Nagi : Sebelum kita menutup buku ini, mari kita saksikan review berikut ini
Scarlet : Baca ripiu, mulai!
Ini dari xtreme guavaniko alias Guava-chan :
huweeee! *meluk sepupu* Sima Zhao! Zhong Hu... eh? ngapain wa triakin nama orang bodoh yah?
sedih sekali ne crita! ampyunn! aku sampe di sambit ama Sepupu! (?)
Nagi-onechan... mengubah Sejarah? wah... aku jadi pengen meluk tipi ni... (?)
anywayz... I love your story! yay! keep writing!
Nagi : cerita yang mengapa menyentuh sekali...
Scarlet : Aku juga ga nyangka Nagi-san bisa sehebat ini *nangis sambil meluk Nagi-san*
Nagi : cukup! Kita lanjutkan saja
Next, dari Nakamura Aihara :
Untuk kedua kalinya dalam sehari melihat adegan K.O Zhong Hui...what the
Tapi diantara chappie lain, entah kenapa Chappie ini yang paling berkesan diantara yang lain xD. 2 orang cowok menyukai satu orang cewek. Cinta segitiga kah?*dibantai seJin*
But, pas adegan Sima Zhao K.O, saya beneran sedihh banget T_T Zhong Hui kejamnya dikau
Huaa masih ada chapter lagi? Wokey deh saya tunggu wkwk
Keep Writings and Update!
Nagi : What I want to say, Ini lebih mirip cinta berantai
Scarlet : Cinta berantai? Oh, maksudnya Zhong Hui suka Nagi-san, tapi Nagi-san suka Sima Zhao yang udah kawinin Yuanji. Bener kan?
Nagi : Jangan ungkit lagi, aku jadi tambah nangis nih!
Scarlet : cup,cup,cup... Kita lanjut aja ya, Nagi-san...
Ada lagi, dari marrysykess :
Loh? Knp begitu ya? Hmm *berpikir keras
ngomomg" si mas boyue kmna? Ini msih ad lanjutanny kan? Lanjut ya, aku tunggu..
mbca crta mu ini aku pingin bikin fic yg sejarah, tp aku ny males hahaha..
Nagi : Tenang saja, Boyue berada di tempat yang aman...
Scarlet : Maksudnya, ikut mokat juga. Itung-itung bikin dia masuk surga juga
Nagi : Bukan mokat begitu, Scarlet-chan! Maksudnya tadi, mas Boyue tetep di Shu dan sebagai asisten, aku mengangkatnya jadi gubernur di Chengdu
Dari Anon-san bernama black dragon :
Jiahh... Mati semua... G seru!
Cerita ini menarik jg, klo ada lanjutannya, dilanjutin ya...
Nagi? Knp km lbh pilih zhao daripada zhong hui? Zhao kan blo'on *dismack zhao*
Ni jg zhong hui. Suka cewek g ditembak, akhirnya ceweknya pny cowok lain deh... Skrg dua2 ny dibunuh. Anarkis amat sih? Apa kata dunia?
Yak, segitu aja deh! Keep writing!
Nagi : Ini ripiu apa nge-flame? Seenaknya aja dia bilang fic ini ga seru!
Scarlet : Kita butuh sebulan biar apdet full! Kamu tidak menghargai kerja keras kita!
Terakhir, dari Anon-san yang namanya disensor untuk melindungi nama reviewernya :
beneran tu kaget si Zhong Hiu? apa "KAGET"? (taukan maksud daku yg tanda kutip)
tenang aja aku gk gtu suka kok sama lagu dan penyanyinya ...
oke review ...
koma gk mungkin lebih dari 3 hari ...
klo lebih pasti ada yg rusak ntu sistem tubuhnya ...
dan Jiang Wei sumpah elu tu ... #AKH
gk banget kta2nya sama sifat mu ... #disatejiangwei
lalu Xiahou Ba gmn nasibnya?
kocak bgt suratnya dan Yuanji kok bisa gaul gtu ya ? apa Nagi ya yg ngajarin?
suratnya ituloh ... #nunjuk2
klo mo nyuruh Zhao supaya gk ngikutin SEHARUSNYA JANGAN DITULIS DONG ...#triakPkeToa #DiusirMaYangPunya
itukan jadinya bukan ngubah sejarah ... #Jduag
si Zhao kocak bgt da mo mati pake acara ngelawak ... #dibantaiZhao
Zhong Hiu kau adalah orang bodoh ... #kaburSebelumDiSateZhongHuiKa rnaGantiNamanyaDariTadidanNg atainBodoh
oke ditunggu epilognya ya ...
Nagi : Sudah dibilang juga, kami menyediakan self-inserted fic dengan bumbu komedi. Wajar rada ga jelas
Scarlet : Soal nasib Xiahou Ba, anda tanyakan saja sendiri pada Deng Ai... Om Deng Ai, mana Xiahou Ba?
Deng Ai : *bawa mayat Xiahou Ba dari pemakaman umum*
Scarlet : Metong sih metong, tapi jangan diambil lagi kalo udah dikubur!
Nagi : Daripada pembaca tambah gila, kita lihat saja epilognya...
Dynasty Warriors series, belongs to Koei
"For the First Time", made famous by The Script
Genre : Romance Drama
Rate : T
Summary : Nagi-san telah sadar dari komanya akibat kecelakaan kereta api. Ingatannya sempat hilang sebagian, tapi banyak hal telah berlalu setelah tragedi itu. Apakah yang sudah terlewatkan?
.
.
Nagi and Scarlet, presents...
.
.
.
Nagi-san's Adventure : Lost in Three Kingdoms
.
.
.
.
.
Epilog
"Nagi-san... Nagi-san..."
.
.
.
"Nagi-san, cepat bangun..."
.
.
.
"NAGI-SAN!"
"GYAAAAAA!"
BRUAK!
Kenapa? Kenapa setiap kaget harus terlempar sejauh lima meter plus nabrak? Untung aja tempatnya lebar...
Kubuka mataku lebar-lebar, tampak pemandangan kamar yang hampir mirip kamar pasien, hanya lebih mewah dan lebih putih bersih.
"Oh... Aku di rumah sakit ya? Kok kamarnya putih banget?", kataku setengah sadar.
"Nagi-san! Untunglah kau masih hidup! Kau sudah koma selama sebulan ini...", kata seorang perempuan rambut merah dikuncir kuda dan berseragam sekolah yang menghampiriku. Aku seperti mengenal wajahnya.
"Scarlet-chan?", kataku setengah sadar. "Tunggu dulu, kau bilang koma sebulan? Memangnya aku kenapa? Aku hanya ingat kalau aku hampir ditabrak kereta api..."
"Tidak, kau tidak ditabrak kereta. Hanya saja, kau ditabrak mobil dan tergeletak di rel kereta api, jadinya dilindes kereta api juga...", katanya sambil garuk kepala.
"Sama aja gue ditabrak kereta, dodol!", kataku sambil masang muka masam. "Ngomong-ngomong, siapa yang bayar kamar VIP begini? Aku kan ga punya uang buat kamar beginian"
"Tenang, kebetulan sopir mobil yang nabrak kamu itu dokter di rumah sakit elit ini. Dia juga yang ngerawat Nagi-san selama koma. Anaknya adalah teman lamaku waktu masih tinggal di Amrik"
"Oh, gitu... Terus, Xion kurang ajar itu sempat nengokin?"
"Maksudmu, pria ubanan yang kembarannya Pak Lee? Dia dipenjara karena memberikan data ilegal tentang Nagi-san. Baru aja ketahuan waktu si dokter nanyain akte kelahiran dan kartu keluarga biar anggota keluarga setuju untuk operasi luka dalam waktu tabrakan itu dua minggu yang lalu. Ternyata dia bertujuan untuk menjualmu ke luar negeri"
"Sudah kuduga, dia bukan kakakku yang asli. Kalau begitu, keluarga asliku yang mana?"
"Aku belum tahu, pihak rumah sakit memberikan seluruh tanggung jawab pada si dokter untuk mencari keluargamu yang masih hidup"
Aku merenung sejenak. Aku terus membayangkan seperti apa orangtuaku itu. Aku masih terus bertanya tentang mereka. Kenapa mereka membiarkanku terbuang di panti asuhan? Kenapa aku harus berada di pihak yang salah? Kenapa aku dibiarkan menjadi anak yatim piatu? Siapa sebenarnya mereka itu?
Tiba-tiba, seorang lelaki rambut cokelat yang ikal berantakan, mengenakan seragam sekolah yang balapan mobil(?) dengan rompi wol yang juga seragam, disempurnakan dengan jas putih yang dicantol di bahunya lewat dan menemui kami berdua.
"Scarlet? Kenapa kok ada orang teronggok dibiarin?",tanyanya dengan garuk kepala.
"Teronggok katamu?", kataku menyiapkan deathglare di hadapannya. "Bukannya bantu malah bikin orang kesal!"
"Masih mending aku kesini! Kalau aku tak ada, aku tak mungkin berniat menjemputmu kesini!", katanya ikut kesal dengan nada malas.
Aku seperti mengenal gaya bicaranya, wajahnya juga mengingatkanku pada seseorang. Aku hanya belum tahu siapa sosok itu.
"Maaf atas sikapnya yang kasar, Nagi-san. Ini Simon Hutcherson, teman lamaku saat masih di Amrik", kata Scarlet yang mendadak berdiri dan merangkul tangannya. Oke, aku seperti sedikit cemburu padanya. Apalagi sosok yang bernama Simon itu memiliki kepribadian dan wajah yang cukup mirip dengan seseorang.
Tiba-tiba, suara aneh terngiang di telingaku. Terngiang sebuah kalimat yang menurutku sebuah kalimat terakhir dari seseorang. Jujur saja, aku tak tahu apa-apa setelah kasus menabrak tembok itu. 'Simpanlah ingatan dan perasaanku di kalung ini, lalu carilah aku...', begitu kalimat yang baru saja kudengar. 'Aku'? 'Carilah aku'? Aku tak mengerti maksudnya. Apakah itu suara makhluk halus yang meminta tumbal dengan memakaikan kalung padanya? Atau ada maksud lain dari kalimat itu?
Mendadak, mataku tertuju pada sebuah kalung yang entah kapan terpasang di leherku. Kalung manik-manik kayu berhiaskan batu giok di tengahnya. Aku seperti mengenal kalung ini, tapi benarkah ini kalung yang dimaksudkan? Dan maksud dari 'aku' ini adalah...
Simon Hutcherson? Apakah hubungannya dia dengan kalung serta kalimat itu? Benarkah sosok yang familiar dengan kalung ini adalah Simon? Aku tidak tahu. Tapi aku akan mencari tahu dengan meminta Simon memakainya.
"Simon, aku sudah tak mau memakai kalung ini. Maukah kau memakainya untukku? Anggap saja ini rasa terima kasihku karena kau menjemputku kesini...", kataku sambil melepas kalung itu dari leherku.
"Oh, kalung ini? Jelek sekali! Aku tak mau memakainya!", katanya mengejek.
"Memang jelek jika aku yang pakai. Siapa tahu kau cocok dengan kalung ini...", rayuku padanya.
"Nagi-san, tapi itu milikmu! Kau mau menyerahkannya begitu saja?", tanya Scarlet ragu-ragu.
"Tidak apa-apa. Lagipula, ini sudah usang dan terlalu besar untuk ukuran leherku", kataku meyakinkannya.
Aku memakaikan kalung itu pada Simon. Dan ternyata benar, kalung itu cocok padanya. Namun, sebuah kejadian malang melintang terjadi padanya.
Seperti yang kulihat, menurutku dia mengalami sakit kepala yang biasa diluar(?), kemudian dilanjutkan dengan breakdance dan menggeliat seperti ulat, kemudian pingsan dengan posisi yang cukup mengenaskan. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi aku langsung menghampirinya dan melihat keadaannya.
"Nagi-san, apa yang terjadi? Kenapa langsung pingsan?", tanya Scarlet yang berubah tiga ratus enam puluh derajat menjadi sangat panik dan ketakutan.
"Mana aku tahu? Memangnya aku dokter?", kataku ikutan panik. "Cepat panggil dokter yang kaubilang ayahnya Simon. Mungkin dia tahu penyebabnya..."
"Baiklah, Nagi-san. Aku panggil dulu ya!", kata Scarlet yang langsung lari terbirit-birit bagaikan ingin ke kamar mandi tapi penuh antrian.
Sesaat setelah Scarlet meninggalkan kami berdua, Simon terbangun dari pingsannya yang indah itu.
"Hah? Aku dimana? Kenapa tempat ini aneh sekali?", katanya linglung.
Sebentar, dia khan sudah tahu jika ini rumah sakit. Kenapa malah bertanya? Aku langsung berkata,"Simon, kau baik-baik saja? Kau tidak amnesia kan?".
"Shi Meng? Dia siapa? Aku bukan Shi Meng...", katanya bak orang amnesia.
"Kau mengenalku, Simon? Kita baru saja bertemu, tapi paling tidak kau masih mengingatku...", kataku semakin khawatir dengan keadaannya.
"Baru bertemu? Kita sudah lama bertemu, Nagi! Dan, kenapa kau memanggilku dengan nama aneh itu?", katanya semakin bingung.
"Kau lupa namamu sendiri? Kau Simon Hutcherson! Jangan bodoh jika kau sudah mengenaliku sejak lama!"
"Maaf, tapi namaku bukan Shi Meng entahlah apa itu. Haruskah kita berkenalan kembali?", katanya dengan nada marah, dilanjutkan dengan memijit dahi.
Tunggu dulu. Dia mengenalku, tapi tidak mengenali dirinya sebagai Simon. Aku mengingat kembali gaya bicaranya dan gerakannya memijit dahi itu. Jangan-jangan...
"Zhao? Sima Zhao? Kaukah itu?", tanyaku sedikit menebak-nebak.
"Akhirnya, setelah sekian lama kau mengingatku...", jawabnya."Bisakah kau beritahu apa yang sedang terjadi disini?"
"Apa sebelum kau sempat merasakan kumpulan ingatan selain milikmu?", tanyaku.
"Entahlah. Aku coba ingat-ingat dulu..."
Tiba-tiba, seseorang muncul dari kejauhan membawa seseorang berjas putih yang kusimpulkan adalah si dokter.
"Dokter, disana!", kata Scarlet menunjuk kami berdua.
Tampak sosok lelaki rambut hitam sepinggang yang diikat separuh dengan poni belah tengah yang sedikit beruban mengenakan jas putih dan kemeja ungu. Sisa wajahnya sulit dikenali karena wajahnya tertutup masker setelah keluar dari ruang bedah. Namun aku bisa melihat sorot matanya yang redup sebagai tanda bahwa dirinya sakit dan berusaha untuk tetap bertahan.
Aku hanya bisa menatapnya. Lalu lelaki itu menghampiriku dan kami saling bertatapan. Sejurus kemudian, dia pergi meninggalkanku bersama Scarlet dan Zhao.
"Zhao, apa kau bisa melihat sesuatu darinya?", tanyaku.
"Entahlah. Kumpulan ingatan itu mengatakan bahwa dia adalah dokter yang menabrakmu saat kecelakaan itu. Selain itu, dia juga... Dia juga...", katanya semakin bingung dan terbata-bata.
"DIA JUGA SIAPAKU?", teriakku sambil menggoncangkan tubuh Simon yang dihinggapi arwah Zhao.
"Dia adalah ayah angkatmu, yang membuangmu ke panti asuhan sampai kau siap menerimanya sebagai ayahmu yang baru..."
"Apa? D-dia... Ayah angkatku?"
"Aku merasakan ingatan tentang ceritanya. Setahun setelah aku lahir, ibumu melahirkan sebagai seorang janda. Agar keluargamu tetap utuh, ibumu menikahi dokter yang ternyata adalah sahabatnya. Tapi ibumu khawatir kau tak menginginkan kehadiran seorang ayah tiri karena banyaknya persepsi negatif tentang hal itu. Sehingga ayah angkatmu membuangmu sampai kau benar-benar siap menerima mereka. Ternyata, ibumu meninggal saat perjalanan pulang dari panti asuhan..."
Aku hanya bisa menatap lelaki itu pergi meninggalkanku. Seraya berkata,"Zhao, kita harus mengejarnya..."
"Aku? Itu urusanmu!"
"Karena itulah kau harus pergi dari sana!"
"Maksudmu, kau ingin bicara pada orang itu?"
Aku hanya mengangguk dan segera melepaskan kalung di lehernya. Seketika itu pula, Simon tersadar.
"Hah? Apa yang terjadi?", tanyanya padaku.
"Kau bilang jika kau mau menjemputku pulang karena aku sudah sembuh untuk menemui keluarga baruku. Tapi kau pingsan mendadak, jadi aku mau kau antar aku pulang sekarang"
Simon kebingungan, matanya tertuju pada kalung yang tadi kulepas dari lehernya seraya berkata,"Kalung itu. Bolehkah aku menyimpannya?"
"Asalkan kau berhati-hati saat memakainya. Benda itu memiliki jiwa", pesanku padanya.
Simon kembali memakainya, namun tak terjadi apa-apa. Ia meraih tanganku dan berkata padaku dan Scarlet,"Ayo kita pulang...".
Perjalanan keluar dari rumah sakit, terdengar backsound yang mengiringi perjalanan kami bertiga.
.
She's all laid up in bed with a broken heart,
While I'm drinking jack all alone in my local bar,
And we don't know how,
How we got into this mad situation,
Only doing things out of frustration
Trying to make it work but man these times are hard,
She needs me now but I can't seem to find the time,
I've got a new job now on the unemployment line,
And we don't know how,
How we got into this mess
Is it god's test?
Someone help us 'cause we're doing our best,
Trying to make it work but man these times are hard
.
.
.
Sampai di rumah putih yang megah, aku mengelilingi rumah itu dan takjub dengan semua yang ada di tempat itu. Tak kusangka aku berada di dalam keluarga yang berkecukupan seperti ini. Kurogoh kembali isi sakuku, kutemukan sebuah gelang hasil rajutan dengan liontin berbentuk hati yang terbuat dari permata rubi dan sebuah kalung dengan liontin berbentuk bulan dan bintang yang terbuat dari batu giok ringan. Aku mengenakan gelang itu, dan seketika sesuatu yang aneh berkumpul di kepalaku. Seakan-akan aku pernah mengalami sesuatu sebelum kejadian ini. Sesaat kemudian, aku mendengar suara orang yang terbatuk. Aku langsung bertanya pada Simon, "Itu siapa?"
Simon menggelengkan kepalanya seraya berkata,"Tidak. Jangan Ayah lagi!"
Aku sejenak mengingat kembali kejadian yang dahulu pernah terjadi sebelum ini. Ternyata, Simon adalah titisan dari Sima Zhao. Sejenak kemudian, aku mengikuti kembali arah suara itu.
Suara itu berasal dari sebuah kamar tidur. Tampak sosok lelaki rambut hitam panjang yang sedikit beruban mengenakan syal dan terbaring lemah di ranjang yang kebetulan dekat dengan pintu masuk kamar itu. Simon langsung medatangi lelaki tua itu dan berkata,"Ayah, bukankah sudah kubilang jangan terlalu banyak beraktivitas dahulu? Ayah masih belum sehat..."
Namun, lelaki tua itu membantah,"Uhuk... Aku harus melawannya jika aku ingin selamat. Aku tak mau terus tersiksa di kamar tidur ini! Uhuk, uhuk..."
Kemudian, kupandangi kembali kalung yang kutemukan di sakuku tadi. Aku mencoba mengingat gaya bicaranya, serta hubungannya dengan kalung ini. Kemudian, aku tersadar bahwa kalung itu adalah hadiah sekaligus kenangan terakhirku untuk Jenderal Guo Huai, Jenderal yang pantang menyerah. Kalung itu membuatnya kembali bersemangat meski akhirnya tewas di medan perang. Aku segera menghampiri lelaki tua itu.
"Tuan Hutcherson, maukah anda mengenakan kalung ini sebagai tanda terima kasih saya?", kataku sambil menyerahkan kalung itu padanya.
"Kau tak perlu memanggilku Tuan, Anakku. Uhuk...", jawab lelaki tua yang barusan kupanggil Tuan hutcherson.
Beliau segera mengenakannya dan ternyata masih cocok. Tetapi, beliau malah batuk darah. Aku khawatir jika kejadian itu akan berakhir sama persis dengan yang pernah kulihat.
"Tuan Hutcherson, maksudku, Ayah. Kau baik-baik saja?", tanyaku kaget sambil menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh dari ranjangnya.
Lelaki itu menolehku sejenak. Kemudian berkata,"Nagi, misiku sudah selesai..."
Kuingat kembali kejadian yang dimaksud dalam kalimatnya. Aku pernah membuat janji kepada Jenderal Guo Huai agar dirinya mau menjadi bulan purnama yang indah untukku. Setelah kuingat kembali, aku merasa berterima kasih padanya. Kemudian aku berkata,"Ayah, terima kasih sudah mau memenuhi janjimu..."
"Tapi, kau harus berjanji satu hal untukku...", pintanya.
"Sebutkanlah, Ayah. Aku akan memegang teguh janji itu!", kataku bersemangat.
Kemudian, pria yang bernama asli Geraldo Hutcherson, yang ternyata adalah reinkarnasi dari Jenderal Guo huai itu berkata,"Jangan kecewakan aku yang telah berkorban untukmu..."
"Pasti, Ayah. Itu pasti..."
Lalu, beliau memanggil Simon agar dapat memeluk kami bersama-sama. Perbedaan ruang waktu kini telah terselesaikan. Scarlet juga menangis pada saat itu, karena akhirnya aku kembali menemukan kasih sayang dalam sebuah keluarga selain bersamanya. Kebersamaan itu diiringi oleh empat orang yang entah asalnya darimana yang sedang menyanyikan sebuah lagu...
.
But we're gonna start by
Drinking old cheap bottles of wine,
Sit talking up all night,
Saying things we haven't for a while
A while, yeah
We're smiling but we're close to tears,
Even after all these years,
We just now got the feeling that we're meeting for the first time
Oooooo
Oooooo
Oooooo
.
Sejak saat itu, aku berusaha belajar dengan giat, mencoba meraih impianku menjadi seorang guru sejarah, dan membanggakan keluarga Hutcherson yang saat ini adalah keluargaku yang baru. Karena aku tak mau mengecewakan orang-orang penting yang sudah mengorbankan harta bahkan nyawa untuk keselamatanku. Seperti yang dikatakan seorang Presiden Indonesia, Soekarno, "Jangan sekali-kali kau melupakan sejarah!"
.
.
Keesokan harinya...
"Jin, aku minta maaf jika aku telah menyalahkanmu kemarin. Aku tak berniat untuk memutuskanmu, tapi aku tak mau kehilangan sahabatku satu-satunya...", kataku pada mantan pacar berambut pantat bebek bernama Jin Kazama itu.
"Tidak apa-apa. Sebenarnya ini semua salahku. Aku tak seharusnya menekanmu seperti sebulan yang lalu. Aku menyesal telah memutuskan hubungan kita. Aku juga tak mau kehilangan dirimu sebagai satu-satunya orang yang kusayangi...", katanya sambil memalingkan wajahnya.
"Jadi, kita balikan?", tanyaku.
"Untuk apa kita balikan? Dari dulu ampe sekarang kita tetep pacaran kan?"
Seusai kejadian itu, kami hanya cekikikan bersama. Hingga akhirnya, seorang perempuan rambut merah yang dikuncir kuda membawa laptopnya.
"Nagi-san! Reviewernya tambah banyak loh!", teriaknya padaku dengan suara cemprengnya.
"Bagus dong! Pinter...", pujiku padanya.
"Masa aku aja yang dipuji? Kalo bukan karena Nagi-san, untuk apa aku capek-capek menorehkan kerja keras kita di internet?"
Aku hanya tersenyum kecil. Dia benar, sebanyak apapun perbedaan, meski ada yang lebih baik dari kita, kita harus tetap berusaha menghargai perbedaan itu tanpa memaksakan kehendak. Jika sebuah kesalahan terjadi, jangan takut untuk memulai kembali semuanya karena kesalahan itulah yang membangun kita menjadi orang yang kuat.
.
.
~The End(beneran)~
Nagi : gimana? Meski ini sedih, ketawa, ataupun garing, kita harus ambil banyak pelajaran dari hidup ini
Scarlet : Jangan sampe kita nyerah gitu aja karena tekanan yang berlebihan...
Nagi : Mulailah dengan satu review dengan mengklik kotak ripiu, atau mengisi form Review di bawah ini
Scarlet : SAMPAI JUMPA DI FIC SELANJUTNYA!
