Minna~
Raci kembali ! *sorak-sorak*
*Hening*
Hehe, udahlah Raci paling gak bisa deh kalo nulis bacot. Tapi Raci mau ngucapin makasih buat yang masih mau nunggu dan baca apalagi buat yang review. Ehehe, makasih banyak ya reviewers semua ^^
Oke, daripada lama nunggu, ayo langsung baca :)
.
HUNTER X HUNTER disclaimer by YOSHIHIRO TOGASHI
MY FIRST FICTION
"YORK SHIN"
warning : sedikit AU, OOC, dan lain-lain yang bikin fic ini menjadi minus.
yang sanggup membaca,
HAPPY READING ^_^
.
.
Hari masih menunjukkan pukul 06.00 saat keadaan jalan kota York Shin belum ramai. Matahari belum terlalu tinggi untuk disebut pagi, karena beberapa kendaraan dengan kecepatan tinggi masih bisa melewati jalan utama kota itu. Salah satunya Kuroro Lucifer yang melajukan motor besar bermerek Ducati-nya itu melintasi Oregon street (?) yang masih sepi.
Kuroro terfokus menuju suatu tempat. Matanya menatap jalanan dengan kecepatan terlampau jauh di atas rata-rata. Diabaikannya rasa dingin yang mendera badannya, walau telah tertutup dengan jaket tebal berwarna biru gelap. Celananya pensil berwarna hitam. Di sela-sela helm yang menutupi sebagian wajahnya, masih dapat dilihat sebuah tanda aneh di jidatnya yang tak tebalut perban. Dan WOW, dia tampak seperti pembalap.
Ya, meskipun di belakang jaket birunya itu, terpampang tanda salib terbalik yang besar.
Dia memarkir motornya disamping bangunan tua. Bagian bawah bangunan itu menghitam, saking tuanya. Tak ada perbedaan dari 2 tahun yang lalu, dia masih terus mengunjungi markas sebuah organisasi gelap yang dipimpinnya itu. Organisasi pemakan darah, Genei Ryodan.
Selama 2 tahun terakhir ini, anggota organisasi terkutuk itu memang memecah. Ya, apalah kata yang tepat selain mencoba untuk tobat. Hal itu membuat pertemuan yang biasanya ramai menjadi lengang. Namun berbeda dengan hari ini. Rasanya semangat berkumpul di ulu hatinya dan menjadi sesak. Anggota Genei Ryodan pulang hari ini !
.
.
"Maaf, Danchou terlambat." Sindir seorang gadis polos berkacamata, membuat beberapa orang tergelak di ruangan itu.
"Seorang ketua kadang terlambat, Shizuku." Tambah sorang lagi dengan muka polosnya.
Kuroro tak menggubris anak buahnya yang tertawa-tawa itu. Dia berdiri didepan pintu masuk ruangan itu, dan menghitung semua anggotanya. Ada Shalnark, Shizuku, Machi, Feitan, Nobunaga, Franklin, Kurotopi, Phinx, dan bahkan bocah Zaoldyeck itu.
"Bagaimana kau bisa sampai kemari ?" Kuroro memutar hadapnya pada Kalluto yang berdiri tenang disamping Shizuku.
"Aku diusir ibu." Keluh Kalluto mengerucutkan bibirnya. "Katanya aku lebih baik mencari onii-chan dan menyuruhnya mampir ke rumah. Ibuku merindukannya." Jelas Kalluto uring-uringan.
Beberapa orang anggota tergelak lagi mendengarnya.
Benar kan, laba-laba sangat lengkap. "Eh, tapi mana si mumi ?" Celetuk salah satu dari mereka, membuat Kuroro kembali meneliti anggotanya. Benar juga, kemana si mumi ?
Shalnark mengangkat kepala dari mainan elektronik barunya, "Dia bersenang-senang di Mesir mungkin. Beberapa piramida dan mitos mumi membuatnya ingin mengunjungi tempat itu." Jelasnya.
Semua orang menganga tak percaya. "Ya, mungkin dia mencari mumi yang lainnya, dan tebaklah. Ia memang bertemu dan sepertinya ia akan lama disana."
Astaga, kebobolan cookie deh.
Hening beberapa saat, kemudian Kuroro mengeluarkan sebuah buku dan melemparnya asal pada salah satu anggotanya. Machi yang paling cekatan langsung menangkapnya.
"Lelang akan diadakan nanti malam di Indigo Tower." Mulai Kuroro tanpa basa-basi. Semua mata kembali fokus menatapnya yang kini duduk diatas sebuah meja.
"Itu salinan barang lelangnya. Dan aku sudah menandai barang-barang incaran kita." Lanjutnya lagi.
"Lakukan sesuka kalian."
Nobunaga bertepuk tangan sendiri. "Wuhuu, bagus sekali. Sudah lama tak ada kekacauan." Soraknya gembira.
Kuroro tersenyum tipis, lalu segera berubah jengkel saat dirasakan ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat.
Hei bodoh, cepat kemari !
Ayahmu sibuk menanyaimu, dan kini adikmu merengek !
Senyum kembali mengembang di wajah datarnya. Oh ternyata istrinya toh yang menghubungi.
"Aku permisi dulu." Pamit Kuroro (sok) sopan.
Semua mengangguk dan beberapa orang mulai bubar.
.
.
Shizuku ikut bubar dan keluar dari gedung tua, markas Genei Ryodan. Di tangannya setia ponsel hitam mini yang membuka halaman facebook, situs jejaring sosial yang populer. Diam-diam Shalnark mengikuti ketika Shizuku terus berjalan keluar, dan mungkin mencari taksi untuk ditumpangi.
"Eh Shizuku, kau mau kemana ?" Tanya Shalnark yang menepuk bahu Shizuku dari belakang.
Gadis berpakaian serba hitam itu hanya mendongak dan menggumamkan kalimat frekuensi kecil sebelum merasa terkejut oleh sapaan senpainya itu. "Oh, Shalnark-senpai. Ada apa ?"
Shalnark tersenyum gamang. Disconnect. Ya, gadis ini sedikit nggak nyambung. "Tidak ada." Geleng Shalnark. "Kau mau kemana ?" Ulangnya lagi bertanya.
"Ooh," Shizuku melebarkan senyumnya. "Aku mau bertemu teman facebook-ku" Ocehnya bersemangat.
"Mau aku antar ?" Tawar Shalnark sambil memamerkan kunci motornya didepan Shizuku.
Tanpa basa-basi, Shizuku mengangguk mantap, "Ya ! Tentu saja,. Ayo !" Terimanya bersemangat.
.
.
"Uwaaaaa ! Ayolah, Kurapika. Temani akuuu~" Pelas Neon sambil meronta-ronta di atas tempat tidurnya.
Kurapika menghela napas sebentar, lalu mencoba mencari alasan untuk menolak permintaan Neon Nostard yang terus merengek tak jelas. Saat ini, Tuan Nostard mengurusi acara lelang yang akan berlangsung nanti malam, dan ponselnya tidak aktif ketika Kurapika meneleponnya, apakah boleh mengizinkan Neon keluar. Dan Kuroro, 'ah sialan' dengus Kurapika. Sejak hari ini, Kurapika belum melihatnya.
"Pika-chan ?" Panggil Neon dengan nada memelas yang kentara sekali.
Kurapika tersentak, 'Pik-Pika-chan ?' "Kau harus menunggu onii-chanmu pulang dulu, Nona." Jawab Kurapika seadanya.
"Ayolah, Kura-chan." Tambah Neon lagi. Kurapika berusaha tak menggubris dan kembali menyusun bantal yang dilempar Neon tadi ke segala arah.
"Aku akan terlambat. Tolong aku, Pika-chu onee-chan." Neon mulai menunjukkan puppy eyesnya.
What The Hell ! Apa-apaan panggilan itu. Kurapika menatap Neon dengan pandangan geli. 'Pika-chu ? Pika-chu onee-chan ?' Sialan ! Nama macam apa itu, dan pandangan apa itu ? Dasar perut Kurapika bahkan menggeli mendengarnya.
Dari sampingnya Kurapika mendengar sebuah tawa yang meletus. Ya, Kuroro-orang yang menyebalkan itu kini telah tiba dan berdiri dengan tawa laknatnya.
"Onii-chan !" Girang Neon segera bangkit dari duduk malas-malasannya di tempat tidur. Kini ia sudah memeluk lengan besar Kuroro.
Kurapika memandang tak suka pada dua makhluk aneh itu. "Oh bagus, kau sudah datang. Silakan kau urus. Aku akan mengecek teman-teman yang lain." Kata Kurapika sambil berbalik. Mungkin ia harus mengecek teman-teman atau para bodyguard yang lain. Disini, ia lebih terbiasa menyebut mereka dengan kata 'teman-teman'.
"Onii-chan, aku ingin bertemu kawan facebook-ku. Dia orang baik kok. Tapi Pika-c-
"Kurapika !" Protes Kurapika ketika namanya akan disebut dengan embel-embel menggelikan dari Neon.
-Tapi Kurapika tidak mau mengizinkanku." Pelasnya sambil sedikit mencibir ke arah Kurapika.
Kuroro menatap bergantian pada Neon dan Kurapika yang sama-sama memandang cemberut. Astaga, mereka seperti gadis kecil yang bertengkar gara-gara boneka beruang. Kuroro sedikit tergelak. "Yasudah, kita pergi sama-sama saja bertemu dengan kawanmu itu." Putus Kuroro. "Sebaiknya kau dan Kurapika onee-chan bersiap-siap." Tambah Kuroro lagi, menimbulkan kerutan protes di kening Kurapika.
"Hei, kau tidak bisa seenaknya begitu." Protes Kurapika.
Kuroro tersenyum simpul. "Bukankah 2 orang cukup untuk melindungi Neon ?" Balasnya.
"Aku tak mau ikut." Cibir Kurapika.
"Kau harus ikut. Hanya kau yang free. Basho, Senritsu dan yang lainnya sudah ikut papa." Kuroro mengedipkan sebelah matanya.
Kurapika mendegus. "Tuan Nostard tidak meng-" Ucapannya terputus saat terdengar Kuroro yang berbicara di ponsel.
"Iya, pa. Aku dan Kurapika yang menemani." Jeda sesaat, "Baik." Dan Kuroro pun mematikan teleponnya.
Kurapika memandang tak percaya. Astaga, dari tadi ia menelepon Tuan Nostard tapi tak pernah masuk. Dan Kuroro mencobanya, lalu mendapat izin dari Tuan Nostard ?
"Kau dengar ? Tuan Nostard sudah mengizinkan." Ledek Kuroro, lalu berjalan keluar kamar. "Kalian gadis-gadis, bersiap sajalah. Aku tunggu dibawah."
"Yay !" Neon berseru girang, lalu mengunci pintu dan mulai membongkar lemari.
.
.
Beberapa saat menunggu, kemudian Kuroro melihat kedua gadis itu turun. Neon terlihat ceria dengan pakaian serba pinknya. Rambutnya diikat tinggi ke belakang dengan pita besar di ikatan rambutnya.
Kurapika tak mengganti pakaiannya sama sekali. Ia masih menggunakan baju terusan berwarna coklat, yang jatuh ke bawah lututnya sebagai rok lurus, kemudian ia memakai baju berlengan sampai bahu berwarna putih. Sedang rambut pirang sebahunya dibiarkan tergerai.
Mereka tampak berbeda usia cukup jauh kalau dilihat-lihat, itu karena Neon berlagak ceria dengan pakaian serba pinknya. Dan Kurapika terlihat lebih dewasa dengan pakaian kasualnya.
Kuroro urung menatap Kurapika lebih lama saat ia menangkap deathglare yang dijuruskan oleh mata sapphire Kurapika. Jadi ia berdehem, dan berjalan menuntun mereka ke mobil.
.
.
Salahkan Neon ! Salahkan Neon ! Kurapika memutar bola matanya bosan dan mengalihkan pandangannya ke arah luar, sementara Kuroro tetap tenang mengemudi di sampingnya.
Ya, Kurapika tak suka suasana ini.
Di bangku belakang, Neon tiduran malas dengan ponsel yang masih menempel di tangannya.
Hening.
Kurapika tahu, dari tadi Kuroro mencuri-curi pandang padanya. Ia melihatnya, itu karena sebenarnya ia juga melakukan hal yang sama. Namun tak ada yang membuka mulut untuk bersuara. Salahkan Neon ! Harusnya sekarang Kurapika bisa duduk di bangku belakang dan menatap bosan ke jalan-jalan yang dilaluinya, jika Neon tak merengek ingin tiduran di bangku belakang. Bukannya terlibat suasana canggung dengan Kuroro yang sedang menyetir seperti ini.
.
.
Apartemen Gon dkk,-
.
Killua memandang malas pada gelasnya yang sudah kosong. Kini posisinya duduk malas di atas sofa apartemennya. Ia lalu menatap Gon.
"Gon, darimana kita bisa mendapat uang untuk lelang itu ?" Tanya Killua tak berminat.
Gon memejamkan mata sebentar, lalu sedikit menggeleng. "Aku akan mencari tahu." Katanya, lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Killua melakukan hal yang sama, lalu mengakses internet dan mencari informasi. Masalahnya, acara lelang ini terlalu mendadak. Bahkan beritanya baru tersebar tadi malam. Huh, bagaimana cara mendapatkan uang untuk memenangkan lelangnya ?
Dan targetnya,
Freedom Sapphire. Sangat langka. Hanya ditemukan di tubuh mayat Jenderal Perang China yang lebih kejam daripada Gengis Khan. Saking ajaibnya batu ini, bahkan bisa menanggalkan beberapa kutukan dari setan maupun Lucifer. Tak ayal, namanya kadang disebut Lucifer Freedom. Sebuah simbol yang memiliki arti kebebasan dan kekuasaan.
Berwarna biru laut tembus pandang berbentuk permata.
Killua menghela napas, membaca informasi yang didapatnya dari internet. Benarkah sehebat itu ? Lalu bagaimana dengan harga lelangnya ? Pasti barang itu tak akan dibuka dengan harga rendah.
"Killua !" Sorak Gon riang. Killua memutar badannya sedikit dan mengangkat kepala sebagai jawaban.
"Bagaimana kalau kita bergabung dengan suatu komunitas ? Mereka juga mengincar barang yang sama."
Killua mengernyit heran. "Lalu batu itu akan menjadi milik komunitas. Bukan milik kita." Sanggah Killua.
Gon menggeleng. "Disini dikatakan, bahwa setelah itu akan diadakan pelelangan kecil untuk anggota. Dan kita bisa mendapatkannya." Tambah Gon sambil menyodorkan ponselnya yang membuka halaman misterius.
"Kau dapat situsnya dari mana ?" Tanya Killua tak percaya.
Gon menjawab cengengesan. "Teman facebook-ku. Dia yang menyarankan padaku. Sepertinya dia juga anggota." Diam sesaat, "Dan kita bisa menyumbang beberapa uang yang kita punya. Setelah itu kita bergabung dan ikuti lelang lagi, dan kita akan mendapatkannya."
Killua mengangguk mengerti. Dia mengambil ponselnya dan ikut membuka facebook-nya.
.
739 Permintaan pertemanan
212 Pemberitahuan
'What's on your mind?'
.
Neon-Pinky:
Yay ! Onii-chan-ku memang paling baik sedunia !
|Suka|23 orang menyukai ini |Komentari|
Milluki Zoldyck:
Dua adek gue kabur dari rumah. Yang satu masih dikurung. Kasian lu, dek !
|Suka|12 orang menyukai ini |lihat komentar|
Kalluto Zoldyck: Gue enggak kabur, gue diusir :(
Alluka Zoldyck: Aku ingin keluar, kak :(
|komentari|Killua Zoldyck: Cuma gue sendiri yang kabur :P
.
Alis Killua sedikit terangkat membaca salah satu status itu aniki-nya itu. Tapi ia hanya melenguh gaje. Biasalah, ini facebook. Kadang orang bertingkah OOC disini. Jadi ia turut bertingkah begitu, dan mengomentari status kakaknya.
Lalu,
Getthe Freedom Organization:
Butuh dana cepat ? Bisa tawarkan disini. Bergabung menjadi anggota dan dapatkan layanan murah untuk mencapai tujuan. Hanya berlaku untuk anggota.
klik: www(dot)getthefreedomorgz(dot)com
or, contact: Shizu-zuka
|Suka|Gon Freecs, Neon-Pinky, Shizu-zuka dan 1123 orang menyukai ini|lihat 654 komentar|
.
"Gon ?" Lenguh Killua saat melihat halaman beranda facebook-nya yang menampilkan status iklan. "Inikah ?" Tanyanya.
Gon mengangguk. "Bagus." Killua ikut mengangguk. "Ayo cepat. Akan diadakan pertemuan untuk komunitas ini. Kita bisa sekalian mendaftar." Killua berdiri dari sofa dan mengambil kemeja yang ia sampirkan pada gantungan topi.
.
.
"Waw !" Desah Neon senang. "Tempatnya ternyata rame juga !" Tunjuknya pada sebuah kafe tak berdinding *ciee elah, bilang aja kafe luar ruangan* yang cukup ramai dikunjungi beberapa orang.
Kurapika menelengkan kepalanya sedikit. "Teman Nona sebanyak ini ?" Tanyanya polos.
Neon tertawa sedikit. "Tidak. Temanku Cuma satu. Ini mungkin teman-temannya temanku." Jawab Neon lebih polos daripada Kurapika.
Kurapika berdehem setelah merasa konyol dengan bincang kecilnya bersama Neon sebentar ini, "Sebenarnya apa yang kau rencanakan, Nona ?"
Neon menggembungkan pipinya. "Sudahlah Kurapika. Jangan panggil aku Nona lagi. Aku sudah besar sekarang." Celetuknya bosan.
"Tidak bisa, Nona. Saya hanya-
"Yayaya. Aku tahu, kau itu bodyguard, tapi tolong jangan panggil aku begitu disini. Aku kan tak enak sama orang-orang disini."
Sementara Kurapika dan Neon berdebat kecil, Kuroro menatap jauh ke kerumunan itu. Sepertinya dia kenal dengan penyedot debu yang tergeletak di bawah kerumunan orang-orang aneh itu. Astaga, itu Deme-chan. Dan pastilah Shizuku yang tengah dikerumuni itu.
"Hei." Panggil Kurapika.
Kuroro menoleh dan memasang tampang bingung. "Ada apa ?" Tanyanya.
"Ikuti adikmu, sana. Aku ada urusan sebentar."
"Tunggu !" Kuroro menangkap pergelangan tangan Kurapika yang hendak berbalik. "Aku ingin bicara sesuatu denganmu." Tahan Kuroro.
Kurapika mengernyit. "Apa lagi yang kau inginkan ?" Desisnya bosan. "Kau tak puas membuatku terjebak dengan bekerja bersamamu ?"
"Kurapika," Lirih Kuroro. "Kita bahkan belum bicara sama sekali. Yang kita bicarakan hanya pekerjaan."
"Memang hanya itu yang perlu kita bicarakan." Kurapika menantang mata Kuroro yang melembut.
"Hufft .." Kuroro menghembuskan napas panjang, lalu menarik tangan Kurapika menyusul Neon yang sudah berjalan duluan. "Ayo."
"Apa sih ?" Kurapika meronta, namun tak terlalu keras. Paling tidak, kali ini mereka hanya menuju Neon.
.
.
Neon berdiri disamping beberapa orang yang duduk berkerumun di kafe itu. Ditengah-tengahnya ada seorang gadis berkacamata yang sudah dikenal Neon.
"Shizuku !" Panggil Neon sambil mencondongkan badannya ke depan supaya Shizuku dapat melihatnya.
Shizuku yang sedang mencatat profile anggota baru komunitas Getthe Freedom itu mendongak, dan mendapati seorang gadis berdiri dengan senyum lebar padanya.
"Oh, halo." Sapa Shizuku, ia menurunkan kacamatanya sedikit dan melihat, "Oh, kau Neon kan ?" Tanyanya pasti.
Neon mengangguk dan mengulurkan tangannya. "Neon." Katanya memperkenalkan diri.
Shizuku ikut bangkit dan keluar dari kerumunan itu, lalu menjabat tangan Neon. "Shizuku." Katanya.
Shizuku menarik tangan Neon untuk berbincang-bincang pada sebuah meja.
"Wah, aku tak percaya bisa benar-benar bertemu dengan temanku yang di facebook." Ujar Neon senang.
"Ya, aku juga. Aku kan baru kembali dari luar negeri, jadi belum banyak bertemu teman." Sahut Shizuku. "By the way, kau kemari dengan siapa ?"
Neon menunjuk 'sepasang orang aneh' yang bertengkar kecil di depan sebuah mobil. Shizuku mengikuti pandangannya. Eh, itu Danchou, kan ?
"Aku kemari bersama dengan onii-chan dan.." Jeda sesaat lalu, "dan onee-chanku." Jawab Neon tak terlalu pasti.
Onii-chan ? Onee-chan ? Astaga, gadis itu kan, si pengguna rantai ? Shizuku membelalakkan matanya. Namun segera menormal saat dilihatnya dua orang itu menuju ke tempatnya dan Neon kini duduk.
"Neon ?" Kurapika memandang gamang antara Neon dan gadis manis berkacamata yang duduk di samping Neon.
Gadis itu memandang aneh Kuroro. Tentu saja, dia kan anak buahnya Kuroro. Namun Kuroro hanya menampilkan ekspresi biasa. Dan entah kenapa Kurapika merasa bahwa mereka sepakat untuk tak bertindak saling kenal.
Sebuah perkenalan palsu pun berlangsung. Demi Neon yang tak tahu apa-apa, ketiga makhluk itu segera berjabat tangan layaknya orang baru kenal. Lalu Kuroro mengajak Shizuku berbicara sedikit.
"Danchou, apa maksudnya ini ?" Protes Shizuku saat Kuroro mengajaknya berbicara agak menjauh.
"Aku kakak angkatnya." Kuroro menjawab datar. Kemudian dia menghela napas saat Shizuku mengedikkan kepalanya ke arah Kurapika. "Aku tak bisa menjelaskan semuanya sekarang." Kuroro merasa terdesak saat Neon dan Kurapika memandang aneh mereka.
"Dan kau, Shizuku. Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kau bisa berteman dengan Neon, huh ?" Desis Kuroro.
Shizuku hanya meringis. "Kami berteman di facebook. Aku hanya ingin punya kawan diluar laba-laba saja." Jawab Shizuku enteng.
"Kau tak mengenalnya sebelumnya ?"
"Tidak."
"Ingatanmu buruk." Cemooh Kuroro.
"Ya. Itulah masalahku." Jawab Shizuku asal.
Kemudian satu ide tebersit di otak sang Danchou. Bagus !
"Eh, Shizuku. Kau bisa menjaga Neon sebentar. Ya, aku ingin kau menjaganya. Jangan sampai dia kenapa-napa. Aku ada urusan dengan si pengguna rantai di tempat lain." Pinta Kuroro.
Awalnya Shizuku menggeleng tak mengerti, namun ia mengangguk saja. "Aku penasaran tentang masalah Danchou dan si pengguna rantai. Tapi baiklah, aku akan menjaga Neon. Kami kan teman." Jawabnya sembari tersenyum.
.
.
"Apaa sih ?" Kurapika membentak kesal dan memalingkan perhatiannya keluar mobil yang ia tempati bersama Kuroro. Jantungnya berdegup cepat. Salahkan lagi Neon ! Dia tak ada disini, jadi Kurapika takut Kuroro berbuat macam-macam padanya. Eh tunggu dulu. Apa ? Takut ? Kurapika segera mengenyahkan pemikiran aneh itu. Dia ini kan seorang Hunter. Masa' takut sama Lucifer ? Masa takut sama laba-laba ? Hell no ! Kalo kecoa, baru boleh takut.
Kuroro meringis melihat ekspresi tak suka yang dipancarkan Kurapika. Dia tahu gadis itu risih.
"Hei, bagaimana kabarmu ?" Tanya Kuroro pada Kurapika yang masih tak mau menatapnya.
"Kau itu gila !" Hardik Kurapika masih tak memandang Kuroro.
Kuroro membuat ekspresi seperti sakit hati. "Ya. Aku gila. Karena itu kau nyaris membunuhku dan menahanku di Panti Rehabilitasi itu kan ?"
Kurapika diam. Kuroro masih melanjutkan bicaranya. "Tidakkah kau lihat ? Usahamu berhasil untuk merehabilitasiku. Sekarang aku sudah jadi orang baik, 'kan ?
"Kau tak pernah bisa menjadi orang baik. Cepat kembalikan aku !" Geram Kurapika sambil menatap Kuroro dengan mata yang berapi-api.
"Aku cuma ingin mengobrol denganmu, tak boleh ?"
"Tidak !"
"…"
"Kuroro, cepat hentikan mobil ini."
"Tidak."
"Hentikan mobil ini !"
Kuroro menghela napas. "Baiklah, baiklah kalau itu maumu." Dan mobil pun berhenti di tempat yang Kurapika sendiri tak tahu namanya.
Kurapika segera keluar dari mobil itu, dan menyadari dia sudah berada di jalanan menuju ke luar kota. Disamping kiri-kanannya hanya terhampar sebuah lapangan dan kebun bunga besar yang menurun. Dan kini pun tak ada mobil atau kendaraan lain yang melewati jalan ini. Mampus dia ! Jantungnya terasa merinding. "I-ini dimana ?" Tanpa sadar, bibir Kurapika bergetar saat sadar kalimat aneh itu meluncur dari mulutnya.
Kuroro yang baru turun dari mobil turut mengangkat bahu. "Tak tahu." Jawabnya selengehan.
"Aku tak mau tahu." Kurapika menarik napas sebentar. Ya, dia tak mau tahu. Mungkin dia mau tempe. "Pokoknya aku ingin kembali ke kota." Ucapnya masih menahan amarah.
Kuroro berjalan sedikit ke depan, mengabaikan kata-kata Kurapika. Ia berhenti di depan Kurapika yang berdiri di dekat jenjang tanah untuk turun menuju kebun yang penuh dihiasi bunga-bungaan liar. Namun lapangan yang ditumbuhi bunga-bungaan tak menentu itu tetap cantik kok. Ia dapat melihat bentangan bunga berwarna-warni di lapangan itu.
Kurapika melihat ke bawah. Ya, benar sekali. Kebun yang sangat indah. Lalu ia pun melihat Kuroro yang menuruni jenjang tanah menuju ke bawah.
"Hoi ! Mau kemana ?"
Kuroro memutar badannya yang sudah di tengah jenjang ke bawah. "Mau mengajakmu jalan-jalan." Ucapnya dengan wajah polos.
Sigh ! Jawaban apa itu ? Kuroro terus melanjutkan jalannya. Dan mau-tak-mau karena tak ingin tinggal sendiri, Kurapika turut mengikuti langkahnya.
Saat sedang asyiknya menuruni jenjang tanah itu, Kurapika merasakan badannya terhuyung ke depan. Ia sempat terpekik sedikit. Namun dirasakannya sepasang tangan yang merangkul pinggangnya erat. Aroma maskulin segera tercium oleh Kurapika yang memerah. Lalu satu bisikan terdengar,
"Kau harus hati-hati, Nona."
DAMN ! Itu Kuroro. 'Bagaimana dia bisa ada di belakangku ?' Tolong jangan tanyakan itu Kurapika. Dia Kuroro Lucifer, tentu saja bisa dengan cepat menghilang atau melompat atau berlari atau apalah namanya, ya tentu saja dia bisa berpindah dengan cepat dari depanmu hingga ke belakangmu.
Dan entah bagaimana caranya lagi, kini Kurapika dan Kuroro sudah menginjak tanah rata yang tak berjenjang di dasar kebun itu. Bunga-bunga yang setinggi dada bagi Kurapika mulai menutupi di sekelilingnya.
Catat itu, Kurapika Kuruta ! Kau berada di kebun bunga bersama seorang pria. Itukah impian kecilmu ?
Kuroro menyeringai kecil saat melihat wajah Kurapika yang mengembangkan senyum. Dia masih menggenggam tangan kecil gadis itu. Lalu entah apa yang tebersit lagi di otaknya, Kuroro mendorong pelan bahu gadis itu hingga kini badan Kurapika tertahan oleh dinding tanah di tepian kebun itu.
Kurapika sedikit meronta saat merasa Kuroro mulai macam-macam padanya. 'Hei bodoh ! Bajuku ini putih. Kau bisa mengotorinya.' Ringis Kurapika dalam hati saat punggungnya menabrak dinding tanah. Namun ia terkesiap saat Kuroro mencengkeram sebelit pinggangnya. Kurapika kembali menampilkan ekspresi meringis. "A-apa yang akan kau lakukan ?"
"I'll kiss you." Desis Kuroro sembari tersenyum.
Sebelum otak Kurapika bisa mencerna desisan Kuroro, detik berikutnya Kurapika merasakan bibir Kuroro mulai menyentuh bibirnya dengan pelan. Detik berikutnya lagi, Kurapika dapat merasakan tekanan yang lembut pada bibirnya. Sigh ! Kuroro benar-benar menciumnya.
Jantung Kurapika berdegup dengan cepat. Beberapa saat kemudian, Kurapika terpaksa mencengkeram jaket biru yang dipakai Kuroro saat badannya bersama Kuroro hampir merosot ke bawah.
Kuroro menghentikan ciumannya saat dirasakannya Kurapika mencengkeram jaketnya. Ia memberi jarak sedikit untuk Kurapika yang sesak napas. Namun masih tergolong dekat, Kuroro meletakkan jempolnya pada dahi Kurapika.
"Sudah bisa bernapas ?" Kekeh Kuroro saat melihat bibir Kurapika yang berkilau karena sedikit basah.
Kurapika menunduk. "Sialan kau." Lirihnya. Mukanya terlalu merah untuk dihadapkan pada bunga-bungaan yang menjadi saksi atas ciumannya.
Kuroro mengangkat dagu Kurapika pelan. Hingga nampaklah semu merah yang mewarnai wajah putih gadis itu. "Ayo tatap aku." Pinta Kuroro.
Kurapika menghirup udara sedikit lalu dengan wajah kesal menatap mata Kuroro yang hanya berjarak sepuluh senti segaris diatas matanya.
"Aku mencintaimu." Jujur Kuroro sambil menarik pinggang Kurapika mendekatinya. Satu tangannya diletakkan di bahu gadis itu.
Kurapika membuang muka. Oh tidak. Jangan biarkan dia menangis. Itu kalimat yang ditunggu-tunggunya. Tapi tetap saja ia tak bisa langsung menerima Kuroro, meskipun ia tahu, hatinya amat mencintai Kuroro. Kurapika menggigit bibirnya kuat-kuat. Ayo katakan 'tidak.'-dan kita akan lihat sebesar apa perjuangan Kuroro mendapatkannya.
"Aku tidak…"Kata-kata Kurapika dibiarkan menggantung.
Kuroro merasa sekujur badannya menjadi tegang. 'Aku tidak ? Aku tidak apa ?' Kuroro merasakan badan Kurapika yang menggeliat melepaskan rangkulan pinggangnya dari tangan Kuroro.
"Maaf Kuroro. Mungkin aku sudah menutup pintu hatiku."
Dan Kuroro menahan napas saat mendengarnya.
.
TBC ..
Waaa, cerita apa itu ?
Tolong jangan tanya Raci. Raci gak pengalaman bikin cerita yang ada 'kissing'-nya *blush
Omong-omong, Raci boleh gak mintak saran sama readers mengenai tantangan maupun scene untuk perjuangan Kuroro mendapatkan Kurapika ?
Kalo yang mau nyumbangin ide, Raci bakal pertimbangkan kok
lewat REVIEW boleh kok :)
Arigato *bungkukkin badan* ^^
