~Choice~
Disclaimer: Masashi kisimoto
Genre: Fantasy, Mistery
Warning! miss-typho, typho, AU, OOC, dkl (dan kekurangan lainnya) XP DLDR...
summary: " kau. Membencinya bukan?"#"Katakan! Apa kau menyukai ku?"# "Ya aku menyukaimu!" Warning! Shonen-ai, OOC. Update Tamat!
Bales Review~ gomeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnn! W tau ini update super lama… DX
Entah kenapa setiap w berhadapan ama Ms. Word w bingung, padahal ide udah ada. Aneh emang. Ya tapi dengan pemaksaan akhirnya w update… Fufufufu… XD
Yoo…
For GerhardGeMi a.k.a GeGe: pertanyaan GeGe bakal di jawab di sini… XD
For Tsukihime Akari : gomeeeenn~ updatea super lama… alasannya diatas.. XD baca ini semua akan terjawab… XP
For: Ichigo bukan Strawberry : yosh! Akhirnya update… xixixixi…. XD
OK enjoy the limit guys…. !
Melupakan part 2
Hari ini tsunade-san, dokter yang merawat ku, membolehkan ku pulang. Semua orang-orang terdekat ku datang, walau aku masih belum bisa benar-benar mengingat mereka. Begitu juga si pirang, Naruto.
"Akhirnya kau pulang juga, Gaara." Ucap Naruto, aku hanya diam tak menanggapi.
"Temari-Neesan, bisakah kita pulang sekarang. Aku ingin istirahat di rumah." Pinta ku.
"Oh, baiklah. Ya sudah semuanya kami pulang dulu ya." Ucap Temari-nee dan kami pun langsung menaiki mobil dan pulang.
"Gaara, kenapa kau seperti menjauhi Naruto?" Tanya Temari-Nee padaku saat kami di perjalanan pulang. Ku rasa dia menyadari aku selalu mengacuhkan dan berusaha menjauhi si pirang itu.
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa dia bukan teman ku. kak, benarkah dia benar-benar teman ku?" Tanya ku.
"Kenapa kau bertanya begitu? Apa kau benar-benar melupakannya? Setau ku kau begitu dekat dengannya, dan dia memang selalu ada di dekatmu. Jadi ku rasa kalian memang benar-benar teman bahkan mungkin lebih." Jelasnya.
"Heh, tidak mungkin aku lebih dari sekedar teman. Mungkin memang kami malah bukan teman tapi musuh."
"Apa maksudmu?"
"Dia kan penyebab kecelakaan ku."
Ckiiiiiiitt! Bruk!
"Hey! Kenapa berhenti mendadak sih?!" Omel Kankuro yang memang sedari tadi tidur selama perjalanan, tapi Temari hanya mengacuhkannya.
"Kenapa kau bisa bicara begitu Gaara?" Tanyanya, dia terlihat tidak setuju dengan jawabanku tadi.
"Bukan aku, tapi dia yang bilang sendiri. Dia bilang dialah penyebab aku bisa kecelakaan." Jelas ku, mata Temari membesar begitu juga Kankuro. Tapi setelahnya mereka hanya diam dan tak pernah lagi membicarakan tentang hal itu. Aneh.
Keesokan harinya, Neji, Shikamaru, Sasuke dan Naruto mengajak ku ke studio rekaman. Jadi memang benar aku seorang vokalis, aku benar-benar tidak mengingat apapun. Naruto memegang bass, ternyata dia adalah seorang bassis, sedang shikamaru adalah drummer, neji dan sasuke seorang gitaris. Mereka mencoba memainkan beberapa lagu yang katanya aku tulis, tapi lagi aku tak bisa mengingatnya. Naruto terus berbicara mengenai segalanya tetang band kami, dia benar-benar berisik. Aku ingin menjauhinya tapi selalu gagal, dia selalu berada di dekat ku.
"Naruto." Panggil Sasuke, dia pun berhenti bicara, sedikit lega.
"Ada apa Sasuke?"
"Temani aku." Sasuke pun langsung menarik Naruto pergi. Walau Naruto terlihat tidak setuju, tapi dia tetap pergi. Dan entah kenapa aku merasa kesal.
"Hey Gaara?" Neji menepuk bahu ku dan kemudian duduk di samping ku. "Kau kenapa?"
"Tidak, tidak apa-apa. Neji, kenapa Sasuke seperti dekat sekali dengan Naruto?"
"Huh? Oh itu, ya Sasuke dan Naruto memang teman sejak kecil. Jadi mereka memang dekat sekali."
"Oh."
"Memangnya kenapa?"
"Ku rasa lebih."
"Huh? Maksudmu?"
"Tidak. Lupakan!"
"Kau ini aneh sekali."
Aku pun beranjak pergi, tak ku pedulikan panggilan Neji yang tiba-tiba ku tinggalkan. Apa yang aku pikirkan, bukan urusan ku kan jika Sasuke dan Naruto berpacaran sekali pun. Tapi kenapa aku merasa kesal? Aku benar-benar bingung. Saat aku keluar ruangan tadi seseorang menabrak ku.
"Ups! Maaf!"
"Naruto?"
"Eh? Gaara? Kau mau kemana?"
"Mencari udara segar. Kau mau ikut?"
"Huh? Ya tentu saja!" Ucap Naruto sambil tersenyum.
Kami pun ke atap gedung rekaman, tiupan angin langsung menyambut kami. Beberapa saat kami hanya menikmati angin yang menerbangkan helaian rambut kami.
"Umm.. ada apa Gaara?" Tanya Naruto memecah keheningan.
"Kenapa saat itu kau bilang kau yang menyebabkan ku celaka?" Tanya ku, Naruto terlihat terkejut tapi kemudian dia menunduk.
"Itu… seharusnya saat itu aku tak memaksamu menghapal lirik-lirik lagu itu. Padahal aku sudah tau kau sedang banyak pikiran. Aku memang bodoh! Kalau aku tidak memaksa mu, kau mungkin tidak akan marah dan pergi keluar gedung. Dan mungkin kecelakaan itu tak akan pernah terjadi. Maafkan aku Gaara!" Jelasnya airmata mulai mengalir di pipinya. Aku agak terkejut dengan penjelasannya tadi, dia menyalahkan dirinya hanya karna itu.
"Bodoh! Itu…" Belum sempat aku selesai berkata seseorang memotongnya.
"Sudah ku bilang itu bukan salah mu Dobe!"
"Eh? Sasuke?"
Lagi-lagi dia.
"Ayo!" Sasuke menarik paksa Naruto.
"Tapi Teme, tunggu dulu! Hey Teme!"
Reflek, entah kenapa aku malah menarik tangan Naruto yang lain. Naruto terkejut begitu pun Sasuke.
"Aku masih ingin bicara dengan nya!" ucap ku. Sasuke menatap ku tajam, aku pun balik menatapnya tajam.
"Heeh!" Dia menyeringai "kau. Membencinya bukan?" Tunjuk nya pada Naruto.
"Eh?"
Aku terkejut juga saat itu. Sial! Kenapa dia bisa tau? Naruto menatap ku bingung, aku tau dia ingin aku mengatakan apa yang dikatakan Sasuke itu salah. Tapi kenyataannya memang begitu, aku pun melepaskan tangannya. Naruto terlihat kaget sekaligus kecewa, tapi tak berlangsung lama karna Sasuke langsung membawanya pergi.
"Sial!" Umpat ku.
Entah kenapa aku kesal sekali, aku pun tak mengerti mengapa aku begitu kesal. Bukankah tindakan ku benar? aku memang membencinya kan? Perasaan tak nyaman itu, itu perasaan benci kan? Atau… cinta?
Mungkinkah aku mencintainya? Mungkinkah perasaan tak nyaman ini bukan benci tapi aku justru mencintainya? Jika begitu mungkinkah Naruto juga mencintai ku? ekspresi kecewanya tadi… kenapa dia berekspresi begitu? Agh! Kepala ku sakit. Tapi aku ingin tau!
Aku pun berlari menyusul Sasuke. Bodoh! Kenapa baru sekarang aku menyadarinya? Sial! Aku mencari di seluruh gedung rekaman, tapi mereka tidak ada. Bahkan Neji dan Shikamaru juga tak tau dimana mereka. Kuso! Kemana mereka pergi?!
Aku pun keluar gedung dan terus mencari mereka, aku yakin mereka belum jauh. Tak berapa lama aku berlari, aku menemukan sebuah taman. Aku pun pergi ke taman itu, entah kenapa aku merasa mereka disana. Dan benar saja, mereka sedang duduk di sebuah bangku taman. Sasuke terlihat menenangkan Naruto dan Naruto.. dia menangis. Sial! Aku membuatnya menangis lagi,mungkinkah sebelum aku lupa ingatan aku juga sering membuatnya begini?
"Naruto!" Teriak ku setelah sampai di depan mereka. Nafas ku terengah-engah, Naruto terlihat kaget dengan keberadaan ku sementara Sasuke terlihat tidak senang.
"Gaara..?"
"Katakan! Apa kau menyukai ku?" Mereka berdua terlihat terkejut dengan pertanyaan ku.
"Apa maksudmu?" Sasuke yang membalas.
"Aku tak bertanya padamu!"
"Kau!" Sasuke menghampiriku dan menarik kerah baju ku. Aku menatapnya tajam.
"Sasuke hentikan!" Teriak Naruto.
"Naruto."
Naruto menatap ku setelah Sasuke melepaskan cengkramannya. Dia terlihat menarik nafasnya.
"Ya aku menyukaimu!" Ucapnya. Aku pun tersenyum, ya inilah jawaban yang aku mau. Tak butuh waktu aku langsung memeluknya. Dia terlihat terkejut.
"Bukankah kau tadi…"
"Lupakan semua itu! Aku memang bodoh." Bisik ku padanya. Aku merasa dia tersenyum dan kemudian membalas pelukan ku.
Tapi kemudian angin kencang menerpa kami, begitu pun dengan sebuah cahaya yang datang. Saat itu aku baru mengingat semuanya. Dan saat aku sadar aku hanya sendiri di sebuah tempat kosong yang di dominasi warna putih.
"Kau sudah paham Gaara?" Ucap sebuah suara yang aku yakin si malaikat itu.
"Tidak, belum." Aku tak lagi emosi. Entahlah, aku hanya merasa semua yang aku rasakan tak lebih dari ulah malaikat aneh itu.
"Aku adalah dewa pilihan. Nama ku Hell. Aku datang karna seseorang meminta ku."
"Meminta mu?"
"Ya, dia!"
Ku lihat sebuah cermin yang menampilkan diriku terbaring dan seseorang berambut pirang terus menangis di balik kaca ruangan tempatku terbaring. Dia Naruto.
"Tapi…"
"Ya, selama ini yang kau lalui adalah sebuah ilusi. Ilusi untuk kejadian yang akan kau pilih nanti. Kenyataannya sekarang kau masih koma, setelah kecelakaan itu."
"Kau harus memilih untuk tetap hidup namun di lupakan atau melupakan. Itulah pilihan mu sekarang."
"Kenapa kau tidak membiarkan ku mati saja?"
"Sudah ku bilang bocah itu menginginkan mu hidup. Itulah kenapa aku ada disini."
"Tapi kenapa? Kenapa kau mengabulkan keinginnanya?"
"Kau tak perlu tau, permintaan ini adalah sebuah perjanjian ku dengannya. Itu urusan ku dengan nya bukan dengan mu. Yang sekarang harus kau lakukan adalah memilih."
"Apa yang kau pilih melupakan atau dilupakan? Waktu mu tak lama, atau aku yang akan menetapkannya."
Aku terdiam, sial! Kenapa aku harus terjebak begini? Tapi… aku juga ingin bertemu dengannya. Aku melihat ke arah Naruto yang terus menangis di balik kaca itu. Entahlah aku juga merasa sakit di dada ku, sama seperti kejadian yang aku alami di ilusi sebelumnya. Ah, aku memang bodoh! Mungkin ini akan menebus semua apa yang aku lakukan padamu Naruto. Meski hanya sedikit.
"Apa keputusanmu? Apa yang akan kau pilih, Gaara?"
"Aku memilih. Di lupakan."
"Kau yakin?"
Aku hanya mengangguk. Malaikat itu pun mengeluarkan bola putih, dia meminta ku untuk mengambilnya.
"Inilah pilihanmu." Ucapnya setelah itu semua menjadi putih.
Kejadiannya mirip seperti saat di ilusi itu semua orang melupakan ku, hanya saja aku mengubahnya. Aku tak ke studio rekaman atau menelpon kakak ku. aku tak ingin Naruto mengingat ku, aku ingin dia tak tersakiti lagi. Ya, hanya ini cara agar aku tak melihat mu menagis lagi, Naruto.
Ku lihat sebuah poster Sukona yang terpampang, senyum ku mengembang meski ada rasa sakit di hati ku. Naruto, ku harap kau bahagia sekarang.
The End.
Plak# iya ga piss… ^0^v
"Sasuke, lihat di samping konser kita akan ada perayaan!" teriak pemuda berambut pirang Naruto.
"Hn." Ucap lawan bicaranya.
"Ugh! Menyebalkan!"
"Ne~ Neji, neji…"
"Tidak. Konser akan dimulai 3 jam lagi Naruto."
"Aku kan belum bicara."
"Aku sudah tau kau pasti ingin ke sana kan?"
"Ayolah Neji, aku sudah lama tak ke sana. Terakhir kali aku kesana bersama… huh? Aneh sepertinya aku melupakan sesuatu."
"Kau ini. Sekali tidak tetap tidak!"
"Huaa~ Neji ayolah~"
"Ck! Mendokusai. Sudahlah Neji biarkan saja, festivalnya kan hanya beberapa meter lagipula masih tiga jam lagi."
"Hoaaa~ iya Shikamaru bener. Ayo dong Neji. Ya, ya, ya"
"Ck! Iya, iya"
"Yes! Neji baik chu~!"
"Hey Naruto…! Umm.. itu bukan salah ku Sasuke!" Teriak Neji saat merasakan aura hitam muncul dari tubuh Sasuke.
"Sasuke ayo cepat!" Panggil Naruto.
"Hn!" Sasuke pun menghampirinya.
"Huft! Selamat, si pirang itu. Seenaknya saja mencium pipi orang."
"Sudahlah, sebaiknya kita pergi juga. Walau merepotkan."
"Kau bilang begitu tapi tadi membelanya shika." Gerutu Neji.
Mereka berempat pun pergi menuju festival itu. Festival itu memang meriah banyak stand –stand permainan dan makanan tersebar, orang-orang pun sudah mulai banyak datang. Begitu juga ke empat personil itu, mereka menggunakan jaket dan kacamata untuk menyamar sehingga tidak ada orang yang menyadari mereka adalah personil Sukona Band. Naruto mulai menghampiri setiap stand makanan yang di jual bersama Sasuke, sementara Neji lebih suka pada Stand aksesoris sedang Shikamru, memisahkan diri dan tidur dibawah pohon dekat festival tersebut. Dia memang pemalas.
"Sasuke, lihat disana ada penjual topeng!"
"Naruto, kau harus hati-hati."
"Tenang saja aku tidak apa-..Bruk!"
"Ck! Sudah ku bilang kan! Kau tidak apa-apa? Naruto?" Sasuke melihat ke arah pemuda yang di tabrak Naruto.
"Gaara?" ucap Naruto.
The End
Beneran nih! Akakakak… w tau gantung! Tapi emang ini yang w pengen akakakak… review, faovorited yaw… kabur#... XD
GaaNaru: kalo mo gebukin apa ngelempar granat silahkan kami juga kesel di buat gantung.. =A=
Emang authornya minta dihajar…
