Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance, friendship.
Warning: Shonen-ai, typo-s, AU, OOC
Rate: T
Pairing: SasuNaru, SasoNaru
Sapphire In The Sky
.
+ . +
* Chapter Four *
+ . +
.
.
Kamar Naruto adalah sebuah ruangan segi empat sederhana, dengan sebuah babut biru menghiasi lantai kayunya. Ada sebuah lemari kecil yang diisi dengan beberapa medali dan piala penghargaan. Ada beberapa buku komik yang tertata rapi di samping beberapa buku pelajaran. Dan sebuah lagi lemari pakaian yang terisi beberapa baju dan seragam miliknya.
Sang pemilik kamar sepertinya tengah bersembunyi di dalam selimut. Bergelung dan bergerak-gerak kesana kemari di atas futon—kasur lipat—yang telah terhampar di lantai kayu tersebut. Jelas ia sedang melakukan sesuatu yang bersifat rahasia di dalam selimut menutupi gerak-geriknya.
Selimut bergambar langit biru itu tersibak, ketika Naruto tak sengaja menendang sang selimut dengan kakinya. Memperlihatkan gayanya yang sedang menungging, dengan tangan memegang sesuatu. Mata shapphire-nya awas menatapi benda putih di tangannya.
"Aah, bagaimana cara menggunakannya sih?" tanya Naruto pada diri sendiri. Naruto berbalik lagi, menelentangkan tubuhnya. Ia melirik kesana-kemari, dan menemukan sebuah tombol— yang menurut si pirang digunakan untuk menyalakan ponsel tersebut.
Layar ponsel itu menyala, dan Naruto menatapnya tanpa berkedip.
Sebenarnya ini tak boleh. Ini salah. Ponsel mahal itu bukan miliknya. Tapi pinjaman yang dipaksa oleh si Uchiha. Dan kenapa ia harus senang sekali saat ini, ketika ia memakai benda pinjaman yang dipaksa?
Naruto mengetukkan jemarinya ke layar ponsel yang lebar itu. Dan terkejut ketika layarnya berubah. Ia mulai menggeleng-geleng takjub.
Takjub, betapa kampungan sekali dirinya.
Naruto menarik selimutnya lagi, memasukan seluruh badannya. Dengan setengah ego yang terkekang, ia mulai mengutak-atik ponsel yang diperkirakan si pirang: sangat mahal.
Naruto terkejut ketika ponsel itu bergetar karena sebuah pesan masuk.
From: 0811xxx
Ini nomorku. Simpan dengan benar.
Si surai pirang yakin sms itu pasti dari Sasuke. Dari gaya smsnya pun sudah kelihatan jelas.
Menggaruk-garuk pipinya yang bergaris seperti kumis kucing itu, Naruto berpikir. Apa ia mesti membalas sms pemuda yang kelihatan judes itu? Tapi kalau tidak dibalas sepertinya tidak sopan, pikirnya.
Jadi, dengan ogah-ogahan yang setengah-setengah Naruto membalas pesan singkat Sasuke.
Dengan jawaban:
To: 0811xxx
Ya, sudah kusimpan.
Padahal ia bohong.
Naruto menggerutu akan kebohongannya. Lagi pula ia mesti ngomong apa? Jujur bahwa dia 'Dobe' karena tidak tahu cara menyimpan nomor seseorang. Padahal kan, ia hanya belum menguasai gadget mahal itu. Ironis.
"Naruto," suara pamannya memanggil.
Terkesiap, Naruto langsung membenamkan ponsel putih itu ke belakang bantalnya. Dan dengan agak cepat memaksakan kepalanya menyembul dari dalam selimut.
"E-eh, Pa-paman," kata Naruto terbata-bata. Ia nyengir tidak jelas sambil menatap pamannya yang berada di ambang pintu. Paman Teuchi mengernyitkan dahinya melihat kelakuan aneh sang keponakan.
"Kau kenapa, Naruto?" tanya sang paman. "Kenapa berselimut? Apa kau sakit?" Lelaki tua itu berjalan mendekati Naruto
"Ti-tidak, aku hanya... Hanya ingin berselimut... kurasa... kurasa aku mengantuk," jawab Naruto dengan alasan sekenanya.
"Oh," ucap sang paman. "Tapi kau harus makan dulu, bocah." Paman Teuchi menyentil kepala Naruto agak keras.
"Aduh," Naruto mengaduh. Ia memegangi kepalanya yang jadi korban kenakalan sang paman. "Sakit, Paman! Nanti kepalaku bisa—"
"Berhenti mengatakan kepalamu seperti kerupuk!" sang paman berujar kesal. "Dan cepatlah makan."
"Iya, iya." Naruto kemudian berdiri, dan berjalan dengan lambat-lambat.
.
.
.
Rabu pagi yang mendung, dengan Naruto yang berlari ke sekolahnya.
Hari ini sungguh sepi, paling-paling hanya segelintir guru dan murid yang sudah berkeliaran di sekolah megah tersebut di jam sepagi ini.
Memasuki gedung sekolah, Naruto memperlambat jalannya. Ia berjalan melewati koridor lantai dasar, terus berjalan hingga ke ujung—di mana ada tangga untuk ke lantai atas.
Namun, ia dikejutkan oleh cekalan tangan saat ingin naik ke undakan tangga pertama. Naruto terdorong ke belakang cukup keras. Seragamnya dicengkram kasar oleh seseorang dari belakang.
Ketika Naruto menoleh ke belakang, ia menemukan dua pemuda berseragam serampangan tersenyum congkak kepadanya.
"Apa lagi mau kalian kali ini?" Naruto bertanya dengan suara menahan emosi.
"Biasa. Bos kami ingin bertemu denganmu," ucapnya sambil mencengkram erat lengan sang pemuda berambut kuning dan menyeretnya paksa pergi dari situ.
.
.
Gedung Olahraga Sekolah Konoha adalah gedung berfasilitas lengkap berstandar internasional. Di mana gedung itu terbagi tiga lantai yang keseluruhan ruangannya berpendingin.
Naruto tahu seharusnya gedung ini terkunci, karena belum waktunya jam sekolah dimulai. Dan yang memiliki kunci gedung olahraga hanya beberapa orang. Naruto juga tahu tidak sembarang orang yang memiliki kunci duplikatnya. Kecuali satu orang. Dan ia mestinya tahu sejak awal siapa orang itu.
Satu orang yang memiliki kunci duplikat gedung olah raga, dan mau susah payah datang ke sekolah pagi-pagi begini.
Dengan langkah lebar-lebar, kedua pemuda itu membawanya menyusuri lantai dasar, terus berjalan menuju sebuah ruangan yang bertuliskan: Basket Room. Mempertemukannya dengan sang Bos.
Di depannya sana berdiri sesosok berambut merah panjang. Baju seragamnya serampangan dengan dua kancing yang terbuka, roknya sangat pendek dengan kaus kaki di atas lutut, serta dasi kupu-kupunya yang berantakan terkulai di lehernya.
Ada beberapa anak buahnya yang lain berdiri agak jauh darinya.
"Hello, Kuning," sapa Karin sambil tersenyum ramah (pura-pura). Ia bersandar malas pada tiang ring basket sambil memain-mainkan bola di tangannya. Menatap penuh rencana licik ke arah Naruto.
"Apa maumu, Karin?" tanya Naruto.
Padahal Naruto tahu apa yang diinginkan si gadis: berbuat yang tidak baik padanya.
Karin menatap kedua anak buahnya—yang telah membawa paksa Naruto. Seolah paham, mereka kemudian melepas cengkraman tangannya dari si surai pirang.
"Hmmm. Apa ya maunya si Karin?" Tanya gadis itu pada dirinya sendiri. Ia berjalan dua langkah ke arah Naruto. Matanya menatap tajam ke sapphire si pirang.
Rasanya cepat sekali saat bola itu terlempar kencang ke arahnya. Dan si surai merah panjang sangat yakin bola itu tepat mengenai sang Namikaze.
Tepat menghantam ke tubuh tan tersebut.
Namun, lengkungan di wajahnya sirna saat dua iris matanya melihat fakta yang tertera di depannya. Lemparan kencang Karin—sang anak kepala sekolah—dapat ditangkap dengan mudah oleh Naruto Namikaze. Tak ada satu ekspresi pun terlihat di wajah si pipi bergaris itu. Ia melemparkan bola itu jauh ke belakang dan meluncur masuk ke dalam lubang ring basket.
Kendati demikian, itu cukup membuat si gadis berambut merah murka. Ia emosi. Kelicikannya dipermainkan oleh korbannya.
"Ahh," desah si gadis berpura-pura terkesan. "Hebat sekali Namikaze muda kita ini."
Karin mulai berjalan mendekati Naruto. Wajah ayu sang gadis terpecah antara raut benci dan Kedengkiannya. Ia menatap sangar sang pemuda.
Naruto heran. Apa alasan anak kepala sekolah di depannya ini hingga gadis itu begitu benci padanya?
"Aku lupa kalau kau murid cerdas—" Karin menatap Naruto dari atas hingga ke bawah dengan tatapan mencemooh. "dan juga jago olah raga."
Karin melontarkan tinjunya ke arah wajah si pirang. Naruto yang menyadarinya ingin mundur namun terlambat, tinju itu datang lebih cepat, terpaksa ia menahannya dengan kedua tangannya.
Naruto terhempas ke belakang beberapa langkah, namun tidak terbanting jatuh seperti yang diinginkan Karin. Gadis itu menggemeletukan giginya kesal. Sepertinya kali ini si kuning bisa bertahan.
"Yang kuinginkan adalah..." Karin berkata sambil mulai berjalan lagi. "Kau enyah dari sekolah ini!"
Kini Naruto sudah menurunkan tangannya kembali. Ia memandang Karin dengan sungguh-sungguh. "Bagaimana kalau aku tidak mau, Karin?"
Karin tidak menjawab dengan suaranya, ia justru menggunakan kakinya. Mencoba menorehkan tendangan ke wajah Naruto.
Reflek, Naruto lagi-lagi menahannya dengan kedua tangan miliknya. Namun kali ini Karin mesti berbangga diri, karena akhirnya Naruto tumbang. Ia terpelanting ke belakang dengan debuman keras sekali. Mata berbulu lentik sang gadis menatap puas, ketika melihat salah satu tangan si pirang— yang menahan tendangannya— itu terluka. Tidak menyesal hari ini ia menggunakan sepatu boots ke sekolah.
Anak buah Karin terkikik jalang melihat kesusahan Naruto.
Naruto yang hendak berdiri tercekat saat Karin mulai menyerangnya kembali. Kaki berbalut sepatu boots itu hampir mengenai dada Naruto—ingin menginjaknya—andai saja sebuah suara berat tidak menginterupsi kegiatan tercela si gadis.
"Berhenti." suara itu pelan, namun begitu dingin, menuntut dan berbahaya.
Serangan Karin terhenti di udara. Matanya menatap ke arah pintu masuk ruang basket dengan nyalang. Dan pandangan nyalangnya berubah menjadi raut terkejut saat melihat sosok yang berdiri di sana.
Sesosok jangkung berseragam rapi. Surai hitamnya mencuat tajam ke atas. Sama tajamnya dengan pandangannya ke arah si gadis berambut merah.
Tendangan si Karin batal. Ia kembali berdiri tegak sambil melirik penuh minat pada pemuda yang masuk dalam acara kecil-kecilan mereka.
"Wow," denting suara si gadis berubah warna. "Sasuke-kun rupanya." Ia berkacak pinggang dengan gaya malas-malas. Menunggu sang pemuda melakukan reaksi.
"Sepertinya kau memiliki penyakit sakit jiwa, anak kepala sekolah," desis Sasuke lembut namun menyakitkan di telinga Karin. Anak buah Karin yang merasa tersinggung langsung berlari menerjang Sasuke. Mencoba menghajar sang Uchiha untuk membalas harga diri sang Bos yang telah dihina.
Rasanya hanya sekejap saja, ketika kedelapan pemuda itu terkapar di lantai dingin tersebut. Pingsan karena ulu hatinya ditinju begitu keras.
"Cih! Kau mau jadi seorang pahlawan rupanya?"
"Aku hanya ingin menghentikan kemiringan kepalamu," ucap Sasuke sembari berjalan perlahan.
Naruto sedari tadi hanya bisa diam termangu menonton aksi live action di depannya. Ia terduduk dengan tangan sebagai penyangga badan. Dan itu harus membuatnya meringis karena tangan yang menyangganya terluka.
Sasuke melirik kondisi Naruto lamat-lamat sebelum kemudian beranjak makin mendekat ke arah Karin.
Melihat hal itu Karin malah tersenyum, ia membusu-ngkan badannya kelewat congkak. Seolah bersiap melawan Sasuke.
Saat Sasuke hampir lima langkah mendekat ke arah Karin, si gadis sudah melemparkan tendangannya dengan keras-keras. Sasuke menahannya dengan satu tangannya. Dengan kalem memelintirnya sedikit keras namun sangat yakin tak akan membuat si surai merah panjang terkilir.
Mengaduh, Karin terjatuh ke bawah dengan pantat lebih dulu. Bunyi berdebum sekali lagi terdengar.
"Aku tidak suka berkelahi dengan anak perempuan. Meskipun sistem syaraf-nya bermasalah," cemooh si raven. "Kecuali kalau kau memaksa, Karin."
"Kau!" Karin menunjuk wajah Sasuke dengan jari telunjuknya yang bergetar. Raut wajahnya yang ayu tercabik antara amarah dan menahan malu. Helai-helai panjang merahnya teracak-acak tidak rapi lagi karena ia terjatuh barusan. "Akan kuadukan pada ayahku!" bentaknya kasar. Ia berdiri dan berhadap-hadapan dengan Sasuke.
"Lakukan saja semaumu," balas Sasuke dengan nada datar. "Tapi kuminta satu hal—" Karin menyadari raut wajah Sasuke menjadi kelam saat berkata, "Berhenti mengganggu Namikaze Naruto."
Naruto terkejut mendengar perkataan sang teman sekelas. Untuk apa pemuda itu berbuat sejauh ini—Bersusah-susah membantunya.
Tak sudi digertak sang Uchiha, Karin berpura-pura memasang wajah manis—setengah retak— sambil menyodorkan pertanyaan kesukaannya, "Bagaimana kalau aku tak mau, Sasuke-kun?"
Si raven mendekatkan wajahnya kepada Karin, dan gadis itu bersumpah ia merasa seakan udara di sekitarnya memekat dan menipis secara tiba-tiba. "Aku bisa meyakinkanmu, Karin. Dalam lima menit ke depan, sekolah ini akan berganti kepemilikan."
Kata-kata itu kelewat Kalem. Namun Karin tahu dibalik kekaleman seorang Uchiha Sasuke, berselimut ancaman yang tak main-main. Lihat saja wajah tampannya yang berubah mengelam saat ia mendesis, "Mungkin memiliki pekerjaan baru sebagai gelandangan di kota Konoha cukup memenuhi standar keluargamu, Nona."
Karin beringsut mundur, menjauhkan wajahnya dari aura kelam bermuatan negatif sang penerus Uchiha tersebut.
"Kau—kau menang kali ini, Uchiha!" Karin berujar melengking. Ia berjalan keluar ruangan basket dengan menghentak-hentakan kakinya. Sesekali langkahnya terantuk oleh badan-badan anak buahnya yang pingsan di lantai.
Karin telah pergi dengan tampang acak-acakannya; Naruto masih termangu dengan luka di lengannya; dan Sasuke yang menawan masih menatapnya dalam diam.
"Err—" Naruto menggaruk tengkuknya yang terasa gatal. Ruangan itu menjadi sepi, setelah pertarungan sengit Sasuke vs Karin barusan. Kini hanya mereka berdua yang masih dalam kondisi sadar.
Sasuke menjulurkan tangannya, awalnya Naruto mengira ia ingin membantunya berdiri. Tapi ternyata ia malah memasukan tangan pucatnya itu ke dalam saku celananya. Sasuke mencari-cari sesuatu, sekejap kemudian sebuah benda—yang diketahui Naruto bernama ponsel—berwarna hitam sudah berada dalam genggaman si raven.
Ia menekan-nekan tombolnya, dan bunyi tut-tut bergema di ruangan tersebut. Sepertinya si raven sedang menghubungi seseorang, tapi tidak ada yang menjawab.
Menyadari sesuatu, Sasuke kemudian bertanya pada Naruto—yang binar birunya masih mengingatkan si raven pada pantai Kahanamoku Waikiki, Oahu, Hawaaii—yang masih termangu itu, "Mana ponsel yang kupinjamkan padamu?"
Mengira Sasuke ingin meminta kembali ponselnya Naruto kemudian berkata, "Err... Kalau kau mau mengambilnya kembali—"
"Aku tidak memintamu mengembalikan ponsel pinjamanku. Aku bertanya di mana ponsel itu? Kenapa tidak aktif?" Sasuke meluncurkan pertanyaan beruntun. Membuat Naruto kewalahan menjawabnya.
"Itu—Err... Kutingga—"
"Kau tinggalkan di rumah?" Sasuke memandang Naruto tidak percaya. Ia berdecak kesal pada pemuda yang terduduk di lantai itu. "Ponsel itu kupinjamkan bukan untuk kau tinggalkan di rumah. Tapi untuk kau pakai."
"Aku—"
"Sudahlah," potong Sasuke lagi. Naruto sewot, pemuda di hadapannya ini sudah beberapa kali main potong kata-katanya. Bisakah ia berkata sampai habis tanpa perlu dipotong?
Setelah berada dalam rentang sunyi yang tak nyaman, dengan tiba-tiba si raven kemudian menarik bangkit si pirang. Membuat pemuda yang terpaksa bangkit itu mengeluh bisu—karena tangan yang ditarik Sasuke adalah tangan yang terluka.
"Maaf," ujar Sasuke saat menyadari kekeliruannya. Ia berpura-pura menatap ke arah lain saat berkata begitu.
Naruto mengedipkan matanya beberapa kali setelah mendengar suara ber-bass itu mengucapkan maaf. Naruto mencoba menetralkan perasaannya yang tumpang-tindih dengan menyengir tak jelas. "Hehe, tak masalah kok."
Sasuke mengernyitkan dahi, seolah tidak mengerti jalan pikiran si pirang. Sama seperti halnya Naruto yang tak mengerti jalan pikiran Sasuke.
"Hn. Ayo ikut aku." kemudian setelah merasa sang Namikaze bisa diajak kompromi. Ia menarik kembali tangan Naruto—yang tidak terluka. Pelan-pelan menyeretnya pergi.
Naruto hanya bisa menghela napas. Sepertinya hari ini adalah hari dimana dirinya sering 'ditarik-tarik dan diseret-seret' seenaknya.
.
.
.
Kriieett.
Bunyi halus pintu berbahan kayu jati ruang UKS ketika terbuka. Senyap menyambut keduanya—Pemuda yang menyeret pemuda lain yang terseret.
Hanya suara langkah sepatu yang terdengar di ruangan yang keseluruhan warnanya bercat putih itu. Naruto kembali disuguhkan pemandangan lukisan dari jaman Edo, saat ia dipaksa duduk oleh si surai hitam di sofa elegan ruang UKS itu.
"Shizune-san," panggil Sasuke.
Beberapa menit kemudian, seorang wanita bersurai pendek keluar dari ujung ruangan. Ia menatap terkejut melihat dua orang pemuda di ruangan UKS sepagi ini.
"Sa—Sasuke, a-ada apa?" tanya Shizune agak tergagap. Lalu saat sang pengurus UKS tersebut menatap ke arah Naruto barulah ia mahfum. "Oh, Naruto."
"Tolong ambilkan kotak P3K," pinta Sasuke dengan sopan.
Shizune mengangguk. Bergegas ia mengambil sebuah kotak di sebuah laci tinggi di seberang ruangan. Dan cepat-cepat menyodorkannya ke jemari panjang Sasuke.
"Terimakasih, aku bisa melakukannya sendiri, Shizune-san." Sasuke memulai mengobati Naruto, mengeluarkan peralatan P3K dari kotaknya dan membersihkan luka-luka si pirang perlahan-lahan.
Paham bahwa sang Uchiha tidak ingin diganggu Shizune pun kemudian kembali ke ruangannya di ujung sana.
Pintu UKS terbuka lagi. Disambut dengan sesosok pemuda bermata coklat yang kelihatan mengantuk menyembul di ambang pintu.
Sasuke tak sedikit pun berminat untuk mengetahui siapa orang yang baru datang—dan terus menekuni kegiatannya mengobati si pirang. Tapi Naruto tidak, ketika mengetahui siapa yang berdiri di tengah pintu, mulutnya tak bisa tidak bereaksi untuk berucap, "Sasori."
Dengan tas ransel hitam tersampir di bahu, pemuda jangkung bersurai merah itu menghampiri keduanya. Kemudian dengan entengnya duduk di sebelah Naruto.
Sasori melirik penuh minat pada lengan Naruto. "Tanganmu kenapa, Naruto?"
"Ini terja—"
"Habis dipukuli," potong Sasuke. Naruto mendelik sebal ke arah Sasuke.
"Dipukuli?" ulang Sasori. Mata coklatnya menatap Naruto dengan pandangan minta penjelasan.
"Bukan, kok. Ini hanya—"
"Berhenti berbohong," ujar Sasuke, kembali memotong kata-kata Naruto.
Naruto menggembungkan pipinya. Sadar ekspresinya salah, Naruto cepat-cepat mengubahnya ke raut wajah sebal—Yang terlihat sekali sangat gagal di mata keduanya.
Sasuke melirik sekilas ke wajah tan itu, dan mau tak mau terkekeh rahasia.
Acuh, Sasori bertanya lagi pada Naruto, "Siapa yang melakukannya, Naruto?"
"Err, hanya ulah beberapa murid berandalan sekolah, kok. Hehe..." Sasori tahu si pirang berbohong. Sama halnya dengan Naruto yang tahu bahwa ia tak pandai berbohong. Tapi memaksa Naruto mengungkapkan sesuatu yang ditutupinya sangatlah susah.
"Aww," Naruto tak sengaja meringis saat Sasuke menekan kapas agak keras ke lukanya—sepertinya ia kesal mendengar dendang kebohongan si surai pirang hingga tak sengaja menyalurkan emosinya ke luka Naruto.
"Kau menyakitinya," Sasori mengalihkan pandangannya ke arah pemuda bersurai hitam. Menatap lamat-lamat pemuda yang masih setia membersihkan luka Naruto dengan cairan antiseptik. "Sini, biar aku yang mengobati Naruto."
Sasori menjulurkan jemarinya, mencoba mengambil kotak P3K di atas meja. Namun tangan pucat milik si raven tak membiarkannya. Mata onix itu menatap tak suka pada Sasori yang kelihatan sok—ingin mengambil alih tugas 'Palang merah dadakan' miliknya.
Tak ada kata. Tapi Sasori paham Sasuke tak suka kelakuannya. Keberadaannya di sini; dan posisinya serta kedekatannya dengan si mata berpendar biru itu.
Tapi Sasori tak perduli. Ia cuek. Pemuda berhelai merah itu acuh.
Naruto merasa canggung dengan kondisi keduanya— sama-sama saling tidak menyukai. Naruto tak ingin memperkeruh keadaan. Tapi tak tahu mesti berucap apa.
"Ti—Tidak kok, Sasori. Aku meringis tadi karena terkejut." Naruto beralasan sambil terkekeh. Ia melirik keduanya yang balas menatapnya dengan agak sebal—Karena mengganggu aura kemarahan yang terpancar keluar.
"Sudah selesai," kata Sasuke. Ia merapikan kembali kotak P3K, dan membuang kapas-kapas bekas darah ke tempat sampah di samping sofa.
"E—Ehh," Naruto tak sadar kalau Sasuke sudah selesai mengobatinya. "Arigatou."
"Hn," balas Sasuke. Ia beranjak dari duduknya, menegakkan kembali tubuhnya yang jangkung.
Si raven berjalan perlahan-lahan dan berhenti di pintu ganda ruang UKS. Leher jenjangnya menoleh sebentar ke arah si pirang—tanpa peduli pada Sasori, seolah pemuda bermata coklat itu tak ada di sana— sambil berkata, "Lebih baik kau kembali ke kelas, Naruto. Sebentar lagi pelajaran akan dimulai." dan kemudian pergi situ.
Naruto ingin membantah, ia ingin protes. Sebenarnya ia ingin berbincang sebentar dengan si mata coklat yang terkesan mengantuk itu. Naruto begitu suka profilnya, keramahannya dan gaya bercandanya. Tidak seperti Sasuke yang dingin, tegas dan tukang paksa namun selalu membuat hatinya berirama dengan dendang aneh yang ia tak tahu apa itu.
Naruto skeptis, Sasuke—teman sekelasnya— itu menawan namun mengerikan. Pesona memikat, yang jika terperosok bisa mengikatnya.
Tiba-tiba Naruto tersadar. Suara lembut Sasori melepaskan lamunannya, "Naruto, apa yang dikatakan temanmu tadi benar. Sebentar lagi pelajaran akan dimulai, kembalilah ke kelas." Sasori mengambil kotak P3K yang sudah di rapikan Sasuke, dan mengembalikannya ke tempat semula. "Sebenarnya aku ke sini hanya ingin mengantar sesuatu pada Shizune."
Naruto mengangguk setelah mendengarkan penjelasan Sasori. "Kapan-kapan kau harus mau berbincang denganku, Sasori."
Sasori mendekati Naruto yang telah beringsut bangkit dari sofa. "Tentu, kapan-kapan kita akan bergosip sampai subuh. Bagaimana?" canda Sasori.
"Ckk, humormu payah, tukang koran," cibir Naruto sambil berlari ke arah pintu, takut kalau-kalau Sasori memarahinya.
"Tunggu," ujar Sasori. "Ada yang tertinggal..."
"Apa?"
"Ini." Sasori dengan perlahan mendekati si surai pirang. Wajahnya yang serius membuat Naruto jadi gugup.
Dengan pelan Sasori menyentil hidung Naruto lembut, lalu beralih mengacak helai matahari itu hingga acak-acakan.
"Sasori," pekik Naruto. "Awas nanti." Naruto pergi dengan langkah lebar-lebar. Ia meleletkan lidahnya ke arah Sasori. Dan kemudian hilang, berbelok ke arah samping.
Hingga tinggallah si surai merah dengan ditemani bunyi tak-tik-tok jam antik yang setia berdetak di sana. Entah kenapa, Sasori merasa adegan di UKS ini seperti sebuah scene lama yang diulang kembali.
Namun dengan tambahan seorang tokoh baru—seorang pemuda bersurai raven bemata onix—dan beberapa tambalan di sana-sini.
To Be Continued.
.
.
.
Thanks to:
My Name Is Kuzumaki, Cielk-Kky30, SeiDei-chan UzumakyUchiha, Yanz Namiyukimi-chan, kkhukhukhukhudattebayo, Daevict024, Kutoka Metuko, Dead4Sure, Rin Miharu-Uzu, Earl Louisia vi Duivel, Gunchan CacuNalu Polepel, Misyel, Sora Asagi, Jamco Maria, Uchy-san.
Pattesa Note: 'Allow, Pattesa dateng lagi#lambai-lambai# XDD
Gimana udah dipanjangin Pattesa kan? Maaf klo alurnya lamban banget, tapi di sini udah nyempilin inti trouble-nya lho #gak nanyaaa!#
Makasih udah review and Favorite-in fik gaje ini(h). Pattesa terharu...:')...
Please review yaa, para reader, senpai-senpai dan yang baca-baca. Peyuk cium for you all :D...
