One Soul—Satu Jiwa.
Author's Note: Tokoh-tokoh yang ada di cerita ini bukan milik saya. Saya hanya murni memiliki ide ceritanya.
Cast: So Yi Jeong dan Chu Ga Eul
Her eyes, her eyes,
Make the stars look like they're not shining
Betapa Yi Jeong merindukan sepasang mata indah itu! Kelembutan yang terpancar di sana masih sama seperti empat tahun yang lalu, bahkan tampak lebih lembut lagi kala ia menatap anak-anak kecil yang sedang asyik membuat berbagai macam bentuk dari tanah liat. Anak-anak itu jugalah yang menahan lelaki berjaket hitam itu agar tidak berlari dan memeluk seseorang yang sudah begitu dirindukannya selama ini. Mereka masih terlalu belia untuk melihat adegan romantisme macam apapun. Master pottery itu melirik jam tangannya. Setengah jam lagi waktu mengajar Ga Eul usai.
"Aku tunggu di luar, kalau begitu?"
Tiga puluh menit tidak ada apa-apanya dibandingkan empat tahun.
"Ah… baiklah. Maaf, aku tidak bisa meninggalkan mereka."
Senyum lebar itu kembali menghiasi wajahnya. Tentu saja ia tahu Ga Eul tidak mungkin menelantarkan anak didiknya. Dia masih kenal karakter wanita muda itu. Dia ingat semuanya di luar kepala, karena selama bertahun-tahun hanya itulah yang memenuhi pikirannya. Karenanya ia juga tidak tersinggung sama sekali, meskipun hanya Ga Eul satu-satunya wanita yang pernah membuatnya menunggu.
Lagipula, perkataan anak kecil tadi sudah membuatnya bahagia tak terkira. Ga Eul tidak mungkin menceritakan perihal dia kepada anak itu kalau wanita itu sudah bertemu soulmate-nya. Meskipun mereka sering berhubungan lewat telepon, tapi Yi Jeong tidak bisa memastikan kalau ia tidak punya saingan. Mereka bahkan berada di benua yang berbeda! Ia baru sadar ternyata kepolosan kata-kata bocah itu membuatnya lega luar biasa. Selama ini kecemasan itu dipendamnya sendiri sampai-sampai ia takut meledak karenanya. So Yi Jeong, sang Casanova, cemas karena takut ditinggalkan oleh seorang wanita! Alangkah ironisnya!
Walaupun, sesungguhnya gelar itu sudah sepatutnya ia tanggalkan. Di Swedia, dia sama sekali tidak berkencan. Kalaupun ia pergi ke klub, pasti beramai-ramai dengan teman-temannya. Tidak sekalipun ia mengindahkan tawaran tawaran wanita-wanita yang merayunya, tak peduli semolek apa tubuhnya.
Bukan berarti ia tidak tergoda, tapi setiap kali mempertimbangkan ajakan kencan yang ia dapat, setiap kali pula wajah Ga Eul terbayang di pelupuk matanya. Meskipun Yi Jeong tersiksa karena tak dapat melampiaskan gairahnya, ia lebih tersiksa lagi membayangkan kesedihan wanita itu kalau tahu lelaki itu melukainya.
Ia tidak mau melakukan itu lagi. Sudah cukup banyak luka yang ia torehkan di hati wanita inosen itu. Sudah cukup banyak air mata yang tidak pantas ia dapatkan. Bahkan setelah perlakuan kurang ajarnya di kencan terakhir mereka, Ga Eul masih peduli padanya. Menyemangatinya untuk menghadapi masalahnya. Menghiburnya ketika ia bahkan tidak tahu apakah masih bisa dihibur. Bahkan mengungkapkan pesan itu…
Semua kenangan itu serta-merta membanjirinya seperti guyuran hujan deras.
Yi Jeong menghubungi teman-temannya selagi menunggu di depan ruang kelas TK itu. Ia memang tidak memberitahu siapapun kalau ia akan pulang hari ini. Dan seperti janjinya dulu, Ga Eul adalah orang pertama yang ia temui setibanya di Seoul. Pertama-tama ia menelepon Woo Bin, kemudian Jun Pyo, dan terakhir Ji Hoo. Reaksi ketiganya sama, kaget dan berkata akan segera menjumpainya. Yi Jeong menolak dan mengajak mereka berkumpul keesokan harinya saja. Hari ini ia ingin menghabiskan waktunya untuk seseorang... guru TK yang manis itu.
Her hair, her hair
Falls perfectly without her trying
She's so beautiful
And I tell her everyday
"Sampai jumpa besok!"
Yi Jeong menoleh dan mendapati Ga Eul sedang tersenyum sambil mengiringi murid-muridnya keluar dari kelas. Kemudian ia melambai dengan ceria sampai anak terakhir pulang dijemput orangtuanya. Yi Jeong memperhatikan sosok wanita di sebelahnya itu. Rambutnya dikuncir setengah dan dibentuk ikal, seperti ketika mereka berkencan untuk pertama kalinya—kencan pura-pura untuk membalas dendam pada mantan pacar Ga Eul yang mencampakkannya. Dia cantik, tentu saja. Wajahnya tipikal orang Korea, tapi di antara seluruh wanita Korea, dia yang paling cantik.
"Yi Jeong-sunbae, kenapa melihatku seperti itu?"
"Kau bahkan lebih cantik daripada yang kuingat."
Empat tahun tidak menggoda wanita, Yi Jeong masih belum kehilangan kemampuannya dalam hal satu itu. Rona merah muda langsung menghiasi pipi Ga Eul.
"Jangan menggodaku. Aku tidak akan percaya." Gelengnya, tapi sambil menunduk untuk menyembunyikan rasa malunya. Yi Jeong hanya tertawa kecil. Kalau laki-laki tidak menganggap Ga Eul menarik, berarti ada yang salah pada pengelihatan mereka. Tapi lebih baik begitu—cukup dia saja yang tahu betapa cantik kekasihnya.
Boleh kan, dia anggap begitu?
I know, I know
When I compliment her
She won't believe me
And it's so, it's so
Sad to think that she doesn't see what I see
"Kaja! Kita pulang."
Yi Jeong mengucapkan kata-kata itu sambil lalu, padahal dalam hatinya ia hampir tersedak karena sukacita. Ia akan pulang ke rumah bersama orang yang paling dirindukannya di dunia.
Ga Eul-nya.
