Ada beberapa sihir kreasi sendiri. Jadi mohon di maklumi bila anda tidak mengenal sihir-sihir tersebut.

Terima kasih karena mau membaca sampai sini. Oh ya, ada beberapa yang crossover sama Jigoku Shoujo.

Oh ya, karena myst orangnya tempramental dan gampang emosian, jadi tolong perhatikan seluruh detail author's note myst biar nggak bikin myst kesal. Udah di masukkin, eh masih nanya. Grrhhh =_=

Oh ya, terima kasih yang sudah mereview! :)

sykisan : Terima kasih :) Senang sekali! #Peluk

Near1001 : Iya, terinspirasi dari situ juga sih. Karena awalnya pengen buat Lucy yang beda gitu. Nah pas udah buat plot, jadi inget Lucy edolas XD Oh ya, dan aku bisa sedikit bahasa jepang :)

Aurorafyfy : Sudah kujawab lewat private message X)

Guest : Mohon perhatikan lagi author's note. INI PENTING.

Yosh, ini sudah update kilat lho! Sehari sekali (?)

Ada yang tanya-tanya kenapa cepet banget! #ngarep

Selamat membaca :)


Summary Chapter 2 : Snow

Saat kau sendiri, kau membutuhkan orang lain. Meskipun itu artinya kau menyakiti orang lain itu dengan menceritakan kesedihan itu. Tapi—

Strong

©myst29

Fairy tail © Hiro Mashima

"G…gray?" Tanya Lucy, kaget mendapati Gray memeluknya. Lalu Lucy memeluknya balik, dia sesenggukan di dada bidang Gray. Setelah Lucy berhenti menangis, Gray mengusap air mata Lucy.

"Kenapa kau menangis?" Gray mengacuhkan pertanyaan Lucy. Lucy membuang muka.

"Pergi," ucapnya dengan nada dingin. Gray tetap kukuh duduk di samping Lucy, dengan tangannya melilit di sekitar Lucy.

"Kubilang pergi!" Raung Lucy. "Yami : Kuro Mahou!" rapal Lucy, lalu muncul sinar kehitaman dari tangannya, yang menghantam Gray. Gray terpental tiga puluh meter dari tempat Lucy berada. Gray terkejut. Dia tidak menyangka. Tapi dia dengan gagah berlari ke samping Lucy lagi.

"Belum puas dengan luka yang kubuat tadi, eh?" Sindir Lucy dengan tatapan sinis. Gray menggeleng kuat, lalu memegang bahu Lucy. Keduanya, dengan posisi mereka saling berhadapan. Dengan helaan napas, Gray mendekat, lalu memberi kecupan hangat di dahi Lucy. Lucy kaget.

Di tempat lain, Natsu yang memperhatikan kegiatan mereka berdua, termasuk kekuatan Lucy yang mengagumkan itu melebarkan matanya. Dia melihat Gray mencium Lucy! Bagaimana mungkin? Natsu mengepalkan tangannya, karena benar-benar geram akan tindakan seorang Gray. Tapi Lisanna membuyarkan lamunan dan rencana-rencana yang sudah dia susun.

"Sayang, ayo kita lihat pesanan baju pengantin. Ayo Natsu!" Seru Lisanna, menggandeng tangan Natsu. Natsu diseret sehingga menjauh dari Gray dan Lucy.

"Huaaa…!" Teriak Lucy, berteriak sekuat tenaga. Air matanya meleleh. Dia memeluk Gray dengan erat.

XXX

Lucy tersenyum sedikit ketika lelaki berambut hitam itu membawanya di atas perahu. Dengan lampu-lampu berwarna kuning dan merah, suasana benar-benar romantis. Lucy bersyukur karena mempunyai teman seperti Gray. Tunggu. Teman? Benar, kan?

"Gray… arigato." Kata Lucy, lalu tersenyum pada Gray. Senyum termanis. Gray memerah mukanya ketika melihat senyum Lucy itu. Lalu, Lucy memutuskan memberitahu Gray tentang semuanya. Yang membuat hatinya gundah. Dari mana dia mendapatkan kekuatannya itu. Gray mengangguk mengerti.

"Begitu…" ucap Gray, menerawang. Lucy yang ini kuat. Sangat kuat. "…kalau begitu, mau membuat team denganku, Lucy? Tolonglah!" Pinta Gray. Lucy agak terheran, tapi setelah menimbang-nimbang dia mengangguk.

"Oke!" Serunya, lalu tertawa sedikit.

"Sihir apa yang bisa kau pakai, memangnya?" Tanya Gray penasaran. Lucy lalu tampak berpikir sebentar.

"Requip, Earth, Water, Lightning, Ice, Darkness, Heal, Fire, Metal, Air, Sound, Celestial spirit, Time, dan… blood." Rangkup Lucy mengingat-ngingat. Gray hampir pingsan mendengar banyaknya sihir yang bisa di pakai Lucy sekarang.

"Gi…gila Lucy! Kau gila kuatnya!" Komentar Gray. Lucy cekikikan sendiri.

"Terima kasih, Gray. Kalau bukan karena gadis itu, aku tidak akan bisa sekuat ini. Pujilah dia, bukan aku." Kata Lucy, mengangkat dagunya keatas agar bisa melihat bintang-bintang yang gemerlapan.

Di tempat lain, Mirajane sedang ada keperluan, Dia membutuhkan bahan untuk membuat sponge cake, dan sejenak dia berhenti di danau dekat toko itu. Pandangannya tertuju pada perahu dan kedua orang di dalamnya. Cana yang ikut bersama Mira, menegurnya.

"Mira, apa yang sedang kau lihat? Ayo!" Tegur Cana.

"Itu. Bukankah itu Lucy dan Gray?" Tunjuk Mirajane pada kedua sejoli yang sedang mengobrol asyik di tengah danau.

"Oh ya! Benar juga! Romantisnya! Kukira Lucy menyukai Natsu! Eh, mereka malah asyik bermesraan di sini!" Cana tertawa.

"Memang sulit mengungkapkan terang-terangan di guild, Lucy bisa di bunuh Juvia. Eh—tidak dengan kekuatannya sekarang." Mira menerawang. "Lucy kuat sekali sekarang. Aku ingin mencoba melawannya dengan Erza, siapakah yang paling kuat di antara mereka berdua," imbuh Mira.

"Jangan harap, Mira." Canda Cana. Tiba-tiba, mereka melihat Lucy mengangkat tangannya. Gray juga. Air di danau tiba-tiba menaik sedikit demi sedikit. Mirip uap, tapi masih terasa airnya.

"Ice maker : Crystal!" Seru Gray.

"Mizu : Cosate! Air : Autumn!" Teriak Lucy. Ada hubungannya juga. Mizu atau air, Cosate adalah gabungan dari condensation. Pantas saja airnya mirip embun. Anginnya juga lumayan kuat, angin musim gugur di tambah Kristal mirip Gray. Apa yang ingin di buat mereka?

"Eh? Salju?" Mira terkaget-kaget, menunjuk salju yang turun hanya di sekitar kedua orang yang menaiki perahu itu.

"Ki…kirei…," aku Cana. Momen selanjutnya, Mira kaget. Gray dan Lucy berpelukan.

Klik!

XXX

"Woooo! Gray, kau laki-laki!"

"Hebat Gray!"

"Kenapa kau tak bilang, Gray?"

"Keterlaluan, aku di tinggal!"

"Mesraa!"

Esok paginya, guild di penuhi bising-bising. Gray yang baru sampai, bingung. Lalu, dia melihat di papan, ada gambar yang bisa bergerak. Seperti gif. Gambarnya Gray yang memeluk Lucy. Wajah Gray memerah. Semerah tomat.

"Eh… i…itu…," Gray kehabisan kata-kata. Dia tidak tahu apa yang harus di katakan pada mereka. Mukanya benar-benar seperti kepiting rebus.

"Gray! Kau hebat!" Puji Levy, yang kini tengah nyengir lebar. Gray membuang mukanya. Dia heran, apakah mereka tahu pembicaraan apa yang Gray dan Lucy bicarakan tadi malam.

"—Lucy." Panggil Gray, matanya lurus menatap seorang Lucy Heartfillia. Lucy menatap mata onyx itu balik. Mereka saling tatap. "Kau… sedih karena cinta, kan?" Pancing Gray. Lucy mengangguk, dengan polosnya.

"Kenapa…kenapa kau tidak bisa menyukai orang lain?" Tanya Gray terbata-bata. Lucy melongo, tertawa geli.

"Karena dia yang paling mengerti aku di tim," jawab Lucy geli memandang Gray. Gray menelan ludah. Dia tampaknya berusaha keras mengatakan sesuatu. Rona tipis menghiasi wajahnya ketika dia ingin mengucapkan kata-kata itu.

"Lucy… kenapa tid—"

"Gray? Kau melamun?" Tegur Mirajane Strauss, membawa jus lemon pada Gajeel yang sedang menguap lebar. "Mereka masih menanyaimu tentang gambar itu. Aku juga heran. Bagaimana bisa…?" Tanya Mira. Mira sebenarnya mengetahui ini, karena Cana yang mengambil pose mereka dan memberinya sihir agar bisa bergerak. Tapi yang Mirajane tanyakan bukan itu. Kenapa mereka berada di tengah perahu malam-malam begitu?

"A…a…itu…" Gray mencari-cari alasan. Matanya berputar ke segalah arah. Loki juga tiba-tiba muncul.

"Bagaimana mungkin…?" Loki bertanya juga, membuat Gray sesak, hampir tidak bisa bernapas karena di cekek.

"Pagi, minna!" Sapa suara yang benar-benar akrab di telinga seluruh guild. Lucy Heartfillia masuk. Dengan atmosfer yang sangat berbeda dari kemarin. Hari ini dia memakai rok biru pendek, tapi dia tetap memakai jas aala perempuan sekuat armor Erza. Senyumnya dia lemparkan pada seluruh penghuni guild, dan lenyap ketika melihat gambar yang di pajang di dinding.

"EHH? APA-APAAN INI?" Mata Lucy membelalak. Dia menyipitkan matanya pada hampir seluruh anggota guild. Matanya yang cokelat hangat itu berubah menjadi warna ruby. "SIAPA. YANG. MENGAMBIL. GAMBAR. INI?" Teriak Lucy keras. Hawa menyeramkan kemarin terasa lagi.

"Kanso!" ucap Lucy, dan cambuk yang sepertinya terbuat dari petir berwarna biru terang telah berada di tangannya. Matanya benar-benar menyeramkan. "Air : Direction!" Rapal Lucy, dan sebuah angin kecil mengarah ke Cana yang sudah merosot dari kursinya karena ketakutan.

Lucy menurunkan cambuknya. Mata ruby-nya berubah menjadi mata cokelatnya. Dan dia tersenyum pasrah.

"Maafkan aku. Kalau emosiku sedang naik, aku bisa berubah seperti itu kapan saja." Jelas Lucy, tersenyum menyesal. Erza menepuk punggung Lucy.

"Lucy, hebat! Kau pasti bisa jadi S-Class mage kalau begini! Kapan-kapan kau harus lawan aku!" Tantang Erza.

"Woke!" Seru Lucy, dan mereka saling mengadu kepalan tangan. Cengiran terpampang di keduanya, dan kehangatan guild terasa datang lagi.

Tapi masalah belum selesai. Ketika Lucy melihat Gray, mereka berdua memerah. Sebenarnya, apa yang terjadi tadi malam?

Dia tampaknya berusaha keras mengatakan sesuatu. Rona tipis menghiasi wajahnya ketika dia ingin mengucapkan kata-kata itu.

"Lucy… kenapa tidak…."

"Apa maksudmu Gray?

"A….aku ingin… b-bilang…," Gray menghela napas panjang. Butuh keberanian ekstra untuk mengatakan hal-hal seperti ini. Gray rela menghadapi naga atau apapun, tapi tidak untuk yang satu ini. Tapi dia harus berani. Dengan begini, Lucy akan merasa lebih baik.

"Dengar, Lucy. Aku rela jadi cinta pelarian-mu." Ucap Gray, menatap langsung ke mata cokelat itu.


Yap minna-san! Mohon di perhatikan sebelum me-review karena kata-kata saya tajam seperti pisau (?) Sampai jumpa di Next Chapter!

Terima kasih sudah membaca! Arigato Gozaimasu!

myst29