Blind Love
Chapter 2
By Yuya Matsumoto
Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever
Warning: FF ini terdiri dari berbagai sekuel yang terdiri dari berbagai couple. Harap membaca semua seri-nya agar mengerti jalan ceritanya. FF ini hanya imajinasi murni milik Author. Tidak ada niat sedikit pun untuk menyinggung pihak lain. Diperuntukkan untuk menghibur.
Cast: Sungmin, Sungjin, Minho, Lee Yeomin Ha, Hangeng, Heechul, etc
Summary: Hangeng kembali ke Korea, setelah lama tinggal di China. Ia kembali untuk menghindari masalah yang tak pernah terselesaikan di China. Saat ia kembali, ia menemukan sebuah cinta. Cinta yang seharusnya tidak ia miliki. Bisakah Hangeng bertahan? Atau ia akan melepas cintanya itu?
.
.
\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9
.
.
(T,T#)/..:: Yuya's POV
.
"Sepupumu baru datang dari Cina?", selidik Minho saat kami sedang istirahat.
"Yes! How can you know it?", tanyaku bingung sambil melahap rotiku.
PLAAAK! Sebuah pukulan mendarat di belakang kepalaku, membuat tengkorak dan hatiku panas. Ya, hatiku panas karena kesal. Aku membalas pukulan Minho lebih keras lagi. Aku lempar semua peralatan yang ada di atas mejaku. Untung saja aku belum merapikan buku-bukuku. Dasar Minho menyebalkan!
"YA! YUYA! Ngapain sih ngelemparin barang-barang ke aku?", omel Minho sambil menghindari serangan barang-barang dariku.
Aku melempar buku Sejarah yang tebalnya lumayan itu ke arah Minho yang sedari tadi sudah menghindar ke belakang kelas. "Lagian MINHO RESEK! Kamu duluan, ngapain mukul kepalaku? SAKIT TAU", marahku sedikit kekanak-kanakan.
Minho menjulurkan lidahnya ke arahku. 'Mwo? Menyebalkan sekali anak ini', batinku kesal. "Siapa suruh Yuya bengong mulu! Tablo (*Tampang Blo'on) banget tau! Hahahaha", ledeknya sambil memberikan tampang jeleknya sebagai hinaan. Tanganku sudah gemas ingin meremas wajah menyebalkan itu.
Terjadilah aksi kejar-kejaran di dalam kelas. Kami membuat suara gaduh, menghancurkan letak meja-kursi di kelas. Mengejar namja super aktif seperti Minho bukanlah hal mudah, aku berkali-kali naik-turun meja dan kursi. Ia benar-benar lincah. Argh! Mengesalkan sekali. Jangan tanya kenapa teman sekelas kami tidak ada yang komplain. Mereka sudah terlalu bosan melihat tingkah kami di kelas. Ini bukan peristiwa sekali atau dua kali terjadi, hampir tiap hari kami seperti ini. Hehehehe…
"BERHENTI, CHOI MINHO!", teriakku. Rasa kesalku sudah sampai di ubun-ubun. Bukannya menyerah, Minho semakin melakukan aksinya. Ia menggoyang-goyangkan bokongnya kepadaku. Argh!
"Weeee! Siapa yang mau menyerah? Lagian salah kamu ini!", bela Minho sambil menjulurkan lidahnya dengan kedua tangannya di pipi, posisi meledek yang paling aku benci.
"Noona! Hyung!", panggil seseorang mengganggu perdebatan kami.
"DIAM KAMU, TAEMIN!", teriakku dan Minho bersamaan.
Taemin terdiam, membeku. Wajahnya terlihat ketakutan. Matanya berkaca-kaca. Oh, no! Aku dan Minho yang menyadari perubahan sikap pada our magnae segera mendekatinya. Aku langsung memeluk Taemin, sebelum ia benar-benar menangis. Aku mengelus punggungnya. "Gomen ne", lirihku di telinganya.
Taemin mengangguk pelan. "Gwenchana, noona! Lumayan dapat pelukan di siang hari. Dada noona lumayan besar ya!", bisik Taemin, membuatku terbelalak kaget.
Aku mencubit pipi Taemin dengan keras, tidak peduli akan meninggalkan bekas di pipinya. "YA! Pervert!".
"HAHAHAHA! Baru tahu ya kalau Taemin pervert?", tawa Minho penuh kemenangan.
"Apa? DASAR!", teriakku mengambil posisi menyerang. Aku mengapit Minho di ketiakku, membuatnya tak bisa kabur lagi. "RASAKAN BAUKU! HAHAHA!"
"NOONA!", teriak Taemin tepat di telingaku. Ia memaksaku melepas Minho. Diteriaki begitu keras, membuat aku dan Minho terdiam. Kami segera duduk di kursi, menanggapi perintah Taemin kepada kami. Magnae satu ini bisa menjadi sangat mengerikan rupanya.
"Kenapa sih Taemin-ah?", tanya Minho sedikit tidak menyukai suasana tegang seperti ini. Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaan Minho. Tumben-tumbennya Taemin ke kelas dan bersikap aneh seperti ini.
"Huaaa! Noona, Hyung! Bantu aku! Bantu aku! Aku ada ujian les bahasa Cina. Eomma mengancamku. Katanya kalau nilaiku kembali buruk, semua koleksiku disita. Hueee!", jerit Taemin sambil merangkul kepadaku.
Aku segera melepas pelukan Taemin, takut-takut ia bertindak pervert lagi. "Terus apa urusannya sama kami?", tanyaku bingung yang diiyakan oleh Minho.
"Hueeee! Ajarin!", rengek Taemin. Ia menghentak-hentakkan kakinya di lantai, bersikap sangat manja.
"Ah, michigesseoyo! Aku tidak bisa bahasa Cina. Belajarlah sendiri", tolakku. Aku berdiri, menarik tangan Minho. "Ayo ke kantin! Aku lapar", ajakku kepada sahabatku itu.
Minho hanya diam saja. Aku sempat melihat Minho menepuk bahu Taemin. "Sabar ya!", ucapnya pelan sebelum pasrah ikut bersamaku. Kami meninggalkan Taemin yang menjerit di dalam kelas. Huft! Siapa yang peduli?
"Kamu kenapa sih? Kok jahat banget sama Taemin?", tanya Minho saat kami sudah berada di kantin.
Aku mengaduk nasi gorengku tak berselera. "Wakaranai yo! Lagian apa urusannya pula sama kita. Biarkan dia belajar sendiri"
"Kamu sedang haid ya?", tanya Minho tiba-tiba.
Aku menyemburkan minuman yang akan kuminum ke wajah Minho. "Kamu tuh nggak sopan. Nanyain hal seperti itu kepada wanita!", ujarku malu.
Minho menghela napasnya, membersihkan wajahnya dengan tissue. "Wanita? Mana ada wanita menyemburkan minuman ke muka pria? Kamu itu bukan wanita!", ujar Minho kesal.
Aku tersipu malu mendengar kata-kata Minho. Sepertinya aku memang sudah keterlaluan tadi. Ah, aku hanya bingung! "Eh, kamu tahu darimana sepupuku dari cina ada di rumah?"
"Babbo! Kakak sepupumu sudah ada di rumah hampir dua bulan. Tidak mungkin aku tidak tahu. Asal kamu tahu saja, kakak sepupumu itu pernah menanyakan hubungan kita saat aku menjemputmu. Ia bertanya, kenapa aku harus menjemputmu padahal kamu punya Onew sebagai pacar", jawabnya panjang lebar sambil sesekali mengambil kentang goreng milikku.
Aku hanya mengangguk-angguk menanggapinya. Pikiranku melayang entah kemana. Aku juga tidak mengerti. Semoga tidak ada hal buruk yang akan terjadi. Amin.
.
\(^3^)—Hankyung's P.O.V—(Q.Q)/
.
Aku harus mendapatkan yeoja cantik itu. Aku tidak peduli jika aku harus berjuang sangat keras. Selama satu bulan ini ia sudah menolakku berkali-kali. Aku tetap harus berjuang. Kali ini aku harus bisa mendapatkannya. PASTI! Xia You, Tan Hangeng!
Aku membuka pintu café yang selama sebulan ini menjadi saksi bisu perjuangan cintaku. Kedua mataku menjelajah ke seluruh sudut café, mencari satu sosok yang telah membuat hari-hariku tak tenang. Denyut jantungku tak terkendali. Keringat dingin mengucur di pelipisku. Kaki dan tanganku gemetaran. Aku benar-benar panik saat aku telah menemukan dirinya.
"Hmm…", gumamku, berusaha menjernihkan tenggorokanku yang terasa gatal. "Heenim-ya!", panggilku pelan pada sosok yeoja di depanku yang asyik membersihkan meja café.
Ia memalingkan wajahnya dengan senyuman manis yang selalu kudambakan itu. Sebuah senyuman indah langsung menghilang saat ia menyadari aku telah memanggilnya. Aku memberikan sebuket bunga dan cokelat kepadanya. Ia mengambil bingkisanku. Ah, syukurlah!
"Jadi kamu menyamakan aku dengan yeoja murahan di luar sana?", tanya Heechul sarkastik.
DEG!
Hatiku sangat perih mendengar ucapannya. "Bu-bukan, Heenim. Aku ti-tidak…"
"DIAM! AKU TAHU MAKSUDMU! PERGI DARI SINI! AKU MUAK MELIHAT MUKAMU SETIAP HARI", teriak Heechul sebelum aku dapat menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi padanya.
Ini bukan bentakan dari bibir manisnya untuk pertama kali. Hampir setiap hari aku diusir secara kasar olehnya, tapi aku benar-benar menyukai yeoja ini. Aku ingin memilikinya. Oh Tuhan, sekali lagi aku telah gagal!
BUUUG!
Aku memukul setir mobilku dengan keras. Inilah yang selalu aku lakukan saat Heechul sekali lagi menolak cintaku. Ah, aku benar-benar bingung! Apa yang kurang pada diriku? Aku tampan, mapan, pintar dan bijaksana. Ya, setidaknya itulah yang sering aku dengar dari orang-orang mengenaiku. Tapi kenapa Heechul tidak bisa melirikku sedikit saja? Kenapa?
Drrt! Drrt! Sebuah pesan masuk ke dalam inbox ponselku. Sebuah pesan dari Lee Sungmin, sepupuku.
Hyung, tolong aku. Jemput Yeomin Ha di sekolah ya. Aku tidak bisa menjemputnya karena ada rapat penting mendadak. Maaf merepotkanmu.
Aku menutup ponselku, membanting benda tak berdosa itu ke atas jok penumpang di sampingku. Hmm… Lee Yeomin Ha? Kenapa aku tidak meminta bantuan darinya? Aku pasti bisa membujuknya kali ini. Hehehehe… Aku menyeringai licik. Sebuah rencana sudah kubangun dengan sempurna di otakku.
.
v(X.X) YuyaLoveSungmin (TwT)/
.
"Ayolah, Minnie! Bantu aku sekali saja", bujukku kepada sepupu kesayanganku itu. Aku sudah berusaha membujuknya sedaritadi, namun ia tetap bungkam dan gigih dengan gelengan kepalanya. Aish!
"Stop memanggilku Minnie, Han-gege! Itu panggilan untuk Minnie-oppa! Hueee~ Hontou ni kirai desuyo!", jerit Yeomin Ha kesal. Sejak kecil aku memang senang memanggilnya dengan panggilan imutku itu. Menurutku itu lebih cocok untuknya yang notabene adalah seorang yeoja dibandingkan dengan Sungmin yang seorang namja.
"Please, Yeomin. Gege butuh bantuanmu. Tolonglah! Masa kamu tega melihat kakakmu ini patah hati? Jahat sekali sih", ujarku sedih. Aku sudah hampir menyerah membujuk Yeomin. Ia memang terkenal keras kepala. Aaah!
"TIDAK, GEGE! Sekali tidak ya tidak", sahut Yeomin Ha, sebelum ia masuk ke dalam kamarnya. "Kyaaaa~~ Gege!", jerit Yeomin dari dalam kamar. Jeritan ini berbeda dari sebelumnya. Ini jeritan senang dan gemas. Oh Tuhan semoga berhasil!
Aku bergegas ke lantai dua, berdiri di depan kamar Yeomin. SREEEK! Pintu kamar itu terbuka. Aku melihat senyuman Yeomin merekah di kedua pipinya.
CUP!
Aku membelalakan mataku, kaget dengan kecupan di pipiku. Hatiku menghangat saat menerima ciuman dari sepupuku ini. Rasanya aku ingin berjingkrak senang karena rencanaku cukup berhasil.
"Xie xie, gege! Aku suka! Boneka Tazmania-nya lucu banget!", ucap Yeomin sambil memeluk erat boneka Tazmania yang sebesar setengah tubuhnya itu.
"Jadi?", tanyaku dengan kata-kata menggantung. Aku berharap ia menerimaku.
"Tidak. Maaf, gege! Annyeong"
BRAAAK! Pintu kamar itu tertutup rapat, meninggalkan aku yang hancur berantakan. Aish! Dua kali kegagalan hari ini. Pertama, Heechul. Sekarang, Yeomin. Argh! Wanita memang membingungkan.
"Kasian sekali kau, hyung!", desis seseorang pelan di belakang telingaku.
Aku menolehkan kepalaku, sekali lagi melihat sebuah pintu tertutup di depanku. Sungjin meledekku, tepat sasaran. Aih, nggak kakak, nggak adik, kelakuannya sama-sama membuat jengkel! Aku mengacak-acak rambutku frustasi. "AAAAARGH!"
.
(T,T#)/..:: Yuya's POV
.
"Chagiya, apa menurutmu aku harus membantu gege?" tanyaku pada Onew, di seberang sambungan teleponku. Aku masih memeluk boneka pemberian Han-gege.
"Mmm… Aku bingung. Semua terserah padamu. Kalau kamu pikir itu baik, maka bantulah", jawab Onew seadanya.
"Chagiya, kamu sedang apa? Sibuk ya", tanyaku, takut mengganggu kekasihku ini.
"Tidak, yeobo. Hanya saja aku bingung. Mmm… Lebih baik kita ketemuan saja besok ya di tempat kerjamu. Bagaimana?"
Aku menjerit pelan. Jarang sekali Onew mau mangajakku pergi, yah, bukan kencan sih, tapi setidaknya kita akan bertemu lagi. Hehehe… Dia terlalu sibuk dengan kuliahnya.
"Yuya-chan?", panggil Onew dengan suara merdunya.
"Ne, chagi! Bogoshippo! Oke. Kita ketemu ya besok! Aku tidak sabar!", jawabku antusias.
"Besok kita bicarakan masalah gege-mu. Aku ingin tahu lebih jelas darimu. Annyeong", balas Onew membuatku memeluk boneka itu lebih erat lagi.
"Annyeong", kataku sebelum menutup sambungan telepon kami.
Aku berguling-guling di atas ranjang. Senyumku tak pernah lepas dari pipiku. Hatiku berbunga-bunga. Aih! Aku mencintaimu, Onew! Aku ingin sekali menjerit kepada seluruh dunia kalau aku mencintai namja sipit itu.
.
.
# Keesokan Harinya #
[Still Yuya's POV]
.
.
"Yuya-chan!", panggil seseorang dengan nada lembut nan manja. Hanya ada satu orang yang biasa memanggilku seperti itu. Hatiku berbunga-bunga. Sebuah senyum terukir di pipiku, tanpa aku menyadarinya.
Aku menolehkan kepalaku, meyakinkan bahwa 'dia'lah yang memanggilku. Aku tersenyum lebih lebar lagi saat semua tebakanku itu benar. Seorang namja tampan dengan mata sipitnya dan kacamata minus-nya sedang berada tak jauh dari hadapanku. Walau penampilannya sangat sederhana—kemeja kotak-kotak merah dengan kaos oblong putih dan celana jeans—tak mengurangi sedikit pun aura ketampanan dari tubuhnya.
BRUUUK!
Aku memeluk kekasih tampanku itu, tak peduli tatapan aneh dari para pelanggan atau pun teman kerjaku. Aku benar-benar merindukannya. Kami sudah lama tidak bertemu. Aku tidak akan melewatkan kesempatan ini sedikit pun.
Onew mengelus rambutku pelan. Ia tersenyum geli, membuat matanya seakan menghilang dari wajahnya—senyuman khas milik seorang Lee Jinki. "Kebiasaan manja keluar deh", ucapnya mengkomplain sikapku. Ia menuntunku untuk duduk di salah satu meja yang terletak agak pojok, meja favorit kami.
Onew menggenggam tanganku. "Apa aku mengganggu waktu kerjamu?"
"Ah tidak, chagi. Sebentar lagi café tutup dan pelanggan pun sudah sedikit. Aku punya waktu luang bersamamu", jawabku cepat. "Bogoshippo", kataku pelan, yang hanya dibalas dengan senyuman manis dari Onew.
"Ceritakan tentang Gege dan Heechul-sajangnim", pinta Onew to the point. Sepertinya ia tidak ingin berlama-lama menghabiskan waktu percuma denganku. Aish!
.
\(^3^)—Hankyung's P.O.V—(Q.Q)/
.
"Please, listen to me, Heenim-ah!", pintaku sekali lagi dengan nada memelas. Aku sudah tidak memiliki ide apapun untuk mendapatkan hati yeoja di hadapanku ini.
Heechul tak jua mengacuhkanku. Ia tetap fokus melayani pelanggannya di meja kasir yang biasa ia tempati. Hari ini café terlihat cukup ramai dan aku menjadi kesulitan untuk berbicara dengannya secara pribadi. Aku menyelak salah satu pelanggannya, agar aku bisa mendapat ruang untuk berhadapan dengannya. Heechul mengernyitkan dahinya, karena aku telah mengganggu pekerjaannya.
"Aku mohon Heenim-ya. Aku butuh berbicara denganmu. Kamu harus tahu kalau perasaanku ini benar untukmu. Aku mencintaimu. Bisakah kamu mendengar degupan di hatiku?", ujarku panjang, tak membiarkan satu celah pun bagi Heechul untuk memotong perkataanku. Aku mengarahkan tangan Heechul ke dadaku yang berdetak dengan keras dan cepat. Aku tahu ia pasti bisa merasakan degupan jantungku saat ini.
"Tolong, menyingkirlah. Kamu menggangguku", tolak Heechul setelah menepis tangannya dari dadaku. Aku merasakan irisan baru di dalam jantungku, benar-benar menyakitkanku. Aku tidak menghiraukan permintaan Heechul, masih setia berdiri di depan yeoja cantik itu. "AKU BILANG MENYINGKIR SEKARANG JUGA!", bentak Heechul akhirnya. Ia mendorong tubuhku agar menyingkir dari hadapannya. Heechul mulai melayani pelanggannya kembali. Wajahnya telah kembali manis dan lembut, berbanding terbalik dengan ekspresinya padaku. Ah, menyedihkan!
"Gege! Kochira e!", panggil seseorang saat aku akan keluar dari café itu. Yeomin menuntunku menuju mejanya bersama Onew, kekasihnya.
Apa maksudnya? Aku tidak ingin menjadi obat nyamuk bersama mereka.
"Han-gege, aku ingin menawarkan sesuatu kepadamu. Sesuatu yang pasti sangat kau inginkan saat ini, yaitu Heechul. Mau menerima tawaranku?", tanya Onew to the point. Aku tersentak kaget mendengar perkataan namja di hadapanku ini. Tak ada wajah bercanda, hanya keseriusan yang ia pancarkan dari matanya. Serius nih?
"Gege!", panggil Yeomin, membuyarkan lamunanku. Aku menatap wajah manis sepupuku itu. "Aku mau bertanya, apakah gege benar-benar mencintai Heechul-sajangnim?"
Aku mengangguk mantap. "Itu tidak perlu dipertanyakan lagi", jawabku pasti.
"Walau apapun terjadi?". Aku mengangguk. "Walau sajangnim tidak seindah dan secantik yang gege kira?". Aku mengangguk dalam. "Baiklah. Aku juga akan membantu. Aku harap gege memang benar-benar mencintai sajangnim dengan tulus"
"Yuya sudah setuju, maka aku dan Yuya akan membantu gege untuk mendapatkan sajangnim. Tapi apakah gege mau mengabulkan satu syaratku dan mengikuti permainan kami?", tanya Onew pelan seakan tidak ingin siapapun mendengar percakapan kami.
"Aku akan menuruti semua syarat dan permainan kalian asalkan aku mendapatkan Heenim. Ayo cepat katakan apa dan bagaimana caranya!", tanyaku gemas. Aku tidak mau bertele-tele lagi. Aku ingin segera mendapatkannya, secepat yang aku bisa.
.
v(X.X) YuyaLoveSungmin (TwT)/
.
.
::… AUTHOR POV …::
.
Hari pertama rencana Onew pun dimulai. Sekumpulan remaja itu memasuki café dengan riang, membuat pemilik café agak sedikit bingung. Onew, Taemin dan Minho duduk di tempat favorit mereka, pojok café yang dekat dengan meja kasir. Gerak-gerik mereka bisa diperhatikan dengan detail dari meja kasir itu. Yuya ingin sekali bergabung dengan ketiga namja tampan itu, hanya saja tugasnya sebagai pelayan tak memungkinkannya.
"Mianhae, aku terlambat!", ucap seorang namja tinggi dengan suara lembut yang membuat sang pemilik café menatap kepadanya. "Hai! Jadi namja manis ini yang akan menjadi muridku?", tanya namja tinggi berkebangsaan Cina itu sambil mengelus rambut Taemin dengan sayang.
"Ne, hyung", jawab Taemin malu-malu saat digoda oleh namja tampan itu.
"Aigoo! Manisnya!", goda namja itu lagi membuat wajah Taemin memerah seperti kepiting rebus.
Hankyung, namja tampan itu, tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan perasaan terluka. Orang itu, tanpa sadar, menggenggam kemeja bagian dadanya, menahan rasa sakit yang mulai menjalar dalam tubuhnya. Perasaan terluka orang itu sama halnya dengan yang dirasakan oleh seorang namja berkarismatik, Minho. Ia menatap sinis kepada yeoja-namja yang asyik melempar adegan romantis di depannya. Sungguh ia ingin sekali menampar orang yang, sayangnya, berstatus sebagai kekasih yeoja itu.
"Ya! Kalian berdua! Bisakah tidak melakukan hal menjijikan seperti itu di depanku? Atau kau memang ingin aku adukan, Yeomin Ha?", bentak Hankyung di sela-sela waktu mengajar Taemin. Ia sudah sangat gerah melihat sepupu kecilnya bermesraan dengan sang kekasih. Ia tak rela malaikat mungilnya itu dijamah oleh orang lain.
Yeomin Ha, biasa dipanggil Yuya, mengerucutkan bibirnya sebagai tanda rasa kesalnya kepada kakak sepupunya itu. Kalian pasti tahu bagaimana rasanya sepasang kekasih yang jarang bertemu, lalu kembali bertemu. Pasti hanya ingin bermesraan terus. Yuya menjulurkan lidahnya di hadapan Hankyung. Ia tidak peduli dengan amarah sang kakak.
"Yuya, sebaiknya kamu kembali bekerja. Sepertinya boss-mu akan segera memecatmu jika kamu terus-terusan di sini", ujar Minho sambil menunjuk Heechul yang sedang memicingkan matanya ke arah Yuya dan kawan-kawan. Aura iblis terkuar dari tubuhnya.
Yuya melihat Heechul dengan takut. Bulu kuduknya berdiri semua. Ia sesegera mungkin menghilang dari meja itu, meneruskan pekerjaannya yang sempat ia tunda barusan.
"Hyung, sepertinya rencana kita berhasil", bisik Onew pelan di telinga Hankyung. Mendengar penuturan Onew, Hankyung tersenyum lebar.
Hampir setiap hari Hankyung dan Taemin belajar di café milik Heechul. Mereka selalu duduk di tempat yang sama, membuat Heechul bebas menatap mereka dengan jeli. Hankyung memang terlihat memanjakan Taemin, karena pada dasarnya Hankyung memang memiliki sifat lemah lembut. Ia tidak memiliki perasaan apapun pada Taemin. Jika Hankyung bisa memilih, lebih baik ia mengejar cinta Heechul dan memohon kepadanya, bukan mengacuhkan Heechul seperti ini. Jika Hankyung memilih Heechul, rencananya akan berakhir sia-sia dan akhirnya ia tidak mendapatkan siapa-siapa.
Sebenarnya Heechul gerah melihat kedua namja itu asyik belajar sambil berbincang seru. Ia tidak menyadari bahwa keberadaan Hankyung selama ini telah menjadi kebiasaan baginya. Namun tiba-tiba Hankyung seakan melupakan dirinya, bahkan untuk sekedar menggodanya saja Hankyung tidak pernah. Sikap acuh Hankyung menggoreskan luka pada dirinya.
"Argh! Kepalaku pusing", keluh Heechul sambil memijit pelipisnya. Ia memutuskan untuk istirahat sejenak di ruang pribadinya, menghilangkan penat. Hatinya sakit saat melihat kedua namja itu, tapi logikanya menolak. Kebingungan berkecamuk dalam batinnya. Ia tidak tahu perasaan apa yang melanda dirinya saat ini. Ia benar-benar bingung.
Matahari sudah menunjukkan rasa lelahnya, meminta pada rembulan untuk menggantikan sosoknya. Langit berubah menjadi kelam, membangkitkan bulan untuk membagi cahayanya. Udara mendingin, membuat setiap insan enggan berlama-lama berada di luar rumah. Mereka memilih untuk membagi kehangatan bersama orang-orang terkasih di rumah. Siang telah berganti oleh keindahan malam.
BRAAAK! DUUUK! DUUUK! BRAAAK!
Sebuah suara gaduh membuat seseorang menggeliatkan tubuhnya di atas sofa. Ia merasa tidurnya terganggu, membuat mood-nya berubah seketika. Heechul, orang yang tidurnya terganggu, melangkah ke asal suara dengan hentakan keras pada kakinya. Ia bersumpah akan menyambit orang yang membuat gaduh café-nya ini.
"Siapa di dalam?", teriak Heechul, tentu saja dengan bentakan keras.
BRAAAK! DUUG! DUUUG! DUUUG!
"Eh?", sahut orang yang berada di dalam sebuah bilik. "YA! HEENIM-YA! TOLONG KELUARKAN AKU DARI SINI!", teriak namja di dalam bilik sambil memukul pintu dengan membabi buta, sepertinya ia terjebak di dalam selama beberapa waktu.
Heechul tersentak kaget mendengar suara orang itu. Hanya satu orang yang memanggilnya dengan sebutan Heenim, yaitu Hankyung. 'Kenapa dia bisa berada di dalam sana?', tanya Heechul pada dirinya sendiri.
"Heenim, tolong keluarkan aku dari sini", kata Hankyung dengan nada memelas. Sepertinya ia sudah terlalu lelah berada di dalam bilik itu. Untung saja masih ada Heechul, sehingga ada kemungkinan ia tidak akan tertidur di dalam bilik sempit yang bau.
Heechul menghela napas panjang, menyerah untuk menghadapi namja itu. Heechul meminta Hankyung untuk menghindar dari belakang pintu bilik. Dengan kekuatan yang entah didapat darimana, Heechul berhasil mendobrak pintu bilik itu. Sontak Hankyung segera memeluk Heechul dengan erat. Ia merasa sangat berterima kasih pada pujaan hatinya itu. Entah akan jadi apa ia esok jika tak ada yang menemukannya di bilik itu. Mungkin akan mati mengenaskan. Terkesan berlebihan memang, tapi itulah yang ada di pikiran namja Cina itu.
"Sebaiknya kamu cepat pulang. Café-ku juga sudah tutup", ujar Heechul saat ia berjalan ke bagian depan café-nya. Heechul pun sempat kaget, karena ia tidak menduga bahwa ia tertidur begitu lama hingga malam seperti ini. Herannya lagi, tidak ada yang berani membangunkannya.
"Oh, ya sudah! Terima kasih, Heenim. Kamu telah menyelamatkanku", kata Hankyung penuh rasa syukur. Ia akan memeluk Heechul jika tak tertahan oleh si cantik itu.
SREEEK!
"Eh, kok dikunci?", tanya Hankyung saat ia berusaha membuka pintu.
"Oh tunggu sebentar. Aku akan membukakannya. Tunggu!"
Heechul bergegas ke dalam ruangannya, mencari kunci café miliknya. Ia mencari dan terus mencari, berusaha mengingat dimana terakhir kali ia meletakkan kunci itu. Hankyung pun ikut membantu, tapi hasilnya nihil. Mereka tak menemukan kunci itu dimana pun. Jangan katakan mereka akan terjebak di café itu semalaman.
"Sepertinya kita harus menginap di sini, sebelum karyawanku datang besok. Aish! Babbonika!", ucap Heechul pasrah. Ia merutuki kebodohannya saat ini.
Hankyung mengangguk lemah. Terlihat sangat pasrah dan sedih di luar, namun hatinya berjingkrak senang di dalamnya. Hahahaha… Sebuah kesempatan emas yang tak ingin dilewatkannya.
KRUYUUUUK~~
Sebuah suara memecah keheningan yang ada di antara kedua orang itu. Wajah Heechul berubah merah. Ia merutuki perutnya yang tak tahu malu itu. Kalau ia bisa, ia ingin melepar perut itu jauh-jauh, lalu menunjuk orang lain sebagai kambing hitamnya. Namun ia tidak bisa, jelas-jelas hanya ada mereka berdua di sini. Jika bukan Heechul, pasti Hankyung, jadi sudah jelas pelakunya adalah Heechul.
Hankyung menahan tawanya melihat Heechul tersipu malu seperti itu. Ia baru melihat sosok lain dari pujaan hatinya itu. "Bagaimana kalau kita makan dulu? Di sini pasti ada makanan kan?", tanya Hankyung berusaha mencairkan suasana canggung mereka.
Heechul memandang uluran tangan Hankyung dengan bingung. "Tapi setiap makanan di café ini selalu dibawa oleh karyawanku, jadi tidak ada makanan sisa", jawab Heechul polos. Ia sudah sangat malu dengan keadaannya saat ini. Terlebih degupan jantungnya sulit sekali diatur. Apalagi Hankyung selalu bersikap manis padanya, ia tidak bisa tenang berada di dekat namja tampan itu.
"Ayo! Pasti masih ada bahan-bahan yang tersisa", ajak Hankyung, masih setia dg uluran tangannya. Ia berharap Heechul mau menyambut tangannya dan…
YES! Harapan Hankyung terkabul. Heechul merelakan dirinya digandeng oleh Hankyung, lalu pergi ke dapur bersama-sama. Entah Heechul kerasukan apa, yang pasti dia menjadi penurut dan pendiam malam ini. Hankyung segera menjelajah ke seluruh sudut dapur itu, mencari bahan makanan dan peralatan yang sekiranya bisa dipakai olehnya. Sedangkan Heechul hanya duduk termangu menatap kesibukan Hankyung.
"Malam ini aku akan memasakkan makanan handalanku, Beijing Fried Rice. Aku pastikan kamu akan ketagihan dengan masakanku ini", ucap Hankyung percaya diri.
"Kita lihat saja nanti!", jawab Heechul tak mau kalah.
.
v(X.X) YuyaLoveSungmin (TwT)/
.
.
\(^3^)—Heechul's P.O.V—(Q.Q)/
.
Aku sedang berdiri di salah satu sudut dinding belakang café-ku, menatap interaksi mereka berdua. Aku menyandarkan kepalaku, tersenyum melihat kedekatan mereka. Ah, aku jadi teringat malam itu, saat ia pertama kali menggugah hatiku oleh kelembutannya. Hatiku selalu hangat setiap kali mendapat perhatian darinya. Aku baru menyadari perasaanku itu sejak sebuah suapan masakan luar biasa buatan dirinya. Mulai saat itu aku menggilai Beijing Fried Rice buatannya.
Entah apa maksud Tuhan membuatku dan dirinya terjebak di café malam itu. Sejak malam itu, aku mulai membuka hatiku padanya. Aku baru sadar kalau aku membenci momen-momen kebersamaannya dengan namja manis itu. Walaupun berkali-kali Hankyung mempergokiku yang cemburu, aku selalu mengelak dari perkataannya. Jujur, aku tidak ingin mengakui bahwa aku menyukai namja itu. Aku tidak ingin rasa suka yang salah ini tumbuh menjadi cinta. Sudah berulang kali aku menolak dirinya, hingga aku sendiri bosan melontarkan kata-kata kasar untuknya. Anehnya, kenapa dia tidak pernah menyerah. Oh Tuhan! Aku hanya takut dia meninggalkanku jika ia mengetahui semua kebenaran ini.
"Heenim-ya, sejak kapan kamu ada di situ?", tanya Hankyung membuyarkan lamunan kosongku. Aku tidak sadar, ia sudah ada di hadapanku saat ini.
"Heebum-ah, lihat eomma-mu sedang melamun memikirkan appa tampanmu ini", ujar Hankyung sambil memainkan kaki-kaki mungil Heebum dalam dekapannya.
Aku tersenyum mendengar kata eomma-appa yang dilontarkan darinya. "Jangan asal bicara. Kamu ini kepedean sekali", omelku dengan nada dibuat seketus mungkin. Aku tidak mau Hankyung tahu bahwa aku menyukai sebutannya tadi.
"Ayo, Heebum! Kita pulang", ajakku pada Heebum yang kini sudah ada dalam dekapanku. Aku mulai mengacuhkan Hankyung, sengaja bermain bersama Heebum.
"Hankyung, tolong buatkan aku Beijing Fried Rice, ya! Aku lapar", pintaku pada namja Cina itu dengan nada memerintah yang biasa aku lontarkan padanya.
Hankyung tersenyum. Ia mengelus rambutku penuh sayang. "Ne, chagi! Tunggu ya!", ucapnya manis, menghangatkan hatiku yang terus menerus berdegup semakin kencang. Kalau terlalu sering bersama namja Cina ini, bisa-bisa aku mendapat serangan jantung. Oh Tuhan! Selamatkan aku!
Hmm… Masakan Hankyung memang selalu enak di lidahku. Aku tidak pernah bosan memakan masakannya, padahal hampir setiap hari aku memintanya untuk memasak. Jangan-jangan dia mencampurkan sesuatu pada makananku. Ganjakah? Atau ramuan aneh?
"Hankyung, apa sih rahasia masakanmu ini? Aku pernah meminta kokiku memasak, tapi tidak seenak buatanmu ini", tanyaku sambil asyik melahap setiap suapan nasi goreng ini.
Hankyung hanya memandangku dengan tatapannya yang dalam. Suatu kebiasaannya, memperhatikan aku makan, sedangkan dia hanya diam tanpa melakukan apapun. "Aku hanya menambahkan cinta di dalamnya"
UHUK! UHUK!
Aku tersedak mendengar penuturannya. Hankyung terlihat panik, memberikan segelas air mineral kepadaku. Aku memukul-mukul dadaku. Sakit sekali. Bukan karena aku tersedak, tapi karena aku tidak dapat membalas cintanya. Sebenarnya aku mau, sangat mau, karena aku juga mencintainya, hanya saja… Aku tidak bisa.
"Gwenchana, Heenim?", tanya Hankyung khawatir. Aku mengangguk pelan. "Kamu jangan kaget seperti itu dong mendengar pernyataan tulusku", lanjutnya dengan senyuman meledek.
"Ani… Aniya!", tolakku sambil memalingkan wajahku darinya. Aku tidak ingin ia melihat wajahku. Ya ampun, kenapa aku selalu menjadi diri orang lain jika bersamanya? Kenapa aku tidak bisa menjadi diriku yang tegar, galak dan optimistis di hadapannya?
"Heenim-ah", panggil Hankyung sambil menarik daguku agar bisa menatap wajahnya. "Apa ketulusan cintaku tidak sampai ke hatimu? Apakah kurang waktu kebersamaan kita selama ini untuk menunjukkan bahwa aku benar-benar mencintaimu? Hampir dua bulan aku mendekatimu dan sudah hampir satu bulan kita menjadi teman. Apa itu masih kurang? Heenim-ah, aku benar-benar menyayangimu. Aku tulus mencintaimu", ujar Hankyung tulus.
Ia memintaku untuk merasakan degup jantungnya yang sama cepat dan kerasnya seperti degupan jantungku. Jantungnya seakan ingin berontak keluar dari tulang rusuknya itu. Hatiku sakit. Aku ingin berteriak di hadapannya, bahwa aku juga sangat mencintainya. Hanya saja ini semua salah. Cinta kami ini salah. Aku tidak bisa mencintainya. Tidak boleh!
"Maaf, Hankyung. Aku tidak bisa", tolakku halus. Hatiku berdenyut nyeri. Aku tak berani menatap wajahnya yang pasti terluka. Hankyung, aku juga terluka. Aku ingin kita bersama, tapi itu tidak mungkin.
"Wae? Waeyo?", tanya Hankyung dengan suara bergetar. Aku tahu ia menahan rasa sakit dalam hatinya. Aku diam tak berani menjawab.
"Heenim-ah, tatap mataku. Katakan kalau kamu tidak melihat cinta di mataku. Katakan kalau kamu tidak mencintaiku. Katakan!", paksa Hankyung sekali lagi menarik daguku pelan.
"Apa kamu akan menerimaku seutuhnya? Apa kamu akan tetap mencintaiku jika kamu tahu aku yang sebenarnya? Aku tidak secantik yang kamu pikirkan, Hankyung. Aku tidak pantas untukmu. Aku… Aku…", balasku berusaha menahan tangisanku, namun airmata itu tak bisa terus aku bendung. Dadaku terlalu sakit. Cinta ini menyakitiku.
Hankyung memeluk tubuhku, mengelus punggungku dengan sayang. "Aku tahu kamu mencintaiku. Aku tahu. Dengarkan aku Heenim, aku akan selalu mencintaimu Seperti apapun kamu, aku akan tetap mencintaimu. Selamanya", ucap Hankyung meyakinkanku sekali lagi.
Aku melepaskan pelukan kami. Aku mengumpulkan seluruh keberanianku untuk menatap wajahnya. "Beri aku waktu, besok aku akan menjawab semua perasaanmu. Jadi tolong beri aku waktu untuk memikirkannya", ucapku pada akhirnya. Aku melangkah pergi, masuk ke dalam ruang pribadiku. Aku meninggalkan Hankyung dengan penuh tanya dan menorehkan lebih banyak lagi luka di dalam hatiku.
.
v(X.X) YuyaLoveSungmin (TwT)/
.
.
\(^3^)—Hankyung's P.O.V—(Q.Q)/
.
Aku senang sekali. Sejak malam itu, aku menjadi lebih dekat dengan Heechul walau status kami hanya teman. Ah, itu sudah kemajuan yang sangat pesat. Terlebih lagi, kemarin aku melihat tatapan matanya yang memancarkan cinta. Aku semakin yakin bahwa ia mencintaiku. Semalaman aku tidak bisa tidur, karena memikirkan jawaban darinya. Apakah hari ini aku akan menjadi kekasihnya secara resmi? Aku tidak sabar. Aku tidak sabar.
TOK! TOK! TOK!
Pintu kamarku diketuk pelan oleh seseorang. Benar-benar menganggu kesenanganku. Aku keluar dari gulungan selimutku—sejak tadi aku berguling-guling di atas ranjang—seperti seorang yeoja saja. Aku melangkahkan kakiku dengan malas, membuka pintu kamar dengan malas.
"Hyung, turunlah! Makanan sudah siap! Ya ampun! Kau tidak tidur semalaman? Kau benar-benar berantakan, hyung. Mandilah! Kami tunggu di bawah!", ucap Sungmin panjang lebar. Ia seperti kereta api, tak berhenti menasihatiku. Aish! Seberantakan itukah aku?
Huaaa! Aku memang harus berdandan rapi. Aku ingin membuat kejutan untuk Heenim. Chagiya~ I'm coming! Hehehe…
"Han-gege!", jerit Yeomin saat aku menuruni tangga. Ia membelalakan mata sempurna. "Huaaaa! Tampan sekali!"
"Iya. Aku tahu aku sangat tampan. Jangan berlebihan, Minnie!", balasku sambil mengacak-acak rambutnya dengan brutal.
"YA! GEGE!", omelnya kesal. Aku menjulurkan lidahku kepadanya.
"Aku akan membuat kejutan spesial untuk Heenim. Hari ini kami akan menjadi sepasang kekasih!", ucapku percaya diri.
"Percaya diri sekali kau, hyung! Hati-hati tidak sesuai harapan", lontar Sungjin ketus.
PLAAAK! Yeomin menjitak kepala Sungjin hingga namja itu meringis kesakitan.
"Jangan mematahkan semangat orang lain!", marah Yeomin pada magnae itu. Rasain kau, Sungjin. "Semangat, gege! FIGHTING!"
"Ne, Semangat!"
Aku sudah mempersiapkan semuanya. Bunga mawar merah dan cokelat sudah ada di genggaman tanganku. Aku sudah terlihat tampan dengan setelan jas kesukaanku. Tubuhku sudah wangi. Perfect. Aku sudah siap bertemu dengan kekasih hatiku. Siap meluncur ke café asmaraku. Hehehe… Semangat! Semangat!
"Selamat pagi, tuan! Mau duduk dimana?", tanya seorang pelayan. Dari wajahnya sepertinya orang baru.
"Heechul-sajangnim dimana?", tanyaku tanpa basa-basi.
"Mungkin di ruang pribadinya, tuan. Mau saya antar?", tanya pelayan itu lagi.
"Oh, tidak usah. Aku temannya. Biar aku kesana sendiri saja", jawabku seadanya.
Aku benar-benar ingin bertemu dengannya. Aku tidak sabar. Tanpa berlama-lama, aku membuka pintu ruang pribadinya. "Heenim-ah, SURPRISE!", teriakku.
Aku berharap Heechul yang menyambutku, namun tak ada orang. Ruangan itu kosong tak berpenghuni. Aku meletakkan bucket bunga dan cokelat di atas meja kerjanya, sedangkan aku memutuskan duduk di sofanya yang empuk. Udara dingin AC merasuk dalam tubuhku. Aish! Dingin! Aku jadi ingin buang air kecil.
Aku bergegas masuk ke dalam toilet, menyelesaikan urusanku yang tak bisa ditunda ini. Brrr… Leganya! Aku menatap seseorang di sebelahku, saat aku baru sadar kalau ada yang sedang melihat ke arahku. Wajah cantik itu. Aku mengerjapkan mataku berkali-kali, menurunkan pandanganku tepat kepada sesuatu yang sedang ia pegang, lebih tepatnya pada hal yang sama persis kami lakukan. Sontak ia menutup resleting celananya.
"Hankyung!". Suara manis itu membangunkan aku dari lamunanku. Ah tidak! Tidak! Ini pasti mimpi buruk. "Hankyung", panggilnya sekali lagi. Ia mendekatkan tubuhnya padaku.
"ANDWAAAAE!", teriakku lantang sambil melangkahkan kakiku pergi dari tempat laknat itu. Ini tidak mungkin. Tidak. Aku pasti bermimpi. Tidak… Tidak!
Aku menutup pintu mobilku dengan keras, berusaha mengatur napasku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, menghapus bayangan nista yang baru kulihat.
DUUUG! DUUUG! DUUUUG! Kaca jendela mobilku diketuk dengan keras. Aku menunduk, tak ingin melihat wajah itu.
Drrrt! Drrrt! Ponselku bergetar.
"Yoboseyo", jawabku pada panggilan telepon itu.
"Hankyung, please! Dengarkan penjelasanku", teriak Heechul dari luar mobil.
"Hangeng, kamu harus menikah. Māmāsudah mencarikan jodoh yang tepat untukmu. Kamu harus melihatnya. Ia benar-benar gadis yang cantik, manis, pintar, berpendidikan…"
"Aku akan melaksanakan perjodohan itu, Māmā. Pertemukan aku dengan gadis itu secepatnya", potongku sebelum Māmā meneruskan ceramahnya panjang lebar.
Aku menutup teleponku, lalu menyalakan mobilku. Aku menulikan telingaku dari gedoran dan panggilan Heechul di luar sana. Satu hal yang ingin aku lakukan, yaitu menghindari wajah pendusta bernama Heechul itu.
.
.
("^0^)/..::T.B.C::..\(TwT")
.
Thank to all readers
Brigitta Bukan Brigittiw, YunieNie, DANHOBAKMING1, summerchu
for your comments and supports.
Thanks to all silent reader!
If you wanna read my other Fanfiction, visit yuyalovesungmin . wordpress . com
Annyeong ^^
