Laisa

Fandom d gray man, M, MPREG, Gaje, Typo, OOC

Main pair : Kanda x Allen

Semi AU. (Emang ada ? #plak) crack fic *karena ada beberapa unsur yang aku tambahin sendiri dan menurutku OOC dari D Gray Man =w=v*

Jujur eke sangat terharu melihat review review di Laisa TT^TT huweeeee maafkan kebodongan saya yang sempat berfikir buat fic ini discontinued, gara-gara bingung mau ngelanjutinnya gimana dikarenakan HDD eke yang penuh ama archive fanfic di berbagai fandom, manga scan, anime, mp3 dan tugas kuliah mendadak mati, konslet dan gak bisa nyala juga gak bisa restrore data, dengan berat hati saya harus kehilangan 500mb data TT^TT *oke ini curcol* selain itu jadwal dan kegiatan kampus yang super padet bikin eke agak bingung mau nyari waktu buat nulis fic. And last but not least, ini chapter puncak dari Laisa. Uyeah uyeah, eke berusaha menulis sepanjang mungkin special buat para reader setia yang memfavoritkan cerita ini dan memfavortikan saya *emang ada =A=* no no no nggak cuman reader, silent reader, semuanya saja. Yak, sekian preface+curhatan author yang telah berani menelantarkan fanficnya sendiri.

Disclaimer : D Gray Man belong to Katsura Hoshino, but this shitty fanfic idea belong to my rotten brain.

Male X Male. Yaoi. Boyslove. Mungkin AU, ngarang bebas seenak jidat + merusak tatanan dan image chara dan D gray Man *dibunuh Katsura Hino* Don't Like Don't Read. I've warn you, stubborn ? take your own risk.


"Pergi !" teriak Allen histeris, kali ini dia benar-benar menepis tangan Kanda, baru saja dia bisa melupakan Kanda, tidak, tidak dia tidak ingin dekat dekat dengan pemuda bernama Kanda Yu, yang telah menghancurkan dirinya

"kumohon Allen..." Kanda mengiba, seumur hidup, dia tidak akan pernah mengiba kepada siapapun karena harga dirinya terlalu tinggi, tapi kali ini, dia memilih mengesampingkan semua itu, demi Allen, demi bayinya juga demi dirinya sendiri.

Tidak memperdulikan kata-kata Kanda, Allen yang kakinya baru saja terkilir berusaha berlari menjauh dari sofa. Dengan kondisi perutnya yang tengah hamil dan kakinya yang tidak bisa memijak dengan baik, akhirnya Allen limbung dan terjengkang kedepan, Allen terjatuh dengan perutnya yang menghantam lantai terlebih dahulu, Allen shock mendadak rasa sakit yang luar biasa menjalari perutnya dan ia merasa sesuatu sedang melesak berusaha mencari jalan keluar dari perutnya.

Allen menjerit sakit. Kanda yang berada di dekatnya langsung menggendong Allen lalu membaringkannya di sofa.

"Allen, Allen..., hold on Allen, tunggu sebentar aku akan memanggil Road" Kanda berusaha menenangkan Allen dengan menggenggam tangan Allen, lalu setelah itu Kanda segera beranjak mencari Road yang sepertinya masih di kebun.

Namun sebelum Kanda menggapai gagang pintu rumah Road, Road sudah membukanya dari luar, dia tergopoh-gopoh masuk kedalam setelah mendengar teriakan Allen

"jelaskan padaku apa yang terjadi pada Allen" Road segera mengambil perlengkapannya dan berlari menuju Allen yang sedang kesakitan di sofa sambil memeluk perutnya.

"Road ! S-sakit aarghh... " Allen merancau tidak jelas

"tahan sebentar Allen, tahan ya" Road berusaha menenangkan Allen sedangkan Kanda berada disisi lain sofa mengelus tangan Allen yang tanpa sadar menggenggamnya erat dan sepertinya sekarang ini sudah dalam konteks meremasnya

Road segera mengambil tindakan dan mengecek apakah ada pendarahan lalu mengecek denyut nadi Allen juga bayinya menimbang-nimbang resiko yang mungkin terjadi

"Road bagaimana keadaaan Allen" tanya Kanda khawatir sekaligus tidak sabar

"tidak ada pendarahan, tapi kondisi Allen sepertinya tidak baik, bayi yang ada di kandungannya tidak merespon sama sekali" Road wajahnya sangat cemas

"selamatkan mereka Road, selamatkan mereka, lakukan apapun yang kau bisa" Kanda menatap tajam Road

"tentu, aku jelas akan melakukan semaksimal yang aku bisa, permasalahannya peralatan yang ada disini tidak memadai" Road mulai frustasi

"tidak adakah rumah sakit atau lab atau apalah yang bisa kau usahakan untuk menolong Allen" kali ini mengguncang bahu Road, menatapnya tajam. Siapapun bisa membaca mata Kanda, disana tersirat jelas bahwa dia sangat mengkhawatirkan keadaan Allen dan bayinya. Seperti, tidak mau kehilangan mereka berdua

"maafkan aku Kanda, aku tidak memiliki perlengkapan yang seperti itu, lagi pula disini daerah terpencil, lagi pula dalam kasus Allen dia laki-laki, dia butuh penanganan khusus" Road membalas menatap Kanda nyalang

Tanpa mereka sadari bahwa ada satu orang dari merka yang telah mengambil langkah cepat, Lenalee tanpa sepengetahuan keduanya berusaha secepat mungkin yang ia bisa untuk kembali ke Black Order dan memanggil Komui, memberitahukan bagaimana kondisi Allen sekarang ini

"Kakak, aku mohon, selamatkan Allen" rengek Lenalee kepada Komui yang sepertinya sedang sibuk mengerjakan proyek barunya

"aku bukan dokter Lenalee" jawab Komui

"tapi setidaknya kau bisa melakukan sesuatu untuk Allen, aku mohon" Lenalee kali ini berlutut di depan kakaknya. Komui tidak bisa berbuat banyak jika adik kesayangannya sudah melakukan hal yang seperti ini, tandanya dia memang benar-benar serius

Komui menghela nafas panjang sebelum menjawab permohonan Lenalee, "baiklah. Ayo kita bawa Allen kemari dan selamatkan dia"

"Terima kasih, kakak" Lenalee diam-diam mengusap airmatanya, lalu secepat yang mereka bisa menuju rumah Road untuk membawa Allen.

~~~ di rumah Road ~~~

Melihat Allen yang perlahan-lahan merasa kelelahan dan mulai mengendurkan genggamannya di tangan Kanda, membuat Kanda dan Road panik.

"jangan sampai Allen, tertidur, bahaya. Kita masih belum tau yang terjadi dengan bayinya dan dirinya. Usahakan Allen untuk tetap terjaga Kanda" perintah Road. Kanda Menurut

"Allen..., Allen..., bangun Allen" Kanda menepuk-nepuk pipi Allen pelan, sesuai harapan Allen kembali membuka matanya

"ng ?"

"Moyashi... jangan tinggalkan aku" Kanda tersenyum getir

"kau... beraninya..." Allen tersengal. Kesal dengan keberadaan Kanda disampingnya

"maafkan aku" Kanda menunduk dalam. Allen sedikit kaget dengan apa yang dikatakan Kanda sekarang ini. Seorang Kanda Yu, yang terkenal dingin dan berharga diri tinggi..., kini merendahkan diri di depan Allen Walker. Memohon maaf

Jika Allen tidak sedang dalam kondisi mengandung dan kritis, dia pasti sudah mendokumentasikan kejadian ini dan menyebarkan ke seluruh Black Order. Namun kali ini berbeda, sambil menahan sakit dan sedikit ringisan di wajah Allen. Dia berusaha untuk duduk, namun rasa sakit luar biasa dari perutnya memaksanya untuk berbaring. Menggunakan sikunya untuk menahan tubuhnya, Allen berusaha memiringkan tubuhnya

"Kenapa Kanda ?" tanya Allen, menyentuh dagu Kanda mengangkatnya keatas agar mata mereka dapat memandang lurus satu sama lain.

Untuk beberapa saat Allen tertegun melihat onyx hitam kelam milik Kanda. Penyesalan yang amat dalam dan khawatir memenuhinya. Tanpa harus melihatnya lebih dalam, perasaan itu terpancar jelas, berbicara melalui matanya.

"maaf..." Kanda mengecup punggung tangan Allen. Untuk kali ini Allen tidak bisa untuk tidak menangis, pengharapannya setiap malam beberapa bulan terkahir ini terjawab, Kanda akan mengakui bayinya... bayinya akan punya ayah..., Allen menangis haru, tidak sadar bahwa dia sudah tidak merasakan sakit lagi... dan dia tidak merasakan pergerakan janinnya...

"jangan menangis" Kanda dengan gentle mengusap air mata yang menuruni pipi cantik Allen.

"baka... ugh..." Allen berusahan menghentikan tangisannya.

Sedetik kemudian Komui dan Lenalee sudah membuka pintu rumah Road

"Allen ?" tanya Lenalee bingung "kau... tidak apa-apa ? sudah tidak sakit lagi?" Lenalee kelihatan bingung, seperti tertikam pisau tajam, Allen tersadar bahwa sesuatu yang bergejolak di perutnya yang sedari tadi merangsek ingin keluar mendadak menghilang.

"t.. tidak mungkin" muka Allen menjadi lebih pucat "Road... bagaimana ini" Allen panik "Road !" Allen berteriak sekeras mungkin memanggil Road

"tunggu sebentar Allen" Road segera menghampiri Allen, memeriksa keadaan bayinya

"biar aku yang tangani" Komui segera mengambil alih peran Road.

"Komui ?" Road menaikkan alisnya "sejak kapan ?" tanyannya bingung

"Lenalee yang mengajakku ke sini" jawab Komui singkat sambil memeriksa perut Allen.

"oh" jaab Road singkat

"Kakak, bagaimana keadaan bayi Allen" tanya Lenalee cemas

"aku tidak berani memastikan, harus ada tindakan lebih lanjut" Komui membenahi letak kacamatanya

"jelaskan apa yang terjadi Komui" Kanda murka

"aku tidak bisa menjelaskan disini, lebih cepat membawa Allen ke tempatku" Komui segera memapah Allen untuk bagun

"biar aku saja" Kanda mengambil alih Allen dari Komui

"aku ikut" spontan Road

"tentu, aku akan membutuhkanmu disana" Komui segera bergegas

"ayo berangkat" Lenalee yang biasanya ceria kini berubah menjadi sangat serius, sedangkan Allen semakin mengeratkan pegangannya pada bahu Kanda dan mengelus perutnya, dengan batinnya dia berusaha berkomunikasi dengan bayinya

'bertahanlah sayang..., jangan tinggalkan aku. Ibu menyayangimu' batin Allen sambil terus mengusap perutnya

"jangan khawatir, dia pasti selamat" tanpa di duga oleh Allen, Kanda mengatakan hal begitu tanpa memandang ke arah Allen dan terus berjalan secepat yang dia bisa menuju Black Order.

"ya" jawab Allen, sedih.

Setibanya di Lab Komui, Allen segera ditangani oleh Komui, kondisi sulit kembali dihadapi oleh Allen, harapannya hanya 50:50 untuk bisa menyelamatkan bayinya, yang jelas Allen harus mengeluarkan bayinya sekarang juga, mengingat kandungannya yang baru 30 minggu, Allen sangat ragu akan kondisi bayinya bisa bertahan.

"bagaimana ini " Allen dilema "Komui tolong selamatkan dia Komui" tangis Allen

"aku akan mencoba tapi resikonya terlalu besar Allen, kemungkinannya untuk bayimu bisa selamat sangatlah kecil, ditambah lagi aku tidak punya inkubator untuk bayimu" Komui dengan berat hati harus menyatakan hal itu kepada Allen.

"Aku sangat menyayanginya Komui" isak Allen

"Lakukan Komui, aku akan meminjam kekuatan mugen untuk menghangatkannnya" jawab Kanda. Tengan seperti biasa

"Aku juga kakak, aku akan membantunya" Lenalee juga tidak mau kalah

"Aku juga akan membantu sebisaku" jawab Road

"tapi, tetap saja resikonya terlalu besar, aku takut jika bayi Allen dilahirkan sekarang dia tidak akan bertahan" Komui cemas

"tapi jika tidak dilahirkan bagaimana " tanya Road

"kemungkinan dia akan mati didalam..." jawab Komui penuh penyesalan

"ti tidak mungkin" Allen semakin tidak bisa membendung airmatanya

"jangan bilang... bayinya..." Road menduga-duga

"tidak seperti itu" seolah Komui bisa membaca isi kepala Road

"setelah aku periksa, janin yang ada di kandungan Allen keracunan air ketuban, kemungkinan saat dia jatuh tadi, air ketubannya sudah pecah, ditambah lagi posisi janin yang terlilit tali pusar" Komui menjelaskan

"apa ?!" Road kaget, dia tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Akhirnya dia menyadari mengapa janin Allen tidak tumbuh normal, jadi ini jawabannya

"kalau begitu kita harus segera mengeluarkan bayinya" Road mendadak seirus

"kenapa ?" tanya Lenalee polos

"jika tidak segera dikeluarkan, kemungkinan dia tidak akan selamat karena paru-paru bayinya akan dipenuhi air ketuban" Road mengidentifikasi

"lakukan" Allen meneguhkan hatinya, membuat siapapun yang ada disana tertegun

"Komui, Road, lahirkan bayi ini... setidaknya meski dia berumur pendek, aku ingin dia melihat dunia, aku ingin melihat anak yang selama ini aku kandung" Allen mengelus perutnya penuh sayang. Semua yang ada di lab Komui tidak bisa berkata apa-apa, hanya anggukan yang mereka berikan

"baiklah" Komui menarik nafas dalam "akan ku persiapkan dulu, sebaiknya kau juga bersiap, Allen. Aku akan memberikan ramuan yang bisa merangsang kelahiran" Komui menyodorkan sebuah ramuan berwarna hijau dalam sebuah botol kecil. Segera saja Allen meminumnya dan dalam hitungan jam, Allen merasakan sakit yang luar biasa diperutnya seperti sebelumnya, ia merasa ada sesuatu yang ini melesak mencari jalan keluar dari perutnya

"haah... ahh... s-sakit, Kanda !" untuk pertama kalinya Allen memanggil nama Kanda. Entah dia spontan atau hanya asal bunyi saja. Kanda yang berada disampingnya segera menenangkan Allen

"bertahan Allen..." Kanda mengusap lembut kepala Allen "kau pasti bisa"

"sakiiitttt..." Allen semakin menjadi

"tahan sebentar lagi Allen" Komui menenangkan

"sudah tidak ada waktu..., sebaiknya kita segera melakukan pembedahan" saran Road

"baiklah" Komui lalu menyuntikkan obat bius kepada Allen. Tidak perlu waktu lama untuk obat tersebut bekerja dan Allen kembali tidak sadarkan diri.

"Kanda, sebaiknya kau dan Lenalee menunggu diluar, biar aku dan Road yang menangani Allen" bujuk Komui

"tidak, aku ingin tetap disini" Kanda bersikeras

"kau, meski ada disini tidak akan banyak membantu" bantah Road

"sudahlah, Kanda, ikuti saja perintah mereka, Allen pasti akan baik baik saja" Lenalee mencoba menarik Kanda keluar

"sigh... baiklah" sedikit mendengus dan dengan berat hati akhirnya Kanda mau menunggu diluar.

Sedangkan didalam Komui dan Road sedang melakukan operasi caesar untuk mengeluarkan bayinya. Butuh waktu satu setengah jam untuk mereka agar bisa melahirkan bayi Allen, tangisan bayi yang lirih menandakan bahwa anak Kanda dan Allen sudah terlahir ke dunia. Apa yang diharapkan oleh Allen terwujud, setelah selesai dengan jahitannya Road kembali memanggil Kanda dan Lenalee untuk masuk. Saat melihat bayi mungil didalam kotak kaca yang dipenuhi sinar hangat buatan Komui, entah kenapa... Kanda ingin menangis. Bagaimana bisa ia berfikir untuk membuang manusia yang murni tanpa dosa ini ? bagaimana bisa ia meninggalkan Allen dan anaknya ini ? kembali Kanda dihujani dengan perasaan bersalah yang sangat luar biasa

"kakak, bagaimana keadaan Allen" Lenalee memastikan

"kita tunggu hingga bius yang bekerja padanya habis, mungkin sekitar 2 jam lagi" jawab Komui

"selamat Kanda, kau menjadi seorang ayah" Road menepuk nepuk punggung Kanda

"terima kasih, lalu bagaimana keadaan Allen ?" Kanda memandang ke arah Komui

"tenang saja, Allen baik-baik saja, hanya perlu menuggu beberapa jam agar dia terbebas dari obat bius" Komui menenangkan Kanda

"baiklah..."

~~beberapa jam kemudian~~

"ngh..."

Allen perlahan-lahan mulai sadar dari pengaruh obat bius, begitu seluruh kesadarannya kembali, Allen merasa sedikit nyeri di perutnya yang sudah kembali mengempis seperti waktu dia belum mengandung

"bayiku ?!" Allen kaget karena bayi yang seharusnya sudah ia lahirkan tidak ada disisinya

"ada apa Allen ?" Kanda yang mendengar teriakan Allen mendadak menyeruak masuk

"dimana bayiku, Kanda ?" tanya Allen dengan muka panik

"shh... tenanglah... tenang, bayi kita tidak apa-apa dia sehat sehat saja" Kanda berusaha menenangkan Allen

"aku ingin melihat bayiku, Kanda" Allen bersikeras

"tapi kau baru sadar, Allen" Kanda tegas

"aku hanya ingin melihat anakku Kanda !" Allen balik membentak Kanda

"ada apa ini ?" Road masuk sambil membawakan Allen susu hangat

"Road... aku ingin melihat bayiku" rengek Allen

"tapi kau belum terlalu kuat Allen" Road ikut menenangkan

"sebaiknya kau istiraha-" belum selesai Road berbicara Allen kembali memotongnya "Aku hanya ingin bayiku !"wajah pucat Allen kini menjadi merah padam karena marah

"baiklah..., tapi kau tidak boleh berjalan sendiri" Road akhirnya mengalah

"biar aku yang menggendongmu" tawar Kanda

Awalnya Allen ragu untuk menerima tawaran Kanda, namun akhirnya dia menganggukan kepala tanda setuju. Langsung saja Kanda segera menggendong Allen ala bridal style dengan sangat berhati-hati karena bekas operasi Allen belum sembuh benar menuju tempat bayi mereka diinkubasi. Setelah sampai disana Allen dengan sangat lembut menyentuh box kaca yang mengungkung bayinya. Seolah-olah dia menyentuh bayinya langsung

"halo sayang... aku ibumu" mata Allen berkaca-kaca dan ingin menangis melihat bayinya yang begitu rapuh. Sejenak hening menyelimuti mereka bertiga

"Allen..." Kanda memecah keheningan. Allen hanya mendongakkan kepala ke arah Kanda

"Allen" Kanda menurunkan Allen dan membiarkan Allen berdiri, sedangkan dia berlutut didepan Allen dan memegang kedua tangan Allen penuh kasih sayang

"ada apa Kanda ?"

"Allen... maukah kau... menikah denganku ?" Kanda menatap lurus mata Allen sambil menciumi punggung tangan Allen

"..." namun Allen hanya diam saja, dia sangat shock dengan apa yang Kanda katakan barusan. Sepertinya Kanda memang sudah gila

"aku serius Allen" seolah Kanda bisa membaca keraguan di wajah Allen. "menikahlah dengan ku, tinggalah bersamaku keluar dari Black Order dan kita juga bayi kita akan tinggal bersama-sama" Kanda menggenggam tangan Allen dengan erat. Tiba-tiba setetes air mata menetesi punggung tangan Allen yang berada di tangan Kanda

"Allen ?" Kanda merasa bersalah dengan pernyataannya barusan, seolah-olah dia barusaja menghancurkan Allen sekali lagi

"kau baik-baik saja ?" Kanda memastikan

"a aku... aku tidak tau harus berkata apa Kanda... hiks... " Allen mendongakkan kepalanya untuk menghalau airmatanya

"kau berada di sampingku di detik-detik terakhir kehamilanku saja, aku merasa sangat beruntung..., aku sangat bahagia Kanda, hingga aku tidak punya kata-kata lagi untuk mengungkapkannya" Allen lalu ikut berlutut dan memeluk Kanda erat.

Akhirnya... seluruh beban yang ada di pundak Allen dan Kanda benar benar lenyap air mata tidak henti-hentinya mengalir dari mata Allen

"kau kenapa menangis Allen ?" Kanda menjadi bingung

"aku... aku hanya merasa sangat bahagia... hingga aku tidak bisa menghentikan air mataku sendiri..." Allen sedikit tertawa ditengah tangisnya yang tidak bisa dia hentikan

"Aku mencintaimu, Allen"..

"aku juga.. Kanda..."

Lalu Kanda menungkupkan kedua tangannya di kedua pipi Allen

"sssh..., jangan menangis Allen" menggunakan kedua ibu jarinya, Kanda mengusap airmata yang membasahi pipi cantik Allen.

Lalu Kanda menatap lurus mata Allen, seolah-olah dia sedang menyelami isi hati Allen dan menyampaikan kepada Allen bahwa dia sangat mencintainya. Perlahan-lahan Kanda mendekatkan wajahnya ke wajah Allen, mencium kening, lalu kedua mata Allen, lalu dengan sangat lembut dia mengecup bibir manis Allen, sangat lembut seolah Allen adalah benda terapuh yang pernah ada dan penuh cinta.


It's finnaly over... wew =_='' such a long story. Review ? kritik ? saran ? usul ?


AUTHOR NOTE :

BERHUBUNG BANYAK YANG BELUM REVIEW TAPI TIDAK SALAH UNTUK DICOBA.

author berencana bikin side story dan sekuel dari Laisa. tapi aku masih belum ada gambaran yang jelas mau gimana jadi..., di profil author sudah ada polling mengenai ini tolong di vote ya