Nagi : Wuih, ternyata ada ripiu lagi nih!
Scarlet : Baca! Baca! Baca!
Nagi : Sabar! Bentar dulu, banyak nih...
So, ini dari xtreme guavaniko alias Guava-chan :
aaaaaahhhhhhh! emang! Zhong Hui emang super narsis yang pengen disihir jadi cecak! *dilempar piao
lho? Red Hare? lo nyasar dari gerbang Hu Lao sampai Jin ya? ato jangan jangan lo kabur dari ntu babon? kalo ga lagee... KENAPA LO BISA ADA DISINI!
Guo Huai... suaramu bikin merinding aja...
huahahahaha! suara kucing? Suara Guo Huai yang kaya gitu dibilang suara kucing? hayooooo lucu...
keep update, Nagi-onechan! aku mendukungmu! *kibarin bendera KOEI
Nagi : Makasih, Guava-chan!
Scarlet : Red Hare nyasarnya karena dalam catatan sejarah, Mas Cao Pi ngelepas. Ga taunya Nagi-san ketemu lagi, pas dinaikin malah kudanya lari!
Nagi : Itu nasib sialku. Apa ceritamu?
Next, dari Nakamura Aihara :
ASTAGA SAYA LUPA NGEREVIEW CHAPTER 3! GOMEN MIAN MAAF!*plak
Edun Zhong Hui kalau tersenyum ramah, saya SAMA SEKALI tidak bisa membayangkannya dX
Jashin? Jashin itu nama Dewa sesat yang sangat dihormati karakter yang bernama Hidan kan?
Btw, Sima Zhao nge gombal? Dan Yuanji tersipu malu? WHOT THE *ditendang Zhao Yuanji*
Segitu deh review ga penting banget dari saya
Update.
Nagi : Jelas anda tak bisa membayangkannya. Karena mukanya cemberut terus...
Scarlet : Kita sengaja bikin Dewa Jashin terdampar biar Hidan ga sembah dia terus!
Nagi : Sumpah, ini ripiu paling ga penting yang pernah kubalas -_-'
Lagi nih! Ini dari black roses 00 :
kok ribet bgt ya si guo huai ...
trus si zhong hui OOC da masa ama hantunya guo huai aja takut ... #kabur
ternyata sima zhao sama seperti saya mesti langsung praktek dan gk nyangka aja backsongnya mantap cin ...
dan akhirnya kocak bgt ...
Nagi : dia bukan takut, tapi kaget!
Scarlet : Backsound-nya?
Nagi : itu backsound termaho yang pernah kuputar. Entah kenapa aku masih menyimpannya, padahal yang nyanyi anak kecil!
Scarlet : Kalo praktek, lumayan laaah... Pinter ngegombal! Kita niatnya menambah romance di cerita ini... So, cekidot! Ada review selanjutnya!
Terakhir, dari marrysykess yang males login dan jadi Anon :
hai hai hai, aku review lagi nih. *gak ad yg nanya mar!
sumpah, ceritanya makin koplak aja. jadi tambah semangat bacanya...
jangan lupa lanjutin ya! klo gak lanjut, lihat ntar! aku bilangin mas jiang wei...
jiang wei: mereka mana takut lady marry -_-
Nagi : Aku juga ga takut sama kamu, Boyue! Aku akan membunuhmu nanti!
Scarlet : AYO, NAGI-SAN!
Nagi : biar lebih semangat, cekidot!
Dynasty Warriors series, belongs to Koei
Genre : Romance Drama
Rate : T
Summary : perjalanan negeri Jin menuju kemenangan sudah di depan mata. Namun, Nagi-san harus kembali mengorbankan apapun demi orang-orang yang dia cintai. Nagi-san harus merelakan cintanya kepada Zhao demi berlangsungnya sejarah. Namun, apakah yang terjadi berikutnya?
.
.
Nagi and Scarlet, presents...
.
.
.
Nagi-san's Adventure : Lost in Three Kingdoms
.
.
.
.
Chapter 5 : The Last Battle
Margaku Kirishima. Namaku Nagi Kirishima. Dan aku siap untuk berperang!
Begitulah motivasiku sebelum memulai latihan terakhirku, karena hari keempat harus persiapan dan hari kelima segera berangkat ke Chengdu untuk meruntuhkan negeri Shu Han. Lagi-lagi, aku hanya latihan selama tiga hari ditambah kejadian nista kemarin. Pelajaran hari ini adalah mempelajari teknik "Desperado Blaster", jurus musou attack yang dikeluarkan master Boji saat nyawanya terancam bahaya. Jurus ini mengandalkan akurasi dan kondisi tubuh yang kritis dan masih tetap bertahan. Karena setelah mengeluarkan jurus ini, penggunanya akan pingsan dan mengalami koma selama setahun(?).
"Sebelum kita memulai latihan, marilah kita berdoa bersama-sama agar bisa menguasai ilmu berbahaya ini. Berdoa, mulai!", kata Boji bak pak ustad yang mau memulai ceramah. Aku dan Boji berdoa bersama-sama agar perang ini mencapai titik terangnya.
"Selesai", kata Boji mengakhiri acara doanya. "Basic dari gerakan ini adalah kecepatan, akurasi, dan kekuatan tangan kirimu"
"Loh? Kok kekuatan tangan?"
"Karena trik ini dimulai dengan tusukan cepat dari depan, lemparan ke udara, dan diakhiri dengan tembakan bertubu-tubi"
"Oh, begitu..."
"Sekarang, coba kau praktekkan gerakannya"
Aku mencoba melemaskan lenganku, aku mencoba berlari secepat kilat dan melakukan tusukan kejutan. Namun kenyataannya, aku tak mampu menusuk tubuh Zhong Hui yang di dalamnya terdapat arwah Boji. Aku tak mau dia mati duluan...
"Kejutan yang hebat!", puji Boji kepadaku. "Kau hanya perlu mengusai kemampuanmu melempar lawan dan menembaknya tanpa meleset sedikitpun"
"Terima kasih. Jika tidak ada kau, aku tak mungkin sehebat ini!", balasku sambil tersipu malu.
Aku dan Boji hanya latihan berdua sore itu. Kami memiliki kekuatan yang terbilang seimbang, sehingga tak ada yang menang. Namun ternyata, tak terasa matahari akan terbenam. Saat aku ingin mencoba menantangnya lagi, Boji malah berlari ke pinggir lapangan dan berada sejajar dengan letak matahari itu terbenam.
"Aku harus segera meninggalkanmu untuk selamanya. Aku tak bisa berada disini terlalu lama", kata Boji dengan memasang wajah sedih.
"Boji, latihanku belum selesai! Aku sendiri belum menguasai kemampuan berkuda, bagaimana aku bisa berperang?", tanyaku.
"Berperang tidak selalu menggunakan kuda. Yang kau perlukan hanya senjata dan niatmu untuk mendamaikan negeri ini. Aku yakin dengan niat itu kau bisa menundukkan semua kuda karena niat itulah yang diinginkan oleh Red Hare"
"Red Hare? Maksudmu, aku bisa mengendalikannya?"
"Hanya jika niatmu baik. Aku harus pergi meninggalkanmu sekarang", kata Boji mengakhiri pembicaraannya dengan memelukku dan mengelus rambutku."Aku berharap kita bisa hidup lebih lama dan merasakan kebahagiaan seperti ini"
"Aku juga, Boji. Aku merasa berat meninggalkanmu", kataku sambil memandang gelang yang diberi liontin berupa campuran darah Boji dan air mataku, yang kubotolkan sebagai kenangan atas kematiannya.
Pelukan hangatnya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, aku merasa terbuai dengan rasa kasih sayang seperti kasih sayang orang tua kepada anaknya. Hingga perasaan itu terbuyarkan ketika ia melepas pelukannya dariku.
"Hei, apa yang terjadi? Kau mencoba mempengaruhiku? Aku tak mau lagi mendekatimu!", katanya kembali memasang wajah cemberut.
"Zhong Hui? Apa maksudmu? Aku tak bermaksud apa-apa padamu!", balasku.
"Cukup! Aku muak dengan kerajaan yang gila ini!", katanya sambil ngeloyor pergi meninggalkanku dengan menaiki kuda putihnya.
"Tunggu! Zhong Hui!", teriakku.
Terlambat. Sekarang, Zhong Hui berkhianat dan mendukung Shu Han yang bodoh itu. Tak kusangka hidupku akan sesulit ini...
Tapi, perasaanku masih berbeda dari sebelumnya. Aku memandang Zhong Hui sebagai individualis yang ingin menang sendiri. Tapi, kenapa seperti ada kejanggalan? Apakah Zhong Hui mulai menyukaiku? Tidak! Tidak mungkin orang seperti itu punya perasaan! Tapi bisa saja ia meninggalkanku karena ingin melupakan hal bernama cinta itu. Apa yang terjadi? Aku tidak tahu. Aku hanya berharap dapat memenangkan perang ini dan bisa kembali pulang ke zamanku.
Lima hari kemudian...
"Aku akan merincikan taktik penyerangan kita. Sebelum yang lain ke Chengdu, aku akan membersihkan jalan dari gerombolan penjahat. Kemudian, Deng Ai akan memancing semua prajurit keluar dan membukakan gerbang dengan catapult. Setelah semuanya telah keluar, grup Yuanji dan Zhao siap di tempat yang kuberitahu kemarin untuk melakukan penyergapan. Ketika jalan menuju Chengdu sudah dirasa bersih dari prajurit, Zhao akan memimpin pasukan untuk melawan sisanya di istana Bai Di. Semuanya sudah jelas?", kataku panjang lebar menjelaskan rincian peperangan yang kebetulan kuhafal dari dua buku itu, dan sisanya rancanganku karena kebetulan kemampuan strategiku langsung berjalan.
Semuanya mengangguk pelan tanda sudah mengerti tugas masing-masing. Dan seusai rincian rencana itu, Zhao menyuruh prajuritnya membukakan pintu gerbang tanda mulainya peperangan. Sesuai dengan rencana, aku membersihkan jalan dan membukakan gerbang untuk Deng Ai menuju Chengdu. Aku melakukan trik yang sudah diajarkan Boji beberapa hari sebelumnya. Aku menuruh prajuritku untuk membuka jalan bagi pasukan lainnya.
Tepat sesuai rencana, Deng Ai menyiapkan catapult dan menghancurkan gerbang istana Bai Di. Agar Zhao bisa langsung menyerang Liu Shan, pemimpin Shu Han waktu itu, aku melawan antek-anteknya lebih dulu. Giliranku adalah melawan Jiang Wei, jenderal yang diakui lebih hebat dari lima jenderal andalan Shu. Sedangkan deng Ai yang selesai berurusan dengan catapult, melawan Xiahou Ba.
"FOR BENEVOLENCE!", teriak sosok lelaki yang mukanya sebelas duabelas dengan Zhong Hui, bedanya hanya senjata yang dibawanya, yaitu sebuah tombak besar. Dialah yang kusebut sebagai Jiang Wei.
"Hai, Boyue!", kataku menyapanya dengan halus.
"Bagaimana kau tahu namaku? Kau mata-mata ya?", tanya Jiang Wei.
"Bodoh! Kau ini sudah terkenal dimana-mana! Untuk apa juga aku memata-mataimu?", kataku marah.
"Bisa saja untuk menghancurkan Shu Han dan memenangkan Wei!"
"Aku tidak suka berprasangka buruk seperti dirimu! Untuk apa kau teriak gaje seperti itu jika sikapmu saja tidak mencerminkan yel-yel itu?"
"Aku tidak peduli! Orang selain jenderal Shu Han adalah musuhku!"
"Oh, ya? Jadi, Yang Mulia Liu Shan itu musuhmu?"
"Bukan!"
"Lalu, kenapa kau bilang orang selain jenderal Shu Han?"
"BANYAK BACOT! LO BAKALAN MATI!"
Dan peperangan itupun bermula. Jiang Wei melancarkan serangan umpan pertamanya. Namun kutangkis lagi dan merebut bolanya. Tapi sayangnya malah diambil lagi oleh Jiang Wei, namun bisa kujegal dia dengan Arm Cannon besarku. Aku melakukan gocekan dan menendangnya ke gawang. GOOOOOL! AKU MENANG!
Loh? Komentator bola lagi? Kembali saja daripada tambah ngawur!
"Menyerahlah, Jiang Wei. Kau dan negerimu sudah kalah!", kataku dengan mengarahkan pisau di atas Arm Cannon itu ke leher Jiang Wei.
"Aku tidak akan kalah dari penjahat sepertimu!", katanya tak mau kalah.
"Mungkin lebih baik jika kau melihat ke sebelah sana...", kataku sambil merenggut kepala Jiang Wei dan menunjukkan sosok lelaki dengan jaket penuh bulu diborgol sambil berkuda. Dia adalah Liu Shan yang telah menyerah tanpa syarat kepada Zhao.
Otomatis, Jiang Wei jatuh terduduk meratapi kekalahannya. Aku tak mau membunuhnya, aku lebih suka melihatnya terbunuh perlahan-lahan.
Shu Han akhirnya kalah dari pasukan Wei yang tersisa. Namun Zhao mengambil jalan damai agar tidak merasa seperti tersiksa. Sejak saat itulah, Zhao mendapat julukan "The King of Jin".
.
.
Setahun kemudian...
Zhao telah menikahi Yuanji seminggu setelah semua negeri yang terpisah bersatu kembali. Aku memang tak pantas untuknya, tapi aku akan tetap berusaha menyelamatkannya apapun yang terjadi. Dia memang sebodoh Herp, tapi lebih bijaksana dari Liu Bei. Dia bisa semalas Shikamaru Nara, tapi ia secerdas ayahnya. Aku ingin bisa terus bersamanya, tapi aku tak pantas berada disini. Ini bukan tempatku yang seharusnya. Dan seharusnya, aku hanya menyaksikan kejadian ini dan tidak merasa tersakiti...
Zhao sudah memiliki seorang anak pertama dan terakhir di keluarganya. Benar, dia adalah Sima Yan, penerus dari keluarga Sima. Aku ingin bisa merayakan suka cita atas anaknya, namun hatiku membuatku enggan melakukannya. Aku tidak bsa terlalu lama memendam perasaan ini. Seharusnya aku tak pernah ada disini... Setahun telah berlalu, dan aku hanya sendirian. Zhao dan Yuanji telah menikah, keluarga kecil itu telah memiliki kamar sendiri. Zishang, kuharap kau bisa tetap hidup sampai aku pergi meninggalkanmu...
Aku bergegas mengemas barang-barangku di sore itu. Aku langsung berlari menuju Red Hare, kuda kepercayaanku yang sering kuajak bicara. Kuda merah itu telah menungguku.
"Ayo, Red Hare! Tunjukkan padaku seberapa cepat kau berlari! Bawa aku ke Chengdu!", kataku memberi perintah kepada Red Hare.
Red Hare meringkik sejenak, kemudian melesat dengan cepat. Aku berlari menuju gerbang istana Fan, pergi dari Wei, yang tak lama lagi akan bernama Jin.
"Tunggu dulu! Kau mau pergi kemana?", tanya seorang lelaki rambut gondrong dan berbadan kekar yang menghentikan kudaku. "Di luar berbahaya. Kau harus tinggal disini!"
"Maaf, Shizai. Aku tak punya waktu. Aku harus pulang!", kataku kepada lelaki itu. Dia adalah Deng Ai yang kebetulan berada di ujung gerbang istana.
"Pulang? Ini rumahmu! Kau sudah menjadi keluarga kami!", kata Deng Ai meyakinkan.
"Shizai, berapa kali kukatakan bahwa aku tak berasal dari sini? Aku harus terancam mati untuk bisa pulang. Sekarang, jika kau melihat Zhao, tolong sampaikan suratku padanya", kataku sambil menyerahkan secarik kertas kepada Deng Ai, kemudian pergi jauh bersama Red Hare.
Aku hanya bisa menitikkan air mata, karena penyesalanku berada disini. Kuambil sebuah kalung bermatakan liontin batu giok berbentuk bulan dan bintang dari sakuku. Kupegang erat-erat sebagai kenangan terakhirku berada di Luoyang bersama para jenderal toserba dan keluarga Sima.
-End of Author's PoV-
"Zishang, kau tidak apa-apa? Sepertinya kau murung terus akhir-akhir ini...", kata Yuanji yang sedang menggendong Sima Yan kecil kepada Zhao, yang akhir-akhir ini hanya terus melamun dan memandang jendela.
"Tidak ada, Sayang. Aku hanya letih...", kata Zhao dengan wajah memelas.
"Mau kubuatkan teh? Mungkin kau akan sedikit lebih baik..."
"Boleh juga. Terima kasih, istriku...", kata Zhao kembali tersenyum tipis.
Tiba-tiba, seseorang menyusup ke kamar Zhao, kemudian berlutut di hadapannya dan mengucapkan Gong Xi Fat Cai(?).
"Lapor, ada keadaan darurat!", kata orang itu.
"Ada apa, Pengawal?", tanya Zhao kaget.
"Ini tentang Lady Nagi, Paduka..."
"Perempuan itu? Apa yang terjadi?"
"Ia... melarikan diri...", kata lelaki yang diakui sebagai pengawalnya Zhao.
"APA? Dia kabur kemana?", kata Zhao yang jauh lebih kaget. Kali ini, dengan jawsdrop sambil membanting tubuh pengawalnya. Disempurnakan dengan mata melotot dan kamera yang close-up bak sinetron Indonesia.
"Saya juga tidak tahu, Paduka. Tapi, sepertinya Lady Nagi ingin menyampaikan isi surat ini kepada Paduka...", kata sang pengawal yang sudah pusing tujuh keliling menyerahkan secarik kertas kepada Zhao.
Zhao membuka bungkusannya, kemudian membaca isi surat itu.
.
Kepada keluarga Sima yang baru, dan kepada semua anggota kerajaan yang berjuang bersamaku...
Jika kalian melihat surat ini, aku akan menghilang selamanya. Jika kalian melihat ada seorang musafir yang sedang mencari ilmu dan bertanya tentang keberadaanku, jangan jawab karena dia adalah sejarawan dinasti Jin. Katakan saja kalian tak pernah melihat ataupun mendengar namaku. Aku tak pernah ada di tempat ini, karena seharusnya aku tak pernah hidup disini. Aku lahir 19 abad setelah dirimu. Aku sudah mengetahui semua kejadian di tempat ini.
Zishang, jika kau membaca surat ini, aku minta maaf karena harus meninggalkanmu. Meski sebagian tanggung jawab dan pilihan hidup ada pada dirimu, aku tak boleh menganggu berjalannya rumah tangga di keluarga kecilmu. Tugasku menyelamatkanmu kini sudah selesai, cintaku tak bisa menghalangi kepergianku darimu. Bisa berada di istana Fan saja, aku sudah merasa sangat terhormat diperlakukan layaknya keluarga sendiri, dan kau seperti kakakku sendiri, dari zaman berbeda...
Jika Yuanji ada disana, beritahulah dia bahwa aku berterima kasih karena telah mengenalkanku pada dunia peperangan yang penuh darah ini. Aku merasa terhormat bisa berjuang bersamanya. Untuk Shizai, aku senang bisa membicarakan strategi perang bersamanya. Namun sayang, Cina telah bersatu, tugasku sudah tak diperlukan lagi.
Zishang, kau hanya boleh beritahu perjuangan kita berdua kepada anakmu jika dewasa kelak. Ajarkanlah semua yang kau tahu kepadanya agar dia tidak semalas dan tak semesum dirimu. Hihihi...
Aku meninggalkanmu bukan karena alasan apapun, aku ingin melawan Zhong Hui agar kau terus hidup dan membesarkan Sima Yan. Aku harus mencoba melawan yang tertulis dalam sejarah.
Semuanya, terima kasih sudah berjuang bersamaku sampai detik ini. Sampaikan salamku pada para prajurit bawahanku bahwa aku merasa terhormat menjadi bagian dari kalian semua. Aku sedang dalam perjalanan ke Chengdu lewat hutan. Jangan kejar aku jika kau masih ingin hidup.
Dengan rasa menyesal dan terima kasihku,
Nagisa Kirishima.
.
.
Wajah Zhao berubah menjadi tatapan kosong. Ia mencerna isi dari surat itu, kemudian duduk di sofanya.
'Jadi, ia tahu semua tentang diriku?', batinnya dalam hati.
"Kejar dia, Zishang...", kata Yuanji sambil membawakan secangkir teh di atas meja.
"Sayang, semuanya sudah tertulis. Jika aku mengikutinya, aku akan mati!", bantah Zhao.
Yuanji perlahan menghampiri Zhao, kemudian berkata,"Zishang, aku tahu kau mencintainya sejak pertama kalian bertemu. Jika dia hanya perempuan biasa, kau tak mungkin langsung membawanya ke istana. Aku sendiri juga menyukaimu, tapi ga akan afdol jika kau masih mencintai orang lain meski kita sendiri sudah berkeluarga".
"Kau benar, istriku. Bahkan nyawa akan kupertaruhkan untuk kalian berdua!", kata Zhao yang semakin bersemangat dan kemudian bergegas mencium pipi istri dan anaknya yang sedang tertidur di ranjang kecil. "Aku pergi dulu. Anakku, doakan Ayah agar bisa kembali..."
-Back to Author's PoV-
Aku memikirkan kenangan indah bersama seluruh anggota kerajaan, bersama para jenderal dan prajurit di istana Fan. Dari kenangan pertamaku bertemu dengan Zhao, berkenalan dengan para jenderal, latihan bersama master Deng Ai dan Guo Huai, hingga saat aku mendandani Zhao untuk hari istimewanya. Semua itu akan sangat sulit untuk kulupakan, tapi kini aku harus fokus untuk menjaga Zhao tetap hidup. Aku harus membunuh Zhong Hui agar dia tetap dapat hidup bersama keluarga kecilnya dan rakyat yang mendukungnya. Hatiku semakin kalut dan air mataku tak bisa kubendung lagi, aku akan melupakan semuanya ketika pulang nanti dan semuanya hanyalah mimpi belaka...
Tiba-tiba, awan yang awalnya sangat cerah berubah menjadi hujan yang lebat. Aku ingin melanjutkan perjalananku, tapi hujan ini telah menghalangiku. Akhirnya, aku memacu Red Hare dan sampai di sebuah tempat yang terdapat satu atap, atau lebih tepatnya mirip sebuah pangkalan kuda yang sudah ditinggalkan setelah perang berakhir di hutan itu. Aku menghentikannya sejenak dan memarkirkannya di tempat itu. Seusai parkir di tempat itu, aku menggigil kedinginan. Kucoba mencari perbekalan yang kubawa, namun tak ada mantel. Aku hanya menggulung bak kaki seribu karena kedinginan di tengah hutan. Hingga ada seseorang memberiku mantel untuk menghangatkan tubuh.
"Terima kasih", kataku kepada orang yang memberikan mantelnya padaku.
"Sama-sama. Jadi, kau masih ingin melanjutkan perjalanan ke Chengdu?", kata orang itu.
Aku menoleh sejenak menuju sosok misterius yang memberikan mantelnya padaku. Tampak sosok lelaki dengan rambutnya yang ikal berantakan dan kulit hitam manis menatapku dengan penuh tanda tanya. Aku mencerna lagi wajahnya dengan mengingat kembali sosok itu. Secara refleks, aku melakukan yang tak sepetutnya kulakukan.
PLAKKK!
"Hei, untuk apa kau menamparku?", tanya sosok itu. Aku mengenalinya sebagai Zhao yang tak mematuhi perintahku.
"Ini karena kau sangat bodoh! Sudah kubilang jangan mengikutiku, masih saja dikejar!"
"Tapi, jika kau mati, aku tak bisa meraih istriku jika aku masih mencintai orang lain..."
"Jika kau kesini juga sama saja kau ingin bunuh diri! Kau bisa terbunuh!"
"Tunggu, maksudmu membunuh Zhong Hui itu kenapa?"
JDANG!
Sudah kujelaskan di surat itu, masih saja mengelak. Dasar bodoh!
"Aku mau mengubah isi sejarah. Aku harus membunuhnya agar kau bisa membesarkan anakmu, karena isi buku ini mengatakan kau akan mati terbunuh oleh..."
JLEB!
"Zhong Hui...", kataku menyelsaikan kalimat itu. Tapi, sejarah sudah tak dapat berubah. Zhao terbaring lemah dengan pedang yang menghunus dadanya.
"Zishang! Kau tidak apa-apa? Sudah kubilang jangan kesini, kau masih saja mengelak", kataku sambil meletakkan tubuh Zhao di pangkuanku.
"Kau tidak perlu mengubahnya. Semua sudah tertulis di buku itu. Tapi, ingatan dan cintaku kepadamu tak dapat diubah. Ambillah kalung tua ini dan carilah aku...", kata Zhao sambil melepas kalung berhiaskan manik-manik dan batu giok yang terpasang di lehernya kepadaku. "Cinta tak akan pergi... Hanya butuh waktu dan... orang... yang tepat... untuk kembali..."
Kata-kata itu, aku seperti pernah mendengarnya...
"Zishang! Tolong jangan tinggalkan aku!", teriakku kepada Zhao sambil menggoyangkan tubuhnya yang sudah tak bernyawa.
Aku melihat kembali padang yang menghunusnya, kemudian melirik sosok misterius yang berjalan pergi meninggalkan kami berdua. Dari pedang yang kulihat, aku berpikiran pendek untuk memanggil sosok misterius itu.
"Zhong Hui! Hei, kau bisa mendengarku?", teriakku pada sosok yang kuyakini adalah Zhong Hui.
Zhong Hui masih tak mendengarkanku. Aku teriak kembali, namun dengan cara berbeda.
"HEI, JENDERAL BODOH! KAU SUDAH MEMBUNUH ORANG!"
Alhasil, Zhong Hui langsung melongok ke belakang dan berkata,"Apa katamu? Kau baru bilang aku bodoh?"
"Ya, kau sangat bodoh! Lebih bodoh dari atasanmu sendiri! Jika kau menginginkan kekuasaan, dia mewariskannya padaku sebelum Sima Yan beranjak dewasa!"
"Apa? Perempuan? Tuan Zhao menyerahkan kekuasaannya kepada seorang perempuan rendahan sepertimu? Tidak mungkin!", kata Zhong Hui seraya tak percaya dan menghampiriku dengan pedang anehnya itu.
"Dia sudah membicarakannya denganku. Dan aku siap untuk melawan lelaki pengkhianat sepertimu! Untuk apa juga kau membunuh Zhao selain alasan atas dirimu yang haus dengan kekuasaan?"
"Tidak hanya itu, dia sudah merebutmu dariku. Seharusnya perempuan luar biasa seperti dirimu hanya pantas untukku!"
"Cih! Aku tak sudi bersama lelaki egois sepertimu!"
"Kalau begitu, aku ingin nyawamu!"
TRING! TRANG! PRANG!
Pertempuran berlangsung dengan sengit. Aku mencoba menyerangnya dengan Arm Cannon, namun pedangnya telah menjadi perisai pelindungnya. Sedangkan salah satu pedangnya telah menusukku. Dengan terpaksa, aku mengeluarkan jurus yang pernah dipakai saat Boji dalam keadaan kritis.
Aku mencoba menghindar dari tusukan pedangnya, kemudian berlari menusuk tubuh Zhong Hui.
"Kau... membunuhku... Tidak secepat itu...", kata Zhong Hui yang nyawanya sekarat.
"Aku bisa membuatnya lebih cepat untukmu", kataku sambil melemparnya ke udara, dilanjutkan dengan penembakan bertubi-tubi. Itulah jurus "Desperado Blaster" yang baru saja kupakai untuk pertama kalinya.
Zhong Hui jatuh tersungkur dengan tubuh yang entah kondisinya seperti apa. Kalian bisa membayangkan banyaknya darah yang mengucur di kepalanya, sedangkan aku masih memiliki luka tusukan di bagian perut. Aku melangkah perlahan menuju mayat Zhao dan berkata,"Akhirnya... Aku telah mengubah sejarah... untukmu... Zishang..."
Dan suasana berubah gelap gulita. Aku hanya bisa mengingat kembali masa depanku yang cerah...
.
~The End~
Nagi : Wah... Parah banget nih cerita...
Scarlet : Tapi, tunggu dulu... Ini belum selesai! Masih ada bagian terakhir yang sebenarnya
Nagi : biar kita apdet, jangan lupa ripiu dulu ya!
