Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance, friendship.
Warning: Shonen-ai(MaleXMale), typo-s, Alternative Universe, OOC.
Rate: T
Pairing: SasuNaru, SasoNaru
.
Don't like? Don't Read!
.
.
.
Sasori tahu, dengan kepindahannya ke Jepang ia akan menemukan sesuatu yang menarik. Dan instingnya tepat. Ia tengah menemukan permata tak bertuan.
Namikaze Naruto, mengingatkannya pada kota Newyork yang ramai. Istambul yang cerah. Serta pantai di Barcelona, Spanyol yang memikat.
Pemuda yatim piatu yang memiliki pendar biru sewarna langit, terbubuhi goresan cantik dengan surai pirang menggoda itu sungguh menggelitik hatinya untuk mendekat, dan mencoba memahaminya lebih dalam.
Ya, Sasori tahu ia telah terpikat pada pendar sapphire-nya.
.
.
Sapphire In The Sky
.
+ . +
* Chapter Three *
+ . +
.
.
"—Jadi, kalian berdua satu kelompok." kata-kata sang guru Sejarah, membuat Naruto mendelik. Senin siang ini, di mata pelajaran terakhir ia di kejutkan oleh dua kenyataan.
Pertama, Seorang Uchiha Sasuke yang tiba-tiba dengan rajinnya mengikuti pelajaran hingga habis. Padahal biasanya sosok itu tak akan sudi datang di hari sesudah minggu tersebut.
Kedua, (hal yang saling berkaitan dengan kenyataan pertama) sang guru Sejarah kemudian mengelompokkannya dengan si Uchiha Sasuke. Pemuda yang sangat dingin itu—yang bahkan selama ini, ia belum pernah bicara dengannya.
Lalu, bagaimana cara tugas kelompok ini bisa selesai nantinya?
"Waktu kalian tiga bulan untuk tugas yang sudah kita bicarakan tadi," sang guru bernama lengkap Mitarashi Anko itu berkata tanpa basa-basi. "Baiklah, pelajaran hari selesai."
Sang guru pun kemudian pergi dari dalam kelas, meninggalkan bisik-bisik muridnya. Beberapa orang gadis terlihat iri melihat Naruto akan berkelompok dengan orang yang mereka idolakan, Uchiha Sasuke.
Tapi berbeda dengan mereka, Naruto malah merasa ini akan menjadi sesuatu yang sangat rumit kedepannya kelak.
Murid-murid yang lain sudah banyak keluar dari kelas untuk pulang dan hanya tersisa beberapa orang di kelas.
"Psst," Naruto mendesis ke arah Kiba yang tengah merapikan buku-bukunya. Pemuda pemilik Pet shop itu mendongak dan bertatapan dengan Naruto.
"Apa?" tanya Kiba yang tidak paham.
"Bagaimana ini, aku harus berpasangan dengan Uchiha Sasuke untuk tugas kelompok ini?" Naruto bertanya dengan suara pelan, meminta pendapatnya kepada sang sahabat.
Kiba hanya mengendikan bahu. "Aku juga tidak tahu, Naruto. Apa kau ingin minta tukar dengan yang lain?"
"Anko-sensei tak mungkin setuju. Perkataan yang sudah ia katakan itu adalah sesuatu yang mutlak."
Kiba menganggukkan kepalanya. "Padahal aku ingin tukar tempat dengan Ten-ten." dengus Kiba.
"Memangnya, pasangan tugasmu siapa?" tanya Naruto. Ia tidak menyimak dengan jelas saat pembagian kelompok berpasangan untuk tugas sejarah tadi.
"Shino."
Naruto hampir meledakan tawanya, tak menyangka Kiba telah dipasangkan dengan si pecinta serangga pendiam tersebut.
"Huuhh, jangan tertawa, Naru-chan," Kiba mencubit pipi Naruto dengan keras.
"Aduh sakit, Baka!" Naruto melepas cubitan Kiba dengan paksa. Matanya beralih ke arah meja Sasuke, di mana sang empunya sudah menghilang. Tergagap, Naruto mencari ke berbagai arah. "Ehh, ma-mana si Uchiha itu."
"Entahlah, kurasa ia sudah pergi," ucap Kiba sambil memasukan buku terakhirnya ke dalam tas.
"Apa? Aduh, aku harus menyusulnya." sembari menggendong tasnya, Naruto berlari keluar kelas, mencari figur bernama Uchiha Sasuke.
"Heeiii!" pekik Kiba yang kesal karena ditinggal pergi begitu saja.
.
.
"Tu-tunggu!" seru Naruto, ia melambai-lambai ke arah sesosok jangkung yang berjalan perlahan di koridor sepi itu.
Sasuke, sang pemuda berhenti berjalan. Ia menatap datar si pirang yang berlari-lari ke arahnya.
"Hosh-hosh," deru Nafas Naruto terdengar oleh si raven. "Err, mmm, ini... Ehmm—soal tugas kelompok itu."
Naruto dengan agak takut-takut menatap Sasuke, namun yang tertera di wajah tampan si surai hitam hanyalah kedataran belaka. "I-itu, mulainya kapan?" tanya Naruto dengan tidak jelas. Ia menunduk malu, upayanya yang seperti ini kelihatan seperti orang bodoh.
"Besok," ucapan pertama yang di dengar Naruto. Telinganya terasa dimasuki oleh suara Ber-bass paling sempurna. "Usai sekolah, kita bertemu digerbang."
Dan setelah itu sang suara ber-bass pun pergi meninggalkan Naruto.
.
.
Kring-kring.
Naruto yang berjalan perlahan dikejutkan dengan suara yang familiar. Si pemuda bermata biru itu menengok ke belakang. Dan menemukan pemuda lain yang jangkung, bersurai merah, bermata coklat yang terkesan mengantuk tengah mengendarai sepeda mendekat ke arahnya.
"Hai, Naruto," sapa Sasori. Rem sepedanya berdecit pelan ketika berhenti perlahan-lahan tepat di hadapan Naruto.
Naruto tersenyum dan balik menyapa, "Hai, juga... Tukang koran."
"Tukang koran?" ulang Sasori tak mengerti. Wajah baby face-nya terkesan bertanya.
Naruto nyengir sebentar. "Iya, tukang Koran di Konoha kan kalau membawa koran pasti menggunakan sepeda."
Dan muncul lah senyum tipis di wajah Sasori. "Kau tahu, kata-katamu tadi sama sekali tak lucu."
"Eh," senyum kekanakan Naruto menghilang, diganti dengan tawa hambar si pirang. "Hehe, tidak lucu yaa."
"—Tapi ekspresimu membuatnya seperti lelucon mahal." Sasori menghamburkan senyum tipisnya lagi. Membuat Naruto merengut sebal. Pemuda ini suka sekali membuat kejiwaan seseorang terombang-ambing karena ucapannya.
"Kau mau ke mana?" tanya Sasori kemudian, ia menatap Naruto yang masih kelihatan sebal.
"Tentu saja mau pulang."
"Bagaimana kalau kuantar pulang," ucap Sasori.
Naruto memandangi sepeda Sasori, dan ia menyadari tak ada sadel belakang di sepeda si surai merah itu. "Lalu aku duduk di mana?"
"Di sini," ucap Sasori sambil menepuk bagian depan sepedanya.
"Kau bercanda. Aku tak mau." sungut Naruto.
"Kenapa?"
"Kalau kau memboncengi aku seperti itu, malah terkesan kalau aku mirip cewek, Sasori." Naruto mengemukakan alasannya.
Sasori tersenyum mendengar ucapan dari mulut Naruto. Kemudian, dengan jail ia mengacak rambut pirang Naruto.
"Hei, berantakan, Sasori," keluh si pirang sambil merapikan helai kuning itu.
Senyum Sasori makin melebar, melihat wajah pemuda itu sedikit sebal. "Ya, sudah. Kalau begitu aku duluan, Naruto."
Naruto mengangguk, dan melambaikan tangannya saat Sasori mulai mengendarai sepeda miliknya. "Sampai jumpa."
.
.
.
Hari Selasa, seusai sekolah. Seperti perjanjian kemarin, Naruto menemui Sasuke di pintu gerbang.
Ia mendesah, padahal di kelas tadi mereka bisa saja membahas tugas ini. Tapi tak sedikit pun pemuda bermata onix itu berniat melakukan percakapan.
Mata sapphire-nya menatap sosok Sasuke. Pemuda itu tengah bersandar sambil mengenakan earphone di telinganya.
"Ehm, Sa-sasuke," Naruto mencoba memanggil pemuda itu. Dan reaksinya sungguh cepat. Mata onix itu terbuka.
"Kau telat sepuluh menit," ucapnya datar sambil kemudian menutup mata lagi.
"Gomen. Aku memang salah," Naruto membungkuk, dan berkata lagi, "Ta-tapi—"
"Hn, tak apa," ucap si raven kemudian. "Apa kau punya hand phone?"
Pertanyaan itu dijawab Naruto dengan kepala menggeleng. Sejujurnya ia tak mengerti untuk apa pemuda ini bertanya tentang alat yang tak mungkin bisa dibelinya. Lagi pula tugas kelompok sejarah tak ada hubungannya dengan gadget bernama hand phone tersebut.
Sasuke memasukan tangan ke saku celana sekolahnya. Kemudian ia menjulurkan sesuatu berwarna putih ke arah Naruto. "Ini ponsel."
"Aku tahu, ta-tapi untuk apa?" Naruto melirik Sasuke dengan tidak paham. Naruto tahu itu ponsel, ia tidak bodoh.
"Untuk berhubungan, selama tugas kelompok ini berlangsung," ujar si raven.
"Tapi, aku tak bisa."
"Kau tak bisa menggunakan Hand phone?" alis si surai hitam mengernyit.
"Bukan. A-aku tak bisa memakai barang orang, apalagi benda semahal itu."
"Kalau begitu ponsel ini kuberikan padamu."
"Apa! Aku tidak mau. Aku—"
"Sudahlah," Sasuke memasukan ponsel itu ke saku Naruto. "Begini saja. Ponsel itu kupinjamkan. Suka atau tidak!"
Naruto hanya bisa pasrah, mendengar pernyataan tegas si mata onix. Dan baru disadarinya kalau si raven bernama Sasuke ini bisa bicara juga, bukan silent boy—tidak pendiam seperti yang diperkiraannya selama ini. Pemuda itu seperti pendebat sejati yang tak bisa dikalahkan.
"Jadi bagaimana soal tugas sejarah kita? Apakah hari ini kita akan mengerjakannya?" tanya Naruto sambil merasakan bahwa saku celananya sedikit terasa berat. Apa hand phone mahal memiliki beban besar?
"Maaf, tapi hari ini aku ada keperluan," ucap Sasuke sambil melirik sesekali ke arah Naruto dan langit. Ia menatap pipi Naruto yang terlihat samar-samar bekas keunguannya lebih lama.
"Oh, begitu." Naruto menggaruk tengkuknya yang terasa gatal. Sebenarnya ia setengah kecewa dan setengah lega. Sisi lain, dirinya penasaran ingin mengetahui lebih jauh sosok pemuda kalangan jet-set tersebut. Namun di sisi lainnya juga, ia masih kurang nyaman bercengkrama dengan sosok di depannya ini. "Baiklah kalau begitu, sebaiknya aku pulang saja," Naruto berbalik, hendak berjalan cepat. Tapi kemudian ia menghadap Sasuke lagi. "Ehm, tentang ponsel itu, sungguh kurasa tak perlu ku gu—" Sasuke menatap Naruto dengan pandangan mengintimidasi, yang membuatnya jadi salah tingkah. "—eh, anou, maksudku tentu saja, harusnya aku bilang terimakasih, hehehe. Sampai jumpa besok."
Naruto merasa sangat janggal mengucapkan kata-kata itu, dikarenakan baru yang kedua kalinya mereka bercakap-cakap. Ia merasa berbicara dengan orang yang tidak dikenal statusnya, padahal kan mereka teman sekelas.
Ia berjalan cepat menjauhi sang pemuda raven, yang masih bersandar di situ, dan masih menatapnya lamat-lamat.
Seuntai kata terucap dari bibir si raven yang melengkung itu, "Naruto."
.
.
To Be Continued.
.
Special thanks:
Jamcomaria, Rin Miharu Uzu, Scythe no Shinigami, seirioranye48, Gunchan CacuNalu Polepel, Daevict024, Misyel, hatakehanahungry, Guest, GerhardGeMi, MissFREAK, My Name Is Kuzumaki, Uchy-san, pepper d p, Louisia vi Duivel.
Pattesa Note: Maaf klo ada kesalahan pada nama, nanti Pattesa perbaiki C: Truss, maaf juga baru sekarang update-nya. soalnya Pattesa banyak kesibukan#bungkuk2. Maaf juga klo kurang puas, apalagi chap 3 ini pendek banget T-T. Pokoke, gomen minna-san...)':
Pattesa minta Review yaaa :D
C:
8D
(-;
