Sudah berapa bulan cerita ini di abaikan ya?
Oke, hentikan nada sarkastiknya! Maaf sekali, sepertinya author kelewat sibuk dan malas (ngaku ceritanya) untuk melanjutkan cerita ini. HOUNTO NI GOMENASAI, MINNA-SAN *nunduk dalam-dalam*
Nah, curhat author nggak berguna ini nanti di bawah ya :P Selamat membaca, minna-san.
"Yaitu apa Lucy? Sudah, tidak usah banyak cingcong!" Seru Erza gemas, berkacak pinggang.
Strong
Fairy Tail © Hiro Mashima
Story by ©myst29
Dia menarik ujung bibirnya, agar menampilkan ekspresi tersenyum. Tetapi tidak bisa. Yang terjadi hanyalah dia seperti menyeringai. Tapi Lucy tidak terpengaruh. Mata cokelatnya tetap bersinar di kegelapan. Dia tampak berpikir, lalu meraih tasnya. Dia mencari sesuatu di tas itu, lalu mengeluarkannya. Buku usang yang halamannya robek.
"Apa itu Lucy?" Tanya Erza, mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Rambut scarlet-nya ia kibaskan. Lucy mengangguk, menyerahkannya pada Erza.
"Ada sebuah dunia—yang kononya katanya ada berada di dimensi lain, persis seperti Edolas. Dan salah satunya, adalah Irlandia. Semua kode nama itu adalah dari sana," Jelas Lucy. Matanya memicing, mencoba melihat apakah dia mempunyai kekurangan dalam penjelasannya. Erza mengerti. Dia mengangguk.
"Tapi aku tidak tahu nama dunia itu," lanjut Lucy. "Sudahlah Erza. Sudah malam," ucap gadis berambut pirang itu. Gadis itu kemudian mengambil bantal, kemudian tertidur. Erza tersenyum. Dia menghela napas berat, kemudian ikut tertidur pula.
~Strong~
Gadis berambut merah itu membuka matanya. Dia bisa mendengar suara seorang penyihir yang meneriakkan mantra. Musuhkah? Dia menoleh ke samping, Lucy tidak ada. Erza langsung siaga. Mungkinkah diculik? Tidak…Lucy kuat.
"Spirit Magic: Parrarel World! Keluarlah!" Teriak Lucy, dengan suara yang sangat keras. Tiba-tiba, keluarlah seseorang yang sangat cantik. Berambut hitam dan beriris mata merah. Ai Enma, yang memberi Lucy kekuatan. Lucy kaget. Dia jatuh terduduk, sedangkan Erza memicingkan matanya pada Ai Enma.
"Lucy, kulihat kau sudah menguasai beberapa sihir." Ai berjalan pelan menuju Lucy. Dia menunduk, kemudian berbisik. "Rahasiakan tentang aku yang memberi kekuatan untukmu, Lucy," bisik Ai. Mata merahnya bertemu dengan Erza. "Aku akan bergabung dengan tim kalian. Natsu Dragneel dalam bahaya besar. Ah—bukan. Wendy Marvell, Gajeel Redfox, dan Natsu Dragneel dalam bahaya besar. Daire ingin menghabiskan seluruh Dragon Slayer tersisa di bumi ini," jelas Ai.
"Bagaimana kau tahu?" Tanya Erza. Dia mengernyitkan dahinya. "Lucy, kau sepertinya tahu dia. Siapa dia?" Lanjut Erza. Lucy tersenyum hambar.
"Dia… teman."
"Kita harus cepat. Kalian menghabiskan waktu berjalan lama seperti ini." Ai mengepalkan tangannya, dan asap berwarna ungu gelap mengelilingi mereka. Dalam sekejap mata, mereka sudah berada di sebuah pantai. Lucy hanya bisa menunduk.
"Kita harus menyusun strategi untuk menghabiskan mereka. Aku di sini untuk membantu, karena duniaku dalam bahaya jika mereka menghabiskan Dragon Slayer, mereka memiliki kekuatan Dragon atau kata lainnya fairy tale untuk masuk ke dalam dunia lain bernama Bumi."
"Bumi? Apakah itu seperti Fiore?" Sela Erza.
"Mereka tidak mempunyai magic seperti kalian. Bumi adalah tempat yang terlalu teorikal. Hanya saja, kau lihat, aku berbeda." Ai Enma menjelaskan tanpa sedikitpun mempunyai nada semangat, sedih, atau apapun dalam suaranya.
"Kenapa kau sangat peduli pada bumi? Kau bilang, kau berbeda," komentar Lucy, mata cokelatnya melihat langsung ke arah mata merah Ai. Ai Enma mengangguk.
"Aku harus menuntaskan pekerjaanku. Tanpa bumi, aku tidak punya pekerjaan." Enma Ai berkata, beberapa helai rambutnya jatuh.
"Berapa banyak kau di bayar? Kau bisa ke Fairy Tail," saran Erza. Dia memperhatikan Ai Enma. Ai Enma sangat cantik. Mata merahnya yang begitu indah. Rambutnya hitam legam. Tampaknya dia begitu lemah, tapi dia percaya Ai Enma adalah orang yang kuat. Ai melirik Erza.
"Pekerjaanku tidak bisa di pindah," jawab Ai. "Pekerjaan… lebih seperti hukuman…," kata-kata Ai seperti menerawang. Erza memperhatikan Ai lagi. Dia terlihat begitu lelah—lelah dengan hidup ini.
"Sihir yang di perlukan untuk mengalahkan Daire adalah sihir kegelapan, alias Yami. Di dunia ini, hanya aku yang bisa melakukannya. Tapi begitu kamu menggunakan sihir kegelapan tingkat tinggi untuk mengalahkannya, ada konsekuensi lebih berat dari kematian."
Lucy mendengarkannya baik-baik. Dia tidak bersuara semenjak Ai Enma mulai menjelaskan tentang strateginya. Dia merasa harus menyelamatkan Natsu. Karena Natsu… adalah orang yang paling penting untuknya.
"Seperti yang kau lihat, aku bukan makhluk dari dunia ini. Kekuatan sihirku tidak cukup untuk melakukan sihir tingkat tinggi seperti itu. Tidak akan pernah cukup. Aku juga bukan manusia, aku tidak bisa mati. Jadi tidak ada masalah bagiku. Walaupun kekuatan sihirku cukup, jiwaku lah yang nanti di rusak." Enma Ai menyentuh rambut hitam lurus panjangnya. "Jadi—"
"Aku akan melakukannya. Ajarkan aku." Lucy memotong perkataan Ai. Ai bisa melihat Lucy begitu serius dari sudut matanya. Ai mengangguk patuh. Sedangkan Erza tampak tidak terima.
"Tidak bisa. Bagaimana kalau aku saj—"
"Tidak Erza. Aku akan melakukannya, demi Natsu. Kalau Natsu bahagia, bagiku… bagiku itu sudah cukup. Bagiku… aku…," air mata mulai turun dari pipi Lucy. "Brengsek," maki Lucy, mengusap air matanya. "Aku melakukannya untuk dunia ini!"
"Semangat yang bagus. Alasan itu adalah alasan pertama. Alasan kedua, memang harus Lucy. Sesuatu yang spesial telah tertanam dalam dirinya. Begitu…kuat."
"Terima kasih. Aku akan belajar darimu,"
"Erza Scarlet, kau akan ku beri sedikit kekuatan dalam Requip -mu. Aku akan membuat endless stamina sihir dalam dirimu. Itu kalau kau setuju menanggung ini, lebih berat dari kematian. Lucy menanggungnya, aku akan memberinya pengetahuan luar biasa tentang sihir dan kekuatannya. Keputusannya di tanganmu, Erza Scarlet," Ai Enma menatap rambut merah Erza, yang sewarna dengan matanya yang tajam.
"Aku akan ikut dengan Lucy. Biarlah tanggung jawab Lucy menjadi tanggung jawab kami berdua," kata Erza tegas. Lucy tertegun. Dia menoleh pada mage yang katanya terkuat di Fairy Tail itu. Mata cokelat madunya melebar, dan tanpa sadar, dia memeluk Erza.
"Erza… terima kasih," ucapnya. Erza tersenyum bijak.
"Ai-san, apakah ada dampaknya kalau kita menghancurkan Daire ini?" Tanya Erza lagi. Ai Enma menunduk, dia tampak berpikir. Mata merahnya setengah tertutup, setengah lagi terbuka.
"Ada. Mereka akan menghancurkan Bumi dan membawa isinya yang menakjubkan ke Fiore. Mereka akan memakaikan sihir pada Bumi, dan menabrakannya dengan dunia ini." Ai Enma terbatuk sedikit. Senyum Erza sedikit memudar.
"Dengan kata lain, akhir dari dunia. Mereka akan menghancurkan seluruh manusia di Bumi ataupun di dunia ini. Dampak hancurnya itu akan memengaruhi dunia lain, dengan kata lain, Edolas."
Erza tertohok. Jellal… dia tidak akan aman bila mereka hancur. Sosok mage berambut biru itu terbayang di pikirannya. Rasanya dia… dadanya sesak. Ai Enma melihat ekspresi Erza.
"Jadi, Erza Scarlet. Aku akan menghadiahkanmu kekuatan sihir yang seratus kali lipat dari kekuatan sihirmu sekarang dan kekuatan pengobatan yang lebih dari punya Wendy Marvell. Kau harus mendukung Lucy, menyalurkan sihirmu bila perlu, dan yang lain. Kalian harus bekerja sama. Aku mempunyai dugaan apa konsekuensinya. Kalian harus berlatih sangat keras. Ini..," Ai Enma memberikan beberapa buku. "Baca mantranya, dan mulai mempraktekan. Aku juga menghadiahkan kalian sebuah sihir proyektor yang spesial. Coba dulu," kata Ai Enma. "Sebelum itu, aku akan memberikan kalian kekuatan. Twilight of the sun, from the depth of hell, I reassure you to the top of Heaven!" Teriak Ai sangat keras. Suara Ai benar-benar indah, dan Lucy maupun Erza merasakan kekuatan besar memasuki mereka. Mereka melayang sedikit dengan cahaya di seluruh tubuh mereka.
"Ada beberapa kekuatan yang lain aku masuki. Aku jelaskan nanti. Tapi coba dulu sihir proyektornya," ucap Ai Enma, memperhatikan cahaya mulai melemah dan mereka berdua menyentuh tanah. Lucy dan Erza menatap satu sama lain, kemudian Ai menyerahkan bukunya. Mereka mengernyit, kemudian mengangguk. Mulai merapal mantra.
"Hell's Illusion, Heaven's Inderiction to the shadow of moon!" Lucy dan Erza mengatakannya dalam waktu bersamaan. Cahaya yang begitu besar menyinari pasir-pasir yang bersinar. Ketika cahaya sudah tidak begitu menyilaukan, Lucy dan Erza terpana melihat apa yang ada di depan mereka.
"I-itu…"
"APA!?"
Di potong pas saat yang tidak tepat... oke, oke maaf. Sempat berubah alur ceritanya. Tapi aku lebih memusatkan persahabatan antara Lucy dan Erza nih, di cerita. Sudah jelas, kan? Masih ada romance antara Lucy dan Natsu, serta Erza dan Jellal. Oh ya, Gray juga bisa di katakan suka sama Lucy, ya disini? Begitulah saya yang tidak becus ini. *pundung*
Kemanakah saya beberapa bulan ini? Jawabannya kemana -mana~
Waduh O.o
Absen dari memang benar. Saya juga tidak banyak membaca cerita. Tapi gara-gara baca cerita tentang GrayLu *dihajar penggemar Nalu* (Oke, saya itu Lucy-Centric. aku suka Lucy di pairing sama siapa aja, apalagi Nalu! Tapi karena Nalu udah aku anggep Canon *oke apa dah Canon? Kan belum pasti! Tapi yah terserah gue dong nganggep Nalu itu canon apa bukan! Bukan urusan lu sih ya, nggak nanya!* Jadi aku suka baca GrayLu. Terharu banget sama cerita buatan orang luar negri yang kebanyakan bagus-bagus :') #apadah
Kok kebanyakan curcol daripada ceritanya? Oke oke.
Emang sih, aku ada sedikit perubahan. Nggak fokus ke romance lagi. Jadi yang mau romance review ya!
Maaf reviewer yang kecewa karena update lama! Benar-benar minta maaf!
Aku nggak janji bisa update cepat, tergantung review-nya *nyengir* Oke deh, terima kasih sudah membaca cerita ini! Review anda sangat berarti buat saya.
Oh ya, tidak ada istilah reviewer buruk dalam kamus saya. Alias janganlah terlalu keras pada saya. Saya itu manusia, manusia bisa salah. Nggak suka cara menulis saya? Grammar? Atau alur cerita? Ya nggak usah comment :) Aku tuh orangnya bisa sadar salah sendiri tanpa orang memberitahu ;) Oke, terima kasih!
See ya next chapter :)
~myst29
