Nagi : Wuih, ternyata ada ripiu lagi nih!
Scarlet : Baca! Baca! Baca!
Nagi : Sabar! Bentar dulu, banyak nih...
So, ini dari xtreme guavaniko alias Guava-chan :
Huaahhh... jangan mati Guo Huai... aku belom masukin kamu buat FFku... *plakk! Ngaco! Hehehe gomene, Nagi-san suka pada Sima Zhao? Wah... tapi Sima Zhao suka Wang Yuanji.l. but, aku mendukung cinta Nagi-san aja...
Nagi : Terima kasih, Guava-chan! Kau selalu mendukungku!
Scarlet : Gantian aku ya!
Next, dari Saika Tsuruhime :
Guo Huai tewas, ekspresi beragam-ragam.
Meeen... Zhong Hui, temen tewas malah seneng! Ckckck...
Yuanji baik nih... mau nge-rawat Guo Huai dengan tulus... #plaak!
Sima Zhao... SEMANGAT! *dilempar pisau ama Sima Zhao karena GaJe*
Kasihan Zhuge Dan, cuma muncul nama! *ROFL* *dikipas Zhuge Dan*
Jia Chong pecinta musik Rock?! WTH?!
Dah, bingung mo ngomen apa...
Keep Spirit! Aye!
Nagi : Kita juga sebenarnya belum yakin sama seleranya Jia Chong, karena menurut kami Jia Kui masih berkerabat dengan Jia Xu. Begitulah akhirnya...
Scarlet : Nagi-san, kenapa peran Zhong Hui pendek banget?
Nagi : Itu salah dia menghina para veteran yang sudah profesional di medan perang. Dia juga masih terlalu newbie untuk memimpin pasukan. Kemaren aja mandi masih dimandiin Deng Ai!
Lanjut lagi. Ini dari Kaien-Aerknard :
Wah... akhirnya kakek Huai mati juga...
Zhong Hui! Kau minta dihajar! *keluarin siege lance*
Asyik, Zhao belajar gombal eaaa... LOL.
Nagi, entar kamu kayaknya jadi guru les gombal di cerita ini deh lolol XD
Sekian
Nagi : Sekian juga...
Scarlet : Napa ga dibales? Bales dong!
Nagi : Fine! Jadi, aku sebenarnya dapat kemampuan ngegombal itu juga dari si Raja Gombal. Dan karena aku juga perempuan, aku lebih menjadi mak comblang di antara mereka.
Lagi nih! Ini dari black roses 00 :
salam kenal ...
gk nyangka ada julukan jagung kisut ke guo huai ...
humornya dapet kepolosan dari cerita ini juga dapet ...
apalagi chapi 3 bener-bener humor ...
gk nyangka kalau mereka bakalan sewenak jidat dalam memutuskan sesuatu seperti menentukan penasehat ...
apa lagi waktunya kudeta hati sepertinya menarik ...
aku tunggu kelanjutannya
Nagi : Sebenarnya, julukan itu ada secara tidak sengaja. Karena aku tidak mungkin memanggilnya berondong. Toh, umurnya jauh banget dari panggilan berondong
Scarlet : Sesuai sejarah juga, karena sepeninggal Cao Pi malah keluarga Sima yang berkuasa, dan otak Zhao jauh lebih tumpul dari abang dan bapaknya, begitulah akhirnya...
Nagi : Apa katamu?
Scarlet : Jujur saja, otak tumpul Zhao membuatku tak menyukainya. Seharusnya aku yang disenangi Nagi-san! Aku!
Nagi : cup, cup, cup... Sabar ya...
Ada lagi nih, dari marysykess :
ceritanya seru banget XD, aku suka banget...
jadi gak sabar sama perang dengan Shu... cepet lanjutin dong, aku sudah
dihantui penasaran nih :3
emm, aku marrysykes. salam kenal ya :D nagi sama scarlett...
Nagi : Salam kenal. Btw,namamu susah juga ya... Aku jadi ingat seleb yang namanya konsonan semua
Scarlet : emangnya siapa, Nagi-san?
Nagi : Samuel Zylgwyn. Susah kan namanya?
Scarlet : Iya juga sih...
Nagi : Maaf, jika seri ini lebih ke Romance, ini memang genre yang seharusnya. Jika ada sedikit kebocoran, inilah ceritanya...
Dynasty Warriors series, belongs to Koei
"EEEEAAAA", is made famous by Cowboy Junior(bener ga sih tulisannya?)
Genre : Romance Drama
Rate : T
Summary : Nagi-san harus menghadapi masalah baru. Kali ini, ia harus membuktikan cintanya pada Zhao, namun pernikahannya dengan Yuanji tak boleh diganggu. Haruskah Nagi-san menjadi mak comblang dalam kisah cinta Sima Zhao dan Wang Yuanji? Ataukah ada kejadian lain yang tak terduga?
.
.
Nagi and Scarlet, presents...
.
.
.
Nagi-san's Adventure : Lost in Three Kingdoms
.
.
.
.
.
Chap 4 :Mak, Comblangin aku, MAAAAK!
"Jadi, yang namanya mengurus perempuan itu tidak semudah mengurus seekor kuda. Kau harus tahu kejadian dibalik ekspresi dan kata-katanya", kataku sambil mengobrak-abrik lemari di kamar Zhao sore itu.
"Maksudmu seperti apa?", Zhao hanya mendongak dan bertampang kosong.
"Misalnya, jika kau menawarkan sesuatu, dan berkata,'Terserah saja', itu artinya kau harus memberikan sesuatu yang istimewa karena dia ingin kau memanjanya"
"Padahal katanya terserah. Kok jadi begitu?"
"Ada ribuan kasus di zamanku ketika si perempuan bilang terserah, tapi malah diajaknya ke warteg pinggir jalan. Tidak apa-apa jika perempuannya tidak begitu cantik dan pengertian. Kalau membawa perempuan cantik ke warteg, apa kata dunia, Bro? Sama saja kau mau mempercepat jalannya hubunganmu! Untung saja pernikahanmu itu hasil perjodohan orang tuamu", omelku sambil membawa sebuah baju berwarna putih dengan aksen biru, seperti yang bisa kalian ihat di Dynasty Warriors 8.
"Setelah itu, kau juga harus tahu seleranya. Misalnya, jika dia sangat menyukai bunga, berikan bunga. Atau jika ingin pisau lempar, berikan pisau lempar yang lebih bagus"
"Aku masih belum mengerti..."
JDANG!
Sudah bcara panjang lebar, tidak ada respon juga? Pantas saja Scarlet-chan tidak menyukaimu, dia benar soal otakmu yang tumpul. Haruskah aku mengulangnya lagi?
Aku menghela napas panjang seraya menyiapkan aksesoris untuk kegiatan istimewanya. Sambil mempersiapkan dirinya, aku berbicara panjang lebar lagi.
"Jadi, jika kau bingung. Ingatlah jika perempuan bukan ibarat kuda biasa, anggaplah dia seperti Red Hare yang tidak bisa dikendalikan sembarangan. Jika kau bisa memanjakannya dengan yang sudah kusebutkan tadi, lalu gunakan rayuan dengan permainan kata, aku yakin jika dia akan semakin dekat denganmu. Dekatilah dia dengan cara halus dan jangan menolak permintaannya karena itu akan membuat hatinya tersakiti"
Pembicaraan itu berakhir dengan selesainya persiapanku merombak penampilan Zhao yang amat berantakan itu. Jika kalian melihatnya sekarang, dan kalian sedang tersambung di internet, penampilannya seperti di seri Dynasty Warriors 8. Jauh lebih keren meskipun aku lebih menyukai tampilan berantakannya yang dahulu.
"Kau sudah siap untuk perjalananmu. Aku doakan hubunganmu lancar...", kataku selesai dengan perombakan penampilan untuk hari istimewa Zhao.
"Terima kasih. Ini keren sekali! Aku beruntung punya teman yang tahu banyak soal perempuan dan model pakaian seperti dirimu", jawabnya takjub dengan penampilan barunya.
"Itu karena aku juga perempuan, Bodoh!", kataku dengan muka masam.
"Aku bercanda. Samapi jumpa!",katanya sambil berlari meninggalkan kamar menuju kuda putihnya.
"Selamat menikmati kencanmu!", kataku sambil melambaikan tangan padanya.
Akhirnya, Zhao pergi menuju taman ria tempat Yuanji menunggunya. Dimana aku hanya sendiri untuk saat ini. Sendiri karena tak ada yang menemani selain para jenderal yang sibuk makan baozi alias bakpau sambil berjudi mahyong dan bermabuk ria.
Aku langsung berjalan keluar istana, seperti mencari sesuatu. Aku ingin bisa berkuda, tapi aku tidak bisa karena aku sendiri belum mengerti caranya. Aku memandangi kembali gelang di tangan kiriku bersamaan dengan desir angin pada sore itu.
"Kau ingin berkuda?", tanya sebuah suara yang muncul kembali.
Sesaat kemudian, muncul sesosok lelaki dengan kuncir panjang di belakangnya. Lengkap dengan armor serta kain biru bak jemaat haji yang membungkus sebagian tubuhnya.
"Zhong Hui? Kau tidak bergabung dengan yang lain?", tanyaku sambil memalingkan muka. Jujur saja, aku tak suka dengan sikapnya yang selalu memikirkan dirinya sendiri.
"Untuk apa? Aku juga tak suka permainan mereka. Lagipula, aku lebih senang disini karena ada kau..."
"Tunggu dulu. Sejak kapan kau mau mendekatiku? Sudah sekian lama aku ada disini dan kau baru mendekatiku? Itu aneh untuk pria sepertimu!"
"Apa yang aneh? Aku juga sudah melupakan pertengkaran kita. Untuk apa diingat lagi?"
"Tidak. Aku curiga kau bukan Zhong Hui yang kukenal. Kau arwah Guo Huai yang berpura-pura menjadi Zhong Hui! KELUAR KAU SEKARANG!", teriakku sambil meloncat ke hadapannya dan segera membantingkan tubuhnya ke lantai. "Keluar kau! Aku tidak mau berurusan denganmu lagi! Kau bilang kalau kau sudah pergi. Tapi janjimu tidak kau tepati. Pergi kau!"
Aku terus membanting kepala Zhong Hui hingga berdarah atas nama sikap anehnya sore itu. Hingga akhirnya, kepalanya bocor dan darah mengucur deras dari hidungnya. Kemudian ia berkata,"Cukup! Kau hampir membunuhku! Aku masih Zhong Hui! Lupakan saja soal pak tua itu!"
"Zhong Hui? Astaga, maaf jika aku menyakitimu. Aku hanya merasa aneh dengan tingkahmu hari ini", kataku sambil beranjak dari lantai. Aku hampir membunuhnya. Oh, tidak. Kenapa aku teringat lagi pada Boji?
"Sudahlah. Kau harus membayar biaya kegantenganku! Aku sudah bersusah payah berdandan dan kini kau hancurkan lagi. Aku tidak peduli apapun itu", katanya marah-marah.
"Tunggu dulu... aku akan ambilkan air...", kataku sambil berlari ke dalam. Aku pun sudah merencanakan sesuatu untuk memastikan kebenaranku.
Aku langsung mengambil segelas air di dapur. Untuk berjaga-jaga, aku mengambil dua buah golok untuk penyergapan. Time for troll!
"Ini , tolong diminum dulu sambil kuambilkan kompres untuk lukamu...", kataku selesai dari dapur sambil menyodorkan segelas air untuk Zhong Hui.
"Iya, terima kasih. Kau baik sekali...", jawabnya sambil memegang gelas berisi air tersebut.
Dengan sigap, aku langsung mengambil dua buah golok dia tanganku dan mengacungkannya ke depan leher Zhong Hui.
"Aha! Kau mencoba membodohiku lagi? Oh, Tidak bisa...", kataku langsung bergaya ala iklan Kartu *s.
"Hei, apa-apaan ini? Aku masih normal! Letakkan senjatamu!", kata Zhong Hui kaget.
"Sudah jelas kau bukan Zhong Hui, masih mau menipuku. Aku tidak bodoh! Aku tahu seluk beluk kelakuannya!", kataku tetap ngotot.
"Apa? Bagaimana kau...?"
"Zhong Hui yang asli tidak akan bilang terima kasih waktu diambilkan air karena dia bisa ngambil sendiri! Dan satu lagi, Zhong Hui itu pendendam dan ga akan lupa sampe dia bisa nebus dendam itu. Termasuk dendamnya padaku saat aku menggantikan posisinya dengan Deng Ai sebagai pemimpin pasukan!", kataku berargumen. "Apakah semuanya jelas, Zhong Hui? Atau, haruskah aku memanggilmu begitu?"
Zhong Hui terdiam sejenak. Aku sedikit menurunkan senjataku. Wajahnya berubah murung, kemudian mendadak menangis dan memelukku.
"Aku merindukanmu, Lady Nagi. Aku memang memiliki semuanya, tapi tidak akan ada artinya jika tak ada dirimu!", katanya sambil menitikkan air mata.
Zhong Hui... Merindukanku? Tunggu dulu... Pantas saja perasaanku padanya berbeda...
"Boji, maksudku... Tuan Guo Huai?", tanyaku.
"Kau telah menebaknya. Kau tahu aku tak mau menipumu. Aku peniru yang payah...", katanya sambil melepas pelukannya dan mengusap air matanya. Disempurnakan dengan senyuman tipisnya.
Apa yang kurasakan? Entahlah. Aku belum pernah melihat lelaki super narsis seperti Zhong Hui tersenyum, padahal senyumannya sangat menawan. Tapi, sosok yang tersenyum itu bukanlah Zhong Hui yang asli. Itu adalah kehangatan hati Tuan Guo Huai yang bersemayam di tubuh Zhong Hui.
"Jadi, kenapa kau kembali? Kau bilang akan pergi untuk selamanya, tapi ternyata kau muncul seperti sekarang...", tanyaku.
"Sebenarnya, aku memang akan pergi. Tapi, perang terakhirmu akan jadi penentu antara hidup dan mati. Kau ikut perang terlalu mendadak, jadi aku harus mempersiapkanmu agar kau mampu menguasai ilmu rahasia di dalam Arm Cannon milikku", jelasnya.
"Lalu, kenapa kau merasuki Zhong Hui? Seharusnya kau merasuki Zhao atau Deng Ai jika perlu"
"Jadi, ceritanya begini..."
-Author's PoV off-
-Flashback tu dunia akhirat-
"Kau orang yang berhati mulia. Seharusnya kau tidak berhak untuk mati, tapi kematianmu sangat terhormat. Aku berhak memasukkanmu ke dalam surga bersama yang lainnya", kata sesosok makhluk yang berjubah hitam dan berwajah supernista yang diakui di fandom sebelah sebagai Dewa Jashin yang nyasar di fandom ini.
"Terima kasih. Tapi aku punya beberapa permintaan sebelum kau membawaku ke sana. Aku masih belum berhak ke surga karena janjiku dan tugasku di dunia belum selesai", kata lelaki tua yang mendadak menjadi tampan bernama Guo Huai. Di akhirat, semua yang tua dan expired akan kembali dalam usia mudanya.
"Lalu, apa janji dan tugas yang kau maksud itu?", tanya Dewa Nyasar itu.
"Ada seorang gadis yang terdampar secara tak sengaja ke zamanku dan belum mampu menguasai keahlian bersenjata. Aku sudah berjanji padanya untuk kembali padanya dan menjadi ayahnya di zaman asalnya"
"Jadi, kau ingin dilahirkan kembali ke dunia?"
"Benar. Tapi, bolehkah aku mengatakan hal ini padanya nanti?"
"Baiklah. Tapi waktumu hanya seminggu di dunia dan kau harus segera menemukan tubuh sementara untuk dipinjam"
"Diterima"
Akhirnya, kedua makhluk itu pergi menuju istana yang diakui debagai istana negeri Wei.
"Sekarang, pilihlah satu orang yang ingin kau pinjam tubuhnya", kata Dewa Nista sambil mengayunkan tangannya untuk menunjukkan sosok-sosok yang tertidur dengan cara yang bermacam-macam.
"Aku mau yang ini!", kata Guo Huai sambil menunjuk sosok lelaki berambut coklat yang rambutnya dikuncir dengan pita turquoise dan sedang tertidur dengan gaya angun (baca : telentang sambil mangap) di kamarnya yang dikelilingi pedang mistis nan melayang.
"Kau yakin? Menurutku lelaki ini sangat narsis dan nista. Apakah kau tidak keberatan harus bermasalah dengannya?"
"Aku juga harus menjadi penengah dari pertengkarannya dengan Zhong Hui. Aku yakin akan hinggap sementara disana"
"Baiklah. Ingat, waktumu satu minggu", kata Dewa Jashin sambil ngeloyor pergi dan menghilang begitu saja.
Seusai kejadian itu, arwah penasaran ini memasuki kamar Zhong Hui. Dengan mengeluarkan suara yang mengerikan, dia memasuki kamarnya dengan gaib.
Meanwhile, di kamar Zhong Hui...
Lelaki super narsis ini tertidur dengan indahnya bersama boneka beruang cokelat kesayangannya. Saking lelapnya, ada iler di boneka dan bantalnya. Namun, tidur tersebut diganggu oleh suara mengerikan dari kamarnya.
"Zhong Hui... Aku ingin kembali... Pinjamkan aku tubuhmu...", kata suara itu.
"Siapa itu? Hantu ya?", tanya Zhong Hui kaget sambil menyiapkan pedang ajaibnya.
"Iya... Masa suara begini kucing?", jawab suara itu.
"Tunggu dulu... Aku tahu suara ini... Tuan Guo Huai? Kenapa anda menghantui saya?", tanya Zhong Hui sejurus kemudian.
"Aku tidak mau menghantuimu. Aku hanya ingin tubuhmu sebentar saja..."
"Apa? Kau ingin tubuhku? Untuk apa?"
"Untuk kebaikanmu sendiri..."
"Maksudmu? Oh, tidak, tidak, tidak... Aku tak akan memberikannya pada orang lain! Hanya aku yang boleh memiliki tubuh keren ganteng rupawan ini!"
"Kesombonganmu telah merusak dirimu sendiri, Zhong Hui..."
"Lalu? Apa kau iri karena kau mati duluan dan aku masih hidup? Pokoknya aku tidak mau!"
"Baiklah kalau begitu..."
Suara itu mendadak lenyap dari kepala Zhong Hui. Ia menurunkan pedang-pedangnya dan berupaya untuk kembali ke tempat tidurnya. Namun ternyata, Ia dikagetkan dengan sosok lelaki tua yang wajahnya penuh luka dan pakaiannya berlumuran darah, disempurnakan dengan panah di antara rambut putihnya tanda ia telah terbunuh oleh anak panah di belakang kepalanya yang berkata," Maka aku akan serta merta mengambilnya darimu!"
Roh menakutkan tersebut membuat Zhong Hui kaget, namun ia lupa jika pedangnya sudah disimpan. Maka, dirasukilah tubuh Zhong Hui lewat hidungnya oleh roh yang diakui bernama Guo Huai. Berdasarkan catatan saksi, Zhong Hui jatuh pingsan dan mendadak bicara sendiri. Namun, tidak ada yang tahu kalau Zhong Hui sebenarnyasudah kesurupan.
-Flashback off-
-Back to Author's PoV-
"Oh... itu cerita yang bagus...", kataku sambil mengangguk pelan.
"Jadi, kita akan mulai pelajaran kedua dalam persiapan satu minggu menuju Dynasty Warrior!", katanya bersemangat sambil mengayun-ayunkan syal biru yang melilit di tubuhnya.
"Tunggu, kenapa langsung pelajaran kedua? Yang pertama apaan dong?", kataku bingung.
"Kau sudah mengenal lawanmu dengan baik. Dan kejadian itu adalah pelajaran pertamamu. Jadi, mau lanjut?"
"Oh... oke. Tapi, aku harus memanggilmu apa? Kau sudah mati jika aku memangilmu Tuan Guo Huai. Dan kau sendiri tidak pantas dipanggil Zhong Hui..."
"Teruslah memanggilku denan nama asliku. Itu bisa menjadi kode untukku"
'Possesing like a boss! Yang bener?', kataku dalam hati. Benarkah aku akan melakukannya? Aku akan terus memanggilnya Boji? Entah apa yang sedang terjadi denganku, tapi aku sangat bersemangat...
.
-End of Author's PoV-
Meanwhile, di taman ria tempat si idiot keren Zhao dan Yuanji sedang berduaan...
"Bulannya sangat cantik ya...", kata Zhao memulai pembicaraan.
"Apanya yang cantik? Bulannya saja tidak ada...", balas Yuanji sewot.
"Maksudku, bulan yang ada di sampingku"
Yuanji berusaha menyerap isi kata-kata tersebut. Kemudian mendadak blushing dan melanjutkan memakan permen kapas di tangannya seraya berkata,"Permen kapas ini manis sekali! Aku tak tahan memakannya!"
"Tunggu dulu. Permen kapas itu sebenarnya sudah pas manisnya", komentar Zhao sambil mencegah Yuanji membuang permen kapas itu.
"Lalu?", kata Yuanji bingung.
"Permen kapas itu jadi terlalu manis karena wajahmu yang manis menambah rasanya", jawab Zhao sambil menoleh ke arah Yuanji dengan senyuman manisnya.
Otomatis, Yuanji yang akan membuang makanannya mendadak blushing, dan menghabiskan permen kapas tersebut dengan membabi buta. Kemudian berakhir dengan berpelukan ala para T*l*t*bb**s.
Sesaat kemudian, Zhao mencoba melirik iPod milik Nagi-san dan mencoba memutar sebuah lagu sesuai petunjuk yang diberikan sebelumnya. Seusai memilih lagu, Zhao menyanyikannya sambil berlutut di hadapan Yuanji.
.
Kau bidadari jatuh dari surga, di hadapanku...
EEEEAAAAA...
Kau bidadari jatuh dari surga, di dalam hatiku...
EEEEAAAAA...
So, baby please be mine. Please be mine, oh mine...
EEEAAA...
Karena hanya aku, sang pangeran impianmu...
EA, EA, EA...
EEEAAAA...
.
Lalu, terdengar suara derap kaki yang sangat cepat mendekati pasangan yang sedang bermesraan itu. Dilanjutkan dengan ribuan orang yang berlari karena kaget, dan disempurnakan dengan sebuah teriakan yang tidak asing lagi.
-Auhtor's PoV-
"SIMA ZHAO MAHOOOOO!"
BRUAK! SET!
BRUK!
Oh, tak kusangka menunggang kuda itu sulit sekali... Tunggu dulu, aku seperti bersama seseorang...
Aku menoleh ke atas, dan tak disangka kejadian yang mengerikan pun terjadi...
"Zhao! Sedang apa kau?"
BRUK!
"Aduh! Sakit! Turunin sih turunin, tapi jangan dibanting juga dong!", teriakku.
"Maaf, refleks", jawab Zhao yang dari tadi sebenarnya sudah menggendongku saat mendadak terjatuh akibat Red Hare.
Sesaat kemudian, seorang lelaki rambut cokelat dan berhias pita di ekor rambutnya muncul dengan menunggangi seekor kuda hitam. Lelaki itu turun dari kudanya dan segera menghampiriku yang merintih kesakitan.
"Seharusnya kau berhati-hati dengan Red Hare. Kau tahu jika kuda itu tak bisa dikendalikan seperti kuda biasa", katanya.
"Zhong Hui, aku sudah berhati-hati. Aku hanya belum terbiasa dengan Red Hare yang larinya terlalu kencang", balasku sambil menoleh sekelilingku.
"Tunggu, sejak kapan Zhong Hui bersamamu?", tanya Zhao kepadaku.
"Tidak ada waktu untuk itu! Aku harus kembali karena sudah mengganggu kalian", kataku sambil berusaha berdiri. Namun ternyata, nasib malang terus melintang.
KRAK! KRETAK!
"Pungungku! Cepat bawa aku pulang... Zhao, Kembalilah bermesraan dengannya", kataku menyuruh Zhao untuk melupakanku.
"Tidak, tidak bisa! Kau harus segera diobati. Cederamu sangat parah...", bantah Zhao.
"Disini sudah ada Zhong Hui yang menyusulku karena kuda kesayangannya kuambil. Kau kembali saja"
"Aku tak peduli apapun yang kau katakan. Aku harus segera membantumu"
"Zhao benar. Sudah sepantasnya kami membantumu. Kau sudah seperti keluarga kami",kata Yuanji datar nan bermakna.
Dengan tatapan Yuanji yang berubah total menjadi suram, kami semua kembali ke istana dan segera mengobatiku.
.
.
Di dalam istana...
"Terima kasih sudah peduli padaku. Aku tak tahu harus berkata apa", kataku kepada semua orang yang berpartisipasi dalam aksi penyelamatan yang nista itu.
"aafkan aku soal yang tadi. Aku tidak sengaja melakukannya", kata Zhao sambil facepalm tanda menyesal.
Aku merenung sejenak. Kupandangi sosok lelaki rambut cokelat dengan kunciran yang diikat dengan pita biru laut itu.
"Zhong Hui, sepertinya aku harus bicara denganmu. Moi et toi!", kataku ragu-ragu.
Otomatis, Zhao langsung memasang telinganya lebar-lebar.
"BERDUAAN!", teriakku dengan lembaran kertas yang digulung seperti toak masjid di telinga Zhao.
Zhao menghela napas panjang, lalu berkata,"Oke, fine! Gua tutup dulu pintunya...", katanya sambil berjalan keluar sambil menutup pintu kamarku, yang sebenarnya adalah kamar Zhao sendiri.
"Zhao, aku masih bisa melihatmu!", kataku berteriak dari dalam karena bayangan Zhao masih terlihat dari pintu yang terbuat dari dedaunan kering(?) itu.
Lantas, Zhao pergi meninggalkan aku dan sosok Zhong Hui berdua saja di dalam kamar itu. Dan tak ada yang melihat kami.
"Memangnya kau mau bicara apa?", kata Zhong Hui sambil menoleh dengan wajah datar.
"Sudah, Boji. Tidak ada orang disini. Hentikan ucapanmu itu!", kataku menyuruhnya berhenti berlagak sombong.
"Baiklah. Sekarang, kenapa kau mau kita berdua bicara?", tanya Zhong Hui(Boji) yang bernada sopan.
"Aku mau bertanya tentang sesuatu padamu..."
"Tanyakanlah..."
"Yang kau ceritakan itu... Apakah benar kau menghantuinya dahulu?"
"Itu mudah saja. Tentu saja aku menghantuinya, meskipun hasilnya gagal..."
"Oiya, apakah nanti kau akan terus berada disana?"
"Tentu saja tidak. Kau sudah tahu jika aku hanya berada disini selama seminggu"
"Kurasa aku akan merindukanmu lagi. Aku berharap kau dilahirkan kembali di zamanku. Tapi semuanya mustahil karena kau tak punya keturunan..."
"Jika kau melihat kisah Guo Jia meningal, sebenarnya ia hanya memalsukan kematiannya agar dapat muncul di waktu yang tepat"
"Guo Jia? Dia siapamu? Aku merasa kalian berbeda sekali..."
"Dia keponakanku yang paling cerdas. Dia sudah memprediksikan hal ini jauh hari"
"Benarkah? Aku tidak percaya kalau kau..."
Sebelum aku menyelesaikan perkataanku, Boji memelukku dengan erat, kemudian mengelus rambut pirangku dengan lembut seraya berkata,"Ingatlah, orang yang kau cintai tidak akan pernah pergi selama kau masih memilkinya. Cinta memang mudah datang, tapi tidak pergi. Cinta hanya menunggu orang yang tepat untuk kembali padamu..."
"Benarkah aku bisa bertemu lagi padamu suatu saat nanti, Boji?"
"Aku berharap bisa begitu. Mungkin jika beruntung, akan merangkap dengan Zhong Hui"
"Zhong Hui? Yang benar saja?"
"Tentu saja tidak. Aku hanya bercanda...", katanya sambil tertawa kecil.
Aku langsung keluar dari kamar itu, lalu memberitahu Zhao bahwa persiapan untuk perang harus matang karena perang akan bergulir tak lama lagi.
-TBC-
Nagi : Maaf, jika anda ingin review lagi, silakan berkomentar dengan mengisi review di bawah ini
Scarlet : Waaah, aku melting...
Nagi : Gitu diolokin terus. Baru terasa kan?
Scarlet : Iya deh, Nagi-san...
Guo Huai : uhuk... kenapa aku jadi hantu? Kalian tega padaku... *pundung*
Nagi : Boji, di ceritanya bukan pake suara Zhong Hui kok... Sumpeh deh! Kita hampir gapunya ide!
Scarlet : Daripada ga ada, ya gitu aja lah jadinya...
