CHAPTER TERAKHIR DARI STRONG.

myst peringatkan, ini berakhir angst dan sad ending.

Segala OOC-ness, gaje, abal, dan segala warningnya sudah di peringatkan di chapter-chapter sebelumnya.

Waktunya balas komen ;)

sykisan : GOMENASAIII~~~ *nunduk sujud-sujud* Aku sibuk banget nih beberapa bulan belakang ini, tapi ini bukan alasan juga sih yah~ Ini dia chapter terakhir :)

Lily Orion Black : Makasiih! *Peyuk-peyuk #alay /plak* Makasih banget udah review~ Reviewnya saja sudah membuat saya tersenyum loh (:

alena : Oke, makasih udah komen ;) Ini 1000 words setiap chapter~ Emang dari dulu aku komitmennya gitu XD Kecuali chapter tiga yang 2000 words XD (:

Hinagiku Zeelmart : MAAF X( karena suata alasan jadi aku buat NaLu di cerita ini.

Oke deh, minna-san! Terima kasih udah stuck ama cerita Strong selama berbulan-bulan! Semoga jangan kecewa ya! Endingnya memang kurang sreg, tapi saya membuat cerita baru yang lebih menyentuh x)

Ok silahkan baca xx, myst29


Strong

Fairy Tail ©Hiro Mashima

Story © myst29

"Ya ampun… maaf, Ai!" Seru Lucy keras. Lucy benar-benar panik. Bagaimana ini? Tiba-tiba, mata Ai terbuka.

"Bagus. Seperti itu," ucap Ai. Lucy tersentak. Erza kemudian mengelap peluhnya.

"Aku benar-benar lelah. Lucy, Ai, ayo kita istirahat," perintah Erza. Lucy mengangguk, rambut pirangnya bergoyang seiring angin pantai yang menyapu.

"Hai~" kata Lucy. Ai mengangguk, mereka berdua kemudian beristirahat.

Paginya, penyihir berambut merah itu terbangun. Dia merasakan kekuatan sihirnya telah kembali. Dia juga tidak merasa kelelahan. Erza mengangkat bahu. Kekuatannya telah bertambah sebanyak ini. Tiba-tiba, ada seekor burung terbang ke arahnya. Dia mengelus burung itu, dan sadar ada surat terikat di kakinya.

Erza, bagaimana kabarmu dengan Lucy? Kuharap kamu baik-baik saja. Kami, Fairy Tail tidak begitu baik. Natsu begitu ingin menemui Lucy tapi kami tidak buka mulut soal misi itu. Gray tambah parah. Dia menghilang entah kemana. Aku curiga dia malah mengikuti kalian. Sebentar lagi pasti Natsu akan mengejar kalian—aku yakin itu. Semoga kalian baik-baik saja.

Mirajane.

Erza tersenyum. Fairy Tail… keluarganya… Tetapi kemudian, dia merasakan lemas di seluruh tubuhnya. Dia tidak mungkin bisa selamat. Dalam pertarungan ini, tidak mungkin dia akan selamat. Takdirnya sama seperti Lucy… Takdir yang ia pilih sendiri…

Mirajane

Sayang sekali, aku tidak bisa. Maksudku… kami baik-baik saja. Kemungkinan aku tidak akan kembali. Lucy juga. Jangan coba-coba mengejar kami. Terima kasih untuk segalanya. Lucy pasti juga berharap begitu.

Erza.

Erza merasakan ada seseorang yang memperhatikannya. Ia menoleh, dan Ai sedang duduk dan menatap ke arahnya. Erza mengedipkan matanya bingung. kenapa Ai menatapnya?

"Kau punya masa lalu yang cukup pahit… kau sama dan berbeda denganku…," ucap Ai. "Terima kasih telah menyelamatkan duniaku,"

"Kita belum bertarung, Ai. Jangan gegabah."

"Aku tidak akan bertarung. Kalianlah yang akan bertarung," ucap Ai serius. "Kekuatan sihirku tidak bisa untuk melukai orang yang kuanggap musuhku di sini. Aku pernah melakukannya dan dia menghukumku. Tidak bisa. Itu terlarang," jelas Ai.

"Apa? Jadi hanya aku dan Lucy yang bertarung?" Erza memperjelas. Ai mengangguk. Erza menghela napas berat.

"Lebih buruk dari kematian… ya? Aku siap menerimanya," kata Erza. Ai memperhatikan rambut Erza yang berwarna merah di tiup angin. Ai menutup matanya.

STRONG

Lucy berteriak. Daire sangatlah kuat. Dia telah meluncurkan beberapa serangan sekaligus pada Lucy. Hati Lucy menciut. Dia mengerling ke arah Erza yang juga tampak kehabisan napas melawan orang-orang Daire.

"Lucy! Kau tidak apa-apa? Sial—oh! HEAL!" Jerit Erza, dan sinar keemasan mengelilingi Lucy. Dalam sekejap, luka-luka Lucy berasap dan dia sembuh. Staminanya juga kembali seperti semula. Erza bisa mengobati dirinya sendiri, tapi dia tidak bisa mengobati stamina milik dia sendiri. Dia bisa mengembalikan stamina orang lain, tapi bukan stamina milik dia. Lucy terbang, dan dia terus menyerang Daire dari segala arah.

"Kau kuat, gadis kecil. Kenapa kau begitu semangat ingin menyerangku, hm?" Tanya Daire dengan suara yang berat. Dia menyentuh rambutnya yang mulai beruban. Lucy menyerang dari segala arah, tetapi tetap saja tidak ada satupun yang mengenai Daire. Dinding tidak terlihat, seperti Ai.

"Ini—" ucap Lucy terbata-bata. Cahaya hijau keluar dari telapak tangannya. "DEMI DRAGON SLAYER!" Serunya. Cahaya hijau itu melesat dengan kecepatan mengagumkan hingga menabrak dinding tidak terlihat dan menghancurkannya. Iris mata Daire melebar tidak percaya.

"Kau—" katanya dengan nada geram. "Kau kuat! Tidak ku sangka ada orang yang bisa menghancurkan dindingku. Ayo kita bertarung dengan serius." Daire tertawa maniak. Erza sibuk menghancurkan sekelilingnya. Conan, salah satu member dari Kura begitu pintar dan cepat.

"Sial," geram Erza. "Aku harus lebih pintar darinya. Tapi bagaimana? Kalau aku terus begini, aku tidak akan bisa mengalahkan Conan. Bagaimana?" bisiknya. Atau lebih tepat desisnya. Erza mengepakkan sayapnya. "Kanso: ANGEL!" Erza berubah. Armornya menjadi dress putih polos tapi telrihat kuat. Dia memakai atas atau kaus putih dengan garis merah—seperti rambutnya. Dia memakai rok yang di garisi merah. Sayapnya berwarna putih bersih. Pedangnya menjadi seperti pedang anggar yang tipis bergaris merah juga.

"SERANGG!" Serunya, kemudian melesat ke arah Conan. Conan menyeringai.

"Brain : CRACK!" Balasnya, dan dari arah kepalanya, ada puluhan angka menyerang Erza. Erza menghunuskan pedangnya ke arah angka itu. Memang tepat sasaran, tapi angka itu tidak hancur. Malah berpencar.

"Sial. HIAHH!" Erza terbang ke arah Conan dengan kecepatan 0.00001 per detik. Conan tidak menyadarinya ketika Erza menusuk Conan dengan pedangnya. Iris mata Conan melebar dan dia memegang pedang Erza yang melewati dadanya. Darah menyembur.

"Kau belum juga mati." Desis Erza. Conan terbatuk. Darah keluar dari mulutnya. Conan adalah pemuda tinggi dengan rambut pirang. Matanya berwarna cokelat dan dia adalah orang yang tampan bisa di bilang. Sayang sekali dia harus berakhir seperti ini.

"ANGEL: SCARLET!" Teriak Erza. Cahaya merah menyinari pedang Erza. Bukannya menghancur leburkan Conan, tapi pedang itu menyembuhkan luka Conan. Erza mencabut pedangnya.

"Tapi… kenapa?" bisik Conan.

"Aku akan menghapus memorimu. Sihir Scarlet, yang sama dengan warna rambutku, bukan untuk membunuh," ucap Erza. "Seperti nama belakangku. Scarlet."

"Hee… Erza Scarlet… Terima kasih. Tapi aku sebentar lagi akan mati. Aku menggunakan ilmuku untuk Daire-sama, yang mengambil nyawaku. Kau… menarik," Conan menyeringai, menatap mata Erza. Dari matanya, cahaya menembus perut Erza yang membuat darah menyembur dari perut Erza. "Tapi Daire-sama berharga bagiku… aku… paling tidak…" Daire tidak bicara lagi. Erza menyipitkan matanya menahan kesakitan. Tapi cahaya mengelilingi lukanya, menyembuhkannya. Sedangkan Lucy, dia benar-benar dalam kondisi kritis. Daire mengambil tiga perempat kekuatan sihirnya yang bagi manusia biasa 100 kali lipat lebih banyak. Lucy kelelahan.

"Erkhh…," desah Lucy dengan napas terengah-engah. Sayapnya mengecil.

"Lucy!" Seru Erza, terbang ke arah Lucy. "Kau baik-baik saja? Ayo gunakan itu untuk menghancurkan dia! Lucy kau—"

"P-proyektor…," bisik Lucy pelan. "Ayo gunakan itu bersama Erza, kita bisa melakukannya," ucap Lucy lagi. Erza, matanya sudah mulai berair.

"Hell's Illusion, Heaven's Inderiction to the shadow of moon!" Seru Erza. Jellal langsung ada di sisi Erza. Erza menatap Jellal, mengelus pipinya.

"Jellal… ini adalah saat terakhirku… maafkan aku. Lucy, kau tetaplah di sini. YAMI!" Jerit Erza. Mata Lucy melebar.

"Tidak—Erza—Jangan!" Lucy menangis. Erza merasakan sesak di dadanya saat cahaya hitam keluar. Lucy mencoba melompat, dia mendorong Erza. Cahaya itu terputus. Erza jatuh bersama Lucy.

"ERZA! BODOH!" Lucy terisak. "Ini tugasku. Jellal mencintaimu. Yami!" Seru Lucy; dengan sihir yang masih sisa di tubuhnya. Daire hanya memperhatikan mereka. Cahaya hitam langsung menyerang Daire, membuat tubuh itu hancur. Tubuh Lucy yang terangkat langsung jatuh. Di saat yang bersamaan, Natsu—yang entah dari mana menangkapnya. Mata Lucy setengah tertutup, dia menatap wajah Natsu yang tidak begitu jelas.

"Natsu…," bisiknya, kemudian mata Lucy tertutup. Rambut merah muda Natsu terbang beberapa helai. Natsu memasang wajah horornya. Terlhat sirat kesakitan di matanya.

"TIDAK! Luce, jangan pergi! Lucy!" Teriak Natsu. Natsu memeluk tubuh Lucy, seiring tubuhnya hancur jadi pecahan debu.

Natsu… Arigatou…Erza dan Natsu bisa mendengar suara Lucy bergema. Natsu mengeluarkan air mata.

"LUCYYYY!" Jerit Natsu, dan dia menangis.

Natsu… terima kasih telah mencerahkan hidupku… bahagialah… karena aku selalu bahagia kalau kau bahagia… aku menyayangimu, Natsu. Bukan—mencintaimu… untuk itulah, aku harus menjadi kuat. To be Strong." Suara terakhir Lucy bergema. Natsu yang mendengarnya tidak mampu menahan air matanya. Inilah akhir Lucy Heartfilia dari Fairy Tail…


Mari kita timpuk myst29 rame-rame...

Hehe, angst dan nggak kerasa banget feelingnya? Memang begitulah #plak

Kalau mengenai feeling, myst lagi buat multichapt judulnya Falling Tears. Ada juga cerita yang involve Nalu x Graylu juga~ Tapi belum tentu.

Oh ya minna-san mau epilog dari cerita ini? Nggak ada yang mau? *ngarep*

Oke deh, makasih sudah baca (:

Komentar harsh tidak di terima :) Jangan Flame :)

Terima kasih sebanyak-banyaknya! Myst29 masih pemula!

myst29