Nagi : Wow, ripiunya gimana nih?
Scarlet : Oke, kita lihat ripiunya...
So, ini dari Nakamura Aira :
Ini bertema tentang Dinasti Jin ya? *coret*wah saya kira Wu*coret*
Sepertinya bakalan menarik nih mwahahahaha! *coret*apalagi ada Sima Yi yang selalu tertawa iblis*coret*
Saya tunggu updatenya yo
Nagi : bukan, ini dari Shu! Udah tau Jin masih nanya...
Scarlet : Jangan marah-marah, nanti ga diripiu lagi loh...
Nagi : Ya sudah, lanjut!
Ini dari Kaien-Aerknard :
Hoooo... Pastinya anda itu pengemar kingdom Jin khususnya Sima Zhao, ya kan? #smirk
Ceritanya bagus kok! Serius! XD jarang juga ada yang mau mulai startnya dari sejak ada si Sima bersaudara.
Saya tunggu updatenya yo
Nagi : Sudah kubilang, aku mau move on! Aku tidak mau bersama Zhao!
Scarlet : Bilang aja Nagi-san suka sama kakek Guo Huai...
Nagi : Kau bilang aku bersama kakek tua bangkotan si jagung kisut itu?
Scarlet : Ampun...
Nagi : FYI aja ya, aku suka dia karena Arm Cannon! Dan lebih cocok dijadiin fanservice. Seperti, diubah umurnya...
Scarlet : Lanjut!
Next, dari xtreme guavaniko :
Rambut Sima Zhao berantakan ya... Gak mao disisir pula, ntar Sima Zhao ketularan aku lho... yang selalu malas sisir rambut tapi, gak pernah berantakan rambutku, pendek sih... Ah! sorry... malah kritik Sima Zhao... *dilempar kekutub utara sama Sima Zhao*, hehehehe keep writing!
Nagi : Kapok deh...
Sima Zhao : Emang aku laki-laki macam apa berbuat begitu? Biar begini, aku masih setia! Aku juga sudah punya istri!
Wang Yuanji : Zhao, kenapa ada lipstick di bajumu? *deathglare sambil merenggut telinga Sima Zhao*
Sima Zhao : Ampuuun! Sakit!
Scarlet : tak kusangka Sima Zhao yang kukenal pede dan mesum itu takut sama istrinya...
Nagi : Oke. Daripada tambah panjang, cekidot!
.
.
.
Dynasty Warriors series, belongs to Koei
"Enchanted", belongs to Taylor Swift
"The One That Got Away", belongs to Katy Perry
Genre : Romance Drama
Rate : T
Summary : Nagi-san menemukan bagian dari catatan sejarah yang hilang. Namun ia tidak ingin kehilangan orang yang sudah disayanginya seperti keluarga. Apakah yang membuat Nagi-san bingung? Akankah satu malam sebelum invasi kedua Shu akan menjadi malam terakhir Nagi-san bertemu dengan Guo Huai yang sudah seperti ayahnya sendiri?
.
.
Nagi and Scarlet, presents...
.
.
.
Nagi-san's Adventure : Lost in Three Kingdoms
.
.
.
.
.
Chapter 2 : History. Problemo, Bro?
Ini perasaan yang aneh. Aku merasa marah, tapi juga merasa bersalah. Seharusnya aku mengingatkan mereka dari awal. Aku hampir kehilangan harapan, tapi mau tak mau aku harus turun tangan mengatasi masalah ini. Masalah ini terus terbayang di pikiranku. Aku ingin pulang, tapi aku tak dapat membiarkan sejarah berubah mendadak karena kejadian ini. Keesokan harinya di pagi buta warna(?), aku membangunkan Zhao sebagai teman sekamarnya. Tapi yang kutemukan hanya ranjang kosong. Aku melihat lagi isi buku berwarna cokelat itu. Aku baru ingat bahwa pada invasi kedua, Zhao diculik dan di alur inilah peran lelaki tua itu berjalan. Dia harus mengalahkan Xiahou Ba dan mati pada saat yang bersamaan. Karena tak adanya Zhao, aku terpaksa curhat kepada Deng Ai, karena dia juga melihat kejadian ini.
Dengan berlari karena takut idenya kabur, aku menuju kamar Deng Ai sebagai penasehat militer yang dipercaya. Sesampaiku di kamarnya, aku membangunkannya dengan seribu cara. Awalnya, aku meneriakkan namanya di telinganya.
"Hei, Pak Tua. Bangun! Ini keadaan darurat! Deng Ai, kumohon bangunlah!", kataku sambil berteriak. Tapi hal itu tidak membuatnya bangun. Aku mencobanya lagi dengan menyampurkan air dengan beras, lalu menyiramkan air tajin ke wajahnya. Dan rencana itu berhasil dengan indahnya.
"Aduh! Kenapa jadi basah? Kenapa juga kau membangunkanku pagi buta begini?", katanya sambil marah-marah.
"Biar sekalian mandi. Kita tidak punya waktu. Ada yang ingin kubicarakan denganmu!", kataku terburu-buru sebelum yang lain mendengarnya.
"Mandi sih mandi. Tapi jangan air tajin juga dong! Kau pikir aku ini beras?"
"Habisnya kau susah sekali dibangunkan. Aku butuh bantuanmu sekarang!", kataku seraya menarik lengan Deng Ai yang besar dan berlari sekencang-kencangnya menuju kamar Zhao. Di kamar itu pula, aku menceritakan bagian sejarah mana yang hilang dan strategi untuk berperang bilamana ada invasi Shu kedua.
"Jadi, sejarah yang seharusnya tertulis seluruhnya di buku itu menghilang semua?", kata Deng Ai setengah kaget dan setengah mabok(?).
"Benar. Menurutku, buku itu mengorbankan seluruh perjalanan panjang yang telah tertulis kepada Guo Huai agar bisa mengubahnya sebelum nyawanya tamat", balasku dengan nada ragu-ragu.
"Tapi, kenapa ketika aku dan Zhong Hui membacanya tidak ada efek sama sekali?", tanyanya.
"Karena pada bagian yang disentuhnya, kalian masih hidup dan baru muncul setelah terbunuh. Jadi, masih ada kemungkinan kalian menemukan Guo Huai dalam keaadan hidup"
"Tadi kau bilang sejarah bisa berubah, tapi kau juga bilang sejarah juga tak dapat diubah. Lalu harus bagaimana?"
"Maksudku, sejarah berubah ketika kau belajar dari sejarah yang telah lalu dan mencoba tidak mengulang hal yang sama. Sejarah tidak bisa berubah ketika semua yang berada di masa lalu sudah berlalu, bahkan telah tertulis secara otentik seperti di buku ini", kataku sambil menunjukkan buku yang kumaksud.
"Jadi kesimpulannya. Ketika bagian itu hilang, satu-satunya jalan untuk mengembalikan sejarah itu adalah dengan membuat Guo Huai terbunuh di invasi kedua Shu?"
"Benar. Aku harus memastikan tidak ada bagian sejarah yang berubah dengan kematiannya"
"Dan dia harus mati karena sejarah itu?"
"Oh, jadi kalian membicarakan aku di belakang?", kata sebuah suara yang tentunya bukan aku dan Deng Ai.
Aku menoleh ke belakang. Tampak seorang lelaki dengan rambut hitam pekat dan pakaian yang atasnya sedikit terbuka. Yang kulihat bukanlah Pak Tua saudaranya Fir'aun, tapi saudaranya Kamui Gakupo. Meskipun ada sedikit uban di rambutnya, aku baru sadar ternyata bisa bangun pagi juga. Dan tentu saja, perasaanku menjadi lain bahkan jauh berbeda dari ketika aku bertemu dengan Zhao. Kulihat lagi buku warna cokelat di atas meja. Aku masih ingat dengan jelas, sebelum aku menyukai karakter Zhao, Guo Huai adalah karakter panutanku. Maafkan aku, tapi aku harus berbohong kali ini.
"T-t-tidak. Tentu saja tidak. Kami hanya sedang membicarakan invasi Shu kedua tiga hari lagi, dan kami ingin kau memimpin pasukan karena selama ini kau berada di barisan belakang", kataku berbohong.
"Oh, begitu. Baiklah, nanti aku yang akan memimpin pasukan. Ngomong-ngomong, medan perangnya ada dimana?", tanyanya.
"Menurutku, medan perangnya di Tian Shui. Tapi, aku tidak bisa menjelaskan rincian medan perangnya tanpa peta. Petanya ada di buku yang berwarna putih", kataku ragu-ragu.
"Buku warna putih? Aku seperti pernah melihatnya...", kata Deng Ai sambil menerawang uang(?).
"Aku masih ingat kalau buku itu masih bersama seseorang", kata Guo Huai ikut menerawang.
Pemikiran mereka berlangsung hingga lima jam, hingga entah apakah ada panah yang menusuk kepala mereka, pikiran mereka tertuju pada satu nama dan serempak...
"Zhong Hui!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sesaat kemudian, kami semua serempak namun bersembunyi ke kamar Zhong Hui. Aku berjalan perlahan melalui pintu kamarnya, diam-diam aku mengambil buku putih di atas lemari. Aku hampir meraih buku itu, namun bahaya menghadang dimana ada ribuan pedang melayang secara mistis di belakangku. Aku berusaha untuk tidak teriak, tapi pedang itu bisa membunuhku dengan sekali melangkah. Perlahan tapi pasti, aku melangkah ke kiri untuk keluar dari kamar pembantaian itu. Dengan kondisi bagai merayap, aku mengoper buku itu ke Deng Ai yang sudah berada di dekat pintu. Dengan langkah seribu, aku langsung menutup pintunya. Namun yang namanya pintu kertas mudah sobek, kita terpaksa melakukan aksi kejar-kejaran antara trio Kwek-Kwek dengan seribu pedang melayang Zhong Hui.
"EVERYBODY, RUN FOR YOUR LIVES!", teriakku seperti sangat ketakutan karena aku berada di posisi belakang dimana pedang itu berada di belakangku.
Kami bertiga terus berlari, berlari, berlari, berlari... Hingga kami sampai di sebuah bunker dengan pintu kayu raksasa. Kami bertiga segera masuk ke dalam ruangan itu, lalu Deng Ai segera menutup pintunya dari dalam dan menguncinya dengan sebuah balok kayu besar.
Fiuh, baguslah jika pedang itu tidak mengejar kita. Tapi, ruangan macam apa ini? Gelap sekali tempatnya...
"Halo? Apakah ada lampu? Disini gelap sekali!", teriakku. Mataku terasa buram karena tak ada cahaya, yang ada di sana hanyalah empat buah jendela di setiap sudut ruangan.
Kami membuka jendela tersebut. Dan alangkah ajaibnya ketika cahaya harapan masuk ke ruangan itu. Tampak benda-benda berkilau dan tajam ada di hadapan kami. Saking takjubnya, aku bertanya pada Guo Huai,"Tuanku, ini ruangan apa?"
"Ini WC umum!", jawabnya.
"WC umum? Kok ada barang tajem begitu yak?"
"Sudah tau ruang senjata, masih nanya!", katanya dengan memasang emote wajah "You don't say?"(?)
Aku melihat benda di sekelilingku. Dari senjata sederhana dan kecil seperti pedang, golok, kipas angin(?), semua senjata ada disana. Hingga mataku tertuju pada satu senjata di sebuah etalase kaca besar. Sebuah meriam raksasa yang bisa dipasang di tangan. Arm cannon!
Aku hanya bisa termangu dan berharap bisa memilikinya. Namun keinginan itu kembali buyar.
"Hei, kau bilang ingin menjelaskan jalur medan perangnya...", kata Deng Ai yang memukul pundakku hingga tubuhku jatuh tersungkur.
"Iya, iya. Kau tahu jika aku ingin punya senjata seperti kalian! Kalian tidak bisa beri aku sedikit waktu?", kataku seraya bangkit dari lantai semen untuk duduk. Kemudian aku mencari halaman tentang invasi di Tian Shui dengan daftar isi di buku putih itu. Setelah halamannya ditemukan, aku membeberkan halaman itu, karena khusus halaman itulah terdapat peta lengkap dari medan perang di Tian Shui.
"Jadi, ini adalah peta lengkap untuk perang nanti. Kamp kita berada di selatan, dan kotak-kotak ini adalah benteng pertahanan lawan. Salah satu dari benteng ini terdapat Zhao yang terkepung. Sisanya bisa menjadi jebakan", kataku menerangkan isi peta itu.
"Artinya, jika kita berperang, kita harus mencari isi di bentengnya satu per satu", kata Deng Ai untuk memulai pengaturan starategi perang.
"Oke. Karena tidak mungkin semuanya akan pergi ke satu tujuan, kita akan berpencar ke masing-masing benteng yang terpisah. Aku akan berada di tenggara", kata Guo Huai memulai perannya.
"Aku akan menghancurkan senjata yang memungkinkan kita tidak selamat di perjalanan di utara dan barat laut", kata Deng Ai ikut mengatur perannya.
"Tapi, senjata itu terpusat di timur. Disana juga banyak pemanah. Bagaimana jika Tuan Deng Ai ikut ke timur bersama saya? Kita dapat sekaligus menyelamatkan Tuan Guo Huai dalam perjalanan dan memastikan ia baik-baik saja. Kebetulan daerah timur berupa tebing tinggi", kataku membuat saran.
"Cukup bagus. Oh, iya. Siapakah gerangan, nona muda?", tanya Deng Ai.
"Nagi. Panggil aku Nagi", kataku melakukan perkenalan.
Dan kami bertiga pun menjadi sangat akrab. Dari yang bernama trio Kwek-kwek, menjadi Trio Penasihat Militer.
"Eh, Teman-teman...", kataku memanggil dua orang lelaki tua itu.
Mereka menoleh sejenak dengan tampang seekor gorila.
"Karena aku akan ikut perang, bolehkah aku mengambil Arm Cannon?", tanyaku.
Dan kedua orang itu sweatdrop berjamaah. Meski diawali dengan buruk, mereka akhirnya mengizinkan aku mengambil benda raksasa yang biasa di luar(?) hebat itu. Tentu saja di bawah pengawasan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi harinya, di suatu pagi yang cukup mendung tapi cukup cerah(?), aku berjalan di sekitar halaman istana. Disana, aku melihat banyak prajurit yang sedang berlatih. Terutama seorang lelaki rambut aneh dengan pedang melayangnya, Zhong Hui. Tepat sekali ketika sedang belajar mengendalikan pedang-pedang melayang yang menurutku, cukup aneh.
"Hei, kau sedang berlatih permainan pedang?", tanyaku seraya menghampirinya.
"Bukan, aku sedang merokok. Kebetulan sedang kepanasan...", jawabnya sinis.
"Merokok? Setahuki di zaman ini belum ada rokok, apalagi cuacanya sedang mendung", kataku polos.
"Sudah tahu latihan pedang masih bertanya...", katanya memasang wajah datar.
"Bolehkah aku ikut? Menurutku kau sedikit lebih muda dariku, tapi kau sudah sangat berbakat. Aku ingin mengujinya sekarang",kataku sedikit menyombongkan diri.
"Jadi, kau menantangku?", kata Zhong Hui panas.
"Ya. Aku sudah mewarisi keahlian dua musuhmu. Seharusnya kau bisa mengalahkan aku", kataku langsung memancing. Dan pancingan pun tertangkap! Aku mendapatkan seekor ikan Barracuda!
Oke, bektustori.
"Jika begitu, tangkap ini!", Zhong Hui langsung melemparkan salah satu pedangnya ke arahku. Refleks, aku langsung menagkisnya dengan Arm Cannon yang ebetulan dua kali lebih besar dari tubuhku.
"Sekarang, giliranku!", aku menggerakkan tanganku seperti mengokang pistol. Meski pukulanku ditangkis olehnya, aku menendangnya ke atas, disusul dengan tembakan beruntun yang membuat Zhong Hui terkapar di Himalaya(?).
Dengan absurdnya, orang-orang yang melihat aksiku hanya bisa jawdrop, karena master Arm Cannon seperti Guo Huai belum tentu bisa menyerang sekuat itu. Terima kasih klinik T**g F**g! Eh, terima kasih buku cokelatku!
.
.
.
Di malam harinya...
Aku tidak bisa tidur setelah bangun di pagi buta itu. Pikiranku menjadi sangat kalut, bahkan dirundung kebingungan. Aku berharap bisa menyelamatkan sejarah yang akan menjadi kontroversial, tapi aku sudah terbiasa dengan orang-orang yang sudah menghargai keberadaanku. Aku ingin sejarah itu tertulis ulang, tapi aku tidak bisa kehilangan orang yang sudah menjadi panutanku. Aku ingin sejarah terulang, tapi aku tak bisa merelakannya pergi. Inikah cinta dari dunia paralel?
Aku hanya berjalan di teras di dekat kamarku, duduk disana sambil memutar lagu di iPod yang tak sengaja terbawa olehku bersama kedua buku itu.
.
There I was again tonight
Forcing laughter, faking smiles
Same old tired lonely place
Walls of insincerity,
Shifting eyes and vacancy
Vanished when I saw your face
All I can say is it was enchanting to meet you
Your eyes whispered, "Have we met?"
Across the room your silhouette
Starts to make its way to me
The playful conversation starts
Counter all your quick remarks
Like passing notes in secrecy
And it was enchanting to meet you
All I can say is I was enchanted to meet you
This night is sparkling, don't you let it go
I'm wonderstruck, blushing all the way home
I'll spend forever wondering if you knew
I was enchanted to meet you
.
.
Lalu, aku kembali memutar lagu kedua secara acak. Sambil memutar lagu, aku merobek kain baju untuk kujadikan perhiasan dari tali temali.
.
Summer after high school, when we first met
We make up in your Mustang to Radiohead
And on my 18th birthday, we got matching tattooes...
.
Used to steal your parent's liquor, and climb to the roof
Talk about our future, like we had a clue
Never planned that one day, I'd be losing you...
.
In another life, I will be your girl
We keep all our promises, be us against the world
In another life, I would make you stay
So, I don't have to say you were the one that got away
The one that got away...
.
.
.
Sekilas, aku melihat seseorang melintas melewatiku. Dan hanya satu sosok yang kupikirkan di kepalaku, sosok yang entah besok atau lusa, ia akan meninggalkanku.
"Tuan, maukah anda duduk bersama saya disini?", kataku memanggilnya.
Lelaki yang kupanggil langsung ikut duduk di sebelahku, seakan bertanya,"Ada apa gerangan, Lady Nagi?"
"Lady? Aku bukan ratu, aku juga belum resmi jadi anggota kerajaan. Kau tidak perlu panggil aku begitu. Oh iya, apakah kau tidak bisa tidur juga?"
"Ya, begitulah. Ini karena aku terbiasa sering batuk dan berkeringat di malam hari... Kau juga begitu?"
"Tidak juga, aku hanya sering mengalami ganguan tidur jika terlalu banyak pikiran. Ngomong-ngomong, apakah kau melihat bulan di sebelah sana?", tanyaku seraya menunjuk bulan purnama besar yang cukup indah menghiasi malam itu, dan hanya kita berdua yang melihatnya.
"Iya, kenapa?", tanyanya.
"Aku merasa kalut karena aku khawatir akan kehilangan bulan itu suatu hari nanti...", kataku menjelaskan maksud pembicaraanku.
"Oh, begitu. Aku tahu suatu saat bulan itu akan hilang, tapi kita juga belum tahu kapan hal itu akan terjadi. Karena aku yakin, setelah bulan itu menghilang pasti akan ada bulan baru yang menggantikannya..."
"Apakah menurutmu kau bisa seperti itu?"
"Aku berharap bisa hidup seperti bulan itu. Tapi, yang namanya kematian pasti tak ada yang tahu kapan akan terjadi. Yang manusia seperti kita bisa lakukan hanya berusaha dengan tujuan baik, suatu saat nanti pasti akan ada balasannya"
Perkataannya membuat hatiku sedikit lega, tapi aku masih penasaran.
"Tuanku, dahulu anda dalam kondisi yang memprihatinkan. Tapi, kenapa masih ikut berperang?"
"Kuncinya adalah keyakinan dan saling menghargai. Ketika orang lain meremehkan kemampuanku ketika aku sakit, aku bisa mengalahkan mereka karena aku berkeyakinan bahwa orang lemah sekalipun bisa memiliki kekuatan, bahkan sangat menghargai arti kekuatan yang telah dimilikinya. Jadi, aku akan tetap berusaha selama aku masih hidup, meski usiaku tinggal menghitung hari"
"Tidak kusangka, Tuan Guo Huai sangat kuat menghadapi cobaan itu...", kataku takjub.
"Bagaimana denganmu? Aku heran tentang bagaimana kau bisa berada disini, dekat bersama para jenderal dan Tuan Zhao", tanyanya kepadaku.
"Jika kuceritakan, ceritanya akan panjang sekali..."
Dan di malam itu, kami terus mengobrol panjang serta menceritakan jalan hidup masing-masing, dari kisahku mendadak bertemu Zhao, hingga masalah perebutan hak asuh atas diriku yang masih terus diperbincangkan. Hingga malam sangat larut, kami tertidur di luar istana, dengan Guo Huai yang memelukku saat itu. Meski yang kusentuh adalah tubuh atletis, itu semua hanya semu. Karena yang kurasakan hanyalah tulang belulang dibungkus kulit. Orang yang bersamaku adalah seorang lelaki berusia 60 tahun dengan penyakit TBC.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di pagi harinya...
DUK!
DUK!
BUAK!
BRUAAAAK!
.
.
.
Kalian sedang menebak keributan macam apa itu? Apakah ada perkelahian? Ataukah ada semacam latihan senjata? Jawaban kalian salah semua! Yang benar adalah...
Seperti yang bisa kalian lihat di kepalaku, karena aku tertidur di sudut teras dan tepat di bawah meja kayu, berulang kali aku kejeduk dan hingga sekarang benjolnya sudah 20 lantai. Dan kalian masih menebak siapa yang melakukan ini? Jangan tanya aku, tanya orang tua yang tak sengaja, atau sengaja tidur di sebelahku.
"BANGUN ATAU AKAN KUBOR MUKA KALIAN!", kata sosok suara misterius yang sepertinya kukenal...
PLAK!
"Cepat bangun! Kita tidak punya waktu berhadapan dengannya!", kata sosok saudaranya Gakupo menamparku. Aku yang hanya setengah nyawa berusaha keluar dari kolong meja dan segera berdiri. Namun, malang terus melintang. Aku telah menabrak sebuah bulldozer(?) yang kusimpulkan bernama Deng Ai.
"Mau kemana lagi kamu? Ini H-min-satu! CEPAT BERDIRI DAN LARI KELILING LAPANGAN SERATUS KALI!", teriaknya dengan kencang.
Lantas aku berdiri tegap dan siapkan sikap hormat.
"SIAP! HORMAAAAAT, GRAK!", teriakku sambil meletakkan tanganku di atas kepala. Meski yang lainnya merasa hal itu sedikit aneh karena aku terbiasa menjadi pengibar bendera saat upacara.
Seusai kegiatan mabuk khas, aku dan para jenderal perang lainnya menuju lapangan yang entah kenapa membuatku akan muntah karena stres berat. Bayangkan saja, lapangan yang bisa dibilang lima kali ukuran lapangan sepakbola digunakan untuk latihan lari keliling lapangan, seratus kali pula! Bagaimana cleaning service ga pada mogok kerja? Mungkin baru setengahnya saja, sudah pada modar.
"Tuan Guo Huai, sebenarnya ada apa dengan Deng Ai? Sepertinya dia marah ketika ada jagung kisut tidur dengan perempuan berondong...", kataku sambil bercanda. Padahal, aku kehabisan akal untuk mencari lawan kata "jagung berondong".
"Tenang saja. Dia hanya begitu ketika perang tinggal sehari lagi, meski sebenarnya persiapan ini cukup berlebihan", jawabnya.
"Ini bukan berlebihan lagi. Tapi sudah keterlaluan! Kita yang ngobrol terlalu panjang saja baru sampai setengah lapangan!", kataku sedikit menyindir.
Malang kembali melintang di depanku, kakiku keseleo dan jatuh tersungkur di pinggir lapangan. Aku berusaha tetap berdiri, tapi kakiku sendiri tidak mengizinkan karena terlalu lelah.
"KEAPA KALIAN DUDUK SAJA? NENEKKU BISA LEBIH KUAT DARI ITU!", teriak Deng Ai sambil menyantap tehnya. Oke, itu sangat tidak adil. Dan aku sangat benci orang yang menari-nari di atas kepalaku!
Aku serius, aku merasa seperti ada yang menari di kepalaku.
"Kau tahu jika kakiku keseleo. Bagaimana aku bisa jalan? Aku tahu nenekmu sudah meninggal karena siksaan ini!", kataku mengancam. Mungkin dengan ancaman itu, dia mau memberi sedikit keringanan karena sudah tahu aku datang dari masa depan dan telah membaca sejarah hidupnya.
Dan ternyata, dugaanku meleset. Aku hidup jauh setelah sejarah neneknya ada dan aku tidak melihat bagian itu.
"AKU TIDAK PEDULI! NGESOT!", teriaknya kembali.
"Sudahlah. Ngesot saja, aku temani...", celetuk Guo Huai menggodaku. Aku bukan perempuan murahan, Jagung Kisut!
Tapi, apa boleh buat, aku terpaksa ngesot bersama. Meski sebenarnya aku keberatan, tapi dia baik juga. Hitung-hitung, jubahnya bisa untuk menyapu lapangan. Jarang banget ada anggota kerajaan yang mau, padahal pak tua ini sudah tidak sanggup berjalan.
.
.
.
Lima hari kemudian(?)...
KROTAK!
KRAK!
"Aduh! Sakit! Lain kali pelan-pelan!", rintihku kesakitan. Pedang yang kugigit kini sudah terkunyah gagangnya. Hanya karena kaki saja, aku harus mendapat perawatan tradisional (baca : nyiksa) ala Cina dari Guo Huai. Meski ujung-ujungnya sembuh, tapi aku harus ganti rugi karena sudah mengunyah pedang Zhong Hui.
"Jika bukan karena dia, aku tak akan menyerahkan pedang ini. Aku terpaksa harus menempanya lagi", omel Zhong Hui sambil mengambil kembali pedangnya, lalu meninggalkan kamarku. Sementara dalam proses pemulihan, aku merajut gelang dengan tali temali. Hingga ketika aku selesai dengan rajutanku dan membuka buku cokelat di atas meja di sebelahku, tampak bagian yang hilang sedikit demi sedikit tertulis kembali. Aku membacanya lagi, namun Deng Ai malah memangilku.
"Hei, kapan sembuhnya? Aku perlu bantuanmu?", teriaknya.
"Kau tidak bisa lihat sendiri aku sedang apa?", bentakku.
"Anak Baru, aku mau kau ke pasar sekarang. Kita butuh perbekalan dalam perjalanan ke Tian Shui", perintahya.
"Aku tidak tahu jalan. Masa aku sendirian yang ke pasar?", dalihku.
Deng Ai berpikir sejenak, lalu memutuskan dengan berkata," Baiklah, tapi jangan lama-lama. Kau boleh mengajak salah satu temanmu..."
Aku beranjak dari ranjangku, kemudian mengambil segulung kecil kertas yang dibawakan Deng Ai. Kubuka isi kertas itu, dan ternyata kertas tersebut terdiri dari daftar panjang berisi barang belanjaan yang akan dibeli. Saking panjangnya, kertas itu berakhir di luar istana yang terbilang sangat besar karena sudah menjelajahi seluruh ruangan.
"Kau gila? Aku bisa terus di pasar seumur hidupku! Untuk apa barang sebanyak ini?", kataku kaget.
"Aku tidak peduli! Kau harus membeli semuanya untuk perbekalan seluruh anggota istana!", katanya tegas.
"Sekalian aja bawa istananya! Gitu aja kok repot?", kataku sewot.
Tapi deathglare sudah melayang di kepalaku, aku terpaksa harus ke pasar hari ini juga. Lalu, siapa yang akan menemaniku? Aku kesini saja karena kebetulan pingsan.
"Biar aku saja. Aku tahu seluk beluk pasar. Lagipula, kau juga butuh bantuan untuk membawa barangnya", kata seorang perempuan pirang yang berdiri di ambang pintu. Aku menganggap perempuan itu sebagai Wang Yuanji. Setelah kupikir, aku tidak menyangka jika dia sedikit lebih pendek dariku.
"Oke", balasku sambil membereskan perlengkapanku untuk siap ke pasar. Saking terburu-burunya, aku lupa menutup kembali buku yang kubaca. Karena tak ada yang mengenalku, aku langsung pergi ke pasar bersama Yuanji dengan berkuda. Tentu saja aku di belakangnya. Kalian jangan berpikir aku langsung tahu cara berkuda!
.
.
Di pasar...
"Kudengar kau datang dari masa depan. Apakah kau bisa memberitahuku bagaimana kau bisa mengenal kami semua?", tanya Yuanji sambil berjalan melewati berbagai los di pasar.
"Sederhana saja, aku meminjam buku di perpustakaan. Dan buku itu berisi tentang kehidupan kalian, termasuk kau, Zhao, bahkan Zhong Hui yang kepedean itu", jawabku.
"Begitu ya. Lalu, apa yang menyebabkan hubunganmu dengan kakek tua itu semakin akrab?", tanyanya lagi.
"Maksudmu, Tuan Guo Huai? Kebetulan dia tokoh favoritku di buku itu. Dia mengajarkan banyak hal soal kebijaksanaan, strategi perang, dan masih banyak lagi"
"Jadi, pelajaran apa lagi yang kau dapat darinya?"
"Perjuangan besarnya. Meski sekarang sudah tua renta bahkan sakit keras, dia tetap berusaha untuk bertahan hidup dan berperang demi negeri yang dicintainya. Dengan kata lain, ia ingin mati dengan rasa terhormat"
"Mau pergi ke toko perhiasan? Di sana ada pernak-pernik batu giok yang bagus loh!"
"Boleh. Kasi oleh-oleh ke yang lain juga ya habis dari pasar..."
Seusai berbelanja, kami mengunjungi sebuah toko perhiasan batu giok. Tampak jelas pemandangan ribuan perhiasan antik dipajang di etalase kaca. Sambil memanjakan mata, mataku tertuju pada sebuah kalung cantik bermatakan liontin batu giok yang dibentuk bulan dan bintang. Lantas, aku bertanya pada Yuanji,"Hei, bagaimana jika aku membeli kalung ini sebagai hadiah? Sepertinya cocok sekali untukku..."
"Beli saja. Aku malah sudah beli...", kata Yunaji memamerkan ribuan perhiasan yang sudah diborongnya.
"Kamu mau ngasi oleh-oleh, apa mau jualan?", kataku takjub(baca : nyindir).
Sore itu, kami pulang ke rumah dengan belanjaan yang dibilang banyak, oke. Tapi bisa lebih banyak lagi. Di sore itu pula kami mempersiapkan perbekalan untuk berangkat ke Tian Shui dalam rangka untuk berperang.
Namun, sepulangku dari pasar, aku baru ingat kalau aku belum menutup buku yang kubaca tadi pagi. Kamarku tampak sangat berantakan, bahkan lebih berantakan dari sebelumnya. Aku mengingat lagi orang terakhir yang masuk ke dalam kamarku. Jangan-jangan...
Oh, tidak. Aku khawatir dia akan bunuh diri...
Aku langsung berlalri menuju teras istana di lantai lima. Mataku langsung tertuju pada sosok lelaki berambut panjang yang sudah mengalungkan tali di lehernya. Kesimpulannya, gantung diri.
"Tuan Guo Huai! Anda sedang apa?", tanyaku kaget seraya mencoba merebut tali itu dari lehernya.
"Tak kusangka hidupku hanya sia-sia untuk mati saja. Lebih baik aku mati saja!", jawabnya dengan wajah sendu.
"Mati sih mati, tapi caranya bukan begini! Buku itu memberitahumu cara mati yang lebih baik. Lagipula, isi buku itu tidak sepenuhnya nyata!"
"Tidak, aku mau mati!"
"Kau mau dipermalukan dan dianggap perempuan? Kau tahu jika gantung diri itu hanya untuk perempuan saja!"
Guo Huai tersentak hatinya, seperti badai CETAR MEMBAHANA yang menyetrum otaknya. Pandangannya menjadi kosong, lalu turun dari pagar teras istana dan melepaskan tali yang terpasang di lehernya. Berjalan terus dengan pandangan kosong menuju kuda istana yang sudah tersedia di lapangan. Aku hanya bisa mengikutinya, dan ketika kami berada di satu kereta kuda yang sama, kami hanya diam seribu bahasa. Aku merasa menyesal karena telah menyakiti hatinya dengan ancaman itu, tapi paling tidak pak tua itu tidak jadi bunuh diri.
.
.
.
Malamnya, kami sudah sampai di sebuah tempat di Tian Shui dan memutuskan untuk berkemah di sana. Sambil mempersiapkan perbekalan, aku hanya melihat Guo Huai duduk termangu pada sebuah batang kayu yang telah roboh, hanya terus memandangi bulan purnama yang kebetulan sangat indah di malam itu. Tersentuh sekaligus iba, aku berjalan menuju tendaku untuk mengambil kalung yang kubeli di pasar tadi siang, juga buku yang secara tak sengaja telah dibacanya.
Aku duduk di sampingnya seraya berkata,"Aku sangat menyesal ketika mengatakan itu. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu melainkan menghindarkanmu dari bunuh diri"
"Sudahlah, mungkin besok aku juga benar-benar mati di perang ini", jawabnya kembali dengan wajah sendu.
"Ayolah, Tuan Guo Huai. Semua manusia di dunia ini juga pasti akan mati. Hanya caranya yang berbeda. Cara yang dituliskan di buku itu adalah jalan terbaikmu, mati dengan kehormatan besar untuk Wei. Aku yakin, bahkan jika kau sudah tiada, semua orang akan mengenalmu sebagai orang paling setia pada negera dalam sejarah. Apa yang kulihat darimu bukanlah penampilanmu yang sekarang, melainkan pengorbanan besar yang telah kau lakukan untuk negara ini. Aku ingin kau menjadi bulan, karena aku ingin bisa terus mengenang kesetiaanmu dan ketulusan hatimu, meskipun kita baru bertemu dua hari yang lalu", kataku panjang lebar dengan menitikkan air mata di setiap perkatannku.
"Benarkah?", tanya Guo Huai yang tersentuh hatinya sehingga menoleh padaku.
"Tentu saja. Jika kau tidak seperti itu, mungkin kau bukan tokoh favoritku saat ini"
"Meski aku adalah seorang lelaki tua yang penyakitan?", katanya lagi untuk memastikan kebenaran perkataanku.
"Untuk apa aku menangis jika perkataanku ini hanya kebohongan?", kataku sambil mengusap air mataku.
"Ini, aku membelinya di pasar tadi siang. Kuharap ini cocok untukmu", lanjutku sambil memakaikan kalung bermatakan batu giok yang dibentuk bulan dan bintang kepasa Guo Huai. Dan kalung itu sangat cocok untuknya.
"Terima kasih. Ini bagus sekali", jawabnya sambil tersenyum tipis.
"Tapi, kau harus berjanji dua hal untukku", kataku sambil menunjukkan jari kelingking kiriku. "Pertama, janjilah padaku untuk tidak bunuh diri lagi. Kedua, janjilah untuk bertarung hingga akhir. Karena suatu saat, aku akan mengambil darahmu sebagai kenangan dari perjanjian kita"
"Lalu, ada apa dengan jari kelingkingmu?", tanyanya.
"Ini bukti simbolis bahwa kau akan menepati janji yang kubuat", kataku memasang wajah mesum.
"Baiklah, aku sudah berjanji untukmu", katanya dengan tersenyum sambil mengaitkan jari kelingkingnya di tanganku.
Tiba-tiba saja, Guo Huai batuk sebentar. Ketika yang kulihat adalah darah di tangannya, aku khawatir jika penyakitnya muncul lagi. "Tuan, anda baik-baik saja?", tanyaku sambil meraih pundaknya.
Lelaki itu menoleh kepadaku. Sosok pria yang kuanggap saudaranya Kamui Gakupo, kini kembali menjadi saudaranya Fir'aun. Senyum menyeringainya membuatku harus berteriak histeris karena sindrom histeria-ku kambuh lagi.
"KYAAAA! MENJAUH DARIKU! AKU TAK BISA BERHENTI BERTERIAK! KYAAA!", teriakku sambil menjauh dari api unggun dan bangku kayu tersebut. Aku terkena histeria ketika melihat sesuatu yang indah menjadi menyeramkan. Satu-satunya obat adalah pelukan dari pengasuhku. Tapi, disini tidak ada panti asuhan, yang artinya tidak ada pengasuh yang bisa memelukku.
Sontak, lelaki tua itu mendadak memelukku. Bukannya semakin parah, tapi malah semakin membaik. Pelukan itu terasa sangat hangat sehangat pelukan seorang ayah kepada anaknya. Meski secara teknis aku sudah tak punya orang tua, aku merasa bahwa dirinya sudah seperti ayahku sendiri.
"Tou-san, dimana Tou-san?"
"Tunggu, barusan kau bilang apa?", kata Guo Huai merasa aneh padaku.
Sial, aku keceplosan.
"Tidak.. T-tidak ada. Aku ingin mengeluarkan kameraku. Aku harus megabadikan saat ini", kataku sambil merogoh saku celanaku untuk mengambil kamera yang juga ikut terbawa olehku.
Kemudian, aku mengarahkan kameranya ke depan."Senyum untuk kamera!", kataku sambil memijit tombol di kamera.
JEPRET!
Kulihat hasilnya cukup memuaskan. Kemudian aku berkata," Tuan Guo Huai, maukah anda menemaniku malam ini? Aku belum terbiasa dengan suasana perkemahan di malam sedingin ini..."
"Kau pikir aku laki-laki macam apa?", kataya kaget.
"Bukan model tidur yang begitu, Jagung Kisut! Ya, tidur saja. Tak ada maksud apa-apa. Aku juga tidak mau berhubungan dengan seorang kakek tua"
"Yang bener?", tanyanya.
"Umurku masih 17 tahun. Kalau aku mau juga bukan kau sasaranku! Untuk apa aku bersama kakek tua bangkotan sepertimu?"
Setelah pembicaraan yang lumayan panjang, Guo Huai akhirnya menyerah dan ikut bermalam di tendaku. Yang berpikiran negatif, mohon agar bagian ini dilewati saja demi keamanan Rate fic ini. Bisa-bisa malah jadi Rate M!
Kami semua bermalam dengan tenang, bersiap untuk peperangan tiada akhir...
.
.
.
-TBC-
Nagi : Hadooh, bagian ini lumayan lama bikinnya
Scarlet : Siapa suruh panjangin bagian pertemuan panjangnya?
Nagi : Itu baru dua hari!
Scarlet : Sudahlah, silakan kalian mengisi kotak Review di bawah jika ada kesalahan yang sangat besar
Nagi : Dan dengan resmi, kami mengubah genrenya menjadi Romance-Drama
Scarlet : Gimana hubungan Nagi-san? Lancar?
Nagi : Diam kamu!
