Hai readers semuanya ...
Racchy datang lagi dengan chapter 2 fict ini. Terimakasih banyak *bungkuk-bungkukkan badan* sama reviewers semua. Racchy senang bacanya. Jadi, karena baru sempat bukak internet hari ini, ya Racchy langsung publish.

Oke, langsung saja. Enjoy !


HUNTER X HUNTER disclaimer by YOSHIHIRO TOGASHI

MY FIRST FICTION

"YORK SHIN"

warning : sedikit AU, OOC, dan lain-lain yang bikin fic ini menjadi minus.


.

.

Mereka sudah berkumpul di sebuah apartemen, tanpa Senritsu yang langsung cabut ke apartemennya. Sebenarnya sih ini apartemen milik Leorio, Gon, dan Killua. Karena beberapa alasan, Kurapika menolak untuk bergabung bersama mereka. Tentu saja dengan salah satu alasan, takut merepotkan. Selain itu, letak apartemen ini terbilang jauh dari kediaman keluarga Nostard, mengingat ia kembali dikontrak oleh keluarga itu.

"Jauh ? Ah, tidak terlalu jauh kok. Rumah sakit tempatku bekerja juga lewat situ." Bujuk Leorio. "Kita bisa berangkat bersama-sama, Kurapika." Tambahnya.

"Ya, kami tidak keberatan jika kau tinggal disini, bahkan jika kau merepotkan." Ajak Gon lagi.

Kurapika berdehem sedikit. Lalu melempar senyum pada dua temannya tadi. "Bukannya aku tidak mau. Tapi keluarga Nostard itu merepotkan, tahu." Kekeh Kurapika. "Kalau mereka menghubungiku tiba-tiba waktu tengah malam, dan kalian terlalu sibuk untuk mengantarku, sementara jarak dari sini ke sana sangat jauh, bagaimana aku bisa sampai tepat waktu ?" Jelasnya.

"Yaa, tapi kita kan bisa meng-handle itu semua." Killua ikut angkat bicara.

"Tidak apa-apa, Killua. Aku akan sering main kesini kok." Balas Kurapika.

Semua hanya mengangguk setuju dan membenarkan kata-kata Kurapika.

"Omong-omong, Leorio.." Kurapika berusaha mengalihkan topik, "Kau jauh sekali berbeda." Ucapnya sembari tersenyum.

Dan suasana langsung gaduh, karena Gon yang berujar dengan semangatnya. "Iyaa ! Betul sekali ! itu yang ingin kubilang sedari tadi." Ujarnya heboh sambil menunjuk-nunjuk Leorio.

Killua bahkan berhenti mengunyah Choco Robokunnya untuk membenarkan ucapan Gon. "Ya, Leorio ! Kau itu tidak seperti om-om lagi !" Teriaknya tepat dimuka Leorio.

Leorio tertawa canggung. 'Benar sekali si Shalnark itu. Mengubah penampilan, sudah banyak respon positif. Nggak sia-sia toh, ketemu dia di Rusia setelah Ryodan mecah-mecah.' Pikirnya dalam hati.

Gon melirik Kurapika yang tersenyum lebar ke arah Leorio dan Killua. "Kau juga Kurapika. Kau itu cantik." Tutur Gon dengan polosnya.

"Aaah, Gon." Kurapika merona mendengar penuturan Gon yang dengan polosnya. "Kau ini ada-ada saja."

"Tidak, Gon benar. Aku saja sampai terkejut melihatmu tadi." Tambah Killua. "Mungkin karena rambutmu sudah panjang, dan kau itu cantik sekali." Puji Killua sedikit merona pula menyebutnya.

Leorio diam, mengangguk-anggukkan kata-kata Killua dan Gon yang tengah memuji Kurapika, hingga kadar merona di pipi gadis itu semakin bertambah.
Suasana kembali ribut saat Gon dan Killua memperdebatkan tinggi mereka yang bahkan hanya berbeda seangin. 'That was so childish. And I like it.'

Rasanya rindu sekali kan bertemu dengan teman sejatimu kan ? Kurapika merasakan itu, sampai ia ingin menangis saking rindunya. Berada di tengah kicauan sepele yang lebih mirip ocehan anak kecil membuatnya nyaris tak bisa hidup tanpa mendengarnya. Kata-kata Gon itu loh, yang polos tanpa ada kebohongan, dan semangatnya dapat tersuntikkan bahkan melalui sinar di matanya. Teman-temannya adalah yang terbaik. Yang mampu menopangnya saat kebencian mulai memakan dirinya. Yang mampu membangunkannya dari mimpi buruk yang menimpanya. Bagi Kurapika, semua mengenai teman-temannya terasa sangat spesial.


.

.

Beberapa saat setelah itu, Kurapika memutuskan untuk keluar. Kali-kali saja ada kebetulan bertemu teman-teman lama, pikirnya. Ditinggalkannya Gon dan Leorio yang sedang memperdebatkan kamar yang akan mereka tinggali. Kakinya langsung menyusuri pasir pantai di belakang gedung apartemen besar itu. Matanya juga langsung berhadapan dengan birunya laut. Rasa lelahnya sedikit berkurang.

Lama setelah terdiam memandangi laut, Kurapika mengangsur tegaknya hingga ke ujung pantai. Kini kaki-kakinya basah digelung ombak. Angin berkibar cukup kencang, tanpa sadar ikut membuat hatinya tentram. Secercah senyum menghiasi wajahnya yang putih. Sesekali wajah itu tertutup rambut pirang yang mulai nakal berkibar ke wajahnya. Namun tak menghalangi pandangannya. Kurapika menikmati keheningan ini. Perlahan-lahan matanya menutup membiarkan dirinya hanyut dalam keheningan.

"Kau seperti terhipnotis." Ucap sebuah suara.

Kurapika membuka matanya, dan mendapati Killua Zaoldyeck tengah berdiri di sampingnya. Dia juga mengamati laut. Mata Killua menyipit memandang ke depan.

"Ya. Aku memang terhipnotis." Balas Kurapika, menuruti arah pandang Killua ke laut.

Killua terkekeh pelan, masih tak memandang Kurapika. Tapi itu justru membuat Kurapika kembali memandangnya dengan penasaran. Bocah Killua itu mengenakan singlet abu-abu dan celana pendek hijau, sedang kakinya hanya bertelanjang. Wah, dia nampak tampan. Rambut keperakannya berantakan diusai angin. Dia terlihat lebih dewasa sekarang. Entah pemikirannya saja atau apa, Killua itu memang bertambah tinggi. Menyamai tinggi Kurapika sendiri, dan itu membuatnya menatap tak percaya pada Killua.

"Apa ? Kenapa kau melihatku begitu ?" Killua bertanya heran, sedikit kepalanya dimiringkan.

Kurapika terkejut. Dia segera mengerjapkan mata dan menjerit 'kawaii' dalam hati, saat melihat Killua menggendengkan kepalanya. "Ah, tidak apa-apa." Kurapika tak bisa menahan senyum lebarnya saat menambahkan, "Ternyata kau menyamai tinggi badanku ya."

Killua tertawa kecil. "Ya. Atau mungkin kau yang bertambah pendek." Ejek Killua.

Kurapika tak menggubris. Pikirannya sibuk memikirkan suara Killua yang terasa berbeda. Namun ia baru sadar, 'mungkin anak itu sudah besar.' "Jadi, kemana saja kau bertualang ?" Tanyanya.

Wajah Killua kembali dalam mode ceria. "Kurapika, kau tahulah Gon. Dia mengajakku ke tempat-tempat aneh yang pernah dikunjunginya. Aku mengajaknya ke berbagai tempat untuk mengumpulkan uang, tapi dia mengajakku ke semua tempat untuk menghabiskan uang. Kau takkan percaya kalau kami dua belas kali mendatangi tempat lelang ikan. Aneh kan ?" Jelas Killua panjang lebar.

Kurapika tergelak mendengarnya. "Sepertinya dia mencoba mengajarimu untuk bersenang-senang." Ejek Kurapika lagi.

Namun Killua tak membalasnya dengan ejekan. Segera saja wajah Kurapika basah karena Killua menyipratkan air padanya, sementara bocah itu berlari lebih ketengah laut.

"Sialan kau Killua !" Sorak Kurapika mengejarnya.


.

.

Kini wajah dan badan Kurapika basah semua, begitu juga dengan pakaiannya. Tak berbeda dengan Killua yang berdiri disampingnya. Gon dan Leorio memandang heran ke mereka berdua.

"Kenapa kalian sampai basah begini ? Kalian dari mana saja ?" Gon bertanya.

Kurapika dan Killua saling pandang, kemudian tergelak kecil. "Kami main di pantai tadi." Jawab Killua akhirnya.

"Huh, ada-ada saja kalian ini." Kesal Leorio. "Yasudah, kalian mandi dulu sana." Perintahnya.

Kurapika segera menggeleng, "Tidak usah, aku harus segera pergi. Senritsu sudah memesankan apartemen untukku."

Setelah sedikit berdebat dengan Gon juga Killua, akhirnya mereka mengalah dan mengizinkan Kurapika pulang, setelah Kurapika mengeringkan badannya dulu.

"Sudah ya, teman-teman. Aku pulang dulu." Pamit Kurapika sebelum keluar.

Gon mengangguk, Leorio berdiri disamping Kurapika untuk mengantarnya pulang, sedang Killua segera berlari ke kamar mengambil jaketnya.

"Ini, pakailah. Kau akan kedinginan." Ucapnya sambil menyodorkan jaket hijaunya. "Maaf ya, kau jadi basah seperti itu." Tambah Killua.

Kurapika tersenyum, lalu memakai jaket yang diberikan Killua. "Tidak apa-apa." Jawabnya. "Jaa." Lambainya lagi.

.

Hari sudah hampir malam saat rasa dingin mulai mengudara. Kurapika merapatkan jaket hijau yang dipinjamkan Killua padanya. Diliriknya Leorio yang mengenakan kaos lengan pendek berwarna putih mengemudi di sebelahnya, mengantarnya menuju apartemen yang sudah dipesankan Senritsu untuknya. Benar-benar canggung jika keheningan dibiarkan memimpin, maka Kurapika membuka suaranya.

"Kau tidak kedinginan, Leorio ?" Tanya Kurapika.

"Aa. Aku lupa membawa jaket." Jawabnya singkat.

Kurapika hanya mengangguk dan bertanya, "Mau pakai jaketku ?" saat Leorio menatap heran padanya. "Emm, maksudku jaket Killua tentunya." Tambah Kurapika. Leorio tertawa kecil lalu menggeleng, membuat Kurapika merasa bodoh.

"Sudahlah, kau pakai saja. Kau yang kedinginan, malah mau menyerahkan jaketmu." Tolak Leorio secara halus, membuat Kurapika merona dengan sendirinya.

Dan tak ada yang membuka suara lagi. Hingga,

"Jadi, bagaimana keadaanmu ?" Leorio bertanya sambil sesekali melirik Kurapika.

Kurapika tertegun. Namun hanya membalas dengan senyuman. "Aku merasa senang kembali ke York Shin. Aku merindukan York Shin. Bahkan aku memimpikan York Shin. Apalagi kalian." Jawabnya ceria.

"Aku juga begitu." Ungkap Leorio mengekspresikan kecamuk dalam hatinya.

"Ya, dan kau tahu apa lagi, Leorio ? Aku sangat merindukanmu. Dan aku tak menyangka kau telah lebih banyak berubah. Sangat mengejutkan." Ucap Kurapika.

Leorio mematung di tempat. Dia tak menjawab, hanya ber-'hn' pelan, jika itu bisa disebut sebagai jawaban.

Dan, akhirnya mereka bisa sampai di apartemen barunya Kurapika. Kurapika turun dari mobil diiringi Leorio.

"Terima kasih banyak, Leorio. Kau sudah mengantarku." Kata Kurapika pada Leorio yang berada di depannya. "Besok aku akan main ke apartemen kalian. Oke ?"

"Ya, sama-sama." Balas Leorio pendek. Membuat Kurapika menjadi tak mengerti dengan tingkah Leorio.

Namun detik berikutnya, Kurapika dapat merasakan badannya yang bersentuhan pelan dengan badan besar milik Leorio. Membuatnya kini bersandar pada bahu Leorio. Sedikit kehangatan menjalar di tubuh mereka.
Ya, ampun ! Leorio memeluknya. Ya, itu memang biasa saja. Tapi caranya kali ini berbeda. Tak seperti pelukan-pelukan biasanya. Kurapika mematung, mencoba menormalkan napasnya yang berhembus tak beraturan, saat Leorio sedikit menarik diri. Saat ini posisi mereka berhadapan, dengan err.. jarak yang sangat dekat.
Tak ada yang membuka suara. Perlahan Leorio mendekatkan wajahnya ke wajah Kurapika, maka itu membuat Kurapika membulatkan matanya, sampai sebuah kecupan mendarat di sudut bibirnya. Hanya kecupan singkat, tapi Kurapika dapat merasakan wajahnya memanas.

"Sudah, masuk sana !" Ucap Leorio mendorong Kurapika masuk ke gedung apartemen. "Cuaca benar-benar dingin." Usirnya.

"Aa. Ya, terimakasih. Aku masuk dulu, Jaa." Lambai Kurapika tergesa-gesa masuk ke gedung apartemennya.


.

.

Diluar, Leorio hanya tersenyum canggung. 'Aku pikir aku bakal berani menciumnya. Ternyata cuma bisa sampai sudut bibirnya.'


.

.

Kurapika mendesah letih. Dia capek sekali untuk menyusun barang-barangnya. Benar kan, kepindahan bukanlah hal yang mudah.
Apartemennya tidak besar. Hanya apartemen kecil, bahkan hanya ada 1 kamar tidur. Walaupun kecil, tetap saja kan mengatur barang-barang itu perlu tenaga. Dia benar-benar kecapekan. Sepertinya acara beres-beres bisa dimulai besok.

Kurapika menyeret koper dan kakinya ke kamar. Kemudian meletakkan kopernya sembarangan saja. Ia lalu mencari piyama dan segera mengganti bajunya yang lembab. Saat melihat kasur pun, Kurapika segera menjatuhkan badannya kesana, dan me-rileks-kan badannya. Aa, dia sangat letih.

Pikirannya segera terbang, banyak sekali yang dipikirkan hingga ia sendiri tak tahu dia memikirkan apa. Tapi yang jelas, dia tahu bahwa sekarang ia telah berada di York Shin. Kota ini terlihat cukup banyak berubah. Namun, dia belum sempat mengelilingi kota ini. Mungkin besok dia bisa mengajak teman-temannya.

Kurapika mengangkat selimutnya dan menyelimuti dirinya yang mulai menggigil. Killua benar-benar menyebalkan tadi, hingga membuatnya jengkel dan itu membuatnya mengejar Killua sampai ke laut. Yang benar saja, tapi itu mengasyikkan. Rasa rindunya pada bocah Choco Robokun itu sedikit terobati.
Lalu, Leorio tadi. Arggh ! Pipi Kurapika bersemu merah. 'Tidak, tidak. Jangan pikirkan yang aneh-aneh. Itu tadi hanya.. ya, hanya kecupan persahabatan ! Benar, itu hanya kecupan persahabatan !' Ia menolak segala asumsi aneh yang dikonsumsi otaknya.

Lama-lama ia berpikir hingga akhirnya Kurapika kembali bangun, dan merasa bosan. Matanya bahkan tak bisa diajak tidur.

Sayup-sayup terdengar suara dentingan piano. Kurapika yang terbangun, membuka pintu apartemennya untuk mengintip orang iseng yang bermain piano di depan pintu apartemennya. Benar, suaranya berasal dari luar. Namun ketika dilihat, toh tak ada siapa-siapa. Kurapika panasaran dan menerka-nerka, saat ia merasa dibuntuti.

Aliran nen segera membungkus badannya, dan kini Kurapika mulai siaga. Namun hawa orang asing itu kembali lenyap.

"Keluarlah !" Sergah Kurapika.

Rantainya mulai keluar saat Kurapika menggigit ibu jarinya hingga berdarah. Keheningan kembali menyelimuti. Hanya derit rantai yang terdengar. Tidak ada siapa-siapa lagi. Penasaran kembali membuncah dalam hati Kurapika yang menurunkan tingkat kewaspadaannya.

Suara dentingan piano yang merdu itu terdengar kembali. Tapi lebih pelan. Membuat Kurapika merasa kenal dengan cara painoitu berbunyi. Lama-lama, dia merasa mengantuk dan segera merebahkan badannya di kasur.

Suara piano pengantar tidur yang cantik, untuk seorang gadis cantik.

Kurapika tak menyadari, satu pesan diterima dari unknown.

'Welcome home !
In York Shin city ..'


~
.

.

Sepasang iris hitam gelap memperhatikannya dari balkon. Di tangan orang itu ada sebuah ponsel yang baru saja digunakannya untuk mengucapkan 'selamat datang' pada gadis cantik yang tertidur di kamar itu.

"Selamat datang, kupikir beberapa nada yang indah dapat membantumu tidur dengan indah pula." Ucapnya lalu tersenyum.

Detik berikutnya, pemuda itu segera melompat dari balkon kamar gadis yang sedang tertidur itu. Namun anehnya, dia dapat selamat sampai dibawah. Bayangkan saja, dari apartemen di lantai 5.

Hah, cinta bisa membuatnya melakukan hal gila, termasuk mengirim sebuah lagu pengantar tidur, dan jangan lupa acara melompat dari lantai 5 yang dilakukannya.


TBC ..


.

Sebenarnya ini chapter cuma iseng-iseng lo, Racchy bikin. Tapi berhubung Kurapika belum ada acara melepas rindu dengan teman-temannya, ya Racchy bikin dulu sedikit. Jadi, gomen kalau chapter 2 ini pendek ..
Omong-omong, ada yang gak suka kalo Racchy slight-kan sedikit LeoPika disini ?

kalo ada yang gak suka, itulah gunanya REVIEW ..

so, REVIEW please :)