Ehm, chapter dua akhirnya bisa ku update XD *yeeey*
Makasih untuk semua yang mereview chapter kemarin ^^
Maaf membuat readers harus menunggu lama, dan maaf juga karena tampaknya saya tidak bisa mewujudkan fic ini menjadi twoshot :'(
Saya benar-benar menyesal, gomenne.
Padahal saya sudah bertekad, beneran loh, tapi, hiks ToT
Ini karena saya yang tidak berbakat (?) dan terlalu terbawa suasana saat mengetik fic ini, dan juga ada beberapa readers yang menghasutku *alasan* gomen, ini memang salah ku, sekali lagi maaf :')
Saya tidak berniat melakukan PHP atau janji palsu, apalagi janji manis (?) maaf, beneran, saya tidak bisa bikin fic ini jadi two-shot. Tapi saya janji tidak akan memakan banyak chapter :')
Oke, happy reading yaa
DON'T LIKE, DON'T READ
Title : My Stalker, My Protector
Bleach Fanfiction
Disclamer : Tite kubo
Maaf kalau jelek :)
Story : Bii Akari
NORMAL POV
Malam semakin larut. Dua pribadi yang berbeda itu kini saling tertawa sambil berjalan beriringan, melenggang masuk ke dalam rumah yang sederhana itu. Rasanya, kini hati kedua gadis itu telah menjadi lebih lega, setelah saling mengungkapkan isi hati masing-masing. Dan karena besok mereka harus tetap bekerja, Inoue pun mengajak Rukia untuk segera masuk dan beristirahat.
Sementara, seorang pria berbalut jaket hitam itu kini tampak lelah, berulang kali dia menguap lebar sambil merapatkan jaket yang dikenakannya. Udara dingin memang telah mengusiknya sejak tadi, menggodanya untuk menutup mata dan menjauh dari pekarangan rumah itu. Benar, sejak tadi pria itu memang berdiri di sana, bersembunyi di balik tembok yang berada agak jauh dari kedua gadis tadi. Berulang kali pria itu menahan diri agar tidak menimbulkan suara apapun. Bagaimana tidak? Sejak tadi pembicaraan kedua gadis itu sangat tak terduga. Hal yang sejak awal dipertanyakan olehnya kini telah terjawab. Dan ketika tahu bahwa Rukia kehilangan ingatannya sejak tiga bulan yang lalu, seketika itu juga hatinya merasa miris. Sudah tiga bulan gadis itu hidup dengan cara seperti ini, dengan ingatan yang tak tersisa. Beruntung Rukia bisa bertemu dengan Inoue, jika tidak entah hal buruk macam apa yang akan terjadi pada gadis berdarah biru itu.
Pria itu memang sudah lebih dulu tahu tentang berita Rukia yang kehilangan ingatannya, dari salah satu bawahannya yang dia tugaskan untuk mengawasi Rukia selama berlibur di sana. Seminggu setelah Rukia berangkat untuk berlibur, berita tidak enak itu terdengar olehnya. Dan kini, memaksanya untuk berdiri di sana, menguping pembicaraan yang tak seharusnya didengarnya.
Awalnya pria itu memang ingin langsung menemui Rukia, namun begitu mendengar kabar bahwa Rukia tinggal bersama seorang gadis, yang setelah diselidiki dan terbukti sama sekali tidak berbahaya. Pria itu pun memilih menunggu, mendahulukan seluruh pekerjaannya dulu. Dan setelah itu, pergi menemui Rukia.
Tak ada yang memintanya berdiri bagaikan penguntit di sana, itu adalah keputusannya sendiri. Sebab baginya, Rukia bukanlah gadis bodoh yang akan langsung percaya pada kata-kata pria yang baru saja dikenalnya, apalagi dia tidak punya cukup bukti untuk meyakinkan gadis itu. Jadi cara langsung seperti itu pasti tidak akan bekerja dengan baik.
Akhirnya, setelah merasa cukup aman, pria itu pun keluar dari tempat persembunyiannya, melompati pagar besi itu, dan berjalan pergi. Hatinya memang merasa khawatir, meski di otaknya sempat terpikirkan ide gila. Namun dengan segera, pria itu menepis ide yang muncul di kepalanya. Ide jahat yang membujuknya untuk meninggalkan Rukia di sana, terjebak dalam hidup barunya yang sederhana. Karena jujur, pria berambut jingga itu tidak bisa menerima keputusan Ayahnya begitu saja, tentang dia dan gadis berambut gelap itu.
"Selamat datang, Tuan muda," sapa seorang pria berkacamata, sambil membukakan pintu bagi pria berjaket tebal tadi.
"Hn," gumam sang Tuan muda. Sambil menahan kantuk, pria itu berjalan gontai melintasi pelayannya tadi, tak sabar untuk segera beristirahat.
Sementara si pelayan tampak ragu, namun dengan segera dia tersenyum maklum. Sejenak, pelayan itu mengamati punggung Tuan mudanya, yang akhirnya hilang di atas tangga. 'Kalau begitu besok saja..' batinnya.
Setelah mengunci pintu utama rumah yang megah itu, pelayan bersetelan putih itu pun kembali menuju ruangannya, ikut beristirahat demi mempersiapkan diri untuk hari esok.
"Kuchiki-san, ayo bangun!" teriak Inoue dari luar kamar Rukia, sambil tak henti-hentinya mengetuk pintu kayu itu.
Satu detik, dua detik, Rukia masih tak merespon, dengan penuh kesabaran, Inoue kembali berteriak, "Kuchiki-san, kita bisa terlambat loh!"
Mendengar kata terlambat, Rukia tiba-tiba terperanjak kaget.
'Terlambat? Oh tidak..' batin Rukia gelisah, begitu memandang jam dinding di kamarnya yang kini hanya menyisakan setengah jam saja untuknya, jika dia tidak ingin terambat.
"Aku sudah bangun, Inoue. Beri aku waktu 15 menit!" teriak Rukia tak kalah hebohnya. Dengan buru-buru, gadis itu bangkit dari tidurnya, membersihkan diri, dan segera berpakaian rapih.
"Aku siap, ayo!" ujar Rukia cepat, sambil menarik tangan Inoue dengan paksa. Membawa gadis berambut terang itu untuk ikut berlari bersamanya, mengejar waktu yang memburu.
"Syukurlah kita tidak terlambat," ucap Inoue lega, memandang orang-orang sekitarnya yang tampak sibuk bersiap untuk membuka cafe pagi itu.
"Ayo cepat, kita juga harus membantu," ajak Rukia. Inoue pun mengangguk setuju.
"Hei, Kuchiki-san, coba lihat!" teriak Inoue dengan heboh, sambil menunjuk-nunjuk loker Rukia dengan telunjuknya.
Rukia pun segera menoleh ke arah yang ditunjuk Inoue, "E-eh, lokerku?" ucap Rukia tak percaya. Kedua gadis itu kini memandang satu objek yang sama dengan seksama, sambil berjalan mendekat dengan perlahan.
"S-siapa yang memperbaikinya, Inoue?" tanya Rukia tak percaya, masih sambil memandangi lokernya yang kini telah kembali pulih seperti semula.
Inoue tampak berpikir sejenak, lalu kemudian gadis itu menjawab dengan ragu, "Mungkin staff yang lain yang memperbaikinya."
Mendengar itu, Rukia sedikit mengerutkan keningnya, "Kau pikir begitu?" tanyanya balik.
"Mungkin saja, bukan?" jawab Inoue setengah ragu, sambil mengangkat bahunya sedikit.
"Coba kau buka, mungkin saja ada sesuatu di sana," usul Inoue, sambil melirik loker Rukia seolah melihat peti harta karun.
Sesaat kemudian, Rukia telah sibuk bergelut dengan segala barang-barang di dalam lokernya, mencari sesuatu yang mencurigakan, dibantu dengan Inoue.
"Tak ada yang aneh, semuanya terlihat sama seperti kemarin," ucap Rukia yakin. Sambil memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam loker, Rukia berpikir mengenai apa yang dikatakan Inoue sebelumnya. "Mungkin memang ada seorang staff yang berbaik hati membantuku," lanjutnya kemudian, sambil tersenyum kecil ke arah Inoue.
"Menurutku juga begitu," ucap Inoue, ikut tersenyum bersama Rukia.
Setelah itu, mereka berdua pun bersiap untuk membuka cafe. Dan setelah cafe resmi dibuka sepenuhnya, Rukia langsung saja menanyai staff di cafe itu satu per satu. Karena memang Rukia ingin tahu siapa orang baik hati yang memperbaiki lokernya itu, agar dia bisa berterimakasih padanya.
"Bagaimana, Kuchiki-san? Siapa orang baik hati itu?" tanya Inoue spontan, begitu tanpa sengaja berpapasan dengan Rukia.
Rukia tersenyum tipis, lalu mengedikkan bahunya dengan pasrah, "Entahlah, tak ada satu staff pun yang mengaku."
"E-eh? Lalu, siapa yang membetulkan lokermu?" tanya Inoue bingung, sambil memandang Rukia dengan tak percaya.
"Penggemar rahasiaku, mungkin?" tebak Rukia asal-asalan, dengan sedikit memamerkan tawa kecilnya yang renyah, membuat Inoue juga ikut tertawa. Meski Rukia berkata begitu, Inoue tahu betul bahwa gadis itu benar-benar kecewa karena tidak tahu siapa orang yang telah menolongnya.
Hari masih berlanjut, di sebuah kota besar yang disebut Karakura, tampaklah sebuah rumah megah, yang dikelilingi oleh taman yang indah. Semua orang di kota itu juga tahu, siapa pemilik semua harta kekayaan itu. Tak perlu dipertanyakan lagi seberapa kayanya si pemilik rumah. Karena hampir semua penduduk di sana mengenal baik keluarga bangsawan itu. Status sosial yang jauh di atas rata-rata membuat mereka sangat disegani, serta dihormati oleh keluarga bangsawan lainnya.
Di beranda belakang rumah itu, seorang pria yang tampak rapuh dimakan usia sedang duduk dengan gelisah, pandangan matanya sejak tadi terlihat redup, bahkan minuman hangat yang sejak tadi disuguhkan untuknya pun sama sekali tidak dia sentuh.
"Apa dia sudah datang?" tanyanya pelan, sambil memandang sejenak pria tegap di sampingnya.
"Belum, Tuan."
Mendengar itu, pria tua tadi tanpa sadar menghembuskan napas berat, lalu kembali memandang hamparan bunga Lily di hadapannya dalam-dalam, "Jika dia datang, segera bawa dia ke sini," ucapnya pelan, masih sambil memandang bunga kesukaan cucu semata wayangnya itu.
"Baik, Tuan," jawab sang pelayan dengan sopan.
Wajah tegas pria tua itu kini tampak agak gelisah, entah mengapa rasanya ada yang mengganjal hatinya saat ini, sejak kepergian cucunya tiga bulan yang lalu. Pria tua itu kini terduduk pasrah di atas kursi rodanya, padahal biasanya disaat seperti ini cucu gadisnya itu akan mengajaknya bermain di taman, mengumpulkan bunga-bunga di sekitar sana dan merangkainya menjadi karangan bunga yang indah.
Kini, sosok yang sangat dirindukannya itu harus pergi sejenak, dengan alasan ingin menikmati masa lajangnya. Tidak mudah baginya untuk membiarkan cucunya itu pergi selama berbulan-bulan, namun mengingat ini semua adalah salahnya, mau tidak mau dia harus memberi izin.
Sekali lagi, pria tua itu menghembuskan napas berat, orang yang sejak tadi ditunggunya masih belum datang, padahal ini sudah menjelang sore. Dengan perlahan, digerakkannya kursi rodanya itu menuju taman, mendekati bunga-bunga lily itu. Lalu dengan hati-hati, dipetiknya setangkai bunga lily, sekedar untuk menghibur dirinya yang terlalu merindukan sosok gadis yang sangat disayanginya itu.
"Aku di sini, Ojii-san," sapa seorang pria berambut jingga, sambil mengamati sejenak aksi dari kakek tua di sampingnya itu.
"Hn, aku sudah menunggumu sejak tadi, Ichigo."
Matahari tampak makin terik, mengusir segala awan yang berniat melindungi kumpulan manusia itu dari sinarnya. Burung-burung bahkan enggan keluar dari sarangnya, takut untuk terbang melintasi langit yang cerah itu. Sambil membawa pesanan-pesanan ke meja-meja di sekelilingnya, Rukia terus menerus mengamati sekitarnya, mencari seorang pria yang sejak tadi ditunggunya. Cuaca yang panas mengakibatkan semakin padatnya pengunjung di cafe itu, meski hanya untuk sekedar mencicipi ice cream atau minuman dingin yang tersedia.
"Kuchiki-san!" teriak Inoue dari meja kasirnya, membuat Rukia segera memacu inline skate-nya untuk menghampiri gadis di ujung sana itu.
"Ada apa, Inoue?" tanya Rukia segera. Karena masih banyak meja yang harus dia layani, maka tak ada alasan baginya untuk bersantai-santai di sana.
"Renji-kun menelponku, dia bilang bahwa dia tidak bisa datang hari ini," jelas gadis berambut jingga itu secepat mungkin, tak ingin menyita waktu Rukia banyak-banyak.
"Dasar, Renji," Rukia mendengus kesal, lalu segera memandang Inoue kembali. "Tapi, kenapa dia tidak bisa datang?" tanyanya kemudian.
"Dia tadi mengatakan bahwa ada urusan yang mendesak, dia juga sempat bertanya mengapa kau tidak mengangkat telponnya," jawab Inoue, sambil memandang Rukia dengan bingung.
"A-ah itu karena handphone ku memang sejak tadi pagi ku nonaktifkan," jelas Rukia singkat dengan sedikit nada bersalah. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Rukia segera melambai pada Inoue dan melanjutkan pekerjaannya.
'Renji baka, disaat penting seperti ini dia justru tidak datang,' gerutu Rukia dengan kesal sambil membawa pesanan ke meja selanjutnya. Bagaimana tidak? Renji Abarai yang biasanya hampir setiap hari menyempatkan diri untuk berkunjung ke cafe itu tiba-tiba saja berhalangan datang, padahal kali ini Rukia sendiri yang mengundangnya datang. Jika tahu akan seperti ini, Rukia tidak akan meminta Renji untuk datang.
Hari mulai gelap, mentari pun telah beranjak dari singgasananya, mempersilahkan rembulan untuk menggantikan posisinya. Inoue tampak heran melihat Rukia, yang sejak tadi hanya diam saja sambil memandangi es krimnya.
"Kuchiki-san? Kau tak apa?" tanya Inoue pelan, sambil memandangi Rukia dan es krimnya secara bergantian.
Rukia tertawa kikuk, lalu segera menjawab pertanyaan Inoue, "Aku tak apa, hanya agak kepikiran saja."
Mendengar itu, Inoue mengerutkan keningnya dengan bingung, "Terpikirkan apa, Kuchiki-san?"
"E-eh, tidak kok, tak usah kau pikirkan," ucap Rukia cepat, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum kecil. Inoue pun hanya mengangguk lemah.
"Tapi Kuchiki-san, apa aku boleh tahu, mengapa kau memanggil Renji-kun hari ini?" tanya Inoue, begitu teringat pada kejadian siang tadi. Inoue menduga, mungkin saja ini adalah penyebab Rukia bertingkah agak aneh.
"Aku hanya ingin memintanya melakukan sesuatu," jawab Rukia seadanya, sambil melumat es krimnya cepat-cepat, sebelum mencair.
"Meminta bantuan?" tanya Inoue lagi, tampaknya gadis itu tidak puas dengan jawaban singkat Rukia tadi. Sementara Rukia, gadis itu hanya mengangguk kecil sambil tersenyum misterius, membuat Inoue semakin merasa penasaran.
Inoue sebenarnya tidak berniat memaksa Rukia untuk menceritakan sesuatu yang dia maksud itu, hanya saja, Inoue merasa penasaran pada Rukia. Biasanya Rukia selalu bertengkar jika bertemu dengan Renji, mereka tidak pernah akur. Tapi kali ini, Rukia tiba-tiba saja meminta bantuan pada sahabat kecilnya itu, pasti ini hal yang penting. Dan Inoue tidak ingin menjadi teman yang tidak berguna, sebisa mungkin dia sangat ingin membantu Rukia.
"Tenanglah Inoue, aku pasti akan memberitahumu begitu selesai, secepatnya," jawab Rukia, setelah ditanyai panjang lebar oleh Inoue. Jika Rukia sudah berkata seperti itu, maka tak ada yang dapat dilakukan Inoue untuk mengubah keputusannya lagi. Mereka pun berdiri dari kursi taman dan berjalan pulang bersama.
Sementara di sisi lain. Seorang pria berambut jingga tampak berjalan dengan cepat, melintasi kerumunan pelayan yang berjejer rapih di pintu masuk rumah keluarga Kuchiki itu. Seketika saja, para pelayan itu menunduk sopan, lalu kembali melanjutkan aktivitas mereka yang sempat tertunda tadi. Dalam hati, pria itu terus menggerutu kesal.
'Ah, sial. Ini semua gara-gara kakek tua itu, menyebalkan,' keluhnya.
Ichigo membuka pintu mobilnya dengan kasar dan segera melenggang pergi dari sana, sebelum emosinya semakin memuncak. Tadi memang sempat terjadi pertengkaran kecil di sana, antara pria berambut jingga itu dan sang pemilik rumah, hanya saja, hasilnya sangat tidak memuaskan bagi si pria berambut jingga.
Sambil menggerutu kesal, Ichigo melirik sekilas anjing mungil di sampingnya, yang kini terlihat sedang duduk manis sambil menatapnya polos.
"Ya sudah, kalau itu maunya," gumam Ichigo kemudian, kembali fokus ke jalanan di depannya agar tidak mencelakai dirinya sendiri.
Setelah cukup lama berdebat dengan dirinya sendiri, Ichigo pun kembali mendengus kesal, lalu menatap anjing putih yang menggemaskan tadi, "Kau punya mata yang bagus," gumamnya, setelah pandangannya kembali terfokus ke depan, "Mengingatkanku padanya," sambungnya kemudian, dengan senyum kecil yang tampak betah menghiasi wajah tampannya.
Setelah sampai di bandara, Ichigo segera membeli tiket pesawat yang berangkat malam itu juga. Terlalu buru-buru memang, tapi hanya itulah yang bisa dia lakukan sekarang, jika tidak ingin hal yang buruk terjadi. Karena bagaimanapun, sekarang masalahnya menjadi semakin rumit.
"Tuan muda?" sapa pelayan itu dengan bingung, begitu mendapati sosok pria berambut jingga tadi berdiri santai di depan pintu rumah, sambil menggendong seekor anjing kecil berbulu putih.
"Jangan kaget begitu, aku ini belum mati," tegur Ichigo, kesal karena sejak tadi pelayan kepercayaannya itu terus menerus memandangnya dengan tatapan aneh.
Segera saja, sang pelayan sadar dari lamunannya, lalu kemudian bersikap seperti biasa, "Maaf, Tuan muda. Ohiya, bagaimana dengan pertemuannya?" ucapnya sopan, sambil mengikuti langkah majikannya itu ke ruang tengah.
"Tepat seperti dugaanmu."
Mendengar itu, sang pelayan sedikit merasa terkejut, "Maksud Tuan muda, Kuchiki-sama tahu tentang keadaan cucunya?"
Ichigo hanya menggeleng pelan, sambil membelai anjing mungil yang sejak tadi dia bawa, "Aku tidak bisa memberitahukannya. Kau tahu kan, aku tidak mau menanggung resiko jika tiba-tiba dia jantungan," canda Ichigo, sambil mengedikkan kedua bahunya.
Sang pelayan pun tersenyum simpul, lalu kembali buka mulut, "Lalu, apa rencana Tuan muda sekarang?"
Ichigo tampak berpikir sejenak, lalu akhirnya mendengus pasrah, "Entahlah," jawabnya cuek.
"Kakek tua itu tidak memberiku pilihan lain, mau bagaimana lagi," lanjutnya, masih dengan nada cueknya itu.
Sejenak, suasana menjadi hening, kedua pria itu larut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Ichigo spontan, mencoba berkonsultasi dengan pelayan kepercayaannya.
Sang pelayan pun tersenyum kecil, "Menurutku, sebaiknya Tuan muda memulai semuanya dari awal," jawabnya singkat.
"Maksudmu?"
"Kalau aku tidak salah ingat, anda hanya pernah sekali bertemu dengannya bahkan itu sudah lewat 9 tahun yang lalu, bagaimana jika semuanya dimulai dari awal lagi? Cobalah mendekatinya seperti pasangan normal lainnya."
Mendengar itu, Ichigo yang sejak tadi duduk tenang di sofa tiba-tiba terperanjak kaget. Sambil mempelototi pelayannya, dia pun berteriak kencang, "Mana mungkin aku melakukannya, hah?!"
Merasa bersalah, sang pelayan pun hanya tersenyum pahit, "M-maaf Tuan muda, tapi hanya itu ide yang terpikirkan olehku," ucapnya dengan takut-takut. Pria berambut jingga itu pun terdiam, memikirkan baik-baik nasehat dari pelayannya.
'Sudah kuduga, tak ada jalan lain...' batin Ichigo. Untuk kesekian kalinya, Ichigo memandang anjing dalam pangkuannya itu, mengamati iris gelapnya dalam-dalam, "Baiklah," putusnya kemudian.
"Kau akan membantuku kan, Ruchi?"
WUF WUF
Sang anjing kecil yang sejak tadi diam kini menjawab dengan yakin, seakan memberi respon positif atas pertanyaan Ichigo barusan. Ekor mungilnya menari kiri kanan, seiring dengan manik hitamnya yang berpendar indah. Melihat itu, Ichigo tanpa sadar tersenyum lebar, sambil mengusap pelan kepala anjing lucu itu.
"Ruchi?" gumam sang pelayan dengan heran, sambil menatap Ichigo lurus-lurus.
Mendengar suara pelayannya yang terdengar ragu, perlahan senyum tipis pun menghiasi wajah Ichigo, "Hn, ini anjing peliharaan Rukia."
Oke, chapter dua telah selesai, terimakasih sudah bertahan sampai akhir ^^
Ohiya, maaf kalau ceritanya makin gaje dan ditemukan typo dimana-mana, hihi. Dan juga, maaf karena belum ada scene IchiRuki disini, tapi tenang saja, chapter depan akan dipenuhi dengan IchiRuki yeeaaah XD
Lebih tepatnya acara stalker-menstalker-nya (?) baru dimulai chapter depan. Ehm, dan soal Ruchi itu, saya no comment, nggak tau lagi mau namain anjingnya siapa #plak
Yosh, karena itu, sepertinya fic ini akan bermetamorfosa (?) menjadi multy-chapter, jadi maafkan saya yang tidak sanggup mewujudkannya menjadi two-shot *nunduk-nunduk*
Maka dari itu, saya harap readers masih mau me-review chapter dua ini :)
REVIEW yaaa ^^
Arigatou :)
