Fade Into You by Kate Dawes

Remake By me [ Akiyuerahime ]

Casts : Cho Kyuhyun [ as Max Dalton ] | Lee Sungmin [ as Olivia Rowland ] | Park Hyomin [ as Jacqueline Mathers ]| Itano Tomomi [ as Krystal Sherman]| Choi Siwon [ as Chris Cooper ] | Jo Kwon [ as Kevin ]

Rated : M

Chapter : 2

Warning : GS | NC [ Sex activity ] | Typo and Misstypo

Genre : Romance | Angst | Drama

Disclaimer : Story line by Kate Dawes, i'm nothing T^T

Note : Remake ini saya buat karena kecintaan saya pada chara Max Dalton XD Dan berhubung saya banyak pekerjaan sehingga harus –kembali- mengundur pem-bublish-an FF saya yg on going, saya me-remake ini sebagai hiburan dan permintaan maaf saya T_T Jeongmal Mianhae, semoga teman2 bisa memaklumi kesibukan saya :'( Walau hanya re-make, semoga FF ini berkenan dan bisa diterima ^^

Mungkin chapter depan sudah tamat, berarti ga jadi 4 chapter XD

Saya bersedia membuat GS kembali karena ini merupakan FF Remake, bukan hasil pemikiran saya sendiri, semoga readers mengerti maksud saya 8D

-I hate you [ Eru feat Junhyung 'BEAST' ] | I wanna go home [ Michael Buble ] | Tears Drop [ ScReW ] -

.

.

.

.

Tomochiin memberiku omong kosong tentang seluruh kejadian itu sepanjang sisa akhir pekan. Kami menghabiskan Sabtu berjalan sekitar Gangnam, makan siang di buffet murah. Memanjakan, tapi tidak terlalu sehat, dan hanya itu yang aku inginkan setelah mengalami malam yang gila.

Aku tak melihat Kyuhyun lagi sampai Minggu pagi. Aku dan Tomochiin check out dari hotel, berdiri di meja resepsionis. Karena akhir pekan ini dia yang traktir, ia membayar tagihan dan aku hanya melihat-lihat sekeliling.

Kyuhyun sedang berdiri di pintu masuk restoran hotel, mengenakan pakaian kasual. Dia memakai kacamata Ray Bans-nya, jadi aku tidak bisa melihat matanya. Kurasa dia mungkin sedikit mabuk dan ia melindungi matanya dari cahaya.

Di sampingnya berdiri wanita pirang cantik bertubuh tinggi dengan gaun merah. Dia membelakangiku jadi aku tak bisa melihat wajahnya. Wanita itu berdiri dengan satu kaki disilangkan di atas yang lain, pergelangan kakinya terkunci. Dia mengenakan sepatu tumit lima inci yang memamerkan otot betisnya. Dia tampaknya banyak bicara.

Pada satu titik dia meletakkan tangannya di bahu Kyuhyun.

Aku benci kenyataan bahwa melihat bahasa tubuhnya yang membuat perutku bergolak. Sepertinya aku tidak punya alasan untuk cemburu. Setelah semua yang terjadi, aku adalah orang yang menolaknya pada malam itu. Tapi aku membenci kenyataan bahwa aku harus mengakhirinya. Aku tahu aku telah melakukan hal yang benar, tapi aku masih benci itu.

Kyuhyun telah mengatakan kepadaku bahwa dia tidak menyerah, dia bukan tipe pria yang tidak mengejar apa yang ia inginkan. Aku tidak punya alasan untuk berpikir bahwa itu tidak benar, tapi melihat dia dengan perempuan itu seperti sebuah tamparan di wajahku. Tentu saja dia pergi setelah mendapatkan apa yang dia kejar. Tentu saja dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan dia mungkin tidak ingin aku. Itu karena aku bukanlah satu-satunya. Persis seperti yang telah kuramalkan sendiri ketika dia berada di atasku di kamar hotel malam itu.

Aku benar-benar harus membiarkan ini berlalu...

.

.

.

.

Seperti biasa hari minggu adalah hari saling menanyakan kabar dengan orangtuaku, jadi aku menelepon mereka ketika kami kembali.

Mereka menggunakan telepon yang berbeda di rumah dan ketika aku mengatakan kepada mereka apa yang telah kulakukan di akhir pekan kemarin, ada jeda kemudian hening sebelum ibuku berkata, "kau dengar apa katanya?"

"Ya."

"Well, kau tidak akan mengatakan apa-apa?"

"Kupikir kau sudah mengatakannya."

Ini adalah hal biasa untuk orang tuaku. Mereka berdua sangat konservatif dan sangat menuntut kepada Heechul dan aku, tapi untuk urusan memberi ceramah biasanya tugas itu jatuh pada ibuku.

Ibuku berkata, "Mereka menyebutnya 'Sin City', apa kau tahu itu, Min-ah?"

"Ya, Bu, aku pernah mendengar itu sebelumnya."

Oh, kalau saja dia tahu betapa aku hampir saja berbuat dosa dengan Kyuhyun.

"Kau tahu itu kan, Yeobo?" sepertinya ibuku juga memarahi ayahku.

Aku menyudahi obrolan dengan bertanya tentang topik favorit mereka yaitu, Taemin, keponakanku. Mereka menceritakan setiap hal kecil yang Taemin lakukan saat ia hampir merayakan ulang tahunnya yang pertama, dan ibuku berkata,

"Kau akan melihatnya segera. Thanksgiving, kan?"

Aku mengatakan kepadanya bahwa aku pasti pulang untuk Natal, tapi belum yakin saat Thanksgiving. Ini memicu perdebatan sepuluh menit, dan pada akhirnya aku sangatlah siap mengakhiri telpon yang melelahkan itu.

.

.

.

.

Aku pergi keluar dari kamar dan menemukan Tomochiin berbaring di sofa menonton TV. Dia terpaku dengan argumen tentang dua Kardashian bersaudara. Aku duduk di salah satu kursi dan menonton selama beberapa menit, tapi itu menjengkelkan dan aku mampu untuk tidak memikirkan Kyuhyun.

Ketika acara TV sedang iklan, Tomochiin mematikan suara televisi.

"Apa yang salah?"

Aku tersentak dari lamunan.

"Tidak ada."

"Bohong."

"Hanya ... aku tak tahu."

Dia duduk dan menghadapku.

"Ini tentang bukan?"

Aku menarik kakiku ke kursi, memeluk lututku ke dadaku, dan mendesah.

"Apakah itu jelas?"

"Uh, yeah. benar-benar jelas."

Aku menceritakan segalanya, apa yang terjadi setelah Kyuhyun meninggalkan kamar hotel sehingga dia tahu tidak ada yang terjadi. Nah, tidak banyak, pula. Hanya cukup untuk membuatnya menjadi topik pembicaraan berulang, Tomochiin mengatakan bahwa aku harus melupakan malam itu.

"Dengar..." katanya.

"Jika kau akan menjalani hidupmu di sini, Kau harus terbiasa dengan hal semacam ini. Terutama karena kau akan bekerja di sekitar aktor, sutradara, produser... Maksudku, coba pikir, Kau cantik, lajang, dan banyak pria menyukaimu. Ini bukan Busan, dan ini bukanlah kota kecil kita."

Ya dia benar. Aku berada di perairan yang belum terpetakan dan mungkin ini diluar jangkauan kepalaku. Tetapi jika aku akan hidup di sini, aku harus belajar untuk berurusan dengan itu. Itu tidak berarti aku harus tidur dengan setiap pria yang membuatku tertarik, itu berarti aku harus menjadi terampil dalam memilih yang tepat untuk mengatakan iya dan mengatakan tidak untuk orang yang tidak tepat.

Aku harusnya tidak menarik Kyuhyun pada situasi seperti itu, dan aku merasa sedikit bersalah tentang hal itu.

Tetapi masalah terbesarnya adalah, apakah kejadian malam itu akan membawa dampak kepekerjaanku.

"Sial. Apa yang akan kulakukan jika dia ternyata Park Hyomin batal mendapat peran dan jokwon tahu sebabnya? Aku akan kacau."

tomochiin bangkit dari sofa dan menyambar gelas kosong. Dia berjalan ke dapur sambil menjawab.

"Kupikir tak ada yang dapat kau lakukan tentang hal itu sekarang. Kecuali mungkin meneleponnya dan tidur dengan dia sekarang."

"Ayolah, aku serius."

"Aku tahu," katanya, suaranya terdengar dari dapur. "Maaf. Seandainya aku bisa memberimu saran. Apakah kau ingin minum anggur?"

"Ugh. Tidak, aku sudah banyak minum khir pekan ini."

Tomochiin jelas tidak akan banyak membantu, tapi aku berharap dia memiliki beberapa pendapat untukku. Bahkan sesuatu yang kecil dan tidak berarti yang mungkin memicu solusi dalam pikiranku. Tapi semua harapan itu pupus ketika dia datang kembali ke dalam ruangan.

"Oh! Acara itu sudah mulai lagi." Dia meraih remote televisi dan membesarkan volume.

"Maaf, aku harus menonton lagi."

.

.

.

.

.

Aku tiba di kantor Senin pagi bertekad untuk mengembalikan pikiran jernihku sebelum perjalanan ke Gangnam, yang berarti fokus pada pekerjaan dan pekerjaan saja, dan itulah yang aku lakukan sepanjang minggu. Bekerja siang hari, Netflix di malam hari.

Kami tidak mendengar kabar dari Kyuhyun atau orang-orangnya sepanjang minggu. Aku bicara beberapa kali dengan Hyomin, dan ia menjadi semakin sulit untuk ditangani. Park Hyomin yakin ia tidak akan mendapatkan peran. Sekali lagi, aku harus menjadi terapis dan menjaganya secara stabil.

Jumat ini aku harus bertemu dengan seorang komedian yang yang bercita-cita menjadi actor papan atas. Tugasku adalah melakukan ulasan dan membuat resume untuk surat-surat lamaran yang di kirim kepada kami oleh orang yang mencari agen.

Kim YoungJae terlambat lima belas menit untuk pertemuan, kesan pertama yang buruk bagi seorang aktor mencari representasi. Dia mengenakan celana jeans hitam, t-shirt putih, jaket kulit hitam, dan terlalu banyak aftershave.

Kami pergi ke ruang konferensi dan mulai dengan beberapa obrolan ringan tentang cuaca dan lalu lintas yang mengerikan, percakapan khas Seoul.

Dalam waktu sepuluh menit, aku tahu aku sedang berhadapan dengan seorang pria yang berpikir terlalu banyak tentang dirinya sendiri. Dia terus mengatakan betapa sutradara audisi tidak tahu apa yang mereka lakukan, betapa ada banyak sekali bakal terpendam di luar sana yang belum dimanfaatkan dan dia adalah "cream of the untapped crop" (orang terbaik) dan bagaimana industri itu terlalu khawatir dengan uang yang berdampak merugikan pada seni.

Dia tidak jelas dengan sikapnya itu, dan itu bukan tugasku untuk mengubahnya. Dia tidak akan memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Jokwon.

Kesalahan terbesarnya adalah dengan mengatakan padaku bahwa ia pernah ikut di dua episode Friends, dan ada bagian dialog untuknya di dua episode tersebut. Ia mengklaim bahwa ia seharusnya menjadi salah satu karakter yang terus muncul yaitu mantan pacar Im yoonha. Mudah bagiku untuk memeriksanya tapi itu tak perlu kulakukan. Aku adalah penggemar besar dari serial itu dan aku mungkin pernah melihat salah satu episodenya sampai tiga kali. Aku akan ingat orang ini. Jadi aku menambahkan "pembohong" ke daftar negatifnya.

"Jadi kenapa anda tidak punya perwakilan agen sekarang?" Tanyaku.

"Yah, agen saya baru saja meninggal, jadi itu sebabnya mencari agen yang baru."

Aku merasa tidak enak untuk mengajukan pertanyaan dengan nada sarkastik.

"Oh, aku ikut berduka mendengarnya. Siapa namanya? Pria atau wanita?" Aku melontarkan pertanyaan untuk menemukan resume miliknya.

"Jang Geun Suk."

Aku berhenti. Itu adalah nama agen yang mewakili karakter Minho pada Friends. Ada apa sebenarnya dengan orang ini? Dia gila atau bodoh, atau dia mengira aku bodoh. Pada titik ini aku memutuskan ini tidak lucu dan aku tidak memiliki kesabaran untuk mendengarkan omong kosongnya lagi.

Aku segera mengakhiri pertemuan dengan berdiri dan mengatakan padanya

"Terima kasih telah mampir. Kami akan menghubungi anda." Itu adalah cara yang baik untuk mengatakan:Jangan hubungi kami, Kami yang akan menghubungi Anda.

"Kau punya rencana malam ini?" Tanyanya.

Aku tertegun, mengingat betapa dingin aku telah memperlakukannya.

"Maaf?"

"Aku hanya ingin tahu mungkin kita bisa 'berkencan'," katanya, sambil jarinya membentuk tanda kutip.

"Saya rasa tidak."

Dia merendahkan suaranya, bukan untuk kepentingan privasi, tetapi dalam upaya nyata untuk terdengar seksi.

"Anda tak tahu apa yang telah Anda lewatkan."

"Saya punya pacar."

"Jadi?"

"Jadi, sekali lagi, tidak."

Dia melangkah ke arahku, melihat tepat di dadaku.

"Kau benar-benar panas. Katakan saja apa yang kau mau."

Jengkel, aku mengatakan padanya hal yang sebenarnya.

"Kau ingin tahu apa yang aku mau? Sebuah hukuman serius untuk anda." Aku melangkah menuju pintu ruang konferensi, membukanya, dan melangkah ke samping. Aku memberi isyarat keluar pintu dengan tanganku.

"Semoga berhasil, Mr. Kim."

Dia berdiri tegak dan mulai bergerak menuju pintu. Aku memberinya sedikit lebih banyak ruang.

"Anda tidak harus menggerutu tentang itu," katanya.

Aku biarkan dia keluar dari ruangan, menuju lobi, dan ketika ia meraih pintu utama aku berkata,

"Dan Anda tidak harus memakai aftershave murahan begitu banyak!"

Dia terus berjalan tanpa menengok ke belakang.

Pintu kantor Jokwon terbuka dan ia menjulurkan kepalanya keluar.

"Apa semua baik-baik saja?"

"Ya, maaf. Semuanya baik-baik saja. "

"Oke. Aku sedang ada panggilan, tapi beri aku..." Dia melihat jam tangannya. "Beri aku sekitar lima belas menit dan kita akan membahas beberapa DVD demo ini."

.

.

.

.

Aku sedang mengumpulkan barang-barang itu dari meja ruang konferensi untuk membuang ke tempat sampah, dan berpikir apakah Kim Youngjae memang benar. Aku tak pernah menganggap diriku sebagai perempuan penggerutu sebelumnya, tapi kukira ada bagian dari diriku yang hanya butuh sedikit stres dan menjadi orang menjengkelkan untuk melepaskannya.

Aku khawatir tentang seluruh hal yang berhubungan dengan Kyuhyun dan dampak penolakanku terhadap pekerjaan. Ya Tuhan. Betapa bodohnya aku, membiarkan hal-hal ini sampai sejauh ini? Jokwon mungkin akan segera memecatku jika ia mengetahuinya.

Ketika kembali ke kantor, aku mendengar pintu JoKwon terbuka. Aku melihat ke arahnya dan melihat dia melambaikan tangan meyuruhku ke kantornya. Aku meletakkan paket itu di atas meja dan pergi, di mana ia memberi isyarat kepadaku untuk duduk kemudian meletakkan jari ke bibirnya, menyuruhku diam dan hanya mendengarkan.

Jokwon beralih ke telepon speaker dan ruangan itu dipenuhi dengan suara halus dari Cho Kyuhyun.

Oh, sial. Ini dia, pikirku. Kyuhyun akan memberitahu Jokwon bahwa dia akan memberikan keputusan tentang Park Hyomin. Lalu kami akan kehilangan dia sebagai klien. Jokwon mungkin akan mencari tahu apa yang terjadi di Gangnam, aku akan kehilangan pekerjaanku, dan aku akan menjadi orang terakhir yang mendengar pepatah "Anda tidak akan pernah bekerja di kota ini lagi." Sialan, perutku, berhentilah melilit... Aku merasa seperti akan muntah di lantai kantor Jokwon.

Apa yang aku dengar adalah Kyuhyun berkata: "... banyak audisi, secara langsung dan DVD, dan ini adalah salah satu keputusan yang sulit yang harus aku ambil. Hyomin bagus. Dia cantik dan dia sangat natural. Kurangnya pengalaman memang agak mengganggu sedikit..."

Ini dia, pikirku.

"... Tapi itu bukan sesuatu yang tidak bisa diatasi," Kyuhyun berkata. Kemudian ia menyebutkan nama sutradara. "Donghae dan aku membicarakannya, dan dia juga terkesan. Kami ingin menawarkan peran kepadanya. "

Jokwon memberikan acungan jempol. "Senang mendengarnya, Kyu."

Aku mungkin lebih berbahagia mendengar kabar itu dibanding Jokwon. Sebuah aliran rasa lega yang luar biasa melandaku dan setiap otot di tubuhku menjadi rileks. Aku tidak merusak peluang Hyomin, atau bisnis Jokwon, atau masa depanku sendiri. Sekarang aku bisa santai.

Kyuhyun berkata, "Saya memiliki kontrak yang siap untuk ditandatangani. Mungkin Anda dapat mengirim asisten Anda untuk mengambilnya."

Ternyata terlalu dini untuk menjadi rileks.

Jokwon menatapku.

"Uh, tentu. Tidak masalah."

Teruslah bernapas, aku berkata pada diriku sendiri. Bagus. Sekarang aku akan berada di kantor Kyuhyun. Ketika kupikir akhirnya semua stres dan kekhawatiranku sudah berakhir.

"Saya akan kesana dalam satu atau dua jam."

"Dia akan segera kesana. Dan sekali lagi terima kasih Kyu. Semoga bisa bekerjasama lagi dengan Anda."

"Saya akan menghubungi anda lagi, segera." Klik.

Jokwon menyentuh layar ponselnya dan meletakkannya di meja.

"Apa kau bisa bayangkan betapa besarnya ini?"

"Ini... yeah, sangat menakjubkan." Suaraku tidak terdengar antusias, tapi dia seperti tidak menyadarinya.

"Ini adalah kesepakatan terbesarku dan yang paling penting sejauh ini." Dia berdiri dan mulai mondar-mandir, berjalan untuk membuang energi gugupnya.

"Tapi kau sudah tahu itu." Dia melihat jam tangannya.

"Kau ingat bagaimana untuk sampai ke studionya, kan? Ke kantor Kyuhyun?"

Perutku mulai melilit lagi.

"Ya, aku tahu."

Jokwon mengingatkanku untuk menyebutkan namanya pada penjaga gerbang, dan dalam waktu lima menit aku sudah berada di mobilku, membelah kepadatan lalu lintas Seoul dan benakku berpacu dengan pikiran akan bertemu Kyuhyun lagi.

.

.

.

.

Selama perjalanan ke studio, aku tersadar bahwa mungkin Kyuhyun memberi peran kepada Hyomin hanya untuk agar aku datang ke kantornya. Apakah itu mungkin?

Tidak, tentu tidak. Paranoid sepertinya telah menguasaiku. Tidak mungkin seorang produsen besar perfilman Korea akan menyewa seorang aktris hanya untuk mendapatkan sedikit waktu kebersamaan dengan seorang asisten agen aktris. Terlalu banyak resiko dan uang yang dihamburkan. Seluruh reputasinya bisa jatuh hanya karena satu film yang gagal.

Sangat konyol memikirkan bahwa semua ini adalah hanya tipu muslihatnya agar aku datang ke kantornya. Dia memiliki banyak cara untuk melakukan itu. Mungkin tidak secepat ini, tapi dia bisa mendapatkan apa saja yang dia mau.

Aku sampai di gerbang penjaga dan diberitahu di mana untuk memarkir. Saat aku berjalan, mataku melihat sekeliling mencari apakah ada artis terkenal. Ya, aku masih cukup baru di Seoul untuk melihat para bintang.

Aku menemukan kantor Kyuhyun tanpa kesulitan. Ketika berjalan, aku disambut oleh seorang wanita pirang tinggi, dan terpana oleh kemungkinan yang sangat nyata bahwa dia adalah wanita yang sama ketika sedang berbicara dengan Kyuhyun pagi itu saat di Gangnam. Aku tidak melihat wajahnya, tapi itu masuk akal bahwa asistennya mungkin ada di sana. Mungkin dia bepergian dengan Kyuhyun sepanjang waktu. Mungkin dia ada di sana sendiri dan mereka kebetulan bertemu satu sama lain. Atau mungkin dia sedang tidur dengannya...

Apapun masalahnya, aku belum pernah bertemu denganya ketika pertama kalinya aku berada di sini.

Dia melihatku dan berkata, "Hai, bisa saya bantu?"

"Saya Lee Sungmin. Untuk bertemu Kyu…Mr. Cho."

"Oh, ya, dia sudah menunggu Anda. Ke kanan dan masuk." Dia memberiku senyum ramah.

Area menerima tamu milik Kyuhyun lebih besar dari seluruh kantor kami dan sepertinya tumitku mengklik ekstra keras saat aku berjalan ke pintu kaca buram yang mengarah ke kantornya. Aku mengambil napas dalam-dalam, memutar pegangan, dan melangkah masuk.

.

.

.

.

Kyuhyun sedang duduk di sofa tepat di bawah poster besar film terakhir yang ia buat. Aku begitu gugup, terakhir kali aku di sini, aku tidak melihat detail kantornya. Ada cermin besar dan meja krom, kursi kulit hitam besar di balik itu, dan dua kursi yang lebih kecil di sisi lain. Di dinding ada poster film yang besar, menggunakan bingkai yang mahal, dan masing-masing memiliki pencahayaan sendiri.

"Sungmin-ah" katanya, berdiri untuk menyambutku.

"Hai, Kyu."

"Silakan duduk." Dia menunjuk ke sofa.

Aku ingin duduk di salah satu kursi di seberang sofa, dengan meja kopi besar yang memisahkan kita. Setiap langkah yang dibuatnya memancarkan kepercayaan diri, kewibawaan, dan seks. Aku tahu aku tidak seharusnya duduk di sampingnya.

Ia mengulurkan tangannya, mengundangku, dan aku menyambutnya. Tapi aku duduk beberapa meter darinya.

Kyuhyun mengangkat lengannya dan dengan dramatis mengendus.

"Apakah aku bau?"

"Tidak." Sebenarnya anda harum luar biasa. "Kenapa?"

"Karena kau duduk begitu jauh dariku. Kupikir kau memiliki alasan."

Ya aku punya alasan. Tapi aku tidak bisa benar-benar mengatakan padanya bahwa aku membutuhkan sedikit ruang diantara kami jadi aku tidak akan terjebak dalam permainannya di kamar hotel dulu.

Aku terus menjaga suara agar tetap terdengar profesional.

"Aku ke sini hanya untuk mengambil kontraknya."

Kyuhyun turun dari sofa sampai dia tepat di sebelahku. Aku melihat kembali secara dekat pada matanya yang dalam, dan bibirnya yang berbentuk sempurna.

Dia menaruh jari di bawah daguku.

"Aku sudah tidak sabar menunggumu sampai di sini." Dia membungkuk dan menciumku, ciuman lembut, tidak dengan lidah.

Ketika ia mundur kembali, aku berkata, "Kita benar-benar harus menghentikan ini. Atau...setidaknya membicarakannya."

"Kenapa merusak momen ini dengan bicara?"

Apakah dia serius? Dia tampaknya memiliki cara yang halus dengan wanita dalam segala aspek, jadi mengapa dia mengisyaratkan bahwa bicara itu tidak perlu?

"Tidakkah kau pikir ini adalah ide yang buruk?" Tanyaku.

Matanya meninggalkanku, dan tatapannya melayang ke tubuhku, kedadaku, kemudian kakiku, yang terlihat dari rok yang kupakai.

"Aku tak bisa memikirkan ide yang lebih baik selain kau dan aku bersama-sama."

"Dan 'bersama-sama' yang kau maksud adalah seks, kan? Hanya seks."

Dia mengangkat bahu. "Apa pun yang kau suka. Apa yang kau suka, Min?"

Aku tak pernah melakukan diskusi yang begitu terus terang seperti ini sebelumnya. Itu membuatku sedikit gugup, tapi tidak sampai ketitik di mana aku akan kehilangan tekadku. Aku meminta sesuatu untuk minum, dan Kyuhyun segera menawariku White Russian.

"Apakah hanya itu yang kau minum?" Tanyaku.

Dia mengangguk sambil berdiri dan berjalan ke area bar dikantornya.

"Sejak SMA. Aku tak pernah menyukai bir. Tidak pernah menyukai semua yang pernah aku coba, Tapi White Russian...dari awal mencoba aku sudah menyukainya dan tetap setia sampai sekarang."

Aku tertawa. " Air, terima kasih."

"Dingin atau panas?"

"Hanya air putih saja. Apa pun yang kau punya."

Aku melihat dia berdiri di bar, membelakangiku. Hari ini ia mengenakan kaos putih lengan panjang, celana jeans biru, dan sepatu bot coklat gelap. Kaos menempel ditubuhnya, memamerkan bahu dan punggungnya yang lebar, pinggangnya langsing. Berkat celana jeans, aku melihat bokongnya yang indah untuk pertama kalinya, dan harus membuang mata darinya sebelum ia berbalik dan menangkap basah diriku. Dia seolah-olah sudah diciptakan dengan sangat hati-hati, dan dengan susah payah dibangun oleh seseorang yang mempunyai selera yang bagus dan sangat detail.

Aku memandang ke luar ke arah jendela besar dan untuk pertama kalinya melihat ke dalam area studio. Dari lantai tiga kantornya, aku bisa melihat beberapa set luar ruangan, beberapa di antaranya tampak tidak asing dari film yang pernah kulihat. Di kejauhan, Myeongdong sebagai latar belakangnya. Satu-satunya kelemahan dalam pemandangan ini adalah tidak mampu untuk melihat tulisan yang terkenal di lereng bukit.

Kyuhyun sedang membuat minumannya sambil berkata, "Hanya air putih saja, ya? Aku tak pernah mengira kau seorang gadis yang suka sesuatu yang biasa."

"Saya tidak suka sesuatu yang rumit."

"Ah, sayang sekali. Kadang-kadang kerumitan bisa sangat menarik. Setidaknya, itulah yang aku temukan."

Jelas, kami tidak berbicara tentang air di sini, dan kami berdua tahu itu.

Dia bergabung denganku di sofa, sambil menyodorkan sebotol air putih.

"Jadi," katanya, "Kau ingin bicara. Mari kita bicara."

Aku meneguk air dingin itu, mencoba untuk mencari tahu apa yang akan kukatakan.

"Aku yang bicara duluan," katanya, menyelamatkanku. "

Mari kita terbuka. Kita tertarik satu sama lain. Kita berdua lajang-"

"Apakah menurutmu kita begitu?" Aku menyela.

" Iya bagiku. Apakah aku salah menilai situasimu?"

Aku menggeleng. "Tidak, kau tidak salah."

"Baik. Jadi apa yang menghentikanmu?"

Aku menaruh botol air di atas meja dan menyilangkan kakiku.

"Aku tidak melakukan...ini. Aku tak akan tidur dengan dengan seorang pria secara tiba-tiba hanya karena mereka hot."

Kyuhyun tersenyum.

"Jadi kau pikir aku hot."

Kepalaku langsung jatuh.

"Ya. Ya, kupikir dirimu hot, oke? Puas?"

Dia meneguk White Russian-nya.

"Senang? Ya. Meskipun aku bisa lebih senang lagi."

"Dengar, apa yang ku maksud adalah bahwa dibutuhkan lebih dari sekedar beberapa baris naskah dan langkah yang halus untuk bisa masuk ke dalam celanaku."

"Sebenarnya, kau memakai rok. Tapi itu hanya masalah teknis."

Aku menyukai selera humornya dan tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.

"Dan, untuk di catat," ia melanjutkan, "Aku belum menulis satu baris naskah pun untuk ini."

"Oke, aku percaya kata-katamu untuk itu."

Dia duduk kembali di sofa, sekarang lebih dekat padaku. Aku mencium lagi aroma yang luar biasa maskulin dan hampir saja bertanya padanya apa yang ia gunakan, tapi memutuskan untuk tidak melakukannya.

Sebaliknya, aku berkata, "Aku tidak tertarik pada casting cauch romp*." (*hubungan seks yg dilakukan artis agar mendapat peran dlm suatu film.)

Ia melemparkan kepalanya ke belakang dan tertawa terbahak. Ketika ia kembali menatapku dia berkata,

"Aku juga tidak, Min. Bahkan, aku belum pernah mendengar 'casting cauch romp' seperti yang kau katakan sepanjang karirku di kota ini."

"Tidak?"

Dia menggelengkan kepalanya.

"Itu adalah sesuatu di masa lalu. Setidaknya, kupikir begitu. "

"Kau memiliki wanita pilihanmu sendiri, aku yakin. Omong-omong, ketika aku meninggalkan Gangnam Minggu pagi, aku melihatmu dengan wanita berambut pirang di luar restoran."

Dia memiringkan kepalanya ke samping.

"Ah, ya. Dia mencoba untuk menjual sesuatu padaku."

"Ya, aku berani bertaruh dia pasti melakukan itu." Aku meraih botol air.

"Dia bukan seorang pelacur. Dia bekerja di perusahaan yang memiliki hotel dan kasino dan satu lagi di the strip. Dia mencoba membujukku untuk membeli penthouse yang satu lagi."

"Satu lagi?"

Dia mengangguk. "Aku punya satu di hotel tempat kita menginap."

Ya Tuhan. Jika dia membawaku ke penthouse, aku tak akan pernah bisa keluar dari sana tanpa memberi apa yang dia inginkan. Malam itu hampir saja aku menginginkan sesuatu dan itu nyaris menjadi hal yang pasti.

"Jadi," kataku, "Kau akan membeli satu lagi?"

Kyuhyun mengerutkan dahi.

"Aku tak melihat adanya kebutuhan punya dua penthouse di Gangnam."

"Pemikiran yang bagus."

"Terima kasih." Dia menyeringai dan meneguk minumannya.

"Mari kita kembali ke casting couch..."

"Jangan. Aku ingin kembali membahas pekerjaan saja."

Ini akan menjadi waktu yang tepat untuk berdiri, meminta kontrak, dan kembali pulang. Tapi tangan Kyuhyun tiba-tiba bertumpu pada kakiku. Aku menunduk dan melihat dia menggerakkan tangannya, dan telapak tangannya mengusap lututku dengan punggung jari telunjuknya.

Aku melihat dia melakukan itu selama beberapa detik, mengagumi bagaimana sedikit sentuhan mengirimkan kejutan rangsangan dikakiku. Dadaku terasa berat, dan aku merasa putingku mengeras.

"Kau menginginkan ini seperti aku menginginkannya," katanya.

"Aku melihatnya dalam caramu melihatku."

Aku menoleh untuk menatapnya dan dalam sekejap wajahnya bertemu dengan tatapanku, bibirnya menyentuh bibirku. Mulutku terbuka dan lidahnya masuk mengikuti undanganku tanpa ragu-ragu. Tak ada yang bisa menghentikannya, dan pada saat itu, aku tak lagi memiliki keinginan untuk menghentikan apa yang dia lakukan.

Dia mengendalikan ciuman itu, panas dan licin, mendominasi dengan menjilat secara sensual sepanjang lidahku.

Kyuhyun menjauh dari wajahku sejenak.

"Kau tidak mengatakan tidak."

"Aku juga tidak mengatakan ya."

"Biarkan aku mencoba untuk membuatmu mengatakannya."

Mulutnya menguasai mulutku lagi.

Tangan Kyuhyun meluncur kepahaku perlahan. Denyut jantungku meningkat dalam mengantisipasi. Satu jari menggelincir kelubang kaki celana dalamku, dan aku merasa ujung jarinya membelai lipatanku yang basah.

"Oh, Tuhan," kataku didalam mulutnya.

"Itu hampir disebut ya."

Dia terus menggodaku dengan ujung jarinya, lembut sedikit lebih jauh setiap kali, tetapi tidak dekat dengan klitku.

Aku mengambil segenggam rambut dan meremas. Itu tebal, namun lembut, dan genggamanku tampaknya semakin membangkitkan gairah lebih dalam dari dirinya.

"Kita tak perlu melepaskan ini," katanya, sambil menarik bajuku.

"Tapi aku harus melihatnya."

Kyuhyum melepaskan kait braku, mendorong ke samping, memperlihatkan payudaraku.

"Ya Tuhan, Min..." Suaranya menghilang saat dia menundukkan kepala dan menutup bibirnya disekitar putingku. Aku melihat ujung lidahnya menjilati putingku, sementara tangannya meremas payudaraku yang lain.

Mulutnya beralih ke putingku yang lain. Mereka semakin ketat saat ini, karena perhatiannya, dan juga karena udara dingin yang bergegas melintasi jejak basah yang ditinggalkannya.

Rokku naik sampai pinggul. Ibu jari Kyuhyun meraih celana dalamku dan mulai menariknya turun kakiku.

Aku menunduk dan melihat bahwa itu akan lepas dari satu kaki, tapi kini celana tersebut tergantung dipergelangan kakiku yang lain. Kyuhyun meletakkan satu kakiku ke lengan sofa, menarik kakiku yang lain kepangkuannya, dan itu membuatku sangat terbuka untuknya.

Aku tak pernah merasa begitu rentan terhadap seorang pria sebelumnya. Tapi aku juga belum pernah dikendalikan oleh seorang pria seperti ini.

"Kau belum mengatakan ya, Min."

"Bukankah posisi ini sudah cukup menjawab?"

Dia menyeringai.

"Katakan saja."

Tangannya telah merayap kembali pahaku. Jari-jarinya melingkar di bagian bawah, meninggalkan ibu jarinya melayang kearahku.

Aku menatapnya. "Ya."

Aku memiringkan kepalaku kembali ke sofa sebagai reaksi ketika ibu jarinya bersentuhan dengan clitku. Dia memijat pelan membentuk lingkaran, memberikan lebih banyak tekanan, kemudian berkurang, kemudian lebih lagi.

Aku menatap lurus ke langit-langit ketika aku merasa mulutnya di leherku. Lidahnya menelusuri lingkaran kecil, dan kemudian ia sedikit menghisap.

Cara dia memperlakukan clitku sangat sempurna, dan aku bisa klimaks hanya dengan cara itu saja, tapi itu tidak cukup untuk Kyuhyun. Tangannya pindah dan menyelipkan satu jarinya di dalam diriku, mengubahnya karena ia membiarkannya meluncur masuk dan keluar dalam satu belaian pendek.

"Kau begitu terbuka untukku," katanya.

Suaranya sudah cukup untuk membuatku basah tadi, tapi efeknya adalah menjadi seribu kali lipat dengan jari-jarinya membelai tubuhku, dan memasukiku.

"Ya Tuhan, Min, kau lebih dari yang aku harapkan."

Aku memikirkan hal yang sama tentang dirinya. Pikiranku pun fokus pada tangannya, karena ia menyelipkan masuk kedua jarinya.

"Oh, ya, please," kataku.

"Katakan apa yang kau suka."

"Itu. Tepat .. te ...te..tepat.. disana. oh, Tuhan... "

Dengan kakiku di atas pangkuannya, aku bisa merasakan kejantanannya keras melalui celananya. Aku ingin menyentuhnya. Aku ingin membuatnya merasa puas, sebaik dia melakukannya padaku.

Pinggulku melawan untuk memenuhi jari-jarinya yang membelai. Aku tidak menahan apapun.

Aku menatap kyuhyun. Dia menatap ke bawah diantara kedua kakiku, akupun melihat ke bawah juga. Jika kakiku telah terbuka lebih lebar, kakiku pasti akan menjadi kram. Tapi tak ada rasa sakit. Kenikmatan itu semuanya berasal dari tangan terampil milik Kyuhyun.

Cara dia merabaku lebih baik daripada seks yang pernah aku alami.

Napasku tercekat di tenggorokan dan aku tersentak.

Aku bertanya-tanya apakah pintu terkunci, dan kemudian berpikir bahwa jika seseorang masuk aku tidak akan peduli. Ini terlalu nikmat.

Aku mulai menggerakkan kakiku yang menutupi pangkuannya. Kejantanan Kyuhyun tegang dibawah celana jinsnya. Aku tak tahu bagaimana dia mempertahankan kontrol diri padahal dia bisa menurunkan celananya dalam hitungan detik dan bercinta denganku.

"Aku akan membuatmu orgasme, Min. Ini semuanya tentang kamu."

Itu adalah jawaban mengapa ia terus memakai celananya. Ini semuanya tentang kamu. Tak pernah seorang pria mengatakan itu padaku. Ide seperti itu tak mungkin pernah terlintas pikiran orang-orang yang pernah bersamaku.

"Apakah kau siap klimaks untukku?"

"Ya. Ya."

Mulutnya menekan mulutku, nikmat, kuat dan posesif. Dia menundukkan kepala dan lidahnya membelai putingku, kombinasi antara gigi atas dan lidah memberikan sensasi yang sedikit tajam namun lembut.

Usapan menjadi cepat, dan telapak telapak tangannya menempel clitku. Sempurna.

Kyuhyun berkata, "Kau lihat bagaimana panasnya ini nantinya? Kau dan aku?"

Aku berada di titik di mana aku hampir tak bisa berkata-kata. Aku membuat beberapa jenis suara yang hamper berdecit. Darimana itu berasal? Kyuhyun telah membuatnya keluar dari mulutku, entah bagaimana.

"Seks kita akan begitu nikmat. Aku bisa membuatmu orgasme dengan seratus cara yang berbeda."

Setelah kejadian ini - Atau audisi ini? Aku tak ragu bahwa dia bisa.

"Aku ingin melihat matamu ketika kau orgasme, Min."

Kepalaku menghadapnya, dan ketika aku menatapnya, mulutnya sedikit terbuka.

"Kau merasakan seberapa keras milikku terhadapmu?"

Aku mengangguk, menekan kakiku turun dan merasakan ereksinya. Aku membayangkan bagaimana miliknya merobek celana jinsnya.

"Dia akan berada di dalammu segera, dan kau akan kembali merasakan kenikmatan seperti yang aku berikan sekarang."

"Kyu. Kumohon...aku mau..."

"Mau apa? Mau orgasme? Kau ingin aku membuatmu orgasme?"

"Semua ...- semuanya," kataku terbata-bata.

Seringai muncul di sudut mulutnya.

"Belum. Tidak semudah itu. Ini semuanya tentangmu sekarang."

"Oh, Tuhan, ya. Aku akan..."

Kata-kataku terhenti saat ia membawaku menuju orgasme. Pinggulku mendorong melawan tangannya. Dua jarinya tepat berada di tempat yang selalu aku temukan dengan jari-jariku sendiri. Sebuah tempat kebanyakan orang tidak pernah temukan, namun Kyuhyun telah memusatkan perhatian pada hal itu dengan mudahnya.

"Lihatlah aku," katanya.

Aku melakukan apa yang dia katakan, dan matanya memiliki tampilan seseorang yang baru saja menyelesaikan penaklukan besar.

Dia tahu dia memilikku. Dia tahu aku telah menyerah. Dan aku tak pernah menahannya sedikitpun. Ada intensitas untuk membuat diriku rentan kepadanya dan itu tak kuharapkan. Akan lebih mudah daripada yang aku pikir itu akan terjadi, dan imbalannya adalah di luar harapan terliarku.

Wajah Kyuhyun dekat dengan wajahku, begitu dekat sehingga dahi kami bersentuhan. Dia menatap jauh ke dalam mataku saat kabut orgasme yang terangkat dariku dan perlahan-lahan memudar kembali ke dunia nyata.

Kyuhyun mengaitkan braku lagi, dan menarik bajuku kembali untuk menutupiku. Dia pindah dari sofa dan berlutut di lantai, mengangkat pergelangan kaki yang masih memegang celanaku, dan memasangkan kembali satu kakiku yang lain. Aku menggerakkan pinggulku untuk membantunya menarik celana dari kaki ke pinggangku. Setelah merapikan rokku, dia duduk di sampingku sekali lagi.

Aku berpikir betapa uniknya bahwa ia memastikan aku berpakaian lagi, tertutup, dan tidak harus merasa tidak nyaman setelah masa-masa kerentanan telah berlalu.

"Terima kasih," kataku.

Dia mencium keningku dan kemudian memberiku sebuah ciuman panjang, pelan dan manis di bibirku.

Aku ingin tinggal, tapi aku harus pergi.

"Aku harus kembali bekerja."

"Ya. Aku tak ingin Jokwon bertanya-tanya apa yang terjadi." Dia tersenyum.

"Aku akan mengambil kontraknya."

Aku pergi dan berdiri di pintu kantornya sementara ia mengambil amplop itu. Ketika ia menyerahkannya padaku, aku mengambilnya, tapi ia menahannya dan menarik kembali.

Aku menatapnya. Dia memiliki senyum yang menyenangkan di wajahnya.

"Terima kasih sudah datang, Ms Lee."

"Senang berjumpa dengan anda lagi, Mr Cho."

Dia menyerahkan amplop besar. Aku memegangnya dekat dengan dadaku. Aku sedang menunggu untuk ucapan selamat tinggal mungkin sedikit kecupan di pipi. Sebaliknya, dia bersandar kemudian mencium telingaku dan berkata,

"Lain kali kita tidak akan terburu-buru, dan aku akan menghabiskan waktuku untuk bercinta denganmu."

Aku menelan ludah. Keterusterangan dalam nadanya mengejutkan, dan hampir pasti akan membuatku tertawa jika itu keluar dari mulut laki-laki lain itu. Tapi sebenarnya adalah, aku terangsang oleh kata-katanya.

Dia meraih pegangan pintu, tapi sebelum ia membuka itu aku berkata,

"Kapan tepatnya waktu itu?"

Sialan. Ada nada keputus-asaan dalam pertanyaanku aku tidak bermaksud untuk itu.

Dia mendongak seolah-olah dia sedang berusaha untuk menemukan jawabannya.

"Aku pikir biarkanlah itu menjadi kejutan."

.

.

.

.

"Itu pasti membutuhkan waktu lama," kata jokwon saat aku berjalan ke kantor.

"Maaf."

Aku mencoba untuk tidak membuat kontak mata dengan dia, meskipun aku tahu itu hanya akan membuatnya semakin tampak bahwa aku sepertinya menyembunyikan sesuatu.

"Yah?" Katanya.

"Apa yang terjadi?"

"Dengan apa?"

"Apa kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja. Kenapa?"

Dia menyipitkan mata sedikit dan menatapku samping.

"Kau tidak terlihat baik-baik saja. Kau tampak...berbeda. Apakah ada yang salah?"

Aku pernah mendengar istilah "rambut kusut sehabis bercinta" sebelumnya, tapi adakah istilah "rambut kusut sehabis bercinta dengang jari"? Apakah itu yang dia maksud? Atau mungkin aku hanya begitu gugup yang terlihat jelas wajahku. Lagipula, aku tak ingin dia memperjelasnya.

"Semuanya baik-baik saja, Jokwon. Aku sudah punya kontraknya."

Aku merogoh tasku untuk mengambil amplop.

"Dan kemudian setelah aku pergi, aku harus berhenti di suatu tempat dan mengurus sesuatu."

Tampaknya dia tidak percaya padaku.

Aku merendahkan suaraku dan menambahkan, "urusan pribadi." Aku membuat semacam wajah yang tampak malu untuk memperkuat ceritaku, dan tampaknya dia percaya.

"Ah, maaf," katanya.

Aku menggeleng. "Jangan khawatir." Aku menyerahkan amplop ke Jokwon.

Dia membukanya, mengeluarkan kontrak dan dengan cepat melihatnya.

"Apakah kau tahu apa artinya kertas ini ? Ini sangat besar artinya bagiku." Dia menatap lagi dengan kebanggaan yang ekstrim di wajahnya.

"Aku ikut senang mendengarnya."

Dia mendongak dari kertas. "Senang bagi kita semua. Kau bagian dari tim di sini. Aku tidak bisa melakukan ini tanpa bantuanmu."

Ini membuatku sedih mendengarnya. Untuk satu hal, itu adalah hal yang sederhana baginya, dan itu bukan sesuatu yang sering datang di Seoul. Dan yang kedua ketika aku tahu itu benar bahwa aku telah melakukan banyak hal untuk membantu dia mendapatkan peran untuk Hyomin, dan aku juga melakukan banyak hal untuk menempatkan bisnis Jokwon ke dalam bahaya.

Semua itu akan menjadi salah satu rumor tentang Jokwon yang menggunakan asisten muda untuk membujuk eksekutif studio dengan cara yang tidak etis.

Aku sangat bahagia bahwa itu adalah hari Jumat dan aku punya dua hari penuh untuk pergi menjauh dari Jokwon dan kantor.

Di sisa hari itu yang bisa aku pikirkan hanyalah kapan aku bisa bertemu Kyuhyun lagi. Dia mengatakan itu akan menjadi kejutan, dan ketika aku meninggalkan kantornya kupikir itu terdengar menarik. Tetapi ketika pulang dari kerja itu membuat sarafku menjadi gila.

Aku punya rencana malam ini untuk pergi ke klub dengan Tomochiin dan dua temannya yang baru aku kenal. Mungkin itu akan menjadi pengalih pikiranku dari semua yang berhubungan dengan Kyuhyun.

.

.

.

"Gaun ini membuatku terlihat seperti pelacur, kan?"

Aku berada di kamar mandi sedang memakai make-up saat Tomochiin masuk dan mengajukan pertanyaan. Aku ingat dia menanyakan hal yang sama ketika kami berada di Gangnam. Aku menatapnya di cermin. Ia mengenakan gaun ketat berwarna peach strapless yang panjang sampai dikakinya. Itu indah, tapi aku berpikir apa yang akan terjadi jika dia sengaja menginjak tepinya. Pasti payudaranya akan menyembul keluar jika hal itu terjadi.

"Kenapa kau terus menanyakan apakah kau terlihat seperti pelacur?"

Dia berbalik ke samping dan melihat profilnya di cermin.

"Aku tak tahu. Aku hanya tidak ingin terlihat seperti pelacur murahan."

"Kau tampak hebat. Tapi ada satu hal saja..." aku bercerita tentang hem dan dia bilang dia sudah memikirkan hal itu, dan jika itu terjadi, mungkin itu akan menjadi pusat perhatian sepanjang malam.

"Itu akan jadi suatu merendahkan," kataku.

Aku selesai bersiap-siap, sementara berdebat dengan diriku sendiri apakah menceritakan tentang apa yang terjadi di kantor Kyuhyun pada hari sebelumnya. Terus terang, aku kagum dengan caraku menahan diri.

Tomochiin memberi tahu arah ke klub favoritnya saat aku menyetir, tempat yang disebut Drais terletak di atas W Hotel di Myeongdong Boulevard. Setelah berkunjung ke gangnam, aku agak siap untuk beraksi - cahaya, musik, orang-orang tampan berpakaian rapi dan, tapi ini merupakan level yang lebih tinggi. Ini adalah tempat terbagus di Seoul untuk nongkrong, di tempat itu ada sebuah restoran, kolam renang, dan klub malam. Di dalamnya, musik sangat keras, pencahayaannya memamerkan dinding merah, hitam, ungu, dan hijau. Kursi nyaman yang besar dan sofa di mana-mana. Orang-orang menari di bawah lampu lantai yang besar, lengkap dengan nuansanya. Orang-orang lebih banyak berada di tepi kolam renang.

Itu adalah malam yang indah. Dari sudut pandang dari atap Hotel W, aku memiliki perspektif yang sama sekali baru dari Seoul. Setidaknya dalam arti visual.

Kami akhirnya berjumpa dengan dua teman Tomochiin itu yang dia ingin kenalkan kepadaku - Jurina dan Fei. Mereka juga calon aktris, dan dalam waktu sepuluh menit aku mendengar mereka bicara lebih banyak tentang audisi dan agen dibandingkan yang Tomochiin dapatkan dalam sebulan aku tinggal bersamanya. Aneh.

Ketika mereka bicara tentang orang-orang terkenal yang mereka lihat di sini sebelumnya, nama Kyuhyun muncul.

"Omong-omong tentang setan," kata Jurina.

Kita semua melihat ke arah dia mengangguk ke suatu arah.

Sialan. Ada dia. Berdiri di area bar. Ia bicara kepada dua orang yang tidak kukenal, dan kemudian kami membuat kontak mata. Seringai lambat muncul di wajahnya dan ia mengucapkan kata: "Surprise."

Dan aku memang terkejut. Sebenarnya, bukan karena kata-kata itu. Mungkin tidak ada yang bisa lebih baik untuk menggambarkan apa yang kurasakan, napasku tertahan di tenggorokan, lututku pun jadi lemas, dan aku merasakan sensasi kesemutan di seluruh kulitku yang menyebabkan putingku menjadi keras dan denyutan yang samar diantara kakiku.

"Aku pernah mendengar cerita tentang orang itu," kata Jurina.

Tomochiin menatapku dengan ekspresi khawatir. Aku sangat senang tidak menceritakan apa yang terjadi di kantor Kyuhyun sore itu.

Fei menyesap margarita. " katakanlah."

Ya, ceritakanlah, ujarku dalam hati. Mungkin aku perlu tahu lebih banyak tentang Kyuhyun sebelum aku membiarkan dia memberiku kejutan yang ia janjikan sebelumnya.

"Mata keranjang," kata Jurina.

Tomochiin menatapku, lalu pada Jurina.

"Kau pernah mendengar cerita akhirnya?"

Jurina mengatakan, "Tidak, tapi aku sudah mendengar banyak hal."

"Seperti apa?" Tanyaku.

"Bahwa dia sudah meniduri banyak aktris."

Tomochiin tertawa. "Oh, seram. Hei, Ini Seoul. Dia hot dan lajang. Tidak ada hukum yang menentang dia untuk melakukan apa yang dia inginkan."

Jurina berbalik ke Tomochiin. "Jangan katakan kau…"

"Tidak." Tomochiin menggelengkan kepalanya.

"Aku hanya melihat dia secara pribadi cuma sekali, sebenarnya." Dia menatapku.

"Kau?" Kata Jurina, melihatku dari atas dan ke bawah, seperti aku adalah seseorang yang tidak mungkin akan sampai dua kali dilihat Kyuhyun. Setidaknya itulah kesimpulanku.

Aku tidak repot-repot menjawabnya. Aku hanya tersenyum. Aku tahu apa yang akan terjadi, dan aku memutuskan untuk membiarkan dia bicara untuk dirinya sendiri.

Fei mengaduk minumannya.

"Dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan denganku. Lihatlah bagaimana tubuh itu. Sialan." katanya sambil menggigit bibir bawahnya.

"Oh, sialan." Mata Jurina membesar.

"Apakah dia...Yep. Dia datang ke mari."

"Come to mama," gumam Fei.

Tapi dia tidak datang ke arah Fei. Dia mendatangiku.

"Halo, Min." Dia mencium pipiku.

Aku berbisik, "Apa yang kau lakukan di sini?"

Mulutnya masih dekat telingaku. "Surprise..."

Fei dan Jurina menatapku, shock tampak terlihat di wajah mereka. Mereka menatap Tomochiin, yang mengangkat bahu dengan senyum di wajahnya.

Kyuhyun meletakkan tangannya di punggungku.

"Apakah sejauh ini kalian semua bersenang-senang?"

Tomochiin dan teman-temannya mengatakan iya.

Aku tidak repot-repot memperkenalkan dia ke Fei dan Jurina. Kebencian mereka bagiku sangat jelas dari cara mereka menatapku, tapi aku tak peduli.

Kyuhyun menatapku, kemudian pada mereka.

"Ku harap kalian semua tidak keberatan ladies, tapi aku harus menculik Sungminnie untuk sementara waktu."

Ketiganya menggelengkan kepala mereka.

Ketika kami sampai beberapa meter jauhnya, Kyuhyun bertanya siapa yang menyetir.

"Aku. Kenapa?"

"Kau harus memberikan kunci mobilmu untuk Tomomi."

"Kenapa?"

"Agar dia bisa pulang."

Aku tertawa gugup. "Aku tahu apa yang kau maksud, tapi... kita mau ke mana?"

Dia menciumku ringan di bibir. "Ini kejutan, ingat?"

Aku mengambil kunci mobil dari tasku dan berjalan beberapa langkah kembali ke Tomochiin dan menyerahkan kuncinya.

"Kau akan pergi?"

Aku mengangkat bahu.

"Aku tak tahu."

Jurina dan Fei keduanya menatapku dengan mulut terbuka.

"Dia bilang dia punya kejutan bagiku," ujarku.

"Aku akan lihat nanti. Atau besok. Atau... kapanpun. "

Aku berbalik dan berjalan pergi, aku merasa seperti baru saja memenangkan putaran kejuaraan catty girl playoffs.

.

.

.

.

Tiga puluh menit kemudian, kami berada di pinggiran kota Seoul, berjalan masuk kesebuah rumah besar. Pohon-pohon palem yang menghiasi halaman rumput, dan rumah itu diterangi oleh lampu yang bersinar dari atas tanah.

Kyuhyun membuka garasi, mematikan mesin mobil dan berkata, "

Aku tidak sabar untuk mengajakmu ke rumahku." Dia keluar dan membuka pintu untukku. Ketika aku berdiri, dia membawaku dalam pelukannya dan menciumku dengan ganasnya.

"Aku tak sabar untuk melihat rumahmu. Ini terlihat indah."

"Itu bukan alasanku membawamu ke dalam rumah." Dia mengambil tanganku dan menuntunku ke dalam.

Kami masuk melalui pintu di garasi, dan mengarah tepat ke ruang tamu yang luas. Nuansanya gelap mulai dari dinding, lantai dan perabotan, nuansa cokelat dan merah, dengan kolam renang kecil yang bercahaya dari lampu di sekitar ruangan. Kantornya cerah dan terlihat modern, tapi rumahnya bernuansa hangat, sangat maskulin.

Sama seperti dirinya. Dan seperti caranya yang posesif ketika menciumku lagi saat kami baru saja masuk ke dalam rumah.

Tasku jatuh ke lantai. Kyuhyun membuka ritsleting di bagian belakang gaunku dan jatuh ke pergelangan kakiku. Aku melangkah keluar dari gaunku, dan menemukan diriku berdiri hanya menggunakan bra, celana dalam, dan sepatu.

"Kau punya cara untuk membuatku telanjang, Kyu."

"Aku suka ketika kau terekspos untukku."

Bibirnya menutup bibirku, lidahnya lahap menjelajahi mulutku.

Aku berhasil menarik diri sedikit.

"Bolehkah aku melihatmu?"

Dia mengerang dari dalam dadanya.

"Aku ingin kau melihatku. Terlanjangi aku."

Tangannya jatuh ke sisi tubuhnya dan dia berdiri di depanku, menunggu.

Sialan. Aku akan membuka pakaian Cho Kyuhyun dan melihat tubuh indahnya telanjang.

Aku mengangkat kemejanya, tanganku di bawah, merasakan otot-otot di perut dan dadanya. Aku membuka kancing kemejanya, menariknya bahunya dan menjatuhkan pakaiannya bersama dengan pakaianku di lantai.

Tubuhnya seindah seperti yang aku bayangkan. Dadanya yang lebar, ditutupi oleh kulit putih pucat. Aku meletakkan tanganku membelai dan merasakan betapa keras dadanya.

Ketika aku menatap wajah Kyuhyun, aku melihat matanya membara dengan intens. Aku terus menatap matanya saat aku menurunkan tanganku ke perutnya dan menemukan sabuknya. Mendengar denting logam saat aku melepaskan gesper itu seperti denting peringatan: Kau akan segera menyentuh kejantanannya...

Dan begitulah yang kulakukan. Tanganku menyelinap di bawah pinggang boxernya dan sebelum aku tahu, jariku sudah menyentuh pangkal ereksinya. Aku menggerakkan tanganku untuk membungkusnya dalam genggaman, dan merasakan seberapa besar miliknya.

Tangan Kyuhyun membelai sisi wajahku, dan ia menarikku ke mulutnya. Sebuah ciuman panas membakar diikuti tanganku yang mengeeksplorasi panjang ereksinya. Kulit selembut beludru, menyelubungi kejantanan terkeras dan terbesar yang pernah kurasakan. Sebuah gelombang kegairahan meledak dalam diriku saat kusadari bahwa aku adalah obyek yang menyebabkan kegairahannya.

"Ya Tuhan, Min, sentuhanmu begitu sempurna."

Dia menciumku lagi saat ia melepas bra-ku. Payudaraku terasa berat dan ia menangkup masing-masing di tangannya, menggosok putingku dengan ibu jarinya.

Aku mencium lehernya dan turun dari dada ke perut, kemudian berlutut. Aku membuka ritsleting celananya dan menurunkan bersama dengan boxernya. Aku pertama kali melihat kejantanannya. Itu panjang dan besar, mencuat lurus dan berkedut dengan semangat. Sepertinya aku melihat itu selama beberapa menit, tapi aku tahu itu hanya beberapa detik. Ketika aku akan memasukkannya ke dalam mulutku ia menyentuh bahuku dan mendesakku untuk berdiri.

Kyuhyun membungkus tangannya di pinggangku.

"Aku ingin kau di sofa." Dia mengangkatku dengan mudah dan melangkah ke arah sofa, menurunkanku hingga berbaring di sofa.

"Aku sudah sangat ingin merasakanmu sepanjang hari," katanya, mencium leherku, dadaku, berhenti di masing-masing puting dan membuat lingkaran dengan lidahnya. Puncak putingku mengeras karena gerakannya.

Kyuhyun sedang berlutut di lantai saat aku melirik sambil berbaring di sofa. Dia menarik celanaku turun kaki dengan cepat, hampir menghentak, dan pada saat itu aku bahkan tidak peduli jika dia merobek celana dalamku sekalipun.

Dia mengangkat kakiku dengan salah satu tangannya yang besar, tangan yang kuat memegang pergelangan kedua kakiku, dan melepaskan sepatuku.

Dia menjilati kedua betisku, kemudian turun belakang lututku, di mana hampir menggelitik sedikit, tapi ini terlalu panas untuk menggelitik. Dibagian bawah pahaku, mencium, mengisap... berhenti di sana, mengisap...

Apakah dia memberiku tanda di bagian belakang pahaku? Menandaiku? Whoa.

Ketika kakiku terpisah, dia menempatkan salah satu kakiku di atas bahunya. Dia mendorong keluar kakiku yang lain, jauh, menyebarkan diriku terbuka lebar sama seperti yang ia lakukan di sofa kantornya.

"Aku suka kalau kau begitu terbuka bagiku," katanya, menggemakan pikiranku.

"Kyu..." Suaraku melemah. Aku tak bisa mengeluarkan kata-kata. Aku bahkan tak yakin apa yang harus kukatakan.

Dia mencium bagian dalam masing-masing pahaku, berlama-lama sedikit disalah satunya, membuka mulutnya dan membiarkan giginya menyeret sepanjang kulitku. Kemudian membenamkan wajahnya di antara kedua kakiku, lidahnya membelai sepanjang lipatan basah.

Kyuhyun menggunakan jari-jarinya untuk membukaku, mengekspos clitku yang sudah begitu terangsang kepadanya. Ketika lidahnya bersentuhan dengannya, aku ingin tetap seperti itu untuk sementara waktu, mungkin berjam-jam, mungkin berhari-hari... Aku hanya tak ingin dia berhenti.

Pinggulku bergoyang bersama dengan sentuhan lidahnya yang membuat gerakan melingkar di sekitar clitku, tubuhku membuat gerakan dalam arah yang berlawanan, menciptakan gesekan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Tubuhku memohon untuk di sentuh dan Kyuhyum memberiku semua yang ku bisa terima.

Aku menjadi gila oleh suara yang dia ciptakan, erangan dan hampir menggeram dalam kenikmatannya sendiri, kenikmatan itu berasal dari usahanya memuaskanku.

"Kyu, aku begitu dekat..."

Aku merasakan napas panasnya padaku saat ia bicara sambil menjilat.

"Ayo klimakslah. klimakslah dalam mulutku. "

"Jangan berhenti."

Aku menggeliat bersamaan dengan belaian lidahnya, orgasme menyentak melalui tubuhku. Otot perutku meregang, berhenti, berulang-ulang, dan tubuhku bergetar saat aku melemparkan kepalaku di atas bantal dan meneriakkan namanya.

Dia mengerang, menambahkan getaran saat lidahnya membelai, dan orgasme meningkat mengguncang melalui setiap inci dari tubuhku.

Ketika orgasme itu mereda, Kyuhyun terdiam di tempat, mencium paha dalamku. Setelah beberapa saat, ia bergerak di atasku, mulutnya segera akan mengaitku. Aku merasakan kelaparan dalam ciumannya - mendalam, bergairah, penuh keinginan, kebutuhan.

Dia berlutut di antara kakiku dan merobek paket foil dan memegang kondom. Aku menyaksikan bagaimana ia menggulirkannya di sepanjang ereksinya. Aku bisa mendengar jantungku berdetak di telingaku. Aku ingin lebih. Aku butuh lebih.

Kepalaku berguling ke satu sisi ketika ia meletakkan tangannya samping sofa. Ia memberi bantal untuk menopang berat tubuhnya yang kuat. Lenganku hanya di atas kepalaku. Kyuhyun meraih kedua tanganku dengan satu tangan, memegang pergelangan tanganku bersama-sama seperti yang ia lakukan dengan pergelangan kakiku, menjepitku di sofa.

Aku melihat wajahnya. Bibirnya terkatup rapat, hidungnya mengembang, dan matanya menatap tajam ke arahku dengan nafsu. Aku berada di bawah kendali seorang pria yang berniat mendapatkanku, memilikiku secara seksual, menuju pelepasannya sendiri.

"Siap, Min?"

Aku mengangguk.

"Bagus, karena aku akan bercinta denganmu."

Aku merasakan kepala kejantananya menyentuh di antara lipatanku. Dia mendorong sedikit dan aku menerima satu inci pertama atau lebih.

"Kau begitu ketat."

"Uh huh..." nada suaraku menjadi tinggi lagi. Kyuhyun memiliki cara untuk membuatku terdengar seperti diriku yang bukan biasanya.

Dia masuk sepenuhnya dalam satu dorongan keras, membuat kepalaku kembali ke bantal, saat punggung dan leher melengkung, menerima semua miliknya dalam diriku, aku merasakan twinsball-nya menempel kulitku.

Aku terkesiap. Kyuhyun begitu keras, begitu besar, begitu dalam, aku tak yakin aku bisa menerima lebih lagi tanpa mencapai orgasme dengan cepat.

Mulutnya dileherku dan aku merasa bibirnya mengisap kulitku, dan lidahnya menjilatiku dan dia menyebut namaku lagi dan ditarik kembali, hampir semuanya keluar, kemudian masuk lagi ke dalam diriku dengan dorongan yang panjang.

Sebelumnya, aku belum pernah dikendalikan seperti ini sebelumnya saat berhubungan seks, belum pernah seorang pria memegang pergelangan tanganku dan menguasaiku seperti ini. Aku bahkan tidak pernah berpikir tentang hal itu. Mungkin ada aspek yang tak nyaman atau bahkan menakutkan, tapi Kyuhyun melakukannya dengan keahlian yang tinggi. Benar-benar memegang kendali, dan benar-benar fokus pada kenikmatan kami berdua.

Pinggulnya bergoyang maju mundur, kemudian bergerak hampir seperti gerakan melingkar, kejantanannya mengisiku dan menyentuh setiap bagian dari intiku yang membengkak.

"Kau terasa begitu nikmat," geramnya.

Dia menundukkan kepala ke dadaku dan mengambil puting ke dalam mulutnya. Dia mengisapnya dengan dalam dan lembut, tapi kemudian merapatkan bibirnya, menggoda dan menarik putingku hingga benar-benar berubah menjadi keras. Kyuhyun memandangnya, menjilat, dan kemudian memberikan perhatian yang sama dengan putingku yang lain.

Dia melepaskan pegangannya padaku dan meletakkan tangannya di kedua sisi tubuhku. Aku mengulurkan tangan dan merasa lengannya yang keras. Tangannya menopang berat badannya saat ia menghunjamku dengan lebih keras. Kyuhyun nyaris garang saat ia menghunjamku. Napasnya berubah semakin dalam dan pendek.

Dia memberiku kenikmatan saat dia juga memberi kenikmatan untuk dirinya sendiri. Aku ingin dia klimaks dan mendapat orgasme terbaik yang pernah ia alami.

Dia menciumku lagi, mengambil lidahku ke dalam mulutnya dan kemudian mengisapnya. Kenikmatan itu meningkat dan aku mulai membuat suara-suara kecil di dalam mulutnya, yang membuat pinggulnya bergerak dengan kekuatan yang lebih.

Aku merasa kejantanannya berdenyut, berdenyut semakin dekat untuk mencapai klimaks. Tanganku mengepal erat di lengan atasnya dan aku merasa otot-ototnya berubah menjadi lebih menegang. Aku mendongak dan melihat dia memiringkan kepalanya ke belakang. Lalu ia melihatku lagi, mengambil bibirku dalam ciuman liar.

"Aku akan keluar di dalam dirimu, Min."

Aku belum pernah disetubuhi seperti ini sebelumnya. Belum pernah memiliki seorang pria yang begitu bertekad untuk bercinta seperti ini. Belum pernah ada seorang pria bicara denganku dengan begitu manis dan begitu kotor pada saat yang bersamaan. Aku belum pernah begitu terangsang seperti sekarang dan itu membuatku ingin memberikan apapun yang Kyuhyun inginkan.

"Apa kau menginginkannya?" Ia menghela napas.

"Ya, keluarlah. Aku- sangat ingin kau klimaks."

Sangat sulit untuk mengeluarkan kata-kata. Dia benar-benar mengambil napasku, secara harfiah. Aku tersentak dan bergetar saat aku mulai merasakan orgasme lain muncul dalam diriku dari titik di mana kejantanan Kyuhyun yang keras itu bergesekan denganku dalam irama yang sempurna.

"Damn..." Suaranya rendah dan mendesah.

Aku merasa dia menegang. Sodokannya melambat nyaris berhenti. Lalu ia kembali masuk ke dalam diriku, sangat dalam, dan mengerakkan pinggulnya penuh semangat saat ia memompa benihnya masuk ke dalam kondom.

"Ya Tuhan, Min~" katanya saat ia klimaks.

Dia menurunkan tubuhnya ketubuhku dan memelukku erat-erat. Aku menyukai berat tubuhnya berada di atas tubuhku, kelelahannya akibat nafsu yang kuat atas diriku.

Kami berbaring seperti itu selama beberapa saat, dan kemudian Kyuhyun merubah posisinya sehingga aku berbaring di samping tubuhnya di sofa besar dan lebar, dengan lenganku melintang di dadanya dan kepalaku bersandar padanya, menatap kearah wajah pria yang begitu mendambakanku.

Kami bersantai di sofa selama sekitar tiga puluh menit, memikirkan apa yang baru saja kami lakukan.

"Itu menakjubkan." kata Kyuhyun.

"Yang terbaik."

Aku tidak berbohong. Itu memang seks terbaik yang pernah kumiliki, tidak diragukan lagi karena dia menjadi pria paling seksi yang pernah tidur denganku, dan cara dia melakukannya, mengambil kendali, menguasaiku.

Aku tak tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Aku benar-benar tidak mengharapkan apa-apa, tapi apa yang akhirnya terjadi adalah mengejutkan.

"Apakah kau siap?" Katanya.

Aku menatapnya dengan senyum di wajahku.

"Itu tergantung. Aku harus membersihkan diri dari apa yang baru saja kita lakukan." aku tertawa, dan dalam beberapa detik, aku menyesalinya.

"Kau bisa istirahat di jalan. Aku akan memastikan kau akan baik-baik saja."

Apa? Dia akan mengantarku pulang. Aku tidak mau bertanya mengapa, dan merasa lebih dari kewalahan, aku mungkin tidak dalam kerangka berpikir yang benar untuk percakapan ini. Di atas semuanya, apa yang akan kulakukan? Memohon padanya untuk membiarkanku menginap?

Kami nyaris tidak bicara di dalam perjalanan kembali ke pusat Seoul. Semakin lama kita berada di dalam mobil, semakin aku merasa sakit hati, dimanfaatkan, dan murahan. Aku bertanya-tanya di mana namaku akan berada di daftar nama wanita lain yang ia bawa pulang, begitu menggebu-gebu, dan kemudian dilupakan.

Ketika kami sampai ke tempatku dia berkata, "Aku akan mengantarmu sampai ke pintu."

"Tidak, kau tak perlu lakukannya...Sungguh." aku mengambil tasku dan meraih pegangan pintu.

"Min, tunggu sebentar." Dia meraih tanganku dan membawanya ke wajahnya. Dia mencium punggung tanganku .

"Terima kasih untuk malam yang luar biasa."

Aku berhasil mengeluarkan senyum palsu terbaikku yang ku bisa dan cepat keluar dari mobil tanpa berkata apa-apa. Aku berjalan di jalan setapak, sampai ke pintu, memasukkan kunci di lubangnya... tanpa berbalik untuk melihat dia duduk di sana didalam mobilnya. Butuh kemauan yang keras untuk melakukannya, aku tak tahu aku memilih untuk melakukan itu.

Aku melangkah masuk dan segera pergi ke kamar mandi. Aku memandang diriku di cermin dan air mata mulai mengalir.

Bagaimana aku bisa begitu bodoh? Begitu mudah tertipu? Kenapa aku membiarkan pertahananku bobol? Kenapa aku membiarkan seorang pria menggunakan dan mengontrolku seperti itu? Sial! Aku tahu aku bisa lebih baik dari itu!

Semua pikiran negatif yang dulu aku punya, setelah Siwon, datang bergemuruh kembali ke pikiranku. Aku menyalahkan diriku sendiri atas segala sesuatu yang telah terjadi malam itu, sama seperti aku menyalahkan diriku sendiri karena membiarkan diriku menjadi begitu rentan terhadap Choi Siwon.

Apa yang Siwon lakukan jauh dari apa yang Kyuhyun baru saja lakukan padaku, tapi itu semua karena aku membiarkan diriku menjadi rentan terhadap sesuatu yang selalu penuh dengan bahaya, yang membuatnya seolah-olah terlihat kuat, tapi aku tidak siap untuk melakukannya lagi, dan melihat apa yang terjadi.

Aku begitu emosional dan meninggalkan kamar mandi. Mungkin Tomochiin masih terjaga, dan dia akan membiarkanku melampiaskan frustrasiku. Dan mungkin akan menjadi "Aku bilang juga apa" untuk kuhadapinya, tapi pada saat itu aku tak peduli. Aku hanya tidak ingin sendirian.

Ketika aku sampai ke kamarnya, aku menemukan bahwa dia tidak ada di sana.

Bagus. Aku sendirian.

Aku berpikir untuk menelpon Heechul, tapi sekarang sudah hampir pukul satu pagi di si di Seoul, dan benar-benar larut malam di Busan. Tidak mungkin aku akan meneleponnya. Mungkin itu pilihan terbaik bahwa aku tidak bisa bicara dengan kakakku sekarang.

Akibat kelelahan fisik dan emosional aku tertidur dengan cepat, terima kasih Tuhan. Aku butuh istirahat.

Apa yang aku tidak butuh adalah mimpi: Aku berdiri dengan punggung menempel ke dinding, dan dia telah menyudutkanku. Dia memunggungiku, dan yang aku bisa lihat adalah siluet tubuhnya, berdiri sekitar dua meter di depanku. Aku tak punya jalan keluar. Tubuhku bergetar dengan rasa takut. Adrenalin mengalir melalui pembuluh darahku. Aku bisa mencoba untuk berlari, tapi aku tahu dia akan menangkapku. Aku melihat siluet bahu kanannya naik dan ditarik kembali. Kemudian hal yang lebih menakutkan yang pernah kulihat: lengannya telah mengepal siap menghantam, sejajar dengan wajahku.

.

.

.

.

.

Aku terbangun, bersyukur bahwa itu hanya mimpi, bahwa aku belum terkena pukulan, dan kerusakan yang dilakukannya adalah saat aku berbaring di sana berendam dalam keringat dingin.

Sialan Kyuhyun.

Tidak, aku yang sialan karena membiarkan kewaspadaanku turun dan membiarkan orang lain masuk ke zona amanku.

Orang-orang mengatakan aku telah memasang dinding pembatas setelah insiden dengan Siwon. Tapi apa yang mereka tidak tahu adalah bahwa itu lebih dari dinding. Ini sebuah benteng. Ada selokan di sekitarnya, dan air bawahnya diisi dengan buaya. Ada jembatan dengan kabel yang akan menyala dengan semburan api besar jika seorang pria mencoba untuk menyeberanginya.

Jadi bagaimana Cho Kyuhyun bisa masuk ke dalam benteng pertahananku?

Aku melepaskan sprei tempat tidur yang basah, dan menanggalkan pakaianku. Aku berbaring kembali, telanjang, telanjang di tempat tidur, dan untungnya kantuk datang sekali lagi...kali ini tanpa mimpi.

.

.

.

.

.

Ketika aku bangun di pagi hari, masih belum ada tanda-tanda adanya Tomochiin, tapi mobilku ada di sana. Aku sudah berharap dia akan membiarkanku meluapkan semua pada dirinya.

AKu tidak melihatnya selama sisa akhir pekan. Aku mengirim sms padanya beberapa kali, tetapi tidak mendapat balasan. Aku tahu aku tidak bisa menelepon Heechul dan menceritakan semuanya. Dan ketika Minggu bergulir aku selalu menelepon orang tuaku - aku tidak merasa butuh bicara dengan mereka. Aku mengirim email sebagai gantinya, pura-pura flu dan sakit tenggorokan, dan meminta maaf karena tidak bisa bicara. Ayahku menulis kembali dalam waktu tiga puluh menit, menyampaikan pesan ibuku tentang resep obat untuk sakit tenggorokan. Aku merasa bersalah karena berbohong pada mereka, tapi aku tidak bisa bicara dengan mereka saat itu. Aku tidak punya pilihan.

Aku menghabiskan akhir pekan sendirian saja, menonton hal-hal yang akan dimasukkan ke dalam daftar antrian Netflixku.

Di satu sisi, aku juga takut untuk menghadapi hari Senin. Kutahu aku tidak bisa bolos bekerja, tak peduli betapa aku ingin menghindarinya, tapi terlihat seperti ada sesuatu yang salah dan akan membuat Jokwon bertanya padaku tentang hal itu. Dari sisi baiknya bahwa aku memiliki sesuatu selain dari streaming film yang harus aku fokuskan, dan tidak berpikir tentang betapa bodohnya aku telah melakukan hal sejauh itu dengan Kyuhyun.

Jokwon memanggilku tak lama setelah aku membuka kantor dan mengatakan bahwa dia akan keluar seharian. Aku menarik napas lega. Aku bisa kembali dengan mudah ke pekerjaanku selama satu hari.

Aku akhirnya bisa berhubungan dengan Tomochiin kembali ketika makan siang dengan menu salad di mejaku.

"Bagaimana akhir pekanmu?" Tanyanya.

"Oke."

"Apa yang terjadi dengan Kyuhyun?"

Air mata telah terjatuh dan aku mengatakan padanya semua cerita malam itu.

Ketika aku selesai dia berkata, "Dasar bajingan, Lihat, ini apa yang sudah kubilang padamu agar kau waspada."

"Aku tahu, aku tahu." Aku tidak ingin dikuliahi.

"Dan dia tidak meneleponmu sepanjang akhir pekan?"

"Tidak."

"Ah, lupakan dia," katanya. "Aku tahu kau memiliki hubungan kerja dengan dia, tapi hanya sampai di situ saja."

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Tomochiin bertanya, "Jadi...apakah itu nikmat?"

Aku menghela napas. "Terbaik malah."

Dia tertawa kecil. "

Oke, jadi kau hanya mengingat itu sebagai seks terbaik yang pernah kau rasakan dan lupakan. Hidup harus terus berlanjut di kota ini."

"Omong-omong, apa yang kau lakukan sepanjang akhir pekan lalu?"

"Oh, Tuhan. Aku bertemu dua orang cowok..." Dia melanjutkan untuk menceritakan kisahnya menghabiskan akhir pekan dengan dua pria, lengkap dengan rincian cabul dari threesome pertamanya.

"Apa kau bercanda?" Ujarku.

"Tidak."

"Sialan. Dan kupikir kau sedang bekerja dan aku terus berpikir bahwa aku hanya tidak ketemu denganmu atau ada sesuatu yang lain." Itu tidak benar-benar apa yang aku pikir. Bagaimana aku tidak ketemu dia diantara jam kerjanya? Aku mulai tahu bahwa Tomochiin memiliki semacam gaya hidup liar dan cukup unik. Dan aku mulai bertanya-tanya bahwa gaya hidupnya tidak berhubungan dengan bekerja di sebuah restoran dan pergi ke audisi. Tapi aku tidak mau ikut campur. Belum saatnya.

.

.

.

.

Kami tidak bicara lagi tentang hal itu sepanjang sisa minggu. Aku hanya melihatnya pada Rabu malam, dan hanya beberapa menit ketika aku beranjak ke tempat tidur saat ia sampai di rumah.

Aku menelepon orang tuaku selama beberapa menit pada hari Selasa untuk membiarkan mereka tahu bahwa kondisiku lebih baik, bekerja, dan segala sesuatu akan baik-baik saja. Heechul kebetulan berada di sana ketika aku menelepon dan kami bicara selama beberapa menit.

Dia merendahkan suaranya pada satu saat dan berkata, "Aku bertemu Siwon di pom bensin."

Mendengar namanya disebut aku menggigil sampai ketulang dan membawaku kembali pada gambaran dari mimpiku yang kualami akhir pekan lalu.

"Aku bahkan tak ingin tahu."

"Well," katanya, "dia ingin tahu kabarmu."

"Apa yang kau katakan padanya?"

Ada jeda. kemudian hening.

"Hee? Apa yang kau katakan padanya?" Aku bertanya, nada tegas dalam kata-kataku.

"Aku mengatakan padanya bahwa kau pindah ke Seoul."

"Uh huh. Dan?"

Aku mendengar pintu ditutup, dan kemudian terdengar seperti angin bertiup di telepon. Heechul sepertinya pergi keluar untuk menghindar dari jangkauan pendengaran orang tua kami.

"Maafkan aku," katanya.

"Aku tahu itu bodoh. Aku hanya ingin dia tahu bahwa kau baik-baik saja, dan bahkan lebih baik, tanpa dia. Aku ingin membuatnya merasa seperti sampah."

Aku mengertakkan gigiku.

"Jika ia menelpon ke sini-"

"Dia tak akan mencari tahu di mana kau bekerja. Seoul sangat besar, kan?"

Aku bersandar di kursiku. Aku tidak ingin berdebat tentang hal ini.

"Kau seharusnya tidak mengatakan apa-apa padanya."

"Aku tahu. Maafkan aku."

"Tapi," kataku.

"Aku ingin si brengsek itu tahu bahwa aku tidak hancur tanpa dia. Ini satu-satunya rasa...kemenanganku atau semacamnya, kau tahu?"

Kami melewarkan masalah it udan dia menceritakan padaku tentang bayinya dan hal-hal lain yang terjadi di kota kecil kami. Untuk pertama kalinya, dan agak aneh, aku merasa sedikit bernostalgia. Tidak benar-benar rindu dengan rumah. Belum saatnya. Kupikir itu hanya sebuah fantasi pelarian yang mudah untuk menghadapi kenyataan bahwa aku belum benar-benar menyesuaikan dengan keramaian dan hiruk pikuk Busan dan Seoul. Hanya rindu kesederhanaan dan ketenangannya saja.

.

.

.

TBC

Author's note :

yihaaaaaaaaa~ Back again XD Kalo remake aja cepet yak XDDD

Huaaa~ Terima kasih buat yg udah baca, dan komentarnya sangat saya hargai XD
ini lebih dari 9.700 words XDd

Dan sepertinya chapter depan tamat :D

Buat yg bingung sama tulisannya, saya mohon maaf, ini diambil dari novel aslinya, terjemahan pula, jadi harap maklum kalo bahasanya rada2 aneh dan sulit dipahami, saya hanya merubah beberapa bagian yg penting – yg menurut saya harus dirubah- dan nama dari masing2 karakter, saya juga udah berusaha merubah bahasa yang aneh dan kelewat baku.

Jadi buat yang tanya ini kok beda dengan FF asli saya yg lain, sudah jelaskan maksud kenapa? :D

Gimana nc-a? Hahaha, iya ini novel emang hot gila nc-nya, ini masih belum ada apa2nya XDDD *ketauan mesum*

Um... untuk seri Fade into you saya putuskan untuk tetap post disini sampai tamat, tapi pas seri Fade into me (Sekuel pertama ) nanti saya pindah ke wp. Saya memang berencana untuk menghidupkan lagi wp yg udah lama terbengkalai ToT

Buat yang tanya WAT/ SL atau FF sya yg on going laiinya, didoain aja biar saya cepet2 bisa publish ya, saya kerja dari pagi sampe malam, lembur malah -_- Karena lg libur kuliah saya ambil part time, saya aja ngeremake ini FF tengah malam lo ;O;

Saya bener2 ga ada waktu T^T

Tapi tenang aja, saya janji tetap akan menamatkan semua FF saya, walau entah kapan itu akan terjadi *digeplak rame2* XDDD

Maaf saya belum sempat balas review TuT ini ngupdatenya tengah malam loh~ ;o;

Insya allah chapter depan saya bsa balas ya :D

Makasih buat yg udah review, fa, atau follow story nya, it means a lot guys :'*

#BiggKiss

Baiklah kalau begitu, Mind to RnR again? Makin banyak, maka semakin cepat saya mengaupdate *plak* XD

Gomawoyo yeorobunnnnnnnnnnnnn~ 3