Nagi : Wah, Ga nyangka udah ada yang neripiu
Scarlet : Kita bakalan ngebahas ripiunya nanti. Sebelumnya, kita cek lagi chapter berikutnya!
.
.
.
Genre : Romance Humor
Rate : T
Summary : Nagi-san baru sadar dia tersesat di zaman Tiga Kerajaan, tepat bermula di Jin. Lebih aneh lagi ketika lelaki yang ditolongnya adalah Sima Zhao. Bagaimanakah reaksinya? Lalu, adakah kejadian aneh ketika Nagi-san membawa dua buku tersebut?
.
.
Nagi and Scarlet, presents...
.
.
.
Nagi-san's Adventure : Lost in Three Kingdoms
.
.
.
.
Chapter 1 : 3K and the Magical Books
"Ah... Aku pasti sedang bermimpi. Mana mungkin aku bertemu dengan karakter fiksi dari zaman Tiga Kerajaan?",
Aku membuka mataku sedikit demi sedikit. Kupandangi ruangan yang kulihat sejenak, bahkan sosok lelaki rambut berantakan yang kutemui tadi, berkata,"Kau sudah bangun, ini kamarku. Anggap saja ini kamarmu sendiri".
Aku mengusap mataku lagi, kupandangi dengan teliti sosok itu. Tidak kusangka semua yang kulihat bukan mimpi, padahal aku sudah sering pingsan. Jadi, orang yang kulihat itu benar-benar seorang Sima Zhao.
"Zhao, jika ini kamarmu, seharusnya kau mengerti jika Yuanji akan sangat cemburu. Sebaiknya, kau segera pergi sebelum dia mendatangimu...", kataku ragu kepada sosok yang kupanggil Zhao itu.
"Yuanji? Ayolah, dia sudah mengerti jika penyamaranku di pasar hampir terbongkar. Kita sudah saling mengerti", jawabnya santai.
Aku kembali melihat sekelilingku. Aku seperti merasa aneh pada tanganku. Oh, iya. Dua buku itu! Jika ada yang membacanya, itu bisa berbahaya!
"Jika aman, dimana buku yang kubawa tadi?", tanyaku.
"Maaf, buku yang mana?"
"Dua buah buku. Satu berwarna coklat dengan tulisan bahasa Mandarin, dan satunya berwarna putih dengan gambar di depanya"
"Entahlah, tapi aku melihat ada dua orang yang mengambil buku itu. Tunngu dulu...", kata Zhao berpikir sejenak. Tiba-tiba, ia menarik lenganku seraya berkata,"Kita ke taman!"
"Hei, jangan menarik tanganku! Tunggu aku!"
Di taman, tampak seorang lelaki dengan rambut ikal berantakan, namun dikuncir belakangnya sedang membaca sebuah buku besar berwarna putih. Kuterawang lagi sosok yang menonjolkan ekspresi membanggakan dirinya tersebut. Aku menarik kesimpulan bahwa sosok lelaki tampan itu adalah Zhong Hui, jenderal termuda yang direkrut di Wei. Sedangkan lelaki yang satunya, aku bisa bilang ia sangat tua karena rambut putihnya, bahkan dari tulang-belulang yang menonjol serta kebiasaannya yang batuk setiap dua detik itu, aku yakin belum ada obat untuk penyakit TBC yang dideritanya. Aku menyimpulkan bahwa lelaki yang kulihat dan kuterawang itu adalah Guo Huai, veteran medan perang sekaligus fosil hidup yang masih jago menembak. Jika dia hidup di zamanku, mungkin jabatannya setara dengan Fir'aun Mesir. Aku melihat Guo Huai akan duduk di bangku taman untuk membaca buku berwarna cokelat di samping Zhong Hui. Aku langsung teringat isi dari buku cokelat itu, itu adalah novel yang menceritakan sejarah panjang zaman Tiga Kerajaan!
Aku lagsung berlari sekencang-kencangnya untuk mencegah lelaki tua itu menyentuh buku tersebut. Dengan slow motion, aku berteriak,"JANGAAAAAAAAAAAAAN!"
Lariku mendadak berhenti ketika Guo Huai sudah menyentuh buku itu. Terlambat, dia sudah membaca bukunya!
Guo Huai membuka buku itu dan mencoba membalik halamannya, namun yang terjadi justru tagannya berdarah. Padahal, tak ada kejadian apapun saat aku membacanya. Di saat yang bersamaan, muncul batu besar yang membentuk formasi semacam kubah raksasa. Sebelum kubah itu mengurungnya, Sima Zhao lari terbirit-birit untuk memanggil Deng Ai yang juga seorang veteran medan perang dan bisa menolongnya menggunakan mesin bor.
.
Namun usaha itu ternyata sangat sia-sia. Dibor berkali-kali, tetap saja kubah itu tak hancur. Tuhan, apa salahku hingga membuat Guo Huai yang merupakan tokoh bersejarah ini terkurung?
Aku hanya bisa tertegun, jatuh terduduk, dan menyesal dengan semua yang kuperbuat. "Ayolah, itu semua unsur ketidaksengajaan. Haruskah aku berkata 'Alakazootiful' untuk mengembalikannya?", omelku dengan keras. Omelan itu ternyata terdengar oleh yang lain, kecuali Zhong Hui yang acuh tak acuh pada keadaan itu.
Setelah omelan itu, batu besar yang mengurung Guo Huai hancur berkeping-keping, dan lelaki itu keluar dalam keadaan lemah tak berdaya ditambah efek asap di sekujur tubuhnya. Tunggu, apa benar dia baik-baik saja. Aku hanya bisa menyilangkan jariku dan berharap semuanya baik-baik saja. Deng Ai dan zhao yang berada di tempat itu langsung membopong tubuh lemah itu. Dengan sekuat tenaga, Guo Huai dapat dibawa oleh mereka berdua. Lalu aku bertanya,"Apakah dia baik-baik saja? "
Mendengar pertanyaan itu, sosok yang kutanyakan menoleh ke arahku. Sosok yang kulihat bukan lagi Guo Huai sang lelaki tua pengidap TBC, melainkan seorang pemuda berbadan tegap dengan wajah berseri. Mungkinkah ini perasaanku, atau Guo Huai benar-benar jauh lebih muda dari usia normalnya, serta tidak mengidap AIDS?
Kulihat lagi halaman yang membuat tangannya berdarah. Halaman itu berisi ujung dari zaman Tiga Kerajaan. Tapi yang kulihat hanyalah halaman kosong tanpa rangkai kata.
Apakah Guo Huai sudah menghilangkan alur dari sejarahnya? Aku masih mengingat jika di halaman itu ada kisah dimana ia meninggal karena dibunuh dengan panah dari belakang. Karena ia menyentuhnya, bagian itu menghilang. Begitu juga dengan adegan ketika ia hampir mengalahkan Xiahou Ba yang membelot kepada Shu saat invasi keduanya di Tian Shui.
Tidak mungkin, aku harus menulis ulang cerita itu sebelum alurnya berubah kembali...
Tapi, masa lalu tetap akan menjadi masa lalu. Semuanya tetap sama saja...
.
.
-TBC-
.
Nagi : Jika kalian ingin kritik dan saran, silakan mengisi kotak dibawah ini
Scarlet, kita akan membahas ripiunya setiap dua chapter, ocre?
