Blind Love

Chapter 3-END

By Yuya Matsumoto

Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever

Warning: FF ini terdiri dari berbagai sekuel yang terdiri dari berbagai couple. Harap membaca semua seri-nya agar mengerti jalan ceritanya. FF ini hanya imajinasi murni milik Author. Tidak ada niat sedikit pun untuk menyinggung pihak lain. Diperuntukkan untuk menghibur.

Cast: Sungmin, Sungjin, Minho, Lee Yeomin Ha, Hangeng, Heechul, etc

Summary: Hangeng kembali ke Korea, setelah lama tinggal di China. Ia kembali untuk menghindari masalah yang tak pernah terselesaikan di China. Saat ia kembali, ia menemukan sebuah cinta. Cinta yang seharusnya tidak ia miliki. Bisakah Hangeng bertahan? Atau ia akan melepas cintanya itu?

.

.

\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9

.

.

.

.

Heechul POV (T/T)

.

.

Hari ini Hankyung akan datang untuk menanti jawaban dariku. Sebenarnya aku takut memberitahu semua kenyataan ini, tapi aku harus mengatakannya sebelum semuanya terlambat. Aku ingin ia tahu dari bibirku sendiri. Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar. Amin.

Sejak tadi pagi aku sudah tidak bisa duduk tenang di dalam ruanganku. Aku cemas dan khawatir. Bisakah aku mengatakan kebenaran? Apa Hankyung akan menerimaku? Aish! Ini benar-benar membuatku pusing. Ah, aku harus ke toilet. Ini sudah terjadi untuk ke sekian kali. Aku benar-benar tegang. Aku menarik napas teratur. Ayo, Heenim! Kamu harus tenang. Fighting!

Sebuah suara derap kaki terdengar menuju toilet ini. Ah, mungkin salah satu karyawanku sedang kebelet pipis sama sepertiku, berhubung ini adalah toilet khusus karyawan. Hmm… Indra penciumanku menerima rangsangan yang sudah biasa kuterima. Ini… Ini kan wangi parfumnya. Ah, tidak mungkin!

Aku menolehkan pandanganku ke kanan, tepat dimana seseorang yang telah mengisi hatiku sedang berdiri. Deg! Deg! Deg! Jantungku berdetak dengan cepat. Aku terpaku. Pikiranku kosong. Oh Tuhan! Ia memalingkan wajahnya kepadaku. Kami terdiam, saling menyalurkan pandangan bingung dan tak percaya. Ia melirik ke bagian bawahku, sontak aku langsung menutup resleting celanaku.

"Hankyung?", kagetku, akhirnya mengeluarkan suara yang sempat tersangkut di kerongkongan ini. Hankyung membelalakkan matanya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan tak percaya atas apa yang baru ia lihat. "Hankyung", panggilku sekali lagi. Aku mendekatkan tubuhku padanya.

"ANDWAAAAE!", teriak Hankyung lantang. Ia berlari keluar toilet ini. Wajahnya benar-benar panik dan ketakutan. Ya, Tuhan!

Hankyung masuk ke dalam mobilnya. DUUUG! DUUUG! DUUUUG! Aku menggedor kaca jendela mobilnya. Aku berharap Hankyung akan mendengarkan penjelasan dariku. Ia hanya menunduk, seakan tak ingin melihat wajahku.

"Hankyung, please! Dengarkan penjelasanku", teriakku dari luar mobil.

Hankyung tidak mempedulikan teriakan-teriakan dariku. Ia terfokus dengan pembicaraannya di telepon. Aku mohon, Han. Dengarkan dulu penjelasanku. Aish! Dadaku nyeri melihat sikap acuhnya itu. DUUUG! DUUUG! DUUUUG! Aku menggedor kaca jendela mobilnya lagi. Aku akan melakukan ini sampai Han mau mendengarkan penjelasanku. Aku tidak ingin kami berakhir seperti ini. Aku mohon, Han.

Ceklek! Brmmm… Mobil Han melaju dengan kencang, meninggalkan aku sendirian di depan Café. Tubuhku bergetar hebat. Aku menggigit bibir bawahku. Lemas. Rasanya lemas sekali tubuh ini, seakan nyawaku telah menghilang terbawa bersamanya. Aku mendongakkan kepalaku ke atas, berharap tak ada setetes airmata pun yang akan mengalir. Tanganku terkepal kuat. Ini benar-benar menyiksaku. Seperti inikah perasaan patah hati?

Aku melangkahkan kakiku gontai ke dalam ruangan pribadiku. Aku melihat sebucket bunga mawar dan sekotak cokelat di atas meja pribadiku. Aku mengambil dua buah benda itu, memeluknya dengan erat. Tanpa bisa aku bendung lagi, airmataku membuncah keluar dari pelupuk mata. Aku menangis sejadi-jadinya. Napasku tersengal-sengal. Aku sulit untuk bernapas dengan teratur. Dadaku terlalu sesak untuk menerima kenyataan ini. Aku terisak kuat, tak mampu mengatakan apapun.

.

.

Author POV

.

.

Hankyung membanting seluruh barangnya di dalam kamar. Suara benda pecah atau hantaman antar benda tak dapat diredam hingga menelusuk telinga siapapun di dalam rumah itu. Ahjussi dan ahjumma, yang sedang berada di rumah, merasa khawatir dengan keadaan tuan mudanya. Mereka naik ke lantai dua, berusaha menanyakan kabar sang majikan.

"Tuan? Apakah tuan baik-baik saja?", tanya ahjumma cemas.

Tidak ada jawaban dari dalam kamar itu.

TOK! TOK! TOK! Ahjussi memberanikan diri untuk mengetuk pintu. "Tuan, ada apa?".

"Tolong tinggalkan aku sendiri! Jangan ganggu aku!", teriak Hankyung dari dalam. Napasnya memburu. Kepalanya terasa berat. Ia tidak bisa berpikir jernih saat ini. Hankyung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia meletakkan salah satu lengannya di atas kepala. Hankyung memandang langit kamarnya yang putih bersih, mencari ketenangan untuk dirinya saat ini. Hankyung berusaha menutup matanya, ingin mengalihkan dunianya ke dalam mimpi indah. Namun ia tidak mampu, karena ia hanya bisa melihat bayang-bayang diri Heechul. Seluruh tipu daya Heechul dan rasa kesal karena telah dikhianati. Ia tidak habis pikir mengapa Heechul bisa menipunya sebegini lama, padahal ia benar-benar mencintai namja itu sepenuh hati. Memikirkan kenyataan ini hanya membuat kepala Hankyung semakin pusing. Ia mengambil aspirin, lalu berniat tidur—benar-benar tidur.

"Dimana Hankyung-hyung?", tanya Sungmin saat baru saja sampai dari pulang bekerja. Sungmin segera mendudukkan tubuhnya di antar kedua adiknya yang sedang asyik menonton film di ruang keluarga.

Sungjin hanya mengangkat bahunya. Sepertinya ia tidak terlalu peduli.

"Mungkin sedang bermesraan dengan sajangnim.", jawab Yuya dengan senyum jahilnya.

"Mwo? Sajangnim? Apa hubungannya? Memangnya mereka ada hubungan apa?", tanya Sungmin penasaran. Ia mengambil segenggam popcorn yang sedang dilahap oleh Sungjin.

CETAAAK! Yuya menyentil kening Sungmin. "Makanya jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, oppa. Mereka itu akan segera menjadi sepasang kekasih.", jelas Yuya.

Sungmin mengerucutkan bibirnya, merasa kesal dengan sikap adiknya. CUP! "Ya!", bentak Sungmin semakin kesal. Ia menghapus jejak bibir Yuya yang baru saja mengenai bibirnya. "Jangan asal menciumku! Aish!".

Yuya menjulurkan lidahnya. "Siapa suruh bersikap aegyo seperti itu. Menggemaskan tahu, oppa.", balasnya sambil mencubit pipi Sungmin.

Akhirnya kedua kakak-adik itu saling cubit dan dorong-mendorong, memulai aktivitas perkelahian mereka yang terlalu kekanak-kanakkan. "Kalian ini seperti anak kecil.", cibir Sungjin. Kata-kata Sungjin itu membuat kedua orang itu menggoda Sungjin, lalu mengajak mereka bertiga bercengkrama di ruang keluarga itu.

Keesokan harinya, Yuya pergi ke tempat kerjanya. Suasana sepi sejak pagi, tidak ada suara-suara berisik dari boss-nya itu. Biasanya Heechul akan mengatur semua pergerakan karyawannya dan menangani sendiri bagian keuangan di cashier. Hari ini semua terlihat berbeda. Yuya merasakan hal yang aneh di sini. Ia mengetuk pintu ruang pribadi Heechul, namun tidak ada jawaban apapun. Akhirnya Yuya memutuskan untuk membuka pintu itu.

"Kemana sajangnim? Aneh sekali. Apakah ia baik-baik saja? Sepertinya aku harus menanyakan hal ini kepada Han-gege.", ucap Yuya pada dirinya sendiri.

Sejak seminggu yang lalu, Yuya selalu berusaha mencari kabar dari Heechul ataupun Hankyung, tapi mereka berdua seakan ditelan bumi. Belum lagi kesibukan Yuya di sekolah dan di Café membuatnya sulit untuk menghubungi dua namja itu. Sungmin dan Sungjin pun tidak tahu kemana saja Hankyung menghabiskan hari-harinya selama seminggu ini. Hankyung tidak pernah berkumpul saat sarapan ataupun makan malam. Ahjussi dan Ahjumma hanya mengatakan bahwa Hankyung berangkat subuh dan pulang larut malam. Keanehan sikap dari keduanya semakin memperkuat dugaan Yuya tentang hubungan keduanya. Apakah Han-gege mengetahui kebenaran jati diri Heechul sajangnim-nya?

"Ya! Gege mau kemana?", tanya Yuya saat memergoki Hankyung baru saja keluar dari dalam kamarnya. Hari ini adalah hari minggu dan sejak semalam Yuya berjaga di depan kamar Hankyung. Ia tidak ingin masalah ini terus berlarut-larut tanpa ada penyelesaian.

Hankyung membelalakan matanya kaget saat kepergiannya dicegah oleh Yuya. Usahanya pagi ini untuk kabur sepertinya gagal. Hankyung menghela napas, tidak ingin mempersulit keadaannya. Ia tahu Yuya bukan orang yang mudah untuk dihentikan. "Aku akan pergi ke bandara.", jelasnya singkat.

"Ngapain?", tanya Yuya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sekarang ia sudah berdiri di depan Hankyung.

Hankyung memutar bolamatanya malas. "Mau ngeliatin pesawat terbang. Kali saja tuh pesawat bawa Taylor Swift terus nggak sengaja jatuh di Korea, jadi aku bisa langsung nikahin dia.", jawab Hankyung ngelantur. (Mentang2 waktu itu foto bareng taylor swift jd belagu nih oppa. Hangeng: Berisik aja loe, Yuya!)

"Jawab yang benar, gege. Ngapain ke bandara? Nggak mungkin pula oppa mau bunuh diri di sana kan. Mendingan di pohon tauge sono, biar cepat mati.", sini Yuya.

PLAAAK! Hankyung menjitak kepala Yuya, merasa sebal jika harus adu mulut dengan yeoja itu. "Sudah jangan banyak cincong. Mau ikut atau tidak?".

"MAUUUU!", jawab Yuya, Sungmin dan Sungjin bersamaan.

Hankyung mundur beberapa langkah, karena kaget dengan kedatangan dua orang namja lain yang entah darimana asalnya. "Kaliaaaan?", jeritnya bingung bercampur kaget.

"Hehehehe…", cengir ketiganya seperti orang tanpa dosa. Tiga bersaudara itu masuk ke dalam kamar masing-masing untuk bergegas berganti pakaian. Sedangkan Hankyung duduk di sofa ruang tamu, menarik napas panjang—berusaha memahami sikap autis tiga orang saudara itu.

Sesampainya di bandara, Hankyung menyambut dua orang yeoja dari penerbangan China Airlines. Sungmin dan Yuya memeluk seorang yeoja paruh baya yang baru saja dipeluk oleh Hankyung, yaitu Hankyung Māmā. Sungjin hanya terbengong melihat pemandangan di depannya. Ia belum pernah mengenal nyonya Tan itu, jadi ia tidak tahu harus bersikap seperti apa.

"Ah, ini pasti Sungjin. Nǐ shuài.", puji nyonya Tan dengan dialek Cina-nya yang kental. Yeoja paruh baya itu segera memeluk Sungjin yang dibalas senyuman oleh namja muda itu. "Aaah, perkenalkan ini Mei Mei, calon istri Hangeng.", lanjutnya setelah melepas pelukan dari Sungjin. Ia memperkenalkan yeoja cantik yang sedaritadi berdiri di sampingnya.

"Hāi, wǒ shì Měi Měi de. Wènhòu.", ucap Mei Mei dengan bahasa Cina kepada Sungmin, Sungjin dan Yuya yang kemudian hanya dibalas dengan kedipan mata oleh ketiganya. Wajarlah tiga saudara ini tidak bisa berbahasa Cina.

Hankyung menahan tawanya. Ia benar-benar tak menyangka kalau tiga serangkai ini akan memasang wajah terbabbo yang pernah ia lihat seumur hidupnya. "Mei Mei, ini Sungmin, Yuya dan Sungjin. Mereka adalah sepupuku. Mereka tidak bisa berbahasa Cina, jadi sebaiknya kamu gunakan bahasa Korea-mu sedikit-sedikit.", jelas Hankyung yang dijawab dengan anggukan mengerti oleh Mei.

"Sungminnie, bolehkah ahjumma tinggal di rumahmu sementara waktu?", tanya nyonya Tan sambil merangkul lengan Sungmin dan menatap namja tampan itu dengan pandangan memelas.

Sungmin menghela napas panjang. 'Oh my god! Semoga bukan pertanda buruk dan semoga Yuya tidak berbuat macam-macam. Amin.', doa Sungmin dalam hati. Ia melirik ke arah Yuya yang memelototi yeoja bernama Mei Mei itu. "Silakan saja, ahjumma.", jawab Sungmin kaku. Ia menelan ludah kecut saat Yuya menatapnya tajam. 'Kyaaaa! Matilah aku!', jerit Sungmin dalam hati.

"Ayo pulang!", gumam Yuya sinis, lalu melangkahkan kakinya besar-besar menjauh dari empat orang itu.

Hankyung dan Sungmin sweatdrop melingkah tingkah yeodongsaeng mereka. Keduanya saling pandang seakan berkata yuya-ngambek-siap-siap-dapat-omelan-darinya. Dua namja itu menghela napas panjang, sebelum akhirnya mengangkat beberapa koper milik Mei Mei dan Nyonya Tan dibantu oleh Sungjin, tentunya.

BRAAAAAK! "Ya! Jelaskan padaku Han-gege! Apa maksudmu membawa tunanganmu ke Korea? Bagaimana dengan sajangnim?", tanya Yuya kesal, setelah membanting keras pintu kamar Hankyung.

Sebelumnya nyonya Tan dan Mei Mei berbincang di ruang tamu, lalu menjelaskan kedatangan mereka ke negara ini. Nyonya Tan pun menceritakan kepada Lee bersaudara bahwa Hankyung akan segera bertunangan dengan yeoja manis itu. Nyonya Tan berharap dengan kedatangan mereka, Hankyung dan Mei Mei bisa menjadi dekat, lalu segera melaksanakan upacara pernikahan mereka di Cina.

Hankyung hanya diam, tidak menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari Yuya. Ia merasa semua itu tidak diperlukan, terlebih lagi jika menyangkut namja berwajah cantik itu.

"Ya! Aku bicara padamu, gege! Kamu bilang kamu mencintai sajangnim. Kamu tidak pernah bercerita tentang tunanganmu. Apakah ini alasannya gege datang ke Korea? Untuk kabur dari acara pertunangan ini?".

JLEB! Pertanyaan Yuya mengena dengan masalah yang ia hadapi. Kurang lebih seperti itu. "Diamlah, Yeomin! Kamu tidak tahu permasalahanku. Jadi berhenti bersikap seakan kamu tahu segalanya.", ucap Hankyung berusaha sabar menghadapi sikap Yuya. Namja berkebangsaan Cina itu bangkit dari atas ranjang, lalu menghampiri lemari pakaiannya.

"Tidak seharusnya gege bersikap sejahat ini kepada sajangnim. Sudah seminggu ini aku tidak melihatnya. Aku mencemaskannya. Gege jahat! Sajangnim pasti sedih!".

BRAAAAK! Hankyung menutup pintu lemari pakaiannya dengan keras. "Siapa yang lebih jahat? Selama ini kalian merahasiakan hal sebesar itu dariku! Kalian berbohong padaku. Namja banci itu juga bersikap keterlaluan. Ia menggodaku, lalu membuatku bertindak di luar normal. Cih! Dia pikir aku bisa jatuh dalam pesona. Dengar ya! Aku tidak akan menjadi gay sampai kapanpun. Aku membenci namja banci itu.".

PLAAAAK! Yuya menampar Hankyung. Airmatanya meleleh dari kedua kelopak matanya. "Gege tidak akan pernah tahu rasanya mencintai seseorang dengan tulus lalu ditolak mentah-mentah. Dicampakkan seperti itu benar-benar menyakitkan. Aku pikir gege sungguh-sungguh mencintai sajangnim, makanya aku membantumu. Tapi… Ah sudahlah! Aku harap gege tidak akan menyesal dengan ucapan gege barusan.", kata Yuya pelan, namun terdengar menyakitkan.

"Yeomin, Mian…", lirih Hankyung penuh penyesalan. Hankyung mengurungkan niatnya untuk meraih yeoja itu ke sisinya. Yuya melangkah pergi dari kamar sepupunya itu masih dengan airmata yang membasahi kedua pipinya.

.

.

Heechul POV (T/T)

.

.

Aku mengusap airmataku untuk ke sekian kalinya. Ini sudah dua minggu sejak pertengkaran kami sebelumnya. Hankyung masih belum dapat aku hubungi. Aku sendiri enggan datang ke Café. Aku tidak ingin bertemu dengan Yuya dan diberondong berbagai pertanyaan yang akan menjerumuskanku ke dalam kesakitan. Sudah pasti yeoja itu membela sepupunya. Jelas-jelas aku bersalah disini. Aaah~! Aku benci begini.

"Meong~!". Aku tersentak kaget saat Heebum—seekor Russian blue cat yang aku pungut di jalan waktu itu—mendekatiku. Ah, aku jadi ingat! Saat itu pertama kalinya Hankyung menanyakan namaku. "Meong~!". Suara Heebum menginterupsi kegiatan melamunku.

Aku mengangkat tubuh kucing cantikku itu, meletakkan di atas pangkuanku. "Waeyo, Heebum-ah?", tanyaku bingung. Heebum mengeong beberapa kali, terdengar sangat manja. Heebum menjilat-jilat kakinya. Ah! Aku tahu! "Kamu lapar? Ayo kita makan, Heebum-ah!".

Aku menggendong Heebum. Kami memang belum makan dari pagi ini. Pantas saja Heebum mengeong sedaritadi. Aku membuka kulkas, mencari sebotol susu untuk Heebum. Ah, sial! Semua persediaan makanan habis rupanya. Aku memang belum berbelanja sejak satu minggu yang lalu.

"Heebum-chagi, kamu tunggu di rumah ya. Appa mau beli makanan dulu. Kamu makan ini. Appa pergi sebentar. Jadi anak baik ya di rumah.", pamitku sebelum meninggalkan Heebum dengan semangkuk makanan kucing yang tersisa. Heebum hanya mengeong pelan, setelahnya ia sibuk menghabiskan menu makan malamnya.

.

(^/^)…::YuyaLoveSungmin::…(ToT)

.

Aku bersiul senang sambil mengintip lagi beberapa kantung belanja yang memenuhi kedua tanganku. "Heebum pasti akan senang dengan semua makanan ini. Hmm… Malam ini aku akan memasak enak. Sudah lama tidak memanjakan diriku sendiri.", ucapku riang sambil melangkah pelan ke luar pusat perbelanjaan.

Tiba-tiba mataku menangkap bayangan orang yang beberapa hari ini menjadi masalahku, Hankyung. Namja tampan itu tidak sendirian. Ia bersama dengan seorang yeoja, berjalan masuk ke dalam sebuah restaurant. Aku mengikuti keduanya seperti penguntit. Ah, aku tidak peduli. Aku hanya merindukan sosok namja itu.

Hankyung dan yeoja itu terlihat sedang berbincang akrab. Aku tidak mengerti dengan ucapan mereka. Sepertinya mereka menggunakan bahasa Cina. Ah, menyebalkan. Aku memutuskan untuk menunggu waktu yang tepat sambil menyantap makan malamku di restaurant itu.

Kenapa mereka tidak selesai makannya? Sebenarnya mereka membicarakan apa sih? Hari sudah semakin malam. Aku harus memberi makan Heebum lagi, takutnya ia merasa kesepian di rumah. Ya! Sepertinya aku memang harus menghampiri namja jelek itu dan menyelesaikan masalah kami. Aku membayar bill-ku, lalu mendatangi meja kedua orang itu.

"Hankyung-ssi!", sapaku sopan kepada Hankyung. Namja Cina itu membelalakkan matanya. Cih! Dia terlalu kaget karena aku mempergokinya bersama seorang yeoja. Berselingkuh, eoh?

"Oh, Heechul-ssi. Sedang apa kamu di sini?", tanyanya dengan wajah datar. Secepat itukah ia merubah mimik wajahnya? Aktor ulung rupanya.

"Siapa yeoja ini?", tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya sama sekali. Aku menunjuk yeoja bermata sipit itu dengan tidak sopan. Hatiku sakit saat mengetahui Hankyung memang mempermainkanku.

"Apa pedulimu? Memangnya kita punya hubungan apa sampai-sampai kamu harus tahu siapa dia?", balas Hankyung menyudutkanku.

Argh! Kami memang belum memiliki hubungan apapun. Kenapa aku harus bersikap memalukan seperti ini? Seharusnya aku bisa bersikap tenang. Aku tidak punya hak apapun untuk kesal kepadanya.

"Hmm? Bisakah kamu menjawab pertanyaanku? Jika tidak, bisakah kamu pergi sekarang? Aku sedang ada urusan penting bersamanya.", lanjut Hankyung sinis setelah aku tidak juga menjawab pertanyaannya.

Aish! Perkataannya benar-benar pedas. Dia belajar darimana bersikap sekasar ini padaku? "Baiklah. Maaf, jika aku menganggu kalian. Silakan melanjutkan urusan kalian lagi.", jawabku kaku. Aku menelan ludahku kecut. Ia benar-benar keterlaluan.

"Heechul-ssi!", panggil Hankyung saat aku sudah menjauh dari mejanya. Ah, apakah ia ingin meminta maaf padaku karena sikap kasarnya? Aku membalik badanku, tersenyum penuh harap. "Kantung belanjamu tertinggal. Jangan lupa memberi makan Heebum. Jangan sampai ia sakit.", lanjutnya sambil memberikan satu kantung belanjaan yang isinya berkotak-kotak makanan dan susu untuk Heebum.

"Heebum? Apa kamu hanya mengkhawatirkannya?", tanyaku pelan.

Hankyung menyeringai, lalu mengangguk pelan. "Iya. Memangnya kamu pikir siapa lagi yang harus aku cemaskan?".

"Aku…", jawabku lirih dengan kepala menunduk. Aku menarik napasku. "Oke. Aku pergi dulu. Selamat bersenang-senang. Sepertinya kamu berharap tidak berjumpa lagi denganku, jadi aku tidak akan mengucapkan sampai jumpa.".

Aku melenggang pergi dari hadapan namja Cina menyebalkan itu. Dadaku sakit. Sesak sekali rasanya. Aku memukul dadaku beberapa kali agar rasa sakit ini menghilang, tapi… Tetap saja aku merasakan sakitnya. Kelopak mataku memanas. Tahan Heechullie! Jangan sampai kamu menangis di sini.

BRAAAK! SRAAAK! BUG! BUG! BUG!

"AAAAAAARGH! HANKYUNG SIALAN!", teriakku di dalam mobil, setelah memukul setir dengan keras. Aku benar-benar kesal dan sedih. Entahlah bagaimana perasaanku saat ini. "Hiks… Hiks…". Isak tangisku tak bisa kutahan lagi. Airmataku merembes ke kedua pipiku. Aku memeluk erat setir mobil, mengeluarkan semua perasaan yang membuncah.

.

.

(^/^)…::YuyaLoveSungmin::…(ToT)

.

.

"Sajangnim!", teriak Yuya setelah ia membanting pintu ruanganku. "Huaaaa… Aku kangen! Kemana saja?", tanyanya dengan riang. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Aku yakin jika tidak terhalang meja kerjaku, pasti yeoja energik ini langsung memelukku.

Aku tersenyum. "Aku hanya berlibur sebentar saja. Hehehe… Café sepi ya? Bukannya enak tidak ada yang memarahimu lagi?", kataku sambil menandatangani beberapa dokumen.

Yuya mengerucutkan bibirnya, menyibirku pelan. "Berlibur? Apaan tuh liburan kok sampai tiga minggu? Kemana saja? Aku tidak bisa menghubungimu, sajangnim! Aku takut kamu lupa membayar gajiku.".

"Mwoya? Dasar gadis nakal!", omelku setelah menjitak kepala yeoja di depanku.

Yuya mengelus kepalanya yang pasti berdenyut nyeri. Ia duduk di kursi depan mejaku. Raut wajahnya berubah serius. Tidak ada lagi senyum polosnya ataupun seringai nakalnya. Hanya ada keseriusan. "Apa sajangnim sudah merasa lebih baik?".

Aku mengalihkan pandanganku kembali ke atas dokumen, berpura-pura membacanya dengan teliti. Ah, aku tidak mau membicarakan hal tentangnya saat ini. SREEET! Yuya menggenggam tanganku. Aku terpaksa memandang wajah yeoja cantik itu. Eh? Dia menangis?

"Maafkan gege-ku, sajangnim. Dia… Dia… Aku tidak tahu kenapa dia bisa seperti itu. Hiks… Aku mohon maafkan dia. Lupakan dia, sajangnim. Aku tidak ingin sajangnim tersakiti lagi.", ucapnya membuat hatiku terenyuh.

Aku berusaha mengukir sebuah lengkungan di pipiku. "Cheonmannayo. Ini semua kesalahanku. Seharusnya aku mengatakan yang sebenarnya, bahwa aku namja. Aku yang terlalu percaya diri, berharap ia sama sepertiku, gay.". Rasa sakit itu menjalar masuk ke dalam hatiku kembali. Perih dan terluka. Aku tak mampu menahan sakitnya.

Yuya menggeleng beberapa kali. "Aniya! Ini bukan kesalahan sajangnim atau gege. Tidak ada yang salah dengan hati kalian. Hanya saja… hanya saja… kalian belum bisa menyadari perasaan kalian sendiri. Gege hanya terbawa emosinya. Aku yakin ia mencintaimu, sajangnim. Dia…"

"STOP, YUYA! Please, aku nggak mau membicarakan hal ini. Aku tidak ingin terpuruk lagi. Di sini sakit sekali. Mungkin orang aneh sepertiku ini memang tidak pantas dicintai oleh siapapun.", akuku sedih. Aku memukul dadaku beberapa kali.

"Tidak. Semua itu salah, sajangnim. Anda hanya saja belum bertemu dengan orang yang tepat. Aku yakin orang seperti Anda pasti bahagia. Bersabarlah, sajangnim. Jika memang gege bukan jodoh Anda, lepaskanlah. Jangan sakiti hatimu lagi.", bisik Yuya tepat di telingaku. Ia memeluk tubuhku erat. Isak tangisku semakin keras. Aku hanya bisa menelan pahit kisah ini sendirian.

BRAAAAAK! "Yuya! Ada Han-gege di luar!", teriak seseorang dari arah pintu. Yuya melepas pelukannya. "Eh, mianhae. Aku tidak bermaksud menganggu.", lanjut orang itu—Goo Young, karyawanku. Ia sepertinya salah paham.

Aku dan Yuya saling bertukar pandang, lalu kami segera bergegas keluar ruanganku. Aku menghapus jejak airmataku. Semoga saja bukan pertanda buruk.

"Ada apa gege, ahjumma, Mei Mei, Sungjin dan Oppa ke sini?", tanya Yuya kepada beberapa orang yang duduk di salah satu meja. "Tumben sekali! Apa ada hal yang penting?", tanyanya dengan nada menginterograsi.

Sungmin dan Sungjin hanya mengangkat bahu mereka. Nampaknya kedua kakak-adik itu tidak ingin terlalu ikut campur. Sebenarnya ada apa ini? Aku hanya memperhatikan mereka dari sudut ruangan.

Seorang yeoja paruh baya menghampiri Yuya dengan wajah berseri-seri. "Besok Hankyung dan Mei Mei akan bertunangan. Aku sudah mengundang beberapa relasi terdekat di Seoul. Kami tidak sabar memberitahukan berita ini kepadamu. Beberapa hari ini kamu terlihat sangat sibuk, jadi kami tidak bisa mengabarkanmu. Hankyung sudah membeli cincin untuk…".

"APA? TUNANGAN? Ahjumma tidak salah bicara kan?", bentak Yuya, memotong perkataan yeoja itu tanpa sopan santun.

Ah, tidak! Jangan katakan ia akan marah-marah di sini. Beberapa pengunjung menatap heran kepada Yuya, bahkan para pelayan menghentikan kegiatan mereka. Aku mohon jangan ungkit-ungkit masalah kami di sini, Yuya. Aku tahu kami memang tidak bisa bersatu. Aku mohon jangan buat kekacauan disini.

Hankyung melirik diriku dengan tatapan tajamnya. Aku menundukkan kepala dalam diam. Sungguh! Aku tidak ada sangkut pautnya dengan ini, Hannie. Aku ingin sekali mengatakan itu padanya, tapi itu semua pasti akan menambah buruk suasana.

"Jaga bicaramu, Lee Yeomin Ha. Aku ini ahjumma-mu. Seharusnya kamu bersikap sopan padaku.", marah yeoja paruh baya itu .

"Hush! Hush! Jangan mengalihkan pembicaraan, ahjumma. Aku minta maaf telah berbicara kasar padamu, tapi semua ini tidak benar. Apa Anda tahu siapa yang dicintai Han-gege? Ia kabur dari Cina karena tidak ingin menikah dengan yeoja ini. Apa Anda mau mengelak? Apakah bisnis lebih penting dibandingkan kebahagiaan gege? Seharusnya Anda membuka mata hati Anda, nyonya!".

PLAAAAAK! Semua orang dalam ruangan ini menahan napas saat yeoja itu menampar wajah Yuya. Sungmin terlihat akan mendekati adiknya, namun tangan Sungjin menahan pergerakannya. "DIAM KAU, ANAK KURANG AJAR!", teriak yeoja itu penuh amarah.

SREEEEEET!

"Tatap wajah ini, Gege! Katakan di depan wajahnya, kalau gege tidak pernah mencintainya. KATAKAN GEGE!", teriak Yuya di depan Hankyung. Aku menelan ludahku pahit. Tubuhku bergetar ketakutan. Yuya menarikku secara paksa tadi, tanpa peduli rasa sakit yang baru diterima pipinya.

Hankyung diam, tidak menjawab apapun.

"Oh baiklah kalau memang gege tidak mau mengakuinya. Sajangnim, apa Anda mencintai Han-gege?", tanya Yuya tiba-tiba.

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru Café-ku. Semua pandangan ini menusukku. Aku kembali menatap wajah tampan di hadapanku. Mungkin ini saatnya aku mengakhiri segalanya. Aku menarik napasku, membulatkan tekadku dalam mengambil keputusan ini.

"TIDAK! Aku tidak mencintainya.", jawabku tegas.

Yuya mengernyitkan dahinya. Ia menatapku seakan berkata apa-apaan-ini-sajangnim. Maaf, Yuya! Aku hanya ingin dia bahagia.

"Jadi gege tidak mencintai sajangnim? Begitu juga dengan sebaliknya? Baiklah kalau begitu.", ucap Yuya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Karena sajangnim tidak mencintai Han-gege dan kalian berdua tidak memiliki hubungan apapun, aku berhak melakukan ini.".

SREEEEET! Yuya melingkarkan lengannya di leherku. Ia berjinjit, berusaha menggapaiku. "Sajangnim, SARANGHAE…". CUP!

Aku membelalakkan mataku saat bibir merah itu menyentuh bibirku sekilas. BRAAAAK! Tubuh Yuya tiba-tiba terpelanting ke belakang. GREEEEP! Tubuhku dipeluk dengan erat.

"APA-APAAN KAU INI? BERANI-BERANINYA MENCIUM HEENIM DI HADAPANKU!", teriak orang yang memelukku kepada Yuya. Teriakannya menyakiti telingaku, namun menerbangkan kupu-kupu di dadaku. Aku seperti melayang.

"Apa maksud semua ini, Hangeng? Sandiwara macam apa yang kalian lakukan?", teriak yeoja paruh baya itu. Hankyung menundukkan kepalanya, tak mampu menjawab pertanyaan itu.

Yuya berdiri dengan dibantu Sungmin dan Sungjin. "Mereka saling mencintai, ahjumma.", kata Sungmin, memecahkan keheningan yang sempat menyelimuti kami.

"APAAAAA?", jerit yeoja paruh baya itu tak percaya. "Lepaskan anakku!", bentaknya sambil menarik Hankyung dari tubuhku. "Lepaskan dia, dasar namja menjijikkan!". PLAAAAK!

Aku menyentuh wajahku yang baru saja mendapatkan hukuman dari yeoja itu—eomma Hankyung. Bukan aku yang memeluknya, tapi kenapa aku harus mendapatkan tamparan seperti ini? Hankyung hanya ingin mempertahankanku. Apa itu salah?

"Kau menjijikkan! Mati saja sendiri dengan semua keanehanmu. Kamu pikir kamu bisa membuat anakku menjadi makhluk hina sepertimu. DASAR GAY MENJIJIKKAN! Cuih!". Eomma Hankyung meludahi wajahku. Aku hanya bisa diam. Memang aku yang bersalah. Aku pantas mendapatkan semua ini.

Yeoja paruh baya itu menarik tangan Hankyung, tak membiarkan Hankyung untuk lepas dari genggamannya. "Ayo pulang! Kita selesaikan semua ini di rumah! Kamu juga pulang. Dasar bocah bandel!". Eomma Hankyung menarik telinga Yuya dan Hankyung, membuat keduanya terpaksa mengikuti yeoja itu.

"Tolong jangan bersikap kasar pada adikku, ahjumma.". Sungmin menahan tangan eomma Hankyung agar yeoja itu melepaskan jewerannya pada telinga Yuya.

Eomma Hankyung melepaskan Yuya. "Kalau begitu urusi adikmu ini. Kita pulang sekarang.", perintahnya mutlak.

Yuya menoleh ke arahku. "Sajangnim, mianhae!", ucapnya pelan, namun aku masih bisa membaca bahasa bibirnya.

BRAAAAK! TRIIIING! Keluarga itu keluar dari cafeku dengan membanting pintu, membuat kerincingan di atas pintu terlepas, lalu menghantam lantai.

Kakiku lemas. Aku terjatuh di atas lantai keramik. Kejadian tadi terlalu cepat. Aku tidak bisa mencerna semua ini. Semua seperti mimpi. Aku harap ini hanya mimpi. Kenapa jadi semakin berantakan?

"Ih, ternyata dia gay?".

"Aku jadi malas ke Café ini lagi.".

"Jangan-jangan Café ini khusus gay ya? Euh! Menjijikkan.".

"Oh my god! Pantas saja wajahnya cantik, ternyata ia gay."

"Gay? Memalukan!"

Bisik-bisik di sekelilingku semakin keras. Aku menutup telingaku, berharap kata-kata menusuk itu tidak tertuju padaku. Mengapa hal ini terjadi lagi padaku? Apa salahku, Tuhan?

.

.

(#O_O) Hankyung POV

.

.

PLAAAK! PLAAAK! Māmāmenampar wajahku dan Yeomin bergantian. Kami berdua berdiri di depannya, seperti tersangka di dalam pengadilan. "Kalian berdua mencoreng nama keluarga Lee!".

Sungmin memeluk tubuh adik kesayangannya itu. "Mianhae, ahjumma. Bisakah Anda tidak kasar pada Yuya? Dia hanya terlalu muda sehingga tidak bisa menanggapi permasalahan dengan tenang. Saya mohon maafkan dia. Tolong selesaikan masalah Anda dan Hankyung dengan baik-baik tanpa melibatkan adik saya ini.", bela Sungmin.

Wajah Yeomin sedikit membiru. Mungkin tamparan eomma sebelumnya membekaskan luka di pipi yeoja itu. Aku tahu betul, jika bukan status Māmā itu adalah ahjumma Sungmin, pasti Sungmin akan menghabisi Māmā. Dia itu sister complex. Aish! Kasihan Yeomin!

"Ajari adikmu sopan santun atau aku akan melaporkannya kepada kedua orangtuamu. Mungkin saja mereka akan membuang anak hina ini ke jalanan seperti dulu.", ucap Māmākasar.

Sungmin mengangguk. Aku melihat tangannya terkepal keras di samping pahanya. "Baik, ahjumma. Bolehkah aku membawa adikku ke dalam kamar?", tanyanya, masih memeluk Yuya. Māmā mengangguk. Tanpa menunggu lama, Sungmin dan Sungjin menuntun Yeomin ke kamarnya di lantai atas.

"Hei, apa yang kamu lihat?", interupsi Māmā saat aku masih dengan setia melihat tiga bersaudara itu. Aku menundukkan kepalaku.

"Sejak kapan aku mengajarimu bersikap di luar batas begini, Han?", tanya Māmāfrustasi. Māmāmenjatuhkan dirinya di atas sofa, sepertinya ia sudah lelah mengeluarkan emosinya dengan teriakan. "Jadi kamu ke Korea untuk menjadi gay sepertinya. Dimana akal sehatmu?".

Aku menghampiri Māmā, berlutut di hadapannya. "Aku mencintainya, Māmā. Biarkan aku bahagia sekali ini saja. Aku lelah menjadi robotmu. Aku lelah terus menerus mengikuti keinginanmu sedangkan aku tidak pernah bahagia. Biarkan aku bersamanya, Māmā.", mohonku kepada Māmā. Aku tahu ia menyayangiku. Aku berharap permintaan tulusku bisa meluluhkan hatinya.

Māmā menggeleng pelan. "Tidak. Sampai kapan pun aku tidak bisa menerimanya. Itu hanya akan mencoreng nama keluarga Tan.".

"Aku ini bukan anak Tuan Tan. Dia selalu mempermasalahkan akte kelahiranku dan statusku. Aku ini anak haram, Māmā. Aku sakit hati di Cina. Aku merasakan kehangatan keluarga di sini. Bukan salah Heenim kalau aku mencintainya.", kataku berterus terang. Akhirnya aku mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini aku pendam.

PLAAAAK! Māmā menamparku sekali lagi. "Bicara apa kamu ini? Dia itu Pāpā kandung-mu. Kamu anaknya. Kamu jangan bodoh dan terpancing permasalahan itu. Biarkan Māmāyang menyelesaikan data-datamu. Kamu anak kami. Tolong, jangan salah paham, Han. Argh! Kepalaku pusing.", keluh Māmāsambil memegang kepalanya.

"Biar aku yang bicara dengan Māmā. Aku akan berusaha merayunya. Tenang saja!". Mei Mei memeluk Māmā, membantunya berjalan ke kamarnya. Aku menghela napas panjang. Aku menyandarkan tubuhku ke atas sofa, menutup mataku dengan salah satu lengan. Mianhae, Heenim. Aku…

Sebenarnya aku datang ke Korea karena permasalahanku denganPāpā. Ia selalu memintaku untuk menggantikannya di perusahaan. Dia memaksaku untuk menikah dengan anak rekan bisnisnya. Sejak kecil ia selalu memaksakan kehendaknya terhadapku. Pāpājarang sekali berada di rumah. Setiap kali ia marah, ia akan mengatakan bahwa aku bukanlah anaknya. Aku selalu bertanya-tanya dimana surat-surat kelahiranku. Sedangkan Māmāhanya diam tak menjawab semua pertanyaanku itu. Aku bingung dengan tujuan hidupku. Seumur hidupku aku selalu berusaha menyenangkan hati Māmā-pāpā, tapi mereka tidak pernah puas dengan usahaku.

"Han, bangunlah! Hari ini kita akan bertunangan.".

Aku membuka mataku perlahan saat suara seseorang mengusik tidurku. "Hmm… Mei Mei?", tanyaku memastikan saat wajah yeoja manis di depanku itu hanya tersenyum. Aku memandang sekelilingku. Ah, aku ketiduran di ruang tamu. Jam berapa sekarang? Mwo? Jam sembilan pagi? Aku kesiangan.

"Sudah, gege. Jangan bingung. Ayo lekaslah mandi. Kita harus menghadiri acara pertunangan itu.", ucap Mei Mei membuatku tersadar akan satu hal, pertunangan kami.

"Jadi kita masih harus bertunangan? Bukankah kamu berusaha membujuk Māmā?".

Mei Mei tersenyum kecil. Aku bisa melihat raut wajah bersalah di sana. Gadis cantik itu menggelengkan kepalanya pelan, lalu ia menepuk bahuku. "Mandilah, gege. Jangan buat Māmā kecewa dan sakit.".

Ah, kata-kata itu. Aku tidak bisa melakukan apapun setiap kata-kata itu terlontar. Bagaikan tersihir, aku akan menuruti semua keinginan Māmā -pāpā tanpa terkecuali. "Baiklah.", jawabku lesu.

Aku memandang diriku di depan cermin. Tampan. Seandainya saja aku mengenakan tuxedo ini untuk pertunanganku bersama Heenim, tapi semua hanya harapan kosong. Māmāpasti tidak akan menyutujuinya. Huft!

"Han, sudah siap?", tanya Māmādari balik pintu kamarku. Aku mengangguk pelan. Mungkin ini memang takdirmu, Tan Hangeng. Hadapilah.

"Iya, Māmā. Aku siap.", kataku setelah keluar dari kamar. Māmā memandangku takjub. Ia tersenyum manis, lalu memuji ketampananku. Aku melihat Yeomin memandangku dengan sendu. Ia terlihat santai dengan pakaian casual. Apakah ia tidak ikut?

"Mianhae, gege. Aku tidak bisa hadir di acara pentingmu. Aku tidak ingin merusak suasana. Aku akan berada di rumah saja. Sekali lagi maafkan aku. Berbahagialah.", ucapnya pelan. Yeomin masuk ke dalam kamarnya, lalu aku melihat Sungmin yang hanya mengangguk pelan. Ah, sudahlah! Aku harus tegar menerima semua ini.

.

.

(^/^)…::YuyaLoveSungmin::…(ToT)

.

.

PROK! PROK! PROK! Suara tepuk tangan semakin riuh seiring dengan aku memasangkan cincin ke tangan Mei Mei, begitu pun sebaliknya. Akhirnya aku dan Mei Mei bertunangan, disaksikan oleh dua ratus orang tamu, yang katanya relasi dekat Māmādi Korea. Satu hal yang membuat aku terkejut, Pāpāmenghadiri acara kami. Dia datang dari Cina? What?

"Selamat, nak. Akhirnya kamu mau menikah juga. Pāpā senang.", ujar Pāpā memberiku ucapan selamat. Ia membangga-banggakanku kepada relasinya di Korea yang jarang sekali ia temui. Lagi-lagi aku seperti pajangan antik miliknya.

"Pāpā, sebenarnya aku…".

"Mei Mei, you look so pretty on that dress. Senang sekali bisa mendapatkan calon menantu sepertimu.", puji Pāpā kepada Mei Mei yang sedaritadi berdiri di sampingku.

Aku menghela napasku pelan. Rasanya aku memang pantas disebut pengecut. Aku tidak bisa melawan kedua orangtuaku hanya untuk mendapatkan orang yang aku cintai. Mei Mei berbincang dengan Pāpā, sedangkan aku memutuskan untuk meminum segelas air.

Drrt! Drrrt! Drrrt! Aku meletakan gelas kosong di atas meja, lalu mengambil ponselku di dalam kantung tuxedo. Yeomin is calling. "Yobo…"

"Han-gege! Sajang… Sajangnim… Dia… Kumohon, gege… Dia…", potong Yeomin sebelum aku menyelesaikan kata-kataku. Dia terdengar panik dan suaranya tersendat-sendat, seperti sedang menangis.

"A-ada apa?", tanyaku ikutan panik. Aku merasakan firasat buruk saat ini.

"Hiks… Gege… Heechul-sajangnim… Dia…".

Heechul? "Ada apa dengannya, Minnie! Cepat katakan sekarang!", bentakku tak sabaran. Ucapan Yeomin hanya membuang waktu percuma.

"Dia di rumah sakit sekarang. Dia sekarat. Cepat ke sini, gege!", balas Yeomin cepat. Aku hampir saja tak bisa mencerna ucapannya.

"APA?", teriakku, membuat orang-orang di sekelilingku menatapku heran, termasuk Māmā-pāpā, dan Mei Mei. "Tolong katakan sekali lagi tapi lebih pelan agar aku mengerti.", pintaku dengan suara yang sedikit memelan. Aku berjalan menjauh, agar tidak mengganggu para tamu lagi.

"HEECHUL-SAJANGNIM SEKARAT DI RUMAH SAKIT! DASAR GEGE BODOH!".

Pik! Tut… Tut… Tut… Tut… Yeomin mematikan sambungan telepon setelah ia berteriak memekik telingaku. Ah, Heechul!

Aku segera berlari keluar ruangan, mencari mobilku di dalam parkiran. Oh Tuhan, tolong selamatkan dia. Aku mohon!

TRAAAK! TRAAAK! TRAAAK! Aku belari sepanjang koridor ruang ICCU. Aku memohon kepada perawat yang sedang berjaga agar aku diizinkan untuk menemui Heechul di dalam. Perundingan terjadi alot, tetapi perawat itu akhirnya mengizinkan aku untuk masuk ke ruangan khusus milik Heechul. Ia memintaku untuk tetap tenang dan tidak membuat masalah. Aku bisa menjamin itu semua asal aku bertemu dengan Heechul.

BRAAAAAK!

"Gege!", jerit Yeomin saat melihatku membuka pintu. Yeomin memelukku. Ia menangis. Aku melepaskan pelukan Yeomin, berjalan pelan ke samping Heechul yang terbaring lemah di atas ranjang dengan berbagai alat kedokteran—entah itu apa—melilit di sekitar tubuhnya.

Aku duduk di kursi samping ranjang Heechul—dimana Yeomin tadi duduk. Aku menggenggam telapak tangan Heechul yang diinfus. Wajahnya benar-benar lesu.

"Hiks… Tadi aku pergi ke Café. Rencananya aku ingin mengajak sajangnim jalan-jalan agar dia tidak sedih dengan semua kenyataan ini. Ta-tapi… hiks… begitu aku sampai ke dalam ruangannya, ia sedang memegang botol cairan pembasmi serangga. Huaaaa… Sajangnim! Hiks… A-aku sudah mencegahnya, tapi terlambat. Sajangnim sudah menegak setengah isi botol itu. Hiks… hiks… Dokter bilang sajangnim…".

Kepalaku pusing. Aku tidak begitu mendengar penjelasan dari Yeomin. Satu hal yang aku inginkan, yaitu Heechul membuka matanya untukku. Aku ingin meminta maaf kepadanya. Seharusnya aku bisa membujuk kedua orangtuaku untuk merestui kami. Seharusnya aku mempertahankan Heechul di sisiku, bukannya terus-menerus mengikuti kata Māmā. Seharusnya aku mampu memperjuangkan kebahagiaanku sendiri. Bukan ini yang aku inginkan. Kenapa Heenim? Kenapa kita berdua bodoh sekali?

"Hiks… Mianhae… Mi-mianhae, Heechul-ssi… Mianhae… Hiks… hiks…".

Airmataku tak dapat kubendung lagi. Ia mengalir begitu saja tanpa izinku. Kamar ini tiba-tiba hening. Tak ada suara Yeomin. Hanya ada suara monitor yang menemani isak tangisku. Aku mengelus rambut Heechul, berharap ia menyadari kehadiranku.

SREEEET! BRAAAAK! Suara pintu ditutup, terdengar di belakangku. Sepertinya Yeomin memilih pergi, meninggalkanku bersama Heechul. Aku meletakkan telapak tangan Heechul di pipiku, menggenggamnya erat-erat. Aku sangat merasa bersalah. Apakah ini terakhir kalinya aku bisa melihatnya? Jangan katakan iya, Tuhan!

"Eung…". Sebuah lenguhan menyadarkanku. Aku melirik ke arah Heechul yang mengerutkan dahinya. "Euuuung…". Matanya kini perlahan membuka.

"Heenim-ah!", panggilku senang. Syukurlah, Tuhan! Ia siuman.

"Ha-hankyung?", tanyanya dengan tatapan tak percaya.

Aku mengangguk kuat berkali-kali seperti pajangan anjing di atas dashboard mobil. Aku sangat senang, sampai-sampai airmataku terus saja menetes. "Ne, ini aku Hankyung.".

Aku masih bisa melihat senyum tipisnya yang tertutup masker oksigen di atas hidung dan bibirnya. Aku menggenggam erat tangannya, menyalurkan kasih sayangku padanya. "Apa yang kamu inginkan? Kamu haus?", tanyaku sedikit panik, berusaha melihat gelas di sekitarku.

Heechul menggeleng pelan. "Ha… Uhuk.. Han…Khyuuuung… Aaah…", panggil Heechul pelan. Aku tidak terlalu mendengar ucapannya yang memang terendam suara monitor dan tertutup masker itu. Aku mendekatkan telingaku ke sisinya.

"Ne.", jawabku.

"Whoo.. Uhuk… woo…. A-aayii… niiih~!".

TEEEET! TEEEET! TEEEET! Monitor berbunyi keras. Lampu merah di atas ranjang Heechul berkedip-kedip. Genggaman tangan Heechul melemas. Aku memandang wajahnya. Ia menutup matanya pelan-pelan. "Aniyaaaa! Heechul!", teriakku frustasi. Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.

BRAAAAAK! "Ada apa ini?", tanya seorang dokter yang baru saja masuk ke dalam ruangan ini. Ia masuk bersama beberapa perawat yang wajahnya sama-sama terlihat tegang. Dokter itu mendorong tubuhku menjauh dari Heechul. Aku terpaku, memandang kejadian di depanku saat ini. Aku bingung harus berbuat apa.

"Dok, keadaannya melemah. Sepertinya…", jelas salah satu perawat yang berdiri di depan monitor itu.

TTIIIIIT! Satu suara panjang terdengar dari monitor menyebalkan itu. Grafiknya berubah menjadi lurus. Bukankah itu tanda… Seperti yang di film-film... Itu tanda…

"Dok, sepertinya pasien telah tiada!", jelas perawat itu sekali lagi.

JEDUAAAAAR! Seperti disambar petir, rasanya aku tidak mampu menompang beban tubuhku lagi. Aku terjatuh, bersimpuh di atas lantai rumah sakit yang dingin. Tidak mungkin. Aku telah kehilangannya? Benar-benar kehilangannya? Seandainya aku berusaha mewujudkan kebahagiaanku, aku tidak akan menyesal seperti ini. ANDWAAAAAE! Tubuhku oleng, selanjutnya kegelapan menemaniku hatiku yang tercerai berai.

.

.

The End Of Blind Love

.

.


Jangan hajar Yuya! Blind Love sudah berakhir di sini!

Menggantung? Iya, emang aku buat seperti ini…

Reader berhak membayangkan apa yang akan terjadi pada Hankyung

You can imagine wild stories

Btw, kalo mau tau kisah selanjutnya, Aku akan hadirkan SEDIKIT tentang Hankyung ini di FF "Saengil Chukkae, Oppa" (Another episode from Oppa-ku Sungmin)

See you next time

Nb: FF lanjutannya diPUBLISH di WPku

Finished on 13/12/2012 01:19 pm at Jakarta, Indonesia

First Published at yuyalovesungmin wordpress (25/12/2012)