Note:
CHAPTER 6: Side of the auction.
Diperlukan penjelasan disini. Baiklah, begini penjelasannya:
~Sebelumnya Kurapika pergi dari York Shin, dan kembali setelah 2 tahun.
~Kuroro tak bisa menggunakan nen karena diikat oleh Kurapika (Canon). Ia bisa berkomunikasi dengan laba-laba, hanya saja tetap tak bisa menggunakan nen.
~Freedom Sapphire/Lucifer Freedom/dsb adalah benda yang dapat mewujudkan keinginan dengan membayarkan semacam tumbal. Bisa digunakan beberapa kali, kecuali jika digunakan untuk menyelamatkan nyawa dari kematian (hanya dapat digunakan 1kali).
~Neon tak ingat pernah kenal Kuroro sama sekali, dan ia tak mengerti mengenai laba-laba. Kekuatannya masih penuh karena Kuroro tak pernah mencurinya.
~Kuroro adalah anak angkat Tuan Nostard dan setelah Kurapika kembali, ia bersama Kurapika mengetuai bodyguards (Diperintahkan Nostard).
~Selama Kuroro tak bisa menggunakan nen, laba-laba berpencar dan melakukan pekerjaan normal. Seperti Shalnark yang bekerja di Rusia, Machi seorang karyawati, dll.
.
.
.
HUNTER X HUNTER disclaimer by YOSHIHIRO TOGASHI
MY FIRST FICTION
"YORK SHIN"
by Racci-sora
Warning: sedikit AU, OOC, dsb.
~ENJOY~
.
.
Kurapika berlari kabur dari Nobunaga yang baru saja mencengkeramnya. Gedung tempat lelang bergengsi kali ini dihadapkan pada kericuhan yang besar. Dengan tergesa-gesa gadis itu menuruni tangga darurat, mencari jalan keluar dari Indigo Tower. Sekenanya berlari, Kurapika makin pusing. Ia ingat kata-kata Leorio bahwa beberapa anggota organisasi laba-laba itu sudah tidak aktif lagi. Namun kini informasi itu tak dapat lagi dipegang. Buktinya Kurapika menemukan hampir semua anggota organisasi itu terlibat dalam kericuhan.
Dan oh ya, tadi juga ada Killua. Hah? Killua datang dari mana? Ah, sepertinya Kurapika juga harus menemukan Killua dan menyusun rencana selanjutnya.
Ketika tengah berlari dan mencapai basement gedung, gadis blondie itu memperlambat langkahnya disekitar suara yang hampir tak bisa didengarnya. Dibalik dinding, Kurapika merapat—bersembunyi.
"..beritahu yang lain bahwa barang lelang sudah tidak ada!" Gumam suara itu. Berkat gumaman itu Kurapika yakin bahwa orang itu tengah menelepon dan ia masih melanjutkan permbicaraannya. Kurapika terperanjat sendiri, barang lelang sudah tidak ada.
BUGH!
Aw! Kurapika kini kehilangan keseimbangannya. Dengan tak sengaja membuat dirinya terjatuh dari tangga. Secepat mungkin, si penelepon mendelik terganggu ke arahnya.
Feitan—si penelepon berdiri di depan Kurapika yang terjatuh.
"Kau? Pengguna rantai." Feitan berkomentar dengan suara pelan. Matanya menyipit, melihat musuh lamanya terjerembab di depan kakinya kini. Dengan satu kaki, laki-laki itu menendang perut Kurapika.
"Agh." Kurapika meringis tertahan, terpental tak jauh. Ia segera bangkit. "Kau!" Serunya menunjuk wajah Feitan yang terbungkus sapu tangan. "Siapa yang mengambil barang lelang?" Kurapika menanyai tak sabaran.
Feitan diam saja, di matanya terpancar tatapan bosan. "Tidak tahu."
"BOHONG!" Tuding Kurapika. "Kemana BOS sialanmu itu? Kau pasti disuruh olehnya kan? Sialan kalian!" Teriak Kurapika. Tanpa chainnya yang tak mampu berfungsi dengan baik, Kurapika berlari menerjang ke arah Feitan.
"Kau banyak omong." Feitan menangkis pukulan Kurapika ke wajahnya yang tak menunjukkan ekspresi apa-apa. "Kalau Danchou tak mengeluarkan perintah untuk tak menyentuhmu, kau sudah kuhabisi." Ucap Feitan datar. Ia melayangkan pukulan ke Kurapika. Membuat gadis itu terpental ke belakang dan memecahkan dinding kaca basement dengan bobot tubuhnya. Sementara Feitan bersiap menyerang jika gadis itu membuat pergerakan aneh.
Namun di sisi lain, dua—eh, tiga orang baru saja memasuki basement. Gon, Killua, dan seorang yang disandang Killua di punggungnya. Gon meneriakkan nama Kurapika keras-keras.
"KURAPIKAA!" Teriaknya.
Kurapika dan Feitan yang terlibat pertarungan kecil menoleh ke sumber suara. Kurapika segera bangkit berdiri, sementara dua orang itu berlari ke arahnya. Feitan hanya memerhatikan. Namun sesuatu menggelitikinya tatkala menyadari bahwa orang ketiga yang disandang Killua itu adalah—err, Machi.
"Machi no baka." Geram Feitan. Dengan langkahnya yang gesit, menerjang ke arah Killua. Bocah Zaoldyeck itu memutar kepalanya dengan cepat. Menghindari kontak fisik dengan Feitan yang mungkin bakal melukai kulitnya. Secepat Killua menghindar, secepat itu pula Feitan mengejar, meninggalkan Gon yang tengah membantu Kurapika.
"Hoi, apa masalahmu?" Tanya Killua sensi. Tangannya mengeratkan pegangan pada bobot di belakang tubuhnya, tanpa sadar. Masih terus menghindari jangkauan-jangkauan pemuda dengan mulut terbungkus sapu tangan itu.
Feitan tersenyum mengejek. Ia lalu melompati mobil-mobil yang terparkir di tengah basement. Dia melihat Killua yang kurang terkonsentrasi sebab membaginya dengan menggendong Machi. Dan sebenarnya, Feitan hanya ingin menyelamatkan rekannya itu. Bukannya mengejar Killua yang ke-GR-an.
Nah, disana dia! Feitan menangkap pandangan bingung yang diedarkan Killua dibalik mobil-mobil yang terparkir rapi.
HUP!
Sekali lompatan, Feitan tepat mengenai bahu Killua. Membuat Machi hampir terjatuh dari gendongan Killua.
HUP!
Kini Feitanlah yang menggendong Machi. Killua terpana sesaat. Matanya menyuratkan kebingungan. AH! Ya, tentu saja! Kenapa ia jadi menggendong Machi kemana-mana? Dan sudah jelas kalau Feitan hanya ingin mengambil Machi kembali.
"Heh, selamat tinggal bocah." Pamit Feitan menggendong Machi yang pingsan, lalu menerobos salah satu mobil dan kabur dengan mengendarainya. Meninggalkan Killua yang cengo menatapnya. 'Aduh, akhirnya aku kehilangan perempuan-ku.' Rutuk Killua dalam hati.
.
.
-Back to Gon and Kurapika-
"Kurapika, daijobu?" Tanya Gon sambil membantu Kurapika berdiri. "Ada banyak yang terjadi disini. Pertama-tama kita harus bicara dulu." Jelas Gon.
"Daijobu yo, Gon. Ya, kita harus bicarakan ini sebentar." Kurapika menyetujuinya. Beberapa saat kemudian mereka dikejutkan oleh bunyi klakson dan lampu mobil yang menyoroti mereka.
"Hoi! Ayo cepat naik. Mobil ini bisa dipakai!" Seru Killua dari dalam mobil. Ia ikut-ikutan maling mobil seperti yang dilakukan Feitan tadi, membuat Gon dan Kurapika menganga. "Apa? Jangan lihat begitu. Sekarang ayo naik. Dan Gon, kita harus mencari Shizu-zuka dan Pink!" Tambah Killua.
"Aa—a, baik." Gon menarik tangan Kurapika dan segera masuk ke mobil.
Killua duduk diam di jok kemudi. Kemudian ia menoleh ke jok belakang dan berkata, "A-ada yang bisa mengemudi? Aku tidak bisa."
TAK!
"Aw! Kenapa aku dijitak?" Rengek Killua pada Kurapika yang barusan menjitaknya.
"Cepat kemudikan!" Perintah Kurapika.
"Tapi aku gak bisa nyetir. Kenapa gak kamu aja yan—"
"SETIR atau kamu mau aku CEKIK?" Sahut Kurapika sebelum Killua menyelesaikan kalimatnya.
Killua menelan ludah, menatap lurus ke depan sambil memegang kaku setir mobil curian itu. Huuft, ambil napas, tutup mata, lalu—
"—KILLUA, JANGAN INJAK GAS KERAS-KERAS DONG!" Teriak dua orang penumpang yang terjungkang ke belakang. Oh ya, jangan lupa; Killua masih menutup mata.
Dan mobil itu pun menabrak dinding kaca basement hingga pecah, membuat jalan baru buat mobil yang dikendarai Killua dengan menutup mata.
Menutup mata, yeah. Bukan karena sudah jago mengemudi, tapi karena belum bisa mengemudi.
.
.
.
Sementara itu di tempat lain, salah seorang profiler Ryodan—Shalnark, berdiri di atas atap gedung Indigo Tower. Di telinganya terpasang earphone yang tersambung pada sejenis walkie-talkie mini. Dibelakangnya baru saja tiba pasangan anggota lain kelompoknya, Feitan dan Machi (yang pingsan). Shalnark mengabaikan saja pasangan itu. Melanjutkan konsentrasinya pada benda-benda elektronik keramatnya.
"SEMUANYA MUNDUR! Barang lelang tak ada lagi di gedung ini!" Katanya melalui walkie-talkie-nya.
Beberapa detik kemudian, dari atap gedung itu dapat dilihat warga Ryodan yang keluar dari segala penjuru Indigo Tower.
"Heh." Keluh Shalnark. "Kau juga cepat bawa Machi kembali ke markas." Perintahnya pada Feitan, lalu dirinya sendiri pun pergi dari tempat itu. Feitan melakukan hal yang sama, beranjak dari sekitar Indigo Tower.
.
.
Dan setibanya di markas besar, hampir seluruh Ryodan itu berkumpul. Shalnark mulai mengecek satu per satu. Yang absen hanyalah Danchou dan Shizuku. Keganjilan mulai merambat pada dirinya.
Nobunaga, yang paling tidak sabaran membuka suara besarnya, "KEMANA BARANG LELANG?" Katanya entah pada siapa.
Hening. Tak ada yang menjawab. Wajah Nobunaga memerah menahan amarah. Sebelum ia sempat berteriak lagi, Shalnark menengahi. "Tidak ada yang tahu. Belum ada." Jawabnya.
"Pasti pengguna rantai!" Tuduh Nobunaga sambil menunjuk wajah tak berdosa milik Shalnark. Ia ingat sekali telah menghadapi orang itu tadi.
Yang ditunjuk menghela napas, "Sudah kubilang, tidak ada yang ta—"
"Bukan." Potong Feitan dengan cepat. "Bukan dia yang mengambilnya." Katanya memperjelas jawaban untuk Nobunaga.
"Cih. Berani sekali kau membelanya!" Kali ini telunjuk Nobunaga berpindah mengarah pada wajah Feitan yang membosankan.
Mata Feitan menyipit, jelas bahwa dia sedang kesal. "Tak ada gunanya membela orang seperti dia. Kenyataannya, dia memang tak tahu apa-apa." Balas Feitan menyembunyikan emosinya.
"Lalu sia—"
Belum sampai Nobunaga kembali melontarkan hardikannya, Kalluto yang dari awal mendapat tugas menjaga markas, tak ikut menyerang Indigo Tower membuka mulut, "Shizuku menghilang. Dia tak mendatangi markas dan tak mengabarkan apapun padaku."
"Shizuku?" Semua orang yang baru menyadari absennya Shizuku kecuali Shalnark, Feitan, Kalluto, dan Machi—yang pingsan—menganga. Pertanyaan Nobunaga pun terlupakan.
"Jangan-jangan, Shizuku yang mencurinya." Bisik-bisik anggota mulai terdengar.
Shalnark berjalan menjauhi kerumunan Ryodan, mengeluarkan ponsel biasanya dan menelepon Kuroro.
"Danchou, Shizuku menghilang." Kata Shalnark ketika sambungan telepon diangkat Kuroro. "Dan barang lelangnya juga hilang."
Dari seberang, Kuroro menghela napas. "Sudah kuduga." Jawabnya. "Adik angkatku adalah temannya Shizuku, dan dia juga menghilang. Aku menduga bahwa mereka bekerja sama."
Shalnark diam. Memikirkan bahwa ternyata Shizuku tak sepolos yang dia kira. Sepertinya dugaan bahwa barang lelang dibawa kabur oleh Shizuku dan adik angkat Kuroro memang benar.
"Apa kau bertemu dengan Kura—maksudku, pengguna rantai selama di lelang?" Tanya Kuroro.
"Tidak. Feitan dan Nobunaga yang bertemu dengannya."
Kuroro menghela napas, "Aku tak mengatakan hal yang sama yang kukatakan kepada kau dan Feitan untuk tak menyentuh pengguna rantai kepada Nobunaga. Jadi apakah dia berani menyentuh pengguna rantai?"
"Kurasa dia tak melukainya." Jawab Shalnark seadanya.
"Baiklah." Kuroro memutuskan sambungan, "Biar aku yang mencari Shizuku." Dan telepon pun terputus.
.
.
Kuroro memutuskan teleponnya dan bangkit dari posisi malas-malasan di kasurnya. Beberapa masalah melanda otaknya. Sejauh ini dia memang tidak ikut campur kecuali memerintahkan anak buahnya mencapai target pelelangan. York Shin bisa melihat bahwa dia adalah pemuda tak berdaya. Jika Kuroro mampu ikut serta dalam kekacauan ini, mungkin dia tak perlu menjadi anak angkat Tuan Nostard demi perlindungan. Jika saja dirinya mampu mengendalikan nen yang tertekan di hulu hatinya, Kuroro tak perlu repot-repot mencari Lucifer Freedom.
Siapa yang bisa disalahkan atas segalanya? Tentu saja dirinya sendiri!
Dan sekarang dia harus repot-repot mencari dua gadis labil yang entah apa rencana mereka. Kuroro bisa memaklumi otak freak yang diderita Neon, itu karena ayahnya yang over-protective. Tapi menyangkut Shizuku, Kuroro menggelengkan kepalanya. Demi segelas vodka, Shizuku adalah anak yang baik dan patuh. Mungkin saja karena sudah seharian bergaul dengan Neon, ia ketularan nakal. Kuroro berjanji akan menghukum keduanya bila mereka bertemu.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, Kuroro mengendarai mobilnya.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 09.15 malam. Sudah dua jam dari pelelangan dibuka, kekacauan merebak. Namun kini perlahan-lahan kembali normal, meninggalkan bandit-bandit jalanan yang memanfaatkan suasana kacau demi kesenangan. Senritsu mengawal Tuan Nostard sendirian. Basho tak pernah kembali, dan Senritsu menduga bahwa ia telah dikalahkan. Sekelilingnya masih temaram karena sambungan listrik yang terputus. Satu-satunya pencahayaan tak berarti hanyalah lampu dari ponselnya. Senritsu mengutak-atik ponselnya, ia mendapatkan pesan dari Kurapika.
"Ano, Tuan. Saya akan meneleponkan bodyguard yang lain. Sepertinya ada sedikit masalah dengan Kurapika." Senritsu memberi penjelasan kepada Tuan Nostard.
"Apa yang terjadi pada Kurapika?" Tanya Tuan Nostard cemas.
Senritsu meremas tangannya, pasti ia akan dimarahi kalau membicarakan tentang Neon yang menghilang. "Etto, em—Kurapika sedang mencari Nona Neon, Tuan." Jelas Senritsu akhirnya, "Tapi Tuan tak perlu cemas. Kurapika dan saya akan menemukan Nona Ne—"
"CEPAT CARI NEON." Potong Tuan Nostard.
"Ba—baik, Tuan." Dan Senritsu pun segera kabur dari tempat itu.
.
.
"Di depan taman kota. Di depan taman kota.." Ulang Senritsu merapalkan tempat yang ditunjukkan Kurapika. Dengan tergesa-gesa, wanita kecil itu mencapai tempat yang dimaksud. Dan disanalah terlihat beberapa wajah familiar baginya, Kurapika, Gon, dan Killua disamping sebuah mobil yang—err, hampir tak seperti mobil.
"Senritsu, bagaimana keadaan Tuan Nostard?" Tanya Kurapika langsung.
Senritsu baru saja mengatur napas, "Dia baik-baik saja. Kau sudah temukan dimana Neon?"
Kurapika menggeleng. Senritsu menghela napas.
Killua segera membuka mulut, "Sepertinya kita sama-sama sedang mencari orang. Tapi terlebih dahulu, mari luruskan apa yang sedang terjadi."
Semuanya mengangguk.
"Aku dan Gon akan menjelaskan tujuan kami, yaitu memenangkan sebuah barang lelang yang katanya bisa menambah kemampuan nen. Untuk itu kami bergabung dengan sebuah komunitas. Karena peminat barang yang sama dalam komunitas itu sedikit, kami mengajukan diri untuk turun ke lapangan lelang sebagai perwakilan, dan sekalian membawa uang." Jelas Killua panjang. Ia menarik napas.
"Lalu," Gon melanjutkan, "Ada dua orang lagi perwakilan dari komunitas itu bernama Shizu-zuka dan Pink, mereka sebagai partner kami. Ditengah kekacauan, mereka menghilang. Dan semua barang-barang lelang juga hilang." Gon mengakhiri penjelasannya.
Kurapika dan Senritsu masih mendengarkan dengan saksama. "Jadi kalian akan mencari dua orang itu?" Tanya Kurapika.
Gon dan Killua mengangguk. "Kemungkinan besar, mereka menipu komunitas dan membawa kabur uang kami." Tambah Killua. "Oh ya," Katanya lagi, "Yang paling penting tak boleh kita lupakan adalah.." Killua menggantungkan kalimatnya.
"..Laba-laba ikut serta dalam kekacauan ini." Sambung Kurapika.
"Ya." Gon ikut bersuara. "Aku bertemu dengan salah satu anggota yang berambut coklat, ia menggunakan kekkkai anti nen dan juga pengikat sinyal. Aku rasa dengan benda itu, hanya orang-orang tertentu yang dapat menggunakan nen dengan bebas."
Gon, Kurapika, dan Killua mulai bercerita versi dirinya masing-masing. Sementara Senritsu masih cemas. "Kurapika, tidakkah aneh kalau laba-laba itu kembali mengganas?" Tanya Senritsu.
Kurapika terdiam. Dia juga memikirkan hal yang sama. Apa yang membuat laba-laba itu kembali beraksi? Apakah ini ada sangkut pautnya dengan Neon yang menghilang? Kemudian, dia juga tak bisa menemukan Kuroro. Ya, Kuroro pasti berada di balik semua ini. Walaupun nen yang dimilikinya tersegel, dia masih tetap bisa memerintahkan anak buahnya kan?
Hah? 'Walaupun nen yang dimilikinya tersegel.., walaupun nen yang dimilikinya tersegel..' Mata Kurapika membulat kaget. Ia baru tersadar sesuatu; Ia sama sekali tak tahu barang apa yang dilelang!
"Gon, Killua, barang apa yang kalian incar?" Tanya Kurapika cemas.
Kedua bocah itu terperangah, "Freedom Sapphire." Jawab Gon akhirnya.
JDUAR!
Bagai disambar petir di siang bolong, Kurapika mematung saking terkejutnya. Freedom Sapphire alias Lucifer Freedom, benda yang bisa menghilangkan kutukan dan menambah kemampuan nen sekaligus pengabul keinginan! ASTAGA! Benda itu dilelang! Mengapa hal sepenting ini dia tidak tahu? Sekarang jelaslah semua, Kuroro Lucifer membutuhkan benda itu untuk menghilangkan segel dari Judgement chain milik Kurapika. Kalau barang itu dilelang, sudah jelas peminatnya banyak. Dan kalau dari awal Kurapika tahu bahwa barang itu akan dilelang, dia akan ikut berjuang mendapatkannya!
"Doshita no, Kurapika?" Tanya Gon.
Kurapika segera tersadar. Gerahamnya bergemelutuk menahan kekesalan dirinya. "Lu.." Geram Kurapika, "Lucifer!" Desisnya dengan nada terendah.
"Killua, kendarai mobilnya. Kita mulai dari mencari orang yang bernama Shizu-zuka dan Pink itu." Perintah Kurapika.
Killua mengangkat tangan, "Tolong, Kurapika. Jangan suruh aku mengendarainya lagi. Aku sudah bersyukur dapat sampai kemari dengan selamat." Tolak Killua. "Aku akan menghubungi Leorio untuk mengendarainya."
.
.
.
"Apa? Sekarang? Tapi aku baru sampai di apartemen." Leorio bangkit dari sofa ruang tamunya. Ia memegang ponsel dengan malas.
"Tolonglah." Killua memelas dari seberang telepon. "Aku tidak bisa mengendarai mobil. Dan lagi, mobilnya sudah bonyok. Aku bisa membahayakan penumpang."
"Kau pikir aku ini supir? Aku dokter!" Elak Leorio. Ah dia benar-benar penat. Masa baru pulang langsung dimintai nyupir. Dan lagi, masalahnya apa sih? Kok Killua pake maling mobil segala?
Dari seberang, Killua diam, mengerucutkan bibir. Sengaja ia menghembuskan napas keras-keras. Siapa lagi yang bisa dimintai tolong buat menyupir kalau bukan Leorio? Dia kan memang sudah sering—err, menyupir.
Mendengar desahan napas putus asa Killua, Leorio bertekuk lutut. Dasar bocah manja! Leorio sedikit kesal. Namun toh, dia tetap sudi membantu. "Wakatta. Tunggulah."
Tergesa-gesa, ia mengambil jaket dan kunci mobil yang tergeletak begitu saja. Leorio mengunci pintu apartemennya, dan menerjang lift untuk turun ke lobby. Karena berjalan terlalu cepat nyaris berlari dan pandangan yang kurang fokus, Leorio menabrak seorang gadis hingga gadis itu terjatuh, turut menjatuhkan bingkisan dan kotak kaca kecil berisi permata yang dipegangnya.
"Ah, gomenasai, nona." Leorio menggumamkan maaf sembari memungut kotak kaca itu. 'Untung saja tidak pecah.' Katanya dalam hati. Ia pun segera membantu gadis itu berdiri. Leorio pun menyerahkan kotak kaca itu, namun sempat memperhatikannya sebentar. 'Permata yang indah.' Pikir Leorio.
Gadis berambut dan berpakaian serba Pink itu mengulas sedikit senyum. "Tidak apa-apa. Maaf, saya harus segera pergi." Katanya sambil menerima kotaknya kembali, kemudian segera berbalik menuju temannya yang sudah duduk di atas motor.
Leorio memperhatikan sebentar, lalu tersadar dan segera menuju mobilnya.
.
.
Leorio mencapai taman kota dalam waktu 15 menit. Gon, Killua, Kurapika, dan Senritsu menantinya dengan resah. Sepertinya yang terjadi benar-benar masalah besar, pikir Leorio ketika melihat muka kusut teman-temannya.
"Ayo naik." Kata Leorio tanpa turun dari mobilnya. Semuanya bergegas naik, tanpa kata-kata. Menciptakan suasana yang sedikit canggung dalam atmosfir mobil itu.
Mau tidak mau, Leorio harus tahu dulu keadaan yang sebenarnya. Setelah meminta Senritsu untuk bercerita, ia pun paham. Jadi Ryodan kembali beraksi, Leorio mengambil kesimpulan. Rasanya aneh, ketika di Rusia dia beberapa kali bertemu Shalnark—salah satu anggota Ryodan, dan dia bekerja dengan baik di Rusia. Lalu, ketika kembali ke York Shin Leorio sendiri pun disambut Machi, sebagai karyawati di apartemen yang disewanya. Jika memang penyebabnya adalah sebuah batu yang bernama Freedom Sapphire itu, maka semua ini mulai aneh ketika Ryodan sama sekali kehilangan tergetnya.
Sementara Leorio terhanyut dalam pikirannya, "Sial.", umpat Gon. Mendengar itu, Killua mengangkat kepalanya ke arah Gon. "Nomor Shizu-zuka tidak aktif." Balas Gon.
.
.
.
"Dari mana kau, Neon?" Tanya Shizuku setelah Neon duduk di belakangnya. Ia mengulurkan beberapa tas yang penuh kepada Neon untuk dipegangkan di belakang. Sementara Neon mengangkat kantong yang dibawanya. "Tadi aku memjemput ponselku yang tertinggal di lobby dan membeli makanan. Shizu-chan mau?" Tawarnya dengan polos.
Shizuku menggeleng dengan cepat. "Cepat bereskan barang-barangmu. Kalau kau masih ingin selamat dan melanjutkan cita-citamu mempelajari nen dan berkeliling dunia. Kita harus segera pergi dari sini." Ancam Shizuku. "Pegangan!" Tambahnya, dan segera menstater motornya itu.
Neon menurut apa yang dikatakan Shizuku, merapikan barang-barang yang masih bisa dimasukkan ke dalam tas—di dalamnya dipenuhi barang lelang yang mereka curi—. Sejauh ini ia berbuat kriminal, demi kabur dari papanya. Neon terlalu terobsesi untuk kabur, dan ia tak ingin ditangkap oleh Kurapika ataupun orang-orang yang telah mereka tipu. Barang-barang yang diambil dari pelelangan tadi, bisa menjadi modal baginya dan Shizuku untuk berkeliling dunia. Ya, impian mereka hanya impian anak-anak, tapi terlalu sadis mendapatkannya.
Shizuku dan Neon, dua sekawan itu menutupi tubuh mereka dengan mantel. Sebisa mungkin tak menarik perhatian orang lain dengan cepat, Shizuku membawa motor itu secepat yang ia mampu.
.
.
.
Kuroro, satu-satunya yang bergerak terpisah dan seorang diri kini melajukan mobilnya menuju apartemen Shizuku. Hanya itu satu-satunya tempat bagi Shizuku selain markas besar yang ada di kota ini. Namun betapa terkejut dirinya mendapati apartemen itu kosong. Emosi menyulut amarahnya. Kedua ponsel gadis-gadis itu tidak bisa dihubungi, alhasil membuat Kuroro frustasi. Sudah jelas bahwa merekalah yang membawa kabur barang lelangnya.
Tanpa buang waktu lagi, pemuda bersalib terbalik itu mengikuti arah Shizuku dan Neon yang ditunjuk receptionist tadi. Berulang kali Kuroro mengumpatkan kebodohan adik-adiknya itu.
"Sialan." Geram Kuroro sendiri. "Aku harus menemukan safir itu sebelum yang lainnya."
Dengan kekesalan yang meletup-letup, Kuroro memacu mobilnya. Matanya berkilat saat mendekati dua gadis dengan motor. Those are them!
"Ketemu kalian!" Kata Kuroro lambat. Detik berikutnya, ia memacu mobilnya hingga memotong jalan sepi yang hanya dilalui oleh mobilnya dan motor milik Shizuku, of course.
Lampu mobil Kuroro tepat menyorot wajah terkejut kedua gadis itu. Shizuku mendadak menghentikan laju motornya ketika melihat Kuroro dan mobilnya yang melintangi jalan sepi itu. Kuroro berjalan mendekati mereka.
"Onii-chan." Bisik Neon amat pelan. Ketakutan menggerogoti jantungnya.
"BAKA!" Hardik Kuroro. "Apa yang kalian lakukan?" Katanya dengan nada sarat amarah.
Dari keduanya tak ada yang berani menatap Kuroro. Tamat sudah cita-cita mereka. Habislah mereka. Kuroro menarik tangan keduanya dengan keras. "MASUK KE MOBIL!" Perintah Kuroro.
Kuroro lantas menepikan motor yang dipakai Shizuku tadi ke tengah semak-semak. Lalu segera berbalik ke mobil. Tanpa kata-kata, ia memacu mobilnya sekencang yang mampu ia lakukan menuju ke markas besar.
.
.
Pintu depan bangunan tua sebagai markas besar Ryodan itu berderit ketika dibuka. Isinya lumayan gelap. Hanya diterangi oleh bias cahaya lilin yang redup-padam. Beberapa orang yang ada di bangunan itu melongok ke arah pintu depan. Kuroro masih menyeret Shizuku dan Neon, membawa mereka masuk ke dalam dan mendorong mereka hingga terduduk di tengah ruangan. Dan di dalam ruangan itu, anggota sudah berkumpul.
Semua mata menatap tiga orang tamu yang baru datang itu. Shizuku yang kini diperhatikan menundukkan wajahnya. Malu pada rekan-rekannya yang tampak bimbang menatapnya. Neon melakukan hal yang sama, merasa amat asing entah mengapa Kuroro membawanya kemari.
"Jadi merekalah pencuri barang lelang itu?" Tanya Nobunaga sarkastik. Berjalan mendekati Shizuku.
Kuroro memilih diam, mendudukkan dirinya di sebuah bangku panjang dan memunggungi dua orang yang dibawanya masuk. Shalnark mendekati Shizuku, dan mengamatinya. Machi yang baru sadar dari pingsannya memilih untuk diam dan menyaksikan dari jauh saja. Feitan malah menjauh. Dan Kalluto bergeming. Sementara yang lainnya malah mengerumuni tersangka.
"Aku tak habis pikir, Shizuku." Ucap Franklin.
"Kau menghianati kami." Ucap Shalnark datar.
Shizuku sendiri masih menunduk. Matanya panas, akibat air mata yang hampir merebak. Di sampingnya, Neon bergeming.
"Dengar, semuanya." Kuroro berdiri dan mulai bicara dengan suara lantang. "Shizuku dan adik angkatku, Neon Nostard telah mencuri barang pelelangan di Indigo Tower." Kata-kata Kuroro menciptakan ganjalan dalam diri Shizuku dan Neon sendiri.
"Aku, atas nama Kuroro Nostard mewakili permohonan maaf untuk adikku. Mohon kalian untuk melepaskannya, dan tak menyebutkan keluar demi nama baik keluarga kami. Aku akan menghukumnya di rumah." Kuroro membungkuk sedikit. Kata-kata Kuroro membuat cengo semua orang, termasuk Neon yang menganga mendengarnya.
Kuroro menegakkan badannya kembali. "Dan kini sebagai Kuroro Lucifer, kuserahkan penghakiman atas penghianatan Shizuku kepada kalian semua." Putus Kuroro, sengaja tak menyebutkan nama laba-laba, merahasiakan dari Neon. Keputusan Kuroro membuat debaran kencang di jantung Shizuku, ia mulai berpikir aneh rasanya kalau ia dimarahi karena mencuri oleh seorang pencuri. Namun ini semua bukan masalah itu. Ini semua atas penghianatannya dari laba-laba.
Setelah mengatakan itu semua, Kuroro membawa Neon keluar dan pergi. Namun diluar, ia berbicara kepada Shalnark dan Feitan. "Tolong jangan berlebihan menghakimi Shizuku, dan katakan pada yang lain, aku membawa safir itu."
.
.
.
Lalu ditempat lain, Gon, Killua, Kurapika, Senritsu, dan juga Leorio tengah berada di dalam mobil. Setelah beberapa lama melajukan mobilnya tanpa arah, Leorio mulai ragu ia berada di jalan yang benar. Gon masih terus mengutak-atik ponselnya, menghubungi beberapa anggota komunitas dan memberitahu bahwa mereka telah ditipu. Killua menempeli plaster luka untuk luka-luka goresan di tangannya, akibat pertarungan dengan Machi. Senritsu menikmati keheningan, mencari kejanggalan dalam keheningan atmosfir mobil. Dan Kurapika, yah dia yang paling sibuk, membentangkan peta kota dan mengatraksikan Dowsing chain diatasnya, mencari keberadaan seseorang.
Senritsu membuka suara sembari mengulurkan beberapa lembar foto kepada Gon dan Leorio yang duduk di depan. "Ini adalah foto Nona Neon. Mungkin saja kalian telah melihatnya atau bisa jadi nanti kalian melihatnya."
Killua beringsut ke depan, ikut melihat foto itu bersamaan dengan Gon. Leorio belum ikut melihat, ia sedang menyetir di daerah yang ramai. Killua mengernyit, seolah mengenali wajah dalam foto itu. Lama ia berpikir, tapi tak menemukan apa-apa sebelum Gon sedikit berteriak, "Dia mirip dengan Pink!" Katanya.
Killua tersentak, sedang Senritsu memandang bingung keduanya. "Ya." Kata Killua, "Dia memang Pink, Gon."
Kata-kata Killua membuat Kurapika menoleh dengan cepat. Pink? Kurapika teringat dengan segera bahwa akun facebook milik Neon menggunakan nama; Neon-Pinky. Ia mengerti sekarang bahwa nama itu untuk menyembunyikan identitasnya sebagai seorang Nostard.
Tiba-tiba Leorio mengerem mobil dengan cepat—karena ia terjebak macet—semuanya terdorong ke depan. Leorio menatap semuanya lalu berkata, "Neon, Pink, Nostard, Shizu-zuka, Sapphire.. Apa yang sedang kalian bicarakan? Aku sedang menyetir dan tak bisa mengerti dengan cepat!" Katanya sembari merebut foto di tangan Gon dan melihatnya karena tadi ia ketinggalan. Leorio menganga, hening sebentar. "O-orang ini,..!" Kata Leorio sambil menunjuk foto di tangannya. "Aku berselisih dengan orang ini tadi!"
"A—apa?" Sergah Kurapika dengan cepat.
Leorio tetap diam, seperti memaksa otaknya untuk berpikir, kemudian matanya membulat menandai bahwa ia menyadari sesuatu. Semua orang menatapnya dengan penasaran terlebih lagi Kurapika. "Orang ini, aku menabraknya di lobby apartemen, dan membuat permata yang dipegangnya terjatuh." Ungkapnya. Semuanya tersentak. "Sekarang aku tahu, permata yang dipegangnya adalah Freedom Sapphire."
"O-oh, lihat itu!" Tunjuk Gon ke arah sebuah mobil, dengan cepat mengalihkan pembicaraan mereka dengan tiba-tiba.
.
.
.
Neon merasakan keheningan hendak membunuhnya. Ia duduk di samping Kuroro yang tengah mengendarai mobil. Baru kali ini ia merasakan canggung yang luar biasa ketika bersama Kuroro sejak lelaki itu menjadi kakak angkatnya. Neon membuka kaca mobil itu lebar-lebar, membiarkan udara masuk. Dalam pikirannya yang sedang pengap, Neon tahu bahwa ia akan diserahkan kepada ayahnya dan dihukum habis-habisan, kemudian dikawal dengan sangat ketat, dan Kuroro beserta Kurapika tak akan mau lagi berbicara padanya. Pikiran itu membuat Neon menghembuskan napas dengan tertahan. Kuroro meliriknya sekilas, namun kembali memfokuskan pandangannya ke jalanan. Ya, jalanan yang semrawut karena kericuhan mulai merebak ke kota.
Kini keduanya diam. Neon ditangannya masih memeluk kotak kaca Freedom Sapphire. Entah mengapa, Kuroro memintanya untuk membawa satu-satunya benda hasil curian lelang itu. Neon mendengar Kuroro mengumpat saat menyadari mereka terjebak macet. Keberanian belum menghampiri gadis itu bahkan untuk menanyai kemana tujuan mereka selanjutnya.
"Kau tahu apa salahmu?" Kuroro memecah keheningan dan membunuh bosan menunggui macet. Suaranya menimbulkan grogi yang amat sangat pada diri Neon. Neon mengangguk, tak berani menatap Kuroro.
"Aku mencuri, dan.." Menghela napas sesaat, "..kabur." Ungkap Neon menyadarkan diri sendiri dari tindakannya. Ia tahu, selanjutnya Kuroro pasti akan memarahinya habis-habisan karena telah melakukan tindakan tidak terpuji seperti itu. Neon mempersiapkan mental untuk dimarahi.
"Kau tahu," Kuroro menatap Neon dengan tatapan datar. Mau tak mau, Neon membalikkan badan ke arah Kuroro—masih belum menatapnya—dengan takut-takut. "Tindakanmu tak begitu buruk." Kuroro menyudahi kalimatnya dengan senyum tipis, seakan-akan menunjukkan tanda persahabatan kepada Neon. Gadis itu mendapat keberanian dan mendongak menatap Kuroro.
"Onii-chan tidak marah?"
"Hm, ya. Aku marah." Kata Kuroro kembali menyusutkan semangat Neon. "Tapi, aku marah karena kau tak mengatakannya dulu kepadaku, dan terlebih besar untuk Shizuku." Kuroro menunjukkan wajah jengkel.
"Maka untuk itu," Kuroro mengambil jeda untuk memutar hadap seluruhnya kepada Neon. "Kau sebaiknya tak sadarkan diri!" Kuroro mendesis rendah. Neon membulatkan mata. Hanya sepersekian detik, Neon merasakan kesadarannya melayang saat tangan besar Kuroro memukul tengkuknya.
Kuroro tersenyum tipis, ia melirik kaca spion dan mendapati dari seberangnya, jalur yang berlawanan arah dengan mobilnya, sebocah hijau tengah menunjuknya. 'Ups! Ketahuan deh.'. Belum sempat Kuroro berpikir, mobil yang sama-sama terjebak macet, yang dikendarai Leorio berputar dengan cepat, menabrak mobil lain dan kios-kios kecil disekitarnya. Amat jelas mobil itu mengejarnya. Oke, mau tak mau, Kuroro melakukan hal yang sama, berputar dan memecu mobilnya dengan kencang; KABUR.
Dan dimulailah acara kejar-kejaran.
"LEORIO! Cepat nyetirnya! Mobil itu kabur!" Killua—di dalam mobil Leorio—berteriak, ia tak lagi duduk, malah menunjuk-nunjuk mobil yang dikendarai Kuroro di depan mereka.
"Diam kau! Memangnya kau bisa nyetir?" Leorio menggerutu, terus mempertahankan kecepatan mobilnya menyesuaikan dengan jalanan yang ramai.
Gon apalagi, ia tak bisa diam. Kepalanya menjulur melewati kaca, mencondongkan badannya ke depan, dan berteriak untuk Leorio, "Leorio, ngebut dong! Di dalam mobil itu ada Pink—eh, Neon dan Kuroro Lucifer!"
Leorio diam, mencoba fokus untuk tak menabrak orang, dan mengabaikan teriakan teman-temannya. Jaraknya dengan mobil Kuroro kini dihalangi oleh dua mobil di depan mereka. Gon kembali menjulurkan kepalanya, melihat aksiden yang terjadi di depan. Kecelakaan. Dan mobil Kuroro berhasil lolos dari macet yang disebabkan kecelakaan itu.
"Kita terjebak." Kata Gon saat mereka kembali dihadang kemacetan.
Di sudut mobil itu, Kurapika menahan amarahnya. Berdiam diri, sampai saat ini. Tapi semua keleletan ini mengganggunya. Kuroro dan Neon beserta safir itu takkan ikut berdiam diri. Kurapika beranjak, keluar dari mobil dan berkata pendek, "Aku turun. Aku akan mengejarnya." Dan iapun berlari di trotoar, menabrak semua orang yang menghalanginya.
Gon, Leorio dan Killua tak sempat meneriaki namanya untuk menghentikannya. Saat Gon berinisiatif untuk mengikuti Kurapika, Senritsu menghentikannya. "Biarkan dia sendiri. Kita akan menyusulnya bersama-sama." Senritsu berkata dengan lemah, seolah-olah ia meyakinkan diri sendiri untuk membiarkan Kurapika sendiri. Ia telah mendengar detak jantung Kurapika yang mengganas, namun tersirat kekecewaan dan kesedihan seakan-akan hatinya pernah dipermainkan. Senritsu memutuskan bahwa Kurapika menyongsong masalah pribadinya, dan biarkan ia mendapat privasi.
.
.
Dan Kuroro pun terbebas. Ia berada di jalanan yang lengang. Semak-semak tumbuh di tepi kiri dan kanan jalan yang tak terlalu besar itu. Senyum kemenangan tersungging di bibirnya. Ia tak peduli lagi berada dimana sekarang. Yang penting, ia bisa memulai ritual pertukaran segel nen dengan batu permata safir; Lucifer Freedom saat ini juga. Ia hanya butuh semacam tumbal, dan untung ia telah menyiapkan satu di bagasi mobilnya. Dengan berat hati, lelaki itu manarik seseorang keluar dari bagasi mobilnya, jantung orang itu masih berdetak dan ia belum menjadi mayat. Kuroro tersenyum sedih—atau hanya tipuan muka—kepada calon korbannya; orang yang tak dikenali. Ia mengambil kotak permata safir itu dari pelukan Neon yang tengah pingsan.
Syaratnya tak sulit. Untuk melakukan pertukaran segel nen, si pengguna harus membawa satu korban, diletakkan sebagai semacam tumbal bersyaratkan; jantung yang masih berdetak, nadi yang masih berdenyut, dan nafas yang masih berhembus. Kuroro memeriksa kelengkapan si korban. Check, semua cocok. Kendatinya, korban akan bertukar nyawa dengan safir itu. Korban hanya perlu kehilangan jantungnya, tidak lebih dari itu kok. Setelah mengucapkan sumpah dan keinginan, si pengguna akan mendapatkan keinginannya. Sangat sederhana, bukan?
"Sesuai cita-citamu, Ubogin." Kuroro berdiri disamping si korban yang ditidurkan begitu saja di tengah jalan. Tepat di jantungnya, Lucifer Freedom diletakkan. "Laba-laba akan bersatu, dan karena ini peringatan 2 tahun kematianmu, aku akan bersuci dengan darah. Mengembalikan laba-laba yang telah kita bentuk." Ia menatap langit dengan pandangan berduka. Sekilas ia menunduk, dan terlintaslah wajah cantik seorang gadis Kuruta. Kuroro tersentak. Namun segera fokus, dan cepat-cepat menepis pikirannya. Ia bergerak cepat dan meletakkan tangan di atas Lucifer Freedom, dan diatas jantung di korban.
"Aku bersumpah atas semua kaki laba-laba." Kuroro memejamkan mata, membaca sumpah yang terkarang begitu saja di benaknya. "Demi keabadian kematian dan sejumput syair dari warna kehidupan. Jiwa dan ragaku bukanlah apa-apa, tanpa gelora dan nen yang tersegel di hulu hatiku. Atas nama keagungan Lucifer Freedom, aku Kuroro Lucifer—"
"HENTIKAAN!" Sekonyong-konyongnya, sumpah Kuroro terputus. Jeritan itu berasal tak jauh darinya. Kuroro mengedikkan kepala sedikit dan matanya membulat menemukan sosok seseorang yang daritadi mengganggu konsentrasinya; Kurapika Kuruta.
"Berhenti kau brengsek!" Napas Kurapika ngos-ngosan. Ia menatap Kuroro sengit dengan pandangan benci yang pernah Kuroro saksikan dua tahun yang lalu. Kuroro menatapnya dengan tersenyum. Ia menggerakkan badannya dengan cepat—tanpa menggunakan nen—dan sekonyong-konyongnya ia telah berdiri di belakang Kurapika.
"Kau menggangguku." Kata Kuroro pendek. Kurapika berbalik dengan cepat, tanpa ragu ia melancarkan tinjunya ke pipi Kuroro. Lelaki itu mengelak.
"Brengsek kau!" Kurapika kembali melancarkan serangan bertubi-tubi pada Kuroro, tapi dengan mudah Kuroro menghindarinya. Kurapika menjadi kesal, matanya berubah merah menyala bersamaan dengan itu gerakannya semakin cepat. Sementara Kuroro terpana. Ia menatap dalam-dalam kobaran merah di mata Kurapika. Jadilah ia terbius. Kurapika berhasil mengenai pipi kiri lelaki itu dengan pukulannya.
"Aw." Kuroro berkata tanpa ekspresi, dan itu membuat Kurapika menjadi kesal. Ia menyeringai, lalu berubah menjadi senyum. Dan Kurapika kembali menghujani Kuroro dengan pukulan-pukulan dan terjangan-terjangan yang makin lama, makin sulit dihindari lelaki itu. Gadis itu tak bersusah payah sedikitpun mengeluarkan rantainya, entah karena apa, ia bertoleransi kepada Kuroro, karena lelaki itu tak memiliki nen, dan Kurapika menghargainya.
Semakin lama terlibat konflik fisik, Kuroro semakin melemah di mata Kurapika. Dan tiba-tiba saja Kuroro terjatuh dan terhempas ke aspal. Kurapika mengatur napasnya. Ia menatap Kuroro yang tengah mengelap darah yang menetes di sudut bibirnya dengan tajam. Kuroro balik menatap dan melempar senyum.
Darah Kurapika naik sampai ubun-ubun. Ia kesal. "Matilah kau, brengsek!" Kurapika menendang dada lelaki itu dan Kuroro tak lagi melawan. Ia masih tersenyum. "Apa yang kau senyumi ha? Kau mau kubunuh?" Suara Kurapika menggelegar. Kuroro tak menjawab, ia berdiri. Kurapika pun terus melancarkan serangan pada lelaki itu.
Kurapika memukul wajah Kuroro, "Uh." Baru kali ini Kuroro buka mulut sejak ia mengejek Kurapika dengan kata-kata 'aw' nya yang datar. "Kau menggangguku." Ulang Kuroro menyebut hal yang sama.
Kurapika menendang perutnya. "Kau menggangguku dengan selalu datang ke pikiranku." Ucap Kuroro lagi. Sepersekian detik Kurapika tersentak lalu kembali menyerang Kuroro.
"Ketika aku akan melupakanmu, kau datang." Kurapika mendengarkan kata-kata Kuroro, tapi ia tetap menyerangnya.
Kuroro akhirnya menangkap pergelangan tangan Kurapika saat gadis itu akan melancarkan pukulan lagi ke wajahnya. Mata merah Kurapika membulat, dan Kuroro baru menyadari mata itu tengah berkaca-kaca membuat warna merahnya menyelang. "Kau bilang, kau telah menutup pintu hatimu." Kuroro mengatakannya sambil memandang Kurapika lekat-dekat.
"Lalu beritahu aku." Kuroro menggenggam erat tangan Kurapika yang kini sepenuhnya dalam genggamannya, "Apa yang harus aku lakukan? Kau tak pula mengizinkanku untuk kembali menutup mataku, dan kembali jatuh dalam kegelapan." Kurapika menahan napas mendengar setiap kata-kata Kuroro. Perlahan-lahan matanya memanas, dan air mata menuruni pipinya yang mulus. Kurapika tak berkedip sama sekali, ia tenggelam dalam mata Kuroro yang tak berdasar.
"Lalu beritahu aku." Kuroro semakin mengeratkan genggaman pada tangan Kurapika, "Apakah ini hukuman untuk dosa yang aku lakukan?" Kuroro menatap mata merah Kurapika yang sedih. "Beritahu aku." Ia terus berbicara, "Apakah sesakit ini rasa hatimu?" Kuroro mengangsurkan genggamannya hingga menyentuh dadanya, Kurapika dapat merasakan debaran jantung Kuroro, yang kedengaran sulit untuk berdebar. Kurapika tahu, itu pengaruh dari Judgement chainnya. Debaran itu penuh dengan kesakitan.
"Beritahu aku." Kuroro menatap Kurapika semakin dalam dan suaranya melemah. "Apa sesakit ini rasanya mencintai dirimu?"
Seketika itu juga Kurapika tersentak. Air mata menggenang sempurna dan kembali tumpah tak berhenti-henti. Ia menangis tanpa suara, tanpa berkedip karena pandangannya terjebak dalam mata hitam Kuroro.
"Maka, bunuhlah aku." Kuroro mengatakannya dengan serius. Kurapika membelalak mendengarnya. Rasanya jantungnya teriris dan ada yang menyiraminya dengan nipis. Hatinya sesak, dan air mata Kurapika terus berjatuhan makin merebak. Kurapika menahan suaranya. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat dan seakan baru mendapat kekuatan, Kurapika menggelengkan kepala pirangnya keras-keras.
Kuroro memegangi kedua pipi Kurapika. Ia meletakkan dahinya di dahi Kurapika. Mata mereka bertatapan amat dekat. Di depan wajah Kurapika, Kuroro berbisik. "Bunuhlah aku, dan dendammu terbalaskan."
"A-aku.." Kurapika balas berbisik. Namun suaranya serak dan tangis kembali menguasai dirinya. Kurapika kembali menggigit bibirnya. Meredam suaranya jauh-jauh. Ia tak bisa mengizinkan dirinya bicara saat ini karena ia akan terisak. Kurapika akhirnya menarik diri menjauh dari Kuroro beberapa langkah.
Kurapika menggigit ibu jarinya hingga berdarah, dan merealisasikan nen hingga rantai memenuhi tangannya. Kuroro memandanginya dengan sedih dan pasrah. Dan Kurapika takut melihat tatapan itu.
"Da-dapatkan kebebasanmu." Kurapika berbisik. Menatap Kuroro dengan pandangan tulus. Kuroro menangkap senyum yang tipis namun tulus di wajah Kurapika sebelum ia berhadapan dengan Judgement chain yang meliuk-liuk dan menembus jantungnya. Keduanya tersentak. Kurapika terjatuh, namun Kuroro tak sampai jatuh. Matanya membelalak ngeri saat rantai itu menembus masuk jantungnya, dan keluar kembali membawa satu ujungnya lagi. Dengan gerakan cepat, Kuroro menyambut tubuh Kurapika yang hampir bertabrakan dengan aspal.
Kuroro berteriak, menjerit sekuat tenaga untuk membangunkan Kurapika. Jika Judgement chain dilepaskan, maka pemiliknya akan mati. Dan barusan Kurapika melepaskan Judgement chainnya dari Kuroro. Kuroro mengguncang-guncang badan Kurapika.
"KURAPIKAA!" Teriaknya. Tetap tak ada jawaban. Kuroro panik. Ia memandang Kurapika dengan sejuta rasa takut yang tampak. Kurapika tetap tak membuka matanya, tak sedikitpun untuk kembali menampakkan mata merahnya yang indah atau mata birunya yang menenangkan. Kuroro mengguncang badan Kurapika keras-keras, tak malu menampakkan keputusasaannya.
"KURAPIKAA!" Teriaknya lagi.
Hening, tak ada jawaban.
.
.
TBC..
.
Saya kembali ^^
Dan kali ini memperbaiki 'spasi' yang sering saya gunakan. Setelah dimarahi ibu guru karena menggunakan spasi di akhir kalimat antara tanda tanya atau tanda seru, saya pun sadar. Hal seperti itu memperbanyak typo dan bikin gak enak baca. Ah, gomenasai. Jadi di chapter ini saya berusaha memperbaikinya.
Oh ya, arigato gazaimasu buat yang masih mengikuti walau cerita ini sudah amat ngaret -_-"
Secepatnya akan saya tamatkan ^^
Dan buat yang review un-login chapter lalu:
Yellow dress: Maafkan aku! Aku mohon maaf karena chapter lalu gak sempat balas review kamu. Tapi aku sangat menghargainya. Makasih masukannya, dan buat tantangannya, mari kita tunda dulu. Terimakasih banyak :)
Kay Lusyifniyx: Makasih sudah di-review, Kay :). Sip, beginilah battle yang sanggup aku tulis ^_^
Nah, yang mau menyampaikan kritik, saran, tanggapan, sampaikan di REVIEW ya.
SO, REVIEW please..
