Nagi : Selamat datang kembli di fic kami!
Scarlet : Bagi yang sudah membaca seri self-inserted kami atau tidak, kalian bisa membaca fic ini sesuka kalian..
Nagi : Bagi yang suka, mohon review, dan jika tidak suka, diharapkan memencet tombol Alt dan F4
Scarlet : tak perlu basa-basi, cekidot!
.
.
.
Genre : Romance Humor
Rate : T
Summary : Nagi-san meminjam sebuah buku di perpustakaan yang membuatnya tertarik dengan zaman Tiga Kerajaan. Ketika dihadapkan pada dua pilihan, Ia memilih sahabatnya karena berprinsip sahabat tak dapat dibeli. Hingga ketika Nagi-san terpaksa harus putus dengan pacarnya. Apakah hubungan cerita ini dengan zaman Tiga Kerajaan? WARNING, OOC inside!
.
.
Nagi and Scarlet, presents...
.
.
.
Nagi-san's Adventure : Lost in Three Kingdoms
.
.
.
.
Prolog
-Author's PoV-
Hidup biasa, perjalanan biasa, dan semua yang biasa-biasa saja. Itulah yang mencerminkan kehidupanku. Setelah petualangan hebat, semua kembali menjadi biasa lagi. Kalian tidak perlu bertanya kehidupan macam apa itu. Kakak cerewet, sahabat kelewat lebay, pacar posesif...
Itu semua sudah menjadi bahan kehidupanku sehari-hari. Dan pada suatu hari, sahabat kecilku Scarlet mengajakku ke perpustakaan di kehidupan bodoh ini, saat jam istirahat...
"Nagi-san, aku mau ke perpustakaan. Mau ikut?", tanyanya polos.
"Tidak usah. Aku sedang tidak mau membaca buku...", jawabku dengan nada datar.
"Bukunya baru datang lagi loh! Yang sekarang, bukunya lebih keren!", kata Scarlet dengan nada promosi yang lebih mirip dengan pedagang pasar.
"Okelah... Aku ikut...", dengan sedikit terpaksa, aku harus ikut dengannya. Mungkin saja ada buku bagus.
Perpustakaan adalah ruangan yang selalu menjadi tempat berkumpul bagi kami berdua. Tak hanya karena buku yang selalu dikirim masih hangat dan menarik, jaringan wireless alias WiFi-nya sering dipakai oleh Scarlet untuk membuka situs web resmi yang terbaru. Pantas saja perempuan kuncir kuda itu selalu membawa laptopnya...
Sesampainya di perpustakaan, aku memasuki daerah buku Romance. Saat menelusuri rak buku demi rak buku, mataku tertuju pada sebuah buku bersampul coklat dengan tiga huruf aneh yang menurutku adalah bahasa Mandarin. Aku mengambil buku tersebut, buku itu berjudul " Romance of Three Kingdoms ". Aku langsung berjalan menuju meja besar tepat di sebelah Scarlet. Halaman demi halaman terus kubaca. Isi yang bertema kisah cinta pada zaman Tiga Kerajaan itu membuatku tertarik untuk meminjam dan menghabiskan isi buku tersebut. Aku terus mencoba membayangkan sosok pada zaman itu. Dan tentu saja, bukan membayangkan pria tua yang sudah karatan. Kalian pikir aku perempuan macam apa kalau suka lelaki tua? Bagian paling menarik dalam buku itu adalah ujung tanduk dari zaman Tiga Kerajaan, dimana semua daratan Cina kembali bersatu menjadi dinasti Jin karena kontribusi besar keluarga Sima.
Dan konsentrasiku mulai buyar di tengah imajinasi tingkat dewa itu.
"Nagi-san, itu buku tentang Tiga Kerajaan ya?",
Sial! Sudah tahu judulnya "Romance of Three Kingdoms", masih nanya!
" Iya, emangnya kamu tahu apa soal itu?", tanyaku dengan sedikit nada marah.
"Ada tiga kerajaan bernama Wei, Wu dan Shu. Ketiganya tidak bisa menaklukkan satu sama lain, hingga akhirnya keluarga Sima yag awalnya dari Wei menaklukkan Wu dan Shu. Dan cucu dari penasihat militer Wei, Sima Yan, menghancurkan Wei dan mendirikan dinasti Jin", jelasnya panjang lebar.
"Tunggu, bagaimana kau tahu soal itu? Setahuku otakmu mudah rusak ketika berhadapan dengan buku tebal...", kataku takjub dengan pengetahuannya.
"Tentu saja aku tahu. Semua itu diceritakan di seri terbaru 'Dynasty Warriors'. Kebetulan aku sedang membuka website-nya, lalu membeli artbook-nya", katanya sambil menunjukkan website yang dia maksud. Tampak sebuah halaman berwarna cokelat dengan banyak tokoh berwajah tampan. Di bawahnya, adalah daftar kerajaan yang... tertera di buku yang kupinjam!
'Bagaimana bisa? Semuanya seperti yang kubayangkan', pikirku takjub sambil jawsdrop.
"Tujuh puluh persen isi dari permainan ini berasal dari buku yang kau pinjam. Lihat, ada yang mempelopori Dinasti Jin juga...", katanya sambil mempromosikan situs web yang dibukanya itu.
Aku kaget setengah hidup(?) melihat isi dari situs itu. Dan secara tak sengaja, mataku tertuju pada sosok lelaki berkulit hitam manis berambut ikal nan berantakan, dengan pakaian biru yang setengah terbuka. Bersamaan dengan itu, aku bertanya, "Hei, siapa lelaki yang disana?"
"Oh, yang ini. Ini Sima Zhao, anak kedua Sima Yi, adik Sima Shi, Suami Wang Yuanji dan..."
"Ayah dari Sima Yan. Aku sudah tahu itu", kataku memotong untuk menghindari ceramah panjang lebar tinggi dan volumenya itu.
"Yang kudengar, mereka saling mencintai meski kepribadian mereka jauh berbeda...", kata Scarlet seraya menerawang.
"Begitulah yang tertulis di buku itu. Mereka bercinta di medan perang...", kataku ikut menerawang.
Aku terus membayangkan betapa indah jika aku dan Jin bisa memiliki hubungan spesial seperti mereka. Secara tak sengaja, aku terus melamun karena kejadian itu.
Hingga suatu ajakan membuyarkan suasana.
"Nagi-san, kebetulan bawaanku terlalu banyak. Bisa ga bawain aku artbook ini nanti malam? Aku sangat membutuhkannya untuk menyelesaikan permainanku", tanyanya.
" Boleh saja jika aku ada jam kosong untuk hari ini. Sayangnya, aku ada janji dengan..."
"Bawakan atau semua akan berakhir disini!", potongnya.
"Scarlet-chan, kau harus mengerti kalau aku sudah punya pacar. Paling tidak, tundalah menjadi besok atau lusa..."
"Aku mau nanti malam! HUAAAAAAAAAA!", kata Scarlet yang berakhir dengan tangisan anak TK-nya.
"Oke, oke. Nanti malam!", kataku dengan hanya bisa berpasrah diri.
Keluar dari perpustakaan, aku hanya bisa memijit dahiku sambil membawa dua buah buku yang tebalnya minta ampun itu. Aku terpaksa harus menghubungi Jin sekarang juga.
KRIIIIIIING!
Bel tanda masuk telah berbunyi, sebelum aku terlambat, aku menemui Jin di dalam kelasku.
"Jin, soal ajakanmu kemarin..."
"Kenapa? Kau mau ikut?", tanyanya.
"Niatnya sih begitu, tapi aku tidak bisa. Aku harus menemani Scarlet malam ini. Bagaimana jika besok?"
"Nagi-chan, aku sudah menyiapkan semuanya. Bagaimana kau bisa menundanya?"
"Sayang sekali. Tapi Scarlet itu terlalu muda untuk masuk SMA. Aku harus bisa mendewasakannya lebih dulu. Lagipula, hanya dia sahabat yang kupunya"
"Jadi, kau lebih mementingkan dia dari aku? Oke, seharusnya aku sudah tahu dari awal soal itu. Kita putus sekarang!"
"Tapi... Baiklah jika itu maumu! Cinta bisa datang dari mana saja dan kapan saja. Tapi sahabat, harus dibuat dan tidak dapat dibeli dengan uang!" kataku marah-marah sambil kembali ke mejaku. Dan kejadia itu merupakan akhir dari kisah cintaku bersama Jin. Entah kenapa aku selalu berkonflik, tidak pernah seperti hubungan Zhao dan Yuanji di kisah Tiga Kerajaan itu.
.
.
Sepulang sekolah, aku berjalan kaki pulang ke rumah dengan melewti jalan pintas. Sebenarnya, rumahku dan Scarlet sangat dekat. Hanya saja, rumah kami dibatasi oleh lintasan kereta api. Saat aku berjalan melintasi jaur tersebut, tampak seekor kucing berbulu putih melintas lebih dulu dariku. Saat kucing itu kaget, aku baru sadar bahwa kereta api akan melintas. Aku segera berlari kencang untuk menyelamatkan si kucing. Tapi, ketika kucing itu sudah selamat, kereta itu hanya berjarak beberapa meter dariku. Kurasa, ini sudah jalanku. Aku pantas untuk mati karena sudah kehilangan orang yang kusayang. Aku senang memiliki sahabat, tapi juga merasa bersalah karena baru saja putus cinta. Maafkan aku semuanya...
.
.
.
TUT TUT! BRUAK!
.
.
.
.
.
.
Hah? Kenapa kereta itu tidak menabrakku? Aku masih hidup? Tapi, jika aku hidup, aku ada dimana?
Kubuka mataku ketika aku sadar bahwa tak ada kereta api yang akan menabrakku tadi. Malahan, aku berada di suatu tempat. Sebuah tempat yang jika kutarik kesimpulan, itu adalah sebuah pasar tradisional. Namun, pasar ini berbeda dengan pasar yang kulihat. Baik penjual maupun pembelinya, mengenakan pakaian semacam kimono Jepang. Sebenarnya, pasar macam apa ini? Apakah aku bermimpi di zaman Edo?
Pikiranku pun terus melayang, hingga aku melihat sosok lelaki berjubah cokelat nan misterius menjatuhkan barang belanjaannya. Aku segera menghampiri barangnya yang terjatuh, kemudian membawanya di tangan kananku karena aku masih membawa dua buah buku yang baru saja kupinjam dan dititipkan. Dengan berlari, aku menemui lelaki itu seraya berkata, "Anda menjatuhkan barang anda. Mohon, jangan anggap saya pencuri karena saya tak tahu apa-apa soal tempat ini".
Lelaki itu menoleh kepadaku ketika aku tak sengaja meraih pundaknya. Dibalik jubah cokelat itu, tampak sesosok pemuda berkulit hitam manis dengan rambut yang ikal berantakan. Tunggu, aku seperti megenalnya...
"S... S-Sima... Z-Zh-Zhao... Kau masih hidup?"
"Pssst. Kau membongkar penyamaranku!"
"Zhao... Hidup... Berjalan... Bicara... Aku dimana..."
GUBRAK!
.
.
.
.
-TBC-
Nagi : Bagi yang ingin menyimpan kritik dan saran, silakan langsung review di kotak di bawah
Scarlet : Nah, kalian yang masih ingin menunggu chapter berikutnya, sabar...
Nagi : Doain kita biar terus ada ide buat lanjut terus!
