Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance, friendship.
Warning: Shonen-ai, typo-s, AU, OOC
Rate: T
Pairing: SasuNaru, ... xNaru
.
.
.
Namikaze Naruto tak pernah mengerti mengapa sosok bemanik onix terkadang mencuri-curi pandang kearahnya. Padahal ia tak merasa ada yang aneh pada dirinya, kecuali cengiran kelewat lebar yang dimiliki wajahnya.
Ia tak memahami, mengapa ketika tak sengaja bertatapan dengan si raven ia merasa seolah tersengat. Terperosok akan kelamnya binar si onix.
Sosok Uchiha terkadang mengingatkannya pada suatu tempat tak biasa. Dimana kulit pucatnya bagaikan hamparan salju putih yang begitu dingin, serta binar matanya sekelam langit malam yang luas. Yang ternyata sosok si raven mengingatkannya pada kutub selatan di malam hari. Yang sering ia lihat di sebuah buku Ensiklopedia mahal sekolahnya.
Meski begitu ia hanya bisa mengartikannya dalam diam. Uchiha Sasuke tak bisa tergapai meski dalam wujud sebagai teman. Ia terlalu tinggi, terlalu jauh dan terlalu tak terjangkau. Si pirang menyadari itu. Dan karena itulah ia terlalu takut untuk mencoba, bahkan hanya sekedar untuk menyapa karakternya.
Padahal ia hanya salah menerjemahkan makna si onix.
Namikaze Naruto belum menyadari kalau dirinya adalah sebuah pusaran hidup bagi orang lain. Yang kemudian mulai menarik dua binar berbeda warna untuk mendekat. Mencoba menggapainya dalam jejak rahasia.
Binar pertama adalah sesosok pemuda bermanik hitam kelam. Yang mana manik onix hitamnya tak pernah jenuh membayangkan seberapa lembut helai matahari itu jika disentuh.
Dan ada binar kedua. Sesosok pemuda jangkung bersurai merah, yang juga terpikat pada karisma-nya. Dan mulai ikut menyelami dalamnya kehidupan si sapphire. Hingga ke dasarnya.
.
Don't like? Don't read!
.
Sapphire In The Sky
By: Pattesa Oddes
.
¤ . ¤
* Chapter Two *
¤ . ¤
.
.
Sesuatu yang mendadak adalah salah satu dari ribuan hal yang disukai seorang Hatake Kakashi. Karena itulah ia begitu menyukai ekspresi murid-muridnya ketika ia datang.
"Siapkan alat tulis kalian, hari ini saya akan mengadakan ulangan!" ucap Kakashi-sensei, setelah berbasa-basi sejenak menjelaskan alasan kenapa ia terlambat tadi—yang setengah penjelasannya adalah karena ia tersesat di jalan bernama kehidupan fana.
Kakashi-sensei membagikan kertas soal yang harus diisi, pada murid-muridnya yang masih meyakinkan diri mereka— tidak percaya— kalau hari ini ada ulangan mendadak.
Ia berhenti sejenak di meja Naruto, menatap penuh minat pada pipi Naruto yang terlihat tidak biasa. "Kenapa pipimu, Naruto?" Kakashi-sensei bertanya dengan suara pelan namun masih bisa terdengar seseorang yang duduk dua bangku di samping kiri Naruto. Lelaki bermasker itu meletakan lembaran soal itu di atas meja, sambil menunggu jawaban salah satu murid cerdasnya.
"Ini hanya bekas terjatuh, Sensei," ucap Naruto sambil menyengir lebar. Membuat pipi lebamnya nyeri dan ia meringis perlahan. Kiba yang mendengar hal itu hanya bisa menghela napas.
"Ya, sudah," Kakashi tahu Naruto berbohong, mata sapphire-nya terlihat gelisah saat mengatakan suatu keraguan. "Tapi, istirahat nanti kau harus UKS, Naruto."
"Ya, Sensei," Naruto mengangguk. Pemuda berambut pirang itu kemudian menoleh ke kiri, karena merasakan ada sepasang mata yang mengarah kepadanya. Awalnya Naruto mengira tatapan tajam itu dari seorang Kiba yang kesal karena ia berbohong. Tapi perkiraannya salah. Yang memandangnya saat ini adalah Uchiha Sasuke.
Naruto tidak tahu, sejak kapan pemuda bersurai hitam itu memandang dirinya. Tapi yang pasti, ketika Naruto menoleh—yang secara tidak sengaja memperlihatkan pipi lebamnya pada sang uchiha. Naruto yakin ia telah melihat setitik ekspresi pada diri si raven.
Dan entah kenapa pandangan teman satu kelas namun tidak saling kenal itu meremangkan diri Naruto. Si pirang yakin ia tidak terkena demam. Dan itu meyakinkan dirinya kalau pandangan si pemuda onix-lah yang menjadi masalah.
"Waktu kalian satu jam, tiga puluh detik. Kerjakan dari sekarang dan tidak ada saling menyontek!"
Pandangan sang Uchiha terhenti, seiring majunya jarum jam. Meninggalkan Naruto yang masih terpaku. Ketika akhirnya tersadar, Naruto dengan cepat mengerjakan lembaran soalnya.
.
.
.
Setelah ulangan Sejarah tadi, Kakashi-sensei mengingatkan Naruto —untuk yang kedua kalinya— agar pergi ke UKS. Dan mau tak mau si mata sapphire menurutinya.
UKS Konoha adalah ruangan berfasilitas lengkap dan terbilang sangat mewah. Walaupun ruangan itu hanya didominasi warna putih, dengan bau obat-obatan yang terkadang memenuhi udara dalam ruangannya. Tempat tidur tertata rapi dengan gorden putih pucat membatasi tempat tidur yang satu dengan yang lain. Dan ada beberapa lukisan dari zaman Edo terpajang di dinding ruang UKS itu.
Naruto melangkah ke dalam ruangan berpendingin yang luas itu dengan agak kaku. Menatap kesana-kemari, mencari seseorang yang bisa dimintai bantuan.
"Shizune-san," panggil Naruto. Ia duduk di sebuah sofa panjang di sudut ruangan dengan agak kikuk. Naruto merasa ia perlu menunggu. Dan ia akan menunggu selama lima menit. Jika tak seorangpun terlihat di UKS ini maka ia akan pergi.
Pintu di ujung ruangan terbuka, menampilkan sosok pemuda jangkung dengan surai semerah darah. Lirikan terkejut didapati Naruto ketika manik coklat itu melihat kearahnya.
Kesenyapan membahana di sekitar mereka, sebelum salah satunya tersadar dan memulai sebuah percakapan.
"Emm, a-aku—" Naruto terbata. Ia melirik sebentar kearah pemuda yang berpakaian sama sepertinya. Kemudian cepat-cepat menundukan kepalanya lagi. "Apa Shizune-san ada?"
Shizune adalah Staff sekolah yang bertugas mengurus UKS. Dan Naruto seringkali kesini membawa luka-lukanya—kalau terpaksa dan dipaksa— jika sudah berhadapan dengan Karin dan sebangsanya. Tapi pemuda yang ada di hadapannya ini seorang murid. Dan ia tidak tahu mesti berkata apa— atau bertanya apa, lebih tepatnya.
"Shizune-san sedang tidak ada," si rambut merah tersenyum. Ia tahu si sapphire di hadapannya bingung. " Aku pengurus tidak tetap untuk UKS oleh Shizune-san. Dan juga seorang murid—sama sepertimu— Kalau kau ingin tahu." langkah kaki terdengar mendekat ke arah si pirang yang tengah duduk dengan kaku.
Naruto masih menundukkan kepalanya. Otaknya belum mau bekerja sama untuk mendongakkan kepalanya ke atas, agar bisa bertatapan dengan si jangkung. "Oh, Aku, umm—"
"Kau butuh sesuatu? Atau badanmu sedang sakit? Kau bisa tidur di sana." tunjuk si jangkung. Tapi pasti tak bisa terlihat mata si sapphire, karena ia masih terus menunduk.
"Tidak apa, kau tak perlu gugup. Aku bukan orang jahat—" canda si rambut merah.
"Bukan itu, hanya saja aku tidak tahu harus memerlukan apa."
"Memangnya kau sakit ap—" si jangkung berhenti berkata saat Naruto mendongakkan kepalanya. Menunjukkan wajahnya, yang terdapat lebam biru keunguan itu. "Pipimu kenapa?"
Pertanyaan itu begitu menuntut di mata Naruto yang kini berani menatap mata coklat lawan bicaranya. Dan entah mengapa tangan pucat si jangkung terasa ingin bergerak-gerak. "Ini bekas terjatuh—"
"Terjatuh?" si jangkung tersenyum hambar. Begitu mudahnya kah, sesuatu yang bertajuk kebohongan dapat terlihat dari wajah si pirang? Si jangkung berjalan kearah laci-laci tinggi. Mencari-cari sesuatu. Dan beberapa menit kemudian menghampiri Naruto yang masih mengamatinya dengan seksama.
"Ini," jemari panjang itu menyodorkan sebuah salep dan sebotol obat. "Gunakan salep itu pada pipimu yang lebam karena 'terjatuh' itu dan obat ini untuk pengobatan dari dalam. Pasti bukan cuma pipimu yang lebam."
Perkataan si jangkung begitu tepat pada kenyataannya. Bahunya memang masih sakit, apalagi tulang belakangnya. Lebam di pipi hanyalah salah satu dari segilintir luka yang ditinggalkan si Karin.
Naruto mengambil salep dan obat itu dengan sangat amat perlahan. Jemari tan hangatnya bersentuhan dengan jemari si jangkung yang dingin. Dan entah mengapa ia merasa tangan si rambut merah itu bergetar sebentar, seolah-olah si jangkung ingin menahan tangan tan-nya dengan jari-jari pucat panjangnya.
"Terimakasih," Naruto berkata sambil membungkuk. Menyebabkan helai pirang berantakannya ikut terbawa gravitasi. Ia berdiri kembali sembari memperlihatkan cengiran lebarnya. Dan lagi-lagi pipinya terasa nyeri.
Si rambut merah ikut tersenyum. "Sama-sama," dan kemudian membungkukkan badan jangkungnya sebentar. "Dan jangan terlalu nyengir kelewat lebar, pipimu pasti masih bengkak."
"Eh, Iya—I-iya, aku mengerti. Terimakasih," ulang si pirang. Tiba-tiba ia merasa teringat sesuatu, janji yang terlupakan. "Eh, maaf aku harus pergi sekarang." Naruto membungkuk sekali lagi, dan menyengir sekali lagi, dan meringis sekali lagi. Ia keluar dari ruang UKS dengan cepat-cepat. Mengindahkan rasa sakit pada punggungnya.
Dan sekarang, di ruangan luas tersebut hanya tersisa dirinya, si rambut merah. Dengan wajah masih terbingkai seulas senyum dan tatapan penuh arti pada pintu yang membawa keluar si mata sapphire penuh daya tarik eksotik tersebut.
"Sampai ketemu lagi..." ucap sang Pemuda pada udara kosong. Seakan-akan udara itu dapat menyampaikan pesannya kepada orang yang tepat. "Naruto,"
.
.
.
Naruto berlari kearah taman belakang sekolah. Dimana di sebuah pohon besar dan rindang, telah menunggu tiga orang sahabatnya.
"Kau telat, Naruto," ucap Rock Lee, temannya yang berbeda kelas sambil memakan bento miliknya.
"Kau kencan dengan Shizune-san di ruang UKS, yaa?" pertanyaan kelewat menyindir itu dikeluarkan Kiba yang masih kesal padanya.
Naruto menjitak kepala Kiba. "Kau masih marah denganku, yaa?" tanya Naruto lembut.
"Tidak, Naru-chan, aku hanya sebal pada sifatmu yang terlalu lemah lembut, baik hati, mudah memaafkan dan bla-bla," Kiba berujar sambil mengerucutkan bibirnya. Tapi tetap saja menyodorkan sebungkus besar roti isi selai jeruk kepada si pirang.
"Aku bukan manusia yang sempurna, Kiba-chan," Kiba menjitak kepala Naruto, mendengar panggilan itu. "Hanya saja aku masih berada dalam batas rasa sabar yang kumiliki... Dan Karena itulah aku masih bisa bertahan menghadapinya."
"Jadi kalau batas sabarmu sudah penuh, maka kau akan memberi pelajaran yang berarti pada gadis itu?" tanya Kiba penuh minat. Kalau demikian, si pecinta anjing itu harus mempersiapkan diri membantu dengan kedua tangannya. Kelak jika saat itu tiba.
"Yaaa, mungkin... kalau jalan baik tidak dihiraukan Karin." ucap Naruto sambil memakan roti kesukaannya dengan perlahan. "Aku tak berani berkata bahwa akan selalu mengalah."
"Aku akan menunggumu berubah jadi monster ekor sembilan Naruto!" ucap Kiba dengan bahagia. Mencampur adukan komik kesukaannya dengan alam nyata. Berfantasi bahwa Naruto jadi anak bengal, memiliki kekuatan super dan membalas perlakuan jahat Karin dan geng-nya selama ini.
"Kalian benar-benar penuh dengan semangat masa muda!" seru Lee bersemangat. Tak sadar bahwa makanan di kerongkongannya belum tertelan sepenuhnya.
"Uhuk-uhuk, to-tolong a-aku!" Lee tersedak hebat.
"Mi-minum, Lee, ayo cepat!" pekik Naruto sambil menyambar botol air mineral. Dan Kiba menepuk-nepuk belakang Lee dengan sangat keras.
"Ckkk, mendokusai!" ucap Shikamaru, merasa terganggu dengan teman-temannya yang kelewat berisik.
.
.
.
"Ah, aku lupa," Naruto akhirnya tersadar akan sesuatu. Dan bodohnya, baru menyadari hal itu ketika bel tanda pulang berdering nyaring ke seluruh penjuru sekolah.
"Apanya yang lupa, Naruto?" tanya Kiba sembari merapikan buku-buku di atas meja.
"Tidak. Bukan apa-apa," Naruto berkata. Ia melirik meja kedua dari kiri yang sudah kosong. Entah sejak kapan sudah ditinggalkan pemiliknya pulang.
Naruto berjalan sepanjang lorong dengan Kiba yang mengoceh di sampingnya. Namun pikiran si pirang sedang tidak di situ. Ia tengah merutuki kebodohannya, karena lupa menanyakan nama si jangkung. Dan juga lupa memperkenalkan namanya sendiri.
Naruto menghela napas, matanya menyusuri jendela di sampingnya, berjejer memanjang sampai ke ujung. Sambil berjalan lamban ia terus memandang penuh minat kearah luar. Dan tiba-tiba matanya menangkap sosok yang baru-baru ini dikenalnya.
Sosok jangkung berambut merah darah dengan mata coklat yang terlihat mengantuk. Tengah mengendarai sepeda keluar gerbang sekolah. "Kiba," panggil Naruto.
"Ada apa, Naru-chan?" Kiba menoleh. Mendapati sahabatnya yang manis mematung di jendela. Tengah mengamati sesuatu di luar sana. Awalnya Kiba mengira si pirang tengah memandang takjub seorang gadis cantik, dengan rok kelewat pendek dan berdada besar.
"Kau kenal dengan pemuda itu?" tanya Naruto, sambil menunjuk seorang pemuda yang tengah mengendarai sepedanya.
Kiba menatap pemuda berambut merah untuk sejenak. "Sepertinya, dia anak baru, Naruto. Aku baru melihatnya dua bulan ini," ucap Kiba mengalihkan lirikannya kearah Naruto yang masih terus memandang karakter di bawah sana dengan rasa penasaran.
"Oh." ucap Naruto sekenanya.
.
.
Suhu udara masih teramat dingin di pagi minggu buta itu. Jalanan juga masih begitu sepi, hanya ada seekor kucing hitam gembul yang tengah berjalan lambat-lambat, menyusuri trotoar jalan.
Naruto dengan santainya keluar dari rumahnya. mengenakan jaket hitam murahnya dan menghirup dalam-dalam aroma pagi yang dingin. Hari minggu Kedai ramen Pamannya buka agak siang. Jadi ia bisa jalan-jalan sebentar. Melewati toko bunga teman SD-nya dulu, Yamanaka Ino. Restoran Sushi, Restoran siap saji yang buka dua puluh empat jam, Gedung TK. Serta taman kecil, yang dulu sewaktu Naruto masih begitu mungil menyembunyikan sesuatu di gundukan tanah di bawah naungan pohon bunga Sakura.
Naruto selalu kesini kalau ada waktu luang. Dan selalu memeriksa apakah benda yang tersimpan di sana masih berada di tempat yang semestinya. Dan ia selalu tersenyum, begitu mengetahui tak seorang pun yang menyadarinya.
.
Kedai Ramen hari ini terasa begitu sepi, hanya ada satu orang pembeli, dengan Naruto yang tengah melamun di dapur.
"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya sang Paman, Teuchi. Ia menyentil kepala Naruto.
"Aduh, Paman, Kepalaku sakit. Nanti bisa pecah," sungut Naruto polos sambil mengelus kepalanya yang tidak bersalah.
"Memangnya kepalamu itu terbuat dari kerupuk," Sang Paman berkomentar. "Kedepan sana, antarkan pesanan."
"Iya-iya."
"Ingat, jangan sampai tanganmu masuk ke dalam mangkuk ramen saat meletakkannya di meja nanti!" sang Paman mengingatkan keponakan pirangnya itu.
"Iya-iya," Jawab Naruto lagi. Pemuda bermata sapphire itu berjalan sambil membawa nampan berisi pesanan ramen milik pembeli. Pembeli yang membuat mata sapphirenya kemudian membulat sedemikian lebar saking tercekatnya.
Di sudut sana, seseorang berambut merah dengan mata coklat tengah menatapnya lembut. Begitu lembut sampai Naruto merasa nampan yang berada dalam pegangannya hendak terlepas begitu saja.
"Kau."
"Hai, kita ketemu lagi," Naruto mematung. Matanya terus berkedip-kedip ke arah sang pemuda jangkung. "Mana ramen pesananku?"
"E-eh, iya." dengan begitu Naruto berjalan lagi, meski agak lamban. Karena merasa tak percaya akan sosok yang dilihatnya.
Naruto meletakkan ramen itu di depan sang pemuda, sambil berdiri mematung. Menunggu akan sesuatu.
"Duduklah," pinta si mata coklat. Ia menepuk sisi sebelahnya untuk di tempati. Dan si pirang menurutinya.
"Umm—Anou... Aku... Namaku Naruto," ucap si sapphire memperkenalkan diri. "Kemarin kita belum berkenalan."
"Salam kenal, Naruto," si rambut merah tersenyum. Ia mengambil sumpit yang telah disediakan dan memulai makan. "Itadakimasu,"
Naruto terpana melihat sang pemuda makan. Gayanya begitu kalem dan terkesan agak malas. Tapi dari tata cara makannya, menunjukkan kalau si rambut merah bukanlah dari kalangan keluarga biasa.
"Jadi—Ehm," Naruto berkata tersendat, "Kalau boleh tahu... Siapa namamu?" akhirnya. Pertanyaan yang berisi rasa penasaran yang membayanginya sejak kemarin terlontar. Ia hendak mengetahui jawabannya lekas-lekas.
"Bagaimana kalau aku tak punya nama, Naruto?"
Pertanyaan itu membingungkan si pirang. Entah apa makna yang tersirat dari perkataan sang pemuda jangkung. Apakah ia enggan menyebutkan namanya sendiri? Apakah ia merasa namanya tak begitu berarti? Apakah ia takut kalau Naruto mendengar namanya, maka si pirang akan jantungan?
"Bercanda, Naruto." si jangkung tersenyum kalem.
Naruto hampir ingin menggembungkan pipinya—kalau saja ia tak ingat akan pipinya yang masih lebam, serta apa yang akan diucapkan pemuda di hadapannya ini kalau melihat tingkahnya seperti anak-anak. Ia kemudian mengurungkan niatnya tersebut. Namun ekor mata si rambut merah telah melihat secuil ekspresi itu. Dan mau tak mau si jangkung tersenyum lagi.
"Kenapa kau tersenyum terus?" tanya Naruto yang menjadi risih.
"Tidak ada," ucapnya sambil memandang mata sapphire nan cantik itu. "Bagaimana dengan pipimu, yang lebam karena 'terjatuh' itu?"
"Sudah agak mendingan, terimakasih untuk salep dan obatnya—" ucap Naruto tertawa hambar. Ia paham pemuda bermata coklat ini menyindir halus. "Umm, jadi kalau boleh tahu... Siapa namamu?" tanya Naruto lagi. Ia tahu sepertinya tak sopan. Tapi ia begitu penasaran. Begitu tak sabar. Dan begitu ingin tahu nama pemuda jangkung di sampingnya ini.
"Hmm," si jangkung meletakan sumpitnya perlahan di atas mangkuk, serta meletakkan beberapa lembar Yen di sampingnya. Dan kemudian berdiri. "Namaku..."
Pemuda berambut merah itu mengangkat tangannya. Bukan ingin bersalaman, tapi menyentuh warna biru di pipi itu. Mengelusnya lembut di sana.
"Maaf, tapi aku harus pergi," ucapnya lagi. Ia berjalan perlahan ke arah pintu. Dan berhenti di sana, "Namaku...Sasori...salam kenal." setelah berkata begitu ia pun pergi.
Sayup-sayup Naruto mendengar suara sepeda berjalan menjauh dari kedainya.
"Sasori..." ulang Naruto. Mata sapphire-nya berkedip berkali-kali.
.
.
To Be Continued.
.
.
AN: Jadi siapa minna, yang tebakannya tepat. *tepuk-tepukin tangan orang lain* jadi cowok jangkung itu namanya Sasori, un.
Well, silahkan reader yang berhak mengambil hadiah, PM ke author. Hadiahnya ciuman satu malam dengan Kisame dan Jiraiya-san.*digampar readers*
-Soal pertanyaan reader semua, udah Pattesa tampung. Pertanyaan-pertanyaan itu ga bisa dijawab, karena kalau author jawab, sama aja author memberikan spoiler-nya. Ga etis donk , minna-san.*digetok#
Thanks to : riri, ca kun, Guest, MissFREAK, seirioranye48, S. Oyabun, Sasunaru's lover, devy. meilany, Ciel-Kky30, ZukaBaka, tetchan, Sora asagi, Kamikaze no Shinigami, Daevict024, Rin Miharu-uzu, Gunchan Cacunalu Polepel, COMELmaleslogin, hikari shinji, Pink Panda, Jamcomaria, GerharGeMi, Nasumichan Uharu, My Name Is Kuzumaki, Rhie chan Aoi sora.
-Maaf kalau ada kesalahan pada nama atau ada yang tidak di sebut. Maklumilah author yang kelaparan ini.*gak nyambung*
Pattesa juga mau minta maaf, ternyata ada reviewer yang ga kebaca di akun pattesa. Jadi review di Gotcha the Blonde ada yang ga di sebutin kemarin. Maafin Pattesa yaa. Makasih buat yang baca dan review: Guest, Tia Hanasaki, RZ, mEY, SaSunaru forever, TOMCaty, Jamcomaria, Rizu si fujoshi akut, Guest, Anami Hime. Maaf yaa, akun Pattesa error kemaren, jadi review annonymous-nya ga kebaca, hehehe. Tapi sekarang udah diperbaiki.
Well, gimana? mo ga fik gaje ini diterusin. Review, yaa, Minna...C:
Pattesa mo kabur dulu yaa, menjelang lebaran ini, bye, Minna!
Review Please, ^_^
