kelulusan.

"Biar kutebak. Kau pasti ingin menyatakan perasaanmu hari ini. Iya 'kan?" tanya Gumi kembali sambil menatap Prima yang mukanya sudah merah seperti warna jepit rambut yang dia pakai. Mawar merah.

Prima terdiam sebentar. "Gumi-chan hebaaaat~." teriak Prima tiba-tiba sambil memeluk Gumi. Melupakan pertanyaan Gumi tadi.

"Hahaha. Aku hanya menebak saja kok." jawab Gumi. "Hmph! Tapi Gumi memang hebat kalau soal meramal." kata Prima.

Gumi terdiam sebentar. Memang, sejak bertemu Prima. Gumi menghentikan ramalannya dan berusaha untuk tidak meramal lagi. Tapi, kenyataannya dia masih suka membaca pikiran orang.

Gumi berhenti meramal karena Prima. Bukan, Prima tidak memaksanya untuk berhenti meramal. Justru Prima mendukungnya.

Gumi berhenti meramal karena dia tidak ingin Prima dijauhi. Sejak dulu Gumi sangat di benci oleh anak lain. Tapi, hanya Prima'lah yang mau bereman dengan Gumi.

"Terserah padamu saja. Jadi? Kau ingin mengungkapkan perasaanmu pada Sora-senpai hari ini?" tanya Gumi lagi. Prima mengangguk pasti.

Sora-senpai. Anak dari Voca Gakuen kelas VIIa. Voca Gakuen terdiri dari Taman Kanak-kanak. Sekolah Dasar. SMP dan SMA. Gedung Sekolah Dasar dan SMP memang bersebelahan. Jadi para anak SD juga berinteraksi dengan anak SMP.

"Kau...tidak takut akan ditolak?" tanya Gumi. Prima menggeleng. "Aku... Meski di tolak. Yang penting aku telah mengungkapkan perasaanku. Setidaknya akan lebih lega." ucap Prima.

Tiba-tiba Gumi merasakan hawa yang tidak enak. Akan terjadi hal yang buruk. Tapi Gumi tidak mempeduilkannya. Gumi sudah tidak ingin meramal lagi.

"Terserah padamu. Yang pasti aku akan mendukungmu. Good luck ya~!" Gumi sedikit membei semangat.

"PARA MURID KELAS 6. HARAP BERKUMPUL DI AULA SEKARANG JUGA..." tiba-tiba megaphone sekolah berbunyi. Memanggil semua murid kelas 6.

"Ayo." Prima menarik tangan Gumi. Mereka pergi ke aula untuk siap-siap mengambil kelulusan mereka.

Pidato dari kepala sekolah sangatlah singkat. Sehingga mempercepat waktu.

"Sepertinya anak SMP sudah keluar.." gumam Prima pelan.

"G-Gumi... A-Aku akan menyatakan perasaanku sekarang. D-Doa'kan aku ya!" kata Prima. "Pasti! Semoga berhasil!" Gumi memberi dukungan. Setelah itu, Prima pergi. Tanpa di ikuti oleh Gumi. Karena Gumi mempunyai urusan sebentar.

Beberapa saat setelah Prima pergi. Gumi kembali kekelasnya. Untuk mengambil beberapa arsip dan tasnya. Setelah itu dia pergi untuk mencari Prima.

Setelah berkeliling cukup lama. Gumi menemukan Prima yang sedang bediri di halaman belakang gedung SMP dengan seseorang. Sora-senpai.

"Hihihi..." Gumi tekekeh sendiri. Melihat cara pernyataan cinta Prima. Di lain sisi Gumi senang. Karena Prima di terima oleh sang senpai. Tapi di lain sisi. Dia merasakan hawa yang tidak menyenangka. Gumi menoleh sekeliling. Pandangannya tetuju pada gedung di seberangnya. Seorang gadis berambut putih menatap Prima dengan tajam. Kemudian menghilang.

Gumi hanya berusaha untuk tenang dan berdoa semoga semuanya baik-baik saja.

Tapi takdir berkata lain. Beberapa jam setelah Prima dan Sora-senpai resmi menjalin hubungan.

Gumi dan Prima pulang bersama. Karena memang mereka selalu pulang bersama. Belum jauh dari sekolah. Saat mereka bedua menyebrangi jalan.

Sebuah mobil melaju kencang. Menuju ke arah mereka. Tepatnya Prima. Prima yang sigap langsung mendorong Gumi ke tepi jalan. Sedangkan dirinya tertabrak oleh mobil itu.

Saat itu jalanan memang ramai. Tapi mobil itu berhasil kabur. Samar-samar Gumi melihat gadis berambut putih di dalam mobil. Gadis yang Ia lihat di gedung sekolah tadi.

Gumi berlari kejalanan yang sudah semakin ramai karena tabrakan tadi.

Darah berceceran dari kepala Prima. Mulutnya mengeluarkan darah. Semerah warna jepit mawar yang dia gunakan.

Gumi berlutut di samping Prima. Memegang tangann Prima. "Prima! Prima! Bertahanlah! Seseorang! Cepat panggil ambulan!" teriak Gumi. Gumi sudah mengangis.

"..G-Gumi.. Uhuk.. A-Aku ..tidak akan lama lagi.. A-Aku ingin.. Kau menjadi peramal lagi.. dan...orang yang menabrakku..., tolong..jangan dendam padanya ya.. Itu permintaanku..uhuk.. Selamat tinggal.. Gumi-chan.. Aku... Akan selalu bersamamu..." kata-kata terakhir dari Prima. Setelah itu Prima menutup matanya. Gumi mengangis keras.

Pada saat pemakaman Prima. Banyak yang datang. Begitu juga dengan pacarnya. Mereka baru saja berpacaran tapi Prima sudah pergi.

Kasus penabrakan Prima tidak cari siapa pelakunya atas permintaan Prima sendiri. Gumi yang mengatakan itu pada pihak kepolisian.

Begitu juga dengan wanita berambut putih itu. Gumi sudah mengetahui nama wanita itu. Miriam. Murid Voca Gakuen kelas VIIa.

Sebenarnya Gumi ingin berteriak. Menyumpahi Miriam. Tapi Prima sudah minta agar Gumi tidak menaruh dendam tehadap Miriam. Meski begitu Gumi tidak bisa memaafkan Miriam.

Gumi melihat Miriam besama dengan Sora-senpai. Dari situ Gumi sudah tahu. Alasan Miriam membunuh Prima.

Miriam juga menyukai Sora-senpai. Dia membenci Prima karena menganggap Prima merebut Sora-senpai darinya. Karena itulah. Miriam membenci Prima.

Flashback : Off (Normal PoV)

Atas permintaan Prima juga lah. Gumi mulai meramal orang lagi. Meski masih sembunyi-sembunyi tapi banyak orang telah mulai berteman dengan Gumi dan mempercayai ramalan Gumi. Meski Gumi tidak pernah memberitau isi ramalannya secara langsung.

Setelah Miriam berjalan pergi. Gumi bejalan kembali kekelasnya. "Aku merindukanmu...Prima." gumam Gumi pelan.


~Di Lain Tempat (Len dan Rin)~


Di koridor menuju kelas 8 telihat 2 orang yang sedang berjalan bersama. Tangan mereka saling bertautan. Mereka adalah Rin dan Len.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi kira-kira setengah jam yang lalu. Tapi mereka baru kembali kekelas. Sekolah juga sudah mulai sepi.

"RIIN~! LEEN!" teriak sebuah suara di sertai suara larian menuju ke arah Len dan Rin dari belakang.

Len dan Rin menoleh kebelakang. Mendapat Teto yang berlari ke arah mereka.

"Teto?" gumam Rin. Teto yang sampai di depan mereka langsung ngos-ngosan.

"Rin! Kau dari mana saja sih? Tadi sensei yang menjaga UKS datang kekelas. Katanya kau masuk UKS. Padahal aku ingin pergi menemanimu. Tapi karena pekerjaanku belum selesai jadi aku tidak di bolehkan pergi. Lalu tadi pulang sekolah aku mencari ke UKS loh. Tidak ada orang. Jadi aku bekeliling sekolah untuk mencarimu. Ternyata disini toh. Nah, kau tidak apa-apa Rin? Mana yang sakit? Siapa suruh tadi tidak makan? Huftt, kau ini." celoteh Teto panjang lebar.

"Hehehe.. Gomen membuatmu khawatir Teto~. Tapi aku tidak apa-apa kok. Makasi uda khawatirin aku~.." ucap Rin sambil terkekeh karena sikap Teto yang sepeti ibu-ibu.

"Hmph! Ya sudah. Ini tasmu." kata Teto sambil menyerah tas Rin. "Arigato." bala Rin sambil mengambil tasnya.

"Umm, lalu dimana Mikuo?" tanya Len yang di kacangin dari tadi. "Hah?" Teto melongo sebentar.

.

.

.

"Uwaa! Mikuo kemana? Tadi dia besamaku! Lho? Lho? Kemana dia? Apa dia tetinggal?" Teto menjadi heboh sendiri. Yang Teto tau, dari tadi dia bersama Mikuo. Tapi entah mengapa setelah bertemu Rin. Mikuo menghilang.

Len dan Rin sama-sama terdiam. "Ash! Aku mau mencari Mikuo dulu! Kalian tunggu di depan gebang ya!" kata Teto sambil belari pergi.

"Apa boleh buat.. Kita tunggu mereka di depan gerbang saja." kata Len. Rin hanya mengangguk dan mereka pergi ke depan gerbang.

Beberapa lama kemudian Teto datang dengan Mikuo. Tenyata Teto berjalan terlalu cepat sehingga Mikuo tetinggal. Apalagi waktu itu sekolah masih ramai. Jadi Mikuo kehilangan jejak Teto.

"Naegino Rin-san!" teriak seorang gadis berambut ungu sebahu. Defoko, sekelas dengan Rin. Tepatnya ketua kelasnya Rin.

"Eh? Kalian duluan saja. Aku nanti menyusul." kata Rin. Len, Teto dan Mikuo hanya mengangguk.

Defoko segera menghampiri Rin. Memberitau apa saja yang harus di kerjakan. Karena tadi Rin sempat absen.

Sedangkan Len, Teto dan Mikuo sudah menyebrangi jalan dan membeli jajanan.

Setelah Rin selesai berurusan dengan Defoko. Rin lalu menyebrangi jalan. Ketempat Len, Teto dan Mikuo.

Baru saja Rin akan sampai di seberang. Sebuah mobil melaju kencang ke arah Rin.

"RIIIIN!" teriak Len.

Teto menjerit.

Mikuo terdiam.

Rin menoleh ke arah samping. Sebuah mobil melaju kencang. Rin hanya menutup matanya.

"Gumi-san!"

BRAK! BRUGH! TIIT!

Semua terjadi begitu cepat. Tapi...kenapa ada Gumi?

~To Be Continued~


Yeay TBC~! Hmm, sebenarnya mau buat chapter ini jadi chapter teakhir. Tapi yaah, masi panjang. Chap terakhir adalah chap 3. Brarti chap depan.

Pertama, gomen karena lama apdet. Sebenarnya fict ini akan di apdet 2 hari yang lalu. Tapi karena memory hape Saia ke format ulang. Semua datanya hilang. Temasuk document fanfic ini. Jadi butuh pengetikan ulang.

Saia juga kesusahan mencari para chara. Tapi Saia berhasil mendapatkan beberapa chara lagi~.

Kedua, pair PrimaxSora. Saia buat karena kekurangan chara cowo. Gomen bagi yang keberatan~.

Ketiga, warna rambutnya Prima. Saia pikir itu warna merah seperti warna bunga rossela. Tapi Saia juga pikir itu hitam-kemerah-merahan. Jadi, saia tulis ajah meah rossela. Maaf bagi yang keberatan.

Lalu, thanks banget buat temen Saia yang udah bantuin Saia cari chara, Nathania dan Viola~ (nama tidak di sensor).

Dan, yang udah bantuin nyari ide, Valensia~ (nama tidak di sensor juga).

Thanks banget~. Lope Yu All~.

Nah, akhir kata. Boleh Saia minta ripiu?