Minna-san, Raci balik lagi dengan fict terlantar ini ..
Gomenasai atas keterlambatannya.
Semoga ceritanya masih nyambung..

.

.

HUNTER X HUNTER disclaimer by YOSHIHIRO TOGASHI

MY FIRST FICTION

"YORK SHIN"

Warning : sedikit AU, OOC, dan lain-lain yang bikin fic ini menjadi minus.

Semoga ceritanya masih nyambung..
ENJOY ~

.

.

Pukul 06.00 senja bertengger rapih di pergelangan tangan Senritsu. Dia duduk di sebuah meja bundar bersama dengan Tuan Nostard. Juga Basho yang kali ini ditugaskan untuk mengawal majikan mereka itu. Beberapa gelas kopi dan cake setengah kering sudah lama habis dari meja itu. Mereka tampak bosan, tak terkecuali Tuan Nostard yang malah blackberry-an di ponselnya.

Acara lelang itu diadakan di Indigo Tower. Semacam studio lengkap dari hotel sampai café, bahkan stadion pertarungan. Katanya, gedung yang menyeimbangi Celestial Tower itu diurus langsung oleh mafia dan para anggota godfather, jadi bisa dibilang gedung ini cukup aman untuk pelelangan kali ini. Lelang, lelang, lelang, York Shin memang ibukota judi.

Ruangan yang ditempati yaitu Adamantite Ballroom lantai 7, tempatnya luas, tak bisa dideskripsikan. Semua bisa menebak luasnya hampir seluas lantai 7 itu. Dinding dari apartemen itu kaca satu arah, yang bisa melihat ke luar, tapi tidak untuk melihat ke dalam. Dan pintu utama dijaga oleh 4 orang berbadan kekar.
Aman. Benar-benar aman dan nyaman. Tak ada kemungkinan bisa dimasuki kriminal. Tapi, who knows ?

Sementara itu, Senritsu meremas tangannya. Dia merasa 'sesuatu' sedang mendekat, dan Kurapika malah menjauh. Dimana kiranya temannya itu ? Dia baik-baik saja ? Bukankah dia bersama dengan Kuroro dan Nona Neon ? Senritsu mengedarkan pandangan panik ke segala arah, dan sayang dia tak menemukan orang-orang berpenampilan panik pula seperti dirinya.

"Dimana kau, Kurapika ?" Bisiknya kecil sambil memejamkan mata, menajamkan pendengarannya.

"Apa yang terjadi, Senritsu ?" Kata Basho yang merasa aneh dengan raut rekannya itu. "Kedua Bos kita belum menghubungi ?" Tanyanya lagi.

Senritsu menoleh ke sampingnya, Basho dan Tuan Nostard menatapnya heran. Oh, dia bisa memberi tahu firasatnya ini pada mereka kan ?
Baru saat dia ingin mengatakan firasatnya, Senritsu kembali bungkam. Tuan Nostard yang panik, tak boleh dipermain-mainkan.

"Tentu saja tidak ada yang terjadi, Basho. Kita duduk disini dan menunggu lelang dimulai. Aku hanya mengkhawatirkan Kurapika." Kata Senritsu dengan lafaz tenang, namun tangannya masih setia meremas-remas tanda ia berbohong.

"Ah itu." Basho meluncurkan badannya ke sandaran kursi. "Kau tak perlu khawatir. Mungkin si Kurapika itu sedang berkencan dengan Kuroro-sama." Cibir Basho sedikit.

Senritsu tersenyum. 'Apa ? Berkencan ? Tidak mungkin !' jeritnya dalam hati.

"Oh, Tuan." Kata Senritsu mengalihkan pembicaraan. "Anda sudah menghubungi Nona Neon ?"

Tuan Nostard menepuk kepalanya dengan keras. "Ya, Tuhan !" Erangnya seakan tersadar sesuatu. "Tentu saja aku harusnya menghubunginya. Aku akan menghubunginya dulu." Katanya, lalu menekan ponselnya dan menempelkan ke telinga.

.

.

"Kau siap ?"

"Siapa ? Aku ?"

"Bukan kau, tapi cicak di belakangmu. Ya jelas kamu lah ! Sudah siap ?"

"Gomen. Tentu saja."

"Bagaimana dengan yang lainnya ?"

"Sudah stand by."

"Bagus. Shalnark, tolong kau kabari Shizuku dan Danchou yang sedang keluar."

"Heh." Keluh Shalnark. "Jangan mentang-mentang kita hanya berdua disini, dan jadi partner, kau bisa seenaknya mengaturku, Machi."

TAK.

"Aw ! Sakit, Machi ! Kenapa kau menjitakku ?"

"Makanya, cepat hubungi !" Kata Machi bersungut kesal.

"Huh."

.

.

"Shizuku ?"

Shizuku yang sedang duduk di sofa apartemen mengalihkan pandangnya pada pintu kamar yang digunakan Neon untuk ganti baju tadi.

"Bagaimana ? Apa papa masih bisa mengenaliku kalau seperti ini ?" Tanya Neon sambil mengangkat ujung rok span berbahan jeans hitam yang dikenakannya. Bajunya hanya kaos hijau gelap tiga perempat lengan, berpadu hitam disana sininya. Tanpa pernak-pernik pinky pada sepatunya yang kini menjadi sepatu kets hijau biasa. Hanya rambutnya yang digelung ke atas dan ditutupi topi hitam. Menyamarkan warna pinknya.

Shizuku tersenyum simpul. "Tidak. Kau sudah tidak seperti Neon Nostard lagi." Kekehnya.

"Bagus." Kata Neon tersenyum licik yang dipatri di wajahnya. Bibirnya sedikit gelap, akibat pulasan lipstick ungu milik Shizuku. Semuanya milik Shizuku, termasuk baju yang dipinjamnya ini. "Arigato, teman. Kau sangat menolongku. Aku tak tahu bagaimana cara kabur dari rumah itu lagi."

Shizuku mengangguk, sembari melepas kacamata yang setia membingkai matanya. Sepasang onyx yang tak kalah kelam dari obsidian murni mulai tampak. Ia mengenakan baju kaos yang mirip dengan Neon. Hanya saja miliknya polos berwarna putih. Putih, seakan menantang warna pakaian yang selalu digunakannya, hitam. Dan celana jeans selutut berwarna krem. Rambut hitamnya hanya disisir asal-asalan seperti biasa, juga ditutupi topi krem.

Dan kali ini mereka membawa koper.

"Kita siap ke pelelangan." Kata keduanya.

Dan, baru saja mereka akan menginjakkan kaki untuk keluar, deringan yang sama jatuh pada ponsel mereka.
Seringai yang sama, lalu satu kali klik pada ponsel dan nada pun berhenti. Ponsel pun kembali masuk ke dalam saku.

"Ayo !" Kata Shizuku setelah ia mematikan panggilan pada ponselnya itu.

Neon mengangguk. Dan menjejalkan ponsel dalam sakunya pula setelah mematikan tadi.

Sedang di lain sisi, Tuan Nostard mengerutkan kening bingung. 'Gerangan apa Neon mematikan panggilanku ?'.
Begitupun dengan Shalnark yang mengernyit tak suka. 'Apa yang terjadi pada Shizuku sampai dia mematikan telponnya ?'

.

.

Gon Freecs dan Killua Zaoldyeck berdiri di depan jalanan utama kota York Shin. Dua bocah itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru seolah sedang tebar pesona. Ada pembeda besar atas dua orang yang masih layak disebut sebocah itu. Oke.. umur boleh bilang 14 tahun, tapi ketahuilah mereka bahkan bisa bertingkah lebih autis dari anak 10 tahun.
Gon, menyandang tas punggungnya sambil memasang tampang bersedekap di samping tiang lampu merah. Killua menyanderkan tangan kanannya pada tiang lampu yang sama, sedang tangan yang satunya dimasukkan ke dalam saku. Tatapan mereka sama-sama malas. Di seberang jalan, gedung megah gemerlapan sedang cukup ramai.

"Masih lama ?" Kata Gon yang tak biasa-biasanya mengeluarkan nada datar. Dihisapnya beberapa kali lolipop di mulutnya yang tangkainya sudah patah.

Killua mengangkat bahu dari tempatnya berdiri-disamping Gon. "Daritadi gedung itu tak kunjung sepi." Katanya sedikit tak nyambung.

"Aaaah ! Aku bosan." Gon mengeluarkan ponselnya, dan mengacak-acak beberapa nomor di kontak ponselnya itu. "Aku mau telpon Shizu-zuka dulu." Katanya.

Killua tak menanggapi, hanya bersiul membunuh kebosanannya. "Kau tahu tidak, Shizu-zuka itu orangnya seperti apa ?" Tanya Killua asal-asalan sambil membayangkan ciri-ciri yang mungkin terdapat pada orang bernama Shizu-zuka. Dia tergelak saat bayangan salah satu profiler Genei Ryodan, tersenyum lebar muncul di benaknya. Hihihi, tidak mungkin seperti Shizuku kan ?

"Tidak." Jawab Gon. "Dia tidak memajang foto aslinya."

"Oh." Tanggap Killua. Dia beralih sibuk membayangkan pertemuan tadi di sebuah kafe. Banyak sekali anggota disana. Dan beberapa bahkan ia kenal, namun ia urung menyapa. Sepertinya anggota komunitas itu cukup banyak.. oh tidak, sangat banyak. Sejujurnya ia ragu bisa memenangkan target Lucifer Freedom, jika lawan dalam komunitas itu cukup banyak juga. Tapi sedari tadi, ia tak menemukan orang yang kira-kira bernama Shizu-zuka.

"Ah, Sial !" Umpat Gon sambil mengepalkan tangannya ke tiang tempatnya bersandar. "Tidak diangkat." Katanya saat Killua mengedarkan pandangan bertanya.

Namun beberapa saat setelah itu, dua orang gadis nampak berboncengan dengan sebuah motor melaju ke arah mereka. Mata kedua bocah Freecs dan Zaoldyeck itu membulat seketika.

'Itukah Shizu-zuka ?'

.

.

Pukul 06.44 malam berada di dinding apartemen Kurapika. Gadis itu terlelap di kasur, tanpa sepengetahuannya. Pakaiannya masih pakaian siang tadi, dan bahkan sepatunya belum dilepas. Tak lama, ia menggeliat dan memutar badannya.

"Enggh.." Lenguhnya. Namun beberapa saat dia tersadar, dan mata biru tajam langsung terbuka. Kurapika kaget bukan kepalang. Ia bangkit dari tidurnya dan duduk, segera ia memeriksa kelengkapannya. Sepertinya kejanggalan tengah bermain.

Ia berulang kali mengucapkan syukur saat sadar ia tak apa-apa. Namun bukankah aneh saat menyadari dirimu tengah tertidur di sebuah apartemen, ya walaupun itu apartemen milikmu sendiri sih.

"Kuroro !" Erangnya. Namun ia tak menemukan entitas cowok itu dimanapun. "Sialaan kau !" Makinya.

DRRTT .. DRRT ..
Getar ponsel segera mengalihkan pikirannya.

Senritsu

calling~

"Moshi-moshi ?"

"Kurapika !" Teriak Senritsu dari seberang. Membuat Kurapika sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. "Apa kau bersama Nona Neon dan Kuroro-sama ?" Tanyanya langsung.

KRIK.
Kurapika diam seribu bahasa. 'Kami-sama ! Aku melupakannya.'

"Demi Kami-sama, Kurapika. Apa yang terjadi padamu. Kenapa kau bisa meninggalkannya ?" Tanya Senritsu panik. Dan astaga, Senritsu membaca pikirannya.

"Jangan berpikir bodoh jika aku membaca pikiranmu ! Cepat cari Nona Neon !" Perintah perempuan itu sekenanya.

TUT TUT TUT.

Ponsel dimatikan oleh peneleponnya.
Kurapika mematung tak percaya. Satu detik kemudian ia memekik tak sengaja. Lalu berlari mengganti pakaiannya dengan celana panjang dan baju kaos serta jaket, memakai sepatu yang bisa dijangkaunya dan melakukannya dalam 3 menit. Ia segera berlari keluar apartemen setelah menguncinya. Berharap mengerti akan apa yang terjadi dan kejelasan mengenai firasatnya yang sangat sangat sangaaaaat buruk !

Sial ! Sial ! Sial ! Berkali-kali gadis pirang itu mencoba menghubungi Neon, namun hasilnya nihil. Dan Kuroro pun begitu. Saat mengecek kembali ia menyadari ponselnya yang berada dalam mode no signal. Big sucks buat keadaan seperti ini.

Dia panik. Panik sekali. Kenapa ia bisa seceroboh itu berduaan dengan Kuroro ? Dan kini Neon pasti sedang dalam bahaya. Atau dia ingin kabur. Tak ada yang tahu isi kepala gadis hyperaktif itu.
Yang Kurapika tahu hanyalah Neon pasti menginginkan dibawa ke pelelangan. Dia pasti disana, berdiri dengan congkak di sekitar area pelelangan seperti dulu. Dan Kurapika hanya perlu menemukan entitas merah muda yang menyembul di sekitar orang yang pasif dengan tuksedo atau pakaian tak mencolok. Ya, pasti gadis itu takkan sulit ditemukan, seperti dulu..

"Maaf, Nona. Jalanan macet." Celetuk supir taksi yang ditumpanginya tiba-tiba.

Kurapika segera tersadar. "Macet ?" Katanya tak percaya. Dia menghela napas panjang dan mengeluarkan uang dari dalam sakunya berikut turun dari taksi itu. Dia berlari di tepian trotoar yang cukup ramai oleh pejalan kaki. Baguslah, tak terlalu jauh dari Indigo Tower.

Dan seketika ia berlari, secara tak sengaja ia melihat disana, di sebuah gang yang sepi. Beberapa orang Genei Ryodan disana. Kurapika sontak berhenti berlari. Namun saat memperhatikan lagi, disana hanya ada tumpukan sampah. Oh, mungkinkah Kurapika berhalusinasi ?
Dia mengucek matanya dan tetap dihadapkan pada tumpukan sampah yang menghijau dikerubungi lalat. Mungkin dia berhalusinasi. Dan gadis itu kembali berlari sambil sesekali menggunakan ponselnya untuk menelepon Nona Neon-nya yang entah dimana.

.

Dari atas atap gedung, beberapa orang yang 'mungkin' halusinasi bagi Kuruta tadi berdiri.

"Hampir saja ketahuan." Kata seseorang dengan mulut terbungkus sapu tangan.

"Kau sih, Feitan." Dorong Nobunaga bosan pada teman se-timnya itu. "Kau yang salah pilih tempat sembunyi sih." Katanya sekena menyalahkan.

Yang dituduh hanya angkat bahu. Sedang seorang lagi, Phinx diam tak menggubris.

"Sudahlah, tunggu saja telepon dari yang lain disini. Toh, dia tak melihat ke atap, kan ?" Jawab Feitan setengah malas.

.

.

Adamantite Ballroom, pukul 07.09. Keadaan masih normal seperti biasa. Senritsu tetap terduduk dengan perasaan campur-aduk, disamping Tuan Nostard yang tampak bersiap-siap untuk mengikuti pelelangan ke tengah room ini. Basho menghilang, dengan alasan mencari angin keluar. Perasaan perempuan itu tambah mixing saat Kurapika tak lagi mengangkat teleponnya.

"Ne, Senritsu. Para pengawal disuruh tunggu di tepi ruangan. Aku akan ke tengah sendiri saja. Kalian bisa menunggu disini." Kata Tuan Nostard padanya.

Senritsu mengangguk ragu. Entah mengapa ia tak terlalu percaya kalau pelelangan ini akan berlangsung bagus. "Tuan, mungkin Kurapika sedang menuju kemari." Katanya dengan nada gagu.

"Aa. Ya, tak apa. Kalian bisa bergabung disini. Dia pasti bersama Neon dan Kuroro."

Senritsu merasa keringat mulai turun di pelipisnya. Apatah dia yakin, mengatakan bahwa Kurapika sangat jelas, tidak bersama Neon. Entah dengan Kuroro, namun yang terpenting itu adalah Neon. Ia hanya mengangguk kecil, dan Tuan Nostard berjalan meninggalkannya.

Seketika itu juga, Senritsu merasa kecapaian. Neon ini memang suka mencari masalah. Namun kali ini, Kurapika juga turut mencari masalah nampaknya. Apa maksudnya meninggalkan Neon seorang diri di luaran sana ? Ceroboh sekali dia itu. Dan apalagi maksudnya dengan pergi bersama Kuroro ? Mungkin Kurapika sudah kehilangan ke-professionalitas-nya.

Dia mengalihkan matanya pada pintu utama. Sedikit ribut-ribut karena beberapa orang yang masuk. Senritsu tak melihat jelas yang masuk siapa, namun jelas sekali kalau yang masuk cukup banyak. Dan samar-samar dia merasakan aura nen milik seseorang. Hanya saja, dia lupa. Siapa ya ?

.

.

"Jadi kau itu Shizu ya ?" Tanya Gon basa-basi.

Gadis disampingnya mengangguk dengan ekspresi dingin yang kentara. Dia terlalu hemat kata nampaknya. Gon juga turut mengangguk karena tak tahu harus bagaimana.

Killua menuruti di belakang bersama seorang gadis juga. Nampaknya kedua makhluk itu tak bicara banyak selain perkenalan yang menyebutkan bahwa gadis itu bernama 'Pink', dan pertanyaan security mengenai keterdaftaran mereka dalam lelang. Kesan pertama yang ditangkap Killua adalah ketidak-cocokan nama dan penampilan gadis itu. Tak ada embel-embel pink kecuali rambutnya yang ditutupi oleh topi hitam. Selebihnya hanya citrus gelap yang digunakannya.

Dan saat mencapai room, Gon dan Killua mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Paling tidak walaupun sedang dibodohi, mereka masih punya insting yang tajam. Dan kedua gadis, Shizu dan Pink tampak tak menggubris apa-apa kecuali mengeratkan pegangan pada koper yang dibawa oleh Shizu.

"Hei, Shizu. Kau sudah men-share ke anggota yang lain bahwa kita sudah sampai ?" Tanya Killua malas.

Si Shizu mengambil ponsel dari saku dan menekan-nekannya. Nampaknya dia memang melakukan yang diperintahkan Killua.

Setelah merasa mendapat tempat duduk yang kosong, mereka kembali diam. Dan Gon merasakan hal yang sama yang tengah dirasakan seseorang di tepi ruangan ini. Ia merasakan 'sesuatu' sedang mendekat. Killua turut merasakannya meskipun dia mengabaikan hal itu. Berbeda dengan Pink yang merasa cemas setengah mati. 'Kami-sama, semoga papa tak mengenaliku.' Teriak innernya. Dan tak ada yang tahu apa yang sedang dirasakan Shizu dengan sikap stoicnya yang tampil dengan lengkung senyum.. err atau seringai kecil.
Sekali lagi, who knows?

.

.

Dengan napas acak-acakan dan pakaian cukup awut-awutan, Kurapika sampai di depan Indigo Tower yang cukup ramai. Dia memeriksa sakunya dan mengeluarkan sebuah kartu sebentuk kartu kredit dan menunjukkannya pada penjaga di depan gedung itu. Si penjaga mengizinkannya masuk.
Dan gadis itu kini berada dalam gedung besar itu. Dowsing chain meliuk-liuk di sekitar jarinya. Namun tak jelas arah yang ditunjukkannya. Sebuah keanehan besar kala rantainya tak bisa menunjuk arah Neon. Kurapika diam, kesal tentu saja. Baru kali ini rantainya berulah seperti ini. Dia menaiki lift menuju lantai 7, Adamantite Ballroom tepatnya.

Dan keadaan disana ramai. Dia mengeluarkan ponsel dan memutuskan untuk menghubungi Senritsu. Disini ramai sekali, ia tak tahu harus berjalan kemana. Senyuman kecil terkembang di wajahnya. Sinyal disini lumayan.
Belum jadi gadis itu menelepon, seseorang tengah melambai padanya. Itu dia ! Senritsu berdiri di atas kursi sambil melambai padanya. Dengan gerakan cepat, ia menerobos kumpulan wanita berpakaian rapih yang tengah mengobrol di tengah jalan.

"Kau sampai juga." Kata Senritsu seraya turun dari kursi yang dipanjatnya tadi. "Mana Neon ? Dan mana Kuroro itu ?" Tanya Senritsu. Sedikit perasaan lega terpancar di wajahnya.

Namun Kurapika urung membuka suara. Berkata saja, bisa salah tafsir temannya ini. Dia menggeleng, lalu menambahkan "Dowsing chain tak bisa digunakan untuk melacak Neon. Menurutmu kemana dia ?"

Senritsu menghela napas. Tentu saja dia sudah tahu jawaban atas pertanyaannya sebelum Kurapika membuka mulut untuk menjelaskan. Tercetak jelas dari irama detak jantung orang yang sudah lama dekat dengannya itu. "Kita beritahu Tuan Nostard atau bagaimana ?" Tanya Senritsu mengabaikan pertanyaan Kurapika sebelumnya.

"Tidak usah." Tukas Kurapika tegas. "Aku akan mencari kedua kakak beradik menyebalkan itu dan kuberi pelajaran." Katanya membara.

Bertepatan setelah itu kasak-kusuk mikrofon mulai terdengar, dan bergemalah pembukaan pelelangan bergengsi kali ini. Kurapika mengikuti Senritsu duduk diam saja sebentar sekalian untuk menenangkan napasnya yang memburu. Basho datang dan turut mengambil tempat. Setidaknya Kurapika yakin bahwa Tuan Nostard bisa terlindungi disini, sementara nanti dia pergi mencari anak majikannya itu.
Kurapika tak terlalu mengikuti pembukaan lelang itu. Barang yang akan dilelang pun, gadis itu angkat bahu.
Sayang sekali, jika dia tahu apa yang akan dilelang setidaknya dia tahu apa yang membuat firasatnya memburuk hari ini.

.

.

Tepat pukul 07.15 malam, lelang dibuka. Beberapa sambutan kecil tengah berlangsung. Namun sedikit kejanggalan terlibat saat kapasitas lampu ruangan yang terang benderang itu meredup. Sang MC beberapa kali permisi ke belakang untuk mengeceknya. Namun kini sudah tak terlalu buruk, meski sesekali meredup jua.

"Gon ?" Panggil Killua dengan intensitas suara yang rendah. Pandangannya masih tetap menatap ke depan.

Gon yang merasa dipanggil sedikit memiringkan kepalanya pada Killua yang duduk disamping kanannya. "Ya ?"

Killua diam sebentar. Lalu menatap ambigu pada dua orang kenalannya tadi yang kini duduk seleret di depan ia dan Gon. Shizu dan Pink. "Aku merasakan sesuatu." Katanya dengan bisikan yang nyaris tak terdengar.

Namun Gon tetap diam, ekspresi wajahnya sedikit menegang. "Ada yang tidak beres." Timpal cowok jabrik itu. Killua mengangguk. Kembali menatap pada MC dan beberapa orang disamping MC cewek itu.

MC itu mengangkat-angkat tangannya menunjukkan semangat dimulainya pelelangan ini. Kata-kata yang diucapkannya tak terlalu diperhatikan oleh orang-orang. Semua orang hanya ingin lelangnya dimulai. Dia menunjuk seorang pria disampingnya, dan orang itu segera berlari kecil ke belakang tirai merah yang menutupi setengah panggung.

"Dan inilah barang lelang kita kali ini…..!" Teriak si MC saat tirai merah akan membuka.

JRENG~
Beberapa barang lelang tersusun rapih di dalam kotak kaca. Lucifer Freedom diletakkan ditengah.

PRANG !
ZIP .

"Astaga ! Apa yang terjadi ?" Teriak seseorang dari ujung kanan ruangan saat lampu dengan tiba-tiba mati total.

"Kyaaaaaa, ada kaca yang pecah !"

Riuh teriakan dan pekikan mewarnai isi Adamantite Ballroom itu kala beberapa kali terdengar pecahan kaca. Semuanya gelap ! Orang-orang mulai berlarian kesana kemari. Lampu tak kunjung hidup atau mengerjap. Suara mikrofon yang berdenging menjadi backsound kericuhan itu.

.

"Aaarrrrrrgh !" Teriak seseorang lagi. Suaranya kencang, membuat Senritsu yang masih panik menekan kuat telinganya. Disampingnya, ia merasakan Kurapika yang mematung. Dan ada yang menyerempet tubuhnya saat merasa orang-orang mulai berlari kesana-kemari.

Dengan segala ketenangan yang masih dipunyanya, Senritsu menutup mata membiarkan suara-suara alam merasuki telinganya dan membetulkan posisinya. Disampingnya dirasakannya Kurapika mulai sadar dari keterkejutan.

"Senritsu !" Teriak gadis itu. Kurapika tak dapat melihat apa-apa, seisi ruangan gelap dan dia terlengah oleh keributan tadi. Dia kehilangan Senritsu menurutnya. Namun ia segera merasa sedikit tenang saat seseorang menyentuh lengannya. Ia tahu, Senritsu berada di sampingnya.

Mata Kurapika memerah dengan sendirinya. Kegelapan dan kericuhan memancing warna merah itu keluar dengan sendiri saja. Chain, rantai yang melilit jari tangannya makin meliuk tak beraturan. Lalu kemudian, tiba-tiba ia merasakan aura Senritsu menjauh darinya.

"Aaaarrgh .."

"Kyaaaaaaaa.."

Dan Kurapika segera terjatuh saat seseorang mendorong tubuhnya hingga terjerembab. Suasana masih ricuh. Kurapika meraba lantai tempat dia terjatuh. Namun didekat sana ia merasakan onggokan daging. Ya Tuhan ! Itu mayat.
Terkesiap, Kurapika segera berdiri.

.

Lain keadaan dengan Gon dan Killua yang berada di tengah ruangan itu. Kursi-kursi disekitar mereka dapat dirasakan bahwa sebagian telah tumbang. Dan masih banyak orang yang masih berteriak-teriak. Kedua lelaki itu memusatkan tenaga dan membiasakan pandangan. Namun kegelapan kali ini adalah kegelapan total. Tak ada yang dapat dilihat dan dirasakan, entah karena apa.

"Gon, cari Shizu dan Pink !" Perintah Killua dengan teriakan yang cukup keras. Ia tak tahu dimana posisi Gon saat ini. Aura orang-orang tercampur aduk dan nen tidak bisa digunakan dengan baik disini. Ada semacam kekkai yang mengunci gedung ini hingga nen pun menjadi rancu. Killua tak tahu apa yang terjadi, siapa yang bisa menggunakan kemampuan pengacau nen dalam jangkauan sehebat itu.
Iris Killua yang berkilauan segera mencari satu titik untuk tubrukan pandangannya, dan saat mencapai penglihatan, sesuatu menarik perhatiannya. Shit ! Dia melupakan tas punggung yang disandang Gon tadi. Seingatnya, Gon melepas tasnya tadi.

"Goooon !" Teriak Killua lagi sambil berputar mencari keberadaan Gon. Namun tak ada terdengar jawaban atau sahutan dari Gon kira-kira. "Goooon !" Ulang Killua lagi. Masih tak ada jawaban. Killua berhenti bergerak, mendiamkan segala aktivitasnya seperti mengumpulkan ren. Dan samar-samar, dia bisa merasakan keberadaan Gon.
Killua memperkuat tegaknya sambil memejamkan mata, walaupun orang-orang banyak yang menubruknya saat berlari.

Sebocah berambut jabrik hitam..Dengan baju kaos dan kemeja tak dikancingkan..Meronta di lantai. 4 meja, 2 leret ke depan dari tempat Killua berdiri.
YA ! Itu Gon. Dan dia tak lagi menyandang tas. Killua masih menutup matanya, mencoba menggapai tempat Gon yang entah kenapa bisa berada di sana.

"Gon !" Teriaknya lagi. Killua merasakan seseorang menendang kakinya. Killua pun segera berjongkok dan meraba sesuatu di lantai. Orang itu menyundul tangan Killua yang mengacak wajahnya. Ini Gon.

Killua dapat membayangkan, saat ini kawannya itu dalam posisi tangan yang diikat, dan mulut yang dibekap. Bocah Zaoldyeck itu tak segan-segan menarik perban besar di mulut Gon itu.

"Hosh..hosh..hosh.." Buru napas Gon yang sesak.

"Gon, kau kah itu ?" Tanya Killua.

"Ya. Hosh.. tolong kau lepaskan ikatan di tanganku." Katanya. Dan Killua segera melepasnya dengan cakar.

Dalam kegelapan itu, Killua membantu Gon berdiri. "Apa yang terjadi ?"

Namun Gon tak menjawab. Dia menarik napas. "Tidak bisa dijelaskan sekarang. Aku dan seorang bapak-bapak diikat disini. Mungkin bapak itu masih didekat sini." Kata Gon memberi penjelasan.

Gon memejamkan matanya juga, mematung sebentar. Lalu dengan sigap ia menarik Killua berlari. "Disana. Di leret paling depan." Tunjuk Gon.

Killua mengikuti langkah Gon sebisanya. Hingga langkah kawannya itu berhenti. Killua tak tahu apa yang dilakukan Gon, namun dia mengerti saat Gon berbicara dengan suara seorang pria.

"…Aku..Aku bersama dengan bodyguardku." Samar-samar Killua dapat menangkap kata-kata pria itu. "Kami di meja 28 di dekat dinding sebelah Timur." Jelas orang asing itu lagi.
Detik berikutnya, Killua merasakan Gon kembali menariknya berlari.

.

.

PRANG .

Satu lagi kaca yang dipecahkan. Kali ini, Kurapika menubrukkan kursi ke jendela kaca ruangan itu, dan kacanya pun langsung pecah. Terseok-seok ia agak berlari keluar ruangan itu. Dia berdiri di koridor ruangan yang cukup gelap, namun masih temaram oleh sedikit cahaya yang berasal dari luar. Chainnya masih belum berfungsi normal, namun beruntunglah ia yang terpancing oleh mata merahnya yang kini menyala. Sedikit-sedikit dia bisa melihat sekitarnya.

Ujung koridor di dekat lift, ia merasakan hawa seseorang. Kurapika memperpelan langkahnya. Dan sesampai di dekat sana, pandangan mata merahnya mulai menajam.
Seseorang bertubuh besar dengan pedang.
Genei Ryodan.

TING .

Suara lain membuat kejut perempuan bersurai pirang itu. Sebilah pisau jatuh tepat di belakangnya, tampak memang ditujukan padanya, namun tampaknya lagi hal itu gagal. Ia berbalik dengan keterkejutan luar biasa. Ditemukannya entitas wanita berambut acak-acakan dengan iris mengkilat. Disamping wanita itu berdiri seseorang yang tengah mencengkeram tangannya, beriris mengkilat pula.
Machi dan Killua.

"Killua ?" Tanya-sorak Kurapika tak percaya.

"Kurapika ? Kau Kurapika ?" Tanya Killua mempererat cengkeramannya pada wanita yang hendak melukai temannya itu. Machi mengaduh kecil.

Namun belum sempat Kurapika menjawab, mata pedang yang dingin melekat di sekitar lehernya. Pelaku memiliki gerakan cepat yang mengunci kedua tangannya.

"Hai, pengguna rantai. Lama tak jumpa." Katanya.

Kurapika menggeliat, namun salah-salah lehernya bisa terpotong. Dia sedikit menjerit, membuat Nobunaga turut memperkencang cengkeramannya.

"Hei bodoh, lepaskan dia !" Teriak Killua.

Namun tak digubris. Sedetik ia lengah, Machi segera membanting badan bocah Zaoldyeck itu. Killua memang tak berkonsentrasi.

"Kau membuatku kesal, anak kecil." Kesal Machi sambil tegak dan berbalik meninggalkan Killua, Kurapika serta Nobunaga rekannya sendiri.

Sejurus kemudian, Killua kembali bangkit mendorong Machi hingga tak tahu mereka berdua terpental sampai mana. Meninggalkan Kurapika yang tengah dicengkeram Nobunaga dengan taruhan putusnya leher sang pengguna rantai.

"Tinggallah kita berdua." Kekeh suara Nobunaga yang terdengar dari telinga kanan Kurapika.

"Kau mau mencari masalah, heh ? Kau mau kehilangan lehermu ?" Gertak Kurapika dingin.

Nobunaga tertawa besar. "Cih, mau mengancam memotong leherku ? Pikir dulu, lehermu sendiri belum tentu bisa kau selamatkan."

Selagi dia tertawa, Kurapika menggeliat gesit ke arah kanan menepis pedang itu dengan tangannya yang bebas dari cengkeraman. Suara 'ting' kecil, dan pedang itupun bertubrukan dengan lantai.

"Che, kurang ajar kau gadis kecil !" Umpat Nobunaga kala Kurapika tengah berlari kabur darinya. "Lihat saja.." Tambahnya lagi dengan seringaian kecil, "Aku akan bilang pada Danchou bahwa aku menemukanmu."

Well, siapa suruh Nobunaga pergi dari York Shin beberapa tahun ini ? Ia tak tahu apa-apa tentang Danchou dan statusnya, pengguna rantai beserta perasaannya dan, bahkan tentang hubungan aneh antara Danchou dan pengguna rantai.
Poor you are ..

.

.

Di beberapa tempat, kejadian masih terus berlangsung. Kepanikan belum mereda. Bawahan para mafia dan beberapa anggota godfather telah turun tangan. Seseorang yang panik berdiri di depan panggung pameran. Dia berteriak-teriak.

"Apa yang terjadi ?" Tanya Basho yang tengah mencari Tuan Nostard, pada seseorang.

"Ba-barang lelang dibawa kabur !" Kata orang yang ternyata adalah MC acara tadi.

Basho mengarahkan senter yang dibawanya. Menyorot wajah wanita MC itu. Tepat saat dia menyorot, wanita MC itu tumbang. Dibelakangnya berdiri lagi perempuan dengan seringaian iblis, setelah habis menusuk perut wanita MC itu sampai mati.

"Selamat malam, Tuan." Katanya ramah. Namun setelah itu, Basho dapat merasakan tangan gadis itu menepis senter yang dipegangnya. Kegelapan kembali memimpin.

"Si-siapa kau ?" Bentak Basho sedikit keras.

Perempuan itu tak menjawab. Hanya terkikik mendengar pertanyaan dari mulut Basho itu. Perempuan itu dengan gesit menarik kerah baju Basho dan membantingnya ke salah satu sudut ruangan.

Basho menampik serangannya, tapi tak banyak membantu mengingat nen tidak bisa direalisasikan di gedung aneh ini. Perempuan bersurai gelap itu nampaknya bisa menggunakan nen-nya. Terbukti saat dia mengalokasikan sebenda tajam pada lengan Basho yang kini luka. Basho mulai kehilangan keseimbangan, kemudian dia tiba-tiba saja tak kuat menahan badannya bergerak. Sepertinya pisau yang melukai lengannya itu memang beracun.

"Cih, kau tak perlu tahu siapa aku !" Sayup-sayup Basho mendengar perempuan itu mendecih, lalu memungut senter milik Basho tadi. Perempuan itu menggambil sesuatu di kotak kaca. Sampai situ, kesadaran Basho pun turut menghilang bersamaan saat perempuan itu pergi…

.

Si perempuan bersurai gelap itu menuju ke belakang panggung pelelangan. Sabuah ubin besar menganga lebar saat dibuka. Ya, pintu keluar rahasia. Beruntung sekali perempuan itu mengetahui jalan ini, setidaknya ia tak perlu berhadapan dengan beberapa masalah di pintu-pintu utama.

"Hei, kau mendapatkannya ?" Tanya seorang kepada perempuan itu. Dari suaranya yang rendah dapat ditebak bahwa ia adalah perempuan juga.

"Ya, tentu saja." Jawabnya dengan perasaan senang yang kentara.

Mereka menuruni jenjang keluar rahasia itu dengan pelan-pelan. Bagus bukan ? Mereka bisa kabur dari beberapa masalah sekaligus.

.

.

"Ya ?"

"Hei Shalnark, beritahu yang lain bahwa barang lelang sudah tidak ada !"

Shalnark terduduk tegak dari atap bangunan Indigo Tower itu. Dia sedang mengeratkan pemancar nen dan sinyal khususnya. "Apa ? Kenapa bisa ?"

Feitan yang menghubungi lewat ponsel itu diam, lalu angkat bahu. "Sepertinya ada yang mencuri kesempatan. Tapi tak ada yang kabur lewat pintu yang aku jaga." Jawab Feitan memberi jawaban.

"Benarkah begitu ?" Kata Shalnark polos. "Begini saja, cari orang-orang yang berkemungkinan mengincar target paling besar. Dan pastikan Lucifer Freedom berada di tangan kita ! Aku akan menghubungi Danchou."

Feitan hanya mengangguk saja. "Dan oh ya, ada satu lagi…" Tambah Feitan sebelum telepon ditutup. "Shizuku tak pernah muncul. Dia menghilang."

Shalnark terdiam saja. Benar juga, dari tadi dia dan Shizuku lose contact. Ah sialan, kemana perempuan itu ? "A-aku tahu itu." Tanggap Shalnark. Ya, dia memang tahu kalau Shizuku menghilang, dia yang paling tahu. "Aku masih di sekitar pemancar nomor 1. Aku akan melacaknya dengan pemancar sinyal ini. Hanya dengan ini, sinyal bisa digunakan." Kata Shalnark, dan dia pun memutuskan teleponnya.
Shalnark mengatur beberapa sandi dalam mini komputernya, hingga tak menyadari seseorang berdiri tak jauh darinya.

"Hei, kau adalah biang keroknya." Tuding seseorang berhasil mengejutkan Shalnark. Dia pun berbalik ke belakang, dan mendapati sosok Gon Freecs yang berdiri dengan tangan kosong.

"Oh kau." Kata Shalnark kecil. "Pintar sekali kau bisa tahu aku bersembunyi disini." Tambahnya sembari tersenyum dibuat-buat.

Gon ikut tersenyum palsu membalas Shalnark. "Aku hanya mencari tempat yang dekat dengan tower sinyal." Kata Gon polos.

Gon mengambil kuda-kuda dan membuat ancang-ancang. Begitupun dengan Shalnark. Seketika itu juga aliran nen menyelimuti keduanya.

"Wow. Ternyata dari sini sumber segel kekkai anti nen itu." Puji Gon saat merasakan nen mengisi tubuhnya. Dia segera bergerak dengan cepat, dan berlari menerjang Shalnark yang tak terlalu bersiap-siap. Shalnark berhasil mengelak.

"Ouch. Maaf, aku sedang tidak berniat bertarung." Ejek Shalnark saat berhasil mengelakkan serangan Gon. Gon sendiri masih melompat-lompat dari segala arah mencoba menciptakan ilusi.

"Aku juga tidak !" Teriak Gon, dan langsung menjatuhkan dirinya di atas Shalnark. Laki-laki bersurai karamel itu membanting tubuh Gon dan membalikkan keadaan.

Namun Gon kembali lolos, mencapai tower kecil yang teraliri nen dengan komputer kecil pula. Tanpa pikir panjang, bocah Freecs itu menginjaknya dengan keras.

CRASSSH.

Perangkat itu pun hancur. Membuat Shalnark dirundung emosi.

"Sial !" Umpatnya, lalu meninju Gon dengan bertubi-tubi. Gon tak sempat menghindar, namun ia dapat menahannya dengan sedikit ren.

"Rasakan ini !" Teriak Shalnark sambil memajukan tinjunya pada pipi kanan Gon. Bocah itu terpental. Shalnark memandangi dengan raut jengkel. Dengan masih menahan sakit, Gon bangkit dan melompat dari atap gedung itu, meninggalkan Shalnark.

.

"Senritsu ?"

"Gon ? Halo ? Gon ?" Jawab Senritsu dari seberang telepon.

"Aku menghancurkan komputer penyegel sinyal. Apakah kau masih bersama majikanmu ?" Tanya Gon. Dia mengkhawatirkan bapak-bapak yang ditolongnya tadi. Setelah mengantar bapak itu ke meja nomor 28, Gon dan Killua bertemu dengan Senritsu yang mengaku bahwa bapak itu adalah majikannya. Dan disana pula Gon dan Killua berpencar mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Senritsu mengangguk. Di sebelahnya Tuan Nostard sedikit mengerang sakit. "Ya." Jawab Senritsu.

"Senritsu, kau harus bawa majikanmu ke tempat yang aman. Keadaan tak akan membaik dengan cepat." Peringat Gon.

"Apa ? Kenapa ?" Tanya Senritsu. Dia masih tak bisa melihat sekeliling, karena masih gelap. Namun beruntung, sinyal sudah bisa digunakan.

Gon yang dalam keadaan terjun bebas dari atap gedung hanya menutup mata. "Senritsu, yang mengadakan penyerangan ini bukan orang biasa." Kata Gon. "Mereka Genei Ryodan."

Seketika Senritsu tercekat. Inikah 'sesuatu' yang mendekat itu ? Tidak. Tidak mungkin Genei Ryodan. Kelompok itu sudah hancur, dan ketua kelompok itu adalah anak angkat dari Tuan Nostard, sekaligus pimpinan bodyguard bersama Kurapika. Tidak mungkin dia kembali melakukan ini. Namun tentu saja Gon belum mengetahui itu. Bahwa kini, Kuroro Lucifer berprofesi sebagai manusia biasa saja.

"Gon." Panggil Senritsu tanpa sadar. "Cari Kurapika."

Gon memusatkan tenaganya berkumpul pada kaki. Jaraknya terjun tadi sangat tinggi. Dia bisa mati jika tak bisa menggunakan ren. Dalam hati, bocah itu bersyukur saat kakinya menginjak tanah dengan menghentak. Dia terjatuh dan membuat lecet beberapa bagian di kaki dan lengannya.

Dia sedikit merenung. Aneh sekali jika Genei Ryodan kembali muncul. Apa karena kedatangan Kurapika ? Pimpinan Ryodan itu sendiri telah kehilangan kemampuannya untuk menggunakan nen sebelum dijebloskan ke dalam Panti Rehabilitasi oleh Kurapika sendiri. Apa yang membuatnya bisa bertindak tanpa kekuatan ? Tanpa memikirkan bahwa Kurapika akan bertindak pula.

'Oh ya, cari Kurapika !' Seru Gon, dan dia segera memperhatikan sekeliling untuk mencari bantuan. Namun dia lupa, tas berisi uangnya kan juga hilang ? Sepertinya sehabis itu, Gon harus mencari Shizu dan Pink pula.

.

.

Killua Zaoldyeck berdiri dengan napas tak teratur saat ini. Ia memegangi sebelah tangannya yang terluka. Di ujung koridor pencahayaan temaram sebelah Barat, Machi menunduk dengan napas yang ngos-ngosan pula. Keadaannya tak jauh berbeda dari Killua dengan kakinya yang terluka dan terus mengeluarkan darah.

"Maaf, aku benar-benar tak berniat bertarung dengan perempuan." Sindir Killua.

"Ya, aku juga tak ingin melukai anak-anak." Balas Machi. Ah kurang ajar ! Perempuan itu benar-benar menyulut emosi Killua.

"Apa maumu dan Ryodan sebenarnya ?" Tanya Killua langsung-langsung.

Machi tak menjawab, mengabaikan saja seakan-akan tak mendengar pertanyaan Killua. Hal itu sukses membuat Killua berteriak.

"KAU BERSAMA LABA-LABA KAN ?"

"YAA !" Jawab Machi tak kalah keras.

Itulah jawaban yang ditunggu Killua. Ia hendak berlari, dan aliran nen menyelubungi tubuhnya. 'Nen ?'. Tanpa pikir panjang lagi, anak ketiga dari keturunan Zaoldyeck itu melesatkan kakinya mempersiapkan kekuatan nen, Narukami-nya untuk dilepaskan pada Machi.

Tak kalah gesit, Machi menarik ujung jarinya, membuat kilatan benang kebiru-biruan di sekitarnya. Satu kali tarikan pada tangan, badan Killua segera tergores oleh beberapa benangnya yang tajam.

"Cih." Geram Killua. Ia mengaliri tubuhnya dengan listrik. Membuat benang-benang yang melilit dan menggores tubuhnya terputus. Ada satu benang yang menggores bibirnya, membuat sedikit darah keluar disana.

Tak sampai setengah detik, Killua kini berdiri di depan Machi. Tubuhnya sekarang cukup jauh lebih tinggi dari Machi sendiri.

Killua berkata dengan pelan. "Beritahu tujuanmu.."

Machi memalingkan wajahnya saat sadar wajahnya dan Killua kini sangat dekat. Namun Killua makin mendekatkannya.

"Beritahu apa tujuan Laba-laba.." Rajuk Killua lagi dengan bisikan.

Machi tak berbalik, tak menjawab. Namun itu membuat Killua sedikit kesal nampaknya. Killua meraih pipi perempuan itu dan menghadapkan langsung padanya.
"Beritahu aku apa tujuanmu dan laba-laba kembali memberontak !" Kata Killua keras.

Masih tak ada jawaban. Hingga akhirnya Killua tanpa sadar menatap mata keemasan di depannya. 'Matanya lucu.' Kikik Killua dalam hati. Lalu entah nafsu apa yang membuat Killua Zaoldyeck menempelkan bibirnya di bibir Machi yang berkilau karena temaram. Mata Machi membulat seketika. Ia dapat melihat Killua menutup matanya kala bocah itu mencium dirinya.
Beberapa kali Killua melumatnya dengan ganas, hingga Machi menutup mata.
Hanya beberapa detik, hingga kemudian Machi harus memekik tertahan. Rasa sakit menjalari permukaan bibirnya tatkala Killua menggigit bibirnya dengan taring. Bibir perempuan itu tergores dan menitikkan darah. Sialan, Killua sukses mempermainkannya dengan mengambil ciumannya, lalu kini ia melukainya.

Setelah puas, Killua pun segera melepaskannya. Dia lalu mendorong pelan kepala gadis itu bersandar pada bahunya. Kini lain nafsu lagi, ia dalam keadaan setengah memeluk musuhnya itu.

"Balasan karena kau menggores bibirku dengan benangmu." Kata Killua enteng dengan suara kecil di telinga kiri Machi.

Machi sedikit terperosot. Rasa sakit dan pedih menghujam bibirnya. Sumpah demi apa, itu amat sakit. Killua lalu memukul tengkuk perempuan itu. Membuat mata Machi memburam, dan kemudian ia tak dapat melihat apa-apa lagi saat kesadarannya mulai berputar-putar.

Killua diam saja, merasakan gadis itu tak sadar lagi. Seketika pandangannya iba juga. Killua menarik gadis itu untuk melihatnya sebentar, lalu menggendongnya di punggung. Ia tak tahu harus melakukan apa lagi. Jadi dia menggendong Machi dan mencari jalan keluar dari gedung ini. Dan kemudian ponselnya bergetar.

One new message
From: Gon

'Sinyalnya sudah hidup. Nen dapat digunakan dalam separoh ruangan. Usahakan agar kita tetap berhubungan. Aku di depan gedung. Kau dimana, Killua ?'

Sebelah alis Killua terangkat. Ah, tak usah dibalas. Dia akan langsung menuju tempat Gon. Dengan kecepatan yang masih mampu, Killua yang menggendong Machi berlari turun lewat tangga darurat dari lantai 7 itu. Lama dia berlari, lantai satu dicapainya dan dilihatnya Gon yang tengah bersiaga di depan pintu utama.

"Goooon !" Sapa Killua.

Gon segera berbalik dan mendapati Killua sedang menuju ke arahnya. Tapi dia membawa seorang.. astaga, seorang Genei Ryodan.

"Killua. Aku tak tahu apa yang harus kita lakukan sekarang." Aku Gon dengan polosnya.

Killua tersenyum tipis. Dia juga tak tahu. "Sama." Akunya cuek. "Oh ini, aku mendapatkannya saat bertarung di lantai 7 tadi." Killua memamerkan seringai liciknya di penekanan kata 'mendapatkan' yang disebutnya.

Gon mengangguk sok mengerti saja. "Tadi aku bertemu anggota lainnya yang berambut coklat." Katanya membagi informasi meski lupa-lupa ingat dengan nama Shalnark. "Dan ada pemancar yang mereka gunakan untuk menangkap nen dan sinyal."

"Hmm, begitu ya." Killua memajang pose berpikir. "Dan tadi aku bertemu dengan Kurapika."

"Kurapika ?" Tanya Gon. Oh iya, dia hampir lupa. "Kita harus mencari Kurapika." Kata Gon. Namun tiba-tiba pembicaraan mereka terputus saat mendengar suara ribut-ribut dari sebelah Barat basement gedung.

PRANG.

Tanpa aba-aba, dua sekawan itu langsung menuju arah tersebut. Mereka terkejut bukan kepalang saat menemukan entitas berambut pirang yang terhempas ke salah satu dinding kaca hingga kaca itu pecah. Keadaan Kurapika saat ini tidak baik apalagi lawannya laki-laki, bersiap menyerangnya lagi.

"KURAPIKAA !" Teriak Gon.

.

.

Sementara itu di tempat lain, dua gadis tengah mencapai sebuah apartemen. Senyum kemenangan tersungging di bibirnya. Sepertinya mereka berhasil.

.

.

TBC ..

.

.

N.B:

Gimana? Typo(s)-udah jelas banyak .. OOC-I'm so sorry ..
Readers yang masih setia, makasih sudah mau baca.
Eh, ada yang marah kalo Killua dipair sama Machi? Dulu aku pernah baca pairing-an ini sih. Kupikir cute gitu.

Saran, kritik, flame sekalipun, sampaikan di REVIEW :)