Hai hai, myst datang lagi :D Ini sebenarnya di sambungin pas 'nanggung' banget, haha. *Ketawa garing.*
Maaf kalau ada ke-ooc-ness. Maaf telat update~
SEGALA ABAL SUDAH DI PERINGATKAN DI CHAPTER SEBELUMNYA.
Dia berdecak kesal. Pandangannya menyapu ke area yang sudah hancur lebur. Pohon-pohon rata dengan tanah, dan debu-debu berterbangan kemana-mana. Dengan mata dingin, manusia itu meniup udara kosong. Tidak jelas alasannya apa. Di genggamnya kertas yang sepertinya penting. Erat. Seperti tidak ingin kehilangan lagi.
Lucy Heartfillia, telah menyelesaikan misi dengan bayaran sepuluh juta jewel. Kejadian tadi pagi merusak suasana hatinya. Sialan. Hanya karena seorang pria berambut merah muda dan pria yang seorang penyihir es, kepalanya jadi sakit begini. Lucy terlalu banyak pikiran, dan di saat begini dia ingin menumpahkan kekesalannya dengan melaksanakan misi.
"Haah. Nyatanya tidak ada yang berubah. Si bodoh itu, toh akan menikah juga beberapa hari lagi." Bisik gadis itu pelan. Dia menunduk. Rambut pirangnya menjuntai, jadi di bawah pinggang. Dengan pelan, gadis itu meraba rambut halusnya. "Putus cinta," gumamnya. "—Apa… sebaiknya kupotong saja?"
Strong
©myst29
Fairy Tail © Hiro Mashima
San : Pirang
"Bagus, lho, Lucy." Puji Happy yang terbang di sekitar Lucy. Lucy baru pulang dari misi-nya, dan penampilannya sangat berbeda. Memang, rambutnya hanya di potong sedikit. Panjangnya hanya sekitar sepuluh sentimeter dari tengkuknya, bentuknya jadi seperti di perm. Gaya rambut ini memang populer—tapi sudah lama sekali! Cancer tampaknya butuh membeli majalah gaya rambut keluaran terbaru.
"Terima kasih." Tanggap Lucy, tanpa menoleh sekalipun pada kucing itu. Lucy berjalan dengan cepat menuju meja di mana Mira sedang berdiri tegak, dan matanya lega saat dia melihat Lucy. Senyum terukir di bibirnya.
"Lucy! Okaeri. Kau potong rambut? Wah, bagus sekali!" Mirajane terkagum-kagum. Lucy menggelengkan kepalanya, menyangkal. Dia menghela napas, dan menarik bangku untuk duduk di depan meja. Mirajane menyodorkan permen karet. Lucy berterima kasih, tapi dia sama sekali tidak bergeming. Pandangannya terpaku pada kartu yang berada di sebelah Mirajane sejak tadi. Keras, sepertinya terbuat dari karton. Warna jingga dan putih mendominasi. Dengan sekali lihat, Lucy tahu itu undangan dia. Tapi dia memilih membuang muka dan kembali mengulum permen yang tadi di beri Mirajane. Mirajane menggelengkan kepalanya. Dia mendekatkan wajahnya ke gadis itu.
"Menurutmu, Lucy Heartfillia. Katakan sejujurnya padaku. Apa kau percaya pada takdir?" Tanya Mirajane lembut, mengelus rambut Lucy. Lucy mengangguk sebentar, mengingat nasib ayahnya. Tapi dia kembali memasang muka datarnya, dan menatap tajam pada Mirajane.
"Nah, sekarang aku tanya lagi. Menurutmu, kau menang atau kalah?" Bisik Mirajane. Suaranya terdengar berat, dan menuntut jawaban. Lucy berpikir sebentar. Dan berbagai kejadian merasuki otaknya. Dia menggigit bibir.
"Kalah." Katanya sinis. "Sudah jelas, kan? Bahkan itu ada buktinya." Lucy melirik kartu yang masih berada di tempatnya. Mirajane mengikuti kemana arah mata Lucy memandang dari ekor matanya. Kemudian dia menghela napas panjang.
"Tidak, Lucy. Kau salah besar. Kau menang. Kau memenangkan hati pemuda bodoh yang akan menikahi adikku." Sela Mirajane, mencoba menjelaskan hal-hal yang tidak di mengerti penyihir kuat ini. Lucy mengepalkan tangannya. Tangan kanannya, menggenggam bungkus permen karet yang panjang.
"Kalau aku menang, Strauss, jelas tidak ada undangan itu di sebelah sana!" desis Lucy.
"Jelas aku tidak sepenuhnya selesai dengan kata-kataku." Balas Mira dingin, menaikkan oktaf suaranya. Tapi saat itu guild sedang sepi, jadi tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka. "Kau menang dalam urusan hati si pemuda berambut merah muda itu, tapi kau kalah. Kau kalah dalam takdir."
"Kalau begitu sama saja. Aku kalah. Sudahlah, Mira. Jangan bertele-tele. Menghiburku dengan alasan abstrak begitu tidak akan membuatku ceria." Gadis itu membuat konklusi, ingin menyudahkan pembicaraan. Mirajane menggigit bibirnya. Dia mengepalkan tanga kuat-kuat, hingga kuku ibu jarinya mulai memutih.
"Kalau begitu, Lucy. Kuberikan kau ini." Suara yang tidak asing menggelegar. Suara Makarov. Gadis berambut pirang itu menoleh. Dengan senyum tipis, dia mengambil selembar kertas yang di serahkan oleh Makarov. Matanya melebar melihat bayarannya. Seketika, suasana hati perempuan itu berubah drastic. Dengan senyum menyeramkan, perempuan itu segera menghilang begitu saja dari hadapan Makarov dan Mirajane.
"Dia… berubah." Ucap Mirajane, meratapi tempat di mana tadi Lucy menghilang. Matanya menelusuri tempat itu, seakan berharap bahwa Lucy masih di sana.
"Ya. Aku akan memberi pelajaran pada Natsu dan—adikmu, Mira," jelas Makarov. Mirajane melebarkan matanya. Apakah dia salah dengar? Makarov akan memberi pelajaran pada pasangan yang akan menikah sebentar lagi!
"Lisanna, dia telah merebut Lucy. Jangan menyangkal, Mira. Aku jelas bisa melihat bahwa Natsu mencintai Lucy, dan menyayangi Lisanna. Kau tahu bedanya? Dengan kemampuan otak begitu, Natsu pasti salah mengartikan perasaannya pada Lisanna," cerita Makarov. Namun Mira tidak bergerak, dia bingung dengan keputusan Makarov yang terlalu terburu-buru. Apalagi menyerahkan misi yang sangat berbahaya untuk Lucy.
"Lalu, apa maksud master dengan memberi Lucy misi itu? Master tahu misi itu sangat berbahaya. Erza saja tidak mungkin melakukannya!" Pekik Mirajane. Dia benar-benar khawatir. Tetapi, Makarov tetap tenang. Makarov duduk, menyilangkan kakinya. Dengan pelan, dia mengambil gelas dan menyeduh teh. Dia menutup matanya, menikmati kehangatan teh itu.
"Master!" Seru Mirajane, menuntut jawaban dari orang tua pendek itu. Makarov membuka mata. Alisnya saling bertautan, artinya dia berbicara serius. Pandangan tajamnya dia arahkan pada Mira yang tengah menggebrak meja sembari menyerukan nama master dari guild Fairy Tail.
"Erza tidak akan berkhianat lagi. Apalagi dengan sikapnya sekarang. Dia menyukai keadilan. Menjunjungnya tinggi malah—tapi tidak bisa begitu. Dengan sikap Lucy sekarang, aku yakin dia akan pulang hidup-hidup. Dalam proses itu, adikmu dan juga Natsu pasti akan melihat. Natsu akan lebih cepat menyadari. Itulah salah satu alasan kenapa aku memberi Lucy misi itu. Kalau dia berhasil, dia akan jadi S Class Mage. Kemampuannya benar—benar hebat. Dia bisa di perhitungkan." Ujar Makarov, kembali meminum tehnya. Mirajane tidak habis pikir, bahwa master nya sangat peduli dengan masalah-masalah yang telah melanda guild. Apalagi masalah sensitif ini. Walaupun masalah ini termasuk besar, karena berdampak perubahan pada orang. Mira menepuk dahi. Kenapa Natsu begitu bodoh, menyadari bahwa dia menyayangi Lisanna seperti keluarga. Bukan sebagai konteks yang muluk-muluk. Masalah ini benar-benar rumit. Bahkan, dia sendiri—Mirajane Strauss, gadis yang katanya seperti setan—akan angkat tangan bila dia berada di posisi Lucy. Mira melihat Lucy begitu kuat. Sikapnya yang manis dan tegar, sekarang harus bersedih. Helaan napas panjang Mira bisa di dengar Makarov. Mudah di tebak, pasti gadis itu memikirkan hubungan cinta segitiga antara gadis berambut pirang, putih, dan lelaki berambut merah muda. Siapa bilang bahwa misi mengalahkan naga lebih sulit dari misi terhadap orang yang kau cintai? Nyatanya, orang akan berkata bahwa naga lebih sulit—tapi mereka belum mengalami misi terhadap orang yang mereka cintai.
~Strong~
Tangan kekar itu membuka pintu berwarna cokelat, dengan cengiran menghiasi wajahnya. Ternyata, di dalam hanya ada perempuan berbaju merah muda, dan ekspresinya sangat sedih. Pemuda itu berjalan cepat, dengan dada di busungkan. Perempuan itu sama sekali tidak tertarik untuk melirik lelaki itu, yang akhirnya menyadari ada hal yang aneh dari perempuan itu. Mirajane.
"Mira? Kau baik-baik saja? Kalah dari Erza?" Sapa Natsu girang. Nadanya agak khawatir sedikit, tapi iris mata berwarna biru itu bertemu dengan mata onyx Natsu. Natsu bisa merasakan sesuatu dari hanya melihat mata Mirajane. Sesuatu pasti telah terjadi.
"Tidak." Jawab Mirajane. Mirajane mengambil setoples kue dan menaruhnya di rak. Dia tidak memberi jawaban panjang, dan itu tidak seperti Mirajane yang biasanya. Demi Tuhan! Apa yang sedang terjadi? Pertama, dia kesal karena beberapa hari yang lalu—melihat foto romantis Gray dan Lucy. Waktu itu Lucy sudah berangkat misi, begitu juga dengan Gray. Hanya saja mereka mengambil misi yang berbeda. Waktu melihat foto itu, dia mengepalkan tangan dan mengarahkan api ganasnya pada papan itu. Akibatnya semuanya terbakar hangus. Dia terpaksa mengeluarkan uang untuk menggantinya. Dia juga tidak tahu mengapa dia—Natsu Dragneel—calon suami Lisanna Strauss, marah melihat foto sampah antara Gray dan Lucy. Dia sama sekali tidak menerti. Haah. Orang boleh saja mengatakannya bodoh, karena di lihat dari manapun dia tetap tidak mengerti kenapa dia berbuat sejauh itu.
"—Tsu… Atsu… Natsu!" sayup-sayup ada seseorang memanggilnya. Dia telah kembali dari alam sana. Kini dia memutar kepalanya, memeriksa siapa yang memanggilnya. Seorang penyihir berambut pendek sebahu—dengan senyum manis di bibirnya adalah orang yang memanggilnya. "Mou~ Kamu sama sekali tidak sadar ya? Memikirkan apa?" Tanya Lisanna, nama perempuan itu. Natsu mengadah, lalu menggelengkan kepalanya.
"Entahlah, Lisanna. Sepertinya ada yang mengganjal pikiranku dari kemarin. Ini aneh." Natsu menghela napas panjang. Lisanna terdiam. Dia bukannya bodoh dan pura-pura tidak dengar. DIa tahu desas-desus bahwa Lucy mencintai Natsu—dan berubah karena Natsu lebih memilihnya ketimbang dia. Sekarang, harusnya Lisanna senang, kan? Natsu Dragneel memilih Lisanna Strauss. Tapi peraaannya tidak tenang. Entah kenapa dia masih khawatir, bahwa suatu saat Natsu akan berpaling. Insting wanita patut di perhitungkan.
"Oh, begitu…" gumam Lisanna, lalu menarik jemari-jemari tangannya yang melekat pada pundak Natsu. Dia menunduk, lalu berbalik. Kaki perempuan itu pergi, keluar dari guild. Di tangan kanannya, kertas dengan misi mudah di pegang. Tapi Natsu, yang sebentar lagi menjadi belahan jiwanya, tidak melarang dia pergi sendiri. Tanpa sadar, Lisanna mengerang kecewa.
"Natsu." Panggil suara berat. Erza, kini berkacak pinggang, memandang Natsu yang terlihat lemas. "Kau pemalas. Mau mengambil misi bersamaku?" Tawar Erza, matanya berkilat.
"Te…terima kasih Erza. Tapi tahu, deh. Aku sedang malas." Natsu membuka mulutnya dan memejamkan matanya. Dia membiarkan meja panjang menjadi bantalnya untuk saat ini. Erza menyibakkan rambut merahnya. Pandangannya lurus pada Natsu.
"Natsu, kau harusnya sadar!" Nasihat Erza tegas. Natsu melirik Erza, tapi dia sama sekali tidak menggerakan kepalanya. Dia menguap. Erza menyatukan alisnya, lalu menyapa Mirajane.
"Hei Mira! Kemana Lucy?" Sapa Erza, lalu duduk di salah satu kursi. Tangannya meraih beberapa kue, lalu memakannya. Mirajane menundukkan kepalanya, memastikan agar jarak perempuan berambut putih dengan yang berambut merah hanya tersisa beberapa sentimeter. Erza kaget. Dia bisa merasakan rambut putih Mira menyapu wajahnya, dan suara Mira yang berat.
"Lucy melaksanakan misi itu." ujar Mira, menekankan kata terakhir. Erza tersedak. Dia tidak menyangka bahwa Mira akan mengatakan hal-hal yang sangat buruk.
Brak.
"Aku tidak mengerti! Kau harusnya menahannya! Itu terlalu bahaya dan sadis! Apa maunya, sih? Mira, aku percayakan salah satu sahabatku padamu, tapi ternyata kau tidak melaksanakan tugasnya dengan baik! Aku kecewa…! Aku akan menjemputnya sekarang," tutur Erza geram. Erza menggigit bibirnya. Iris matanya melihat kepenjuru guild dengan panik. Lucy Heartfillia; melaksanakan tugas yang sangat berbahaya itu.
"Enak saja! Itu bukan kemauanku, Erza!" Kilah Mirajane, dia tidak terima di salahkan untuk hal yang sama sekali tidak di lakukannya. Erza mengepalkan tangannya marah. Dia marah.
"Erza, tenanglah." Suara dalam Makarov memecahkan keheningan. Seluruh mata mengarah padanya. Pertengkaran antara Mirajane dan Erza sempat menjadi sorotan—tapi mereka sama sekali tidak mengerti akan apa yang mereka perebutkan atau kenapa mereka bertengkar.
"Master!" Erza berbalik, menatap kedalam mata Makarov yang dengan tenang tersenyum berwibawa.
"Lucy Heartfillia akan baik-baik saja. Dia kuat." Ucap Makarov. Erza ingin menyangkal. Tapi dia tertegun. Selama ini, dia beranggapan harus melindungi temannya. Dia ingin sekali menjadi berguna, tanpa sadar bahwa Lucy juga seorang mage yang ingin bertarung. Lucy kuat. Tapi selama ini Erza tidak pernah memberi Lucy kesempatan. Erza menyayangi si rambut pirang itu. Dia terlalu posesif ingin melindungi sahabat satu-satunya yang selalu kelihatan ceria. Selama setahun terakhir ini, Erza menjadi tempat curhat untuk Lucy. Lucy mengatakan bahwa dia ternyata tidak bisa menyangkal bahwa dia mencintai seorang Natsu Dragneel. Sebaliknya, Erza juga menceritakan hal-hal pada Lucy. Tentang bagaimana Jellal yang berusaha menjadi orang baik, kenapa orang-orang tidak menerimanya. Lucy satu-satunya orang yang mau mendengarkan dan mau mengerti. Karena dia, Erza merasa bahwa dia tidak sendiri di dunia ini. Tapi kemudian Lisanna mulai menyatakan perasaannya pada Natsu. Lucy yang tengah berbelanja dengan Erza melihat mereka. Erza bersiap bertarung dengan Natsu, tapi Lucy menahannya. Tangisan keluar dari mata Lucy. Singkat kata, Erza sangat peduli dengan Lucy. Untungnya, hubungan Natsu dan Lisanna adalah sebuah hubungan yang polos. Berpelukan saja mereka tidak pernah! Mereka hanya sekali-kali makan malam bersama, dan itupun bisa membuat muka Lisanna semerah kepiting rebus. Tapi ketika Natsu menyatakan keinginannya melamar Lisanna, Erza benar-benar habis kesabarannya. Dia mengalahkan Natsu saat itu juga. Natsu benar-benar babak belur. Erza merasa puas. Dia merasa ini balasan yang pantas untuk Natsu karena menyakiti hati sahabatnya itu. Sekarang, keadaan makin memburuk. Lucy pergi kedalam misi itu. Erza sudah bisa menebak apa yang akan di lakukan Lucy. Rencana Makarov melayang-layang di otaknya. Itu demi masa depannya. Ucapan Makarov kembali bergaung di kepalanya. 'Tapi master, kita tidak boleh ikut campur!' ucapannya tidak setuu dengan ide Makarov. Erza mencoba memejamkan matanya. Kadang takdir bisa di pilih dengan adanya teman masuk ke dalam takdirmu, Erza. Ingat itu. Balas master. Erza mendesah. Dia sudah pulang dari guild, dan percakapannya dengan Makarov terngiang-ngiang lagi. DIa mencoba menutup mata, tapi entah kenapa tidak bisa. Dia harus menyusul Lucy. Sahabatnya itu butuh bantuan. Dengan sigap, Erza memakai armornya, dan hilang di kegelapan malam. Erza berlari-lari. Dia tahu Lucy pasti tidak akan jauh. Lucy tidak boleh. Walaupun begitu, walaupun nyatanya Lucy terlanjur melaksanakan misi itu, Erza harus berada di dalamnya. Paling tidak Erza harus memastikan bahwa Lucy—sahabatnya itu baik-baik saja. Erza menghela napas. Napasnya tersengal-sengal karena di alari dengan kecepatan tinggi—menggunakan sihir. Sihir yang ia gunakan benar-benar melelahkan.
"Erza?" Sapa sebuah suara. Erza menghentikan kecepatannya, dan hatinya lega melihat mata cokelat Lucy dan suara lembutnya. Erza memeluk Lucy.
"Lucy!" Tangisan mulai keluar dari mata seorang Titania. Lucy mengusap rambut Erza. Jarang sekali seorang Scarlet Erza menampilkan hal yang biasa tidak ia tampilkan. Diam-diam, Lucy tersenyum. Ternyata, Erza peduli padanya. Ini membuatnya sedikit lega, karena dia merasa sesak tiap dia memikirkan seorang Natsu, tertawa dengan Lisanna Strauss.
"Lucy, kita akan melakukan misi itu berdua." Ujar Erza tegas, tidak peduli Lucy ingin menolak atau tidak. Tadinya Erza berpikir bahwa Lucy akan menolak. Tapi Lucy senantiasa mengangguk semangat.
"Terima kasih, Erza! Aku senang kau datang. Tadinya aku agak takut dengan misi ini, karena katanya agak berbahaya. Tapi setelah kau di sini, rasanya aman." Kata Lucy, menyunggingkan senyumnya. Erza mengangguk. Dia menggenggam erat tangan halus seorang Lucy.
"Kita pasti bisa, Lucy. Pasti bisa." Bisik Erza di telinga Lucy.
~Strong~
Misi Penyusupan.
Bergabung dengan organisasi terlarang, Kura. Magic Council mencurigai adanya tindakan tidak beres di organisasi itu. Jadilah bagian salah satu dari mereka dan kirimkan informasi secara berkala, selama satu satu tahun penuh.
Pembayaran : Satu milyar jewel.
Pekerjaan ini sangat membahayakan penyihir. Kegagalan tidak akan di ampuni, karena sama saja menyatakan perang.
Kura, adalah nama organisasi misterius di negeri ini. Namanya di ambil dari kata 'Kuro' yang berarti hitam. Anggota-anggotanya adalah kriminal yang sang sangat berbahaya. Mereka memakai nama samaran untuk saling berkomunikasi. Berikut adalah sejumlah informasi yang bisa di peroleh :
Daire:
Penyihir yang sangat mengerikan. Dia adalah salah satu dari bawahan yang sangat di percayai oleh atasannya. Dia bisa menembak sesuatu dengan pistolnya yang berkemampuan khusus, bila kau tertembak, tidak hanya nyawa yang menghilang, tapi jiwamu. Jiwamu akan menghilang juga.
Conan :
Salah satu junior dari kumpulan 'Kuro' ini. Penampilannya acak-aacakan dan dia terlihat masih muda. Tugasnya menyamar dan menyusup, dia sangat ahli dalam hal ini. Konon, namanya juga di ambil dari 'Sir Arthur Conan Doyle' karena tugasnya yang seperti detektif ini. Kemampuan analisanya juga patut di ajungi jempol.
Pad :
Pemimpin dari organisasi berbahaya ini. Tidak ada informasi secara khusus.
"….cuma ini Lucy?" Erza memicingkan matanya, membuka lagi map-map yang tadi di serahkan oleh si cantik Lucy. Lucy mengangguk.
"Ya, Erza. Master hanya memberikanku keterangan sedikit," gumam Lucy, menghela napas untuk sekian kalinya. "Tapi, ada informasi penting yang bisa kita dapatkan dari situ, Erza."
"Apa itu?"
"Yaitu—"
Haha makasih minna udah baca sampe sini ^_^
Nanggung banget emang, tapi bodo amat sih. Thank you :)!
