# SHINIGAMI#
Chapter 2:
Rain
Disclaimer:
Kuroshitsuji©Yana Toboso
Shinigami©Kim Victoria
Genre:
Fantasy, Mistery, Romance
Rating: T
.
.
.
Don't Like? Don't Read!
.
.
.
A/N: Haloooo~~~ saya balik dengan chap baru dari Shinigami!. Memang kebanyakan orang mungkin menanyakan kenapa bukan Love Importal yang di update, yah itu karena otak saya buntu. Bayangkan tiap hari di sekolah ada ulangan bagaimana tidak menderita otak saya ini! Apalagi UAS di sekolah saya tinggal dua minggu lagi~! *pundung di pojok*
Ok, curcol saya cukup sampai sini jadi selamat membaca minna-san!
.
.
.
RAIN
.
.
.
Summary:
Sempurna,
Jubah panjang hitam telah tersampir
Topeng perak telah terpasang
Saatnya bertindak
Di ujung sana lampu remang
Suara-suara malam saling menyaut
Ku ambil lampion remang itu
Membawa jiwa remang di dalamnya
Kemudian membiarkanya terbang tinggi
.
.
.
Normal POV
.
.
.
"Hah…" helaan nafas gadis bernama Ciel Phantomhive itu telah terdengar untuk kesekian kalinya. Sejam lalu setelah Sam mengantar Ciel ke kamar hujan langsung turun diluar sana. Membuat aroma khas hutan dan tanah basah menyapu indra penciumannya.
Sepi…
Itu lah isi pikiran gadis itu sekarang. Kenapa dimansion sebesar ini begitu sepi. Apa para pelayan di mansion ini telah tertidur semua? Atau Sebastian dan Sam hanya tinggal berdua di mansion ini?
Hahaha, rasanya mustahil mansion sebesar ini hanya di rawat oleh dua orang. Ciel melangkah menuju meja rias di samping tempat tidurnya, di usapnya meja rias itu. Bersih, sama sekali tak berdebu.
Benar-benar sepi…
Sama sekali tidak ada suara lain yang terdengar dalam mansion ini hanya suara rintik hujan lah yang terdengar. Merasa bosan Ciel pun memutuskan untuk keluar dari kamar itu. Di bukanya pintu kamar itu perlahan, sebelum benar-benar pergi Ciel memandangi seluruh sisi kamar itu. Indah, ornament-ornament dalam kamar itu sangat menyejukan mata. Biru dengan berbagai hiasan patung kristal.
Ciel pun menutup pintu kamar itu perlahan terdengar bunyi 'krieet' kecil saat Ciel menutup daun pintu kamar itu. Kakinya pun melangkah menelusuri mansion besar itu. semakin kedalam ternyata ornament dalam mansion berganti membuatnya agak merinding. Pasalnya semua ornament cantik berwarna putih di ballroom digantikan ornament kristal berwarna hitam dan ruby berbentuk gagak.
Cat dindingnya pun berwarna gelap, walau tidak meninggalkan kesan wow dan eleganth nya tapi sungguh siapa saja yang melihatnya pasti akan merasakan persaan paranoit. Ornament-ornament seperti patung itu seakan-akan memelototinya, melihat semua gerak-gerikanya.
Aura-aura suram yang seperti hendak menelannya itu membuatnya bertambah kalut dalam rasa paranoitnya. Ciel pun mempercepat langkahnya sampai di sebuah pintu besar di ujung lorong itu.
Ada sedikit cela di pintu itu, diberanikannya untuk mengintip apa yang ada di balik pintu itu. Betapa terkejutnya Ciel saat melihat Sebastian tengah duduk termenung, menguyur dirinya di tengah hujan. Isi dari ruangan itu adalah sebuah taman terbuka di dalam mansion.
Sebastian duduk di sebuah batu besar di samping sebuah patung porselen cantik. Patung itu adalah patung seorang gadis berambut panjang dengan gaun ala yunani. Cantik, sangat cantik.
Namun saat semakin detail Ciel melihat patung itu dia merasa ada yang janggal.
Patung itu? kenapa patung itu sangat mirip denganya?
Digelengkannya kepalanya lalu melirik kearah Sebastian. "Only you." Ucap Sebastian irih sampai-sampai Ciel tidak dapat mendengarnya karena guyuran hujan yang kian deras. "Only you Pershepone… I will wait you." Jeda sesaat. "Aku harap yang mulia Hades mau mengubah pikirannya."
Sayup-sayup Ciel akhirnya bisa mendengar kata-kata Sebastian. 'Pershepone?' ungkap Ciel dalam pikirannya. 'Jadi patung gadis itu bernama Pershepone?' yakinnya.
'Dia memakai bahasa bisa, bukan formal seperti tadi.' Tanggap Ciel lagi dalam pikirannya.
"Aku harap dengan lampion selanjutnya yang mulia Hades dapat mengubah pikirannya." Ucap Sebastian lagi, tiba-tiba beberapa benda bercahaya mengelilingi Sebastian membuat mata Ciel terbelalak.
Seperti lampion, cahaya-cahaya dari benda yang tidak diketahui oleh Ciel itu apa melayang mengitari Sebastian seperti hendak menghibur. Salah satu dari benda bercahaya itu berhenti tepat di telapak tangan Sebastian. Sebastian tersenyum, di ulurkannya tangannya untuk membiarkan benda cahaya itu terbang lagi.
Dipejamkannya matanya menghirup aroma hujan yang tengah menguyur tubuhnya,
Aroma yang dirindukanya yang selalu membuat hatinya tersayat-sayat, membuatnya terkenang akan pelarangan atas perasaannya pada seseorang yang dikasihinya.
Selalu begitu, langit bagai menanggis melihat kesedihan hatinya, perasaannya, melebur menjadi sebuah rasa hampa sedalam jurang tanpa dasar. Ya, selalu begitu sampai dunia ini punah, mungkin… mungkin saja.
Rintik-rintik
Bulir tetes air azure membanjiri bumi
Tetes demi tetes tiada henti berlinang
Beradu dengan desir sepoi angin
Terdengar riuh tetesnya di ranting pohon
Bergoyang lembut tertiup angin
Tanah kering bercampur air azure
Memunculkan wangi khas lumpur
Pagar besi diam menanggapi
Hanya karat yang ditunjukan
Semut hitam bersembunyi pada daun kering
Mencari keamanan diri, akan kah hujan berhenti?
Apakah Tuhan sedih hingga tidak henti menanggis?
Tangisnya jatuh dan membasahi pertiwi
Warna azure itu, apa yang disedihkanNYA?
Kerakusan dan kekejaman manusia?
Pantas, mereka penyebabnya
Saya mohon berhentilah, ini tidak akan selamanya demikian
Perubahan benar adanya,
Namun itu baru akan terjadi bila ada kesadaran
Entah mengapa ada perasaan sesak di dada Ciel saat melihat Sebastian termenung dalam keterpurukannya. Itulah pendapat Ciel. Perasaan Ciel menyuruhnya untuk menghampiri Sebastian tapi akal sehatnya menyuruhnya untuk diam.
Tidak ingin melihat pemandangan di depannya lagi Ciel berlari dari tempatnya berpijak menuju ke kamarnya. Seperti lupa akan semua rasa paranoitnya saat pertama melewati lorong suram itu Ciel menerjangnya cepat, sampailah dia di depan pintu kamarnya.
Berusaha untuk tidak bersuara, Ciel membuka pintu perlahan dan masuk kedalam kamarnya lalu menutup pintu itu lagi perlahan. Perlahan tubuh Ciel merosot dan akhirnya teruduk di depan pintu itu.
Di sentuhnya bagian yang sakit di bagian kiri rongga dadanya. Sesak, sakit… persaan apa ini batin Ciel. Tidak mau terpuruk Ciel pun bangun dan merebahkan dirinya di atas kasur king size dikamar itu.
Matanya mengerjap-ngerjap rasa sesak di dadanya masih terasa, tapi apa penyebabnya? Ciel sendiri pun tidak tau. Apa ini ada hubungannya dengan Sebastian? Tapi itu tidak mungkin, dia baru saja mengenal Sebastian jadi apa penyebabnya?
Di pejamkannya iris shappire-nya itu, membiarkan rasa kantuk perlahan membiusnya untuk terlelap dalam alam mimpi. Perlahan, nafas teratur telah terdengar dari alunan nafas Ciel. Dia telah terlelap dalam alam bawah sadarnya, alam yang paling dalam yang akan menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.
.
.
.
To Be Continue_
.
.
.
A/N: Maaf kalau puisinya tidak nyambung dengan chapter kali ini, jujur kalau tidak ada puisi itu mungkin saja saya tidak punya ide untuk membuat chapter dua dari fic Shinigami ini. Sekian dari saya maaf jika ada typo's dan mohon REVIEWnya.
