Hai Semua, Raci balik lagi dengan fict ini.
Raci bikin pas taun baru loh, soalnya sedih taun baru Raci sepi banget :'(
udah ah, gak penting. Langsung aja baca .. ENJOY !
HUNTER X HUNTER disclaimer by YOSHIHIRO TOGASHI
MY FIRST FICTION
"YORK SHIN"
warning : sedikit AU, OOC, dan lain-lain yang bikin fic ini menjadi minus.
.
.
.
"Kau akan memberitahuku apa yang terjadi, bukan ?" Pinta Kuroro selagi matanya menyayu memandang Kurapika.
Namun Kurapika bergeming, dan malah melepaskan ikatan yang merantai pergelangan tangan Kuroro yang satunya lagi. "Kau mau tahu ya ? Kalau begitu, akan kuberi tahu. Tapi dengan satu syarat." Pinta Kurapika.
Kuroro memperhatikan bibir Kurapika yang mulai bergetar. Gadis itu tertunduk, dan butir-butir tangisnya yang pecah telah membasahi pangkuannya.
DUAGH !
Sebuah tinju melayang tepat di di pipi kiri Kuroro, membuatnya meneteskan darah lebih banyak lewat hidung dan mulutnya. Aksi Kurapika terlalu spontan, bahkan sampai ia tak menyadarinya. Rasa sakit menjalari keduanya. Kuroro menolehkan kembali kepalanya pada iris sapphire milik Kurapika. Senyum kecil menghiasi wajahnya yang lebam.
"AKU JATUH CINTA PADAMU !" Teriak Kurapika sambil menangis.
Kuroro membulatkan matanya. Terdiam seribu bahasa. Dia mungkin akan berpikir kalau Kurapika akan mengatakan 'Aku membencimu', tapi inilah yang diterimanya.
"Kurapika ?" Tanyanya.
"Kau tak mengerti !" Lirih Kurapika yang kembali menormalkan suaranya, "Aku harusnya membunuhmu ! Dan harusnya kini kau sudah mati ! Tapi kau menunjukkan kepasrahan padaku, seolah-olah mati adalah pilihan terbaik. Aku ingin kau menderita, sepertiku." Katanya sembari menahan tangis.
"Aku .. Aku tidak tahu cara membunuhmu." Lirih Kurapika lagi. "Kau membuat aku jatuh cinta pada seorang kriminal yang membunuh keluargaku."
"Kurapika ? Ma-"
"Aku tak tahu cara memaafkanmu. Aku tidak tahu cara menghadapi badanku." Isak Kurapika lagi. Badannya sudah bergetar hebat, dan suaranya serak. Matanya memburam menunjukkan kesedihan.
Kuroro meraih bahu gadis itu, dan menyejajarkan matanya dengan mata Kurapika yang meredup. Ia tahu gadis itu kebingungan. Ia tahu gadis itu ketakutan. Bahkan ia tahu gadis itu kesakitan. Ia juga merasakannya. Jika ini konsekuensi dari dosanya selama ini, maka ia ingin berdoa pada Tuhan untuk tidak menyiksa Kurapika pula. Sejujurnya, ia juga mencintai Kurapika. Bahkan ia yakin rasa cintanya jauh lebih besar dari banyak dosanya sendiri.
"Aku juga mencintaimu."
Kurapika tak sempat melayangkan tinjuan lagi, saat Kuroro menarik badannya dengan keras dan menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu. Sesaat Kurapika terkejut, namun kemudian ia segera menutup matanya, membiarkan saja Kuroro menciuminya tanpa membalas.
Kuroro lalu melepaskan ciumannya dan menyanderkan kepalanya ke bahu Kurapika, hingga kini posisi mereka berpelukan. "Tolong, maafkan aku." Gumamnya tepat di telinga kiri Kurapika.
Kurapika berjengit dan turut memeluk sang danchou. "Aku akan pergi."
Seketika Kuroro dapat merasakan semua ototnya melemas. Kurapika akan pergi ? Maksudnya setelah dia menyatakan perasaannya, dan dia akan pergi ?
Kurapika segera bangkit, saat Kuroro menarik tangannya. "Apa maksudmu ? Kau akan pergi dari sini ?"
"Ya." Ucap Kurapika. "Dan mengenai syarat itu adalah, kau tak boleh mencegahku." Tegasnya sambil menepis tangan Kuroro.
Kurapika merasakan segala kekuatannya lenyap saat langkahnya sangat berat mencapai pintu keluar. Apa yang telah dilakukan sebenarnya sangat bertentangan dengan segala petatah yang menyuruhnya menjauhi orang ini.
"Kurapika ?" Panggil Kuroro.
Namun Kurapika terus berjalan, tanpa ada niat untuk sekadar membalikkan badan dan mengucapkan selamat tinggal pada Kuroro yang terlalu lemas untuk mengejarnya.
.
.
"Hosh .. hosh .. hosh .." Kurapika terhenyak bangun dari tidur. Wajah dan badannya basah dipenuhi keringat. Ia segera terduduk dan mencengkeram kepalanya erat-erat. Ya Tuhan ! Mimpi ini lagi.
Dengan tergesa-gesa, Kurapika mengambil air dan meminumnya dengan beringas. Benar-benar kejam. Harusnya mimpi ini sudah lenyap bersamaan dengan ia meninggalkan York Shin, namun kini dia mendapati dirinya tak sepenuhnya melupakan kenangan buruk yang ada di kota ini. 'Dan orang itu, Kuroro Lucifer', sebelah bibirnya terangkat membuat senyuman sinis. 'Dia menerorku lagi rupanya.'
Kurapika mengacak rambutnya, kemudian dia menemukan one message received pada ponselnya. Sebelah alisnya terangkat saat melihat pesan yang ditemuinya. "Sebuah pesan sambutan." Bibirnya tergerak mencibir. Tanpa ia sadari, jantungnya berdebar saat nama Kuroro melintas dalam benaknya. Segera ditepisnya pemikiran itu. Memangnya Kuroro Lucifer dimana saat ini ? Di York Shin ? Dia tahu bahwa Kurapika Kuruta, berada di York Shin ?
Sepertinya, Kuroro tak mau menyerah untuk pergi dari benak gadis itu.
.
.
Kuroro Lucifer, seorang pemusik handal yang dimiliki kota York Shin, tengah berdiri di depan sebuah gedung apartemen. Pakaiannya saat ini terlihat sangat biasa ketimbang jas musik ataupun penampilan resminya, ia terlihat lebih fresh dalam baju kaos dan jeansnya. Ia menatap ke atas, sebuah entitas pirang yang menikmati riuh rendah bunyi kendaraan pagi yang berlalu lalang. Ya, dia sedang mengamati gadis itu.
Si gadis yang telah 2 tahun ditunggu kepulangannya.
Berharap bahwa gadis itu akan berpaling dan menatapnya, hanya probabilitas yang kecil. Gadis itu sedingin es di kutub utara, maka ia harus membuat si gadis pirang melihatnya. Setidaknya kawan, ia seorang laki-laki. Dan kurasa itu tak perlu ditegaskan, bahwa dalam keadaan apapun, laki-laki harus mengalah pada perempuan. Kuroro membulatkan tekad, sebelum ia menyapa gadis itu, harusnya ia membuat gadis itu menoleh dulu padanya.
Namun tidak begitu dengan Kurapika. Dia baru satu kali jatuh cinta, dan rasanya cinta itu telah membunuhnya. Walaupun kenyataan memang begitu, dia tetap ambigu bahwa kini dirinya menginginkan sesuatu. Ya, hanya sesuatu kecil. Dia ingin melihat sang Lucifer lagi, yang berani mencuri hatinya.
Oh Tuhan, kenapa ia tak mencoba saja melihat kebawah dan keinginannya pun akan terkabul. Kuroro Lucifer berdiri di bawah. Di depan gedung apartemennya, sedang melihat padanya, menanti-nanti pergerakannya !
"Sial." Umpat Kuroro merasa sedikit jengkel. "Apakah dia tak melihatku berada disini ?"
Yah, begitulah keadaannya Kuroro.
Namun, Kuroro segera terkesiap saat menyadari gadis itu menghilang dari balkon. Oh, Kuroro juga baru menyadari bahwa menjadi stalker dan mengikuti gadis ini, bahkan lumayan sulit.
.
.
Kurapika sampai di halaman rumah keluarga Nostard yang besar. Matanya langsung memindai setiap perubahan rumah ini, dan rasanya masih tak banyak berubah.
Kurapika memakai pakaian santai, rok biru gelap dibawah lutut dan tanktop biruyang ditutupi kardigan putih, mengingat ia belum mulai bekerja. Ia hanya akan mengunjungi Tuan Light Nostard yang memintanya datang untuk berbicara pada hari ini.
Seseorang menyapanya dengan nada gembira membuat Kurapika sedikit berjengit. "Hai Kurapika !" Kata orang itu.
Kurapika sedikit menoleh, dan dia menemukan anak majikannya yang bermain riang dengan selang air penyiram bunga. "Oh, selamat pagi Nona" Ucapnya kalem sambil membungkukkan badannya.
Neon yang setengah basah mendekat. 'Dia masih kekanak-kanakan. Seperti anak TK !' Ejek Kurapika dalam hati. "Kurapika ?" Neon memiringkan kepalanya dengan polos dan berujar, "Ternyata kamu memang perempuan ya ! Aku kira Senritsu bohong, waktu dulu dia bilang kamu perempuan." Ocehnya.
Kurapika masih diam. Empat sudut siku-siku mencul di sudut jidatnya. 'Enak saja dia bilang begitu. Apa secara tak langsung dulu dia juga mengira aku ini laki-laki ?'
Karena Kurapika tak menjawab lagi, Neon langsung menarik tangan gadis yang lebih tua 2 tahun darinya itu. "Yasudah, kau ingin bertemu papa kan ?" Tanyanya.
Dan Kurapika hanya mengangguk "Hn", membiarkan Neon hyperactive yang menuntunnya menuju Tuan Nostard.
.
.
"Papa, ini Kurapika datang !" Teriak Neon didepan pintu ruang kerja ayahnya.
Dari dalam terdengar sahutan pelan sebelum Tuan Nostard mengatakan bahwa pintunya tak dikunci. Maka Neon langsung saja bersemangat membuka pintu itu dengan keras.
Tuan Nostard duduk di belakang layar komputernya. Pandangannya dilayangkan sedikit pada dua gadis yang berdiri di depan pintu. "Selamat datang kembali, Kurapika." Sahutnya ramah.
Kurapika membungkukkan badannya sedikit.
"Ah Neon, terimakasih telah mengantar Kurapika kesini." Kata-kata Tuan Nostard tetap seperti yang dulu, berisi perintah, "Bisa kau tinggalkan kami ? Papa ingin berbincang sedikit dengan Kurapika."
Namun Neon yang manjanya tak ketulungan menggelengkan kepala merah mudanya kuat-kuat. "Tidak mau. Aku ingin ikut berbincang."
"Huh…" Mulailah kekeras kepalaan Neon yang menjengkelkan. "Kau bisa berbincang dengan Kurapika nanti, setelah Kurapika bicara dengan papa dulu." Bujuk Tuan Nostard.
"Tidak."
"Kau bisa menunggu sebentar kan ? Main saja dengan orang lain dulu ya."
"Tidak."
Tuan Nostard menghela napas panjang, sedang Kurapika hanya memandangnya datar. Akhirnya ia melihat juga adegan kekeras kepalaan anak majikannya ini.
"Ah ya." Tuan Nostard menjentikkan jarinya. "Kau main saja dengan onii-chanmu." Kata Tuan Nostard dengan tiba-tiba.
Dengan segera Neon mendengus. "Baiklah, papa. Tapi jangan lama-lama ya, aku juga mau bicara dengan Kurapika."
GREAT ! Neon menurut ! 'Dan by the way, siapaan sih onii-channya Neon ? Emang dia punya kakak cowok ? Enggak kan ?'
Alis Kurapika sedikit terangkat. Bagaimana bisa Neon punya kakak dalam 2 tahun ini ? Astaga ! Kurapika menepuk jidatnya sendiri. Tentu saja, tidak mungkin Tuan Nostard menikah lagi, lalu istrinya melahirkan anak dalam 2 tahun yang lalu, itu kan namanya adik. Bukan kakak. Berarti ini …?
Saat Neon beranjak pergi, Tuan Nostard menyilahkan Kurapika duduk di bangku di depannya. Kurapika yang penasaran pun segera membuka mulut untuk menanyakannya.
"Emm, boleh saya bertanya, Tuan ?" Tanyanya.
Namun Tuan Nostard mengangkat tangannya menghentikan pertanyaan Kurapika, seakan-akan dia tahu apa yang akan ditanyakan orang di depannya ini. "Kau pasti ingin bertanya tentang kakaknya Neon itu kan ?" Tebak Tuan Nostard.
Kurapika mengangguk tanpa menunjukkan ekspresi apa-apa, hanya menampilkan wajah datar walaupun dalam hati dia amat penasaran. Setidaknya, dia mengerti bahwa dalam pekerjaan seperti ini harusnya emosi yang dikeluarkan adalah minus. Selain itu, dia toh tak terlalu suka menampilkan emosinya di depan orang-orang, kecuali teman-temannya.
"Itulah yang ingin aku bicarakan denganmu." Kata Tuan Nostard sambil mempernyaman duduknya,
"Dia ini adalah kakak angkatnya Neon. Dia sangat baik dan berbakat. Jadi, aku tertarik untuk mengangkatnya sebagai anakku. Katanya, dia adalah korban pertempuran 2 tahun yang lalu. Dan selama kau pergi, dia berusaha mengepalai bodyguard-bodyguard, namun kurasa tidak sebaik dirimu sih," Tuan Nostard berdehem sedikit, lalu melanjutkan,
"Sebagian dari para bodyguard itu ada yang membangkang padanya, tak ayal mereka sering bertempur." Tuan Nostard menghela napas.
Kurapika yang menjadi pendengar saksama membuka mulutnya, "Lalu apalagi, Tuan ? Bukankah itu bagus ? Aku juga tak keberatan jika tak lagi mengepalai jabatan itu."
"Ya, bukannya aku ingin begitu. Tapi, kurasa yang membangkang padanya lebih banyak daripada yang menurutinya." Keluh Tuan Nostard. "Jadi begini saja, kau dan dia akan mengepalai para bodyguard." Putus Tuan Nostard.
"Baik, Tuan."
"Oh ya, aku sangat berharap pada bantuanmu. Kau hanya akan bekerja padaku kan ?" Tanya Tuan Nostard penuh selidik. Kurapika mengangguk. "Baguslah. Karena dari awal aku sangat butuh bantuanmu. Sejak kau pergi aku kewalahan." Keluh Tuan Nostard lagi. "Kuharap kalian bisa bekerja sama."
Kurapika tersenyum tipis. Lalu ia melihat Tuan Nostard yang mengangguk sambil menyuarakan panggilan lewat interkom.
Beberapa saat mereka menunggu, suara ketukan pintu pun terdengar beserta ocehan-ocehan besar dari Neon.
"Masuk saja." Tuan Nostard kembali bersuara dari dalam.
Neon kembali muncul namun kali ini dia menggandeng seseorang, "Ada apa, pa ?" Tanya orang itu dengan suara yang khas. Kurapika merasakan badannya bergetar. Suara ini …?
Kurapika yang merasa aneh, segera berbalik ke belakang kursinya. Dan, YA TUHAN ! Neon tengah menggandeng seorang, seorang .. KURORO LUCIFER !
Mata Kurapika membulat, dan bahkan ia merasa salah dengan penglihatannya.
Kuroro Lucifer, berdiri disana dengan Neon, dan dia memanggil Tuan Nostard dengan panggilan 'papa' kan ? Tolong jangan katakan bahwa dia-
"Kurapika, ini adalah Kuroro. Anak angkatku yang tadi aku ceritakan." Pamer Tuan Nostard.
-bahwa dia adalah anak angkat yang tadi disebut Tuan Nostard.
'Oh, Kami-sama. Demi sembilan bijuu, tolong katakan ini hanya hayalanku saja.'
"Kurapika ? Kenapa kau diam ? Kau berhayal ?" Tanya Tuan Nostard saat Kurapika tak menggubris, dan malah terdiam.
Kuroro tersenyum padanya. "Welcome home. In York Shin city." Sapanya ramah.
Kurapika masih mematung. Kata-kata itu kan, yang tadi pagi dibacanya di ponsel. Oh oh oh, dia ingin pingsan sepertinya.
"Kalian sudah saling kenal ?" Tanya Neon agak heran.
Kuroro tersenyum pada Neon lalu menjawab, "Ya, Neon. Aku dan Kurapika sudah saling kenal. Kau kan juga sering menceritakannya padaku."
"Bagus kalau begitu, Papa ingin kau bekerjasama dengan Kurapika, Kuroro. Jadi kalian akan mengepalai para bodyguard." Jelas Tuan Nostard.
Kuroro hanya mengangguk dan melempar senyum kecil. "Kupikir Kurapika mau bertemu dengan teman-teman lamanya dulu ? Biar aku yang antar." Tawar Kuroro.
Kurapika yang tadi mematung kini mengerjap tak suka pada Kuroro yang masih saja sok ramah, menurutnya. "Tidak u-"
"Ya, ayo kita sama-sama ketemu para bodyguard !" Sorak Neon, lalu menggandeng tangan Kurapika dan Kuroro, hingga kini posisi mereka bertiga bergandengan.
Jadi ini kejutannya ? Bahwa Kurapika Kuruta akan menjadi partner dengan Kuroro Lucifer dalam pekerjaan ini ? Sebuah kejutan benar-benar bermain di belakang gadis itu. Tolong ingatkan dia untuk berteriak, karena dia terlalu syok dan bahkan dia lupa cara berteriak. Seseorang siapa saja, tolong katakan padanya untuk berteriak !
.
.
Kurapika menampik tak percaya atas segala yang dialaminya. Kuroro Lucifer adalah kakak angkat dari Neon Nostard. Dan mulai sekarang ia akan bekerja bersama dengan Kuroro itu. Rasanya ia ingin cepat-cepat pulang dan tidur. Dia pusing sekarang.
"Tunggu dulu, Nona."
Kurapika tak ingin berbalik, dia tahu itu panggilan dari mulut manis Kuroro. Oh, ada yang ingat kalau hubungannya dengan orang itu tak seharusnya baik ? Bahkan harusnya mereka bertarung sekarang, karena itulah yang dilakukan oleh orang yang bermusuhan kan ?
"Kurapika, kau bisa menungguku sebentar ?" Panggil Kuroro lagi. Kurapika terlalu memaksakan langkahnya. Berkali-kalipun dipanggil, gadis itu tetap tak berbalik.
Salahkan lorong rumah keluarga Nostard ini yang terlalu sempit, hingga dalam satu sentakan saja, langkah Kurapika terhenti saat Kuroro membalikkan bahunya dengan kasar. Kini Kurapika menatap tajam pada mata hitam Kuroro yang segaris, menatap langsung penuh kejengkelan pada matanya.
"Apa yang kau inginkan ?" Sergah Kurapika.
Dan inilah kesempatan Kuroro. "Izinkan aku memperbaiki ini semua."
"Tidak."
"Selamat datang lagi di York Shin. Aku menunggumu, dan aku senang kau kembali."
Kurapika menatap ke mata hitam yang dalam itu. Dengan kejam ia menepis segala perasaan membuncah yang terlintas pada dirinya. "Aku tak kembali untukmu."
"Aku tahu kau kembali untukku." Tegas Kuroro lagi.
Kurapika segera berbalik. Tak mampu lagi jika ia sampai memeluk Kuroro saking rindunya. Dia adalah Kuruta yang haram jika mencintai Lucifer.
Detik selanjutnya, Kurapika berbalik menghadapi Kuroro dan,
DUAGH !
Satu pukulan melayang mengenai perut Kuroro, sedang Kurapika mengibas rambutnya kebelakang, dan mulai berjalan lagi meninggalkan kakak angkat anak majikannya tengah meringis menahan sakit.
.
.
TBC ..
Oke, gimana gimana ? Masih jelekkah ?
oya, masalah slight LeoPika nya ditiadakan aja ya .. takut ntar ada yang kecewa.
Oke, readers, mind to REVIEW ?
