Nagi : Hei, ada ripiu lagi loh!
Sarlet: Mana?
Nagi : Bentar, gue aja yang bacain...
Let's see... Dari Nakamura Aihara :
Update 2 chapter rupanya hohoho.
Anu, maksud saya bukan itu, biasanya banyakan fanfic kingdom Wu ._. Yasudalah maafkan saya kalau begitu wkwkkw
Ah, ga bisa banyak omong(?) Lagi, tapi udh bagus kok mwahahaha. Saya ga bisa banyak omong soalnya saya baca di Kompi, sedangkan mata saya ini konslet jadi tolong maklumi yaa
Saya tungggu updatenya
Nagi : tenang, selama ide kami masih mengalir, kami siap mengapdet permintaan anda setiap saat...
Scarlet : Liat lagi ya...
Next, dari Kaien-Aerknard :
Okay, Review ke-2 saya *tiup terompet lol*
Gila itu penjagaan kamar Zhong Hui benar-benar *coret*paling elit hoek*coret* serem banget... lebih parahnya lagi, ntu pedang bisa merespon *coret*maling*coret* penyusup hiiiyyyy. ogah deh masuk kamar kayak begitu.
Ya ampun Nagi... kenapa pula kau makan pedangnya Zhong Hui?
Mwohohoho! Sebentar lagi ajalnya Guo Huai akan tiba... *evil smile dan langsung di-musou Guo Huai*
Waiting for the next update
Nagi : Lo kira pijat refleksi itu ga sakit? Coba lo sendiri yang nyoba!
Scarlet : Wah, aku sendiri juga tak menyangka kakek Guo Huai punya potensi jadi tukang urut panggilan
Nagi : Apa katamu? *nyolong Arm-cannon Guo Huai*
Scarlet : Ampun, Nagi-san!
Nagi : Ingat, musou Attack-nya ada dua. Dan yang kamu dapetin itu bisa jadi yang Vampire Palm
Scarlet : Kok Nagi-san tau?
Nagi : Kamu kira aku bodoh karena tidak membaca artbook-mu? FYI, jurus yang namanya Vampire Palm hampir sama dengan trik Mega-Drain di Pok*mon, menguras darah lawan untuk memulihkan diri sendiri...
Scarlet : Aku ada saingan... T^T
Nagi : Jangan basa-basi. Cekidot!
Dynasty Warriors series, belongs to Koei
"Where Have You Been?", belongs to Rihanna
"Need You Now", belongs to Lady Antebellum
"Somebody That I Used to Know", made famous by Gotye ft. Kimbra
Genre : Romance Drama
Rate : T
Summary : Hari yang ditentukan sudah bermula. Kini Nagi-san harus menentukan nasibnya di invasi kedua Shu. Akankah Nagi-san mengubah sejarah rakyat Cina dan melupakan kenangan indahnya bersama prajurit andalan Jin?
.
.
Nagi and Scarlet, presents...
.
.
.
Nagi-san's Adventure : Lost in Three Kingdoms
.
.
.
.
.
Chapter 4 : War Without End
Pagi hari, kami sudah mempersiapkan senjata yang akan dipakai dalam berperang. Dimana ada Deng Ai yang mengasah bor ajaibnya, Yuanji dengan pisau lempar yang sempat kusalahpahami sebagai pisau pesulap, Zhong Hui dengan pedang mistisnya yang bisa melayang, dan berakhir dengan aku dan Guo Huai dengan Arm-cannon. Meski aku masih belum terbiasa dengan rupanya yang sudah cukup tua renta, aku masih meyakini isi hatinya belum berubah sama sekali, karena saat inilah yang akan menentukan perjalanan hidupnya. Kami berkumpul di depan sebuah meja bundar yang di atasnya terdapat peta Tian Shui yang diambil dari artbook Scarlet-chan.
"Jadi, aku akan memperjelas lagi strateginya. Yuanji, kau akan ke utara mengalahkan para tentara yang disiapkan sebagai jebakan. Zhong Hui, kau akan ke barat melawan Jiang Wei untuk mencari tahu lokasi Zhao. Aku dan Deng Ai akan ke timur untuk menghancurkan persenjataan dan pemanah yang akan mengancam perjalanan kita. Dan untuk Tuan Guo Huai, anda akan pergi ke tenggara untuk melawan Xiahou Ba jika lokasi terkepungnya Zhao masih belum kita ketahui. Jika tugas yang kubagikan sudah selesai, kita semua akan berkumpul di tenggara", kataku panjang lebar dalam menjelaskan strategi perang. "Jadi, semuanya sudah mengerti? Jika belum, aku akan menjelaskannya lagi"
"Nagi, benarkah rencana ini akan berhasil?", tanya Guo Huai.
"Aku yakin sekali. Jika rencana ini gagal, aku khawatir jika semuanya akan berakhir di sini. Kita hanya bisa bertahan dan berusaha hingga titik darah penghabisan demi bersatunya seluruh negeri. Dan ingat, aku dengar jika Jiang Wei lebih hebat dari lima jenderal andalan Shu. Dan sejak perginya Sima Yi, akan memperlebar kesempatan mereka untuk melakukan penyerangan besar-besaran. Tapi, satu-satunya kelemahan Jiang Wei adalah kecerobohannya dalam berperang. Jika kita kuat, dia akan terus menyerang hingga rakyat kecil di negerinya sendiri tidak diperhatikan", jelasku kembali.
Seusai perbincangan itu, aku langsung menghadap panglima perang yang menjaga pintu.
"Baiklah, kami siap berperang. Biar aku, Deng Ai dan Guo Huai yang berjalan lebih dulu", kataku pada si penjaga pintu.
"Baik, Nona", jawab sang penjaga pintu untuk membukakan pintu areal perkemahan tersebut.
Dan seperti yang sering kalian lihat di serial Dynasty Warriors, saat pintu terbuka, artinya perang sudah ada di depan mata. Aku, Deng Ai, dan Guo Huai berjalan lebih dulu untuk memimpin pasukan. Kami bertiga saling menghancurkan pertahanan lawan satu sama lain. Aku mencoba senjata perangku untuk pertama kalinya di medan perang. Saat Deng Ai sibuk menghancurkan senjata pertahanan lawan, aku dan Guo Huai terkepung dan kami berdiri saling membelakangi seperti yang kalian lihat di video klip The Virgin. Mungkin jika medan perang itu adalah sebuah lagu, kami akan menyanyikan lagu "Cinta Terlarang". Namun pada kenyataannya, kami bekerja sama dengan menembakkan isi Arm-cannon sambil berputar dan menyanyi(?).
"Tuhaaan, berikan aku hidup satu kali lagi, hanya untuk bersamanya...", Dan secara tak sengaja aku menyanyi sesuai suasana yang akan terjadi berikutnya.
"Tenang saja, aku akan berusaha tetap bersamamu...", jawab Guo Huai yang ternyata mendengar aku menyanyi.
Aku langsung mendadak blushing. Dan aku berkata,"Tuan Guo Huai, disini ada persimpangan. Mungkin jalan kita akan terpisah kali ini"
Seusai perkataan itu, aku berpisah dengan Guo Huai dan bergabung dengan Deng Ai di timur.
-Autho's PoV : off-
Seperti yang anda tahu, para pembaca. Guo Huai memimpin pasukan menuju tenggara. Dan tepat seperti yang diduga, Xiahou Ba yang kini pidah ke Shu muncul di benteng itu.
Peperangan hebat semakin sengit dengan kejadian ini. Xiahou Ba melancarkan serangan, namun dijegal oleh Guo Huai. Oh, tapi Xiahou Ba kembali mendapatkan bolanya dan memulai permainan goceknya. Tapi sayangnya bola direbut oleh Guo Huai, Bung. Guo Huai siap menendang. Dan... GOOOOOOOOL! 1-0 untuk Guo Huai, sodara-sodara!
Tunggu dulu, kenapa naratornya jadi komentator sepak bola? Sebaiknya bektustori dulu.
Guo Huai telah mengalahkannya dalam duel sengit. Namun, saat Guo Huai sudah mengokang Arm-cannon-nya untuk menembak mati Xiahou Ba, suasana yang aneh melintasi hati Nagi-san. Mari kita dengar ceritanya.
.
-Author's PoV : on-
Aku sudah selesai menghancurkan senjata pertahanan terakhir. Namun perasaan aneh masih terus menghantuiku, aku bertanya kepada Deng Ai,"Tuan Deng Ai, aku mengalami firasat buruk kali ini. Bisakah kita mengunjungi Guo Huai di tenggara?"
"Tugas kita juga sudah selesai disini. Jadi, mengapa tidak?", jawabnya spontan.
Aku dan Deng Ai pun menyusul Guo Huai di tenggara dengan balap lari. Ketika aku sampai lebih dulu di benteng tenggara, aku melihat kejadian yang kemudian tercatat secara jelas di sejarah. Dan aku tak boleh mengganggunya.
Guo Huai akan melancarkan serangan terakhirnya, namun dua orang pemanah dari Shu muncul mendadak dari belakang dan menembak di punggung dan kepalanya. Kemudian, Xiahou Ba berhasil melarikan diri.
Melihat kejadian itu, aku langsung berlari dan menangkap tubuhnya yang hampir tak bernyawa.
"Tuan Guo Huai! Tolong, bicaralah padaku! Kumohon jangan sekarang!", teriakku histeris melihat kondisinya yang kritis.
"Tidak, Nagi. Ini memang sudah jalanku. Mati dengan rasa terhormat bisa membela negeri yang kucintai. Maaf jika aku... Uhuk, melanggar janji yang sudah kita sepakati...", katanya lirih.
Tangannya yang lemah mencoba meraihku, menunjuk dadaku. Aku mengerti maksudnya. Selama hatimu mengharapkan yang terbaik, kau juga akan memiliki jalan yang terbaik. Akhirnya, Guo Huai menghembuskan napas terakhirnya dan mati dengan tenang. Senyuman di wajahnya membuat ketulusan hatinya semakin terlihat dengan jelas. Aku menyesal telah kehilangan orang yang sangat kuhargai sejak keberadaan buku novel itu. Dan dua hari ini, adalah pertemuan tersingkat yang pernah kualami. Andai saja masih ada waktu untuk menghabiskan masa tuanya bersamaku, aku tak akan menyesal untuk memiliki seorang ayah sebaik dirinya. Masa ketika aku masih memanggilnya Pak Tua, hingga aku benar-benar menyadari sifat yang sebenarnya sangat kusukai darinya, serta foto denan sebuah kamera yang mungkin akan menjadi kenangan terakhirku untuk bertemu dengan orang ini.
"Tidak, Boji. Jangan sekarang! Bangun, Boji! Tuan Guo Huai! Tolong bangun! TIDAAAAAAAAAAAK! Jangan tinggalkan aku disini, Boji!"
Aku hanya bisa menangis melihat kepergiannya, dan aku mengambil darah yang mengucur di luka bekas panahnya sebagai kenanganku yang terakhir. Aku hanya bisa menunggu harapan yang tak pasti akan kepergiannya. Darah yang kusimpan di botol itu kuikatkan di gelangku sebagai hiasan kenangan. Seusai mengusap air mataku, Deng Ai baru datang ke benteng itu.
"Ada apa dengan Guo Huai? Dia baik-baik saja? Bagaimana dengan bayinya?", tanya Deng Ai mendadak panik.
'Woy! Ini bukan mau melahirkan! Udah jelas liat mayat masih nanya! Telat sih datagnya!", omelku pada Deng Ai. "Dia sudah pergi ke tempat yang seharusnya. Aku yakin dia akan tenang di sana..."
"Sayang sekali, padahal aku masih ingin menghabiskan perang ini bersamanya", kata Deng Ai turut bersuka cita(?).
Beberapa menit kemudian, Zhong Hui dan Yuanji sudah tiba bersama Sima Zhao di antara mereka. Komentar mereka tentang kepergian Guo Huai pun sangat beragam.
"Baguslah. Berarti sainganku berkurang. Aku bisa membuktikan kalau aku adalah jenderal terbaik sepanjang masa! MWAHAHAHAHA!", kata Zhong Hui yang kepedean dicampur ketawa iblis Sima Yi.
"Padahal, aku masih ingin merawatnya. Tak kusangka bebanku berkurang kali ini", kata Yuanji yang juga berduka cita.
"Kita sudah kehilangan satu pemimpin terhebat kita. Ini saatnya untuk meningkatkan kemampuan kita dan menaklukkan Shu!", kata Sima Zhao yang mendadak semakin bersemangat. "Besok, jika Shu muncul lagi, kita juga akan menaklukkan Jiang Wei!"
"Aku setuju denganmu!" jawabku dengan senyum menyeringai. Tanda sudah siap dengan rencana perang berikutnya.
.
.
.
.
.
3 hari kemudian, di istana kerajaan Wei...
"Ada apa denganmu? Sepertinya kau murung terus...", tanya Zhao yang saat ini duduk di ranjangku.
Aku hanya bisa memandang foto diriku dan Guo Huai di kameraku. Kemudian, aku memandangi sebuah botol kecil yang kujadikan hiasan di gelangku. Seharusnya aku mengambil kalung itu, tapi aku merasa berat untuk mengambilnya karena kalung itu sangat cocok untuknya. Aku tak mungkin akan mengambilnya kembali.
"Sepertinya, kau masih sedih karena kehilangan Guo Huai...", kata Zhao yang juga ikut murung.
"Begitulah... Sekarang, yang kupunya hanyalah kenangan terakhirku bersamanya. Andai saja sejarah ini belum tertulis, aku pasti masih punya waktu untuk menyelamatkan hidupnya. Ini salahku hanya membiarkannya saja...", kataku dengan wajah sendu dan terus memandangi foto di kamera itu.
"Sudahlah, yang sudah berlalu biarlah berlalu! Jangan terlalu melebihkan...", kata Zhao dengan santainya hingga menyakiti hatiku.
"Aku tak butuh saran darimu, Zhao. Kau sudah menghina tokoh favoritku yang pertama! Jika saja kau yang paling kubenci setelah Zhong Hui, aku bisa menembakmu saat tidur! Keluar!", perintahku kepada Zhao.
"Hei, seharusnya kau yang keluar! Ini kamarku!", kata Zhao yang ikutan marah.
Sial, aku lupa kalau aku sekamar dengan Zhao. Semoga calon istrinya tidak mendadak minta cerai, toh pernikahannya sudah terlanjur diatur dan mereka terlanjur tunangan. Iya kan?
Akhirnya, sebagai yang numpang aku mengalah dengan naik ke lantai lima dan duduk di teras istana. Bulan purnama yang saat itu kulihat bersama Guo Huai, kini telah tiada setelah kematiannya. Tak ada apapun selain langit hitam bagai lautan air kotor.
Aku hanya memandangi fotonya sepanjang malam itu, kemudian mengambil iPod-ku dan memutar tiga lagu secara acak...
.
.
I've been everywhere, man
Looking for someone
Someone who can please me
Love me all night long
I've been everywhere, man
Looking for you babe
Looking for you babe
Searching for you babe
Where have you been?
Cause I never see you out
Are you hiding from me, yeah?
Somewhere in the crowd
.
.
.
Kemudian, aku memandang langit yang masih saja gelap. ' Boji, kau ada dimana? Haruskah aku menunggu selma ini', pikirku dalam hati. Lalu, aku memutar kembali lagunya.
.
.
Picture perfect memories scattered all around the floor.
Reaching for the phone 'cause I can't fight it anymore.
And I wonder if I ever cross your mind?
For me it happens all the time.
It's a quarter after one, I'm all alone and I need you now.
Said I wouldn't call but I've lost all control and I need you now.
And I don't know how I can do without.
I just need you now.
.
.
Aku memutar lagi untuk ketiga kalinya. Kali ini, angin berhembus sepoi-sepoi. Namun suasana merindingnya tidak berubah...
.
Now and then I think of when we were together
Like when you said you felt so happy you could die
Told myself that you were right for me
But felt so lonely in your company
But that was love and it's an ache I still remember
You can get addicted to a certain kind of sadness
Like resignation to the end, always the end
So when we found that we could not make sense
Well you said that we would still be friends
But I'll admit that I was glad it was over
But you didn't have to cut me off
Make out like it never happened and that we were nothing
And I don't even need your love
But you treat me like a stranger and that feels so rough
No you didn't have to stoop so low
Have your friends collect your records and then change your number
I guess that I don't need that though
Now you're just somebody that I used to know
.
.
Tiba-tiba, desir angin sepoi-sepoi itu menjadi megalun dangan lembut. Seakan ada sesuatu yang sedang membelaiku. Di saat yang bersamaan, muncul sebuah suara...
"Nagi, apakah kau masih merindukanku? Maaf atas semua kesalahanku maaf karena aku tak menepati janjimu...", kata suara itu.
Aku menelaah lagi sumber suara itu. Cukup familiar memang. Tapi, dari kata-katanya, apakah itu...
"Boji... Maksudku, Tuan Guo Huai?" Kaukah itu? Bukankah seharusnya kau sudah pergi?", tanyaku pada suara misterius itu.
"Seharusnya begitu, tapi Tuhan di atas sana mengizinkanku untuk menghabiskan satu malam denganmu. Dia bilang, kau masih kesepian karena hanya aku yang kau anggap orang tuamu. Mungkin kau tidak keberatan jika aku mampir sebentar...", jawab suara itu. Seperti yang kutebak, itu adalah arwah Guo Huai yang belum sempat mengucapkan salam perpisahan.
"Boleh saja. Asal kau mau menampakkan diri, dan memastikan tidak ada yang terbangun malam ini...", kataku sambil menggeser tubuhku, agar ada orang yang duduk di sebelahku.
Kemudian, sosok yang memunculkan suara misterius itu menampakkan dirinya. Lalu duduk di sebelahku, ikut memandang langit yang gelap gulita. Sosok itu memang seperti Guo Huai sang lelaki tua yang kulihat. Hanya saja, ia berubah wujud menjadi sedikit seumuran denganku agar dapat lebih nyaman bersamaku.
"Kau hantu. Tapi bisa duduk, hebat juga...", kataku sambil tersenyum tipis.
"Sudahlah. Ini untukmu juga. Sepertinya malam ini gelap sekali...", katanya memulai pembicaraan.
"Begitulah... Sejak kau tak ada disini, malam ini terasa dingin dan gelap. Atau hanya perasaanku saja karena tak ada seorang lelaki tua yang bersamaku disini"
"Disana juga. Meski para pemimpin Wei sudah ada disana, aku tak merasa cocok dengan mereka. Apalagi dengan Yang Mulia Xiahou Yuan yang dibilang terlalu menyonbongkan kemampuan memanahnya"
"Susah juga punya atasan begitu. Mungkin jika aku berada di tempatmu, aku bisa gila. Kalung yang kuberikan kepadamu mana?"
"Aku kembalikan saja. Aku sudah tak berhak memakai ini karena aku sudah mati. Jika kau melihat wujud asliku, aku takut ka akan sedih lagi karena panah yang menancap di kepalaku", kata Guo Huai mengakhiri pembicaraan sambil menyerahkan kembali kalung cantik di lehernya kepadaku.
"Xe Xe, Nagi. Kau sudah memberi banyak hal yang sanat membahagiakanku untuk terakhir kalinya...", katanya berpisah dan kemudian langsung melayang.
"Wo Hui Xiangnan Ni, Boji...", kataku dengan bahasa Cina kuno, artinya,'Aku akan sangat merindukanmu disana, Boji...'
"Wo Hui Xiangnan Ni Tai...", jawabnya yang berarti,"Aku juga akan merindukanmu..."
"Aku akan menunggumu sampai kapanpun...", kataku sambil menitikkan air mata. "Gaobie(selamat tinggal), Guo Huai xiansheng"
"Zaijian...", katanya mengakhiri perpisahan bahasa Cina itu dan menghilang entah kemana.
Aku hanya memegangi kalungnya dan tak akan memakainya. Aku kembali memandang langit dengan berkata,"Gaobie... Boji..."
.
.
.
.
.
Di pagi harinya...
"Semuanya! Bangun! Kita akan mengadakan rapat!", teriak Deng Ai mengumpulkan semua pasukannya.
Para jenderal perang, termasuk aku berkumpul di sebuah ruang tamu besar dengan meja bundar di tengahnya. Kemudian, di pagi itu, musyawarah berjalan dengan khidmat.
"Anak-anak, aku sempat bermimpi tentang masa depan dari tempat ini. Guo Huai menceritakan apa yang akan terjadi berikutnya. Bagaimana menurut kalian?", katanya memulai diskusi itu.
"Lebih spesifik, seperti apa yang dia ceritakan?", tanya Sima Zhao.
"Sepertinya Shu akan terus menginvasi wilayah Wei. Dan juga, Zhuge Dan sudah memulai aksinya mengkudeta Wu dan meminta bantuan disana untuk melakukan penyerangan. Sedangkan kita tak punya seorangpun penasehat militer. Aku hanyalah seorang prajurit perang, dan kalian hanya jenderal", jelasnya.
"Kau tak perlu khawatir, Deng Ai. Kita punya satu orang yang bisa kita percaya menggantikan ayahku", kata Zhao denga percaya diri sambil menunjukku.
"Tunggu, aku? Tidak, tidak, tidak... Aku bukan dari sini dan tidak seharusnya bersama kalian. Deng Ai lebih hebat dari aku, dia sahabat Boji, maksudku... Tuan Guo Huai...", kataku merendahkan diri.
"Jelas dari strategi yang kau buat itu hampir memenankan kita dari pertarungan. Kita hanya belum beruntung saja. Kau bahkan lebih jenius dari pendahulumu si Guo Jia!", kata Zhao sambil memberi senyuman lima jarinya.
"Yang benar saja. Aku hanya anak biasa yang tak punya kemampuan apapun. Aku hanya beruntung mengetahui alur ceritanya...", jawabku.
"Lalu, strategi macam apa yang ingn kau urus? Aku bisa menangani semuanya", kata Zhao yang membanggakan dirinya.
"Huh, kau terlalu berlebihan, Yang Mulia. Seharusnya aku yang kau pilih...", kata Zhong Hui membuang muka, tanda iri.
"Yang jelas, semuanya jangan aku yang urus. Sejak seminggu ini, kau lupa pada Jia Chong. Dia kan penasehatmu, bukan aku...", kataku sambil menunjuk sebuah kamar di pojok ruangan itu.
"Oh, maksudmu pria gothic yang suka nyanyi lagu india itu?"
"Bukan, yang itu namanya Jia Xu!"
"Aku tahu, tapi Jia Chong itu cucunya Jia Xu, yang beda cuma aliran musiknya, dia suka lagu rock!"
Hah? Sejak kapan Cina abad ketiga punya lagu rock?
Bagi yang belum tahu bahkan belum pernah main Dynasty Warriors 8 seperti saya, Jia Chong ini penasehat resminya Zhao. Kebetulan tes masuknya itu lewat atap(?).
"Sudah, daripada ceritanya tambah ngawur, aku akan mengurus daerah Wu dulu. Invasi Shu bisa menunggu, toh Jiang Wei juga kebingungan karena kehabisan stok senjata...", kataku mulai membuka peta untuk peperangan berikutnya. Seperti biasa, Zhong Hui mencoba unjuk hidung(?) untuk membuktikan kehebatannya. Jadi sekarang, ini gilirannya Zhong Hui.
.
.
.
Karena alur perangnya akan terlalu banyak, dan aku capek ngetik terus, kita skip bagian perang dengan Zhuge Dan. Kita langsung menuju seminggu sebelum invasi Shu berikutnya, yang tentu saja dipimpin oleh Boyue alias Jiang Wei.
Aku masih menatap gelang buatanku dengan botol kecil berisi cairan merah sebagai hiasannya di kamar Zhao. Sejenak kemudian, aku melihat Zhao sedang berwajah murung.
"Tumben mukanya merengut. Keu bertengkar dengan Yuanji lagi?", tanyaku.
"Begitulah... Ini juga karena aku dipaksa menikah dengannya. Padahal aku ingin sekali tahu lebih banyak tentang dirinya..." kata Zhao.
"Kau belum jago berhadapan dengan perempuan, tidak seperti kakakmu..."
"Aku boleh minta saran? Aku butuh kejeniusanmu saat ini!"
"Maaf, tapi kemampuanku hanya untuk perang"
"Kumohon, kalau begini terus kapan aku bisa menikah?"
"Oke, baiklah! Kau beruntung memiliki teman seorang perempuan. Jadi, jika kau ingin memulainya, kau harus memulai dengan permainan kata. Mulai dengan pembicaraan sederhana, lalu sedikit demi sedikit semakin serius. Tapi, tetap jangan berpikiran negatif dulu."
"Maksudmu, permainan kata macam apa?"
"Misalnya, jika kau memberikan bunga, kau harus bisa merayunya dengan mengatakan kalau kecantikannya lebih dari bunga tercantik yang ditanam di taman istana. Itu bisa sedikit membantu jika kau tidak keberatan"
Dan obrolan panjang itu berakhir dengan percobaan pertama Zhao meraih hati Yuanji.
.
.
.
Mari kita lihat keadaan Zhao di taman ria(?).
"Hei Yuanji, kau tahu jika bunga itu adalah yang tercantik di taman ini?", kata Zhao memulai pembicaraan.
"Benar, bunga ini sangat harum juga. Aku sangat suka bunga ini", kata Yuanji sambil menghirup bunga mawar tercantik yang dipetiknya di taman.
"Tapi, tahukah kau bahwa bunga ini sangat lemah?"
"Lemah karena apa?"
"Lemah karena bunga ini kalah cantik dengan kecantikanmu di mataku...", kata Zhao melakukan rayuan mautnya.
"Benarkah? Aku belum pernah dirayu seperti ini...", kata Yuanji mulai blushing.
'Ngegombal berhasil. F**k Yeah! Siapa dulu yang ajarin?', pikiranku saat melihat dua sejoli ini dari jendela.
Tak lama kemudian, Zhao datang lagi kepadaku. Sepertinya dia meminta saran lagi...
"Nagi, bolehkah aku meminta saranmu lagi?", tanyanya.
"Sebenarnya aku mau, tapi aku harus pergi dengan Zhong Hui. Aku harus melatih kemampuannya memimpin pasukan lebih dulu.", jawabku dengan seribu alasan.
"Yuanji mengajakku jalan-jalan nanti sore. Aku harus bagaimana?", katanya curhat.
Aku kaget. Padahal aku sangat menyukai Zhao. Tapi, aku lupa dia juga harus menikah. Mau tak mau aku harus membantunya.
"Itu bisa jadi lampu hijau untukmu. Artinya, kau harus mencari pakaian yang pantas untuk menarik hatinya...", kataku dengan sejuta rencana. Aku belum pernah memikirkan untuk menjadi mak comblang Zhao dan Yuanji. Tapi bisa jadi aku dapat sedikit keuntungan dengan kegiatan ini. Waktunya kudeta hati!
.
.
.
-TBC-
.
Nagi : Ini juga lama, tapi agak lewat dari judulnya...
Scarlet : Toh, ada yang keren juga disini... *ngiler*
Nagi : Untuk yang mau ripiu, silakan mengisi kotak di bawah ini
Guo Huai ; kenapa peranku dikit?
Nagi : Masi mending masuk sampai tiga chapter. Tolong minta tanda tangan!
