Summary : Apalagi yang akan dilakukan oleh Miriam?/Chap 3 apdet~.
Minna-saaaan! .. Hmm, gomen kalau apdetnya lamaaaaaa banget~. Karena untuk kesekian kalinya memory Saia ke format dan mood menulis Saia sedang hilang. Jadi gomeen ..
Nah, bales ripiu dulu yah ...
###
1. Hikarin Shii-Chii
Hikarin-cyaan~. Arigato uda ripiu~. Gomen nih kalo apdetnya lama banget. Hahaha, MC Saia emang sering rusak. Tapi yasudahlah~. Skali lagi, makasi uda ngeripiu dan gomen apdetnya lama~.
2. Ryu Kago
Ryu-kuun~! Arigato uda ngeripiu~. Hahaha, siip. Di chapter ini Saia uda ngecek ratusan, bahkan ribuan kali *lebay*. Semoga ga ada typo lagi deh. Ini apdet~. Gomen kalo lama~.
3. Miki Abaddonia Lucifen
Mikii-chaan~! Makasi uda nge-ripiu~..!. Hehehe. Siapa yang ketabrak? Baca ajah~. Hm? Sii Miriam emang awalnya mau bunuh Rin dngan cra yang sama. Tapi cara keduanya beda kok~. Saia akan usahain ga ada typo lagi~. Ini apdet. Gomen kalo lama banget.
4. Kuro 'Kumi' Mikan nga login
Kuro-nyan~. Makasi uda luangin waktu belajar Kuro buat baca fict inih~. Hahaha, Miriam emang resekk *di hajar Miriam*. Cinta monyet? Iya kali ya. Saia buat durasi umur mereka juga sepertinya terlalu kecil. Tapi yasudahlah *dihajar*. Daan.. Skali lagi, makasi uda mau nge-ripiu~. Gomen kalo lama apdet~.
5. vocaloidfreader
Hahaha, Gomen banget ya apdetnya lama bangeet. Banyak masalah sih. Tapi Saia akan usahain apdet cepet~. E-eh? M-Makasi ya~. Okeh, ini apdet~. Semoga memuaskan deh~.
###
Arigato bagi yang uda mau nge-ripiu. Sekali lagi, author sengklek ini minta maaf karena lama apdetnya. Ga banyak cing-cong lagi ...
Go~
.
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha & Crypton Corp.
Warning : Typo(s). Alur kecepatan. Dan lain-lain.
.
I Believe You!
Chapter 3
Ga suka? Ya udah! *dibakar*
.
.
.
Normal PoV
BRAK! BRUGH! TIIT!
Sebuah mobil berwarna hitam tanpa plat yang hampir menabrak Rin sedikit me-rem(?). Karena seorang murid berambut hijau lumut mendorong Rin ketepi jalan. Sehingga murid itulah yang tertabrak. Murid itu adalah Gumi.
Gumi terpental lumayan jauh. Kepalanya terbentur jalanan dan berdarah. Tangan dan kakinya terluka.
Sementara Rin terduduk lemas di tepi jalan. Kaki dan tangannya hanya lecet. Matanya berair. Beberapa lama kemudian dia menangis.
Len, dengan cepat berlari menghampiri Rin dan memeluknya. Teto dan Mikuo juga menghampiri Rin.
Len menenangkan Rin. Teto dan Mikuo hanya bisa diam. Teto sedikit menangis karena terlalu kaget tadi.
Sementara itu, di tengah jalan. Gumi terbangun. Dia langsung mengubah posisinya menjadi duduk dan memegangi kepalanya.
"Megpoid-san!" panggil seorang perawat. "Tolong jangan banyak bergerak dulu. Kepala Anda terluka." ucap perawat itu sambil membuka kotak P3K lalu mengobati luka Gumi.
Gumi berusaha melihat sekeliling. Dia mencari sebuah mobil hitam tanpa plat yang hampir menabrak Rin tadi. Meski dia sudah tau siapa yang hampir menarbak Rin itu. Siapa lagi kalau bukan Miriam?
Tapi tidak ada. Yang di lihat Gumi hanyalah beberapa mobil polisi, sebuah mobil ambulance dan keadaan yang ramai.
"Megpoid-san. Anda harus mendapat perawatan di rumah sakit. Kami harus memeriksa kepala Anda karena tadi kepala Anda terkena benturan." ucap perawat itu menyadarkan Gumi.
"B-Baiklah." jawab Gumi. Kemudian Ia berdiri dan berjalan ke arah mobil ambulance, di ikuti oleh perawat itu.
Mobil ambulance melaju dengan cepat di jalanan. Kepala Gumi semakin banyak mengeluarkan darah. Tapi Gumi berkata, dia tidak merasakan apa-apa.
Rin, Len, Teto dan Mikuo juga ikut dalam mobil itu.
"G-Gumi-san," panggil Rin. Gumi yang dari tadi berbaring di atas kasur menoleh ke arah Rin yang duduk di sampingnya. Di samping Rin ada Len, Teto dan Mikuo.
"Hm?" Gumi hanya berdehem kecil. "A-Ano. T-Terima kasih banyak sudah menolongku. T-Tapi, kenapa Gumi-san menolongku?" tanya Rin. Jujur, dia heran karena dia yang jarang dekat dengan Gumi. Di selamatkan oleh Gumi.
"Hmm. Kenapa ya? Ceritanya panjang. Lagipula, bukankah kita harus saling menolong." jawab Gumi sambil tersenyum ramah pada Rin.
Rin dan Teto agak kaget. Gumi yang jarang tersenyum ramah seperti itu. Tersenyum juga.
Setelah beberapa percakapan tadi. Mereka sampai di rumah sakit. Gumi langsung di rawat di UGD karena darah bercucuran banyak dari dahi kepalanya yang terluka.
Sedangkan Rin hanya di obati di bagian yang luka saja. Rin hanya terkena goresan ringan.
"Rin..." panggil Len tiba-tiba. Mereka sedang berada di depan kamar rawat Gumi. Teto dan Mikuo juga di situ.
"Iya?" jawab Rin. Len tiba-tiba memeluk Rin. "Maaf..." ucap Len.
"Eh? ... Len, aku tidak apa-apa kok. Tenang saja." jawab Rin pelan dan membalas pelukan Len.
Teto dan Mikuo hanya diam melihat mereka. Setelah beberapa lama, Rin dan Len melepas pelukannya. Baru Teto bicara.
"Rin, malam ini menginap di rumahku ya." kata Teto. "T-Tidak usah. Aku tidak apa-apa kok." tolak Rin. Rin hanya tidak ingin membawa sahabatnya ke dalam masalahnya.
"Rin, ini perintah. Bahaya kalau kau sendirian." kata Teto lagi. Rin hanya diam.
"Ta-" "Rin, aku ini sahabatmumu. Aku tidak akan membiarkanmu susah sendirian. Aku akan membantumu. Meski harus mengorbankan nyawaku." potong Teto sambil tersenyum.
"Arigato ... Teto." jawab Rin. "Menginap di rumahku saja ya." kata Rin lagi.
"Hmm, baiklah." kata Teto. "Aku ikut." kata Len. "Aku juga." Mikuo juga ikut.
"E-Eh? T-Tidak bisa." tolak Teto.
"Memangnya kenapa? Aku 'kan pacarnya." kata Len. "Justru karena kau pacarnya. Tidak boleh." kata Teto.
"Boleh,"
"Tidak,"
"Boleh,"
"Tidak,"
"Boleh,"
"Tidak,"
"Boleh,"
"HARAP MENJAGA KETENANG!" teriak seorang perawat yang kebetulan lewat di sana.
Teto dan Len hanya langsung diam.
"E-Etto, Len. A-Aku tidak apa-apa kok." kata Rin akhirnya. Len hanya menatap Rin dengan sedih.
"Nanti Rin kenapa-napa lagi..." gumam Len kecil. Raut mukanya tampat khawatir dan takut. Dia khawatir Rin kenapa-napa. Dia juga takut Rin kenapa-napa.
"Aku ikut. Jadi Kagamine-san dan Hatsune-san tidak perlu ikut." sebuah suara mengagetkan mereka.
Gumi berdiri di depan pintu rawatnya tadi dengan kepala di perban. Kaki dan tangannya di tempeli beberapa badge-aid.
"G-Gumi-san? K-Kau tidak apa-apa." tanya Rin sambil menghampiri Gumi. "Hahaha, aku tidak apa-apa kok, Rin." jawab Gumi.
"Aku tetap akan ikut." kata Len. "Aku akan ikut kalau Teto ikut." kata Mikuo.
"Tidak bisa. Laki-laki tidak di ijinkan ikut." kata Gumi. Len dan Mikuo tetap bersikeras untuk ikut.
Terjadilah adu mulut kedua antara Len dan Mikuo dengan Gumi.
"SEKALI KUBILANG TIDAK TETAP TIDAK! LAGIPULA MALAM INI TIDAK AKAN TERJADI APA-APA! JADI KALIAN BERDUA TIDAK PERLU IKUT." Gumi naik pitam.
Len dan Mikuo langsung kicep. "Rin~." Len memanggil Rin. Berharap Rin mengijinkannya untuk ikut.
"Teto~." demikian juga dengan Mikuo. Dia juga berharap Teto mengijinkannya.
Rin dan Teto saling menatap.
"Tidak." kata mereka berbarengan. Len dan Mikuo langsung pundung di pojokan.
"Tapi Rin. Nanti kenapa-napa gimana?" tanya Len. "Teto juga. Nanti kenapa-napa gimana?" Mikuo juga tidak kalah perhatian dengan pacarnya itu.
"Kami bisa menjaga diri masing-masing kok." kata Teto. "Nanti kalau ada apa-apa kami langsung beritahu deh." lanjut Rin. Len dan Mikuo hanya diam.
"U-Um, jadi R-Rin. B-Boleh aku ikut menginap?" tanya Gumi. Jujur, Gumi tidak dekat dengan siapa-siapa lagi setelah Prima meninggal. Jadi dia jarang menginap bersama temannya lagi.
"Tentu saja." jawab Rin. "T-Terima kasih." jawab Gumi.
"Baiklah, aku akan mengambil barangku dulu." Teto angkat bicara. "Setelah itu aku. Kita pergi sama-sama." lanjut Gumi.
Semua setuju, "Ayo,"
Setelah itu mereka pergi ke rumah Teto untuk mengambil beberapa barang. Lalu Gumi.
"Nah, sudah sampai." kata Rin sambil membuka pintu rumahnya.
"Kalian pulanglah. Ini juga sudah malam." kata Rin sambil sedikit mengusir Len dan Mikuo.
"Kami tidak boleh singgah sebentar nih?" Len mengerucutkan mulutnya karena lansung di suruh pulang.
"Aku mau numpang kamar mandi sebentar, boleh?" Mikuo berusaha mencari alasan.
"Huft... Iya deh. Ayo masuk." kata Rin mempersilahkan mereka masuk. Mereka semua masuk ke dalam rumah Rin dan mengobrol.
Kira-kira jam 7, Len dan Mikuo di paksa pulang.
"Kalau ada apa-apa wajib telepon," kata Len.
"Harus langsung beritahu kami," lanjut Mikuo.
Mereka sedang berdiri di depan pintu rumah Rin.
"Jangan lupa makan,"
"Jangan lupa minum,"
"Jaga diri,"
"Jangan lupa kunci pintu, jendela dan lainnya,"
"Ja-" "Iya kami tahu." potong Rin dan Teto.
"Ya sudah. Hati-hati ya! Ingat kalau ada apa-apa, langsung beritau kami!" ucap Len.
"Iya-iya." Setelah itu, Len dan Mikuo langsung pulang.
Rin, Teto dan Gumi kembali ke kamar Rin.
"Hmm, Miriam ya yang hampir menabrak Rin tadi? Awas saja besok. Ku habisi dia!" Teto memulai celoteh panjang lebarnya.
"Hahaha, tapi kita harus cari tau dulu'kan? Polisi juga sedang mencari tau siapa yang hampir menabrakku tadi." ucap Rin.
Gumi hanya diam termenung. 'Dia mencelakai Rin dengan cara yang sama juga.' batinnya.
"Oh ya, Gumi. Lusa kami ada acara tanding basket. Kau mau datang?" tanya Rin tiba-tiba.
Gumi terdiam. Mukanya agak memerah. Jujur, dia merasa ... Senang.
"A-Ah, I-Iya. Aku akan datang." jawabnya sambil tersenyum. Rin dan Teto hanya membalasnya dengan senyum. Setelah itu, mereka mengobrol sampai tertidur.
Dengan Len dan Mikuo yang selalu meng-email Rin dan Teto tentunya.
(Keesokan harinya ...)
Len dan Mikuo pergi kerumah Rin untuk menjemput ketiga gadis itu. Lalu mereka berangkat sekolah sama-sama.
Ketika sampai di sekolah. Raut wajah Len berubah menjadi ... marah? Aura di sekeliling Len juga berubah. Menjadi ... Aura yang sangat tidak enak.
"L-Len, k-kau kenapa?" Rin mulai ketakutan melihat Len yang berubah seperti itu.
"Hm? Aku tidak apa-apa kok. Hmm, aku duluan ya." kata Len. Saat dia berbicara dengan Rin, auranya menjadi lembut.
Tapi itu hanya sebentar saja. Kemudian Len berjalan pergi.
"Emm.. Aku pergi sebentar ya. Sampai jumpa!" ucap Gumi lalu berlari meninggalkan Rin, Teto dan Mikuo.
Rin, Teto dan Mikuo saling menatap.
"Ayo kita susul Len." mereka bertiga lalu mencari Len yang keburu hilang jejaknya.
"Mungkin dia sudah ada di kelas." kata Mikuo. Mereka bertiga lalu berjalan ke kelasnya Len (dan Mikuo).
BRAK
Mikuo membuka pintu kelas tersebut dan mencari Len. Hasilnya nihil.
"Apa Len ada disini?" tanya Mikuo dengan suara yang lantang kepada isi kelas tersebut.
Semuanya menggeleng. Mikuo menutup pintunya kembali dan menghadap ke arah Rin dan Teto yang daritadi berdiri di belakangnya.
"KYAA!"
"PANGGIL BANTUAN!"
"HENTIKAN SEMUA INI!"
Mikuo, Rin dan Teto terdiam. Sekejap saja, sekolah menjadi rusuh.
Banyak murid yang berlarian di lorong. Mikuo menarik seorang anak laki-laki yang kebetulan lewat.
"Maaf, tapi apa yang sedang terjadi?" tanya Mikuo. "K-Kagamine-san. Dia memukuli seorang murid perempuan di halaman sekolah." jawab anak laki-laki itu.
"Maksudmu ... Kagamine Len?" tanya Mikuo lagi. Memastikan sesuatu. Anak laki-laki itu mengangguk mantap.
"Ayo!" Mikuo, Rin dan Teto berlari ke arah halaman sekolah.
"KAGAMINE-SAN! HENTIKAN SEMUA INI!" teriak seorang bapak-bapak yang memakai baju dinas. Bisa di sebut bapak-bapak itu adalah kepala sekolah.
Len tetap tidak menghentikan kegiatannya. Memukul Miriam.
"LEN! HENTIKAN SEMUA INI!" sebuah suara teriakan terdengar. Dan Len mengenali suara itu. Len berhenti memukuli Miriam dan menoleh ke arah suara tersebut.
Rin yang berdiri ketakutan melihat Len. "R-Rin...," gumam Len pelan. Dia melepas genggamannya dari kerah baju Miriam.
"L-Len..., hentikan ini. Aku mohon..." Rin meminta Len untuk berhenti memukuli Miriam.
"Hahaha, kenapa berhenti, hah?" Miriam berbisik. Dan hanya terdengar oleh Len. Len kembali menatap Mirriam dengan tajam.
"Kagamine Len-san! Harap ikut Saya ke ruang Saya!" bentak kepala sekolah mereka. Len hanya menunduk kemudian berjalan mengikuti kepala sekolah.
Para murid yang berada di situ bubar. Miriam di bawa ke UKS. Sementara Rin, Teto dan Mikuo hanya diam di tempat.
"J-Jadi...?" Teto memulai pembicaraan. Rin terdiam. Mikuo juga masih diam.
"Kita kembali ke kelas saja dulu. Pelajaran sudah dimulai. Nanti istirahat, baru kita bicarakan lagi." usul Mikuo. Teto dan Rin hanya mengangguk dan kembali ke kelas mereka. Begitu juga dengan Mikuo.
Len PoV
"Bersyukurlah karena besok kau akan mengikuti pertandingan basket. Makanya aku tidak menghukummu." ucap seorang bapak-bapak botak di depanku.
Aku hanya menatapnya dengan kesal. "Kenapa aku di hukum? Jelas-jelas kemarin Miriamlah yang mau menabrak Rin!" bentakku.
"Apa buktimu?" tanya bapak itu lagi. Aku hanya terdiam. Bagaimana cara membuktikan bahwa Miriamlah yang menabrak Rin?
"Sekarang, kembali latihan. Pertandingannya besok. Soal hukumanmu, aku akan pikirkan itu nanti. Saya harap kau tidak membuat kekacauan lagi. Kagamine-san." kata bapak itu. Aku hanya mendengus kesal kemudian berjalan ke luar.
Sial... Kau tanya apa yang terjadi?
Tadi setelah aku berpisah dengan Rin, Mikuo dan Teto. Aku mencari Miriam. Menanyakan apa yang dia mau.
Tapi dia menjawab dengan angkuh. Dia mengejek Rin. Mengatakan yang buruk-buruk tentang Rin. Akhirnya karena aku marah. Aku memukulnya.
Kepala sekolah tidak mempercayaiku kalau Miriamlah yang mau menabrak Rin. Memang aku tidak punya bukti sih.
Tapi Miriam sendiri yang mengakuinya. Dia hanya bilang bahwa dia yang menabrak Rin kepadaku. Dan mungkin kepada kedua pengikutnya juga.
Tapi setelah aku menuduhnya di depan umum. Dia membantah, dia ber-akting seolah-olah dia memang tidak melakukan hal itu. Dasar licik.
Sekarang aku berjalan ke arah kelasku. Untuk memanggil Mikuo dan Leon untuk latihan tentunya.
BRAK
Aku membuka pintu kelas agak kasar. Kulihat ke dalam. Semua melihatku. Tidak ada guru.
Aku memberi isyarat kepada Mikuo dan Leon untuk latihan. Setelah itu aku berjalan pergi.
"Len, tunggu!" teriak Mikuo dari belakang. "Bagaimana?" tanyanya sambil memegang pundakku dari belakang.
"Ceritanya panjang." jawabku malas. Setelah itu aku menyuruh Leon untuk memanggil Piko. Sedangkan aku dan Mikuo memanggil Rin.
BRAAK
Aku membuka pintu kelas Rin. Mikuo masuk dan meminta ijin pada guru yang sedang mengajar di situ untuk menyuruh Rin latihan. Guru tersebut memperbolehkan Rin untuk latihan.
Kami bertiga berjalan ke tempat lapangan basket dan mulai latihan. Selama latihan, aku, Mikuo dan Rin membicarakan tentang ... Miriam.
Beberapa lama kemudian. Jam istirahat. Kami pun ikut istirahat. Seperti kemarin, Teto datang mengajak kami istirahat bersama. Tapi kali ini ... Gumi juga ikut.
"Ke kantin yuk~!" kami semua setuju dan pergi jajan di kantin. Kemudian duduk di meja yang kosong.
"Nanti pulang mau jalan-jalan? Untuk refreshing sedikit..." usul Teto.
"Iya," jawab Rin. "Aku ikut Rin." jawabku.
"Baiklah," jawab Mikuo. Semua menoleh ke arah Gumi. Termasuk aku.
"Apa?" tanya Gumi yang merasa heran karena di lihat seperti itu. "Gumi mau ikut atau tidak?" tanya Teto.
"E-Eh...? I-Iya." jawab Gumi.
"... Tunggu. Nanti bukannya ada les?"tanya Rin kepadaku dan Mikuo. Aku dan Mikuo terdiam.
"Kita pulang sebelum les. Bagaimana?" tanyaku. Rin dan Mikuo setuju.
"Baiklah, sudah di putuskan." ucap Teto.
'Apa yang akan terjadi nanti?'
~To Be Continued~
Okeh, ga sesuai perkiraan. Dimana Saia mengatakan bahwa fict ini akan tamat dalam 3 chapter. Tapi kenyataannya belum. Gomen atas perkiraan yang salah itu. ... Dan perasaan cerita ini makin lama makin GaJe deh. Tapi .. Semoga minna-san suka deh~!
Aaa ... Ga banyak bacot lagi. Sekali lagi Saia minta maaf karena lama apdet. Dan ... Ripiu?
