Summary : Cinta mereka masih polos. Telalu polos./Finish chapter~!/Summary ga nyambung./Bacalah warning yang ada./RnR?
Author's Teritorial
Kata-kata yang mau di sampaikan untuk para readers ada di bagian paling bawah. Jadi... Langsung aja deh...
Go~
.
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha & Crypton Corp.
Warning : Typo(s). Alur kecepatan. Kissing Scene. Dan lain-lain.
.
I Believe You!
Chapter 4
Ga suka? Ya udah! *dibakar*
.
.
.
Normal PoV
"Baiklah, sudah diputuskan." ucap Teto.
TENG TENG TENG
Bel berbunyi pertanda istirahat selesai.
Semua kembali ke kelas kecuali Len, Rin dan Mikuo.
"Nanti pulang kami akan tunggu di gerbangn sekolah ya. Jaa~!" kata Teto dan langsung menarik Gumi kembali ke kelas.
~Skip [Pulang Sekolah]~
"Rin! Mikuo! Len!" teriak Teto yang berada di depan gerbang sekolah sambil melambaikan tangannya kepada ke tiga sahabatnya. Di sampingnya, Gumi hanya berdiri sambil tersenyum.
"Ayo~!" sepertinya Teto yang paling bersemangat pada hari ini.
"Jadi, mau kemana dulu?" tanya Rin. Mereka sudah di luar gerbang sekolah.
"Mau pergi makan dulu?" tanya Mikuo. Akhirnya mereka pergi ke cafe untuk makan.
Setelah itu, tidak banyak yang mereka lakukan. Sampai sekitar jam 4 lewat. Mikuo mengantar Teto pulang, Gumi dijemput oleh supir pribadinya, dan Len mengantar Rin.
.
.
.
"Sampai jumpa Teto, Gumi!" teriak Rin sambil melambaikan tangannya pada Teto dan Gumi. Dan hanya di balas sebuah senyuman oleh Gumi dan beberapa ocehan dari Teto.
"Aku antar sampai rumah ya." kata Len. Rin hanya mengangguk mantap dan berjalan di samping Len.
Selama perjalanan, mereka hanya diam. Tapi Len menggenggam erat tangan Rin. Begitu juga sebaliknya.
Sesampainya di rumah Rin. Len di persilahkan masuk dan menunggu di ruang tengah.
Sementara Rin pergi ke kamarnya untuk mengemasi barang lesnya.
"Selesai~." ucap Rin yang menuruni tangga dengan memikul sebuah tas ransel. Len hanya menoleh ke arah Rin dan tersenyum lalu mematikan TV yang ditontonnya sambil menunggu Rin tadi.
"Sini bentar deh..." ucap Len sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya. Mengisyaratkan agar Rin duduk di sebelahnya.
"Kenapa?" tanya Rin sambil duduk di samping Len.
"Gak..." jawab Len sambil berbaring di pangkuan Rin lalu menutup matanya. "L-Len... K-Kau ke-kenapa?" muka Rin memerah.
Len menggeleng pelan. "Bentar aja..." gumam Len. Rin hanya diam sambil mengusap kepala Len yang kini berada di pangkuannya.
"Nyaman..." gumam Len pelan. Tapi masih bisa didengar oleh Rin.
"Dasar..." Rin mencibir pelan. Len hanya terkekeh kemudian melihat ke arah Rin. Rin sendiri hanya menunduk agar bisa melihat Len.
"Aku sayang sama Rin!" ucap Len sambil tersenyum polos. "Aku juga." jawab Rin.
Len mengubah posisinya menjadi duduk dan memeluk Rin dari depan.
Rin sendiri hanya memeluk Len kembali. Membenamkan kepalanya di dada bidang Len.
"Aku sangat-sangat-sangaaaat mencintai Rin..." bisik Len pelan. Rin tertawa kecil.
"Aku juga. Aku juga sangat mencintai Len..." jawab Rin.
Len menatap Rin. Mereka tersenyum. Beberapa saat kemudian, bibir Len sudah menempel dengan bibir Rin.
1 menit...
2 menit...
Rin tiba-tiba menarik kepalanya sendiri. Menyebabkan mereka berhenti berciuman.
"Apa apa?" tanya Len. Rin hanya mengisyaratkan agar Len melihat jam. 30 menit lagi mereka harus pergi les.
Len menggerutu. "Nanti pulang, lanjutin lagi ya..." Len berbisik pelan di telinga Rin.
"L-Len!"
Len hanya tertawa. Sementara Rin menggumam tidak jelas.
"Kerumahku bentar ya! Aku mau ganti baju juga." kata Len tiba-tiba.
"Iya..." jawab Rin.
1
2
3
"Eh?" Rin heran sendiri. "K-Kerumah Len...?" Rin menggumam pelan.
"Iya." jawab Len. "Kenapa?" lanjut Len.
Rin hanya menggeleng. "Yakin?" len kembali bertanya. Memastikan bahwa kekasihnya ini baik-baik saja.
"Iya." jawab Rin kemudian berdiri. Akhirnya, mereka berdua menuju rumah Len.
"Hah...?" di depan pintu kediaman Kagamine. Seorang gadis berambut kuning emas yang diikat ke samping melongo kepada dua orang yang berada di depannya.
"Len-nii... Bawa cewe ke rumah. Len-nii bawa cewe ke rumah... Len-nii bawa cewe ke rumah..." gadis itu menggumam sendiri.
"HAH? LEN-NII BAWA CEWE KE RUMAH! KAA-SAAN! TOU-SAAN! LEN-NII NGEHAMILIN ANAK ORANG! O-MAI-GOOOOOT!" teriaknya kemudian.
PRANG! BRAKK! MEOW(?)!
Terdengar bunyi berisik dari dalam rumah tersebut.
"HAH? LEN! BETULKAH ITU? KAPAN LAHIRNYA?"
"LEEEEN! ANAK MAMI UDAH BESAAAAR!"
"WOY! SLOW DIKIT NAPA? Heh, lo! Neru! Jangan seenak jidat lo kalo ngomong. Terus, Kaa-san sama Tou-san lebay banget tau... Len emang bawa pacar Len. Tapi Len belum ngapa-ngapain kok." Len mencibir.
Sementara Neru dan Len sedang adu mulut. Orang tua Len sedang menangis bahagia. Rin hanya cengo dengan muka merah.
"Nak, siapa namamu?" tanya Kaa-san Len pada Rin yang sedang ber-blushing-ria.
"E-Eh? N-Naegino Rin..." jawab Rin.
"NYEH! Kakak ipar gue imuuuut bangeeet~!" teriak Neru tiba-tiba. Akhirnya mendapat tendangan dari kakaknya tersayang.
Sementara Len dan Neru ribut. Kaa-san Len menyuruh Rin untuk masuk.
"Rin, tunggu bentar ya. Aku ambil barang dulu." kata Len. Rin hanya mengangguk.
"EH, CIEE! KAKAK GUE UDAH BESAR~!" teriak Neru lagi dari arah tangga menuju lantai atas.
DRAP DRAP DRAP
Akhirnya terjadi kejar-kejaran antara Kagamine bersaudara itu.
"Saudara yang akur ya~" ucap Kaa-san Len tiba-tiba.
'Akur...?' Rin membatin sendiri.
"Nah, nak. Betulkah kau pacarnya Len?" tanya Kaa-san Len pada Rin. Rin hanya mengangguk pelan.
"Sampai mana hubunganmu dengan Len? Apa Len sudah melakukan ini-itu padamu?" giliran Tou-san Len yang bertanya.
Belum sempat Rin menjawab.
"TOU-SAN! KAA-SAN! JANGAN NANYA YANG ANEH-ANEH SAMA RIN DONK! Ah, Rin. Aku sudah selesai. Ayo pergi. Bahaya kalau lama-lama disini." ucap Len yang tiba-tiba datang sambil menarik pelan Rin ke pintu depan.
Rin hanya diam dan pasrah saja ketika di tarik oleh Len. Meski Len menariknya dengan lembut.
"Kaa-san! Tou-san! Len pergi dulu ya!" teriak Len dari pintu depan.
"S-Saya permisi..." Rin sedikit membungkuk pada Kaa-san dan Tou-san Len.
"Rin-chan, ga usah terlalu formal gitu. Anggap aja orang tua sendiri. Ya..?" ucap Kaa-san Len. Rin hanya mengangguk pelan sambil ber-blushing.
"Tehee... Kakak ipar! Kapan-kapan main kesini lagi ya!" ucap Neru yang tiba-tiba muncul dari belakang Tou-san Len.
"Ahh.. Kalian berisik banget sih ... Ya sudah. Kami pergi dulu ya!" kata Len lagi.
"Sampai jumpa Rin-nee!" ucap Neru. Rin hanya membalas dengan senyuman kemudian berjalan mengikuti Len.
"Maaf ya Rin. Keluargaku ribut begitu..." ucap Len. Mereka sedang dalam perjalanan ke tempat les mereka.
"Hahaha... Gak apa-apa kok." jawab Rin. "Mamanya Len, Papanya Len, Neru-chan... Mereka sangat baik padaku..." lanjut Rin.
Len terdiam sebentar. Dia ingat, kalau selama ini. Rin tinggal sendiri.
"Kalau Rin kesepian. Datang aja ke rumahku. Rin boleh datang kapan aja kok. Meski tengah malam sekaligus. Kaa-san, Tou-san dan Neru juga sering menyuruhku agar membawa Rin kerumah." ucap Len.
"Lagipula nanti. Rin bakal tinggal sama aku kan..." lanjut Len.
Rin terdiam. Sibuk mencerna beberapa kata Len yang terakhir. "D-Dasar!" Rin memukul pelan lengan Len.
Rin tau yang di maksudkan oleh Len. Menikah.
Setelah beberapa lama berjalan. Mereka sampai di tempat les mereka. Ketika pulang, Rin di antar oleh Len.
~Skip[Pertandingan Basket]~
PRIIIT
Bunyi peluit. Pertanda pertandingan dimulai.
Para peserta mulai berlari untuk merebut bola basket dan memasukkannya ke ring lawan.
Pertandingan kali ini, SMP Voca melawan SMP Voice.
SMP Voca yang beranggotakan Len, Rin, Mikuo, Leon dan Piko berhasil mencetakkan sangat banyak skor.
Yah, SMP Voca memang terkenal dengan keahlian para siswa/siswi yang pandai bermain basket.
PRIIT
Babak pertama yang berlangsung selama 40 menit telah selesai. Dan para pemain mendapat waktu istirahat selama 10 menit.
Dengan skor SMP Voca 13 dan SMP Voice 11.
Namun, skor yang tidak beda jauh itu masih harus di khawatirkan oleh peserta dari SMP Voca. Karena masih tersisa 3 babak lagi.
"Yosh, meski masih ada 3 babak. Kita harus berusaha dan yakin kalau kita pasti menang!" seru Len selaku Leader kepada anggotanya.
"Yap!" semua menyahut dengan antusias. Saat pertandingan di lanjutkan lagi, para penonton, maupun dari SMP Voca ataupun SMP Voice, bersorak ria, saling menyemangati kelompok masing-masing.
Di antara kerumunan para penonton itu. Terlihat seorang gadis berambut kuning-putih pucat menggeram. Pandangannya tertuju kepada 2 orang. Yaitu seorang pemuda berambut blonde dan seorang gadis yang berambut honey blonde juga.
Ya, itu Mirriam.
Di lain sisi, tepatnya di tempat berkumpul para pemain cadangan, para manager dan pelatih SMP Voca.
Terlihat seorang gadis berambut merah magenta sedang berteriak menyoraki SMP Voca dengan sangat antusiasnya. Siapa lagi kalau bukan Kasane Teto, sang manager klub basket SMP Voca.
Di sampingnya, seorang gadis berambut hijau lumut, tepatnya Gumi. Hanya tersenyum melihat jalannya pertandingan tersebut. Sesekali dia melihat ke arah penonton. Tepatnya tempat Miriam duduk.
Pertandingan basket selama 40x4 menit itu akhirnya selesai. Dengan skor yang sangat meneganggkan. 70-68.
Dan tentu saja, SMP Voca'lah yang mendapat skor 70 tersebut.
Setelah sesi foto-foto(?). Mereka diperbolehkan untuk berganti baju. Rin pergi ke ruang ganti khusus wanita di temani oleh Teto dan Gumi.
Rin PoV
"Kita menang~.. Kita menang~.. Kita menang~..!" ucap Teto setengah bernyanyi. Sepertinya dia sangat gembira.
"Iya, Teto. Kita menang." timpal Gumi sambil tertawa kecil. Aku hanya tersenyum.
"Tunggu sebentar ya!" kataku sambil memasuki ruang ganti wanita.
"Iya... Eh, Rin. Kami pergi beli minum sebentar ya! Bentar aja kok!" kata Teto. Aku hanya mengangguk. Kemudian aku menutup pintu tersebut. Ruang gantinya sangat luas. Dan... Sepertinya anggota basket perempuan yang lain sudah selesai ganti.
Jadi sendiri deh... Agak menyeramkan juga sih.
Dengan cepat aku mengganti bajuku dan keluar.
TEK
K-Kenapa pintunya tidak bisa di buka?
Aku menggedor-gedor pintu tersebut. "Tolong..!" aku berteriak sekuat tenaga.
"Percuma saja kau berteriak minta tolong Rin... Kita... Akan mati bersama-sama disini..." sebuah suara mengagetkanku.
Aku menoleh ke asal suara tersebut. Seorang wanita berambut putih pucat.
"M...Miriam-san..?"
"Ya?" jawabnya.
"A-Apa yang kau lakukan? Keluarkan aku!" ucapku setengah berteriak.
"Hahaha.. Rin... Bukankah tadi sudah kubilang..? Kita akan mati bersama, di sini.." ucapnya sambil menyalakan sebuah korek api dan menjatuhkannya ke lantai.
Sekejap saja. Api sudah berada di mana-mana.
Len PoV
"Mereka lama sekali sih..." gumamku.
"Wanita memang lama, jadi tunggu saja." ucap orang di sebelahku. Mikuo.
Sekarang, aku dan Mikuo sedang berada di seberang gedung olah raga tadi. Tempat kami bertanding.
Rin, Teto dan Gumi berjanji akan menemui kami disini. Sebenarnya tadi sih aku ingin menunggu Rin langsung. Tapi Mikuo memaksaku untuk menemaninya membeli minum.
Kalau Rin kenapa-napa gimana...?
"KEBAKARAN! KEBAKARAN!" teriak beberapa orang. Aku langsung menoleh ke arah gedung olah raga tadi. Gumpalan asap berada di sekitar gedung tersebut.
Aku langsung berlari ke dalam gedung olah raga itu. Rin'kan masih di dalam..?
"RIN!" teriakku. Aku berada di sekitar areal ruang ganti wanita.
"Kyaa!"
"Diam!"
Terdengar suara teriakan Rin dari dalam sebuah ruangan yang kuyakini itu adalah ruang ganti wanita.
Normal PoV
"RIN!" teriak Len sambil menggedor-gedor pintu yang ada dihadapannya.
Api di gedung itu semakin membesar.
BRAKK
Pintu itu akhirnya terbuka. Len mendapati Miriam yang menginjak tangan Rin. Sedangkan Rin sedang menahan sakit sam
"Rin!" teriak Len lagi. Len berlari ke arah mereka. Kemudian melayangkan sebuah tinjuan ke arah Miriam. Len tidak peduli lagi bila dia memukul seorang wanita.
Karena Len sudah berjanji akan melindungi Rin dari siapapun.
Miriam terpental.
Len berlari ke arah Rin kemudian menggendongnya ala brydal style.
GREB
Len merasakan kakinya di pegang oleh sebuah tangan. Dia menoleh ke arah bawah, mendapati Miriam sedang menahan kakinya.
Dengan mudahnya, Len menendang tangan Miriam sehingga terlepas dari kakinya, kemudian Len segera berlari keluar. Keluar dari gedung yang terbakar itu. Meninggalkan Miriam.
Sesampainya Len di luar. Ia langsung berteriak meminta bantuan. Rin sendiri sudah bisa di pastikan kalau dia setengah pingsan.
"...M-Miriam... T-tolong ... Dia.." gumam Rin pelan. Len menatap Rin tidak percaya.
Len mendengus kesal.
"Masih ada satu orang lagi! Di ruang ganti wanita!" teriak Len asal. Namun bisa di dengan oleh para petugas pemadam kebakaran. Kemudian mereka melakukan usaha penyelamatan.
Rin sudah di masukkan ke dalam ambulans dan di bawa ke rumah sakit. Len tetap bersama Rin. Sementara Teto, Mikuo dan Gumi tidak tahu kemana.
.
.
.
"Tangan kirinya terkilir parah. Tapi masih bisa di sembuhkan. Anda jangan terlalu khawatir. Anda boleh menjenguknya sekarang." ucap seorang dokter kepada Len yang hampir 1 jam mondar-mandir di depan ruang rawat Rin.
"Terima kasih." jawab Len kemudian masuk ke dalam ruang rawat Rin.
"Rin..." panggil Len pelan. Yang dipanggil hanya diam dan masih menutup matanya. "Maaf..." gumamnya kemudian.
Setelah kira-kira 2 jam. Rin masih belum sadar.
BRAKK
"RIIIIIIIN!" teriak Teto sambil membanting pintu kamar rawat Rin.
Matanya sembab. Pertanda dia menangis.
"Sstt.." Len memberi isyarat untuk diam. Teto masih terisak kemudian berjalan mendekati Rin. Di susul oleh Mikuo dan Gumi di belakangnya.
"Rin... Bagaimana keadaannya?" tanya Teto pada Len.
"Kata dokter, tangan kirinya terkilir lumayan parah. Tapi masih bisa di sembuhkan." jawab Len.
Semuanya hening. Sibuk dalam pikiran masing-masing selama kurang-lebih setengah jam.
"Ungghh.." erang Rin pelan. Perlahan, iris aquanya terbuka.
Rin langsung menoleh ke arah samping, mendapati Len, Teto, Gumi dan Mikuo menatapnya khawatir.
Rin mengubah posisinya menjadi duduk di bantu oleh Len.
"Ini... Di mana?" gumam Rin pelan.
"Ini di rumah sakit... Bagaimana keadaanmu Rin?" jawab Teto dan kembali bertanya seraya duduk di samping Rin.
"Um..? Aku tidak apa-apa kok..." jawab Rin pelan.
"Yakin?"
"Iya,"
"Betulan?"
"Iyaaaaaa..."
"Meski kau bilang begitu, tetap aja kami khawatir..."
"Aku tidak apa-apa kok..."
"Lihat saja Len... Mukanya sudah tak karuan..."
Semua langsung menoleh ke arah Len yang diam daritadi. Muka yang tidak bisa dideskripsikan.
Antara senang, sedih, takut, hampir menangis, dan khawatir.
Mereka semua diam.
"U-Um... Kami permisi sebentar ya!" kata Gumi sambil menarik Teto dan Mikuo.
Sekarang hanya tinggal Len dan Rin.
"Rin... Betulan gak apa-apa?" tanya Len. "Aku gak apa-apa kok... Suer deh," jawab Rin. Mereka kembali terdiam.
"Maaf..." gumam Len pelan. Meski masih terdengar oleh Rin.
"Huh? Kenapa minta maaf?" tanya Rin. Len langsung mengangkat kepalanya menatap Rin. Sebelumnya dia menunduk.
"Rin... Celaka gara-gara aku..." gumam Len lagi. Rin diam.
"Bukankah Len bakalan ngelindungin aku?"
"Eh?"
"Hmph..., Len udah janjikan bakalan lindungin aku? Len juga uda ngelindungin aku... Aku percaya kok sama Len," ucap Rin.
Len terdiam. Beberapa saat kemudian dia langsung memeluk erat Rin. Sangat erat.
"Terima kasih.. Udah percaya sama aku..." ucap Len. Rin hanya mengangguk dan membalas pelukan Len.
BRAKK
"RI-... Eh?"
Tiba-tiba pintu kamar rawat Rin di buka secara kasar oleh seorang gadis berambut kuning.
Len dan Rin langsung menatap orang itu.
"M-Maaf mengganggu!" ucapnya sambil menutup pintu kembali.
"Tadi itu Neru-chan, 'kan?" tanya Rin. "Sepertinya iya..." jawab Len. Len mengecup dahi Rin.
"Bentar ya," ucap Len sambil berjalan ke arah pintu.
.
~Di luar~
.
"Gumi-chaaaaaan .. Aku pengen masuk..." rengek Teto pada orang yang menariknya keluar.
"Biarkan mereka berduaan dulu..." jawab Gumi pelan. Orang yang menarik Teto dan Mikuo keluar adalah Gumi.
"Nanti kalau Len napa-napain Rin gimana?" tanya Teto balik dan mulai negative thinking[1].
"Tenang saja Teto..." ucap Mikuo sambil menepuk pelan bahu Teto.
Mereka sekarang berada di depan ruang rawat Rin. Mereka tidak bisa mendengar apa yang terjadi di dalam ruang rawat Rin karena kedap suara. Begitu juga sebaliknya.
DRAP DRAP DRAP
"RINN-NEEE!" seru seorang gadis berambut kuning sambil berlari ke arah mereka. Tepatnya ruang rawat Rin.
Sesampainya gadis itu di depan ruang rawat Rin. Gadis itu langsung membuka pintu itu. Beberapa detik kemudian dia keluar lagi.
"Neru?" panggil Mikuo.
"Eh? Mikuo-nii!" ucap gadis itu.
"Kalian saling kenal?" tanya Teto.
"Tentu, Mikuo-nii itu temannya Len-nii," jawab Neru. Teto hanya manggut-manggut.
"Kenapa? Kau cemburu?" tanya Gumi. "E-Engga kok!" jawab Teto. Neru hanya diam.
"Kita selesaikan ini nanti... Teto sayang~," bisik Mikuo di telinga Teto. Teto hanya ber-blushing-ria.
"Mana Ba-san dan Ji-san?" tanya Mikuo pada Neru. Ya, Mikuo memang memanggil orang tua Len dan Neru dengan sebutan Ba-san dan Ji-san. Bisa di pastikan, hubungan mereka sudah sangat dekat.
"Mereka kutinggalkan di de-" "Eh? Neru?"
Ucapan Neru terpotong oleh Len yang baru keluar dari ruang rawat Rin.
"Kenapa ka-" "LEEEEEEEN!"
Ucapan Len juga terpotong oleh suara teriakkan seorang wanita. Di belakangnya seorang pria berlari mengikuti wanita itu. Ya, mereka berlari.
"Kaa-san? Tou-san?" panggil Len. Kaa-san dan Tou-sannya hanya ngos-ngosan.
"Len! Kau tidak apa-apa? Ada yang terluka?" tanya Kaa-san Len langsung sambil memperhatikan anak sulungnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"A-Aku tidak apa-apa kok..." ucap Len. Len mengajak mereka masuk ke ruang rawat Rin. Di sana, Rin sedang berbaring.
Mereka, Len, Teto, Mikuo dan Gumi menjelaskan semuanya. Semua terjadi begitu saja.
Miriam sendiri sudah di pastikan akan di masukkan ke rumah sakit jiwa karena sudah mendapat kepastian kalau dia memang mengidap penyakit jiwa.
Beberapa hari kemudian, Rin sudah di perbolehkan keluar dari rumah sakit dan menjalani aktifitasnya seperti biasa.
Mereka semua, akan hidup bahagia selamanya mulai sekarang.
Apa betul?
~Fin~
1. Negative thingking = Bahasa yg sering Author pake di sekolah. Artinya, berpikiran buruk dengan orang lain. Misal, berpikir tentang orang itu yang ga baik.
Author's Teritorial
a. Gomen kalo apdetnya lamaaaaa banget. Author (sok)sibuk banget... Hehehe...
b. Sorry kalo endingnya aneh gitu.
c. Ada yang keberatan dengan pair MikuoxTeto? Gomen kalau keberatan, soalnya Authro suka sama pair itu #slera lain ndri.
d. Ah, di fanfict selanjutnya, author bakalan buat pair MikuoxTeto lagi. Mmm ... Mungkin ada perubahan jika readers mau komplain.
kasih banyak buat para senpai yang uda ngajarin Saia selama ini. Dari fict debut pertama Saia sampai ke fict ini. Terima kasih banyak juga buat para readers yang slalu ngedukung Saia.
f. Ah, maaf juga soal cara penulisan Saia yang berbeda-beda di tiap chapter. Hahaha...
g. Akhir kata, ripiu?
