Kembali lagi bersama author fanfic ini~! Arigato yang sudah mau mereview fanfic GaJe ini. Author pasti happy liat review dari readers, mending kita lanjut aja yuk ^^
Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin Chu milik Koge Donbo, lho!
Char: Hanazono Karin, Kujo Kazune, Kujo Himeka, Kujo Kazusa, Kujo Kazuto, Jin Kuga, Nishikiori Micchi, Sakurai Yuki, I Miyon, Karasuma Kirihiko
Pairing: Karin X Kazune
Good Reading & Good Review ^^
Karin Pov
"ntahlah, tulisan tidak penting!" jawab Kazune cuek.
Aku langsung mengalihkan pandanganku ke Kazune. Walau orang pintar, ternyata Kazune tidak mementingkan tulisan yang mungkin bisa jadi petunjuk.
"Bagaimana bisa tidak penting? bisa saja ini petunjuk menuju istana yang kau cari tau!" kataku.
"tapi kita tidak bisa membacanya! apa kau mau menganggap tulisan yang tidak bisa kita baca menjadi penting?" tanya Kazune.
Kalau di pikir-pikir, kata-kata Kazune memang ada sedikit benarnya. Tapi, bisa saja ada gunanya kan? Kazune ini seperti orang yang putus asa, lebih baik ku tulis saja.
'pakai apa ya? spidol tidak ada, ah..., pakai darah sajalah' batinku.
Aku melepas sarung tanganku. Aku menggigit jari jempol hingga mengeluarkan darah yang segar (bukan untuk minum!). Lalu, ku tulis tulisan yang ada di papan itu, aku menulisnya di tanganku.
'semoga tidak meleleh' pikirku.
Akhirnya, aku pun berhasil menulis tulisan yang sulit di baca itu.
Kazune Pov
Sebelum pergi, aku dan Karin beristirahat sebentar. Sampai aku melihat tangan Karin yang berdarah.
"lho? Karin, kok tanganmu berdarah?" tanyaku khawatir.
Aku segera mencari sesuatu yang dapat menghilangkan darah itu.
"e-eh? Kazune..., jangan panik dulu..." kata Karin.
"bagaimana aku tidak panik? lukamu itu harus di hilangkan!" kataku.
"ini bukan luka!" kata Karin.
Apa? bukan luka? kalau begitu apa? apa Karin hanya ingin mengerjaiku saja ya?
"ini tulisan yang ada di papan tau!" kata Karin.
"tulisan... di papan...?" tanyaku.
"iya, aku sengaja menulisnya menggunakan darah, siapa tau bisa jadi petunjuk" jawab Karin.
"mengapa harus pakai darah?" tanyaku.
"karena tidak ada spidol atau alat-alat tulis lainnya!" jawab Karin.
Ketika itu, muncul sebuah pikiran aneh di otakku.
'mengapa aku jadi khawatir sama Karin ya? Oh, Tuhan, jangan sampai aku menyukai gadis menyebalkan seperti dia!' pikirku.
"Kazune, lebih baik kita pergi sekarang saja, takutnya darah ini menetes karena hembusan angin" usul Karin.
Aku hanya mengangguk saja. Aku dan Karin pun pergi menuju desa kecil.
"Karin" panggilku.
"apa?" tanya Karin.
"kau bilang kau memakai darah untuk menulis di tanganmu" kataku.
"iya, memang kenapa?" tanya Karin.
"darah siapa?" tanya balikku.
"darahku-lah, masa darah hewan" jawab Karin.
Seharusnya, aku tak membiarkan Karin melakukan hal ini. Aku akan merasa tidak enak bila melihat darah seorang perempuan keluar. Apalagi, kalau itu di lakukan untuk laki-laki.
Karin mengeluarkan darahnya hanya untuk menulis tulisan yang menurutku tidak penting. Dia juga sudah mau membantuku menolong Himeka dan Kazusa.
'Tapi, kok aku merasa jadi perhatian sama Karin ya? padahal cuma sekedar perasaan tidak enak pada Karin' pikirku.
Setelah itu, Aku dan Karin pun sampai di sebuah desa kecil. Desa itu terlihat sepi.
"lihat itu! ada orang asing!" teriak seseorang.
Pandanganku menuju orang yang berteriak. Tak lama, datang sekumpulan warga desa.
"siapa kalian? mau apa kalian datang kemari?" tanya seorang warga desa.
"maaf, apa kalian tau ini tulisan apa?" tanya Karin sambil memperlihatkan tulisan di tangannya.
"arti tulisan ini adalah 'Jika menemukan tulisan ini, kau seorang pemuda. Jika pergi menuju desa, kau seorang yang pintar. Jika sampai di istana, kau sudah menjadi pahlawan' Sekarang jawab, kalian ini siapa?" tanya orang itu.
"kami... kami adalah..." kata Karin.
"dewa" sambungku.
"hahh...? dewa?" tanya warga desa tidak percaya.
Seluruh warga desa mulai ketakutan. Mereka kaget dengan jawaban yang ku berikan. Tapi, salah 1 warga desa mulai memberanikan dirinya.
"sungguh senang, kami bisa bertemu 2 dewa di sini" kata orang yang berani itu.
"kau memang pemberani, tapi kami tidak punya banyak waktu, apa kau tau tentang..." kataku.
"raja Karasuma Kirihiko?" tanya orang itu.
"siapa dia?" tanya Karin.
"dia adalah raja yang jahat, dia menculik 2 tuan putri dari raja yang sebenarnya" jawab orang itu.
"lalu, dimana raja yang sebenarnya?" tanya Karin.
"dia sudah di bunuh oleh raja Karasuma sebelum dia memimpin kerajaan" jawab orang lain.
"siapa nama tuan putri dan raja yang buh diri itu?" tanyaku.
"nama raja itu Kujo Kazuto, tuan putri yang pertama, tuan putri Kujo Himeka dan yang ke-2, tuan putri Kujo Kazusa" jawabnya.
"Kazune, mungkin istana itu ada di sekitar sini" kata Karin.
Aku mengangguk. Tapi, tidak terlihat suatu istana dari desa ini.
"baiklah, terima kasih atas petunjuk kalian, kami pergi dulu" pamitku.
Warga desa itu mengangguk. Aku dan Karin pun pergi. Kini telah mendapat 1 petunjuk. Hanya saja, dimana istana itu? mengapa tidak terlihat sejak tadi? jauhkah?
Setelah itu, ku lihat Karin yang menghapus darah di tangannya. Tapi, karena terus melihat Karin, aku jadi tersandung batu.
BRUUKK!
Aku terjatuh. Tepatnya, lututku terkena puncak batu itu, sehingga berdarah.
"Eh? Kazune? kau tidak apa-apa?" tanya Karin khawatir.
Ntah mengapa, aku merasa senang Karin bertanya. Aku mencoba untuk berdiri, walau sebenarnya luka itu memaksaku untuk tidak berdiri. Aku tidak mau membuat Karin khawatir.
"Kazune, kau terluka!" kata Karin.
Ya, aku memang terluka, tapi aku tidak suka orang yang peduli tentang hal itu. Karin memapahku ke bawah pohon, aku duduk di bawah pohon itu.
Karin melihat lukaku, aku juga melihat lukaku. Dan saat itu, wajahku berdekatan dengan wajah Karin. Karin memberi senyuman padaku, mungkin itu karena dia peduli kepadaku.
Pipiku langsung terasa di rebus. Mungkin Merah cabe sudah menghiasi wajahku.
"um... kita harus mencari sesuatu untuk menyembuhkan lukamu" kata Karin.
Aku sebenarnya tidak terlalu khawatir dengan luka yang ku alami. Tapi, kelihatannya Karin khawatir sekali padaku.
"sudahlah..., lagipula luka ini-"
SREKK!
Karin merobek sebagian kain dari rok putih yang ia kenakan. Lalu membungkus lukaku dengan kain itu. Lagi-lagi dia berkorban, walau hanya kain.
"Karin..." panggilku.
"iya? ada apa, Kazune? kau butuh sesuatu?" tanya Karin.
Baru pertama kali ini ada yang memerhatikanku, ya... karena baru pertama kali ini juga aku terjatuh. Lagi pula sejak kecil, aku tidak pernah sakit.
"tidak, aku hanya ingin bertanya" jawabku.
"aku akan menjawab sebisaku, Kazune" kata Karin.
"mengapa kamu merobek pakaianmu itu demi membungkus lukaku?" tanyaku.
Karin sejenak terdiam, tapi akhirnya dia mau menjawab.
"Aku merobek pakaianku, karena kalau tidak dibungkus, takutnya akan infeksi" jawab Karin.
"mengapa tidak menggunakan pakaianku saja?" tanyaku.
"karena aku tidak rela merobek bajumu" jawab Karin.
Hah? apa maksud Karin?
"apa maksudmu?" tanyaku.
"kau bilang kau akan bertemu dengan saudaramu, kau harus berpenampilan keren di hadapan mereka" jawab Karin.
"apa kau tidak malu menunjukkan rokmu yang robek itu?" tanyaku.
"aku memang malu, tapi demi menolong orang lain, aku rela mengorbankan semua yang ku punya" jawab Karin.
"termasuk hidupmu?" tanyaku.
"kalau hidup..., ntahlah" jawab Karin.
-_-_-Chapter Finish-_-_-
Chapter 3 selesai
Lanjutan di Chapter 4
Review ya...!
