"Sunbae, kau belum pulang ke rumah…?!" Ga Eul mengernyitkan dahi ketika supir Yi Jeong mengeluarkan tiga buah koper dari bagasi mobil. Ia mengira paling tidak Yi Jeong pulang ke rumah dulu sebelum menemuinya. Tapi ternyata laki-laki itu datang langsung dari bandara!
Yi Jeong hanya mengangkat bahu sambil menggeret salah satu kopernya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya masih menggenggam tangan Ga Eul. Dua koper lainnya akan diurus oleh pelayan—isinya hanya pakaian dan beberapa barang yang tidak terlalu penting. Dengan lembut digandengnya Ga Eul ke dalam rumah. Tidak ada yang berubah—bahkan tidak ada setitik debu meskipun rumah itu sudah cukup lama ditinggal sang penghuni tunggal. Pelayan-pelayannya datang sesekali waktu untuk mengurus rumah itu.
"Seharusnya kau pulang ke rumah dan istirahat dulu. Kau pasti lelah sekali."
But every time she asks me do I look okay
I say
When I see your face
There's not a thing that I would change
Cause you're amazing
Just the way you are
"Aku tidak mau membuang-buang waktu untuk menemuimu, Ga Eul-yang. Lagipula, aku tidak merasa lelah sama sekali setelah melihatmu."
Sekali lagi Yi Jeong berhasil membuat Ga Eul tersipu. Lelaki itu menyesal kenapa dulu tidak sering menyanjungnya—Ga Eul terlihat lebih cantik lagi kalau sedang malu-malu. Atau ini hanya karena rasa rindunya yang memuncak? Yi Jeong tidak tahan lagi. Ditariknya wanita itu kehadapannya dan dipeluknya erat-erat. Ia takut kalau tidak melakukan itu, ia akan meledak karena rindunya. Yi Jeong tidak pernah merasa rindu yang sebesar ini, bahkan tidak kepada Eun Jae. Mungkin karena hubungan mereka berakhir saat berpisah. Sementara dengan Ga Eul, hubungan mereka masih berlanjut meskipun terhalang jarak. Ga Eul-lah yang paling sering diteleponnya, walau seringkali hanya untuk basa-basi semata, saling bercerita kegiatan masing-masing. Asal dapat mendengar suaranya, Yi Jeong sudah puas.
"Yi Jeong-sunbae..."
Sepertinya Ga Eul sudah nyaris kehabisan napas. Yi Jeong buru-buru menguraikan pelukannya, tapi masih mempertahankan kedua tangannya di bahu wanita itu.
Ia mengamati wajahnya. Tampak lebih dewasa. Ya, mereka sama-sama sudah dewasa sekarang, bukan lagi murid SMA dan kuliah. Tapi ekspresi lugu dan naif itu masih tercetak jelas di sana. Ditambah aura keibuan yang lembut memancar dari wajah itu, sepertinya dikarenakan Ga Eul sering bergaul dengan anak-anak.
And when you smile
The whole world stops and stares for awhile
Cause girl you're amazing
Just the way you are
Lalu, sudut-sudut bibir wanita muda itu tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman. Yi Jeong terpaku. Oh, ini bukan pertama kalinya ia melihat Ga Eul tersenyum. Tapi senyum ini, tepat di depan matanya, dalam jangkauannya, begitu dekat bagaikan mimpi. Seandainya Tuhan memberinya satu permintaan yang pasti dikabulkan pun, Yi Jeong tidak akan minta apa-apa lagi.
Semua yang ia inginkan sudah ada di sini.
"Jadi, kekasihmu sudah kembali dari Swedia..."
Ga Eul gelagapan. Entah kenapa tadi Min Ah menyebut Yi Jeong sebagai kekasihnya. Ia tidak pernah bilang begitu-dia selalu menyebut Yi Jeong-sunbae sebagai teman dekat saat bercerita pada murid-muridnya. Yah, mungkin sebutan itu tidak ada bedanya. Tapi tetap saja Ga Eul merasa tidak enak. Bagaimana kalau lelaki itu keberatan dianggap sebagai kekasih? Bagaimana kalau... ia bahkan sudah punya pacar di Swedia? Kemungkinan itu membuatnya terkesiap, lalu menggigit bibir.
"Maaf, Sunbae... aku tidak bermaksud menyebutmu pacar... tapi Min Ah..."
Yi Jeong terbelalak tak percaya. Jadi itu yang menyebabkan raut wajah wanita itu berubah dalam sekejap? Benar-benar, Ga Eul ini! Ingin sekali lelaki itu mencubit pipinya karena gemas. Dia bahkan meminta maaf karena menyebutnya sebagai pacar! Bukankah pernyataannya empat tahun lalu sudah cukup jelas? Ketika aku kembali, kau adalah orang pertama yang akan kutemui.
Yi Jeong memang belum mengatakan kata pamungkas itu.
"Bukan itu maksudku. Kalau kau menganggapku sebagai kekasih—artinya kau belum menemukan soulmate-mu, bukan?" Pertanyaan itu bernada seperti tuntutan. Tak bisa tidak, karena dibalik pertanyaan itu tersembunyi harapan yang membara. Kegelisahan kembali menguasai anggota F4 itu.
"Belum, Sunbae." Ga Eul mengiyakan, namun tanpa berani menatap mata lelaki dihadapannya. Mana bisa Ga Eul mengaku, kalau dia memang tidak berniat mencari soulmate-nya sama sekali selama empat tahun ini? Dia hanya sibuk dengan kuliah, mengajar, dan kursus tembikar. Ia sudah cukup ahli sekarang, bahkan membantu Eun-Jae sonsaengnim mengajari anggota-anggota yang baru bergabung. Sesekali ia bertemu Jan Di, bercerita dan bertukar kabar seperti sepasang sahabat baik lainnya. Kadang-kadang juga, Ji Hoo-sunbae atau Woo Bin-sunbae meneleponnya, sekedar menanyakan kabar atau menggodanya tentang Yi Jeong.
Selebihnya, Ga Eul memikirkan lelaki itu.
Lelaki yang kini tersenyum lebar.
"Kalau begitu, sekarang kita adalah sepasang kekasih. Bukan begitu?"
"Mwo?"
Yi Jeong mengangkat alis.
"Kau tidak mau?"
"Bu-bukan begitu—" Ga Eul tergagap. Yi Jeong terkekeh, kemudian mimik wajahnya berubah serius.
"Ga Eul, berhentilah membuatku menderita dan terima aku."
Saat kencan pura-pura mereka yang pertama, Yi Jeong mengatakan itu di hadapan mantan Ga Eul untuk memberinya pelajaran. Sekarang, ia mengucapkannya dengan sungguh-sungguh karena keinginannya sendiri. Sepenuh hatinya.
Ga Eul mengangguk. Wajahnya memerah. Sekali lagi, Yi Jeong merasa lega luar biasa. Masa depannya seketika tampak cerah karena ada wanita itu yang mendampinginya.
"Ga Eul-yang, saranghae."
Akhirnya, Yi Jeong mengucapkannya.
